Senin, 30 November 2009

Hauptmann Dr.jur. Hellmuth Schreiber Volkening (1911-1942), Penerima Ritterkreuz Kelahiran Indonesia!

Hellmuth Schreiber Volkening sebagai Oberleutnant





Sang penerima Ritterkreuz kelahiran Sumatera. BTW, foto ini aslinya sebelum dia menerima Ritterkreuz, dan dengan menggunakan teknik fotografi jadul (sebelum Photoshop ada), ditambahlah Ritterkreuz "jadi-jadian" di lehernya!





Hellmuth Schreiber Volkening bersama para Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz) dari Resimen Infanteri ke-16, yang merupakan bagian dari Divisi Infanteri Jerman ke-22. Ini adalah acara pemberian Ritterkreuz yang diserahkan langsung oleh Reichsmarschall Hermann Göring dan bertempat di Rotterdam, tanggal 29 Mei 1940. Dari kiri ke kanan : Oberleutnant Hermann-Albert Schrader (pangkat terakhir : Hauptmann), Oberstleutnant Dietrich von Choltitz (pangkat terakhir : General der Infanterie), Oberst Hans Kreysing (pangkat terakhir : General der Gebirgstruppe), Feldwebel August Grauting (pangkat terakhir : Oberleutnant), dan Oberleutnant Hellmuth Schreiber Volkening (pangkat terakhir : Hauptmann)





Oleh : Alif Rafik Khan



Ketika saya sedang asyik surfing di internet mencari artikel tentang hubungan antara Maria Ozawa dengan Adolf Hitler (wtf?), saya terkejut ketika mendapati bahwa dari 7.366 penerima Ritterkreuz (Knight’s Cross/Salib Ksatria), medali paling bergengsi yang dipunyai Jerman, setidaknya satu di antaranya berasal dari Indonesia, yaitu Hellmuth Schreiber Volkening! Ini dilihat dari tempat kelahirannya, dan bukan keturunannya. Dan untuk ini pun saya belum berani berkesimpulan bahwa dia satu-satunya yang berasal dari Indonesia, karena mungkin saja ada peraih Ritterkreuz lainnya, yang saya belum ketahui, yang mempunyai hubungan yang sama dengan tanah air tercinta!



Untuk biografinya sendiri, baru ini yang saya dapatkan. Silakan dicicipi!



Hellmuth Schreiber Volkening dilahirkan di pulau Sumatera tanggal 22 November 1911 sebagai anak dari dokter Jerman yang bertugas di Hindia Belanda. Saya belum mendapatkan keterangan lengkap tentang tempat persis lahirnya atau bagaimana kehidupan dia selama di Indonesia, yang jelas kemungkinan besar dia hanya sebentar saja disini, untuk kemudian pindah mengikuti orangtuanya yang meneruskan praktik dokter di Jerman.



Setelah menamatkan sekolahnya , Schreiber Volkening mempelajari hukum di Königsberg dan Münich, dilanjutkan dengan mengambil gelar doktoratnya, sehingga di depan namanya ada embel-embel Dr.jur.



Tahun 1932 dia memutuskan untuk mendaftar ke Angkatan Darat (Reichsheer) dan tahun 1934 telah menjadi kadet di Resimen Infanteri ke-16. tanggal 1 April 1936 dia telah dipromosikan menjadi Leutnant, dan memperdalam pengetahuannya akan bahasa Inggris dan Prancis. Promosi menjadi Oberleutnant terjadi di tahun 1939, dan ketika Perang Dunia II pecah, Schreiber Volkening terdaftar sebagai komandan kompi 9 di Resimen Infanteri ke-16 yang merupakan bagian dari Divisi Infanteri ke-22. Dalam penyerbuan Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis, dia memperlihatkan kapasitas terbaiknya sebagai seorang perwira, sehingga dianugerahi Ritterkreuz pada tanggal 29 Mei 1940.



Tahun 1941 Schreiber Volkening ditempatkan di Sekolah Militer Potsdam, dan tahun 1942 dia diangkat sebagai Hauptmann (Kapten). Sayangnya, tokoh kita kali ini tidak sempat mencicipi akhir dari peperangan, karena tanggal 9 Agustus 1942 dia telah gugur dalam pertempuran di Reschew, Russia, sebagai staff dari sebuah divisi lapis baja.



Untuk ini saya kutipkan berita dari “Oldenburger Nachrichten” no.224 terbitan 17 Agustus 1942 :



“Tanggal 9 Agustus telah gugur Dr. Hellmuth Schreiber Volkening, seorang Kapten dari sebuah divisi lapis baja, dalam pertempuran defensif yang berat di wilayah tengah dari Front Timur. Dengan kepergiannya, maka Gauhaupt dan kota perbatasan Oldenburg telah kehilangan salah satu putra terbaiknya sekaligus peraih Ritterkreuz, yang namanya berhubungan erat dengan pertempuran gilang gemilang dari resimen kita dalam merebut jembatan-jembatan di Rotterdam, sehingga dengannya pasukan Jerman dapat saling berhubungan di bulan Mei tahun 1940. Dalam pertempuran yang dahsyat ini, dia telah menggantikan para komandan sebelumnya yang telah gugur terlebih dahulu, yaitu Hauptmann Hermann Schrader dan Oberleutnant August Grauting, dan kemudian membawa pasukannya menyerbu jembatan-jembatan yang belum diduduki di Benteng Belanda. Jerih payahnya yang tak kenal lelah dalam bertempur habis-habisan siang dan malam telah membuatnya dianugerahi Ritterkreuz, yang diserahkan langsung dari tangan Reichsmarschall (Hermann Göring).”



“Beberapa bulan setelah penghargaan tersebut, dia ditugaskan ke Sekolah Pelatihan Komando di Potsdam, untuk menurunkan pengalaman bertempurnya yang berharga sebagai guru dan pelatih. Setelah mengikuti sekolah lanjutan di Akademi Militer dan dinaikkan pangkatnya menjadi Hauptmann, dia meminta untuk ditugaskan kembali di front depan pertempuran. Permintaannya dikabulkan, dan dia ditempatkan pertama-tama di artileri, lalu dipindahkan ke divisi panzer. Di saat yang ditakdirkan sebagai hari kematiannya, dia telah menjalani kewajibannya sebagai seorang komandan militer dengan sebaik-baiknya.”



“Kepergiannya ditangisi oleh para kameradnya yang berada di resimen yang sama, yang telah mengenalnya sebagai seorang prajurit yang berdedikasi, seorang teman yang setia, dan seorang pemberi nasihat yang berharga. Sebagai salah seorang penulis artikel rutin di koran resimen kita “Der Waffenträger”, dia telah banyak memberikan buah pikirannya untuk kemajuan resimen, dan tulisan-tulisannya yang tak terhitung tetap dapat kita pelajari sampai saat ini. Dia akan tetap hidup di hati kita sebagaimana dia di mata para prajurit yang telah bertugas di bawah kepemimpinannya. Hanya ada kata-kata sederhana bagi dia, dari keperwiraannya di hari-hari Rotterdam yang panas sampai saat kematiannya : seorang lelaki yang sederhana, rekan seperjuangan yang baik, dan prajurit pemberani. HE.”



Saya sertakan pula kata-kata aslinya yang berbahasa Jerman, kalau-kalau terjemahannya dirasa kurang tepat bagi yang mengerti :



“Am 9 August fiel bei den schweren Abwehrkämpfen im mittleren Abschnitt der Ostfront Dr. Hellmut Schreiber-Volkening, Hauptmann in einer Panzerdivision. Mit ihm verliert die Gauhaupt- und Garnisonstadt Oldenburg einen ihrer Ritterkreuzträger, deren Namen mit den ruhmvollen Kämpfen unseres Regiments um die Brücken von Rotterdam im Mai 1940 unlösbar verknüpft sind. Er folgte seinen Kameraden Oberleutnant August Grauting und Hauptmann Hermann Schrader in den Tod, die mit ihm jene Brücken zur Festung Holland stürmten, im härtesten Ringen durch Tage und Nächte hielten und mit ihm aus der Hand des Reichsmarschalls das Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes für diese entscheidende Waffentat empfingen.”



“Wenige Monate nach dieser Bewährung führte ihn ein Kommando zur Kriegsschule in Potsdam, wo er bis vor kurzem sein reiches militärisches Wissen als Lehrer und Ausbilder verwerten durfte. Ausersehen zum Besuch der Kriegsakademie und zum Hauptmann befördert, suchte er weitere Fronterfahrung – zunächst bei der Artillerie, später in einer Panzerdivision. Am Tage der Beendigung dieses Frontkommandos erfüllte sich sein soldatisches Schicksal.”



“Mit den Kameraden seines Regiments und allen, die ihn als Mensch und Soldaten kannten und schätzten, trauern auch wir um einen unserer treuesten Freunde und Berater. Als Mitarbeiter unserer Beilage „Der Waffenträger“ stellte er unserer Zeitung sein Wissen und seine glänzende Gabe zu schreiben in unzähligen Artikeln zur Verfügung. Er wird uns so unvergessen bleiben wie er in den Herzen seiner Soldaten, die mit ihm die heißen Tage von Rotterdam durchkämpften, weiterleben wird: Ein schlichter Mensch, ein guter Kamerad und ein tapferer Soldat.”





Sumber : www.historic.de





Minggu, 29 November 2009

Hitler Diselamatkan Oleh Seorang Prajurit Inggris Dalam Perang Dunia Pertama!

Adolf Hitler berfoto bersama Perdana Menteri Inggris Neville Hewitt Chamberlain di konferensi Münich yang berlangsung bulan September 1938. Disinilah mulai terungkap akan masa lalu Hitler yang tak terduga





Lukisan terkenal dari Fortunino Matania berjudul "Marcoing" yang memperlihatkan prajurit Henry Tandey sedang menggotong rekannya yang terluka. Tanpa disangka, Adolf Hitler menyimpan kopi lukisan ini di tempat peristirahatannya, yang ternyata mengingatkannya pada saat-saat dia masih muda, ketika seorang prajurit Inggris menyelamatkan nyawanya yang sudah di ujung tanduk!





Henry Tandey si prajurit Inggris peraih Victoria Cross sekaligus orang yang "Berjasa" menyelamatkan Hitler dalam Perang Dunia I





Adolf Hitler ketika menjalani masa perawatan setelah terluka di front pertempuran. Di foto bertanggal 26 Oktober 1916 ini dia berpose dengan para rekan sejawatnya dengan mengenakan pakaian putih rumah sakit. Yang manakah dia? Cari saja huruf "X" di atas kepala, nah kepalanya itu adalah Hitler sendiri!





Adolf Hitler sebagai seorang prajurit biasa, difoto ketika baru mendaftar menjadi sukarelawan tahun 1914. Kumisnya masih belum berbentuk khas seperti Chaplin!





Oleh : Alif Rafik Khan



Perjalanan sejarah selalu dipenuhi oleh momen-momen menentukan yang oleh para cendekiawan disebut sebagai “what if’s” (bagaimana bila), dimana bila saja peristiwa tersebut berakhir sedikit berbeda, maka perjalanan hidup umat manusia secara keseluruhan akan berubah secara dramatis. Peristiwa semacam itu terjadi di babakan akhir Perang Dunia Pertama di sebuah desa Prancis bernama Marcoing, yang melibatkan seorang prajurit Inggris berusia 27 tahun bernama Henry Tandey dari Warwickshire, dan seorang kopral Jerman berusia 29 tahun dari Braunau, Austria, bernama... Adolf Hitler.



Henry Tandey dilahirkan di Leamington, Warwickshire, tanggal 30 Agustus 1891, merupakan anak dari mantan tentara bernama James Tandey. Setelah mengalami masa anak-anak yang penuh kesulitan, sebagian karena sempat menghabiskan hidupnya di rumah yatim piatu, Tandey bekerja sebagai pelayan ketel di sebuah hotel di Leamington sebelum mendaftarkan diri di Angkatan Darat Inggris, bergabung dengan the Green Howards Regiment bulan Agustus 1910, dengan harapan untuk menjalani hidup yang penuh petualangan seperti impian masa kecilnya.



Prajurit Tandey bertugas bersama batalion kedua di Afrika Selatan dan Guernsey sebelum pecahnya perang tahun 1914. Dalam perang akbar ini, dia ikut berjibaku dalam pertempuran Ypres yang pertama bulan Oktober 1914. Dua tahun kemudian kakinya terluka dalam Pertempuran Somme. Sedikit masa dijalani di rumah sakit militer di Inggris, untuk kemudian dipindahkan ke Batalion ke-9 yang berkedudukan di Flanders, hanya untuk mengalami luka yang kedua kalinya di Passchendaele bulan November 1917. setelah keluar dari rumah sakit dia bergabung dengan Batalion ke-12 di Prancis tahun 1918. Unitnya sendiri dibubarkan bulan Juli tahun yang sama, dan Tandey diperbantukan di Resimen Duke of Wellington ke-5 dari 26 Juli sampai dengan 4 Oktober 1918. pada saat inilah prajurit Tandey dianugerahi DCM atas keberaniannya dalam pertempuran di Vaulx Vraucourt tanggal 28 Agustus, MM untuk heroisme di Havrincourt tanggal 12 September, dan Victoria Cross untuk keberanian yang luar biasa di Marcoing tanggal 28 September 1918. Setelah Perang Dunia I berakhir, dia ditempatkan di Resimen Duke of Wellington ke-2 di Gibraltar, Turki dan Mesir tanggal 4 Februari 1921. Setelah merasa cukup ‘bertualang’, Tandey berhenti dari ketentaraan tanggal 5 Januari 1926 dengan pangkat terakhir Sersan, dan meninggalkan nama harum sebagai prajurit Inggris dengan medali tertinggi dalam Perang Dunia I! Kalau saja dia jadi perwira, tak diragukan lagi titel bangsawan pastilah akan disematkan kepadanya.



Nama Tandey disebutkan lima kali dalam berita perang dan telah jelas mendapatkan Victoria Crossnya selama pendudukan desa Prancis dan penyeberangan ke Marcoing. Resimennya tertahan oleh tembakan senapan mesin, dan Tandey merangkak maju untuk mencari tahu lokasi dari sarang senapan mesin yang telah menimbulkan neraka pada pasukannya. Tak lama sarang tersebut telah dinetralisir oleh prajurit ini. Ketika tiba di tempat persimpangan, dengan berani dia menantang peluru untuk meletakkan sebuah papan kayu sebagai penutup lubang yang terbuka yang memungkinkan pasukannya tetap maju dan meladeni pasukan Jerman. Tapi hari belumlah berakhir, dan sekali lagi Tandey menunjukkan keperwiraannya. Dia memimpin serangan bayonet terhadap musuh yang kini telah kalah jumlah, dan berhasil memaksakan pasukan Jerman berpikir ulang apakah mereka akan meneruskan perlawanan kalau memang situasinya sudah sangat tidak memungkinkan bagi mereka. Setelah pertempuran seru tersebut hampir berakhir dan pasukan Jerman mulai menyerah atau bergerak mundur, seorang prajurit Jerman yang terluka berjalan dengan terpincang-pincang dan tepat berada dalam sasaran bidikan prajurit Tandey. Tentara musuh dengan seragam yang telah lusuh dan muka acak-adut tersebut tak pernah mengangkat senapannya dan hanya menatap Tandey, seakan meminta belas kasihan. “Aku telah siap untuk membidiknya tapi tak mampu menggerakkan pelatuk untuk menembak prajurit yang terluka itu, jadi aku biarkan ia pergi,” kata Tandey.



Prajurit Jerman itu lalu menganggukkan kepalanya seakan berterimakasih, dan kemudian kedua orang tersebut berpisah jalan, di hari itu dan juga di dalam sejarah kemudian. Hitler mundur bersama pasukan Jerman yang masih tersisa dan berhasil sampai dengan selamat di Jerman, dimana setelah perang berakhir dia menanjak dengan cepat dalam karir politiknya dengan “menjual” kisah pengkhianatan Yahudi dalam kekalahan Jerman di Perang Dunia I. Sementara bagi Tandey sendiri, tak lama dia telah melupakan peristiwa bersama prajurit Jerman tersebut dan bergabung kembali dengan resimennya, tak mengetahui bahwa dia telah dianugerahi oleh medali keberanian tertinggi yang bisa diberikan Inggris bagi para ksatrianya, Victoria Cross! Berita itu diumumkan di London Gazette terbitan 14 Desember 1918 dan yang menyematkan medali itu pada Tandey di Buckingham Palace tanggal 17 Desember 1919, tidak lain tidak bukan adalah raja George V langsung! Dalam berita-berita koran yang terbit kemudian terdapat sebuah foto yang memperlihatkan Tandey sedang memanggul prajurit yang terluka dalam Pertempuran Ypres, suatu gambar dramatis yang mensimbolisasikan bahwa seharusnyalah perang ini dapat mengakhiri perang-perang yang akan muncul kemudian. Foto tersebut menjadi begitu terkenalnya, sehingga diabadikan ke dalam kanvas oleh pelukis Italia Fortunino Matania.



Tandey berhenti dari ketentaraan di tahun 1926 dalam usia 35 tahun dengan pangkat terakhirnya adalah Sersan. Dia lalu tinggal di Leamington untuk kemudian menikah dan menjalani kehidupan sebagai seorang sipil. Dia menghabiskan 38 tahun berikutnya sebagai kepala keamanan pabrik di Triumph, yang lalu dikenal sebagai Standard Motor Company. Tandey hidup tanpa gembar-gembornya dunia luar dan meskipun dia dipandang sebagai seorang pahlawan perang oleh semuanya, tapi dia bukanlah tipe orang yang suka menghabiskan waktu untuk menyombongkan apa yang telah dia lakukan, dan malahan tak akan mau untuk membicarakannya kecuali ada orang yang bertanya.



Di tahun 1938 Perdana Menteri konservatif Inggris Neville Chamberlain (1869-1940), yang menjabat dari tahun 1937-1940, berangkat dengan muram ke Münich untuk bertemu dengan Kanselir Hitler dalam usaha terakhir untuk mencegah perang, yang kemudian berujung ke sesuatu yang lebih dikenal sebagai “Perjanjian Münich”. Dalam kunjungan tersebut Hitler mengundangnya untuk mengunjungi tempat peristirahatannya yang baru selesai dibangun di Berchtesgaden, Bavaria, yang merupakan hadiah ulang tahun dari Martin Bormann dan Partai Nazi. Bangunan tersebut berdiri setinggi 6017 kaki di atas gunung Kehlstein, dan disitu orang dapat melihat ke semua arah sampai sejauh 200 kilometer! Ketika disana sang Perdana Menteri menjelajahi bagian puncak dari bangunan dan menemukan sebuah reproduksi dari lukisan terkenal hasil karya Matania tentang pertempuran di Marcoing. Chamberlain langsung puyeng atas pilihan karya seni Hitler ini, yang menempatkan lukisan seorang pasukan Sekutu di bagian paling utama bangunan tempat peristirahatannya! Hitler tahu akan kebingungan seterunya, lalu menjelaskan, “kalau saja orang itu membunuhku dalam pertempuran tersebut, maka aku tak akan pernah melihat Jerman kembali, kuasa Tuhan telah menyelamatkanku dari tembakan-tembakan akurat yang diarahkan anak-anak Inggris itu pada kami.”



Tak pernah diketahui bagaimana tanggapan Chamberlain atas keterangan mengejutkan ini, karena tak lama Perang Dunia II yang sangat ditakutkannya pecah juga dan Chamberlain pun digantikan oleh Winston Churchill, untuk kemudian meninggal beberapa bulan setelah lengser disebabkan oleh kanker perut. Kalau dilihat dari gelagatnya sih, saya berkeyakinan bahwa Chamberlain pastinya berharap bahwa Tandey seharusnya menarik pelatuknya dan bukan melepaskannya, sehingga menghindarkan dunia (dan dirinya) dari berhadapan dengan Hitler di kemudian hari! Sebelum berpisah, tak lupa Hitler memanfaatkan waktu yang sedikit untuk meminta Chamberlain agar menyampaikan salam persahabatan dan terimakasih kepada Tandey, yang lalu berjanji akan menelepon si mantan prajurit sekembalinya ke London. Sampai pada saat itu Tandey tak pernah mengetahui sedikitpun bahwa orang yang berada dalam bidikan tembakannya 20 tahun lalu adalah sang diktator yang terkenal Adolf Hitler. Ketika diberitahu, yang ada adalah keterkejutan yang sangat, apalagi bila kita tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang dia bangga-banggakan sebelumnya.



Kabar itu akhirnya bocor juga ke dunia luar di tahun 1940, meskipun pada mulanya tak banyak orang peduli. Barulah di tahun-tahun sekarang orang mulai menaruh minat pada sisi lain dari sejarah ini. Beberapa sejarawan mengungkapkan keraguannya mengingat bahwa cerita ini terlalu bagus untuk dipercaya, meskipun dilihat dari sudut manapun ini adalah suatu fakta dan bukan kabar angin-angin belaka. Dari sudut logika pun, bisa dilihat bahwa tak akan ada manusia yang membuat cerita tentang bagaimana dia menyelamatkan orang lain yang kemudian menjadi musuh negaranya, yang membom Coventry, mem-Blitz London dari udara, dan manapaktilasi Julius Caesar dan Napoleon Bonaparte dalam menguasai Eropa! Resimen Hitler memang berada di Marcoing pada saat itu meskipun keberadaannya sendiri disana tak dapat diverifikasi. Sebabnya adalah karena banyak catatan militer Jerman di Bundesarchiv (Arsip Negara) yang hilang dalam Perang Dunia II akibat dari pemboman Sekutu yang terus menerus atas kota Berlin. Karenanya, dokumen yang menunjukkan lokasi persis keberadaan Hitler di tanggal 28 September 1918 tak tersedia. Para pembuat biografi Hitler pun mempunyai opini yang berbeda atas hal ini. Satu yang tak terbantahkan : Hitler mempunyai kopi lukisan Matania terkenal yang memperlihatkan Tandey dari sejak tahun 1937, yang mendapatkannya dari resimen lama Tandey. Kolonel Earle (mantan komandan resimen tersebut) mengatakan bahwa dia pernah mendengar dari seseorang bernama Dr. Schwend tentang keinginan Hitler untuk mempunyai foto besar lukisan Matania. Yang jelas tak lama kemudian keinginan Hitler dipenuhi karena ajudan Hitler yang bernama Hauptmann Weidmann menulis surat terimakasih ini pada Earle :



“Saya ingin menyampaikan rasa terimakasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya dari Führer atas hadiah persahabatan yang telah dikirimkan ke Berlin melalui kantor Dr. Schwend ini. Führer selalu mempunyai rasa ketertarikan atas segala sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman pribadinya dalam Perang Dunia I, dan beliau jelas-jelas tersentuh ketika saya memperlihatkan reproduksi tersebut padanya. Beliau sangat berterimakasih atas hadiah yang anda berikan, yang telah membawa begitu banyak kenangan untuknya.”



Salah satu sumber terpercaya lainnya akan cerita ini tentulah keluarga Tandey sendiri, yang hadir ketika Perdana Menteri Chamberlain menelepon untuk menyampaikan berita tentang Hitler. Keponakan Tandey yang bernama William Whateley dari Thomaby mengingat kembali sebuah telepon misterius yang terjadi hampir 60 tahun yang lalu, ketika awan kelabu peperangan mulai timbul di atas Eropa dan Perdana Menteri Chamberlain berusaha dengan sia-sia untuk mencegahnya. Di suatu sore telepon berdering dan Henry pergi untuk menjawabnya. Ketika kembali dia berkata bahwa yang menelepon adalah sang Perdana Menteri itu sendiri. Dia baru saja kembali dari pertemuannya dengan Hitler, dan ketika sedang berada di Berchtesgaden dia memperhatikan sebuah lukisan dari Matania yang memperlihatkan 2nd Green Howards di persimpangan Menin tahun 1914. Chamberlain bertanya tentang apa yang mereka lakukan disana, dan jawaban Hitler adalah dengan menunjuk gambar Tandey yang berdiri di latar depan sambil berkata, “Ini orang yang nyaris saja menembak mati saya.”



Salah satu dari aspek penting dari peristiwa ini yang menjadi perhatian utama para sejarawan adalah fakta bahwa Adolf Hitler dan Henry Tandey sama-sama berjibaku dalam Pertempuran Ypres tahun 1914, suatu peristiwa penting dalam hidup Hitler. Disini dia berkali-kali menunjukkan keperwiraannya dalam pertempuran, salah satunya dengan menyelamatkan nyawa seorang perwira yang terluka parah. Atas jasa-jasanya, maka pangkat Hitler dinaikkan menjadi Kopral. Gambar Matania yang terkenal yang memperlihatkan Tandey sedang menggotong rekannya yang terluka ke tempat pertolongan pertama di Persimpangan Menin pun sebenarnya dibuat berdasarkan pertempuran tersebut dan bukan Marcoing. Ada kemungkinan bahwa telah terjadi simpang siur akan lokasi yang sebenarnya dari pertemuan bersejarah antara Hitler dan Tandey, kemungkinan besar Ypres dan hanya sedikit kemungkinan Marcoing. Tandey sendiri pernah mengatakan bahwa dalam perang tugasnya adalah sebagai perawat teman yang terluka sekaligus orang yang melucuti tentara Jerman yang menyerah, sehingga kemungkinan besar Marcoing bukanlah saat pertama atau terakhir dimana dia melakukan suatu perbuatan yang manusiawi di suatu keadaan yang tidak manusiawi. Kenyataan bahwa Tandey dianugerahi Victoria Cross atas jasa-jasanya dalam Pertempuran Marcoing mungkin saja telah mempengaruhi Perdana Menteri Chamberlain akan ingatannya tentang bincang-bincang kenangan perang dengan Hitler. Tentu saja, berita tentang penganugerahan medali paling bergengsi Inggris pada orang yang telah menyelamatkannya akan membuat Hitler terkesan lebih lagi. Satu yang jelas dan tak terbantahkan adalah, bahwa ada hubungan yang sangat penting antara Hitler dengan lukisan Fortunino Matania yang memperlihatkan Tandey. Führer bukanlah tukang koleksi rekaman perang Inggris, dan kalaupun dia menginginkan lukisan tentang Pertempuran Ypres atau pertempuran-pertempuran lainnya dalam Perang Dunia I, tentulah dia lebih memilih lukisan yang mengetengahkan pasukan Jerman sendiri daripada pasukan musuh yang digambarkan sebagai pahlawan!



Di perang tersebut, Adolf Hitler (1889-1945) bergabung dengan Resimen Infanteri Bavaria ke-16 dan menjadi pengantar berita dari dan ke front. Dia membuktikan dirinya sebagai seorang prajurit yang berani dan terpercaya, terluka dua kali dan hampir saja mati karena gas beracun. Komandannya tidak buta, dan Hitler dianugerahi medali Eiserne Kreuz kelas pertama. Secara pribadi, Hitler mempunyai keyakinan tinggi bahwa takdir telah menuntunnya menjadi pemimpin Reich Jerman, dan memandang dirinya sendiri sebagai penyelamat ras Jerman, suatu hal yang sebagian dipengaruhi oleh opera-opera melodramatis karangan Wagner. Dia percaya bahwa apa yang telah dilakukan oleh Tandey terhadap dirinya adalah bagian dari takdir lain yang lebih besar yang diamanatkan padanya, keyakinan yang sama pula ketika secara ajaib dia berkali-kali selamat dari usaha pembunuhan yang diarahkan terhadap dirinya. Yang jelas, Hitler tidak pernah melupakan saat-saat mudanya dimana dia hampir saja bertemu dengan malaikat maut, dan juga wajah orang yang “memberinya” kehidupan. Dia mempunyai klipingan koran yang memperlihatkan foto terkenal ketika prajurit Tandey dianugerahi Victoria Cross, dan dia menyimpannya sepanjang waktu. Ketika Hitler naik menjadi penguasa, dia memerintahkan agar para pejabat berkepentingan menyimpan rekaman tugas militernya selama Perang Dunia I, dan juga tidak lupa meminta reproduksi lukisan Matania, yang kemudian dia pasang dan tunjukkan kepada para pengunjung rumah peristirahatannya dengan penuh kebanggaan.



Reproduksi lukisan tersebut tak lagi diketahui nasibnya setelah perang, apakah telah hancur atau dicuri oleh pasukan Sekutu yang merampok, merampas dan merusak Eagles Nest ketika perang mendekati akhirnya. Pasukan Inggris sudah bersiap-siap untuk melenyapkannya dari muka bumi dengan menggunakan setruk penuh dinamit, ketika para perwira Amerika datang tepat pada waktunya dan menyuruh sekutunya tersebut untuk mengurungkan niatnya dan kembali menyelesaikan perang yang belum selesai.



Selama hidupnya, Tandey dihantui oleh kenangan akan perbuatan “baik” yang telah dilakukannya di masa perang, dimana satu tarikan pelatuk sederhana akan menyelamatkan dunia dari bencana yang menelan puluhan juta jiwa manusia. Dia tinggal di Coventry ketika Luftwaffe membombardir kota tersebut di tahun 1940. Tandey hanya mampu berlindung di tempat penampungan sementara di luar api menggila dimana-mana bagaikan inferno dalam deskripsi Dante. Dia juga berada di London ketika kota tersebut kebagian gilirannya dibom, dan menceritakan pengalamannya kepada seorang jurnalis di tahun 1940, “Bila saja aku tahu apa dia akan menjadi apa. Ketika aku melihat semua orang, anak-anak dan wanita yang terbunuh juga terluka, aku begitu menyesal aku telah melepaskannya.”



Tandey, yang ketika perang kedua kalinya pecah telah berumur 49 tahun, berusaha untuk bergabung kembali dengan resimen lamanya dengan harapan untuk “tak melepaskannya kali ini”, tapi kemudian tidak lolos tes fisik karena pengaruh luka yang dideritanya dalam Pertempuran Somme. Tapi Tandey tak menyerah, dan memilih untuk bertugas sebagai sukarelawan sipil di Homefront.



Henry Tandey VC DCM MM meninggal dunia dengan tenang di Coventry tahun 1977 di usia 86 tahun. Sesuai dengan permintaan terakhirnya, jenazahnya dikremasi dan abunya disimpan di Pekuburan Inggris di Marcoing bersama dengan rekan-rekannya yang telah gugur, juga dekat dengan lokasi dimana dia mendapatkan Victoria Cross 60 tahun sebelumnya. Tiga tahun kemudian, janda Tandey menjual medali-medali suaminya dengan harga pemecah rekor £27.000. riwayat medali ini masih belum berakhir, karena pada Armistice Day tahun 1997 mereka diperlihatkan kembali ke Resimen Lama Tandey, The Green Howards, oleh Sir Ernest Harrison OBE dalam suatu upacara istimewa di Menara London. Saat ini medali-medali tersebut tersimpan dengan rapi di The Green Howards Regimental Museum.





Sumber :

www.en.wikipedia.org

www.firstworldwar.com

www.iamthewitness.com





Sabtu, 28 November 2009

Para Peraih Ritterkreuz dari Fallschirmjäger

Begitu terkesannya Adolf Hitler pada aksi berani para Fallschirmjäger dalam penyerbuan mereka ke Eben-Emael, sehingga dia menganugerahkan Ritterkreuz pada para perwiranya yang terlibat. Disini Hitler berpose bersama para perwira tersebut tak lama setelah acara pemberian medali. Dari kiri ke kanan : Egon Delica, Rudolf Witzig, Walter Koch, Otto Zierach, Adolf Hitler, Helmut Ringler, Joachim Meissner, Walter Kiess, Gustav Altmann dan Rolf Jäger





Major Horst Trebes (kanan) dan anggota Fallschirmjäger lain dalam acara penganugerahan medali di pulau Kreta tahun 1941, setelah pulau tersebut berhasil diduduki Jerman dengan pengorbanan yang berdarah-darah dari Fallschirmjäger. Horst Trebes adalah mungkin satu-satunya penerima Ritterkreuz di seluruh Wehrmacht yang medalinya dicopot, dihukum, tapi kemudian direhabilitasi kembali! Gara-garanya adalah dia tidak sengaja membunuh temannya ketika mabuk berat...





Tiga orang penerima Ritterkreuz terkemuka dari Fallschirmjäger, dari kiri ke kanan : General der Fallschirmtruppe Hermann Bernhard Ramcke, Generaloberst Kurt Student, dan Generalleutnant Hans Kroh





General der Fallschirmtruppe Hermann Bernhard Ramcke, anggota Fallschirmjäger yang menerima medali tertinggi : Brillanten. Dari hanya 27 orang penerima medali super bergengsi ini selama perang, Ramcke tercatat sebagai penerima ke-20, yang didapat ketika masih menjadi Generalleutnant dan komandan Benteng Brest tanggal 19 September 1944





Oleh : Alif Rafik Khan



Daftar di bawah adalah para peraih Ritterkreuz (Salib Ksatria/Knight’s Cross) dari Fallschirmjäger dari tahun 1939-1945 dengan total 133 orang. Sebelum didata lebih rinci, inilah sedikit trivia tentang mereka :



Tempat mereka mendapatkan Ritterkreuz :

1 orang mendapatkannya di Norwegia

21 orang mendapatkannya di Normandia

10 orang mendapatkannya di Belgia

13 orang mendapatkannya di Belanda

1 orang mendapatkannya di Corinthia

27 orang mendapatkannya di Kreta

4 orang mendapatkannya di Afrika

40 orang mendapatkannya di Italia

8 orang mendapatkannya di Front Timur

2 orang mendapatkannya di Ardennes

6 orang mendapatkannya di Jerman (akhir perang)



Dari 133 orang penerima Ritterkreuz :

69 orang juga dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold

6 orang mendapatkannya secara anumerta

20 orang penerimanya kemudian terbunuh dalam pertempuran

1 orang penerimanya dieksekusi setelah perang

3 orang penerimanya tewas dalam kecelakaan

3 orang penerimanya terbunuh karena lukanya di rumah sakit

1 orang penerimanya adalah juga seorang pilot

3 orang penerimanya adalah dokter di cabang medis



Daftar berdasarkan abjad di bawah terdiri dari nama penerima, pangkat terakhir yang disandangnya, tanggal lahir, tanggal penyerahan medali (termasuk segala “turunannya” : Eichenlaub, Schwertern, dan Brillanten), plus tanggal dan tempat meninggalnya.

Tak ada yang sempurna di dunia ini, termasuk juga daftar di bawah. Beberapa orang akan menyebutkan bahwa ada nama lain yang harusnya masuk juga, orang-orang seperti Major Rudolf Berneike, Oberleutnant Robert Höfeld, Major Walter Kieß, Major Ingenhoven dan Oberst Friedrich Morzik, yang disebutkan di beberapa publikasi sebagai penerima Ritterkreuz dari Fallschirmjäger... tapi apakah begitu pada kenyataannya? Beberapa orang yang disebutkan di atas adalah pilot glider yang turut serta dalam operasi Fallschirmjäger, dan beberapa orang menerima Ritterkreuz ketika masih berada di cabang lain (meskipun di kemudian hari mereka bergabung dengan Fallschirmjäger).

A

Major Herbert Karl Abratis

Lahir 21 Maret 1918, RK tanggal 24 Oktober 1944, KIA dekat Stettin 29 Maret 1945

Major Heinz Paul Adolff

Lahir 29 Juni 1914, RK tanggal 26 Maret 1944, KIA di Sisilia 17 Juli 1944

Major Gustav Altmann

Lahir 13 April 1912, RK tanggal 12 Mei 1940, meninggal 20 Februari 1981

Oberfeldwebel Peter Arent

Lahir 26 Juni 1917, RK anumerta tanggal 4 Desember 1942, KIA Tunisia 3 Desember 1942

Oberleutnant Helmut Arpke

Lahir 3 Maret 1917, RK tanggal 16 Januari 1942, KIA di Front Timur 16 Januari 1942

B

Major Josef Barmetler

Lahir 11 Maret 1904, RK tanggal 9 Juli 1941, meninggal 20 Februari 1945

Oberst Karl Heinz Becker

Lahir 2 Januari 1914, RK tanggal 9 Juli 1941, Eichenlaub 12 Maret 1945. Meninggal 3 Oktober 2000 di Jerman

Major Erich Beine

Lahir 26 Juni 1914, RK tanggal 18 November 1944

Oberleutnant Karl Berger

Lahir 31 Oktober 1919, RK tanggal 7 Februari 1945

Major Herbert Christopher Karl Beyer

Lahir 4 Agustus 1913, RK tanggal 9 Juni 1944, meninggal 4 September 1966

Oberst Ernst Blausteiner

Lahir 16 Mei 1911, RK tanggal 29 Oktober 1944

Oberleutnant Graf Wolfgang von Blücher

Lahir 31 Januari 1917, RK di Belanda 1940, KIA Kreta 21 Mei 1941

Hauptmann Rudolf Bohlein

Lahir 4 Januari 1917, RK tanggal 30 November 1944

Oberst Rudolf Böhmler

Lahir 12 Juni 1914, RK tanggal 26 Maret 1944, meninggal 24 November 1968

General Bruno Oswald Bräuer

Lahir 4 Februari 1893, RK tanggal 24 Mei 1941, dieksekusi di Yunani 20 Mei 1947

Oberfeldwebel Manfred Büttner

Lahir 15 Februari 1921, RK tanggal 29 April 1945

C

Leutnant Georg le Coutre

Lahir 13 September 1921, RK tanggal 7 Februari 1945



D

Hauptmann Egon Delica

Lahir 4 Januari 1915, RK tanggal 12 Mei 1940. Meninggal 26 April 1999

Oberleutnant Rudolf Donth

E

Oberstleutnant Reinhard Karl Egger

Lahir 11 Desember 1905, RK tanggal 9 Juli 1941, Eichenlaub 24 Juni 1944.

Major Johann Engelhardt

Lahir 11 Desember 1916, RK tanggal 29 Februari 1944.

Generalleutnant Wolfgang Erdmann

Lahir 13 November 1898, RK tanggal 8 Februari 1945, bunuh diri 5 September 1946

Major Werner Ewald

Lahir on 23 Oktober 1914, RK tanggal 17 September 1944.

F

Major Ferdinand Foltin

Lahir 30 November 1916, RK tanggal 9 Juni 1944, masih hidup di Austria (2009)

Leutnant Herbert Fries

Lahir 1 Maret 1925, RK tanggal 5 September 1944.

Major Ernst Fromming

Lahir 4 Februari 1911, RK tanggal 18 November 1944. Meninggal 18 Agustus 1959 di Jerman

Hauptmann Wilhelm Fulda

Lahir 21 Mei 1909, RK tanggal 14 Juni 1941, meninggal 8 Agustus 1977 di Hamburg

G

Leutnant Robert Gast

Lahir 28 Maret 1920, RK tanggal 6 Oktober 1944.

Major Alfred Genz

Lahir 8 Maret 1916, RK tanggal 14 Juni 1941. Meninggal 23 April 2000 di Jerman

Oberst Walter Gericke

Oberleutnant Ernst Germer

Major Siegfried Josef Gerstner

Oberleutnant Helmut Gustav Görtz

Oberstleutnant Franz Grassmel

Oberst Kurt Gröschke

H

Hauptmann Andreas Hagl

Major Reino Hamer

Hauptmann Friedrich Hauber

General Richard Heidrich

Generalmajor Ludwig Heilmann

Oberleutnant Erich Hellmann

Oberst Harry Herrmann

Major Maximillian Herzbach

Oberstleutnant Baron Friedrich August von der Heydte

Hauptmann Eduard George Hübner

J

Oberleutnant Georg Rupert Jacob

Oberarzt Dr. Rolf Karl Ernst Jäger

Major Siegfried Jamrowsk

K

Oberleutnant Wilhelm Kempke

Hauptmann Horst Kerfin

Major Helmut Kerutt

Oberfeldwebel Karl Koch

Oberstleutnant Walter Koch

Hauptmann Willi Koch

Major Rudolf Kratzert

Hauptmann Heinz Krink

Generalmajor Hans Kroh

Oberleutnant Willy Kroymanns

Major Martin Kühne

Leutnant Kurt Kunkel

Leutnant Rudolf Kurz

L

Oberstabsarzt Dr. Carl Lamgemeyer

Oberleutnant Erich Lepkowski

Oberstleutnant Walter Paul Liebing

M

Hauptmann Rolf Mager

Oberleutnant Johannes Marscholek

General Eugen Meindl

Hauptmann Joachim Meissner

Oberfeldwebel Otto Menges

Major Gerhardt Mertens

Major Heinz Meyer

Major Dr. Werner Milch

Hauptmann Gerd Mischke

N

Oberleutnant Karl Neuhoff

Oberstabarzt Dr. Heinrich Neumann

O

Leutnant Heinrich Orth

P

Major Gerhard Pade

Major Hugo Paul

Gefreiter Herbert Peitsch

Oberst Erich Pietzonka

Major Fritz Prager

R

General Hermann Bernhard Ramcke

Oberleutnant Siegfried Rammelt

Major Ernst Willi Raprager

Oberfeldwebel Adolf Reininghaus

Major Paul-Ernst Renisch

Oberstleutnant Rudolf Rennecke

Hauptmann Helmut Ringler

Major Arnold von Roon

S

Oberleutnant Walter Sander

Leutnant Bruno Sassen

Major Gerhard Schacht

Major Martin Schachter

Generalleutnant Richard Schimpf

Leutnant Horst Schimpke

Oberstleutnant Gerhart Schirmer

General Alfred Schlemm

Major Herbert Schmidt

Hauptmann Leonhard Schmidt

Oberstleutnant Werner Herbert Schmidt

Oberstleutnant Count Wolf Werner von der Schulenburg

Generalmajor Karl-Lothar Schulz

Oberleutnant Erich Schuster

Major Alfred Schwaezmann

Major Günther Sempert

Oberleutnant Hubert Sniers

Major Albert Stecken

Major Edgar Stentzler

Major Kurt Stephani

KIA 20.8.1944

Hauptmann Günther Straehler-Pohl

Generaloberst Kurt Student

Generalleutnant Alfred Sturm

T

Oberstleutnant Karl Stephan Tannert

Major Hans Teusen

Hauptmann Cord Tietjen

Oberstleutnant Erich Timm

Hauptmann Rudolf Toschka

Hauptmann Horst Trebes

Generalleutnant Heinrich Trettner

Hauptmann Herbert Trotz

U

Oberfeldwebel Alexander Uhlig

V

Major Kurt Veth

Oberleutnant Viktro Vitali

W

Hauptmann Helmut Wagner

Generalmajor Erich Walther

Hauptmann Friedrich-Wilhelm Wangerin

Oberleutnant Hans-Joachim Weck

Oberfeldwebel Heinrich Welskop

Leutnant Walter Werner

Leutnant Karl-Hans Wittig

Major Rudolf Witzig

Z

Hauptmann Hilmar Zahn

Major Otto Zierach



Sumber :

www.en.wikipedia.org

www.forum.axishistory.com