Tampilkan postingan dengan label Aneka Artikel Sumbangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aneka Artikel Sumbangan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2015

Perbedaan Mendasar Heer (Angkatan Darat) dan Waffen-SS



Oleh : Steve Edpin

Beberapa perbedaan mendasar antara Heer (angkatan darat) dan Waffen-SS dilihat dari beberapa sudut pandang.

1. PEREKRUTAN & ANGGOTA

Ada beberapa faktor yang membedakan Heer dan Waffen-SS dalam memilih anggotanya, salah satunya adalah faktor edukasi formal. Dalam Heer, yang bisa menjabat sebagai perwira hanyalah orang-orang yang terpilih dan memiliki pendidikan formal, contohnya sekolah tinggi dan universitas. Bagi mereka yang memiliki persyaratan tersebut, dapat langsung mendaftarkan diri sebagai calon perwira. Untuk para petugas dalam jajaran angkatan bersenjata (Wehrmachtbeamten) pun, anggotanya dibagi menjadi empat level karir tergantung dari seberapa tinggi pendidikan formal yang telah ditempuh. Sebaliknya, dalam Waffen-SS hal yang diutamakan adalah kebugaran fisik, kekuatan secara mental dan psikologis, tanpa mementingkan pendidikan formal (kecuali anggota Allgemeine-SS dan dinas keamanan yang membutuhkan orang-orang cerdas sebagai 'otak' dari organisasinya). Seseorang harus berdinas dalam SS minimal satu tahun sebelum bisa mendaftarkan diri menjadi calon perwira.

Selain itu, walaupun para prajurit Heer berasal dari latar belakang yang beraneka ragam, para perwira di jajaran Heer cenderung terdiri dari mereka yang memiliki status, kelas, atau kedudukan tinggi (noblemen) di kalangan masyarakat Jerman, terutama pasukan kavaleri yang terkenal anggotanya didominasi oleh kaum bangsawan.

Hal ini sangat berlawanan dengan pandangan Waffen-SS yang lebih memilih anggota-anggotanya dari kawasan pinggiran kota dan daerah pedesaan karena dianggap lebih dapat menguasai medan pertempuran yang sulit dengan cepat. Pada awalnya, para calon perwira Waffen-SS dipilih dan direkomendasikan oleh atasan-atasan mereka secara pribadi. Di beberapa kasus, terkadang hal ini terbukti berat sebelah karena atasan-atasan tidak merekomendasikan bawahan-bawahannya secara objektif. Pengecualian untuk dinas keamanan dan intelijen dalam tubuh SS yang anggotanya disaring dari orang-orang paling cerdas dari segala penjuru Jerman.

Dari segi fisik, Heer bisa dibilang agak longgar dalam menerima anggota-anggotanya. Namun tetap saja tes kesehatan awal harus dilakukan dengan menyeluruh. Bagi mereka yang lolos akan dicap layak dan dapat menjadi anggota aktif angkatan bersenjata. Bagi mereka yang tidak lolos namun masih layak untuk berdinas akan dicap 'Dinas Militer Cadangan', jika sewaktu-waktu mobilisasi dilakukan mereka akan dipanggil menjadi anggota aktif.

Bagi Waffen-SS, tahap penyeleksian fisik lebih ketat. Terutama untuk pasukan SS awal (SS-Verfügungstruppe), hanya yang berumur 17-22 tahun yang boleh mendaftar (demi keperluan perang batasan umur ditingkatkan menjadi 35 tahun). Mereka harus memiliki tinggi badan minimal 172-178 cm, tergantung dari unitnya. Mereka harus memiliki penglihatan jelas secara normal tanpa kacamata dan gigi lengkap yang tidak ditambal. Mereka pun harus orang Jerman asli dan dapat membuktikan kemurnian rasnya paling sedikit dari tahun 1800.

Untuk hal pelatihan, Heer merupakan suatu struktur militer yang sudah ada sejak lama. Mereka sudah memiliki prosedur-prosedur yang terstruktur, baik dalam tahap perencanaan maupun operasional. Akan tetapi, pada awal terbentuknya, SS tidak memiliki struktur pelatihan yang dapat diikuti secara pasti oleh semua unit. Waffen-SS bukanlah suatu formasi tempur yang matang, dan baru resmi terbentuk pada tahun 1940. Banyak materi-materi yang diadopsi dari Heer diimplementasikan di SS, termasuk teori-teori tempur revolusioner yang berasal dari departemen penelitian Heer. Itulah salah satu alasan mengapa SS membentuk Allgemeine-SS yang dirancang untuk melakukan segala sesuatu dari sudut pandang SS.

2. PENDIDIKAN

Dalam Heer - umumnya pada masa sebelum perang - pendidikan dititikberatkan pada pengetahuan dan doktrin militer tradisional seperti: sejarah militer Jerman, penguasaan senjata, membaca peta, taktik-taktik logis, penguasaan lapangan, dan di beberapa kasus, sedikit dasar-dasar paham nasional sosialisme. Heer juga dilatih untuk memahami hukum-hukum perang yang sudah berlaku secara internasional, sesuatu yang tidak ada dalam SS.

Berbeda dengan kawan-kawan militer di SS, sekalipun taktik militer yang mereka gunakan sebagian besar berasal dari Heer, pendidikan Waffen-SS dititikberatkan pada paham nasional sosialisme yang sangat mendalam yang mengharuskan agar anggota-anggotanya menunjukkan kefanatikannya dalam bertempur, yang seringkali menyerah atau mundur dari pertempuran dihilangkan dari kamus mereka. Mereka pun memiliki kelas pendidikan ideologi dan politik secara terpisah, di mana sebagian besar anggota sama sekali tidak memahami materi yang diberikan, selain indoktrinasi yang dicekoki secara buta.

Perbedaan yang paling mencolok, dibanding dengan Heer, kenaikan pangkat dalam SS lebih bergantung pada komitmen pribadi dalam SS, keefektifan di lapangan, dan pengetahuan politik. Sedangkan dalam Heer, kenaikan pangkat difokuskan pada kelas, pendidikan, dan wawasan yang luas.

Seperti yang telah dijelaskan pada poin 1 sebelumnya, dalam Heer, jabatan perwira disandang oleh mereka yang berasal dari kelas menengah atas dan yang memiliki kualifikasi pendidikan formal. Namun, tidak demikian halnya dalam SS.

3. RASA PERSAUDARAAN

Waffen-SS selalu menekankan kesadaran pribadi akan kedisiplinan dan rasa saling menghormati satu sama lain. Namun dalam jajaran Heer yang lebih menekankan militer tradisional, terlihat lebih kaku karena kedisiplinan selalu ditekankan dari atasan dalam kehidupan sehari-hari.

Dilihat dari segi suasana kerja secara keseluruhan, suasana di SS lebih santai daripada Heer. Hubungan keseharian antara atasan dan bawahan juga lebih santai dalam SS. Perwira SS disebut sebagai 'Führer' (pemimpin), sedangkan dalam Heer disebut sebagai 'Offizier' (perwira). Para anggota SS memanggil atasannya langsung dengan pangkat, sedangkan dalam Heer yang lebih disiplin, panggilan disertai dengan kata 'Herr' (Bapak) sebelum pangkat. Panggilan-panggilan ini dapat diikuti dengan nama belakang. Sebaliknya, dalam suasana latihan, para prajurit Waffen-SS digembleng habis-habisan oleh atasannya.

Semua anggota SS - tidak peduli pangkat mereka, baik SS-Schütze (prajurit SS paling bawah) maupun Reichsführer-SS (pemimpin SS) - disebut SS-Mann, yang secara harafiah berarti 'orang SS' atau 'anggota SS'.

Waffen-SS selalu menekankan pada para perwira agar mereka membaur dalam segala aktivitas dengan bawahan-bawahannya. Rasa saling percaya antara atasan dan bawahan, maupun antar sesama prajurit dibiasakan sejak di barak. Para prajurit diperintahkan untuk tidak mengunci lemari penyimpanan mereka di barak dengan tujuan mendidik mereka agar saling percaya satu sama lain. Jika seorang prajurit memanfaatkan rasa saling percaya ini dan mencuri barang milik kawannya, maka hukuman yang diberikan akan lebih berat daripada hukuman yang diberikan Heer, dan ganjarannya pun lebih keras daripada yang bisa dibayangkan.

Moto SS "Meine Ehre heißt Treue" (kehormatanku adalah kesetiaan) merupakan sesuatu yang didalami dalam kehidupan mereka. Loyalitas yang ditunjukkan di awal tahun pertempuran diutamakan pada negara dan Führer mereka. Tapi seiring berjalannya perang dan kekalahan Jerman yang bertubi-tubi, kesetiaan ini menjadi pudar dan pasukan SS menunjukkan kesetiaan yang berbeda, yaitu rasa rela berkorban terhadap kawan-kawan mereka yang mampu mereka terapkan dalam aksi langsung. Rasa setiakawan SS ini tidak terdapat di semua militer Jerman, kecuali beberapa pasukan seperti Fallschirmjäger yang memiliki moto "Treue um Treue" (kesetiaan demi kesetiaan).

Meski demikian, para anggota Waffen-SS Jerman (Jerman asli) memperlakukan anggota Waffen-SS lainnya - baik Jermanik (keturunan Jerman) maupun non-Jermanik (bukan keturunan Jerman) - secara berbeda. Mereka memperlakukan anggota SS lain ini dengan kasar. Seringkali dalam pelatihan mereka diperlakukan dengan tidak hormat dan dicacimaki. Dan tidak jarang juga Himmler harus turun tangan dengan cara memberi teguran atau bahkan mencopot posisi para instruktur SS Jerman ini agar memperlakukan kawan-kawan SS lainnya dengan setara.

4. KEPERCAYAAN

Dalam Heer - layaknya para prajurit di sebagian besar negara Eropa yang didominasi agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan - kepercayaan atau agama dianggap merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Agama memberikan kepercayaan spiritual yang secara tidak langsung mempengaruhi aksi para prajurit di lapangan, terutama secara mental. Heer memiliki pastor atau pendeta lapangan yang bertugas memberikan berbagai sakramen bagi para prajuritnya.

Sebaliknya, anggota SS didorong untuk meninggalkan agama mereka. Himmler menganjurkan agar petinggi-petinggi Allgemeine-SS mulai meninggalkan agama mereka untuk memberikan contoh kepada bawahan-bawahannya. Himmler memiliki sebuah tujuan untuk membangun suatu 'agama' baru yang dianut SS, di mana Mein Kampf menjadi kitab keagamaannya. Segala proses kehidupan pun dilakukan secara SS, mulai dari pembaptisan bayi, pernikahan, dan pemakaman orang meninggal, yang semuanya dilakukan ala SS.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa banyak anggota SS yang telah meninggalkan gereja, pada akhirnya kembali kepada kepercayaannya menjelang akhir perang di mana Jerman berada di ambang kekalahan besar.

4. AKSI

Karena sebagian besar anggota Waffen-SS bukanlah orang yang memiliki standar pendidikan formal yang memadai, mereka cenderung lebih mudah dicekoki indoktrinasi politik dan menjalankan perintah tanpa pertimbangan. Hal ini mengakibatkan prajurit rendahan Waffen-SS cenderung lebih fanatik dan tidak logis dalam pertempuran, karena mereka tidak mampu berpikir secara kritis dalam menangani hal-hal yang bersifat umum. Mereka cenderung memecahkan segala masalah dengan 'cara militer' dan hanya melakukan apa yang diperintahkan tanpa berpikir lebih lanjut.

Di satu sisi, kefanatikan di pertempuran ini memberikan dampak positif yang membuat musuhnya tercengang karena sifat pasukan Waffen-SS yang pantang menyerah serta mampu bertahan meski dalam jumlah yang kecil sekalipun dibanding musuhnya. Pasukan Waffen-SS terkenal nekat dalam mengambil resiko. Hal ini terbukti efektif di medan tempur. Namun di sisi lain, karena hal ini juga Waffen-SS dapat dinilai tidak efisien dalam mengalokasikan pasukannya. Begitu besar jumlah korban yang diderita selama pertempuran hanya karena mereka mempertahankan mati-matian suatu objektif atas nama ideologi yang bahkan tidak mereka mengerti.

Karena hal itu jugalah banyak sekali anggota Waffen-SS yang memperlakukan anggota Waffen-SS lain dengan kasar, seperti yang telah disebut pada poin 3. Selain itu, mereka secara terang-terangan memendam kebencian buta terhadap musuh-musuhnya. Di Front Timur kebencian akan Yahudi-Bolshevisme secara gencar dikumandangkan. Di Front Barat kebencian akan sekutu Anglo-Amerika juga disebarluaskan. Karena hal inilah, pasukan SS terkenal sebagai pasukan 'rendahan' yang tidak menjunjung nilai ksatria dalam menjalani peperangan, di mana mereka terlihat menjalani pertempuran tanpa ikut ambil bagian dalam mengemban tanggung jawabnya sebagai sebuah organisasi militer profesional. Sebagai contoh: setelah perang usai, mantan prajurit dan perwira SS mengakui bahwa banyak elemen pasukan Waffen-SS mengeksekusi tahanan perang dengan alasan karena mereka tidak ingin mengurus tahanan perang yang akan menghambat gerak maju pasukan; sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab mereka untuk memperlakukan tahanan perangnya dengan baik.

Berbeda dengan Heer yang merupakan suatu angkatan yang masih memegang teguh norma-norma perang secara ksatria (chivalrous warfare) seperti yang sudah dihadapi nenek moyang mereka. Meskipun hal ini tidak menutup kemungkinan anggota-anggota Wehrmacht juga terlibat dalam kejahatan perang. Seiring berjalannya perang, dapat dikatakan semua negara melakukan kejahatan perang.

5. JUMLAH KORBAN

Seperti yang telah dijelaskan pada poin 4, jumlah korban yang diderita Waffen-SS begitu besar karena indoktrinasi politik dan ideologi nasional sosialis yang sudah diberikan sejak awal mereka bergabung dengan SS. Akan tetapi masih banyak perdebatan di kalangan sejarawan mengenai jumlah korban yang diderita Waffen-SS dibanding Heer. Selama perang Heer kehilangan sepertiga dari jumlah keseluruhan pasukannya, sedangkan Waffen-SS secara total kehilangan seperempat pasukannya. Salah satu faktor yang menyebabkan Waffen-SS kehilangan lebih sedikit korban adalah karena indoktrinasi yang diberikan menyebabkan mereka menjadi agresif saat ofensif dan tetap tegar dalam posisi defensif.

6. KESIMPULAN

Tidak diragukan lagi bahwa Waffen-SS telah membuktikan kapasitasnya sebagai suatu formasi tempur yang tangguh dalam sejarah perang modern. Namun, kembali lagi pada beberapa pembahasan di atas, karena kekejian dan kebrutalan yang dilakukan, Waffen-SS tidak dianggap oleh para musuhnya sebagai suatu formasi tempur yang terhormat. Para tahanan perang Waffen-SS sering dihajar oleh musuh-musuhnya, dan diperlakukan lebih kasar daripada tahanan angkatan bersenjata lainnya. Para mantan anggota SS tidak berhak mendapatkan dana pensiun dan keuntungan-keuntungan lain seperti yang didapat anggota Heer.

Berbeda dengan SS, Wehrmacht (angkatan bersenjata Jerman) mampu menempatkan dirinya setara dengan legiun Caesar dan Grande Armeé Napoleon sebagai suatu formasi tempur teratas sepanjang sejarah, yang bukan saja dilihat dari kemampuan tempurnya namun juga dilihat dari jiwa prajurit sebagai ksatria. Seusai perang, tahanan perang Wehrmacht lebih bersahabat dan lebih mudah diajak berkompromi; suatu hal yang lebih disukai Sekutu sehingga mereka diperlakukan dengan lebih baik.

Tidak dapat dipungkiri, SS berperan besar dalam melikuidasi begitu banyak populasi dan tahanan perang. Dapat kita lihat, di mana pasukan SS beroperasi, hampir selalu ada kejahatan perang yang mengikutinya. Perbedaan yang begitu mencolok jika kita lihat medan tempur Afrika. Tidak ada kejahatan perang massal yang terjadi di sana, seperti yang terjadi di medan Eropa. Salah satu alasan yang dapat diambil adalah karena tidak ada pasukan SS yang disebar di medan Afrika untuk fungsi tempur. Ada sebuah kantor keamanan SS yang dibuka namun hanya berfungsi untuk tugas garis belakang dan fungsi non-tempur. Antara Jerman-Italia dan Inggris juga saling menghormati satu sama lain di medan tempur. Terlebih lagi Jerman yang dipimpin oleh Rommel, dan Inggris yang akhirnya dipimpin Montgomery, dua jenderal terhormat yang menjunjung tinggi 'the rules of chivalrous warfare'.


Sumber :

Rabu, 28 Januari 2015

Pengeboman Dresden (1945), Pembantaian Keji Sekutu atas Jerman


Oleh : Cahyono Adi

Selama ini kita hanya mendapatkan informasi sepihak mengenai Perang Dunia II, yaitu informasi dari pihak pemenang, yaitu sekutu Amerika-Inggris-Perancis-Uni Sovyet dan negara-negara ZOG (zionist occupied goverments) lainnya. Kita jarang sekali, kalau tidak bisa dikatakan tidak pernah, mengetahui dari sudut pandang lawan sekutu, yaitu Jerman-Italia-Jepang. Kita misalnya tidak pernah mengetahui motif Hitler membiarkan ratusan ribu Tentara Ekspedisi Inggris yang terkepung di Dunkirk, Perancis, melarikan diri kembali ke Inggris. Kita tentu saja juga jarang, kalau tidak dikatakan tidak pernah, mendengar tentang peristiwa Pemboman Dresden meski itu adalah sebuah peristiwa paling memilukan dalam Perang Dunia II!

Dresden pada tahun 1945 adalah kota yang indah dengan 650.000 penduduknya yang ramah tamah. Pada tgl 13 Februari 1945 kota ini dipenuh sesaki oleh sekitar 750.000 pengungsi Jerman yang melarikan diri dari kekejaman tentara komunis-yahudi Uni Sovyet. Mereka berkemah di taman-taman dan tanah lapang yang ada, bahkan di trotoar dan jalan-jalan. Mereka merasa aman di sana karena Dresden bukan kota yang memiliki fasilitas militer target serangan musuh. Sebaliknya Dresden adalah "kota rumah sakit" yang memiliki 25 rumah sakit dan fasilitas medis besar. Mereka juga sadar bahwa menurut hukum internasional, kota mereka tidak mungkin menjadi sasaran serangan militer sebagaimana Jerman juga tidak pernah menyentuh "kota-kota pendidikan" Inggris seperti Oxford dan Cambridge.

Namun anggapan mereka keliru. Pada jam 10.15 malam sebanyak 800 pesawat bomber dan pesawat-pesawat tempur pengawal Inggris memenuhi langit Dresden dan menumpahkan berton-ton bom penghancur. Ribuan orang tewas maupun luka-luka dalam satu serangan tersebut. Saat pesawat-pesawat itu menghilang dari langit, penduduk dan pengungsi yang selamat keluar dari persembunyian untuk memberikan pertolongan para korban. Demikian juga ribuan penolong dari kota-kota dan desa-desa sekitar bergegas menuju Dresden. Mereka tidak pernah membayangkan peristiwa tragis yang baru saja terjadi. Tentu saja mereka juga tidak pernah menyangka bahwa berhentinya serangan hanya tipuan belaka. Karena saat jalan-jalan dipenuhi para penolong dan korbannya, gelombang kedua serangan udara Inggris kembali datang.

Serangan kedua memberikan dampak kehancuran yang lebih besar dari kota yang masih dipenuhi bara api oleh serangan pertama itu. Api berkobar lebih hebat lagi membakar. Demikian hebat kebakaran tersebut dan panas yang ditimbulkannya hingga para penolong dari luar kota kesulitan untuk memasuki kota. Sementara ribuan penduduk Dresden dan pengungsi terbakar hidup-hidup hingga ke tulang.

Cerita tentang kengerian peristiwa itu tidak terkatakan. Saat anak-anak kecil yang terpisah dari orang tuanya terjebak di dalam genangan aspal yang meleleh karena panas. Atau saat anak-anak kecil terinjang-injak oleh orang-orang yang berebut jalan menyelamatkan diri. Hal seperti ini tentunya tidak pernah dialami rakyat Inggris, Amerika dan sekutu-sekutunya.

Bencana kemanusiaan ini belum berhenti karena keesokan harinya giliran Amerika unjuk gigi. Sebanyak 400 pesawat pembom menumpahkan muatannya dan pesawat-pesawat tempur menembaki orang-orang di jalanan termasuk para tenaga medis yang tengah merawat pasiennnya di sepanjang tepi Sungai Elbe.

Namun itu semua masih belum berakhir karena tiga serangan lanjutan telah direncanakan tentara sekutu: 15 Februari, 3 Maret, dan 17 April 1945 dengan total pesawat pengebom mencapai 1.172 unit. Korban tewas diperkirakan mencapai 400.000 jiwa, atau bahkan lebih. Dan karena Jerman tidak memiliki cukup orang untuk melakukan evakuasi, mayat-mayat hanya disemprot dengan disinfektan atau api kemudian dikubur bersama reruntuhan bangunan.

Sebagaimana ditulis oleh Jendral Patton, kamandan pasukan sekutu yang berhasil mengalahkan dan menduduki Jerman, dalam buku hariannya, pemerintahan sipil sekutu, terutama Amerika dan Inggris, secara sistematis berupaya melakukan pembersihan etnis terhadap warga kulit putih Jerman, semata-mata dengan motif balas dendam orang-orang yahudi kepada mereka. Antara 800.000 sampai 1,1 juta tawanan perang Jerman dibiarkan tinggal di kamp tawanan tanpa atap dan alas selama berbulan-bulan menahan kelaparan, kepanasan dan kedinginan. Warga sipil Jerman diusir dari rumah-rumah mereka untuk diisi oleh orang-orang yahudi yang didatangkan dari Uni Sovyet dan Eropa Timur. Sekitar 500.000 tawanan perang lainnya, sipil maupun militer, dikirim ke Siberia untuk menjalani kerja paksa. Bagi para wanita Jerman, masa-masa terakhir regim Nazi adalah neraka sesungguhnya. Mereka hanya mempunyai dua pilihan: diperkosa oleh tentara Uni Sovyet atau dibom oleh pesawat pembom Amerika dan Inggris.

Diperkirakan sekitar 5 juta warga Jerman secara sistematis dibiarkan mati kelaparan selama 5 tahun setelah perang oleh tentara sekutu yang menduduki Jerman.

Dan karena yahudi mengontrol pemerintahan dan media massa barat, bahkan warga Jerman sendiri tidak banyak mengetahui tentang tragedi Dresden. Yahudi menginginkan hak eksklusif sebagai korban perang, hingga meski korban perang justru bukan orang yahudi, mereka terus saja mengkampanyekan "holocoust". Tujuannya tentu agar mereka bisa tetap terus "memeras" seluruh masyarakat di dunia. Hingga kini misalnya, negara-negara barat terus memberikan bantuan "kompensasi korban perang" kepada Israel. Pada dekade 90-an, ketika memori rakyat Eropa tentang "holocoust" meredup, orang-orang yahudi dibawah koodinasi World Jewish Association mengkampanyekan "holocoust" yang oleh pengkritiknya disebut sebagai "holocoust industry". Mereka memeras perbankan Jerman dan Swiss dengan dalih mendapatkan keuntungan ilegal dari dana-dana masyarakat yahudi yang hangus selama perang, hingga dalam sekali tepuk berhasil meraup miliaran dolar. Namun, seperti biasa, dana kompensasi itu sebagian besar justru masuk ke kantong pribadi tokoh-tokoh yahudi, bukan para korban perang sebenarnya.

"Holocoust industry" adalah upaya-upaya sistematis orang-orang yahudi untuk melanggengkan kenangan palsu "holocoust" sembari mendapatkan keuntungan melimpah darinya. "Holocoust industry" termasuk museum-museum holocoust di beberapa negara barat, pendidikan "holocoust", LSM-LSM, buku-buku, film-film dan sebagainya. Film-film Hollywood tentang Perang Dunia II hampir pasti juga bagian dari "holocoust industry".

Ketika rakyat Ukraina ingin memperingati peristiwa "Holomador", lobi internasional yahudi menolaknya dengan keras. "Holomador" adalah "etnis cleansing" terhadap rakyat Ukraina oleh regim komunis Uni Sovyet yang didirikan dan dijalankan secara eksklusif oleh orang-orang yahudi. Ukraina yang adalah lumbung gandum mengalami bencana kelaparan massal yang menewaskan sekitar 7 juta penduduknya karena hasil panen dirampas oleh regim komunis sebelum terjadinya Perang Dunia II. Mereka juga menentang peringatan pembantaian etnis Armenia oleh Kemal Attaturk, seorang yahudi "domne" Turki.

Tujuan lainnya agar hak eksklusif korban perang hanya menjadi milik yahudi adalah untuk memberi alasan mereka melakukan terorisme terhadap rakyat Palestina. Mereka berharap masyarakat dunia memaklumi pendudukan yahudi atas Palestina karena "yahudi membutuhkan negeri sendiri" setelah mengalami "holocoust".


Sumber :



Rabu, 17 Desember 2014

Peristiwa Kudeta Münich (Beer Hall Putsch)




Oleh : Fachrizal

Serangkaian peristiwa keuangan terjadi antara tahun 1921 sampai 1923 yang akan menggerakkan Nazi menuju keberanian baru yang lebih tinggi dan bahkan akan mendorong Hitler untuk berusaha menguasai Jerman.

Pada bulan April 1921, pemenang perang dunia satu, sekutu Eropa, terutama Perancis dan Inggris, mengeluarkan sebuah rekening pada Jerman yang menuntut pembayaran atas kerusakan yang disebabkan oleh perang yang dimulai Jerman. Tagihan ini (33 milyar dollar) untuk pampasan perang segera mengkibatkan pengaruh terjadinya inflasi yang menghancurkan Jerman.

Mata uang Jerman, mark, secara drastis menurun nilainya. Nilainya adalah empat mark untuk satu U.S. dollar sampai pampasan perang diumumkan. Kemudian menjadi 75 mark untuk 1 dollar dan pada tahun 1922 tenggelam menjadi 400 untuk 1 dollar. Pemerintah Jerman meminta penundaan pembayaran. Perancis menolaknya. Jerman menentangnya dengan menahan pembayaran. Sebagai jawaban atas ini, pada bulan Januari 1923, angkatan bersenjata Perancis menduduki Ruhr, sebuah kawasan industri Jerman.

Mark Jerman jatuh menjadi 18,000 untuk 1 dollar. Pada bulan Juli 1923, tenggelam menjadi 160,000. Bulan Agustus, 1,000,000. Dan pada bulan November 1923, dibutuhkan 4,000,000,000 mark untuk mendapatkan 1 dollar.

Jerman kehilangan tabungan hidup mereka. Gaji dibayar dengan uang yang tak berharga. Makanan berharga milyaran. Kekacauan akibat kelaparan terjadi.

Saat itu, rakyat berdiri dihadapan pemerintah mereka, mendukung penentangan terhadap Perancis. Tetapi pada bulan September 1923, pemerintahan Jerman membuat keputusan pasrah untuk kembali melakukan pembayaran. Kemarahan dan kegelisahan diantara rakyat, kelompok-kelompok politik ekstrim menghasut untuk melakukan tindakan dan secara cepat membawa Jerman menuju tepi jurang kekacauan.

Nazi dan kelompok serupa lainnya sekarang merasakan saat yang tepat untuk menyerang. Propinsi Bavaria Jerman yang merupakan pusat Nazi adalah tempat dari kelompok oposisi dari pemerintahan demokratik di Berlin. Saat itu, November 1923, Nazi, dengan 55,000 pengikut, merupakan yang paling terorganisir dan terbesar. Dengan banyaknya anggota Nazi yang menginginkan tindakan, Hitler tahu bahwa dia harus beraksi atau mengambil resiko kehilangan kepemimpinannya di partai.

Hitler dan Nazi merancang rencana untuk menculik pemimpin pemerintahan Bavaria dan memaksa mereka dengan senjata untuk menerima Hitler sebagai pemimpin mereka. Maka, sesuai dengan rencana, dengan bantuan Jenderal yang terkenal pada perang dunia pertama, Erich Ludendorff, mereka akan menguasai seluruh angkatan bersenjata Jerman, memroklamasikan pemberontakan secara menyeluruh dan menjatuhkan pemerintahan demokratik Jerman di Berlin.

Mereka akan melaksanakan rencana itu saat mereka mempelajari bahwa akan ada pertemuan besar para pelaku bisnis di Munich beer hall dan tamu kehormatan yang dijadwalkan datang adalah para pemimpin Bavaria yang akan mereka culik.

Pada tanggal 8 November 1923, pasukan SA dibawah pimpinan Hermann Göring mengepung tempat itu. Pada pukul 8:30 malam, Hitler dan pasukannya datang dengan tiba-tiba ke beer hall dan dalam sekejab menyebabkan kepanikan.

Hitler menembakkan pistol ke langit-langit. “Diam!” dia berteriak pada kerumunan yang kebingungan.

Hitler dan Göring memaksa memasuki podium dengan pasukan bersenjata SA terus memasuki hall. Komisaris Negara Gustav von Kahr, yang pidatonya diinterupsi oleh semua keributan itu, memberikan podium pada Hitler.

“Revolusi nasional telah dimulai!” Teriak Hitler. “…Tak seorangpun yang boleh meninggalkan hall. Kecuali kalau ada ketenangan, dengan segera aku akan menempatkan senanpan mesin di galeri. Pemerintahan Bavaria dan Reich telah disingkirkan dan pemerintahan nasional sementara telah dibentuk. Barak dari Reichswehr dan polisi telah dikuasai. Tentara dan polisi berbaris di kota di bawah panji swastika!”

Tidak ada satupun dari ucapan itu yang benar, tetapi semua yang ada di beer hall tidak mengetahuinya.

Hitler kemudian memerintahkan tiga pejabat tertinggi dari pemerintahan Bavaria ke ruang belakang. Komisaris Negara Kahr, bersama dengan kepala polisi negara, Kolonel Hans von Seisser, dan komandan pasukan Jerman di Bavaria, Jenderal Otto von Lossow, melakukan apa yang mereka perintahkan dan menuju ke ruangan tempat Hitler memberitahukan bahwa mereka akan bergabung dengannya memproklamasikan revolusi Nazi dan akan menjadi bagian dari pemerintahan baru.

Tetapi kejutan besar bagi Hitler, tiga tawanannya melotot padanya dan bahkan pada mulanya menolak untuk bicara padanya. Hitler meresponnya dengan melambaikan pistolnya pada mereka, sambil berteriak: “Aku punya empat peluru dalam pistolku! Tiga untuk anda, tuan-tuan. Peluru terakhir untukku sendiri!”

Bagaimanapun, revolusi di ruang belakang berlanjut kurang baik bagi Hitler. Kemudian, atas suatu dorongan mendadak, Hitler keluar dari ruangan dan kembali ke podium dan berteriak: “Pemerintahan Penjahat November dan Presiden Reich dinyatakan telah disingkirkan. Pemerintahan nasional baru akan diberi nama hari ini di Munich. Angkatan bersenjata nasional akan segera dibentuk…Tugas dari pemerintahan nasional Jerman sementara adalah mengorganisir gerakan pada kota Babel yang penuh dosa,Berlin, dan menyelamatkan rakyat Jerman! Besok kita akan menemukan bentuk lain pemerintahan nasional di Jerman atau kita akan mati!”

Hal ini mengakibatkan semua yang ada di beer hall percaya bahwa orang-orang di ruang belakang telah menyerah pada Hitler dan bergabung dengan Nazi. Maka muncul sorakan liar untuk Hitler.

Jenderal Ludendorff kemudian datang. Hitler tahu bahwa tiga pemimpin yang masih di ruang belakang akan mendengarkan Jenderal itu.

Atas saran Hitler, Ludendorff berbicara pada orang-orang di ruang belakang dan menyarankan mereka untuk ikut bersama revolusi Nazi. Mereka dengan enggan menyetujui, kemudian pergi ke podium menemui massa, menunjukkan dukungan mereka untuk Hitler dan berjanji setia pada rezim yang baru.

Dengan emosional Hitler berbicara pada massa: “Aku akan memenuhi janjiku yang kubuat untuk diriku sendiri lima tahun lalu saat aku mengalami kebutaan di rumah sakit militer – untuk tidak beristirahat atau berhenti sampai penjahat November dijatuhkan, sampai reruntuhan negara Jerman yang tercabik-cabik hari ini akan dibangkitkan sekali lagi sebagai negara Jerman yang berkuasa dan besar, bebas dan mulia.”

Massa yang ada di beer hall meneriakkan persetujuan mereka dan bernyanyi “Deutschland über Alles.” Hitler sangat gembira. Ini mengubahnya menjadi malam kemenangan baginya. Besok mungkin dia akan menjadi pemimpin baru Jerman.

Tetapi kemudian kata-kata untuk mengambil alih beberapa barak militer telah gagal dan tentara Jerman yang ada dalam barak bertahan melawan pasukan Nazi. Hitler memutuskan untuk meninggalkan beer hall dan pergi ke tempat kejadian untuk memecahkan masalah.

Meninggalkan beer hall adalah kesalahan yang fatal. Akibat ketidakhadirannya revolusi Nazi dengan cepat menjadi terbongkar. Tiga pemimpin pemerintahan Bavaria, Kahr, Lossow, dan Seisser, keluar dari beer hall setelah dengan secara licik berjanji pada Ludendorff mereka akan tetap setia pada Hitler.

Sementara itu, Hitler tidak mempunyai keberuntungan untuk mendapatkan tentara Jerman yang bertahan di barak untuk menyerah. Karena gagal, dia kembali ke beer hall.

Ketika dia tiba kembali di beer hall dia sangat terkejut karena menemukan bahwa revolusinya telah gagal. Tidak ada rencana gerakanmassa untuk esok hari di Berlin. Munich bahkan belum dikuasai. Tidak ada sesuatu yang terjadi.

Kenyataannya, hanya satu bangunan, Markas angkatan bersenjata di Kementerian Peperangan telah dikuasai oleh Ernst Röhm dan pasukan SA-nya. Di tempat lain, gerombolan orang-orang Nazi menjelajahi kota Munich menemui lawan-lawan politiknya dan menyakiti orang-orang Yahudi.

Pagi-pagi sekali tanggal 9 November, Komisaris Negara Kahr mengingkari janjinya pada Hitler dan Ludendorff serta mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan Hitler: “Deklarasi yang dipaksa dariku, Jenderal Lossow dan Kolonel von Seisser dengan todongan pistol batal dan tidak berlaku. Jika usaha yang tanpa tujuan dan tanpa perasaan dari revolusi itu berhasil, Jerman akan jatuh ke dalam jurang dan Bavaria ikut bersamanya.”

Kahr juga memerintahkan membubarkan partai Nazi dan pasukan tempurnya.

Jenderal Lossow juga mengabaikan Hitler dan memerintahkan angkatan bersenjata menuju Munich untuk menjatuhkan pasukan Nazi. Pasukan menyerbu masuk dan waktu fajar menyingsing bangunan Kementrian Peperangan yang di dalamnya terdapat Röhm dan pasukan SA telah dikepung.

Hitler semalam suntuk kebingungan mencoba memutusakan apa yang harus dilakukan. Jenderal Ludendorff kemudian memberinya ide. Pasukan Nazi akan melakukan long-march di tengah kota Munich dan menguasainya. Karena dia terkenal pada perang dunia satu, alasan Ludendorff, tidak ada seorangpun yang akan berani menembaknya. Dia bahkan meyakinkan Hitler bahwa polisi dan tentara akan dengan senang hati bergabung dengan mereka. Sekarang dengan nekat Hitler menjalankan ide itu.

Sekitar jam 11. pada tanggal 9 November, barisan yang terdiri atas tiga ribu anggota Nazi, dipimpin oleh Hitler, Göring dan Ludendorff berbaris menuju pusatkota Munich. Pembawa salah satu bendera adalah anggota partai yang masih muda bernama Heinrich Himmler.

Setelah mencapai pusat kota Munich, anggota Nazi bergerak menuju bangunan Kementrian Peperangan tetapi mereka menghadapi blokade polisi. Saat mereka berdiri berhadapan dengan sekitar seratus polisi bersenjata, Hitler berseru agar mereka menyerah. Mereka tidak mau. Tembakan terdengar. Kedua belah pihak saling menembak. Hal itu berlangsung sekitar satu menit. Enam belas anggota Nazi dan tiga polisi terbunuh. Göring tertembak di pahanya. Hitler menderita di bahunya ketika orang yang melindunginya dengan saling berpegangan tangan tertembak dan menariknya jatuh ke trotoar.

Pengawal pribadi Hitler, Ulrich Graf, melompat ke arah Hitler untuk melindunginya dan menerima beberapa peluru, yang menyelamatkan nyawa Hitler. Hitler kemudian merangkak sepanjang trotoar keluar dari daerah tembak-menembak dan berlari menuju ke mobil yang telah menunggu, meninggalkan teman-temannya di belakang. Anggota Nazi tercerai berai dan ada yang tertangkap. Ludendorff, dengan gagah berani, berjalan lurus sepanjang garis pertempuran ke arah polisi dan kemudian ditangkap.

Hitler terluka di rumah temannya, keluarga Hanfstaengl, dilaporkan bahwa disana dia dinasehati untuk tidak bunuh diri. Dia menjadi sangat sedih dan mengira akan ditembak oleh penguasa. Dia menghabiskan dua malam bersembunyi di loteng kecil keluarga Hanfstaengl. Pada malam ketiga polisi datang dan menangkapnya. Dia di bawa ke penjara di Landsberg, di sana semangatnya bangkit kembali setelah diberitahu bahwa dia akan mendapakan pengadilan publik.

Dengan gagalnya revolusi Nazi, tampak bagi para pengamat bahwa karir politik Hitler dan pergerakan Nazi telah hancur, merupakan akhir yang menggelikan.


Sumber :



Selasa, 16 Desember 2014

Situasi Politik Jerman Menjelang Meletusnya Perang Dunia II




Oleh : Fachrizal

Sebelum Ribbentrop tiba di Moscow untuk menandatangani Pakta Nazi-Soviet, Inggris telah bereaksi terhadap berita tentang perjanjian itu yang telah bocor.

Pakta itu tidak mengubah apapun sejauh pemerintahan Inggris masih peduli dan hal itu diberitahukan pada Adolf Hitler. Perdana Menteri Neville Chamberlain mengirimi Führer sebuah surat pribadi yang memperingatkan dia bahwa jika Nazi menyerbu Polandia, Inggris akan “mengerahkan dengan segera semua kekuatan angkatan bersenjata di bawah perintah mereka, dan adalah mustahil untuk meramalkan akhir permusuhan saat sekali ditautkan…”

Surat itu dikirimkan pada Hitler di Berchtesgaden tanggal 23 Agustus oleh duta besar Inggris Nevile Henderson dan membuat Hitler menjadi naik darah seperti biasanya. Pada titik ini, Hitler telah meyakinkan para jenderalnya bahwa Inggris dan Perancis tidak akan berperang atas Polandia. “Orang-orang yang kuketahui di Munich adalah bukan orang yang akan memulai perang dunia baru,” Hitler membual dalam konferensi militer di Berchtesgaden.

Selama tahun 1939, Hitler semakin banyak menghabiskan waktunya di puncak gunung Berchtesgaden tempatnya menyepi mencoba untuk memikirkannya dengan hati-hati. Sejauh ini dalam karirnya, dia adalah master catur dalam panggung Eropa, merendahkan dan menipu semua lawannya, selalu selangkah atau dua langkah lebih maju dari lainnya.

Tetapi sekarang permainan telah berubah. Bukan lagi merupakan gertakan atau keberanian. Hal itu telah berubah menjadi ancaman perang yang nyata, yang menyangkut nasib jutaan manusia. Hitler mengancam berperang. Polandia mengancam berperang. Inggris dan Perancis mengancam berperang.

Bahkan Amerika juga terlibat. Presiden Franklin Roosevelt menerjang ke arah kekacauan itu dengan mengirim pertanyaan pada Hitler melalui telegram: “Apakah kamu akan memberi jaminan bahwa pasukanmu tidak akan menyerang atau menginvasi wilayah negara-negara merdeka berikut ini?” Roosevelt memberikan daftar 31 negara termasuk Polandia, negara-negara Baltik, Denmark, Belanda, Belgia, Perancis, dan Inggris.

Hitler memberikan jawaban dalam pidatonya kepada Reichstag dan menjamin ‘Herr Roosevelt’ bahwa Jerman hanya bermaksud damai dengan tetangganya. Jerman, kata Hitler, “tidak punya pemikiran untuk bertentangan dengan Polandia.”

Masalahnya adalah tak seorangpun di luar Jerman yang percaya lagi padanya. Hitler telah sering berbohong. Dan Hitler telah membuat kesalahan fatal dengan merendahkan dan mempermalukan pemimpin kerajaan Inggris, yang tidak akan pernah memaafkan dia untuk perbuatannya melanggar Perjanjian Munich. Inggris akan bertempur, mereka mengingatkan Hitler dan itu berarti perang dunia baru.

Tetapi walaupun telah diperingatkan berkali-kali, Hitler masih yakin bahwa Inggris akan mundur pada saat terakhir.

Masalah besar bagi Hitler pada titik ini dalam karirnya adalah bahwa egonya yang membengkak menutupi laksana kabut kecemerlangannya dalam politik internasional. Führer –si dewa Jerman, secara perlahan-lahan menyerah pada kepercayaan bahwa dia sempurna, jika dia mengatakan sesuatu hal adalah benar, maka hal itu harus benar. Dia menderita semacam gila kemuliaan dan itu menutupi pertimbangannya, membutakan dia pada kenyataan.

Bagaimanapun, tidak ada seorangpun yang tinggal di Jerman ingin mengatakan padanya bahwa dia salah, tidak ada yang ingin menanyakan apa yang dia katakan, tak peduli betapa anehnya hal itu.

Ketika Hitler mengumpulkan jenderal-jenderal tingginya pada tiga konferensi sebelum perang di tahun 1939, mereka mendengarkan dalam kebisuan dikte Führer, yang akan memberikan bencana terbesar dalam sejarah kemanusiaan.

Pada tanggal 23 Mei, 1939, Führer mengundang empat belas pejabat militer senior di Berlin termasuk Hermann Göring, Admiral Raeder, Jenderal Brauchitsch, Halder dan Keitel, dan menjelaskan pada mereka bahwa Jerman memerlukan perang karena ekonomi Reich berada dalam keadaan yang mengerikan. Dan memperbaiki ekonomi Jerman akan “mustahil tanpa menyerang negara lain atau menyerang hak milik orang lain.”

Bagi Nazi Jerman, pengadaan Lebensraum sekarang telah menjadi tuntutan ekonomi. Hal ini berhubungan dengan program pengadaan persenjataan besar-besaran oleh Hitler yang membanjiri sampai 23 persen produk nasional tahunan kotor Jerman. Hitler telah memerintahkan industri di Jerman untuk mengesampingkan semuanya dan mempersenjatai kembali negeri secepat mungkin. Sebagai hasilnya, tingkat tenaga kerja teknik di Reich mencapai 125 persen, yang berarti terjadi kekurangan tenaga kerja yang besar pada banyak pekerjaan yang tidak terisi, terutama dalam bidang pertanian. Hal ini terjadi walaupun keseluruhan populasi dari Reich yang besar mencapai 80 juta dengan tambahan penduduk Austria dan Czechoslovakia.

Ekonomi Nazi yang hanya condong pada satu sisi menuntun ke arah kehancuran kecuali jika segera dilakukan realokasi tenaga kerja dan bahan baku, atau, jika ada tambahan orang dan bahan yang didapat dari luar Reich. Hal inilah yang dipilih Hitler dan diberitahukan pada jenderal-jenderalnya pada tanggal 23 Mei.

Satu bulan kemudian, tanggal 23 Juni, Göring mengadakan rapat Dewan pertahanan Reich untuk mengkoordinir mobilisasi total sumber daya dan tenaga kerja Jerman untuk perang yang akan datang. Hitler tidak hadir, tetapi 35 pejabat sipil dan militer hadir termasuk Keitel, Raeder, Halder dan pemimpin SS Heinrich Himmler. Hitler, seperti telah diumumkan, memutuskan untuk mengerahkan tujuh juta orang untuk melayani angkatan bersenjata. Kekurangan tenaga kerja ditutup oleh pekerja paksa, memanfaatkan tawanan perang, bersama dengan tahanan dari kamp konsentrasi dan pejara-penjara. Pemimpin SS Himmler menyatakan bahwa “akan dibuat kamp-kamp konsentrasi dalam masa perang untuk penggunaan lebih besar.” Göring mengatakan bahwa “ratusan ribu ” pekerja Czech akan dibawa ke Jerman sebagai pekerja paksa di pertanian. Ini menandai permulaan dari program kerja paksa Nazi, dirancang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja murah Reich yang tidak dipenuhi.

Pada akhir Agustus, jalan menuju penaklukan sudah disiapkan untuk Hitler melalui Pakta Non-Agresi dengan Stalin, memastikan bahwa Jerman tidak akan bertempur dalam dua front. Sementara Ribbentrop sedang berada di Moscow untuk menandatangani Pakta, dan tinta di kertas bahkan belum kering, Hitler mengumpulkan jenderal-jenderalnya di Berchtesgaden untuk rapat pra-perang terakhir guna memberi mereka lampu hijau untuk penyerangan ke Polandia.

Sekarang saatnya, Hitler mengumumkan “keputusan yang tak dapat diubah” untuk perang.

“Situasi ekonomi kita sudah sedemikian rupa, sehingga kita tidak akan dapat bertahan lebih dari beberapa tahun. Göring dapat menegaskan hal ini. Kita tidak punya pilihan lain. Kita harus bertindak,” kata Hitler. Sejauh ini, semua wilayah yang didapat Jerman adalah hasil dari “gertakan politik ” tetapi sekarang diperlukan untuk menggunakan mesin militer Jerman.”

“Aku akan memberi suatu alasan propagandis untuk memulai perang. Tidak peduli apakah itu masuk akal atau tidak. Pemenang tidak akan ditanyai setelahnya apakah dia mengatakan kebenaran atau tidak. Dalam memulai dan berperang tidak penting hal lainnya kecuali kemenangan.”

Dan bagaimana pasukannya bertindak dalam perang yang akan datang?

“Tutup hatimu untuk belas kasihan!” perintah Führer. “Bertindaklah dengan brutal! Delapan puluh juta orang harus mendapatkan hak mereka…Orang yang lebih kuat adalah yang benar…Jadilah kejam dan kasar! Berkeras hatilah terhadap semua tanda-tanda rasa kasihan!”

‘Alasan Propagandis’ Hitler untuk memulai perang telah dirancang oleh Himmler dan Heydrich atas permintaan Führer. Rencana itu begitu penting sehingga diberi kode nama Operasi Himmler dan meliputi serangan palsu SS yang seolah dilakukan angkatan bersenjata Polandia terhadap pasukan Jerman sepanjang perbatasan Jerman-Polandia. Di stasiun radio Gleiwitz, seorang Jerman yang berbicara dalam bahasa Polandia bekerja dengan SS akan merebut mikropon dan menyiarkan pidato yang berapi-api dalam bahasa Polandia yang menyatakan bahwa waktunya tiba bagi rakyat Polandia untuk bertempur melawan Jerman. Tahanan dari kamp konsentrasi yang diberi pakaian seragam angkatan bersenjata Polandia akan dibunuh dengan suntikan mematikan kemudian dilubangi dengan peluru dan ditinggalkan sebagai bukti penyerangan, yang kemudian akan disaksikan oleh pers.

Persiapan untuk Operasi Himmler berlangsung penuh, dengan penyerangan ke Polandia direncanakan Hitler untuk mulai pada jam 4:30 pagi. Pada hari Sabtu, 26 Agustus. Sebagai pembukaan serangan, mesin propaganda Goebbels berputar dengan cepat menyebarkan cerita tentang kekejaman yang dilakukan oleh orang Polandia terhadap sepuluh ribu etnis Jerman yang tinggal di Polandia.

Untuk beberapa bulan, jurnalis Nazi juga mencoba untuk mempersiapkan rakyat Jerman untuk perang yang tak terelakkan di Eropa. Mereka secara personal diinstruksikan oleh Hitler untuk membangun antusiasme untuk perang dan untuk melawan pesimisme warga sipil. Tetapi propaganda itu hanya mendapat sukses terbatas. Kebanyakan orang Jerman masih tidak ingin perang.

Menariknya, menjelang pertempuran, Jumat, 26 Agustus, Hitler kehilangan keberaniannya dan menunda seluruh serangan. Terdapat dua perkembangan diplomatik besar yang menggoncangkan kepercayaan Führer. Pertama, Hitler menjadi sadar bahwa Inggris dan Polandia telah menandatangani perjanjian tolong-menolong terhadap serangan Jerman. Kedua, Mussolini memberitahu Führer bahwa Italia tidak dipersiapkan untuk perang dan tidak akan bergabung dalam pertempuran, meskipun Pakta Baja militer telah ditandatangani dengan Jerman.

Sekitar pukul 6:30 malam hari itu, Hitler memanggil Jenderal Keitel ke istana kanselir Reich dan berkata kepadanya: “Hentikan semuanya dengan segera…Aku membutuhkan waktu untuk negoisasi.”

Di atas semua itu, Hitler ingin mencegah campur tangan militer Inggris, bahkan pada saat-saat terakhir. Nazi sekarang mencoba suatu saluran diplomatik pintu belakang, memanfaatkan teman Swedia Göring bernama Birger Dahlerus sebagai penengah informal. Göring mengirimnya ke London untuk mengatakan pada Sekertaris Menteri luar negeri Halifax bahwa Nazi berharap untuk mencapai semacam “pengertian” dengan Inggris. Halifax mengirimkan dia kembali ke Berlin dengan surat yang menyatakan bahwa Inggris masih mengharapkan semacam penyelesaian damai.

Göring berpikir bahwa surat dari Halifax cukup penting untuk disampaikan kepada Hitler secepatnya. Ditemani oleh Dahlerus, Göring tiba di istana kanselir di Berlin sekitar tengah malam pada hari Sabtu, 26 Agustus. Hitler, yang secara normal adalah manusia malam, telah siap pergi ke tempat tidur dan dibangunkan atas permintaan Göring.

Anehnya, Hitler tidak memperhatikan surat itu malah menanyai Dahlerus panjang lebar tentang sifat alami orang Inggris. Hitler, seperti banyak pemimpin tinggi Nazi, mengagumi dan membenci Inggris, tetapi tidak pernah dapat memahami mereka.

Dahlerus, yang tinggal dan bekerja di Inggris, membantu Führer dan bercerita tentang orang Inggris. Tetapi Hitler mulai bertindak aneh. Berdasarkan sebuah catatan yang kemudian di buat oleh Dahlerus, Führer “tiba-tiba berdiri, dan menjadi sangat gelisah, mondar-mandir…tiba-tiba dia berhenti di tengah ruangan dan berdiri di sana mematung. Suaranya tidak jelas, dan tingkah lakunya adalah sepenuhnya orang yang tidak normal. Dia berbicara dengan ungkapan: ‘Jika harus terjadi peperangan, maka aku akan membangun kapal U, kapal U, Kapal U, kapal U, kapal U’…kemudian dia menarik dirinya, meningkatkan suaranya seperti ditujukan pada pendengar yang banyak dan memekik: ‘Aku akan membangun pesawat terbang, membangun pesawat terbang, pesawat terbang, pesawat terbang, dan aku akan membasmi musuh-musuhku!’ “

Tanpa sepengetahuan Dahlerus, Führer punya alasan tepat untuk merasa begitu tidak tenang. Beberapa jam sebelumnya, dia dengan tiba-tiba mengubah pikirannya tentang penyerangan terhadap Polandia dan menelepon Panglima tinggi angkatan bersenjata, memerintahkan mempersiapkan semuanya untuk tanggal penyerangan baru, 1 September.

Dalam beberapa hari berikutnya, Dahlerus melakukan beberapa kali perjalanan antara Berlin dan London membawa proposal dan jawaban proposal pulang pergi, yang semuanya tidak menghasilkan apa-apa. Nazi terutama menginginkan utuk mengambil alih Danzig dan Koridor Polandia, sedangkan Inggris menolak melakukan aapun yang tampaknya terlihat seperti Perjanjian Munich.

Hitler dan Ribbentrop juga menemui duta besar Henderson beberapa kali dan dengan sukses menggunakan dia untuk memaksa Polandia ke dalam semacam negoisasi menit-menit terakhir untuk perdamaian. Untuk tujuan propaganda, Nazi ingin menunjukkan pada dunia bahwa mereka ingin mendiskusikan penyelesaian damai dengan Polandia. Dalam kenyataannya, mereka dengan bebas membuat berbagai rintangan untuk mencegah perundingan yang berarti terjadi dan kemudian berkata bahwa Polandia enggan bekerja sama.

Di sepanjang perbatasan Jerman-Polandia, persiapan militer secara penuh sedang berlangsung untuk melancarkan serangan. Pada pukul 12:30 siang, hari Kamis, 31 Agustus, Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata Jerman, Adolf Hitler, mengeluarkan Directive No. 1 untuk melakukan peperangan. Tujuan Hitler adalah menghancurkan Polandia dengan cepat melalui serangan kilat menyeluruh dan kemudian memutar pasukannya ke barat dan berhadapan dengan Inggris dan Perancis jika mereka menyerang Jerman dari barat. Dia masih tidak yakin apakah mereka benar-benar menghormati komitmen mereka pada Polandia.

Saat senja hari Kamis, satu juta limaratus tentara Jerman bergerak dalam posisi akhir untuk menyerang Polandia. Operasi Himmler mulai berjalan pada pukul 8 malam saat anggota SS berpakaian seragam angkatan bersenjata Polandia membuat serangkaian serangan palsu di perbatasan, termasuk di Gleiwitz tempat mereka mengambil alih mikropon radio dan berteriak dalam bahasa Polandia, “Rakyat Polandia, waktunya sudah tiba untuk perang antara Polandia dan Jerman!” Hitler sekarang mempunyai alasan untuk memulai perang.

Saat fajar hari Jumat pagi, 1 September, pasukan Jerman bergerak melintasi perbatasan menuju Polandia dan menghancurkan segala sesuatu yang ada di hadapan mereka. Angkatan bersenjata Polandia yang ketinggalan zaman melakukan perlawanan dengan berani tetapi dihancurkan tanpa belas kasihan oleh mesin militer Jerman yang luar biasa.

Pukul 10 pagi itu Hitler muncul di hadapan Reichstag di Berlin dan mengumumkan: “Malam ini untuk pertama kalinya tentara reguler Polandia melakukan tembakan di wilayah kita. Sejak pukul 5:45 pagi. Kita telah membalas tembakan itu, dan sejak sekarang bom akan dijawab dengan bom.”

Perang untuk Lebensraum yang selalu diinginkan Hitler akhirnya dimulai. Lima tahun, delapan bulan dan enam hari pertumpahan darah dan penghancuran terpampang didepan mata yang akan menyebabkan sekitar 40 juta orang terbunuh dan banyak peninggalan kebudayaan Jerman dan Eropa hancur. Rakyat Jerman telah menyerahkan kehendaknya pada satu orang dan dia akan menjerumuskan mereka ke dalam perang dunia baru untuk memenuhi ambisi gilanya.


Sumber :



Konferensi Münich (1938), Kemenangan Diplomasi Hitler atas Inggris




Oleh : Fachrizal

Adolf Hitler selalu percaya bahwa dia ditakdirkan untuk menderita kematian dini karena kesakitan yang hebat, sama seperti orang tuanya. Ayahnya roboh tiba-tiba suatu hari akibat pendarahan paru-paru ketika Hitler masih anak-anak. Kemudian Ibunya menderita sangat lama akibat kanker selama masa remaja Hitler.

Yakin bahwa dia tidak hidup sampai tua, Hitler ingin berperang lebih cepat untuk Lebensraum daripada terlambat, saat dia masih relatif muda dan bertenaga. “Aku lebih suka berperang saat aku berusia 50 daripada saat aku berusia 55 atau 60,” katanya berkali-kali. Dan waktu sekarang telah mengejarnya. Dia akan berusia lima puluh dalam satu tahun mendatang.

Walaupun dia telah mengambil alih Austria tanpa mengeluarkan tembakan, dia memutuskan keinginannya untuk “mendobrak” Czechoslovakia dengan kekuatan militer. Maka dia mengumpulkan jenderal-jenderal tingginya dan memerintahkan mereka untuk menyiapkan sebuah serangan pada republik demokratik kecil itu pada tanggal 1 Oktober 1938.

Tetapi perintah itu menggemparkan Staff Jenderal. Mereka tahu sebuah serangan ke Czechoslovakia mungkin akan meletus menjadi perang melawan Inggris dan Perancis, dan bahkan kemungkinan dengan Uni Soviet. Angkatan bersenjata Jerman pada saat ini tidak siap untuk perang semacam itu. Hanya ada 31 divisi yang bersenjata lengkap bersama dengan 7 divisi cadangan. Perancis sendiri mempunyai lebih dari 100 divisi sementara Czech mempunyai 45 divisi dan mempunyai benteng pertahanan sepanjang perbatasan Czech-Jerman.

Untuk meringkas semua permasalahan, Jenderal Ludwig Beck, Pimpinan Staff Jenderal, menulis analisa detail mengenai bencana militer jika Jerman menyerang Czechoslovakia. Beck memberikan laporan itu pada Jenderal Walther von Brauchitsch, Panglima angkatan bersenjata, menyarankan pada Brauchitsch untuk mengadakan rapat rahasia dari jajaran para jenderal untuk membahas hal itu.

Pada tanggal 4 Agustus 1938, pertemuan rahasia angkatan bersenjata benar-benar dilakukan. Beck membaca laporan panjangnya kepada para undangan. Mereka semua setuju sesuatu harus dilakukan untuk mencegah keruntuhan yang pasti. Beck berharap mereka mengundurkan diri bersama-sama saat itu juga. Tetapi tidak ada yang mengundurkan diri kecuali Beck, beberapa hari kemudian, yang merasa muak dengan keseluruhan situasi.

Hitler dengan segera menggantinya dengan Jenderal Franz Halder dan memastikan tidak ada berita yang bocor mengenai pengunduran diri Beck yang mendadak. Tanpa sepengetahuan Hitler, Jenderal Halder bersimpati kepada Beck tentang kebodohan rencana Hitler menyerang Czechoslovakia. Pada hari-hari berikutnya, Beck dan Halder membentuk kelompok konspirasi terdiri atas beberapa jenderal top, bersama dengan diplomat Ulrich von Hassell, Admiral Wilhelm Canaris yang merupakan kepala badan Intelejen Jerman, dan Kepala polisi Berlin, Graf von Helldorf.

Mereka merancang suatu rencana untuk menangkap Hitler pada saat dia memberi perintah untuk suatu invasi. Berdasarkan rencana mereka, Berlin akan diisolasi oleh unit khusus angkatan bersenjata untuk mencegah SS campur tangan. Unit lainnya, dibantu oleh anti-Nazi di kepolisian Berlin, akan menguasai bangunan penting pemerintah sementara pemimpin-pemimpin tinggi Nazi seperti Göring, Goebbels dan Himmler akan ditangkap. Jika semua ini berhasil, Hitler akan dibawa ke hadapan pengadilan khusus dan akan didakwa membawa Jerman menuju bencana militer.

Tetapi masih terdapat satu jika besar dalam keseluruhan rencana itu. Rencana itu hanya dapat berjalan jika Inggris dan Perancis mengambil sikap memerangi Hitler dan membuat dunia tahu bahwa mereka akan bertempur untuk melindungi republik Czech yang kecil. Hal ini akan meyakinkan rakyat Jerman bahwa kekalahan pasti terjadi jika Jerman menyerang Czechoslovakia dan akan menjadi pembenaran untuk menjatuhkan Hitler.

Untuk memastikan bahwa Inggris dan perancis memahami bagaimana besarnya yang dipertaruhkan, para konspirator mengirimkan wakil-wakilnya ke Inggris untuk secara rahasia memberitahu Perdana Menteri Neville Chamberlain bahwa Hitler merencanakan menyerang Czechoslovakia. Mereka juga menginformasikan pada Inggris bahwa mereka berniat menjatuhkan Hitler dan meminta Inggris dan Perancis mengambil sikap yang agresif secara terbuka menentang Hitler.

Bagaimanapun, masalah-masalah utama mencegah hal itu terjadi. Pertama, para utusan itu tidak dianggap serius oleh Inggris yang mengetahui mereka tidak dapat dipercaya sama seperti angkatan bersenjata Jerman yang telah dengan setia membantu Hitler sejak dia berkuasa pada tahun 1933. Kedua, Perdana Menteri Chamberlain mempunyai agenda perdamaian sendiri dalam pikirannya dan bermaksud melakukan negoisasi untuk mencegah perang Eropa berikutnya.

Perang dunia pertama tidak saja telah berakhir dua puluh tahun yang lalu dan telah menyapu bersih seluruh generasi muda di Inggris, Perancis, dan Jerman. Tidak ada seorangpun yang benar pikirannya akan melakukan perang di Eropa lagi – kecuali Hitler.

Setelah perang dunia pertama, Republik demokratik Czechoslovakia didirikan sekutu barat keluar dari sisa-sisa kerajaan Hapsburg. Tetapi Czechoslovakia terhambat dari hari ke hari oleh konflik serius diantara suku bangsa yang berbeda termasuk Czech, Slovakia, Hungaria dan lebih dari tiga juta suku bangsa Jerman.

Suku bangsa Jerman tinggal di bagian barat negeri itu yang dikenal sebagai Sudetenland, sebuah wilayah yang dikepung dari tiga sisi oleh angkatan bersenjata Hitler. Wilayah itu memiliki organisasi kuat yang pro-Nazi bernama Partai Jerman Sudeten dipimpin oleh guru senam bernama Konrad Henlein. Organisasi itu didanai dan diperintah langsung dari Berlin. Kebanyakan orang Jerman di Sudetenland adalah anggotanya. Seperti Jerman Austria, mereka telah lama merindukan untuk bergabung dengan bintang yang bersinar dari Jerman, Hilter.

Pada tanggal 28 Maret 1938, tidak lama setelah peristiwa Anschluss Austria, Henlein berkunjung ke Berlin dan diberitahu oleh Hitler untuk menimbulkan masalah di Czechoslovakia dengan membuat permintaan yang semakin meningkat atas nama Partai Sudeten Jerman “yang tidak dapat diterima oleh pemerintah Czech.” Strategi itu berjalan dengan baik. Setiap saat pemerintah Czech hampir memenuhi suatu tuntutan, Henlein menginginkan sesuatu yang lebih sehingga tidak ada persetujuan yang tercapai.

Selama musim panas tahun 1938, para penghasut Nazi di Sudetenland menyebabkan kerusuhan politik dan sosial sementara mesin propaganda Goebbels membiayai kampanye anti-Czech ganas yang menyatakan bahwa warga Sudeten Jerman telah dianiaya oleh orang-orang Czech. Pada rapat umum tahunan di Nuremberg awal September, Hitler dan Göring melakukan pidato mengancam yang disebut pertanyaan Sudeten.

Dengan Jerman berada di tepi peperangan, Perdana Menteri Inggris yang berpikiran damai memutuskan untuk mengirimkan telegram pribadi pada Hitler meminta untuk bertemu muka dalam suatu pertemuan “untuk mencari penyelesaian damai.” Hitler benar-benar dikejutkan dengan permintaan itu dan dengan segera menyetujui pertemuan.

Maka, pada pagi hari tanggal 15 September 1938, Neville Chamberlain, 69 tahun, naik pesawat terbang untuk pertama kali dalam hidupnya dan meninggalkan Inggris. Tujuh jam kemudian dia tiba dengan mobil di Berchtesgaden dan bertemu dengan Hitler untuk pertama kalinya. Führer membawanya ke villanya dan naik ke ruangan besar dengan jendela besar dan pemandangan pegunungan Alpen.

Enam bulan sebelumnya, Kanselir Austria telah berjalan di ruang yang sama berharap melakukan negoisasi dan telah didesak tanpa belas kasihan. Kali ini, Hitler sekali lagi mendominasi keseluruhan diskusi, tetapi dengan hati-hati menghindari taktik bersikap kasar yang dia gunakan sebelumnya. Chamberlain, betapapun, adalah kepala pemerintahan kerajaan Inggris, satu dari kekuatan besar yang pernah dikenal di dunia. Kepada Perdana Menteri Inggris, Hitler mengadu sedemikian panjang tentang “peenganiayaan” warga Sudeten Jerman di dalam negeri Czechoslovakia dan kemudian secara terus terang meminta jika wilayah Sudetenland dapat diserahkan kepada Jerman.

Chamberlain menanggapi bahwa dia akan mempertimbangkan bertanya pada pemerintahan Czechs untuk menyerahkan Sudetenland tetapi dia tidak siap memberikan jawaban pada saat itu dan terlebih dahulu harus berkonsultasi dengan kabinetnya di London. Dia meminta Hitler untuk menahan diri dari setiap tindakan militer sampai dia kembali pada kunjungan berikutnya. Hitler setuju untuk menangguhkan tindakan militer.

Chamberlain kembali ke London dan berhasil mendapatkan persetujuan pemerintahannya untuk memberikan Sudetenland. Dia juga mendapat tanggapan yang baik dari sekutu Inggris di Perang Dunia I, Perancis.

Mengenai kesan pertamanya tentang Hitler, Chamberlain berkomentar: “Dalam kebengisan dan kekerasannya yang kulihat di wajahnya, aku mendapat kesan bahwa orang itu adalah orang yang dapat dipercaya manakala telah berkata.”

Sementara itu, dibelakangnya, Hitler melanjutkan rencana peperangannya. Wakil dari Polandia dan Hungaria secara rahasia didekati oleh Nazi dan ditanya apakah mereka masing-masing menginginkan bagian dari Czechoslovakia sebagai imbalan membiarkan Hitler menyerang negara itu. Pemerintahan militer Polandia, bersama dengan pemerintahan Fasis Hungaria, setuju untuk tinggal diam dan membiarkan Hitler menyerbu Czechoslovakia sebagai balasan untuk pembagian barang rampasan itu.

Inggris dan Perancis, yang telah melakukan persetujuan diantara mereka untuk memberikan Hitler wilayah Sudetenland, sekarang berselisih dengan pemerintah Czech. Pada tanggal 19 September, duta besar Inggris dan Perancis di Prague dengan kejam menasehatkan kepada pemerintahan Czech bahwa mereka harus menyerahkan seluruh wilayah di sepanjang perbatasan Jerman yang 50 persen atau lebih populasinya adalah orang Jerman. Pemerintah Czech, menyadari bahwa telah ditinggalkan oleh sekutu barat, dengan enggan menyerah dan menyetujui hal itu.

Pada tanggal 22 September, Chamberlain yang optimis kembali ke Jerman untuk menemui Hitler, kali ini di sebuah hotel di Godesberg sepanjang sungai Rhine. Perdana Menteri itu memberitahukan pada Hitler bahwa dia akhirnya dapat memiliki Sudetenland, seperti yang diinginkannya.

“Apakah aku mengerti bahwa pemerintahan Inggris, Perancis, dan Czech telah setuju memindahkan Sudetenland dari Czechoslovakia ke Jerman?” Hitler bertanya padanya.

“Ya,” jawab Chamberlain sambil tersenyum.

“Aku sangat menyesal,” Hitler menangggapi, “tetapi itu tidak cukup lagi…solusi ini tidak lagi digunakan.”

Chamberlain menjadi bingung, harapannya untuk perdamaian yang mudah mendadak hancur. Hitler sekarang menaikkan taruhannya dengan menginginkan pendudukan angkatan bersenjata Jerman di Sudetenland pada tanggal 1 Oktober dan pengusiran semua penduduk non-Jerman yang tinggal disana.

Chamberlain, sangat dikejutkan oleh perubahan situasi yang berbahaya ini, memberitahu Hitler bahwa itu sama dengan ultimatum militer dan mengatakan bahwa Czech tidak akan menyetujui syarat itu. Tetapi Hitler berkata dia tidak peduli. Czech harus menyetujui pendudukan angkatan bersenjata, atau tidak.

Perdana Menteri Inggris telah menjadi korban kedua dari diplomasi gangster Hitler. Dia telah mempertaruhkan seluruh karir politik dan martabat kerajaan Inggris untuk menenangkan Hitler, hanya untuk dengan kasar ditolak tanpa alasan yang jelas.

Chamberlain kembali ke rumah dengan kekecewaan mendalam untuk merenungkan apa yang harus dilakukan tentang hal itu. Perancis, saat mendengar ultimatum Führer, mengerahkan seratus divisi angkatan bersenjata dan mulai bergerak menuju perbatasan Perancis-Jerman. Angkatan bersenjata Czech yang terdiri atas satu juta orang dikerahkan. Inggris juga meletakkan armada angkatan lautnya dalam keadaan siaga dan menyatakan keadaan darurat di London.

Eropa, tampaknya, akan dibawa menuju peperangan. Ini merupakan kabar baik bagi konspirator anti Hitler di Jerman. Segalanya berjalan sesuai dengan harapan mereka, dan mereka menyiapkan serangan terhadap Hitler di Berlin secepat dia memerintahkan menyerbu Czechoslovakia.

Menariknya, Hitler mencoba meningkatkan dukungan populer untuk perang yang akan datang dengan menggelar parade satu divisi angkatan bersenjata sepanjang jalanan Berlin. Tetapi sepanjang rute parade masyarakat berbalik atau berlindung di toko-toko terdekat dan jalan masuk kereta bawah tanah. Führer berdiri di balkon istana Kanselir Reich mengamati pasukannya. Tetapi setelah melihat hanya sedikit masyarakat yang peduli melihatnya, Hitler kembali masuk ke dalam.

Sekitar dua dekade sebelumnya, pada awal Perang Dunia I, kerumunan masyarakat memenuhi jalanan Berlin untuk memberi semangat pada prajurit-prajurit muda mereka dan menaburkan bunga saat mereka berbaris didepan mereka. Sekarang, tak ada yang menyambut. Masyarakat Jerman jelas tidak ingin ada perang lain, dan Hitler mengetahui hal ini.

Sebagai hasilnya, Hitler memutuskan untuk mundur dan menunda perang demi Lebensraum untuk sementara. Dia mengirim surat pada Chamberlain menjanjikan bahwa jika sekutu barat menyerahkan Sudetenland kepada angkatan bersenjata Jerman, tidak akan ada penghancuran Czechoslovakia. Jerman bahkan dengan bangga bergabung dengan Inggris dan Perancis dalam menjaga seluruh Czechoslovakia dari segala agresi lebih lanjut.

Chamberlain memutuskan menyambar kesempatan terakhir ini untuk menyelamatkan perdamaian. Dia mengirimkan telegram kepada Hitler bahwa dia siap kembali untuk pembicaraan lebih banyak “seketika.” Dia juga mengirim telegram pada pemimpin Fasis Italia, Benito Mussolini, memintanya untuk menjadi perantara dengan Hitler atas namanya. Mussolini kemudian menghubungi Hitler dan mengajukan suatu pertemuan puncak yang terdiri atas Jerman, Inggris, Perancis, dan Italia. Hitler setuju. Lokasi yang dipilih adalah Munich.

Sebelum meninggalkan Inggris untuk perjalanan ketiganya dan yang terakhir ke Jerman, Chamberlain menyatakan: “Ketika aku masih anak-anak, aku selalu mengulang-ulang, ‘Jika kamu gagal, coba, coba, coba lagi.’ Itulah yang aku lakukan. Saat aku kembali kuharap aku dapat mengatakan, seperti yang dikatakan Hotspur pada Henry IV, ‘Keluarkan duri ini, berbahaya, kita memetik bunga ini, dengan aman.’ “

Pertemuan Munich bertempat di bangunan baru Nazi yang disebut Führerbau pada tanggal 29 September dan berlangusng sampai pagi hari tanggal 30. Dihadiri oleh Hitler, Chamberlain, Mussolini, dan Perdana Menteri Perancis, Edouard Daladier. Perwakilan Czech juga hadir tetapi menunggu di luar ruangan pertemuan karena Hitler menolak mereka masuk untuk berpartisipasi.

Pada pertemuan itu, Mussolini berkata bahwa dia mempunyai suatu usulannya sendiri yang mungkin dapat membantu memecahkan masalah dengan cepat. Tanpa diketahui Chamberlain dan Daladier, usulan itu telah diberikan pada Mussolini oleh Nazi dan pada dasarnya sama dengan keinginan ultimatum Hitler. Bagaimanapun, Chamberlain dan Daladier menerima usulan itu tanpa keraguan dalam keinginan besar mereka untuk menghindari pertumpahan darah.

Sekitar pukul 1 siang pada tanggal 30 September, empat pemimpin menandatangani Perjanjian Munich yang mengizinkan angkatan bersenjata Jerman untuk menduduki Sudetenland dimulai pada tanggal 1 Oktober, berakhir pada 10 Oktober. Sekitar pukul 1:30 siang. Perwakilan Czech diberitahu isi perjanjian itu oleh Chamberlain dan Daladier. Mereka tidak mengatakan apa-apa dalam hal itu dan tidak punya pilihan selain harus mematuhi.

Saat kembali di London, Chamberlain menyatakan: “Penyelesaian dari masalah Czechoslovakia yang sekarang telah dicapai adalah dalam pandanganku hanya permulaan dari penyelesaian besar tempat seluruh Eropa dapat menemukan kedamaian.”

Sedikit politisi Inggris yang tidak setuju. Winston Churchill menyuarakan protes tunggal terkeras, menyebut Perjanjian Munich sebagai “suatu total, kekalahan sempurna.”

Kembali di Jerman, jenderal-jenderal angkatan bersenjata yang telah menyiapkan untuk menyingkirkan Hitler menyerah dalam kecemasan yang sangat. Semua rencana yang bertujuan menjatuhkan Hitler ditangguhkan. Para jenderal sekarang menghentikan diri mereka untuk mengikuti Hitler membawa Jerman ke dalam jurang yang membentang di depan.

Pada hari Sabtu, 1 Oktober, angkatan bersenjata Jerman bergerak menuju Sudetenland sesuai jadwal. Banyak orang Czech yang tinggal disana lari dari rumah mereka dengan hanya pakaian yang melekat di badan.

Sekali lagi Hitler telah mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa mengeluarkan satu tembakan pun. Hebatnya, kali ini dia bahkan mengeluh. Dengan sangat jengkel, dia berkata: “Aku tidak berpikir itu mungkin bahwa Czechoslovakia akan secara nyata dihidangkan padaku di piring oleh teman-temannya.”

Mengenai kesannya pada sekutu barat, Hitler dikemudian hari berkata: “Musuh-musuh kami hanyalah cacing kecil. Aku melihatnya di Munich.”

Mengenai kesan terakhirnya pada Hitler, Chamberlain berkata: “Hitler adalah babi kecil biasa yang pernah kutemui.”

Tetapi sekarang, sukses demi sukses membuat Hitler dan Nazi mabuk kekuasaan. Mereka mulai berpikir bahwa mereka dapat melakukan apapun, bahkan menaklukkan dunia.

Tujuan utama Hitler untuk Lebensraum telah tercapai langkah demi langkah, seperti yang direncanakannya. Sekarang adalah waktunya untuk memusatkan perhatian pada tujuan keduanya, perhitungan dengan Yahudi. Selama ini, Nazi secara besar-besaran telah menahan perhatian opini internasional. Tetapi hal itu tidak berarti banyak lagi.

Dan begitulah, pada bulan November 1938, lima tahun kebencian yang terkurung telah lepas dalam suatu peristiwa yang membingungkan dunia dan menandai suatu permulaan dari apa yang disebut dengan Holocaust – Malam Pecahnya Kaca (Night of Broken Glass).


Sumber :



Rencana Adolf Hitler untuk Mengobarkan Perang Dunia II




Oleh : Fachrizal

Sejak awal karirnya sampai hari kematiannya, Adolf Hitler hanya mempunyai dua tujuan utama. Tujuan utamanya adalah tambahan secara paksa Lebensraum (ruang hidup) untuk rakyat Jerman. Kedua, dia menginginkan semacam perhitungan terakhir dengan bangsa Yahudi.

Langkah awal untuk menuju Lebensraum terjadi pada tahun 1935 ketika Hitler secara terbuka melanggar Perjanjian Versailles dengan memulai lagi wajib militer dan dengan cepat membangun kembali angkatan bersenjata Jerman. Hitler kemudian mengatur untuk merundingkan suatu pakta kelautan dengan Inggris yang akan mengizinkan Jerman memiliki angkatan laut 35 persen dari armada Inggris, dan juga armada kapal selam dengan jumlah yang sama.

Hitler menyadari bahwa para pemimpin dunia akan menjadi semakin gelisah saat Jerman dipersenjatai lagi, yang berperan dalam malapetaka perang dunia dua puluh tahun yang lalu. Hitler secara terus-menerus meyakinkan para diplomat, dan siapapun yang mendengarkan, bahwa pembangunan militer Jerman adalah semata-mata untuk pertahanan yang dirancang untuk menempatkan Jerman berdiri sejajar dengan negara di sekitarnya. Betapapun, dia akan bertanya, tidakkah negara Jerman mempunyai hak untuk mempertahankan diri seperti setiap negara lain?

Hitler akan menjawab pertanyaannya sediri dengan persetujuan sementara pada saat yang sama berjanji bahwa Jerman tidak akan merusak perdamaian. Untuk menekankan hal itu, Hitler mengucapkan beberapa pernyataan luarbiasa tentang kengerian perang, yang dia saksikan sendiri sebagai prajurit di garis depan. Pada tanggal 21 Mei1935, dia menyatakan dalam pidato utamanya: “Darah yang tumpah di benua Eropa pada pertempuran dalam tiga ratus tahun terakhir tidak menghasilkan sesuatu yang berarti bagi negara-negara yang terlibat dalam peristiwa itu. Pada akhirnya, Perancis tetap Perancis, Jerman Jerman, Polandia Polandia, dan Italia Italia. Betapa keangkuhan dinasti, nafsu politik dan patriotik buta telah tercapai dengan caranya yang nyata sejauh ini untuk mencapai perubahan politik dengan sungai darah, mengenai perasaan nasional, tidak lebih dari sekedar menyentuh kulit bangsa-bangsa. Hal itu tidak secara pokok mengubah karakter dasar mereka. Jika negara-negara telah melakukan perubahan dari pengorbanan mereka menuju tujuan yang lebih bijaksana, kesuksesan akan lebih besar dan lebih tetap.”

Para pemimpin Perancis dan Inggris, dan negara-negara kecil tetangga Hitler, secara alami terkesan dengan sentimen seperti itu. Bertahun-tahun kemudian, mereka akan menemukan bahwa pada saat Hitler berbicara seperti itu dia juga menyetujui Undang-undang Pertahanan Reich rahasia yang menempatkan Jerman dalam perang ekonomi dan menghidupkan kembali organisasi Staff Jenderal angkatan bersenjata, yang dilarang setelah Perang Dunia I.

Banyak diplomat secara ceroboh memegang kata-kata Hitler dan berpikir bahwa dia adalah orang yang meyakinkan, bahkan dapat dipercaya. Hal itu, tentu saja tepat seperti yang diinginkan Hitler untuk mereka pikirkan. Dia membuat mereka secara nyata berada pada keadaan yang merugikan, karena mereka tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang ada dalam pikirannya. Mereka tidak tahu sedang berhadapan dengan seorang yang secara terus-menerus menggunakan kebohongan sebagai alat untuk mencapai tujuan jangka panjangnya.

Hitler dapat melihat mata seseorang dan berbohong dengan penuh kesungguhan hati. Dia juga berbohong pada seluruh dunia melalui siaran radio, diakhiri pernyataan tentang keinginannya untuk perdamaian, bahkan dia sangat cinta perdamaian, semuanya itu dikatakan sementara secara rahasia menyiapkan malapetaka peperangan lainnya.

Rakyat Jerman dan pejabat tinggi Reich tidak mengerti seberapa dalam sinisme Führer mereka, tetapi mereka akan segera mengetahuinya cepat atau lambat. Bagi pejabat tinggi angkatan bersenjata Jerman pengungkapan rahasia itu datang pada tanggal 5 November 1937, ketika Hitler mengadakan suatu konferensi rahasia dan menguraikan rencananya untuk mendapatkan Lebensraum atas negara lain.

Rapat itu diadakan di dalam istana kanselir Reich di Berlin pada pukul 4:15 sore. Hebatnya, sebelumnya pada hari yang sama, Hitler bertemu dengan duta besar Polandia dan menandatangani perjanjian yang meyakinkan bahwa Jerman akan menghormati batas wilayah Polandia.

Hadir dalam konferensi rahasia adalah dua Panglima angkatan bersenjata Jerman; Marsekal Medan Werner von Blomberg, dan Jenderal Werner von Fritsch, Panglima angkatan darat. Juga dihadiri oleh Panglima angkatan laut Erich Raeder, bersama dengan Hermann Göring yang mengepalai Angkatan udara baru Jerman (diantara banyak jabatan lainnya). Menteri Luar Negeri Constantin von Neurath juga ada di sana, bersama dengan Kolonel Friedrich Hossbach, ajudan militer Hitler, yang mencatat menit-menit selengkapnya dalam pertemuan yang kemudian dikenal sebagai konferensi Hossbach atau Memorandum Hossbach.

Hitler memulai pertemuan empat jam itu dengan menanyai masing-masing orang untuk bersumpah dengan janji rahasia. Dia kemudian memberitahu mereka bahwa peristiwa kematiannya yang terlalu muda mungkin terjadi mengikuti hal yang akan diutarakannya sehingga harus dihormati keinginan terakhir dan surat wasiatnya.

Dia mulai penjelasannya dengan menjelaskan teorinya tentang Lebensraum, menyatakan bahwa Jerman mempunyai “suatu inti rasial yang padat ” dan bahwa orang Jerman berhak atas “ruang hidup yang lebih luas daripada masyarakat lainnya.”

“Sejarah dari berbagai zaman – Kerajaan Romawi dan Kerajaan Inggris – telah membuktikan bahwa perluasan hanya dapat dilakukan dengan mendobrak perlawanan dan mengambil resiko…tidak pernah ada ruang tanpa pemilik…penyerang selalu berhadapan dengan suatu penguasa,” Hitler menegaskan. “Pertanyaan untuk Jerman adalah: dimana dia mendapat yang terbesar dengan biaya rendah?”

Hitler menunjukkan dua halangan utama; “…dua musuh dibenci yang mengilhami, Inggris dan Perancis, yang bagi mereka Jerman di tengah Eropa adalah duri dalam daging…”

“Masalah [Lebensraum] Jerman hanya dapat dipecahkan oleh kekuatan,” kata Hitler, tetapi “masih tetap menyisakan pertanyaan ‘dimana’ dan ‘bagaimana’…”

Hitler ingin mengungkapkan persoalan Lebensraum pada tahun 1943 sampai 1945 pada saat akhir untuk menjaga terhadap kekunoan militer, usia pemimpin-pemimpin Nazi, dan, “waktu itu saat seluruh dunia masih menyiapkan pertahanan dan kita membantu penyerangan.”

Walaupun tujuan utama Hitler mendapatkan Lebensraum di Timur, bernama Russia, dia memusatkan seluruh konferensi pada tujuan pertamanya, penguasaan atas Austria dan Czechoslovakia untuk melindungi sayap timur dan selatan Jerman. Hitler menguraikan tiga strategi untuk mendapatkan hal ini, masing-masing dirancang berperan besar pada kelemahan politik dan militer Perancis dan Inggris.

Dalam skenario pertama, Hitler akan menunggu sampai tahun 1943 ketika pemulihan persenjataan selesai dan Perancis dan Inggris akan dengan kesulitan mengikuti. Yang kedua, dia akan bertindak cepat dengan mengamati masalah politik internal Perancis, menunggu peluang untuk menyerang Czechoslovakia pada saat Perancis dilemahkan oleh krisis utama seperti perang sipil. Ketiga, dia akan menyerang secepatnya pada tahun 1938 ke Austria dan Czechoslovakia jika Perancis jatuh dalam konflik militer dengan negara lain, seperti dengan sekutu baru Jerman, Fasis Italia.

Penjelasan Hitler yang dapat menyebabkan resiko dimulainya perang dalam skala besar di Eropa itu mengejutkan yang hadir, terutama Blomberg dan Fritsch yang, sesuai dengan catatan Hossbach, “berulangkali meyakinkan pentingnya Inggris dan Perancis tidak berperan sebagai musuh kita.”

Mereka tidak keberatan secara moral atas rencana perang Hitler tetapi hanya berdasarkan pertimbangan praktis. Jerman, dalam pandangan mereka, jauh dari siap untuk perang, dan bahkan pada tahun 1943 tidak akan cukup punya persenjataan.

Setelah konferensi, Neurath yang kebingungan pulang dan menderita serangkaian serangan jantung. Sementara itu, Blomberg dan Fritsch, tetap teguh menolak rencana Hitler. Reaksi mereka sepenuhnya tak dapat diterima oleh Führer dan dia memutuskan keduanya harus pergi. Untuk menyingkirkan dua jenderal itu, Hitler akan menyerahkan pada ahli pembuat jebakan, Himmler dan Heydrich.


Sumber :



Rabu, 03 Desember 2014

Walther Hewel (1904-1945), Diplomat Kepercayaan Hitler yang Pernah Bekerja di Indonesia




Oleh : Kodar Solihat

Walther Hewel merupakan seorang diplomat Jerman yang ulung, lahir pada 2 Januari 1904 di Cologne dari pasangan Anton dan Elsa. Hewel bergabung dengan Nazi saat Beer Hall Putsch dan dia merupakan teman baik Hitler.

Walther Hewel salah seorang dedengkot Nazi yang merupakan sahabat karib Hitler sejak keduanya melakukan upaya kudeta di Munchen tahun 1926. Walther Hewel sempat tinggal berada di Bandung pada kurun waktu 1927-1938 karena sehari harinya berkerja di perusahaan perkebunan Inggris Anglo Dutch Plantantions of Java, Ltd (d/h Pamanoekan and Tjiasem Landen, kini menjadi bagian PT Perkebunan Nusantara VIII), Subang. Ia datang ke Bandung setelah dibebaskan dari penjara Landsberg tahun 1926, karena keadaan ekonomi di Jerman sedang repot lalu mencari pekerjaan ke Hindia Belanda dimana kota Bandung dan Jawa Barat saat itu sedang menjadi pusat ekonomi.

Namun pada tahun 1938 Walther Hewel dipanggil pulang oleh Hitler untuk kemudian Hewel ditugaskan di Kementerian Luar Negeri Jerman yang dipimpin Joachim von Ribbentrop. Walther Hewel diandalkan Hitler untuk melakukan diplomasi non-agresi dengan Uni Soviet yang kemudian ditandatangani Vyacheslav Molotov dan Joachim von Ribbentrop pada 23 September 1939. Dari versi sejumlah saksi meninggalnya Hitler pasca bunuh diri dalam bunker dibawah gedung Kekanseliran di Berlin pada 30 April 1945, Walther Hewel pun dikabarkan merupakan orang yang paling depan menyaksikan pembakaran jenazah sahabatnya tersebut. Walther Hewel pun dapat ikut meloloskan diri dari bunker yang sudah dikepung pasukan Uni Soviet. Ia kemudian dapat menyusul rombongan pasukan SS yang dipimpin Wilhelm Mohnke, dimana terdapat Traudl Junge. Namun karena sudah putus asa dan kelewat takut ditangkap dan disiksa pasukan Uni Soviet, Walther Hewel juga menyusul bunuh diri dengan menelan kapsul sianida lalu menembak kepalanya sendiri. Namun dalam catatan pihak sekutu, Walther Hewel tak tercatat dalam daftar para anggota Nazi yang dituduh bertanggungjawab atas operasional perang.

Kemampuan diplomasi Hewel tampaknya juga dilatarbelakangi sebelumnya saat masih bekerja sebagai kepala urusan pemasaran komoditas kopi di perusahaan perkebunan Anglo Dutch Plantation of Java Ltd di Subang. Pada masa-masa itu, Hewel juga terbiasa bertemu banyak karakter orang Eropa saat menjual kopi di Gedung Lelang de Vries Bandung depan Societit Concordia (sekarang gedung Asia-Afrika), lalu kemudian naik jabatan menjadi administratur perkebunan. Sepenggal keberadaan Walther Hewel di kota Bandung dan Subang sempat diingat Ny Yeni (68) yang merupakan anak Almarhum Mohammad Djoehri yang dahulunya salah seorang petinggi Anglo Dutch Plantations of Java Ltd. Ayahnya pernah bercerita bahwa Walther Hewel memang teman kerja seangkatan dia Anglo Dutch Plantations of Java Ltd yang sama-sama masuk sekitar tahun 1930-an.

Sosok Hewel termasuk salah seorang pentolan Nazi yang belum terungkap semua kehidupan pribadinya. David Irving asal Inggris termasuk yang menelusurinya menyatakantak mengetahui pasti siapa istrinya Hewel dengan hanya diduga memiliki seorang pasangan wanita asal Jerman yaitu Elisabeth Blanda. Lain halnya administratur PTPN VIII Kebun Ciater Haryusdianto Eka Putra alias Dian menyebutkan dari daftar administratur yang pernah bertugas, Walther Hewel pernah tercatat menjadi administratur Perkebunan Ciater pada tahun 1937-1938. Dian menyebutkan selama berada di Subang dikabarkan Hewel menikah dengan orang pribumi dan memiliki seorang anak. Namun anaknya Hewel kini tinggal di Selandia Baru sedangkan ibunya sudah meninggal dunia. Dikatakan informasi tersebut berawal saat dirinya membeli sebuah mobil jip bekas bermerek Land Rover produksi tahun 1950-an dari seseorang di Bandung. Yang bersangkutan hanya mengatakan ia adalah anaknya seorang Jerman bernama Walther Hewel dan hanya menyebutkan ayahnya itu menjadi administratur perkebunan di Subang.

Sebagai warga negara Jerman yang tinggal di Hindia Belanda, dia pun tetap bangga dan cinta terhadap tanah kelahirannya. Hal itu terlihat saat dia mengelola cabang Partai Nazi di Indonesia yang beranggotakan ekspatriat Jerman di Indonesia. Pada tahun 1937, cabang partai Nazi di Indonesia dibangun di beberapa kota-kota besar, seperti Batavia (sekarang Jakarta), Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Padang, dan Makassar.

Hewel dikenal sebagai loyalis Hitler yang perhatian. Bahkan ia disebut sebagai pendengar yang baik saat Hitler berbicara panjang mengenai topik-topik seperti anti-Semitisme. Meski dikenal sebagai pemimpin yang baik dan menyenangkan, nyatanya Hewel ialah seorang pemalu bila didekati perempuan. Bahkan, lucunya orang sekeras Hitler pernah menjadi 'mak comblang' baginya. Walaupun akhirnya dia menikah dengan Elizabeth, seorang perawat Palang Merah yang menyelamatkan dirinya setelah mengalami kecelakaan pesawat pada tanggal 21 April 1944.

Sampai Hitler bunuh diri pada 30 April 1945, Hewel tetap setia bersamanya. Hewel merupakan salah seorang individu dari sekian banyak orang yang terlibat panjang dalam kehidupan Hitler. Sebagai salah seorang loyalis Hitler, cara kematiannya pun sama. Hewel membuat pernyataan yang menyatakan bahwa dia berencana melakukan bunuh diri. Dia bunuh diri dengan cara menggigit sebuah kapsul sianida dari Hitler dan menembak kepalanya juga menggunakan pistol dari sahabatnya tersebut.


Sumber :

Minggu, 16 November 2014

JagdPanther "Sang Panther Pemburu"



Oleh : Hostuf Ajisaka

JagdPanther (Panther Pemburu) adalah tank destroyer Jerman yang memakai chassis PzKpfw V Panther dan meriam antitank 88 mm. JagdPanther juga salah satu kendaraan tempur Jerman yang paling ditakuti oleh musuh-musuhnya. Produksi JagdPanther dimulai pada awal tahun 1944. Seperti Elefant, JagdPanther dibuat dengan pelindung yang kuat, dan dirancang untuk saling berhadapan secara langsung dengan tank lawan. Desain sebenarnya telah dimulai sejak akhir tahun 1942 dengan nama resmi SdKfz 173. Pada awal produksi di awal tahun 1944, Adolf Hitler menginstruksikan pemberian nama menjadi ’JagdPanther’.

Untuk membuat satu unit JagdPanther, chassis Panther dimodifikasi dengan membuat suatu ruangan atau kompartemen untuk para awak yang luas di bagian depan dengan tetap mempertahankan profil yang rendah, tidak seperti Elefant yang menempatkan kompartemen awak di bagian belakang. Senjata yang digunakan adalah versi antitank dari 88 mm KwK 43 L/71, sama seperti pada PzKpfw VI B King Tiger, dan ditambah sebuah senapan mesin MG-34 7,92 mm untuk pertahanan diri. Meriam 88 mm KwK 43 L/71 dirasakan terlalu besar bagi awak yang ada di dalamnya sehingga seringkali mengakibatkan perasaan kurang nyaman. Tetapi, ini sama sekali tidak mempengaruhi penampilan JagdPanther di medan tempur sebagai tank destroyer yang sangat ditakuti.

Jagdpanther memiliki kekuatan penahan beban dan kekuatan tembakan yang sangat baik, yang membuatnya sangat mampu menghancurkan segala jenis tank-tank Sekutu. Berdasarkan pada chassis Panther Ausf G yang tersedia, JagdPanther sangat jarang mengalami masalah mesin yang terlalu serius. Hal ini karena telah dilengkapi dengan peningkatan pada transmisinya (ZF AK 7-400 heavy duty) – yang pada dasarnya ditujukan pada Panther II – dan dibuat untuk menghilangkan kelemahan utama pada Panther. JagdPanther dikendarai oleh 5 orang kru: 1 pengemudi, 1 operator radio, seorang komandan, 1 penembak dan 1 pengisi pelurunya.

Dengan chassis Panther yang digunakan, JagdPanther tidak banyak memiliki masalah mekanis. Selama perang, JagdPanther diproduksi sebanyak 392 unit (sumber lain mengatakan total yang diproduksi mencapai 419 unit). Sebanyak total 419 unit JagdPanther yang telah diproduksi sejak awal Januari 1944 oleh 3 pabrik manufaktur. MIAG memproduksi 270 unit JagdPanther dari awal Januari 1944 hingga masa akhir perang. Maschinenfabrik Niedersachsen-Hannover (MNH) memproduksi sebanyak 112 unit dari November 1944. Maschinenbau und Bahnbedarf (MBA) hanya memproduksi sebanyak 37 unit dari Desember 1944. Rencana produksi dari masing-masing pabrik ini sebenarnya sebanyak 150 unit JagdPanter per bulan, namun karena terganggunya produksi manufaktur Jerman akibat perang membuatnya hal tersebut susah dilakukan.

Pada bulan Juni 1944, unit-unit pertama yang tersedia telah memperkuat Panzerjäger Abteilungen 654 dan 559. Sebagian besar dari unit-unit ini diterjunkan di medan perang Rusia. Sebagian kecil lainnya (tidak lebih dari 10 unit) terlibat dalam pertempuran di Normandia untuk melawan pendaratan tentara Sekutu dalam Operasi Overlord.

Di antara catatan pertempuran JagdPanther di Front Eropa (Front Barat), yang paling mengesankan adalah yang terjadi di dekat kota Caumont, Perancis pada tanggal 31 Juli 1944. 3 unit JagdPanther dari Kompi ke-2 dalam kesatuan Panzeräger Abteilungen 654 (Batalion Antitank 654) yang dipimpin oleh Hauptmann Friedrich Luders, seorang ace JagdPanther yang sangat brilian dan cukup terkenal, menghadang dan menghajar pasukan Inggris dari Divisi Skotlandia ke-15 yang menggelar operasi ofensif ‘Operasi Blue Coat’. Dalam pertempuran ini, Friedrich Luders menunjukkan kelasnya sebagai seorang veteran yang sangat tangguh.

Mimpi buruk bagi Divisi Skotlandia ke-15 dimulai ketika 11 unit tank Churchill Inggris tiba-tiba meledak dan terbakar habis begitu saja hanya dalam waktu DUA MENIT, Akibat disergap oleh TIGA JagdPanther!! Tidak puas dengan ini, Kompi ke-2 dari Panzeräger Abteilungen 654 kembali mengamuk dan memakan korban berikutnya berupa beberapa truk pengangkut dan kendaraan APC (Armoured Personnel Carrier) ditambah dua unit Light Tank Inggris. Pembantaian Divisi Skotlandia ke-15 ini tidak dapat terhindarkan.

Akibatnya, selain tank-tank yang hancur tersebut, dua kompi pasukan Inggris binasa seluruhnya. Pada tanggal 3 Agustus 1944, pasukan Inggris kembali melakukan serangan di tempat yang sama setelah didahului oleh tembakan bertubi-tubi dari meriam artileri. Hauptmann Friedrich Luders dan anak buahnya masih tetap bertahan di tempatnya dan kembali berhasil menghancurkan 6 unit tank Inggris. Pasukan Inggris terpaksa memanggil bala bantuan dan akhirnya Friedrich Luders terpaksa mengundurkan diri.

Hasil akhir pertempuran dalam dua hari tersebut adalah Divisi Skotlandia ke-15 kehilangan 19 unit tank, beberapa truk dan tinggal menyisakan 4 unit kendaraan tempur saja sehingga harus membatalkan operasi ofensif mereka, sedangkan 3 unit JagdPanther dari Kompi ke-2 Panzeräger Abteilungen 654 berhasil menarik mundur dengan keadaan utuh tanpa kerusakan sedikit pun, setelah berhasil menghadang gerak laju musuhnya. Atas prestasi yang gemilang ini, Hauptmann Friedrich Luders memperoleh penghargaan Ritterkreuz der Eisernez Kreuz pada tanggal 21 Oktober 1944.

Beberapa unit JagdPanther yang masih bisa bertahan hingga saat ini! 3 unit JagdPanther yang masih bertahan hingga saat ini tengah dipulihkan dan dalam keadaan siap dijalanka. 2 museum Jerman, Deutsches Panzermuseum di Munster dan Wehrtechnische Studiensammlung (WTS) di Koblenz, masing-masing memiliki koleksi JagdPanther tersebut. SDKFZ Foundation di Inggris telah memulihkan 1 unit JagdPanther seperti sedia kala, dengan memanfaatkan 2 unit JagdPanther yang telah rusak. 1 unit yang lainnya lagi juga akan diperbaiki dan dipulihkan.

Ini adalah 7 unit dari beberapa JagdPanther yang masih diketahui bertahan hingga saat ini, yang mana dipajang di:
1. Bovington Tank Museum, Dorset, Inggris —satu dari beberapa yang dipasang oleh British Army Royal Electrical and Mechanical Engineers untuk percobaan, model produksi akhir.
2. Imperial War Museum, London, Inggris. Varian dari produksi awal. Di sini terdapat bekas tembakan dan penetrasi di bagian sisi kanan kompartemen mesinnya yang mana pada bagian kiri memang sengaja dibuka untuk dilihat umum.
3. Kubinka Tank Museum, Moscow, Rusia;
4. Musée des Blindés in Saumur, Perancis;
5. Sinsheim Auto & Technik Museum, Sinsheim, Jerman;
6. Panzermuseum Thun, Thun, Switzerland;
7. United States Army Ordnance Museum, Aberdeen, Amerika Serikat.

Statistik JagdPanther:
*) Kelas : Medium Tank Destroyer
*) Berat : 45 ton
*) Ukuran :
- Panjang 9.87 m,
- Lebar 3.42 m,
- Tinggi 2.71 m.
*) Senjata Utama :
- meriam 88 mm KwK 43 L/71 ~ 57 peluru
- senapan mesin MG-34 7,92 mm ~ 600 peluru
*) Kru : 5 orang
*) Pelindung :
- 80 mm bagian depan,
- 100 mm bagian mantelnya,
- 45mm sisi samping,
- 40mm sisi belakang.
*) Kecepatan : 46 km/jam
*) Jarak Tempuh : 160 km



Sumber :
- Darmawan, Muh. Daud (2010). "Kendaraan Tempur Perang Dunia II". Penerbit NARASI
- www.en.wikipedia.org