Tampilkan postingan dengan label Pertempuran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertempuran. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Oktober 2015

Akhir Riwayat Kapal Perang RI Eks Penyerbuan Normandy ( World War II)


Kabar tentang rencana uji coba rudal yakhont yang didatangkan pemerintah untuk melengkapi jajaran persenjataan yang dimiliki kapal perang (KRI) milik TNI-AL memberikan angin segar di bidang pertahanan nasional.

Yakhont merupakan jenis peluru kendali (rudal) berkemampuan tinggi buatan Rusia. Dengan kecepatan 2,5 mach (2,5 kali kecepatan suara) dan dapat menghancurkan sasaran hingga jarak 300 km. Artinya armada kapal perang Indonesia kini memiliki kemampuan serang Over The Horizon atau mampu menghancurkan musuh yang berada di luar batas cakrawala penglihatan dengan daya hancur tinggi.

Untuk memiliki rudal ini juga tidak sembarangan negara bisa mengakuisisi. Setidaknya harus melalui izin dari 7 institusi pemerintah Rusia dan persetujuan langsung Presiden Rusia saat itu, Vladimir Putin. Hingga kini hanya 3 negara yang memiliki rudal tersebut, yaitu Rusia sendiri, Vietnam dan Indonesia, sedangkan Suriah yang juga berminat membeli rudal tersebut dihalangi oleh Israel yang menekan Rusia untuk tidak menjualnya karena khawatir mengganggu kestabilan di kawasan Timur Tengah.

Namun dibalik kehebatan rudal yakhont yang dimiliki Indonesia tadi, ada cerita menarik mengenai kapal-kapal perang tua TNI-AL yang akan dijadikan rumpon atau sasaran tembak uji coba rudal tersebut.

Menurut Kepala Staf TNI-AL, Laksamana Madya Soeparno, ada satu KRI yang akan dijadikan sasaran tembak dari enam kapal LST (Landing Ship Tank) eks AS yang akan dipensiunkan dan akan digantikan kapal-kapal baru buatan dalam negeri, yaitu:
- KRI Teluk Langsa (eks USS Solano County (LST-1128)),
- KRI Teluk Kau-504 (eks USS LST-652),
- KRI Teluk Tomini-508 (eks USS Bledsoe County (LST-356)),
- KRI Teluk Ratai-509 (eks USS LST-678 dan eks USS Presque Isle (APB-44)),
- KRI Teluk Saleh-510 (eks USS Clarke County (LST-601)) dan
- KRI Teluk Bone-511 (eks USS Iredell County (LST-839)).

Semua kapal tersebut merupakan kapal bekas berumur 60-70 tahun yang dulunya milik angkatan laut Amerika Serikat dan terbilang cukup bersejarah. Kapal-kapal tersebut pernah menjadi bagian dari operasi  overlord (D-Day 6 juni 1944) di masa Perang Dunia II, dimana operasi tersebut merupakan penyerbuan  laut terbesar dalam sejarah manusia.

Pendaratan pasukan sekutu di daerah Normandia, Perancis, melibatkan setidaknya 7.000 kapal dan 12.000 pesawat untuk mengangkut hampir 160.000 pasukan pada 6 Juni 1944 tersebut dan lebih dari 3.000.000 tentara sekutu hingga akhir bulan Agustus diseberangkan ke Perancis melewati selat channel untuk menembus garis pertahanan Jerman (NAZI).

Pertempuran selama 2 bulan ini berakhir dengan jatuhnya kantung falaise dan bebasnya Perancis dari pendudukan Jerman. Mungkin bagi yang pernah menonton film 'Saving Private Ryan' (1998) memiliki gambaran bagaimana sengitnya pertempuran antara pasukan sekutu dan pasukan Jerman. Di film tersebut, yang menjadi latar adalah pantai Omaha, Normandia.

konvoi Kapal perang sekutu 6 Juni 1944

Pasukan Sekutu tiba di pantai Omaha, 6 Juni 1944

Pendaratan Pasukan Sekutu di Normandia

Kembali mengenai KRI yang akan dijadikan sasaran tembak rudal yakhont tadi, TNI-AL sudah memberikan kabar mengenai rencana tersebut kepada Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Maksud  dari pihak TNI-AL adalah memberikan kesempatan kepada pihak AS apakah ingin membelinya kembali untuk dimuseumkan mengingat nilai historisnya.

Namun akhirnya walaupun dengan berat hati, Amerika Serikat menyetujui kapal tersebut untuk dihancurkan karena biaya untuk pengembalian ke AS yang cukup besar dan bagaimanapun kapal tersebut sudah menjadi milik Indonesia sehingga AS menyerahkan sepenuhnya kepada Indonesia, nasib terhadap kapal-kapal tua tersebut.

Banyak warga AS maupun negara-negara yang dulu tergabung dalam pasukan sekutu seperti Inggris, Perancis, dll terkejut bahwa masih ada kapal perang eks penyerbuan Normandia yang berlayar  sampai sekarang. 

Hingga kini, para pelaut Amerika pun tetap memberikan penghormatan terhadap KRI eks penyerbuan Normandia ini. Suatu ketika di perairan Indonesia KRI Teluk Tomini berpapasan dengan armada kapal laut Amerika. Mengetahui kapal yang mereka temui adalah kapal yang bersejarah bagi mereka, para awak kapal Amerika langsung naik keatas kapal dan membentuk formasi parade memberikan penghormatan layaknya seorang junior yang memberikan hormat kepada seniornya.

sumber:
diolah dari Republika, Wikipedia, dan Forum Militer Kaskus

Senin, 01 September 2014

Pertempuran Westerplatte, Pertempuran Perdana Perang Dunia II




Oleh : Ciput Putrawidjaja

 Selama ini orang lebih banyak tahu bahwa Perang Dunia 2 (PD 2) diawali dengan invasi pasukan Nazi Jerman ke Polandia. Namun, jarang yang tahu bahwa pertempuran (battle) tersebut sebenarnya punya nama sendiri, yaitu Pertempuran Westerplatte. Westerplatte adalah nama semenanjung di pelabuhan kota bebas Danzig (sekarang Gdansk, Polandia).

Pada 1 September 1939, angkatan laut dan angkatan darat Nazi Jerman menyerang Depo Transit Militer Polandia (Wojskowa Składnica Tranzytowa, WST) di semenanjung itu, yang dijaga oleh kurang dari 200 pasukan di bawah pimpinan Mayor Henryk Sucharski, tapi mampu bertahan selama 7 hari menghadapi serangan hebat termasuk pesawat pembom tukik!

Pasukan Nazi Jerman mengerahkan ±3400 tentara dipimpin oleh Generalleutnant Friedrich-Georg Eberhardt dan didukung oleh kapal perang Schleswig-Holstein dipimpin oleh Vizeadmiral Gustav Kleikamp. Setelah 7 hari pertempuran berat sebelah ini, akhirnya di pihak Polandia 15–20 orang tewas, 53 luka-luka dan sisanya menyerah kepada pasukan Nazi Jerman. Di pihak Nazi Jerman, 200-300 tewas atau luka-luka.

Pertempuran ini mengilhami tentara dan rakyat Polandia dalam perlawanan (resistance) terhadap serbuan Nazi Jerman di seluruh negeri. Saat ini lokasi pertempuran tersebut ditetapkan menjadi Situs Monumen Sejarah Nasional (Pomnik Historii) pada 1 September 2003 oleh Badan Cagar Budaya Nasional Polandia. Pada tahun 2013, pertempuran ini difilmkan oleh sutradara Polandia Pawel Chochlew dengan judul "1939: Tajemnica Westerplatte (1939: Battle of Westerplatte)".

(dari berbagai sumber)

Catatan Tambahan:
Kota Danzig ini di kemudian hari berubah nama menjadi Gdansk. Di kota inilah, pada tahun 1980 Lech Walesa memulai gerakan buruh bertajuk "Solidarność" yg memicu runtuhnya rezim komunis di Polandia dan merembet ke seluruh negara2 Blok Timur (Pakta Warsawa)



Jumat, 02 Mei 2014

Pertempuran Semenanjung Kerch (8 Mei 1942 - 18 Mei 1942)




Oleh : Steve Edpin

 Dalam Operasi Barbarossa – penyerangan Jerman ke Uni Soviet – Krimea bukan menjadi target penyerangan Jerman selama invasi. Namun tiga minggu setelah invasi, pada 13 Juli 1941, sumber minyak utama Jerman di Ploesti, Romania diserang oleh pesawat-pesawat pembom milik Armada Laut Hitam Soviet yang berpangkalan di Krimea. Mulai saat itulah, Krimea menarik perhatian sang Führer.

Genap sepuluh hari setelahnya, pada tanggal 23 Juli 1941, Hitler mengeluarkan Perintah Nomor 33 yang memberikan prioritas kepada Satuan Darat Selatan pimpinan Generalfeldmarschall Gerd von Rundstedt untuk beroperasi di Ukraina. Hitler memerintahkan agar Krimea dikuasai. Pangkalan-pangkalan udara yang berbasis di Simferopol menjadi sasaran utama agar pesawat-pesawat pembom Soviet berhenti menyerang kilang-kilang minyak di Rumania. Serangan tersebut dilakukan melalui satu-satunya jalan darat menuju Semenanjung Krimea, yaitu Perekop. Pasukan utama dari Satuan Darat Selatan ini adalah Angkatan Darat ke-11 pimpinan Generaloberst Erich von Manstein.

Di akhir tahun 1941, Sebastopol menjadi satu-satunya wilayah di Semenanjung Krimea yang masih belum berhasil ditaklukkan. Namun pada tanggal 26 Desember 1941, Soviet mendaratkan pasukan di Kertsch, di ujung paling timur Semenanjung Krimea. Generalleutnant Hans Graf von Sponeck, komandan Divisi Infanteri ke-22, meminta ijin untuk mundur karena bahaya terkepung, namun ditolak tiga kali oleh Hitler. Empat hari setelahnya, Soviet mendaratkan pasukannya di Feodosiya, di sebelah barat von Sponeck. Ia pun langsung bergerak mundur atas inisiatifnya sendiri dalam menyelamatkan pasukannya dari kepungan. Akibat dari dua pendaratan ini, pasukan Jerman berhasil dipukul mundur. Namun nasib von Sponeck dalam menyelamatkan pasukannya dilihat dari sudut pandang yang berbeda oleh sang Führer.

Tanggal 18 Januari 1942, von Manstein menyerang balik dan mengambil alih Feodosiya. Pasukan Soviet berhasil dipukul mundur ke garis pertahanan yang baru di Ak Monaiy. Akibat dari serangan balik ini, Stavka (Komando Tinggi Angkatan Bersenjata Soviet) mengirim perwakilannya ke Krimea, Komisioner Angkatan Darat Lev Mekhlis, yang merupakan orang partai dan tidak memiliki pengalaman militer, namun dipilih karena merupakan seorang komunis yang fanatik. Kedudukan Mekhlis menjadi lebih tinggi dibandingkan komandan Soviet di front Krimea, Dmitri Timofeyevich Kozlov, yang berpangkat General-Leiytenant.

Komando Tinggi Angkatan Bersenjata Jerman menyatakan bahwa Kertsch harus diambil alih. Hal ini jelas dilakukan karena dua alasan. Pertama, agar dapat fokus dalam ofensifnya ke Sebastopol, bagian timur ini harus diselesaikan lebih dahulu untuk mencegah pertempuran dua front. Kedua, di tahun baru 1942 Hitler memiliki rencana baru untuk menduduki ladang minyak di Kaukasus. Akan tetapi operasi ini tidak bisa dilaksanakan apabila pasukan Soviet di wilayah Krimea belum dihancurkan, karena bagian selatan pasukan Jerman akan berbahaya jika diserang.

Demi mencapai keberhasilan, pasukan von Manstein diberikan bantuan udara dari Korps Udara VIII pimpinan General der Flieger Wolfram Freiherr von Richtofen, yang merupakan satuan angkatan udara khusus dalam memberikan bantuan udara jarak dekat. Von Manstein juga diberikan satuan baru, Divisi Panzer ke-22. Operasi yang akan segera dilaksanakan pada tanggal 8 Mei 1942 ini diberi nama Operasi Trappenjagd.

Kozlov yakin bahwa pasukan Jerman akan menyerang melalui jalur utara semenanjung itu, sehingga ia mengalokasikan Angkatan Darat ke-51 dan pasukan lapis bajanya di wilayah utara. Penyerangan melalui jalur selatan dianggap sangat tidak mungkin, sehingga Kozlov hanya memposisikan Divisi Senapan ke-63nya yang lemah di wilayah selatan.

Namun, di luar dugaan, pasukan Jerman menyerang melalui jalur selatan. Pasukan Jerman bergerak mengepung yang hanya dilakukan dari satu arah. Tembakan-tembakan artileri Jerman dan pesawat-pesawat Stuka menggempur posisi Soviet. Di hari kedua pertempuran, von Manstein mengirim Divisi Panzer ke-22 dalam skala kecil. Setelah berhasil menembus garis pertahanan Soviet, panzer-panzer Jerman bergerak ke utara untuk mengepung Angkatan Darat ke-47 Soviet.

Akibat dari serangan ini, Mekhlis dan Kozlov meminta ijin dari Stalin untuk mundur ke garis pertahanan yang baru, dan diijinkan. Gerakan mundur ini dilakukan Soviet di sepanjang garis pantai utara yang menghadap Laut Azov. Di belakangnya, pasukan Jerman mengikuti. Jerman berhasil memasuki kota Kertsch dan memukul mundur pasukan Soviet yang selamat. Kejadian ini menyerupai Dunkirk. Pasukan Soviet tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan Krimea melalui jalur laut. Segala kapal dan rakit yang tersedia digunakan untuk mengevakuasi pasukan yang selamat ke Teluk Taman sepuluh kilometer di sebelah timur.

Sekitar 120.000 pasukan Soviet berhasil lolos. Namun lebih banyak lagi yang tidak, karena kurangnya jumlah perahu dan rakit yang tersedia. Di akhir hari operasi pada tanggal 18 Mei 1942, pasukan Soviet telah menderita 176.000 pasukan tewas, 400 pesawat, 347 tank, dan 4.000 pucuk senjata, atau sekitar 63 persen korban dari pasukan Soviet di front Krimea. Sedangkan Jerman hanya menderita 5 persen dari Angkatan Darat ke-11. Jabatan Mekhlis diturunkan dan dipindahkan ke pos yang baru. Pangkat Kozlov diturunkan satu, dari General-Leiytenant menjadi General-Maiyor.

Keberhasilan dari Operasi Trappenjagd ini merupakan kemenangan gemilang bagi Jerman dan kekalahan telak bagi Soviet, karena dengan amannya sayap timur Semenanjung Krimea, sekarang Jerman dapat melancarkan serangannya yang berfokus ke Sevastopol di sebelah barat daya. Demikian pula dengan amannya sayap selatan, Satuan Darat Selatan dapat melancarkan ofensifnya ke Kaukasus.

Berikut adalah artikel yang menceritakan tentang keberhasilan pasukan Jerman di Kertsch.

Di bawah ini adalah terjemahan artikel ke bahasa Indonesia.

Judul: KEMENANGAN DI KERTSCH

Kemenangan di Kertsch lagi-lagi menjadi bukti dampak kekuatan yang tak terputus dari pasukan Jerman – yang bekerja sama antara Angkatan Udara Jerman dan pasukan Romania, memberikan kekalahan telak pada pasukan Soviet dalam beberapa hari. Dengan jatuhnya Semenanjung Kertsch, benteng pertahanan terkuat Soviet di sebelah selatan Front Timur menjadi kalang kabut di tangan pasukan Jerman yang mengejar musuh tanpa henti, yang menderita pertumpahan darah yang tak terbayangkan. Setelah penyerangan kota Kertsch, ujung jembatan Ak Burnu dan Jenikale, selat di Semenanjung Kertsch, dikepung menjadi bagian yang lebih luas.

KETERANGAN ILUSTRASI
Kiri Atas (Halaman Kiri): Perlindungan yang baik di parit anti-tank, menunggu perintah penyerangan.

Kiri Bawah (Halaman Kiri): Bunker beton “Stalin”* ditaklukkan, salah satu poin terkuat dengan dinding fortifikasi yang sangat terstruktur, yang dibangun oleh Soviet dengan tujuan agar tak tertembus. Sekarang menjadi pos komando resimen.

Tengah (Halaman Kiri): Sebelum penyerangan. Dalam waktu yang singkat sebelum serangan dimulai, pencarian referensi medan di peta dilakukan lagi.

Kanan Bawah (Halaman Kiri): Di sebuah parit anti-tank berukuran besar yang telah ditaklukkan, pengawas artileri terdepan dengan perangkat radionya membangun pos di sini dan dari sini mengarahkan tembakan baterai-baterai artileri.

Kiri Atas (Halaman Kanan): Dengan ‘periskop gunting’ yang disamarkan dengan baik, seorang pengawas artileri mengarahkan tembakan artileri, dan melunakkan posisi musuh dengan hujan peluru.

Kanan Atas (Halaman Kanan): Sebuah ujian urat saraf, yang menjadi kebiasaan sehari-hari: secara mengerikan, tank Soviet bergerak ke arah pengawas artileri Waffen-SS yang sendirian. Prajurit SS tersebut menjaga ketenangannya dan mengarahkan tembakan baterai-baterai artilerinya ke arah target itu – dalam segera terdapat korban yang kolosal dari tembakan artileri.

Kiri Tengah (Halaman Kanan): Jalur-jalur suplai yang memberi pasokan amunisi dan makanan untuk pasukan yang sedang bertempur, berjalan melalui kolom-kolom yang telah hancur.

Kiri Bawah (Halaman Kanan): Di ladang jagung, para Bolshevik yang terpencar dilacak, senjata-senjata yang tersembunyi dicari, dan setelah itu dibawa ke belakang ke kamp pengumpulan.

Kanan Bawah (Halaman Kanan): Setelah penyerangan, para prajurit infanteri berkumpul di pinggiran, sementara senjata anti-udara** masih terus mengejar musuh yang lemah.

SUMBER FOTO
- koleksi pribadi, ‘Wiener Illustrierte Zeitung’, no. 22, tahun edisi 61, terbitan 3 Juni 1942

CATATAN KAKI
* Jerman memiliki nama panggilan untuk setiap basis pertahanan Soviet di Sevastopol, seperti “Stalin”, “Molotov”, “Cheka”, “Siberia”, “Volga”, dan lain-lain. Beberapa basis pertahanan ini merupakan peninggalan Pertempuran Krimea di tahun 1850. Bunker “Stalin” ini memiliki struktur beton dan empat 76mm senjata anti-udara yang dipertahankan oleh Baterai Anti-Udara ke-365 Soviet.

** Senjata anti-udara berkaliber kecil (seperti 20mm) juga digunakan oleh pasukan Jerman dalam menyapu posisi musuh.


Sumber :

Jumat, 28 Maret 2014

Pertempuran Britania (1940-1941) Adu Supremasi Udara antara Luftwaffe vs RAF




Oleh : Waffen Armee

Pertempuran Britania atau dalam bahasa Jermannya: um Luftschlacht England atau Luftschlacht um Großbritannien ini adalah nama yang diberikan untuk kampanye udara yang dilancarkan oleh Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe) terhadap Britania Raya selama musim panas dan musim gugur 1940. Tujuan dari kampanye ini adalah untuk mendapatkan superioritas udara atas Royal Air Force (RAF), terutama Fighter Command. Nama ini berasal dari sebuah pidato terkenal disampaikan oleh Perdana Menteri Winston Churchill di House of Commons: "Pertempuran Perancis sudah selesai. Aku berharap Pertempuran Britania akan dimulai ..."

Pertempuran Britania adalah kampanye besar pertama yang harus dilawan sepenuhnya oleh angkatan udara, dan juga kampanye pengeboman terbesar dan paling mantap pada tanggal tersebut. Dari Juli 1940,konvoi pengiriman dan pusat pengiriman, seperti Portsmouth adalah target utamanya, satu bulan kemudian serangan Luftwaffe bergeser ke lapangan terbang RAF dan infrastrukturnya. Saat pertempuran berlangsung Luftwaffe juga memasukkan target pabrik pesawat dan infrastruktur dasar lainya.

Kegagalan Jerman untuk mencapai tujuannya yaitu menghancurkan pertahanan udara Britania, atau memaksa Britania menegosiasikan gencatan senjata atau penyerahan langsung dianggap kekalahan besar pertama dan salah satu titik balik penting dalam perang. Andai jika Jerman telah dapat menguasai udara, keunggulan Adolf Hitler bisa melancarkan Operasi Singa Laut dan invasi amfibi ke Britania.

Latar Belakang Perang
Setelah evakuasi tentara Inggris dan Perancis dari Dunkirk dan penyerahan Perancis pada tanggal 22 Juni 1940, Adolf Hitler memfokuskan diri pada kemungkinan menyerang Uni Soviet dalam Operasi Barbosa. Semasa Lord Halifax menjabat Menteri Luar Negeri Inggris, dan unsur sentimen publik serta politik Inggris lebih memilih negoisasi perdamaian dengan Jerman, karena menganggap Inggris akan mengalami kekalahan tanpa sekutunya di Eropa. Namun saat Winston Churchill, baru dilantik sebagai Perdana Menteri Inggris, dan mayoritas kabinetnya menolak untuk mempertimbangkan gencatan senjata dengan Hitler, digunakan retorika terampil untuk membuat opini publik terhadap kapitulasi, dan untuk mempersiapkan Inggris dalam menghadapi perang yang panjang.

Pada tanggal 11 Juli, Grand Admiral Erich Raeder, Panglima Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman), mengatakan bahwa invasi Hitler hanya dapat dilakukan sebagai pilihan terakhir, dan hanya dapat dilakukan dengan superioritas serangan udara penuh. Kriegsmarine telah hampir lumpuh karena Kampanye Norwegia, dengan banyak kapal yang telah tenggelam atau rusak, sedangkan Royal Navy masih memiliki lebih dari 50 kapal perusak, 21 kapal penjelajah dan delapan kapal perang di British Home Armada. Ada sedikit kelemahan yang Kriegsmarine bisa lakukan untuk menghentikan Royal Navy dari intervensi. Satu-satunya alternatif adalah menggunakan pembom Luftwaffe dan pembom torpedo, dan dukungan serangan udara untuk serangan yang lebih efektif.

Pada tanggal 16 Juli, meskipun dia setuju dengan Raeder, Hitler memerintahkan penyusunan rencana untuk menyerbu Britania, Ia juga berharap bahwa berita tentang persiapan ini akan menakut-nakuti Britania dalam negosiasi perdamaian. Semua persiapan itu harus selesai hingga pertengahan Agustus. Dengan kode bernama Unternehmen Seelöwe atau Operasi Sealion, yang diajukan oleh OKW (Oberkommando der Wehrmacht atau "Komando Tertinggi Angkatan Bersenjata") dan dijadwalkan berlangsung pada pertengahan September 1940. Seelöwe dipanggil untuk pendaratan di pantai selatan Britania Raya, yang didukung oleh serangan udara. Baik Hitler maupun OKW percaya akan kemungkinan sukses dalam serangan amfibi di Britania sampai RAF berhasil dinetralkan. Raeder percaya bahwa superioritas udara bisa membuat arahan yang sukses meskipun mungkin akan menjadi operasi beresiko dan dibutuhkan "penguasaan mutlak atas Channel oleh pasukan udara Jerman".Sebaliknya Grand Admiral Karl Dönitz percaya superioritas udara "tidak cukup". Dönitz menyatakan, "kita tidak memiliki kendali udara atau laut, tidak pula kami dalam posisi untuk mendapatkan itu". Beberapa sejarawan, seperti Derek Robinson, telah setuju dengan Dönitz. Robinson berpendapat bahwa keunggulan besar Royal Navy selama Kriegsmarine akan membuat bencana pada Sealion dan Luftwaffe tidak bisa mencegah intervensi tegas oleh kapal penjelajah Inggris dan kapal perusaknya, bahkan dengan superioritas udara.

Strategi Luftwaffe
Luftwaffe dirancang untuk memberikan dukungan taktis untuk tentara di medan perang. Selama serangan blitzkrieg melawan Polandia, Denmark dan Norwegia dan Perancis dan Negara-negara kecil lain, Luftwaffe telah bekerjasama sepenuhnya dengan Wehrmacht. Dalam Pertempuran Britania, Luftwaffe beroperasi dalam peran strategis, sesuatu yang tidak cocok dalam pertempuran ini. Tugas utamanya adalah untuk memastikan supremasi udara di tenggara Inggris, untuk membuka jalan bagi armada invasi.

Luftwaffe bergabung kembali setelah Pertempuran Perancis yang terbagi menjadi tiga, yaitu: Luftflotten 1(armada udara) yang menyerang Britania selatan dan utara. Luftflotte 2, diperintahkan oleh Albert Generalfeldmarschall Kesselring, bertanggung jawab atas pemboman tenggara Inggris dan daerah London. Luftflotte 3, di bawah Generalfeldmarschall Hugo Sperrle, targetnya adalah West Country, Midlands, dan barat laut Inggris. Luftflotte 5, dipimpin oleh Generaloberst Hans-Jürgen Stumpff dari markasnya di Norwegia, ditargetkan menyerang utara Inggris dan Skotlandia.

Saat pertempuran berlangsung, tanggung jawab perintah bergeser, dengan Luftflotte 3 mengambil tanggung jawab lebih untuk serangan Blitz malam hari sementara operasi siang hari jatuh di atas pundak Luftflotte 2.

Perkiraan Luftwaffe awal adalah mengambil empat hari untuk mengalahkan RAF Fighter Command di Inggris selatan. Hal ini akan diikuti oleh serangan empat minggu selama pembom dan pesawat tempur jangka panjang akan menghancurkan semua instalasi militer di seluruh negeri dan kehancuran industri pesawat terbang Inggris.

Kampanye ini direncanakan dengan serangan terhadap lapangan udara di dekat pantai, secara bertahap bergerak masuk ke dalam untuk menyerang sektor lapangan udara London.Kemudian memberikan Luftwaffe lima minggu, dari 8 Agustus - 15 September, untuk mendirikan superioritas udara sementara di Inggris. Untuk mencapai tujuan ini, Fighter Command harus dihancurkan, baik di tanah atau di udara, namun Luftwaffe harus mampu mempertahankan kekuatannya untuk dapat mendukung invasi, ini berarti bahwa Luftwaffe harus mempertahankan rasio "banyak membunuh musuh" atas pejuang RAF. Satu-satunya alternatif untuk tujuan superioritas udara merupakan kampanye teror bom ditujukan pada penduduk sipil, tetapi ini dianggap sebagai upaya terakhir dan itu jelas dilarang oleh Hitler.

Luftwaffe terus meluas dalam skema ini, tapi komandan tertinggi mempunyai perbedaan pendapat tentang strategi. Sperrle ingin membasmi infrastruktur pertahanan udara dengan pengeboman itu. mitranya, Kesselring, berujar menyerang London secara langsung-baik untuk membombardir pemerintah Inggris ke dalam penyerahan atau untuk menarik pejuang RAF ke dalam pertempuran yang menentukan. Göring tidak melakukan apa pun untuk menyelesaikan perselisihan antara komandan-nya, dan hanya memberi petunjuk-petunjuk samar dalam memutuskan pertempuran pada tahap awal pertempuran. Ia tampak terobsesi dengan mempertahankan daya dasar di Luftwaffe dan memanjakan keyakinannya yang usang pada pertempuran udara, yang kemudian menyebabkan kesalahan taktis dan strategis.

Taktik Perang
Taktik Luftwaffe dipengaruhi oleh pesawat mereka sendiri.Bf 110 terbukti sangat rentan terhadap pesawat pesawat gesit RAF bermesin tunggal. Ini berarti sebagian besar tugas pendamping tempur jatuh pada Bf 109. Taktik peperangan kemudian menjadi rumit, awak pesawat pembom yang menuntut perlindungan lebih dekat menjadi kendala. Setelah berjuang keras dalam pertempuran pada 15 dan 18 Agustus, Göring bertemu dengan para pemimpin unitnya. Selama konferensi ini, kebutuhan bagi para pilot untuk bertemu pada waktu pemboman sedang tertekan. Hal ini juga memutuskan bahwa salah satu pembom Gruppe hanya bisa dilindungi oleh beberapa Gruppen 109. Selain Göring menetapkan bahwa sebagai pilot akan dibiarkan bebas untuk Freie Jagd (serangan penyapu akan mendahului serangan untuk mencoba membersihkan jalan mereka dari musuh). Unit Ju 87, yang telah menderita banyak korban jiwa, hanya digunakan dalam keadaan yang menguntungkan. Pada awal bulan September, Göring memerintahkan peningkatan tugas pendamping dekat. Keputusan ini banyak dibebankan pada Bf 109 dan, walaupun mereka lebih berhasil melindungi pasukan pembom, namun korban di antara para pilot, terutama karena mereka dipaksa untuk terbang dalam kecepatan manuver yang berkurang.

Luftwaffe konsisten memvariasi taktik dalam upayanya untuk menembus pertahanan RAF. Melakukan sweaping dengan berkeliling, yang dikenal juga sebagai Freie Jagd "Berburu gratis", untuk membuat pesawat tempur RAF terpancing. Pesawat pesawat tempur RAF, bagaimanapun, sering dapat mendeteksi posisi ini dan menghindari mereka, untuk menjaga kekuatan tempur dalam menyerang formasi bomber.

Luftwaffe juga mencoba menggunakan formasi kecil pesawat pembom sebagai umpan, dengan sejumlah besar pendamping. Ini lebih berhasil, tetapi hal ini lebih rentan. Pada September, taktik standar untuk serangan telah menjadi teknik andalan.

Sebuah Jagd Freie akan mendahului formasi serangan utama. Pembom akan terbang di ketinggian antara 16.000 kaki (4.900 m) dan 20.000 kaki (6.100 m), dikawal pesawat tempur lain. Escort dibagi menjadi dua bagian (biasanya Gruppen), beberapa operasi yang mempunyai kontak dekat dengan pengebom, dan beberapa ratus meter jauhnya dan sedikit di atas. Jika formasi diserang dari kanan,maka bagian kanan terlibat dengan para penyerang, bagian atas bergerak ke kanan dan bagian port ke posisi teratas. Jika serangan itu datang dari sisi sistem pelabuhan itu terbalik. pejuang Inggris datang dari belakang bersama dengan bagian belakang dan dua bagian luar pindah ke belakang. Jika ancaman itu datang dari atas, bagian atas masuk sementara bagian samping mengikuti pejuang. Jika diserang, semua bagian akan bertahan. Ini taktik yang terampil berevolusi dan dilaksanakan, serta sangat sulit untuk dilawan.

Catatan Adolf Galland:
“Kami memiliki kesan bahwa, apa pun yang kami lakukan, kami pasti akan salah. Pesawat tempur melindungi pesawat pengebom yang jelas, terlihat kehadiran para pesawat tempur pelindung pembom memberikan rasa keamanan yang lebih besar. Namun, ini merupakan kesimpulan yang salah, karena sebuah pesawat tempur hanya dapat melaksanakan tugas ini murni defensif dengan mengambil inisiatif dalam serangan. Dia tidak harus menunggu sampai diserang karena kemudian dia kehilangan kesempatan bertindak. Kami pilot pesawat tempur pasti lebih memilih mengejar bebas saat berdekatan dengan area target. Hal ini memberikan bantuan terbesar dan perlindungan terbaik untuk gaya bomber.”

Kerugian terbesar yang dihadapi oleh pilot Bf 109 adalah bahwa tanpa bantuan jangka panjang drop tank (yang diperkenalkan dalam jumlah terbatas pada tahap akhir pertempuran), biasanya 300 liter (66 gal imp; 79 US gal) kapasitas Bf 109 memiliki daya tahan lebih dari satu jam dan, untuk 109E, 600 km (360 mil) jangkauan. Setelah dari Britania Raya, seorang pilot 109 harus mengawasi bahan bakar dan bila akan habis, ia terpaksa harus berbalik dan menuju Perancis. Dengan prospek dua penerbangan diatas udara yang panjang, dan mengetahui jangkauan mereka secara substansial berkurang ketika mengawal pembom atau selama pertempuran.

Strategi RAF
Sistem Dowding
Batu kunci pertahanan Inggris adalah "Dowding Sistem", arsitek utamanya adalah Marsekal Sir HCT Dowding, pemimpin RAF.komandan pesawat tempur Inggris. Yang Dowding warisi, yang didirikan sejak tahun 1917 oleh Mayor Jenderal EB Ashmore. Dowding sendiri banyak mencontoh dari pendahulunya, banyak fitur yang telah dirintis oleh Ashmore dia lakukan, termasuk penggunaan radio dua arah dan Royal Observer Corps (ROC). Namun, inti dari sistem Dowding itu dilaksanakan oleh Dowding sendiri: penggunaan Radio Direction Finding (RDF, kemudian disebut radar) adalah atas perintahnya, dan penggunaannya dilengkapi dengan informasi oleh ROC, adalah penting untuk kemampuan RAF untuk efisiensi mencegat pesawat Jerman masuk. Ia juga bersikeras memiliki radar operator terhubung melalui telepon (kawat yang diletakkan di bawah tanah dengan perlindungan beton anti-bom) ke pusat operasional: Fighter Command ini dikontrol di Bentley. Selama beberapa pertempuran pesisir dan Komando Armada Udara berada di bawah kendali Komando pesawat tempur.

Razia di kota-kota Inggris
Petunjuk Hitler no.17, yang dikeluarkan 1 Agustus 1940 pada melakukan perang melawan Inggris secara khusus dilarang melakukan serangan teror atas inisiatif sendiri.Perang melawan Inggris harus dibatasi untuk serangan destruktif terhadap industri dan target angkatan udara yang memiliki kekuatan defensif yang lemah. Studi yang paling menyeluruh dari target yang bersangkutan, yaitu poin penting dari target, adalah sebuah prasyarat untuk sukses. Hal ini juga menekankan bahwa setiap upaya harus dilakukan untuk menghindari kerugian yang tidak perlu di kalangan penduduk sipil.

Serangan Luftwaffe melawan Britania telah dimulai dengan berbagai serangan di pelabuhan utama sejak Agustus, tapi Hitler mengeluarkan direktif bahwa London tidak bisa dibom. Namun, pada sore hari 15 Agustus, Hauptmann Walter Rubensdörffer keliru mengebom lapangan udara di Croydon (pinggiran London), hal ini diikuti pada malam 23/24 Agustus oleh pemboman yang juga disengaja di Harrow, juga di pinggiran London, serta serangan di Aberdeen, Bristol, dan South Wales. Fokus pada menyerang lapangan terbang juga telah disertai dengan kampanye pengeboman yang berkelanjutan yang dimulai pada tanggal 24 Agustus dengan serangan terbesar yang sejauh ini menewaskan 100 orang di Portsmouth, dan malam itu malam pertama serangan di London seperti yang dijelaskan di atas.

Pada 25 Agustus 1940 , 81 pembom dari Bomber Command dikirim keluar untuk menyerang sasaran industri dan komersial di Berlin. Bom itu dijatuhkan di seluruh kota, menyebabkan beberapa korban di kalangan penduduk sipil serta kerusakan di daerah pemukiman.

Melanjutkan serangan RAF di Berlin sebagai pembalasan, menyebabkan Hitler menarik direktif-nya, dan pada tanggal 3 September Göring berencana membom London berhari-hari, dengan dukungan itu,Kesselring antusias, setelah menerima laporan kekuatan rata-rata skuadron RAF turun sampai lima atau tujuh pesawat keluar dari total 12 pesawat. Hitler mengeluarkan sebuah direktif pada tanggal 5 September untuk menyerang kota-kota seperti London. Dalam pidatonya yang disampaikan pada 4 September 1940, Hitler mengancam akan memusnahkan (ausradieren) kota Inggris jika pemboman Inggris atas Jerman tidak berhenti.

Pada tanggal 7 September, serangkaian penggerebekan besar-besaran yang melibatkan hampir empat ratus pembom dan lebih dari enam ratus pesawat ditargetkan didermaga East End of London, siang dan malam. Serangan di lapangan terbang RAF diantisipasi dan Grup 11 bangkit untuk bertempur dengan mereka, dalam jumlah yang diharapkan lebih besar dari Luftwaffe. Penyebaran resmi pertama dari Group 12 Wing Big, waktu yang ditentukan adalah dua puluh menit untuk membuat formasi, sasaran hilang, tetapi pesawat pembom lain terus membuat formasi. Mereka meminta maaf tentang kegagalan mereka, dan menyalahkan lambatnya perintah dari Fighter Command. Grup 11 telah sukses besar dalam serangan siang hari. Grup 12 berulang kali mengabaikan perintah dan gagal untuk memenuhi permintaan untuk melindungi 11 lapangan terbang, tetapi percobaan mereka dengan Wings Big semakin besar mendekati keberhasilan. Luftwaffe mulai meninggalkan penggerebekan pagi, dalam serangannya di London yang mulai pada sore hari hingga 57 malam berturut-turut .

Aspek yang paling merusak Luftwaffe dari perubahan target (ke London) adalah peningkatan dalam jangkauan. Pesawat pengawal Bf 109 memiliki kapasitas bahan bakar yang terbatas, dan pada saat mereka tiba hanya 10 menit terbang sebelum mereka harus berbelok untuk pulang.

Pada tanggal 14 September Hitler memimpin rapat dengan staf OKW. Göring tidak hadir karena Ia sedang di Perancis, dan sepertinya dia telah memutuskan untuk lebih konsen dalam pertempuran disana, dan dia mewakilkan Erhard sebagai wakilnya. Pada pertemuan tersebut Hitler mengangkat pertanyaan, "Haruskah kita membatalkannya sama sekali?." . Hitler telah menerima bahwa invasi dengan penutup udara besar-besaran tidak mungkin lagi. Sebaliknya, ia memilih untuk mencoba untuk menghancurkan moral Inggris, untuk mempertahankan ancaman invasi. Hitler menyimpulkan ini dapat menyebabkan "delapan juta orang gila" (merujuk pada penduduk London pada tahun 1940), yang akan "menimbulkan bencana" bagi Inggris. Dalam keadaan ini, Hitler berkata, "bahkan invasi kecil bisa lebih baik".

Pada tanggal 15 September dua gelombang besar serangan Jerman meyakinkan RAF, dengan setiap pesawat dari 11 Kelompok digunakan pada hari itu. Total korban pada hari ini adalah 60 Jerman dan 26 pesawat RAF ditembak jatuh. Kekalahan Jerman menyebabkan Hitler berpikir keras, sejak saat itu, dalam menghadapi kerugian pada prajurit, pesawat udara dan kurangnya pengganti yang memadai, Luftwaffe beralih dari siang ke malam waktu.

Pada tanggal 13 Oktober, Hitler menunda kembali invasi "sampai musim semi tahun 1941", namun, invasi tidak pernah terjadi, dan pada bulan Oktober terjadi pemboman namun dianggap sebagai pemboman biasa. Selama pertempuran, dan selama sisa perang, merupakan faktor penting dalam menjaga moral publik yang tinggi, adalah kehadiran Raja George VI dan istrinya Ratu Elizabeth di London. Ketika perang pecah pada tahun 1939, Raja dan Ratu memutuskan untuk tinggal di London dan tidak lari ke Kanada, seperti yang telah disarankan. George VI dan Elizabeth resmi tinggal di Istana Buckingham sepanjang perang, meskipun mereka sering menghabiskan akhir pekan di Windsor Castle untuk mengunjungi putri mereka, Elizabeth (ratu masa depan) dan Margaret di Buckingham Palace, dirusak oleh bom yang mendarat di lapangan pada tanggal 10 September, dan pada tanggal 13 September, ketika kerusakan yang lebih serius disebabkan oleh dua bom yang menghancurkan Kapel Royal. Pasangan kerajaan berada di ruang duduk kecil sekitar 80 meter dari tempat bom meledak. Pada tanggal 24 September, dalam pengakuan atas keberanian warga sipil, Raja George VI meresmikan penghargaan Salib George.

Akhir Pertempuran
Pertempuran Britania ditandai kekalahan pertama pasukan militer Hitler, dengan superioritas udara dianggap sebagai kunci kemenangan. Teori Pra-perang menyebabkan ketakutan berlebihan dari pengeboman strategis, dan pendapat publik Inggris yang mengingatkan akan hal itu. Untuk Inggris sendiri, Fighter Command telah mencapai kemenangan besar dalam berhasil melaksanakan perang udara. Fighter Command begitu sukses, seperti pidato yang dibacakan oleh Perdana Mentri Inggris sendiri Winston Churchill tentang 'Pidato Pertempuran Britania Churchill' yang dibuat di House of Commons pada 18 Juni, yang merujuk kepada mereka: '... jika Kerajaan Inggris dan Persemakmurannya bertahan selama seribu tahun, orang orang masih akan berkata, "Ini adalah saat terbaik mereka" '.

Pertempuran juga mengisyaratkan pergeseran besar dalam pendapat AS. Selama pertempuran, banyak orang dari Amerika Serikat menerima pandangan dipromosikannya Joseph Kennedy, duta besar AS di London, dan percaya bahwa Inggris tidak bisa bertahan. Namun, Roosevelt ingin pendapat kedua, dan dikirim "Wild Bill" Donovan pada kunjungan singkat ke Britania, ia menjadi yakin Britain akan bertahan dan harus didukung dengan segala cara yang memungkinkan.

Kedua belah pihak dalam pertempuran membuat klaim berlebihan dari jumlah pesawat terbang musuh yang ditembak jatuh. Secara umum, klaim dua sampai tiga kali angka yang sebenarnya, karena kebingungan pertempuran di udara. Setelah perang, catatan analisis telah menunjukkan bahwa antara bulan Juli dan September, RAF mengklaim membunuh 2698, sedangkan Luftwaffe mengklaim 3.198 pesawat RAF ditembak jatuh. Total kerugian kedua belah pihak bervariasi menurut sumber, dan awal serta tanggal akhir untuk mencatat kerugian.

Kerugian Luftwaffe dari 10 Juli - 30 Oktober 1940, mencapai 1.652 pesawat, termasuk 229 pesawat bermesin kembar, dan 533 pesawat tempur bermesin tunggal, kerugian RAF Fighter Command berjumlah 1.087 pesawat dari 10 Juli - 30 Oktober 1940, termasuk 53 pesawat bermesin kembar. Untuk RAF sendiri ditambah 376 Bomber Command dan 148 pesawat.

Dr Andrew Gordon, yang kuliah di Layanan Bersama Komando dan Staf College, dan mantan dosen Profesor Gary Sheffield, telah menyarankan keberadaan Angkatan Laut Royal sudah cukup untuk mencegah Jerman dari serangan, bahkan telah memenangkan pertempuran udara Luftwaffe, Jerman memiliki cara yang terbatas untuk memerangi Royal Navy. Beberapa veteran dari Royal Navy berujar akan rentan terhadap serangan udara dari Luftwaffe jika Jerman telah mencapai superioritas udara, mengutip nasib Prince of Wales dan Repulse yang, pada bulan Desember 1941, dikuasai kekuatan udara Jerman. Namun, pada akhir Mei 1941, Royal Navy dapat sepenuhnya mengalahkan invasi yg berlayar di laut, meskipun luar biasa, dan benar-benar tak terbantahkan, supremasi Luftwaffe.

Meskipun klaim tentang kemampuan Angkatan Laut Royal untuk mengusir invasi mungkin diperdebatkan, ada konsensus di antara sejarawan bahwa Luftwaffe tidak bisa menghancurkan RAF. Stephen Bungay menjelaskan Dowding dan strategi Park memilih kapan harus melibatkan musuh sambil mempertahankan kekuatan yang koheren.

Luftwaffe memiliki 1.380 pesawat pembom pada tanggal 29 Juni 1940, dan pada tanggal 2 November 1940 ini meningkat menjadi 1.423 pembom dan 1.511 pada 21 Juni 1941, sebelum Operasi Barbarossa menunjukkan penurunan 200 dari 1.711 pada tanggal 11 Mei 1940.

Jerman melancarkan beberapa serangan spektakuler terhadap industri penting Inggris, tapi mereka tidak bisa menghancurkan potensi industri Inggris, dan membuat sedikit usaha sistematis untuk melakukannya. Kalau dipikir-pikir tidak menyamarkan kenyataan bahwa ancaman terhadap Fighter Command sangat nyata.

Kemenangan Inggris dalam Pertempuran Britania dimenangkan dengan biaya yang besar. Total kerugian sipil di Inggris dari bulan Juli sampai Desember 1940 adalah 23.002 tewas dan 32.138 terluka, dengan salah satu serangan tunggal terbesar pada tanggal 19 Desember 1940, di mana hampir 3.000 warga sipil tewas.Kepemimpinan brilian Dowding dan Keith Park berhasil membuktikan teori mereka di pertahanan udara, Namun keduanya dipecat dari jabatannya di segera setelah pertempuran itu.

Akhir pertempuran Inggris membangun kembali kekuatan militernya dan memantapkan dirinya sebagai benteng kuat bagi sekutu di Eropa.

Empat faktor penyebab kekalahan Jerman atas Inggris:
1. Jerman bertempur terlalu jauh dari basis mereka, sehingga pengisian bahan bakar dan pengisian amunisi pun mustahil dilakukan. Para pilot Jerman memiliki waktu yang sangat terbatas dan mereka bisa menghabiskan lebih dari Britania sebelum bahan bakar mereka habis.

2. Pesawat pesawat Inggris yang dekat dengan markas mereka, memudahkan mereka mengisi bahan bakar dan amunisi dengan cepat.

3. Perubahan target yang sangat penting, mungkin Fighter Command hanya 24 jam dekatnya dari kekalahan mereka ketika serangan terjadi di kota-kota. Namun hal ini bisa mereka manfaatkan dengan baik.

4. Hurricane dan Spitfire adalah pesawat yang luar biasa - yang mampu menandingi kekuatan dari Luftwaffe.



Fall Gelb (1940), Serangan Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis




Oleh : Waffen Armee

Operasi penyerangan terhadap Perancis merupakan operasi penyerangan dengan skala besar karena operasi ini juga bertujuan untuk menaklukkan negara-negara Eropa Barat, seperti Denmark, Belanda, Norwegia, Belgia, hingga kemudian Perancis.

Dalam Perang Dunia II, penyerangan Perancis adalah invasi Jerman terhadap Perancis yang terbilang sukses. Dimulai pada tanggal 10 Mei 1940 yang mengakhiri Phony War. Peperangan ini mengandung dua operasi utama. Yang pertama adalah Fall Gelb (case yellow), yaitu unit armor Jerman menyerang langsung dari Ardennes untuk memotong dan memerangkap unit sekutu yang telah bergerak masuk ke Belgia dan yang kedua adalah operasi Fall Rot (case red )yang dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 1940, tentara Jerman menyerang Maginot Line dan masuk ke dalam Perancis.

Setelah invasi terhadap Polandia pada September 1939, Hitler memiliki harapan besar bahwa Perancis dan Inggris akan menerima tata perpolitikan baru dan berdamai dengan Jerman. Ini adalah hal yang sangat penting mengingat persediaan bahan baku mentah untuk peperangan Jerman dalam keadaan menipis dan pada saat itu Jerman bergantung pada Soviet dalam hal pengiriman minyak.

Dalam keadaan serba ketidaknyamanan ini dan karena alasan ideologi, Hitler menawarkan perdamaian pada negara-negara barat pada tanggal 6 Oktober. Akan tetapi, Hitler pun merumuskan strategi militer baru jika ternyata permohonan perdamaiannya disambut negatif. Rumusan strategi militer itu menghasilkan The Fuhrer Directive Number 6 yang berisi perintah penyerangan terhadap Perancis dan negara-negara sekitarnya.

Inggris menolak penawaran perdamaian Hitler pada tanggal 10 Oktober 1939 dan Perancis melakukan hal yang sama pada 12 Oktober. Franz Halder, Kepala Staf Komando Tertinggi Angkatan Perang Jerman, memberikan rencana penyerangan pertama yang disebut Fall Gelb pada tanggal 19 Oktober 1939. Fall Gelb adalah nama inisial bagi rencana penyerangan terhadap Low Countries pada masa sebelum perang. Menurut rencana ini, puluhan divisi akan menyerang dalam garis-garis yang paralel, dengan sayap kanannya sebagai tulang punggung ofensif besar-besaran. Akan tetapi, Hitler merasa sangat kecewa dengan rencana Halder yang dianggapnya akan memakan waktu lama, banyak biaya, dan sulit untuk dilakukan. Jenderal Gerd von Rundstedt, Komandan Tentara Grup A, dan Letnan Jenderal Erich von Manstein juga tidak sepakat dengan rencana Halder tersebut.

Menurut Erich von Manstein, rencana ini memang ada baiknya, sederhana, tetapi buruknya, mirip sekali dengan yang pernah digunakan dalam Perang Dunia I dan terkenal sebagai rencana Schliefen karena rencana ini memang disusun oleh Jenderal Schliefen untuk mengawali perang tahun 1914. Manstein kembali berujar bahwa rencana tersebut tidak mengandung unsur-unsur yang baru dan sudah basi. “Agak memalukan bahwa angkatan sekarang tak dapat berbuat lain daripada mengulangi resep lama, sekalipun resep itu berasal dari seorang pandai seperti Schliefen.” Terang Manstein.

Karena sudah pernah digunakan, rencana ini mungkin takkan menentukan dan muncul kekhawatiran kejadian serupa dalam PD I, yaitu perang statis, perang yang berlarut-larut.

Saat pertama kali Manstein mengajukan rencana ini di depan OKH, Rencana Manstein ditolak mentah-mentah oleh para jenderal konservatif karena mereka menganggap bahwa rencana ini terlalu radikal untuk diterima. Pandangan Manstein ditolak secara datar oleh Halder dan von Brauchitsch. Oleh karena itu, pada suatu hari di dalam bulan Oktober 1939 di Koblenz, Manstein meminta persetujuan dari atasannya, Rundstedt, untuk menolak rencana Halder. Pertemuan itu melahirkan kesimpulan bahwa rencana Halder tidak akan menghasilkan kemenangan atas Perancis. Manstein pun meminta nasihat Guderian sebagai ahli tank. Pertanyaannya adalah apakah kita dapat menerobos pertahanan musuh di wilayah pegunungan Ardennes menuju kota Sedan? Manstein memilih Ardennes karena musuh tak akan menduga suatu ofensif Jerman melalui wilayah pegunungan itu. Kebetulan Guderian dalam PD I pernah berperang di Ardennes. Jawabnya, “Mungkin, asal saja ada cukup banyak divisi panser dan divisi infantri yang bermotor.”

Setelah mendengar jawaban yang menggembirakan ini, Manstein menyusun sebuah memorandum yang intisarinya mengandung amandemen berikut terhadap Plan Halder dan OKH: tulang punggung ofensif di Eropa Barat seharusnya bukan sayap kanan, melainkan sayap kiri yang terdiri atas divisi tank dan kendaraan bermotor yang menerjang ke arah Sedan melalui Ardennes.

Setelah disetujui oleh atasan Manstein, yaitu Rundstedt, rencana itu dikirm kepada OKH (Ober Komando des Heeres). Akan tetapi, jenderal-jenderal lembaga ini tidak pernah meneruskannya kepada Hitler!

Pada permulaan bulan Januari 1940 terjadilah sesuatu yang menggemparkan. Terjadi peristiwa yang dikenal dengan sebutan Mechelen incident (Insiden Mechelen). Sebuah pesawat terbang Jerman, karena cuaca buruk, mendarat di wilayah Belgia yang waktu itu belum berperang, tetapi bersimpati kepada sekutu. Di dalam pesawat itu terdapat sebagian dari perintah operasi bagi Armada Udara Pertama yang tidak sempat dimusnahkan sehingga jatuh ke tangan Pemerintah Belgia dan kemudian dikumen itu diteruskan kepada Inggris-Perancis. Dengan demikian, rahasia perang Jerman bocor!

Hitler murka, Goring lesu sebab dialah pemimpin Luftwaffe yang bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut. “Kadang-kadang ketidakefisienan manusia melampaui segala batas kemungkinan,” kata Hitler kemudian kepada Musolini tentang kecelakaan itu.

Tersiarlah kabar bahwa Hitler karena itu terpaksa mengubah rencana yang semula untuk menyerang Eropa Barat. Akan tetapi, Manstein menyangkal bahwa kecelakaan pesawat terbang itu segera mengubah rencana Hitler yang sudah ada meskipun kebocoran itu menurut Manstein mungkin membuat Hitler lebih bersedia menerima usul-usulnya.

Hal ini terjadi pada tanggal 17 Februari 1940 ketika Hitler mengundang makan sejumlah komandan yang baru diangkat, termasuk Manstein di Reichskanzlei, Berlin. Sehabis makan, Hitler memanggil Manstein ke kamar kerjanya untuk memberi pandangannya tentang rencana menyerang Eropa Barat. Pada awalnya, Hitler manyatakan rasa antipatinya terhadap anak buahnya ini karena Manstein dianggap terlalu arogan, tetapi Hitler diam menyimak kala mendengar pendapat Manstein. Tak diketahui apakah Hitler sudah membaca memorandum yang disampaikan Manstein kepada OKH beberapa bulan berselang, tetapi Manstein terheran-heran tentang cepatnya Hitler dalam menangkap intisari Manstein itu, yaitu memusatkan tenaga pada sayap kiri yang terdiri atas panser dan pasukan bermotor yang akan menerjang melalui pegunungan Ardennes. Hitler yang selalu merasa tertarik pada sesuatu yang orisinal menerima baik rencana Manstein. Kini OKH pun menyetujuinya, tetapi hanya ada beberapa orang yang bersungguh-sungguh percaya dengan rencana ini, Hitler, Rundstedt, Guderian, dan Manstein sendiri.

Pada tanggal 9 April 1940, Hitler menyerbu Denmark yang menyerah tanpa bertempur, Kemudian Norwegia menyusul diserbu. Norwegia memberi perlawanan, dibantu oleh pasukan pendaratan Inggris, tetapi pada permulaan bulan Mei dipukul mundur. Rencana Manstein (Manstein Plan) akan dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 1940, suatu tanggal yang bersejarah bagi Eropa Barat.

Yang akan diserang ialah Belanda, Belgia, lalu kemudian Perancis. Akan tetapi, sehari sebelumnya Admiral Wilhelm Canaris, kepala Abwehr (dinas intelijen Jerman), tetapi musuh Hitler menyuruh Oster, kepala stafnya, untuk memperingatkan atase militer Belanda di Berlin. Peringatan ini sampai kepada dinas rahasia Belanda yang kemudian menyampaikannya tanggal 9 Mei 1940 pukul 21.30 kepada Dr. Van Kleffens, Menteri Luar Negeri Belanda. Isinya adalah “Besok di waktu fajar, bersiaplah.”

Enam jam kemudian, di pagi buta bom-bom Jerman yang pertama dijatuhkan terhadap sasaran-sasaran di Belanda dan Belgia tanpa pernyataan perang. Belanda sengaja menimbulkan banjir di sebagian wilayahnya untuk menahan kemajuan tentara Jerman. Akan tetapi, Jerman melepaskan pasukan payung di belakang wilayah yang tergenang itu. Kota Rotterdam dibom sampai hancur oleh Luftwaffe. Negara yang telah menjajah Indonesia selama 346 tahun ini bertekuk lutut hanya dalam waktu empat hari! Keruntuhan Belgia menyusul dua minggu kemudian.

Sementara itu di Perancis, Pemimpinnya masih menduga bahwa Jerman akan segera menyerang dari arah utara menurut Rencana Schliefen. Pada saat itu jumlah pasukan sekutu jauh lebih kuat dari Jerman, yaitu 130 divisi melawan 100 divisi.

Dunia menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepada tentara Perancis, tentara terbesar di Eropa dan tentara yang sudah menang dalam PD I. Jerman memang memiliki tank, tetapi Perancis pun punya, dan terlebih lagi Perancis memiliki Maginot Lini yang tidak bisa direbut.

Di sinilah mulai bekerja kecemerlangan Rencana Manstein. Dia sengaja menarik perhatian lawannya ke jurusan Belanda dan Belgia yang diserbu oleh Army Group B. Serangan ini dilakukan secara mencolok dan sangat spektakuler. Pasukan payung diterjunkan, 1000 pesawat Luftwaffe dipusatkan di sana, berikut tiga divisi panser. Serangan ini dibuat sangat berisik. Dengan demikian, Perancis semakin mengira bahwa Army Group B lah yang merupakan tulang punggung serangan, sayap kanan yang terkenal dalam rencana Schliefen.

Oleh karena itu, menyerbulah tentara Perancis-Inggris ke bagian utara Belgia untuk menghadapi sayap kanan yang kokoh itu. Semakin dalam tentara sekutu Perancis-Inggris masuk ke wilayah Belgia, semakin senanglah hati para jenderal Jerman karena itulah yang Jerman kehendaki.

Sesuai dengan apa yang telah dibahas di atas, tulang punggung serangan ini tidaklah terletak pada Army Group B di utara, tetapi pada Army Group A di selatan yang terdiri tidak kurang atas tujuh divisi tank. Secara tak terduga oleh Perancis, menyerbulah ratusan tank ini ke Ardennes di bawah pimpinan Guderian. Setelah menyebrangi Sungai Maas dekat Sedan, lalu tiba di tanah datar secara kilat Blitzkrieg dua ribu tank yang menggelinding cepat ke arah barat, di belakang tentara Perancis-Inggris yang sedang menyerbu ke Belgia Utara. Akan tetapi, rencana penyerangan ini dalam beberapa hal telah diubah secara fundamental oleh Halder. Rencana Manstein yang telah diubah oleh Halder tidak lagi merupakan rencana yang mempertimbangkan serangan sekunder grup A yang secara simultan menerobos ke selatan. Sebagian besar elemen Blitzkrieg juga dihapuskan. Penyebrangan sungai secara dipaksakan harus dilakukan oleh infanteri. Divisi panser harus menunggu divisi infantri agar nanti dapat bersama-sama menyebrangi sungai tersebut. Dengan demikian, strategi penetrasi masuk ke dalam wilayah masuk tidak lagi milik divisi armor Jerman.

Pada kenyataannya, sebenarnya Guderian dan jenderal-jenderal panser, di antaranya Rommel, mudah untuk tidak patuh mengikuti perintah dan terus melanjutkan gerak serangnya masuk jauh ke dalam Calais dan Dunkirk secara cepat tanpa harus menunggu kedatangan infantri.

Walaupun demikian, hanya dalam beberapa hari, tibalah Guderian di Abeville, Boulogne, Calais, di pantai Samudra Atlantik. Dengan operasi kilat ini, putuslah perang sebab tentara Perancis-Inggris terpotong menjadi dua bagian. Kemenangan gilang gemilang ini adalah hasil dari pelaksanaan yang cemerlang dari dua prinsip peperangan: surprise dan konsentrasi kekuatan.

Ratusan ribu tentara Perancis-Inggris terkurung di Belgia dan terputus dari Paris. Tanggal 18 mei pagi, Churchill yang baru saja menjadi Perdana Menteri Inggris menggantikan Chamberlain dibangunkan oleh suara telepon dari Paris. Terdengar suara Paul Reynaud, PM Perancis yang dengan gugup menyatakan, “Kita telah kalah!”. Churchill tidak mengerti, ia menjawab bahwa hal demikian tidak mungkin cepat terjadi. Pertempuran baru berjalan lima hari. Akan tetapi, Reynaud meneruskan, “Front di Sedan telah bolong. Tank dan panser dalam jumlah besar-besaran mengalir seperti banjir.” Churchill segera menghibur temannya, tetapi Reynaud tetap berkata, “Kita telah kalah, kita telah kalah!”

Churchill akhirnya berjanji akan datang dengan pesawat terbang besoknya di Paris. Pukul 17.30 sore dia masuk ke dalam Gedung Kementerian Luar Negeri Perancis. Di tempat itu PM Reynaud, Edouard Daladier, Menteri Pertahanan, dan Jenderal Maurice Gustave Gamelin, pucuk tertinggi pimpinan tentara Perancis menunggu. Pimpinan Perancis kelihatan lesu dan tidak bersemangat. Gamelin menerangkan dengan peta di mana Jerman menerobos di Ardennes, ke Sedan, sepanjang front antara 50 sampai 60 mil. Divisi-divisi tank Jerman disusul oleh 8 sampai 10 divisi bermotor. Demikianlah Gamelin berrbicara selama lima menit tanpa berhenti. Ketika dia selesai, semua orang terdiam. Churchill mengajukan pertanyaan: di mana pasukan cadangan Tuan?

Jenderal Gamelin goyang kepala dan sambil mengangkat bahunya menyahut, “Aucune” ‘tidak ada’ 

Tidak ada pasukan cadangan untuk menutup lubang di Ardennes itu? Churchill saking terperanjatnya tidak mampu berkata apa-apa. Dia tidak bisa percaya, bagaimana seorang jenderal yang mempertahankan garis sedemikian panjangnya (500 mil) tidak menyediakan cadangan. “Ini adalah salah satu surprise paling besar yang pernah saya alami,” tulis Churchill kemudian.

Karena tidak ditahan, dalam beberapa hari saja, tibalah pasukan panser Guderian di Abeville, Boulogne, dan Calais. Pada tanggal 23 Mei Guderian berada hanya beberapa mil dari pelabuhan Dunkirk tempat ratusan ribu serdadu Perancis-Inggris sudah berkumpul untuk mengungsi ke Inggris. Guderian bisa melihat Kota Dunkirk dengan pasti. Akan tetapi, pada saat itu Hitler campur tangan. Dia memerintahkan pasukan tank Guderian berhenti dan tidak boleh maju ke Dunkirk. Guderian tidak habis pikir, tetapi dia taat.

Sebenarnya, Rencana Manstein menimbulkan dampak yang sangat hebat juga menghancurkan tentara sekutu. Namun, efek ini hanyalah efek sesaat karena muncul keputusan Hitler tersebut pada tanggal 24 Mei 1940. Putusan Hitler ini adalah salah satu teka-teki PD II yang sampai kini belum terpecahkan. Akibat keputusan ini, Inggris mampu menggelar operasi Dynamo dan berhasil mengevakuasi tentaranya ke wilayah Inggris. Lebih dari 300 ribu tentara Perancis-Inggris berhasil meninggalkan Dunkirk dan selamat sampai di tanah Inggris.

Pada tanggal 5 Juni 1940, ketika Kota Dunkirk sudah jatuh ke tangan Jerman, setelah evakuasi tentara Inggris selesai, Hitler memerintahkan 10 divisi pansernya dengan 133 divisi infantri ke selatan, ke arah Paris. Perancis cemas. Divisi-divisi mereka yang dapat dikerahkan, selain lebih sedikit jumlahnya, juga tak begitu terlatih. Hampir semua divisi panser serta tentaranya yang lebih baik justru tak dapat digunakan karena terasing dan terpencil di Belgia utara setelah dipotong oleh serangan Guderian melalui pegunungan Ardennes.

Meskipun beberapa bagian Perancis memberi perlawanan baik, banjir panser Jerman tak dapat mereka tahan. Tanggal 10 Juni Pemerintah Perancis meninggalkan Paris. Empat hari kemudian jatuhlah ibukota itu tanpa pertempuran.Reynaud digantikan oleh Marsekal Petain sebagai perdana menteri dan pada tanggal 17 Juni ia meminta gencatan senjata. Empat hari kemudian gencatan senjata dilaksanakan di hutan Compiegne, persis di dalam gerbong kereta api yang pada tahun 1918 digunakan oleh Marsekal Foch sebagai wakil Perancis dan sekutu menerima kunjungan delegasi Jerman yang memohon gencatan senjata.

Hitler memasuki gerbong yang bersejarah itu, mengambil tempat kursi yang 22 tahun berselang diduduki Marsekal Foch dan menerima kunjungan delegasi Perancis yang tentu segera merasakan bahwa Hitler memilih tempat bersejarah ini untuk membalas dendam dan mempermalukan Perancis.

Delegasi Perancis tiba di hutan Compiegne,vice-amiral d’escadre Maurice Athanase Le Luc, général d’aviation Jean-Marie Joseph Bergeret, duta besar Léon Noël,Generalleutnant Kurt von Tippelskirch (Jerman), Charles Huntziger.

Jenderal Charles Huntziger menandatangani dokumen penyerahan di gerbong perdamaian (Wagon de l’Armistice) di Compiègne, 21 Juni 1940. Penandatanganan dilakukan dua kali, tanggal 21 dan keesokan harinya (tanggal 22). Setelah perjanjian perdamaian ditandatangani, Huntziger menjadi Sekretaris Perang pemerintahan Vichy Prancis, dan kemudian sebagai panglima pasukan darat (September 1941)

Sekalipun Hitler melakukan blunder, operasi penyerangan Eropa Barat ini tetap terbilang sukses dan gaungnya menyebar ke seluruh daratan Eropa. Bahkan Jerman pun merasa takjub dan pada awalnya memang meragukan kemenangan ini. Sebagian besar dari kalangan Jenderal sama sekali tidak memiliki harapan atas suksesnya Rencana Manstein ini disebabkan adanya berbagai macam alasan, seperti posisi geostrategis Jerman yang tidak menguntungkan ataupun rencana yang terlalu berisiko.

Setelah kesuksesan ini, propaganda Nazi mulai mengklaim bahwa kemenangan ini merupakan hasil dari pemikiran kemiliteran Hitler yang jenius. Hitler memuji Manstein dengan kata-kata, “Kepada semua jenderal, kepada mereka saya menyatakan rencana baru saya untuk menyerang Eropa Barat, tetapi Manstein adalah satu-satunya orang yang mampu memahaminya.”

Rencana manstein menciptakan kesimpulan dalam hal revolusi strategi militer pada pertengahan abad kedua puluh. Penggagas awal dikemukakan oleh Fuller dan Basil Liddel Hart. Rencana Manstein telah mempersembahkan teori baru kepada dunia tentang doktrin-doktrin militer Jerman selama abad kedua puluh dan Guderian adalah orang yang mampu mengaktualisasikan ide-ide Liddel Hart tersebut ke dalam kenyataan: doktrin Blitzkrieg.


Sabtu, 19 Desember 2009

Pertempuran Halbe (1945), Pertempuran Kolosal Terakhir Third Reich!

Theodor Busse adalah komandan AD ke-9 Jerman dalam pertempuran Halbe. Disini dia sedang merundingkan strategi perang bersama dengan Adolf Hitler dan jenderal-jenderal lainnya di Markas Besar Heeresgruppe Weichsel, 3Maret 1945. Dari kiri ke kanan, mengelilingi Hitler : General der Artillerie Wilhelm Berlin, Generalfeldmarschall Robert Ritter von Greim, Generalmajor Franz Reuß, General der Flakartillerie Job Odebrecht, Generalleutnant Gustav Wilke (tidak kelihatan, di belakang Busse), General der Infanterie Theodor Busse, dan SS-Gruppenführer Heinz Lammerding (terpotong)


Peta lokasi Pertempuran Halbe


Pertempuran Halbe terjadi pada akhir bulan April 1945 di hutan Spree di dekat desa Halbe, sebelah tenggara Berlin.

Jenderal Theodor Busse yang memimpin 80.000 tentara dari AD ke-9 Jerman yang terkepung mencoba untuk bergabung dengan AD ke-12 Jerman yang dipimpin oleh Jenderal Walther Wenck dengan tujuan mundur ke arah barat dan menyerah kepada tentara AS.

Pada tanggal 16 April Soviet memulai Pertempuran Berlin dengan serangan tiga Front Soviet di sepanjang Garis Oder-Neisse. Pada tanggal 21 April mereka telah menembus garis depan Jerman di dua tempat dan mulai mengepung Berlin. AD ke-9 Jerman berada di antara dua gerak putar pasukan Soviet yang menuju ke Berlin. Gerak putar selatan yang terdiri dari Front Ukraina ke-1 (1UF) di bawah komando Ivan Konev telah menembus wilayah terjauh dan telah memotong wilayah di belakang garis depan AD ke-9 Jerman.

Komando untuk Korps ke-5 Jerman yang terjebak bersama AD ke-9 di utara Forst, dipindah dari AD Panzer ke-4 Jerman (bagian dari Grup AD Tengah) ke AD ke-9 (bagian dari Grup AD Vistula di bawah pimpinan Jenderal Gotthard Heinrici). Korps ini masih mempertahankan Cottbus. Pada saat sebagian besar Grup AD Tengah dipaksa bergerak ke barat daya di sepanjang garis komunikasinya ke Cekoslowakia, sisi selatan AD Panzer ke-4 berhasil menyerang balik 1UF di utara, Hitler memberi perintah yang menunjukkan pemahaman militernya sudah hilang. Dia memerintahkan AD ke-9 untuk mempertahankan Cottbus dan mempersiapkan garis depan yang menghadap barat untuk menyerang pasukan Soviet yang bergerak ke utara. Ini menyebabkan mereka bisa membentuk gerak putar utara yang akan bertemu dengan AD Panzer ke-4 dari selatan dan mengepung 1UF sebelum menghancurkannya. Kemudian mereka akan membantu AD Panzer ke-3 untuk menyerang ke selatan dan bersiap untuk menjadi sisi selatan dari gerak putar yang akan mengepung Front Belorusia ke-1 (1BF) yang akan dihancurkan oleh Korps ke-3 SS di bawah pimpinan Letjen SS Felix Steiner yang bergerak dari utara Berlin. Kemudian Steiner menjelaskan bahwa dia tidak mempunyai divisi untuk melakukan hal tersebut. Heinrici menjelaskan kepada staf Hitler bahwa kecuali AD ke-9 mundur dengan segera maka mereka akan terkepung oleh Soviet. Dia menekankan bahwa sudah terlambat untuk bergerak ke barat laut (Berlin) dan harus mundur ke barat. Heinrici kemudian berkata bahwa jika Hitler tidak mengijinkannya bergerak ke barat maka dia ingin mengundurkan diri.

Pada tanggal 22 April pada saat rapat sore Hitler marah besar saat menyadari bahwa rencananya yang dirancang kemarin tidak akan terwujud. Dia menyatakan bahwa Jerman sudah kalah perang, dia menyalahkan para Jenderal dan mengumumkan bahwa dia akan tinggal di Berlin sampai saat akhir dan kemudian bunuh diri. Jenderal Alfred Jodl yang mencoba untuk meredakan amarah Hitler berspekulasi bahwa AD ke-12 yang menghadapi Amerika bisa bergerak ke Berlin karena tentara Amerika yang sudah mencapai sungai Elbe sepertinya tidak akan bergerak ke timur. Hitler dengan segera memahami pemikiran ini dan dalam beberapa jam Jenderal Walther Wenck diperintahkan untuk menghentikan pertempuran melawan Amerika dan menggerakkan AD ke-12 ke timur laut untuk membantu Berlin. Kemudian disadari bahwa jika AD ke-9 bergerak ke barat maka mereka bisa bergabung dengan AD ke-12. Pada malam harinya Heinrici diperintahkan untuk bergerak. Jauh di luar ruang peta Fuhrerbunker, Soviet mulai memenangkan perang.

Meskipun dalam pikiran Hitler AD ke-12 dan AD ke-9 akan membantu mereka, tidak ada bukti bahwa Jenderal Heinrici, Busse atau Wenck berpikir bahwa hal ini mungkin. Tetapi persetujuan Hitler untuk membolehkan AD ke-9 untuk bergabung dengan AD ke-12 telah membuka jendela bagi sejumlah tentara Jerman untuk mundur ke barat dan menyerah kepada Amerika, persis seperti yang diinginkan oleh Wenck dan Busse. Ini dipermudah lagi setelah pada tengah malam tanggal 25 April Busse diberi wewenang "untuk memutuskan sendiri arah serangan yang terbaik".

Keseluruhan terdapat 80.000 tentara di kantong tersebut, sebagian besar adalah anggota AD ke-9 (termasuk Korps ke-5 yang disinggung di atas), tetapi ada juga Korps Panzer SS ke-11, Korps Gunung SS ke-5, dan Garisun Frankfurt.

Pertempuran dimulai pada tanggal 24 April dimana Korps ke-20 yang dipimpin Jenderal Wenck menyerang ke arah timur. Malam itu Divisi Theordor menyerang Korps Mekanis Pengawal ke-5 yang dipimpin Jenderal I. P. Yermakov di dekat Truenbrietzen. Hari berikutnya Divisi Scharnhorst mulai menghadapi Soviet di sekitar Beelitz. Pada saat Divisi Hutten mencoba untuk mencapai Potsdam dan membuka koridor ke Berlin, elemen lain dari AD ke-12, seperti yang disetujui Wenck dan Busse, bergerak ke timur untuk bergabung dengan AD ke-9 yang bergerak ke barat seperti - kata Busse pada Wenck - "katerpilar".

AD ke-9 mempunyai sisa 31 tank termasuk 10 tank King Tiger milik Batalyon Panzer Berat SS 502 yang digunakan Busse untuk memimpin katerpilar. Masalahnya adalah pertempuran di bagian belakang sama hebatnya dengan di bagian depan karena pasukan Soviet mengikuti dan pasukan Jerman berusaha mengusir mereka.


Sumber :
www.id.wikipedia.org
www.ab-militaria.com


Jumat, 18 Desember 2009

Pertempuran Berlin (1945), Pertempuran Habis-Habisan Di Jantung Third Reich!

Para tawanan Volkssturm yang ditawan oleh pasukan Soviet dari Front Bellorusia Pertama. Lihatlah betapa tuanya mereka!


Kalau yang ini tawanan Jerman dari unit-unit yang berbeda, ada yang dari Luftwaffe, Heer, bahkan Kriegsmarine! Memperlihatkan usaha frustasi Hitler yang berusaha mengumpulkan kekuatan apa pun yang tersedia demi membendung serangan Tentara Merah yang bagaikan air bah


Tanggal 23 April 1945, Adolf Hitler keluar dari bunkernya untuk melakukan kegiatan resmi terakhir : penyematan penghargaan Eiserne Kreuz kelas kedua bagi para anggota muda Hitlerjugend yang berprestasi dalam Pertempuran Berlin. Disini Hitler sedang bersalaman dengan William Hübner, sementara didepannya (kedua dari kanan) adalah Alfred Czech, yang kemudian menjadi inspirasi tokoh fiktif Peter Kranz dalam film "Downfall/Der Untergang"


Prajurit Jerman yang malang ini tergeletak tewas, dan menjadi salah satu dari puluhan ribu Jerman yang kehilangan nyawanya dalam Pertempuran Berlin. Di belakangnya adalah Gerbang Brandenburg, bangunan paling khas dari kota Berlin


Komandan perlawanan Jerman di kota Berlin adalah Helmuth Weidling. Disini dia difoto bersama dengan staffnya, tak lama setelah menyerah ke tangan Rusia. Kentara sekali wajah kuyunya dengan rambut yang acak-acakan. Dari kiri ke kanan : General der Artillerie Helmuth Weidling, Generalleutnant z.V. Kurt Woytasch, Oberst Hans Oskar Wöhlermann, dan Generalleutnant Walter Schmid-Dankward


Dan akhirnya, akhir dari Berlin. Tentara Soviet memancangkan bendera Palu-Arit di atas atap Reichstag sebagai lambang penguasaan Rusia atas kota tersebut. Terlihat di latar belakang bahwa Kota Berlin tak lebih dari sekumpulan puing-puing!


Pertempuran Berlin adalah salah satu pertempuran terakhir dari Teater Eropa Perang Dunia II. Angkatan darat Soviet yang besar di bawah pimpinan Georgy Zhukov dan Ivan Konev menyerang Berlin dari timur. Pertempuran ini berlangsung dari akhir April 1945 sampai awal Mei. Sebelum pertempuran berakhir, Adolf Hitler telah bunuh diri, dan Jerman menyerah setelah lima hari pertempuran berakhir.

Pada permulaan tahun 1945, Front Timur semakin stabil semenjak Agustus 1944 setelah peluncuran Operasi Bagration. Jerman telah kehilangan Budapest dan beberapa negara seperti Hungaria, lalu Rumania dan Bulgaria dipaksa untuk menyerah dan mengumumkan perang terhadap Jerman, serta akses ke Polandia telah terbuka bagi Tentara Merah Soviet.

Komandan Soviet, setelah aksi mereka selama Pemberontakan Warsawa, mengambil Warsawa pada Januari 1945. Selama tiga hari, di garis depan yang lebar menggunakan empat Front, Tentara Merah mulai menyerang menyeberangi Sungai Narew dan dari Warsawa. Setelah empat hari Tentara Merah memecah pasukan dan mulai bergerak tiga puluh sampai empat puluh km per hari, mengambil negara-negara Baltic, Danzig, Prussia Timur, Poznan, dan menggambar garis 60 km timur Berlin sepanjang sungai Oder.

Satu serangan balasan oleh Grup Tentara Vistula yang baru dibentuk, dibawah koomando Heinrich Himmler, gagal pada 24 Februari, dan Uni Soviet lalu bergerak maju ke Pomerania dan membersihkan sisi kanan Sungai Oder. Di sebelah selatan, tiga kali usaha Jerman menggagalkan pengepungan kota Budapest telah gagal dan Budapest akhirnya jatuh pada tanggal 13 Februari ke tangan Soviet. Lalu Jerman kembali melakukan serangan balasan. Hitler memaksakan suatu tugas yang tidak mungkin untuk menduduki kembali sungai Danube. Pada tanggal 16 Maret serangan itu gagal dan Tentara Merah kembali melakukan penyerangan di hari yang sama. Pada 30 Maret mereka memasuki Austria dan menduduki Wina pada 13 April.

Saat itu hanya kurang dari seperdua belas bahan bakar yang tersedia dari jumlah dibutuhkan Wehrmacht. Produksi pesawat tempur dan tank menurun tajam dan kualitasnya hanya separuh dibandingkan dengan tahun 1944.

Sangat jelas bahwa kekalahan Jerman akan terjadi dalam beberapa minggu, tetapi pertempuran semakin bergejolak. Nasionalisme, persyaratan menyerah tanpa syarat yang tidak diterima pihak Sekutu, dan usaha mengulur waktu agar pengungsi bisa diselamatkan ke daerah barat sebelum datangnya tentara merah membuat pasukan Jerman bertempur hingga penghabisan. Adolf Hitler sendiri bersikeras untuk bertahan di dalam kota.

Pihak Sekutu di Blok Barat sebenarnya berniat menurunkan pasukan penerjun payung untuk mengambil alih Berlin, tetapi kemudian membatalkannya. Eisenhower melihat bahwa tidak ada gunanya mengorbankan pasukan untuk menyerang kota yang sudah pasti akan diambil alih pihak Soviet. Selain itu, perintah ini tidak masuk akal jika mempertimbangkan jumlah pasukan yang tersisa dan cadangan makanan yang tersedia untuk mendukung keberadaan pasukan di dalam kota.

Serangan pihak Soviet ke daerah yang kemudian dikenal dengan nama Jerman Timur (GDR) memiliki dua tujuan. Karena kecurigaan Stalin terhadap tujuan Sekutu Blok Barat untuk mengambil alih wilayah yang belum diinjak tentara Soviet, maka serangan ini terus maju ke depan dan berusah secepatnya menyerang ke arah barat agar bisa menghentikan gerak Sekutu Blok Barat untuk bergerak ke timur. Keduanya memiliki pikiran hampir serupa karena penguasaan atas wilayah tersebut tidak bisa dilakukan secepatnya kecuali jika Berlin telah diambil alih oleh salah satu blok. Pertimbangan lain adalah Berlin sendiri memiliki banyak aset strategis, contohnya Hitler sendiri dan program pengembangan bom atom Jerman.

Pada 9 April 1945, Königsberg di Prussia Selatan akhirnya jatuh ke tangan Tentara Merah. Hal ini membebaskan gerak pasukan Marsekal Rokossovsky (2nd Belorussian Front, Front Kedua Belarusia atau 2BF) dari barat ke timur lembah sungai Oder . Selama dua minggu pertama bulan April Soviet berhasil melakukan gerak penempatan kembali front mereka. Marsekal Georgy Zhukov berkonsentrasi di 1st Belorussian Front (Front Pertama Belarusia atau 1BF) yang ditugaskan di sepanjang sungai Oder dari Frankfurt di daerah selatan hingga ke wilayah Baltik, sampai wilayah di front Seelow Heights. Front 2BF bergerak menuju posisi yang telah dikuasai 1BF di bagian utara Seelow Heights. Saat penempatan ulang ini, beberapa kantung kosong terjadi, menyebabkan Pasukan German II, yang telah terkepung di Danzig, berhasil keluar dan menyeberangi sungai Oder.

Di selatan Marsekal Konev membawa Front Pertama Ukrainia (1UF) keluar dari bagian luar Silesia ke arah barat laut menuju sungai Neisse.

Ketiga front Soviet ini berjumlah 2,5 juta orang (termasuk 78,556 prajurit dari 1st Polish Army); 6,250 tank; 7,500 pesawat; 41,600 artileri dan mortar; 3,255 truk bermuatan peluncur roket Katyusha (disebut juga dengan nama 'Orgen Stalin); dan 95,383 motor tempur, kebanyakan buatan Amerika Serikat.

Jenderal Gotthard Heinrici menggantikan Himmler sebagai komandan grup Vistula pada 20 Maret. Dia adalah salah satu ahli strategi bertahan di pasukan Jerman dan memulai rencana pertahanan. Dia (dengan tepat sekali) berpendapat bahwa serangan utama Soviet pasti akan terjadi melalui sungai Oder dan di sepanjang utara hingga barat autobahn. Dia memutuskan untuk tidak mempertahankan lembah di sekitar Sungai Oder dengan lebih dari sekedar pertahanan kamuflase. Sebaliknya ia memerintahkan insinyur untuk membentengi Seelow Heights yang memberikan akses pengawasan Sungai Oder di bagian mana autobahn akan melewatinya. Ia mulai mengurangi kekuatan di garis lain untuk berkonsentrasi di Seelow Heights.

Pasukan Jerman kemudian merekayasa rencana membanjiri wilayah Oder, yang telah basah di musim semi menjadi rawa dengan melepaskan air dari bendungan utama. Di belakangnya mereka membangun tiga lingkaran pertahanan yang menjangkau daerah lembah dari daerah luar Berlin. Garis ini diperkuat dengan parit anti tank, penempatan senapan anti tank, dan jaringan besar pagar dan bunker.

Dini hari tanggal 16 April serangan ke Berlin dimulai dengan bombardiran hebat dari ribuan artileri dan roket Katyusha sepanjang hari. Tidak lama kemudian sebelum fajar, Front 1BF menyerang dengan menyeberangi Sungai Oder. Front 1UF menyerang melalui Neisse juga sebelum fajar. Front 1BF memiliki kekuatan lebih besar, tetapi memiliki penugasan lebih sulit dan harus menghadapi kekuatan terbesar Jerman.

Serangan awal Front 1BF menjadi bencana. Heinrici mengantisipasi serangan ini dan menarik pasukan bertahannya dari pagar garis pertahanan pertama tepat sebelum Soviet menghujani mereka dengan artileri. Sinar pencari dari 143 lampu yang sebenarnya dimaksudkan untuk membutakan pasukan bertahan tertahan oleh kabut pagi dan malah memperlihatkan siluet pasukan Soviet. Lumpur rawa yang terjadi terbukti menjadi tempat persembunyian efektif dan serangan balik Jerman membuat korban di pihak Soviet menjadi banyak.

Frustrasi oleh perkembangan yang lebih lambat dari keinginan Stalin, Zhukov meenurunkan pasukan cadangan, yang sebelumnya dimaksudkan untuk mendukung gerak merangsek maju. Pada awal sore, pasukan berhasil mendesak sejauh enam kilometer di beberapa area, tetapi garis pertahanan Jerman tetap tidak tersentuh. Di selatan, Zhukov dengan Front 1UF terpaksa melaporkan bahwa Pertempuran Seelow Heights tidak berjalan sesuai rencana. Stalin, untuk menyemangati Zhukov, mengatakan padanya bahwa ia akan memberikan izin kepada Konev untuk menggerakkan pasukan tank menuju Berlin dari daerah Selatan.

Pada hari kedua, jumlah anggota Front 1BF dikurangi untuk menambah dukungan bagi pasukan yang terlibat pertempuran langsung. Taktik Soviet untuk menggunakan serangan masif terbukti memberi kerugian yang sangat banyak daripada yang diperhitungkan.

Pada awal malam tanggal 17 April front Jerman di belakang Zhukov masih tersisa, tetapi hampir hancur. Di selatan, Pusat Grup Pasukan yang dikomandani Jenderal Ferdinand Schorner tidak bisa bertahan dengan bantuan persembunyian. Bagian flank Pasukan IV Panzer di utara terdesak secara jumlah oleh serangan Front 1UF. Ia memutuskan untuk tetap menyimpan cadangan dua divisi panser daripada menggunakannya untuk mendukung Pasukan IV Panzer. Di sinilah titik balik pertempuran terjadi, di mana saat malam, posisi Grup Vistula dan sektor selatan Pusat Grup Pasukan menjadi terpisah. Kecuali mereka bisa mengusahakan bergabung dengan Pasukan IV Panzer, mereka akan dihabisi. Sebagai efek keberhasilan serangan Konev atas pertahanan pasukan Schorner yang buruk, membuat pertahanan pasukan Heinrichi yang brilian menjadi sia-sia.

Pada 18 April, kedua Front Soviet berhasil membuat perkembangan berarti, tetapi kerugian yang dialami Soviet terlalu besar dari yang seharusnya. Menjelang malam, Front 1BF berhasil mendesak ke garis pertahanan terakhir Jerman dan Front 1UF yang berhasil menguasai Forst bersiap untuk perang terbuka.

Pada 19 April Front 1BF berhasil merusakkan garis akhir pertahanan Seelow Heights dan tinggal sedikit pasukan Jerman yang menghalangi mereka dari Berlin. Sisa Pasukan IX yang mempertahankan area tersebut dan sisa Pasukan IV Panzer dalam bahaya menghadapi penghancuran oleh Front 1UF.

Data Pertempuran Berlin :
Tanggal: 16 April 1945 – 2 Mei 1945
Lokasi: Berlin, Jerman
Hasil: Kemenangan Soviet dan Jatuhnya Nazi Jerman

Komandan Jerman :
Gotthard Heinrici
Helmuth Reymann
Ernst Kaether
Helmuth Otto Ludwig Weidling
Wilhelm Mohnke

Komandan Uni Soviet :
Georgiy Zhukov
Ivan Konev
Konstantin Rokossovsky
Vasily Chuikov

Kekuatan Jerman :
1.000.000 orang,
1.500 tank,
3.300 pesawat

Kekuatan Uni Soviet :
2.500.000 orang,
6.250 tank,
7.500 pesawat,
41.600 meriam artileri

Jumlah korban Jerman :
150.000–173.000 tewas
200.000 terluka
134.000 tertangkap
152.000 sipil tewas

Jumlah korban Uni Soviet :
81.000 tewas/hilang (termasuk 2.800 Polandia)
280.000 terluka/sakit
1.997 kendaraan lapis baja,
2.108 meriam artileri,
917 pesawat terbang


Sumber :
www.id.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.militaryhistorytours.co.uk
www.privateletters.net