Minggu, 14 Februari 2016

Jagoan TANK sepanjang masa 195 kill ranpur dengan "JAGOAN TANK TIGER"

https://static.warthunder.com/upload/image/News/september14/2/Kurt%20Knispel__2.jpg 
                                  Kurt Knispel lahir pada 20 September 1921 di sebuah kota kecil bernama Salisfled di Cekoslovakia. Knispel menghabiskan sebagian besar masa kecilnya di Mikulovice, di mana ayahnya bekerja di sebuah pabrik otomotif. Knispel tidak menyukai pekerjaan pabrik dan di April 1940 Knispel bergabung dengan Wehrmacht sebagai relawan.
Knispel mulai pelatihan dasar pada Panzer Penggantian Batalyon Pelatihan di Sagan. Di sana ia menjadi sasaran pelatihan militer umum nya: PT, bagaimana berbaris, salut dan menggunakan senjata seperti pistol P38, Kar98k senapan, dan granat tangan. Setelah pelatihan dasar Knispel pergi ke pelatihan Panzer untuk mengoperasikan Pz I, II, dan IV. Pada tanggal 1 Oktober Knispel dipindahkan ke "Field Unit" dari 3 Perusahaan dari Panzer Regiment 29, 12 Divisi Panzer di mana ia menyelesaikan pelatihan sebagai loader / penembak di Pz IV. Selama pelatihan di Putlos ia pertama kali menunjukkan kemampuannya sebagai penembak; ia memiliki hadiah total visi tiga-dimensi serta refleks yang luar biasa. Tetapi untuk Knispel cemas, ia tetap loader.
Knispel pertama kali melihat aksi pada bulan Agustus 1941 di tangki Pz IV. Selama Operasi Barbarossa ia cepat naik ke posisi penembak di bawah komando Letnan Hellman. Dengan Januari 1942 Knispel telah kembali ke Putlos untuk menjalani pelatihan di tangki Tiger baru dan pada saat dia sudah dikreditkan dengan 12 tank kemenangan. Rumahnya berikutnya adalah Perusahaan 1 dari 503 Heavy Panzer Batalyon di mana ia mengambil bagian dalam Pertempuran Kursk sebagai penutup sayap ke Divisi Panzer ke-7. Dari sana ia pergi ke komandan Tiger II dalam unit yang sama.
Knispel direkomendasikan empat kali untuk menerima Ritterkreuz, penghargaan dia tidak pernah menerima. Ini tidak jadi soal baginya karena ia tidak didorong oleh ketenaran atau dekorasi. record Knispel ini berisi 168 dikonfirmasi membunuh tangki, tetapi ketika kemenangan dikonfirmasi disertakan, total menambahkan hingga 195. Bahkan pada 168 menegaskan, ini membuat Knispel paling sukses tangki ace dari Perang Dunia II.
Dia mencetak membunuh yang luar biasa dari tangki Soviet T-34 pada kisaran 3.000 meter. Knispel dianugerahi Iron Cross kelas satu (15 kills) dan kemudian Badge Tank Assault di Gold setelah lebih dari 100 tank membunuh. Setelah menghancurkan 126 tank Knispel dianugerahi Salib Emas Jerman sementara menjadi satu-satunya Jerman bintara untuk menerima kehormatan ini harus disebutkan dalam komunike Wehrmacht dalam Perang Dunia II. Hal ini juga mengatakan bahwa ia dikreditkan banyak membunuh orang lain bahwa ia bisa disebut sendiri. Knispel paling sering menghindar dari jenis argumen dan dikenal karena sifat ramah nya. Knispel sebagai komandan tank itu dalam elemen sendiri, pada waktu ia bahkan menghadapi musuh unggul sendiri untuk memberikan unit ia mendukung kesempatan terbaik untuk memajukan atau bagian paling aman mundur. Alfred Rubbel, salah satu komandan pertama Knispel ini, menyatakan bahwa ketika ia berada di medan pertempuran ia tidak pernah ditinggalkan siapa pun, bahkan di terburuk situasi dan kondisi.
Knispel itu pertempuran-keras konflik di banyak daerah yang termasuk Kursk, Vinnitsa, Jampol, Kamenets-Podolsk, yang Korsun'-Cherkassy Pocket, Cean dalam mundur dari Normandia kemudian ke Front Timur dalam pertempuran dekat Mezotur, Torokszentmiklos, Kecskemet, Cegled , Gran Bridgehead, Bab Castle, Laa, Nitra, Gyula, dan pertempuran terakhir di Wostitz, di mana ia terluka parah tanggal 28 April 1945, sepuluh hari sebelum perang berakhir.
kurangnya otoritas terhadap jajaran yang lebih tinggi dari perintah Jerman memberikan kontribusi terhadap kemajuan lambat melalui pangkat. Pada satu kesempatan Knispel diserang seorang perwira yang dia lihat adalah memperlakukan tawanan perang Soviet. Knispel memiliki tato, berjanggut, dan lebih lama daripada rambut regulasi, tetapi meskipun semua itu ia disukai oleh sesama tentara dan keterampilan tidak pernah cocok. Pada usia 23 Knispel memiliki lebih banyak membunuh tangki dari Michael Wittmann, Ernst Barkmann, Johannes Bolter, atau Otto Carius.
Akhir kisah sedih ini tentang kematian legenda memiliki positif sebagai sisa-sisa Knispel ini ditemukan oleh sejarawan di Vrbovec di sebuah makam tak bertanda di belakang gereja. "Dia diidentifikasi oleh tato militer di lehernya" kata juru bicara dari museum Moravian. Pada April 10, 2013 otoritas Republik menegaskan bahwa sisa-sisa Knispel ini ditemukan di antara 15 tentara Jerman lainnya di balik dinding gereja di Urbau. Sangat mungkin bahwa ia akan dikuburkan kembali di pemakaman militer di Brno. Istirahat dalam damai Kurt Knispel.

Senin, 26 Oktober 2015

Akhir Riwayat Kapal Perang RI Eks Penyerbuan Normandy ( World War II)


Kabar tentang rencana uji coba rudal yakhont yang didatangkan pemerintah untuk melengkapi jajaran persenjataan yang dimiliki kapal perang (KRI) milik TNI-AL memberikan angin segar di bidang pertahanan nasional.

Yakhont merupakan jenis peluru kendali (rudal) berkemampuan tinggi buatan Rusia. Dengan kecepatan 2,5 mach (2,5 kali kecepatan suara) dan dapat menghancurkan sasaran hingga jarak 300 km. Artinya armada kapal perang Indonesia kini memiliki kemampuan serang Over The Horizon atau mampu menghancurkan musuh yang berada di luar batas cakrawala penglihatan dengan daya hancur tinggi.

Untuk memiliki rudal ini juga tidak sembarangan negara bisa mengakuisisi. Setidaknya harus melalui izin dari 7 institusi pemerintah Rusia dan persetujuan langsung Presiden Rusia saat itu, Vladimir Putin. Hingga kini hanya 3 negara yang memiliki rudal tersebut, yaitu Rusia sendiri, Vietnam dan Indonesia, sedangkan Suriah yang juga berminat membeli rudal tersebut dihalangi oleh Israel yang menekan Rusia untuk tidak menjualnya karena khawatir mengganggu kestabilan di kawasan Timur Tengah.

Namun dibalik kehebatan rudal yakhont yang dimiliki Indonesia tadi, ada cerita menarik mengenai kapal-kapal perang tua TNI-AL yang akan dijadikan rumpon atau sasaran tembak uji coba rudal tersebut.

Menurut Kepala Staf TNI-AL, Laksamana Madya Soeparno, ada satu KRI yang akan dijadikan sasaran tembak dari enam kapal LST (Landing Ship Tank) eks AS yang akan dipensiunkan dan akan digantikan kapal-kapal baru buatan dalam negeri, yaitu:
- KRI Teluk Langsa (eks USS Solano County (LST-1128)),
- KRI Teluk Kau-504 (eks USS LST-652),
- KRI Teluk Tomini-508 (eks USS Bledsoe County (LST-356)),
- KRI Teluk Ratai-509 (eks USS LST-678 dan eks USS Presque Isle (APB-44)),
- KRI Teluk Saleh-510 (eks USS Clarke County (LST-601)) dan
- KRI Teluk Bone-511 (eks USS Iredell County (LST-839)).

Semua kapal tersebut merupakan kapal bekas berumur 60-70 tahun yang dulunya milik angkatan laut Amerika Serikat dan terbilang cukup bersejarah. Kapal-kapal tersebut pernah menjadi bagian dari operasi  overlord (D-Day 6 juni 1944) di masa Perang Dunia II, dimana operasi tersebut merupakan penyerbuan  laut terbesar dalam sejarah manusia.

Pendaratan pasukan sekutu di daerah Normandia, Perancis, melibatkan setidaknya 7.000 kapal dan 12.000 pesawat untuk mengangkut hampir 160.000 pasukan pada 6 Juni 1944 tersebut dan lebih dari 3.000.000 tentara sekutu hingga akhir bulan Agustus diseberangkan ke Perancis melewati selat channel untuk menembus garis pertahanan Jerman (NAZI).

Pertempuran selama 2 bulan ini berakhir dengan jatuhnya kantung falaise dan bebasnya Perancis dari pendudukan Jerman. Mungkin bagi yang pernah menonton film 'Saving Private Ryan' (1998) memiliki gambaran bagaimana sengitnya pertempuran antara pasukan sekutu dan pasukan Jerman. Di film tersebut, yang menjadi latar adalah pantai Omaha, Normandia.

konvoi Kapal perang sekutu 6 Juni 1944

Pasukan Sekutu tiba di pantai Omaha, 6 Juni 1944

Pendaratan Pasukan Sekutu di Normandia

Kembali mengenai KRI yang akan dijadikan sasaran tembak rudal yakhont tadi, TNI-AL sudah memberikan kabar mengenai rencana tersebut kepada Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy). Maksud  dari pihak TNI-AL adalah memberikan kesempatan kepada pihak AS apakah ingin membelinya kembali untuk dimuseumkan mengingat nilai historisnya.

Namun akhirnya walaupun dengan berat hati, Amerika Serikat menyetujui kapal tersebut untuk dihancurkan karena biaya untuk pengembalian ke AS yang cukup besar dan bagaimanapun kapal tersebut sudah menjadi milik Indonesia sehingga AS menyerahkan sepenuhnya kepada Indonesia, nasib terhadap kapal-kapal tua tersebut.

Banyak warga AS maupun negara-negara yang dulu tergabung dalam pasukan sekutu seperti Inggris, Perancis, dll terkejut bahwa masih ada kapal perang eks penyerbuan Normandia yang berlayar  sampai sekarang. 

Hingga kini, para pelaut Amerika pun tetap memberikan penghormatan terhadap KRI eks penyerbuan Normandia ini. Suatu ketika di perairan Indonesia KRI Teluk Tomini berpapasan dengan armada kapal laut Amerika. Mengetahui kapal yang mereka temui adalah kapal yang bersejarah bagi mereka, para awak kapal Amerika langsung naik keatas kapal dan membentuk formasi parade memberikan penghormatan layaknya seorang junior yang memberikan hormat kepada seniornya.

sumber:
diolah dari Republika, Wikipedia, dan Forum Militer Kaskus

Jumat, 04 September 2015

Foto hitler Semasa Berjuang Untuk menjadi Fuhrer Jerman


Adolf Hitler dan pengagum. Mungkin di Münich 1930



Adolf Hitler pada hari pihak ke-3 Nazi 1927 di Nürnberg, dan SA march lagi




Adolf Hitler, pemimpin tertinggi dari dilarang SA selama penerimaan dari masa lalu pawai di Brunswick, Februari 1931



Adolf Hitler di Hitlertag besar di Gera, September 1931. Di belakang adalah SA-Stabschef Ernst Röhm



Adolf Hitler di sebuah acara di aula tenis Fehrbelliner Square, Januari 1932




Adolf Hitler calon untuk pemilihan presiden! Rekaman terakhir dari Adolf Hitler, yang didirikan oleh Nazi sebagai calon untuk pemilihan presiden




                          Putzi Hanfstaengl dan Adolf Hitler di Heck Cafe di Munich pada tahun 1920


Adolf Hitler in 1928




Gambar awal Führer pada awal kekuasaannya



Adolf Hitler, dengan rekan-rekannya membahas krisis pemerintahan, November 1932



Perdebatan penting antara Hindenburg dan Adolf Hitler, November 1932! Adolf Hitler, disertai dengan sukacita besar pergi, kepada Presiden.



Adolf Hitler, pemimpin tertinggi dari dilarang SA selama penerimaan dari masa lalu march di Brunswick



Foto ini telah diambil selama sesi fotografi Hitler oleh Heinrich Hofmann, kita berpikir selama tahun 1929. Tujuannya adalah untuk mengungkapkan gerakan Hitler, dan bagi Hitler untuk melatih untuk pidato meyakinkan.



Parade besar Nazi di Weimar sebelum pemimpin Adolf Hitler. Hadir Menteri Thuringia Nazi Dr. Frick, dan wakil Nazi Reichstag, Dr. Goebbels (Berlin). Masa lalu dari pasukan badai Nazi dengan ucapan fasis sebelum pemimpin mereka Adolf Hitler (tepat di mobil, berdiri) di alun-alun di Weimar.



Adolf Hitler in the inauguration of "Brown House" and the renovation of Palais Barlow in Münich



Untuk putusan dalam sidang Hitler-Ludendorff di Munich pada 1 April 1924. Satu-satunya rekaman semua terdakwa dalam proses Hitler-Ludendorff setelah putusan. Kelompok ini berhasil mencatat dalam situasi yang paling sulit. Dari kiri ke kanan: Heinz Pernet, Dr. Friedrich Weber, Wilhelm Frick, Oberleutnant Hermann Kriebel, Erich von Ludendorff, Adolf Hitler, Wilhelm Bruckner, Ernst Röhm, Robert Wagner.


Adolf Hitler dengan pengikut awal pada 1923 propaganda tur Münich


Adolf Hitler diambil pada tahun 1921, menunjukkan dia sebagai ia tampak ketika ia mulai mendaki ke kekuasaan. Buku, "Hitler Sebagai Nobody Knows Nya", dari mana foto ini diambil, menggambarkannya demikian: Foto Führer pada tahun 1921 ketika Hitler mulai dalam pertemuan yang lebih besar dan lebih besar untuk memanggil orang-orang Jerman untuk menolak


Asli Hoffmann snapshot foto dari Adolf Hitler sedang didorong di dalam mobil dengan beberapa sangat awal SA pasukan berseragam

Senin, 31 Agustus 2015

Pertempuran Berlin 1945


 https://lh6.googleusercontent.com/-yvLB_mILaoQ/U23nGgrefcI/AAAAAAAABWU/gcA2goE6s1I/s640/
              Perang dunia ke II di Eropa benar-benar menjadi mimpi buruk yang takkan bisa dilupakan. Saat itu, Eropa benar-benar terasa mati. Kehidupan sebuah negara telah musnah seiring dengan serangan yang dilancarkan Jerman sejak tahun 1939. Namun semuanya berakhir, ketika peperangan itu mencapai puncaknya pada pertempuran Berlin.
Tidak terhitung lagi berapa puluh juta nyawa melayang dalam perang dunia ke II, berapa bangunan yang runtuh, berapa kota yang rata, berapa dana yang habis, berapa…… tapi ada suatu hasil. Perang dunia ke II yang merupakan starting teknik perang modern, memberikan dampak besar terhadap dunia ini sendiri, terutama negara-negara di dalamnya, mulai dari terbentuknya PBB, seni perang modern, kemerdekaan banyak bangsa, timbulnya kesadaran yang mutlak akan bahaya peperangan, perang dingin, negara adidaya, dan sebagainya. Demikianlah pertempuran besar yang terpusat di Eropa, dan di akhiri di kota ini……. kota Berlin….
              Pertempuran Berlin adalah salah satu pertempuran dahsyat yang terjadi selama perang dunia ke II. Kedahsyatan pertempuran itu tidak kalah dengan pertempuran-pertempuran terkenal seperti Kursk, Stalingrad, dan sebagainya. Bahkan ada suatu spesialisasi yang terjadi pada pertempuran ini, yang mana spesialisasi ini tidak terdapat pada pertempuran yang lain pada perang dunia ke II. Hal inilah yang membuat pertempuran di Berlin menjadi pertempuran yang khusus, bahkan lebih khusus dibandingkan pertempuran-pertempuran yang lain termasuk Stalingrad.
Berbeda dengan pertempuran pada kota manapun, pertempuran di Berlin adalah titik darah penghabisan bangsa Jerman pada perangnya sendiri. Pertempuran ini berbeda dengan pertempuran Stalingrad, yang sekalipun merupakan kota Stalin, tetap saja bukan jantung Soviet dan bukan disitu letak nyawa Soviet. Kalah atau tidaknya Soviet di Stalingrad, tidak menentukan mati atau tidaknya negara itu. Itu sebabnya, berbeda dengan pertempuran Berlin, yang merupakan titik darah penghabisan bangsa Jerman, hingga menimbulkan drama yang luar biasa yang terjadi pada pertempuran yang berlangsung beberapa minggu itu.
Ketika Soviet berhasil mengoyak pasukan Jerman dengan serangan air bahnya, Berlin pun terkepung seketika. Bahkan ketika pertahanan pasukan Jerman di Seelow Height jebol, pada akhirnya Berlin benar-benar tidak bisa selamat.
 http://kkcdn-static.kaskus.co.id/images/2013/04/28/
                Bahkan sebelum pertempuran di mulai, Berlin sudah dihantui kekalahan yang pasti. Seluruh prajurit tidak lagi memiliki harapan, begitu pula seisi kota. Saat itu, Berlin hanya diperkuat oleh 100.000 prajurit, yang mana 45.000 dari keseluruhan pasukan itu adalah Volksturm, atau tentara rakyat, bahkan minoritas pada Volksturm adalah anak kecil yang berumur 7 tahun hingga 16 tahun. Sementara pada pihak Soviet, terbentuk kekuatan menyerang yang gila, dengan jumlah 10.000.000 prajurit lengkap dengan 9000 artileri, puluhan ribu tank, dan senjata-senjata perang lainnya. Seluruh Jerman tahu mereka tidak akan hidup bila melawan, tapi justru inilah yang menjadi kekhasan dari pertempuran Berlin, drama yang manis, akhir yang penuh keberanian dan kehormatan. Dan ketika pertempuran di mulai, hingga pertempuran berakhir, seluruh pasukan Jerman tewas dengan beberapa ribu yang menyerahkan diri. Sementara Soviet kehilangan beratus-ratus ribu prajurit mereka. Suatu keadaan yang benar-benar tidak seimbang dan menghasilkan hasil yang juga jauh dari perkiraan. Sulit dipercaya? Itu kenyataannya…
                        Pertempuran di Berlin dimulai dengan bombardir artileri. Soviet menembakkan 9000 artileri ke kota Berlin dari sekitar jam 3 pagi hingga jam 5. Lalu dilanjutkan dengan serbuan pasukan darat keseluruhan. Sulit dibayangkan dan dilukiskan, bagaimana keadaan Berlin mulai dari bombardir terjadi hingga serangan total dilancarkan.
Pertempuran terjadi dengan begitu dahsyat. Di jalan-jalan di Berlin, anak-anak kecil membawa panzerfaust untuk ditembakkan ke tank Soviet dengan penuh keberanian. Prajurit-prajurit, ayah, dan para pemuda mempertahankan setiap meter jalan-jalan Berlin. Hingga mereka makin terdesak dan terdesak sampai Reichstag dan bunker Berlin. Dan pada Reichstag, drama pertempuran berlangsung mengharukan sekali…
Pasukan-pasukan Jerman yang hanya terdiri dari orang-orang yang terluka, bertempur tanpa menyerah. Tembakan dari Reichstag terus mereka lakukan di tengah-tengah gempuran artileri Soviet dan serbuan tank-tank dan infantry Soviet ke arah mereka secara total dari segala penjuru. Dan yang mengejutkan adalah, pertempuran di mulai sekitar pukul 6 pagi, tapi baru berakhir ketika tengah malam. Bendera Soviet dikibarkan 2 kali karena pengibaran pertama tidak terlihat akibat gelapnya malam. Dan pada pertempuran di Reichstag, tidak ada pasukan Jerman yang menyerah sampai titik darah penghabisan.
Darah benar-benar tergenang pada setiap lantai di Reichstag!
                     Berkibarnya bendera Soviet di Reichstag menandakan akhir dari pertempuran Berlin. Sekalipun itu, bukanlah akhir dari pertempuran yang sebenarnya. Satu dua prajurit Jerman masih suka melakukan perlawanan dengan cara teror dan sniper, ada juga beberapa kelompok yang menyerang frontal. Hingga beberapa bulan kemudian, pertempuran di Berlin benar-benar dinyatakan berakhir. Dan Jerman, mencatat benar apa yang terjadi, kenyataan yang terjadi pada pertempuran itu. Akhir dari kedigdayaan Nazi, akhir dari kekaisaran Reich ke tiga…!!!

sumber  

Rabu, 26 Agustus 2015

video parodi hitler paling lucu di youtube

suatu hari hitler hendak mentraktir para jendralnya di warteg, ia mendapat rekumendasi dari temanya ojan bahwa warteg tersebut murah dan sangat enak, tapi ternyata,,,bruakakakak

https://www.youtube.com/watch?v=8Iut9Jxj4xM&feature=youtu.be

Minggu, 16 Agustus 2015

Hari yang Mengerikan Saat Pendaratan di Normandia 70 Tahun Silam





                          Pendaratan pasukan Sekutu di Normandia, Prancis, pada 6 Juni 1944.(Ist) Pendaratan pasukan Sekutu di Normandia, Prancis, pada 6 Juni 1944.(Ist) PRANCIS , JITUNEWS.COM- Sejarah telah dicetak 70 tahun silam, ketika pada tanggal 6 bulan 6 tahun 1944, Sekutu memutuskan untuk menaklukkan Nazi yang telah menguasai Eropa dengan menyerbu langsung benua biru itu. Maka, pada 6 Juni 1944 sekitar 300 ribu pasukan Sekutu melakukan invasi di pantai Normandia, Prancis. Serangan itu dikenal sebagai D-Day. Invasi itu dikenal sangat berbahaya karena tentara Sekutu menjadi umpan peluru Nazi. Tetapi invasi yang paling bersejarah dalam Perang Dunia II itu menjadi titik awal kekalahan Nazi Jerman. Jenderal Dwight D. Eisenhower,Pemimpin Sekutu, sedang memberi instruksi kepada tentara AS sebelum pendaratan. D-Day yang juga dikenal dengan sebutan “The Longest Day” atau “Hari Terpanjang” menjadi hari yang paling mengerikan bagi tentara Sekutu. 
               Pada penyerbuan hari pertama itu 1.200 kapal perang dan lebih dari 7.000 pesawat dikerahkan untuk mendukung invasi. Sebanyak 150 ribu pasukan diterjunkan di pantai Normandia yang panjangnya 100 km. Mereka jadi bulan-bulanan Nazi. Tidak kurang 4.500 tentara tewas. Hari ini, para veteran Perang Dunia II sekitar 1.800 orang telah hadir di Normandia untuk memperingati hari yang bersejarah tersebut. Ketika melakukan pendaratan 70 tahun lalu, sebagian besar veteran perang itu masih remaja. Dan, mereka mengenang D-Day sebagai hari paling mengerikan dalam hidupnya. Banyak veteran perang yang tiba di Normandia minggu ini, masih mengalami trauma dari aksi pendaratan itu Skema penyerangan pasukan Sekutu saat invasi ke Normandia pada 6 Juni 1944. "Saya begitu ngeri, seperti yang lainnya. Ketakutan yang mencekam", kata veteran perang asal Inggris Ken Scott, yang kini berusia 98 tahun. "Di sana tidak ada tempat untuk bersembunyi". Bagi banyak serdadu muda itu, D-Day dimulai pada dini hari, ketika suasana masih gelap. Yang pertama-tama mendarat adalah pasukan terjun payung. Pesawat mereka terbang sangat rendah. Banyak serdadu jatuh di atas pasir, 
                 Sebelum sempat membuka payung terjunnya. Ribuan pasukan yang mendarat dengan kapal-kapal pengangkut, segera disambut rentetan tembakan senapan mesin pasukan Nazi tanpa mampu berlindung. "Kita harus belajar untuk bisa memaafkan. Jangan biarkan hal seperti ini terjadi lagi", kata Herbert Levy yang berusia 88 tahun. Ia berbicara di hadapan sekitar 3000 anak sekolah di kota Caen, Prancis. Anak-anak sekolah menggelar acara konser musik sebagai penghormatan kepada para veteran perang. Dalam beberapa hari mendatang, ada sekitar 400 acara yang dipersiapkan untuk memperingati 70 tahun D-Day. Upacara resmi akan berlangsung hari Jumat, 6 Juni. Sekitar 20 kepala negara dan pemerintahan akan hadir pada upacara itu, antara lain Presiden AS Barack Obama, Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Vladimir Putin

Sumber   :
 @jitunews http://www.jitunews.com/read/2061/hari-yang-mengerikan-saat-pendaratan-di-normandia-70-tahun-silam#ixzz3j0aFcmz0

Minggu, 02 Agustus 2015

Foto S.S. Sturmbrigade R.O.N.A. (Brigade Kaminski)

Foto ini memperlihatkan tank-tank T-34 Soviet hasil rampasan milik Waffen-Sturm-Brigade "RONA" (Brigade Kaminski). Lokasi dan tanggal tidak diketahui. Waffen-Sturm-Brigade "RONA" adalah unit anti-Partisan yang anggotanya kebanyakan merupakan warga area otonomi Lokot di wilayah Soviet yang diduduki oleh pasukan Jerman (Hutan Bryansk). Pada pertengahan tahun 1943, jumlahnya telah membengkak menjadi 10-12 ribu prajurit dan dilengkapi dengan tank dan artileri hasil rampasan dari Rusia


Sumber :
www.online-instagram.com

Foto Pertempuran Jembatan Remagen

Tiga orang perwira tinggi Wehrmacht yang bertanggungjawab terhadap pertahanan pasukan Jerman di wilayah Ruhr bulan Maret-April 1945, dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Walter Model (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B), Generalleutnant Fritz Bayerlein (mit der Führung beauftrag LIII. Armeekorps), dan seorang perwira Panzertruppen tak dikenal yang disebut-sebut sebagai penanggungjawab pertahanan Jembatan Remagen. Setelah cari sana sini, saya menemukan bahwa unit tank Jerman yang bertugas di Remagen pada periode ini adalah Panzer-Regiment 15 yang merupakan bagian dari 11.Panzer-Division dan dipimpin oleh Major Jürgen Reichart. Saya tidak tahu apakah perwira di kanan adalah Major Reichart atau bukan, soalnya belum pernah nemu fotonya, dan apalagi ketemu orangnya


Sumber :
www.forum.axishistory.com

Foto Pertempuran Gazala

 Dari kiri ke kanan: Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"), Sonderführer Dr. Ernst Franz (Dolmetscher Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"), dan Generale di Divisione Arnaldo Azzi (Komandan 101ª Divisione di fanteria “Trieste”). Foto kemungkinan besar diambil di sekitar kancah Pertempuran Gazala yang berlangsung dari tanggal 26 Mei s/d 21 Juni 1942


Source :
www.forum.axishistory.com

Foto Pertempuran Tobruk

 Rommel berunding dengan para staffnya di markas besarnya Libya bulan April 1942 untuk merancang strategi terbaik demi merebut kota pelabuhan Tobruk dari tangan pasukan Inggris. Foto jepretan Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika" ini sendiri pertama kali dipublikasikan pada tanggal 26 Mei 1942. Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), Oberstleutnant im Generalstab Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (Ic Dritter Generalstabsoffizier Panzerarmee "Afrika"), Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Generalleutnant Walther Nehring (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps)


 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) berdiri dengan latar belakang konvoy pasukan Poros (Jerman, Italia, dan sukarelawan Arab) di dekat Gazala yang sedang bergerak maju menuju Tobruk, Mei 1942. Dalam apa yang dinamakan sebagai Pertempuran Gazala, anakbuah Rommel berhasil menggasak pasukan gabungan Inggris dan Persemakmuran, mengusir mereka dari Libya sekaligus menduduki kota pelabuhan Tobruk yang sangat strategis. Hal ini dianggap sebagai pencapaian terbesar Sang Rubah Gurun di Afrika Utara, dan sebagai balasannya Hitler langsung menaikkan pangkat secara luar biasa jenderal favoritnya tersebut menjadi Generalfeldmarschall, sehingga menjadikan Rommel Marsekal (Jenderal Bintang Lima) termuda di seantero Wehrmacht dalam usia 50 tahun! Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller


 Generaloberst Erwin Rommel (kedua dari kanan, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (kanan, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di atas ranpur pribadi Sd.Kfz.250/3 leichter Schützenpanzer Funkpanzerwagen "GREIF" (Grifon/Serang) dalam kancah Pertempuran Gazala (26 Mei s/d 21 Juni 1942). Foto diambil di dekat wilayah Tobruk (Libya)


 Generaloberst Erwin Rommel (memakai topi visor, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (memakai gogel, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di atas ranpur pribadi Sd.Kfz.250/3 leichter Schützenpanzer Funkpanzerwagen WH-937036 "GREIF" (Grifon/Serang) dalam kancah Pertempuran Gazala (26 Mei s/d 21 Juni 1942). Foto diambil oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling di dekat wilayah Bir Hacheim (Libya) bulan Juni 1942


 Generaloberst Erwin Rommel (kanan, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") mengobservasi lapangan di dekat El Alamein (Mesir) sesampainya disana pada tanggal 18 Juni 1942 untuk melakukan pertemuan dengan Fliegerführer Afrika, General der Flieger Otto Hoffmann von Waldau. Berdiri nomor dua dari kiri adalah Oberst Fritz Bayerlein (kanan, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), sementara di latar belakang kita bisa melihat sebuah mobil staff Horch serta Flak 88. Foto oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling


Dengan menggunakan mobil staff Horch Kfz.15, Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi salah satu pangkalan utama Inggris di Afrika Utara tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942, setelah sebuah serangan memutar yang brilian. Sekitar 33.000 orang prajurit Inggris dan Persemakmuran yang tertawan sehingga menjadikannya kekalahan terbesar kedua Inggris dalam Perang Dunia II setelah jatuhnya Singapura (80.000 orang yang tertawan)! Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Dengan menggunakan mobil staff Horch Kfz.15, Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi pangkalan Inggris tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942 (Bayerlein duduk di kiri sementara Rommel di kanan). Di sebelah kiri foto tampak terparkir sebuah Panzerbefehlswagen III Ausf.C/H (SdKfz. 266/267/268). Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"



 Dengan menggunakan mobil staff Horch Kfz.15, Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi pangkalan Inggris tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942). Latar belakang memperlihatkan suasana pelabuhan yang dipenuhi oleh kapal-kapal rusak tak terpakai hasil pemboman selama berbulan-bulan. Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi salah satu pangkalan utama Inggris di Afrika Utara tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942. Disini sang Marsekal sedang berjalan di tengah diikuti oleh seorang perwira Italia di kiri dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di kanan. Di sebelah kanan foto terlihat "britische Kriegsgefangene" (tawanan Inggris) yang sedang duduk-duduk santai menunggu untuk dikirim ke kamp tawanan Jerman di garis belakang. Pada kenyataannya, cukup banyak pasukan dari negara lain yang ikut mempertahankan Tobruk dari serangan Jerman, termasuk dari Australia, Afrika Selatan, dan bahkan Cekoslowakia! Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"



Generaloberst Erwin Rommel (kanan, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (kedua dari kanan, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi salah satu pangkalan utama Inggris di Afrika Utara tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942. Disini tampak sang Marsekal sedang menanyai seorang prajurit Afrikakorps dengan latar belakang pelabuhan tempat bersandar kapal. Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") menerangkan sesuatu di peta kepada para prajurit Jerman dan Italia di Tobruk di hari kota tersebut jatuh ke tangan Jerman. Bertolak pinggang di sebelah kanan adalah Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), sementara di belakang mereka adalah Leutnant tak dikenal yang berasal dari unit Panzertruppen (terlihat dari pin tengkorak di kerahnya). Foto diambil tanggal 21-22 Juni 1942 oleh Kriegsberichter Otto dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Foto ini diambil pada tanggal 22 Juni 1942 oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di atas sebuah mobil atap terbuka dalam inspeksi ke kota pelabuhan Tobruk yang baru diduduki oleh pasukan Jerman sehari sebelumnya. Di hari ini pula Rommel naik pangkat secara luar biasa dari Generaloberst menjadi Generalfeldmarschall sebagai penghargaan dari sang Führer untuk prestasinya tersebut


 Foto ini diambil pada tanggal 22 Juni 1942 oleh Kriegsberichter Valtingojer dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika" dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") sedang diwawancarai oleh PK-Tonberichter (reporter radio) Günther Halm mengenai Pertempuran Tobruk yang baru saja usai (dengan pihak Jerman yang keluar sebagai pemenangnya). Di tengah ikut menyimak Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps). Di hari ini pula Rommel naik pangkat secara luar biasa dari Generaloberst menjadi Generalfeldmarschall sebagai penghargaan dari sang Führer untuk prestasinya tersebut


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org

Foto Pertempuran Sidi Rezegh

PERAIH RITTERKREUZ

Generalleutnant Fritz Bayerlein (14 Januari 1899 - 30 Januari 1970) adalah perwira veteran Perang Dunia Pertama dari Bavaria yang kemudian malang-melintang dalam Perang Dunia II, kebanyakan sebagai anggota staff unit. Dia mendapat nama harum saat menjadi Kepala Staff "Si Rubah Gurun" Erwin Rommel dalam medan pertempuran di Afrika Utara, sebelum kemudian dipercaya sebagai Komandan 3. Panzer-Division (20 Oktober 1943 - 5 Januari 1944), Panzer-Lehr-Division (10 Januari 1944 - 20 Januari 1945), dan LIII. Armeekorps (29 Maret 1945 - 8 Mei 1945). Karena sifatnya yang tidak bisa diduga baik oleh kawan maupun lawan, para komandan Amerika menjuluki setiap jenderal Jerman yang bersifat sama sebagai "being on the Fritz" (menjadi layaknya Fritz)! Kepahlawanannya di medan perang membuatnya dianugerahi empat medali bergengsi: Deutsches Kreuz in Gold (23 Oktober 1942), Ritterkreuz (26 Desember 1941), Eichenlaub (6 Juli 1943) serta Schwerter (20 Juli 1944). Medali dan penghargaan lain yang diperolehnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (30 Agustus 1918); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz (31 Agustus 1918); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis II. Klasse; Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (13 September 1939) und I.Klasse (27 September 1939); Panzerkampfabzeichen in Silber; Ärmelband “Afrika”; Königlich Italienische Silberne Tapferkeitsmedaille; Ritterkreuz des Königlich Italienische Militärordens von Savoyen; Erinnerungsmedaille für den deutsch-italienischen Feldzug in Afrika; Verwundetenabzeichen in Silber; serta Nennung im Ehrenblatt des Heeres (6 Maret 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 11 Januari 1944 dan 26 Juni 1944. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


Sumber :
Buku "Das Afrikakorps: In Original-Farbfotografien" karya Bernd Peitz

Jumat, 31 Juli 2015

Foto Fritz Bayerlein

Generalleutnant Fritz Bayerlein (14 Januari 1899 - 30 Januari 1970) adalah perwira veteran Perang Dunia Pertama dari Bavaria yang kemudian malang-melintang dalam Perang Dunia II, kebanyakan sebagai anggota staff unit. Dia mendapat nama harum saat menjadi Kepala Staff "Si Rubah Gurun" Erwin Rommel dalam medan pertempuran di Afrika Utara, sebelum kemudian dipercaya sebagai Komandan 3. Panzer-Division (20 Oktober 1943 - 5 Januari 1944), Panzer-Lehr-Division (10 Januari 1944 - 20 Januari 1945), dan LIII. Armeekorps (29 Maret 1945 - 8 Mei 1945). Karena sifatnya yang tidak bisa diduga baik oleh kawan maupun lawan, para komandan Amerika menjuluki setiap jenderal Jerman yang bersifat sama sebagai "being on the Fritz" (menjadi layaknya Fritz)! Kepahlawanannya di medan perang membuatnya dianugerahi empat medali bergengsi: Deutsches Kreuz in Gold (23 Oktober 1942), Ritterkreuz (26 Desember 1941), Eichenlaub (6 Juli 1943) serta Schwerter (20 Juli 1944). Medali dan penghargaan lain yang diperolehnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (30 Agustus 1918); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz (31 Agustus 1918); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis II. Klasse; Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (13 September 1939) und I.Klasse (27 September 1939); Panzerkampfabzeichen in Silber; Ärmelband “Afrika”; Königlich Italienische Silberne Tapferkeitsmedaille; Ritterkreuz des Königlich Italienische Militärordens von Savoyen; Erinnerungsmedaille für den deutsch-italienischen Feldzug in Afrika; Verwundetenabzeichen in Silber; serta Nennung im Ehrenblatt des Heeres (6 Maret 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 11 Januari 1944 dan 26 Juni 1944. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


Para perwira Afrikakorps dan Italia di Tobruk bulan September 1941. Udara dingin yang menerpa gurun (biasanya di waktu sore atau malam hari) membuat mereka mengenakan mantel tebal yang dinamakan sebagai wachmantel. Orang yang berdiri di tengah sambil membelakangi kamera adalah Generalleutnant Ludwig Crüwell (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps), sementara yang memakai schutzbrille di kanan adalah Oberstleutnant Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) yang nantinya menjadi komandan Panzerlehr-Division (10 Januari 1944 - 20 Januari 1945). Foto milik NARA (National Archives) koleksi Thomas E. Nutter ini diambil oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling


 


Oberstleutnant Fritz Bayerlein dalam sebuah foto yang diambil di Cyrenaica (Libya) di akhir tahun 1941 tak lama setelah dianugerahi medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #764 (26 Desember 1941) sebagai Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps / Panzergruppe Afrika, atas kepemimpinannya dalam pertempuran di wilayah Sidi Rezegh serta pengorganisasian gerakan mundur pasukan Jerman dari El Agheila bulan November 1941




Tiga buah foto di atas menampilkan musim "dingin" di Afrika Utara (kaget kan ada musim dingin di gurun pasir?). Meskipun beriklim gurun, tapi wilayah di Afrika Utara juga bisa mempunyai hawa dingin yang menusuk manakala senja atau malam menjelang. Untuk mengatasinya, para perwira Afrikakorps ini - termasuk Fritz Bayerlein dan Erwin Rommel - dibekali dengan mantel khusus yang dinamakan Wachmantel, sedangkan bila warnanya lebih gelap dinamakan Übermäntel


 Foto ini diambil pada bulan Januari 1942 oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling dan memperlihatkan, dari kiri ke kanan: General der Panzertruppe Ludwig Crüwell (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps) beserta dengan Kepala Staff-nya, Oberstleutnant im Generalstab Fritz Bayerlein. Bayerlein baru beberapa hari berselang (26 Desember 1941) dianugerahi medali bergengsi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes atas ketegasan serta kesigapannya dalam mengantisipasi setiap ancaman dari pihak Inggris. Kecemerlangannya sebagai perwira staff sangat membantu Crüwell dalam memimpin DAK (Deutsches Afrikakorps) di medan perang Afrika Utara


Perundingan tiga tokoh kunci Jerman di Afrika Utara yang berlangsung bulan Februari 1942. Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), Generalfeldmarschall Albert Kesselring (Oberbefehlshaber Süd), dan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika")


  
Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) dalam sebuah foto studio yang dibuat di musim panas tahun 1942. Dia mengenakan seragam tropis (tropenuniform) yang biasa dipakai oleh anggota Afrikakorps, sementara di seragamnya terpampang medali dan penghargaan yang telah dia dapatkan di medan tempur: Eisernes Kreuz I.Klasse, Verwundetenabzeichen, Panzerkampfabzeichen, dan pita Medaglia d'Argento al Valore Militare. Tentu saja yang paling bergengsi dari semuanya adalah Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang tercantol di lehernya yang dia dapatkan pada tanggal 26 Desember 1941. Uniknya, meskipun notabene sudah berpangkat Oberst, schulterklappen di bahunya masih menunjukkan satu rangstern (Oberstleutnant) dan bukannya dua! Lalu kenapa saya yakin foto ini diambil setelah Bayerlein berpangkat Oberst (promosi 1 April 1942)? Itu karena adanya pita Medaglia d'Argento al Valore Militare pemberian Sekutu Italia yang dia dapatkan tanggal 7 Mei 1942 ketika dia sudah berpangkat Kolonel!


 Rommel berunding dengan para staffnya di markas besarnya Libya bulan April 1942 untuk merancang strategi terbaik demi merebut kota pelabuhan Tobruk dari tangan pasukan Inggris. Foto jepretan Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika" ini sendiri pertama kali dipublikasikan pada tanggal 26 Mei 1942. Dari kiri ke kanan: Oberstleutnant im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), Oberstleutnant im Generalstab Friedrich-Wilhelm von Mellenthin (Ic Dritter Generalstabsoffizier Panzerarmee "Afrika"), Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Generalleutnant Walther Nehring (Kommandierender General Deutsches Afrikakorps)


 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) berdiri dengan latar belakang konvoy pasukan Poros (Jerman, Italia, dan sukarelawan Arab) di dekat Gazala yang sedang bergerak maju menuju Tobruk, Mei 1942. Dalam apa yang dinamakan sebagai Pertempuran Gazala, anakbuah Rommel berhasil menggasak pasukan gabungan Inggris dan Persemakmuran, mengusir mereka dari Libya sekaligus menduduki kota pelabuhan Tobruk yang sangat strategis. Hal ini dianggap sebagai pencapaian terbesar Sang Rubah Gurun di Afrika Utara, dan sebagai balasannya Hitler langsung menaikkan pangkat secara luar biasa jenderal favoritnya tersebut menjadi Generalfeldmarschall, sehingga menjadikan Rommel Marsekal (Jenderal Bintang Lima) termuda di seantero Wehrmacht dalam usia 50 tahun! Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller


 Generaloberst Erwin Rommel (kedua dari kanan, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (kanan, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di atas ranpur pribadi Sd.Kfz.250/3 leichter Schützenpanzer Funkpanzerwagen "GREIF" (Grifon/Serang) dalam kancah Pertempuran Gazala (26 Mei s/d 21 Juni 1942). Foto diambil di dekat wilayah Tobruk (Libya)


 Generaloberst Erwin Rommel (memakai topi visor, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (memakai gogel, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di atas ranpur pribadi Sd.Kfz.250/3 leichter Schützenpanzer Funkpanzerwagen WH-937036 "GREIF" (Grifon/Serang) dalam kancah Pertempuran Gazala (26 Mei s/d 21 Juni 1942). Foto diambil oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling di dekat wilayah Bir Hacheim (Libya) bulan Juni 1942


 Generaloberst Erwin Rommel (kanan, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") mengobservasi lapangan di dekat El Alamein (Mesir) sesampainya disana pada tanggal 18 Juni 1942 untuk melakukan pertemuan dengan Fliegerführer Afrika, General der Flieger Otto Hoffmann von Waldau. Berdiri nomor dua dari kiri adalah Oberst Fritz Bayerlein (kanan, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), sementara di latar belakang kita bisa melihat sebuah mobil staff Horch serta Flak 88. Foto oleh Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling


Dengan menggunakan mobil staff Horch Kfz.15, Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi salah satu pangkalan utama Inggris di Afrika Utara tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942, setelah sebuah serangan memutar yang brilian. Sekitar 33.000 orang prajurit Inggris dan Persemakmuran yang tertawan sehingga menjadikannya kekalahan terbesar kedua Inggris dalam Perang Dunia II setelah jatuhnya Singapura (80.000 orang yang tertawan)! Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Dengan menggunakan mobil staff Horch Kfz.15, Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi pangkalan Inggris tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942 (Bayerlein duduk di kiri sementara Rommel di kanan). Di sebelah kiri foto tampak terparkir sebuah Panzerbefehlswagen III Ausf.C/H (SdKfz. 266/267/268). Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"



 Dengan menggunakan mobil staff Horch Kfz.15, Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi pangkalan Inggris tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942). Latar belakang memperlihatkan suasana pelabuhan yang dipenuhi oleh kapal-kapal rusak tak terpakai hasil pemboman selama berbulan-bulan. Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi salah satu pangkalan utama Inggris di Afrika Utara tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942. Disini sang Marsekal sedang berjalan di tengah diikuti oleh seorang perwira Italia di kiri dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di kanan. Di sebelah kanan foto terlihat "britische Kriegsgefangene" (tawanan Inggris) yang sedang duduk-duduk santai menunggu untuk dikirim ke kamp tawanan Jerman di garis belakang. Pada kenyataannya, cukup banyak pasukan dari negara lain yang ikut mempertahankan Tobruk dari serangan Jerman, termasuk dari Australia, Afrika Selatan, dan bahkan Cekoslowakia! Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"



Generaloberst Erwin Rommel (kanan, Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") dan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (kedua dari kanan, Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) mengunjungi Tobruk di Libya tak lama setelah kota pelabuhan yang menjadi salah satu pangkalan utama Inggris di Afrika Utara tersebut jatuh ke tangan pasukan Jerman pada tanggal 21 Juni 1942. Disini tampak sang Marsekal sedang menanyai seorang prajurit Afrikakorps dengan latar belakang pelabuhan tempat bersandar kapal. Foto oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") menerangkan sesuatu di peta kepada para prajurit Jerman dan Italia di Tobruk di hari kota tersebut jatuh ke tangan Jerman. Bertolak pinggang di sebelah kanan adalah Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), sementara di belakang mereka adalah Leutnant tak dikenal yang berasal dari unit Panzertruppen (terlihat dari pin tengkorak di kerahnya). Foto diambil tanggal 21-22 Juni 1942 oleh Kriegsberichter Otto dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika"


 Foto ini diambil pada tanggal 22 Juni 1942 oleh Sonderführer Fritz Moosmüller dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di atas sebuah mobil atap terbuka dalam inspeksi ke kota pelabuhan Tobruk yang baru diduduki oleh pasukan Jerman sehari sebelumnya. Di hari ini pula Rommel naik pangkat secara luar biasa dari Generaloberst menjadi Generalfeldmarschall sebagai penghargaan dari sang Führer untuk prestasinya tersebut


 Foto ini diambil pada tanggal 22 Juni 1942 oleh Kriegsberichter Valtingojer dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika" dan memperlihatkan Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") sedang diwawancarai oleh PK-Tonberichter (reporter radio) Günther Halm mengenai Pertempuran Tobruk yang baru saja usai (dengan pihak Jerman yang keluar sebagai pemenangnya). Di tengah ikut menyimak Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps). Di hari ini pula Rommel naik pangkat secara luar biasa dari Generaloberst menjadi Generalfeldmarschall sebagai penghargaan dari sang Führer untuk prestasinya tersebut



Generaloberst Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") bersama dengan Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) di atas sebuah mobil atap terbuka. Salah satu foto paling terkenal dari "Der Wüstenfuchs" (Rubah Gurun) ini memperlihatkan dia sedang menunjuk sesuatu dengan tangannya, entah untuk tujuan apa. Salah satu sumber menyebutkan bahwa foto ini diambil di pagi hari pada tanggal 24 Juni 1942


Foto ini diambil tanggal 1 Juli 1942 pada permulaan Pertempuran Pertama El Alamein. Erwin Rommel baru beberapa hari dipromosikan secara luar biasa oleh Hitler menjadi Generalfeldmarschall (22 Juni 1942), dan disini sang Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika" sedang mereencanakan rencana serangan Jerman bersama dengan para staff-nya. Di kiri memakai schutzbrille adalah Oberst Fritz Bayerlein (Chef des Stabes Deutsches Afrikakorps), sementara yang memakai tropenmütze terhalang oleh Rommel adalah Oberst Eduard Crasemann. Crasemann adalah Kommandeur Artillerie-Regiment 33 (motorisiert) yang menjadi Führer (Komandan sementara/pengganti) 15. Panzer-Division setelah komandan aslinya, Generalmajor Gustav von Vaerst, terluka dalam Pertempuran Gazala tanggal 26 Mei 1942. Paling kanan (tidak terlihat dari foto) adalah Generalmajor Alfred Gause (Chef des Generalstabes Panzerarmee "Afrika"). Moncong mobil di latar belakang berasal dari jenis 1941 Ford C11 ADF, sementara tempat meletakkan peta yang dipakai oleh Rommel adalah kap Sd.Kfz.250/3 


 Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") mendengarkan saat Oberst Erich Geißler (Kommandeur Infanterie-Regiment 200 [motorisiert] / 90.leichte Afrika-Division) menerangkan tentang disposisi pasukan terkini, sementara di sebelah kiri ikut menyimak Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) dengan tangan di pipi. Foto ini diambil pada tanggal 29 Juli 1942 di hari penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Oberst Geißler (kedua dari kanan), sebagai penghargaan atas prestasinya dalam Pertempuran Pertama El Alamein


 Rommel dan para perwiranya sedang berunding mengenai disposisi 21. Panzer-Division untuk pertempuran mendatang menggunakan bantuan sebuah peta tak lama sebelum dimulainya Pertempuran Alam el Halfa (30 Agustus 1942 - 5 September 1942). Tiga yang berdiri paling kiri adalah, dari kiri ke kanan: Generalmajor Georg von Bismarck (Kommandeur 21. Panzer-Division), Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), dan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"). Von Bismarck nantinya gugur saat memimpin pasukannya setelah tank yang dinaikinya menginjak sebuah ranjau pada tanggal 31 Agustus 1942, di hari kedua ofensif Jerman di Alam el Halfa. Kehilangannya membuat Rommel terpukul karena Von Bismarck adalah salah satu perwira terbaik yang dipunyai Wehrmacht di medan perang Afrika Utara. Foto ini sendiri diambil oleh Kriegsberichter Otto dari PK (Propaganda-Kompanie) "Afrika" saat Rommel mengunjungi Hauptquartier 21. Panzer-Division 


Cuplikan dari klip dokumenter ini memperlihatkan Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika") sedang mendengarkan seorang prajurit Italia (membelakangi kamera) berbicara, sementara di sebelah kanan ikut menyimak Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps). Pria berkumis yang berdiri di belakang di antara Bayerlein dan Rommel adalah Generalmajor Fritz Krause (Höherer Artillerie-Kommandeur Afrika). Tidak ada keterangan kapan foto ini diambil, tapi setidaknya setelah tanggal 1 September 1942 ketika Krause diangkat menjadi Harko Afrika (sebelumnya dia menjadi Artillerie-Kommandeur 142 di Eropa Daratan)


 Upacara penganugerahan Deutsches Kreuz in Gold pada tanggal 23 Oktober 1942 untuk Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), yang disematkan oleh Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"). Uniknya, meskipun sebelumnya Bayerlein telah mendapatkan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (26 Desember 1941), tapi dia memilih untuk tidak mengenakannya di lehernya dalam foto ini. Hal lain yang tidak biasa adalah: normalnya seorang prajurit/perwira Wehrmacht mendapatkan DKiG dulu sebelum Ritterkreuz, tapi Bayerlein malah mendapatkan Ritterkreuz dulu baru disusul oleh DKiG!



 Rommel membahas situasi pertempuran terkini dengan para perwiranya. Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Panzerarmee "Afrika"), Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), dan Major Ziegler. Foto diambil pada periode 31 Oktober s/d 1 November di El-Alamein



Dari kiri ke kanan: Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps), Generalmajor Theodor Graf von Sponeck (Kommandeur 90. Afrika-Division), dan General der Panzertruppe Wilhelm Ritter von Thoma (mit der stellvertretende Führung beauftragt Panzerarmee "Afrika"). Foto diambil pada tanggal 24 Oktober 1942 saat berlangsungnya Pertempuran El-Alamein. Di hari itu dan keesokan harinya Von Thoma menjadi komandan temporer Panzerarmee "Afrika" setelah komandan pengganti sebelumnya, General der Panzertruppe Georg Stumme, meninggal terkena serangan jantung sementara komandan aslinya, Generalfeldmarschall Erwin Rommel, sedang menjalani pengobatan atas sakitnya di Eropa!


 Dari kiri ke kanan: Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) dan General der Panzertruppe Wilhelm Ritter von Thoma (mit der stellvertretende Führung beauftragt Panzerarmee "Afrika"). Foto diambil pada tanggal 24 Oktober 1942 saat berlangsungnya Pertempuran El-Alamein. Di hari itu dan keesokan harinya Von Thoma menjadi komandan temporer Panzerarmee "Afrika" setelah komandan pengganti sebelumnya, General der Panzertruppe Georg Stumme, meninggal terkena serangan jantung sementara komandan aslinya, Generalfeldmarschall Erwin Rommel, sedang menjalani pengobatan atas sakitnya di Eropa!


 Dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe "Afrika"), Oberst Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Heeresgruppe "Afrika"), dan Generalfeldmarschall Albert Kesselring (Oberbefehlshaber Süd). Foto diambil di Afrika Utara bulan Januari 1943 dan pertama kali dipublikasikan tanggal 4 Februari 1943


 Generalfeldmarschall Erwin Rommel (Oberbefehlshaber Heeresgruppe "Afrika") berbicara sambil lewat dengan beberapa orang prajuritnya yang menaiki sebuah halftrack M3 Amerika hasil rampasan, sementara di belakang mereka adalah halftrack Jerman, Wurframen Sd.Kfz.251/1. Di sebelah kanan Rommel berdiri perwira kepercayaannya, Oberst im Generalstab Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes Deutsches Afrikakorps) yang sama-sama menaiki mobil komando Horch Kfz.15. Foto ini diambil saat berlangsungnya Pertempuran Celah Kasserine di Tunisia (19-24 Februari 1943) yang merupakan konfrontasi pertama antara pasukan Jerman dengan pasukan Amerika. Pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh Rommel, dan Sekutu kehilangan 10.000 orang prajuritnya yang menjadi korban (termasuk 6.500 orang prajurit Amerika)


 Generalmajor Fritz Bayerlein (Chef des Generalstabes 1. italienische Armee) bersama dengan para perwira Afrikakorps, musim semi tahun 1943. Dari kiri ke kanan: Leutnant tak dikenal, Bayerlein, Sonderführer Dr. Ernst Franz (penterjemah pribadi Rommel), dan Sonderführer Fritz Moosmüller yang bekerja di Propagandakompanie tapi kebanyakan waktunya digunakan sebagai penterjemah. Perhatikan betapa beraneka ragamnya seragam yang mereka kenakan (dari mulai hijau zaitun, kuning cerah, coklat tua dan abu-abu), sesuatu yang tidak akan anda ketahui bila foto ini dibuat dalam format hitam-putih! Bayerlein memakai seragam jenderal tapi dengan kancing putih standar (bukannya kuning seperti biasanya dikenakan orang berpangkat jenderal). Sekarang beralih ke Moosmüller, perhatikan bahwa tanda pangkat Sonderführer di kerahnya telah dicabut! Dua orang memakai celana dengan saku di betis: hasil rampasan dari Inggris mungkin, atau bikinan sendiri? satu lagi, veteran Perang Dunia I kedua dari kanan dengan bordiran pink panzer di topinya (yang mengindikasikan bahwa dia berasal dari unit panzer) tampaknya tidak ambil pusing untuk memakai logo tengkorak di kerahnya, seperti umumnya panzertruppen di Afrika



 Sebuah foto dari Fritz Bayerlein hasil jepretan Kriegsberichter Ernst Alexander Zwilling yang pertama kali dipublikasikan pada tanggal 12 Juli 1943. Pada saat itu Bayerlein telah berpangkat Generalmajor dan berada dalam daftar Führerreserve Oberkommando des Heeres (Cadangan Aktif Angkatan Darat). Penempatan terakhirnya adalah sebagai Chef des Generalstabes 1. italienische Armee (22 Januari 1943 - 31 Mei 1943), dan seragam tropis yang dikenakannya di medan pertempuran Afrika Utara masih dipakainya beberapa bulan setelah pasukan Jerman terusir dari wilayah tersebut


 Upacara penganugerahan medali Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #258 oleh Hitler untuk Generalmajor Fritz Bayerlein (Führerreserve Oberkommando des Heeres) yang diselenggarakan di Führerhauptquartier Wolfsschanze pada tanggal 7 Juli 1943 (berita penerimaannya telah diterima oleh Bayerlein sehari sebelumnya tanggal 6 Juli 1943). Bayerlein menerima medali yang berada satu tingkat di atas Ritterkreuz tersebut atas prestasinya sebagai Kepala Staff Jenderal 1. italienische Armee di medan perang Afrika Utara beberapa bulan sebelumnya. Berdiri di antara dia dan Hitler adalah mantan atasan Bayerlein, Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang juga sama-sama menjadi Führerreserve Oberkommando des Heeres (Cadangan Aktif Angkatan Darat), sementara di sebelah kanan adalah Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel (Chef Oberkommando der Wehrmacht)



Generalleutnant Fritz Bayerlein sebagai komandan unit elité Wehrmacht, Panzer-Lehr-Division. Dia menjadi komandan divisi tersebut dua kali (karena diselang oleh perawatan atas luka-lukanya). Yang pertama periode 10 Januari 1944 s/d 24 Agustus 1944, dan yang kedua adalah periode September 1944 s/d 15 Januari 1945. Foto ini sendiri diambil pada tanggal 29 Maret 1944 oleh Kriegsberichter Dinstühler dari PK (Propaganda-Kompanie) 649


 Generalleutnant Fritz Bayerlein (kiri, Kommandeur Panzer-Lehr-Division) mengadakan inspeksi ke markas salah satu kompi yang berada di bawah Panzer-Pionier-Lehr-Bataillon 130 yang berada di bawah komando Panzer-Lehr-Division. Panzer-Pionier-Lehr-Bataillon 130 sendiri terdiri dari tiga kompi dan merupakan unit zeni-nya Panzer-Lehr


 Dari kiri ke kanan: Generalleutnant Fritz Bayerlein (Kommandeur Panzer-Lehr-Division) dan Oberst Rudolf Gerhardt (Kommandeur Panzer-Lehr-Regiment 130 / Panzer-Lehr-Division). Ketika Divisionskommandeur Bayerlein terluka dalam pertempuran tanggal 23 Agustus 1944 sehingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit, Regimentskommandeur Gerhardt menjadi komandan sementara Panzer-Lehr-Division sampai dengan tanggal 8 September 1944 ketika Bayerlein sembuh dari luka-lukanya dan mengambil alih kembali komando divisi



Pertemuan dua perwira tinggi Heer dan Waffen-SS: Generalleutnant Fritz Bayerlein (kedua dari kiri, Kommandeur Panzer-Lehr-Division) dan SS-Oberstgruppenführer und Panzer-Generaloberst der Waffen-SS Josef "Sepp" Dietrich (kedua dari kanan, Kommandierender General I. SS-Panzerkorps "Leibstandarte"). Tidak ada keterangan kapan foto ini diambil, tapi kemungkinan besar dalam periode Juni-September 1944 saat Panzer-Lehr-Division berada di bawah komando I. SS-Panzerkorps "Leibstandarte"



Fritz Bayerlein sebagai Generalleutnant dan Kommandeur Panzer-Lehr-Division. Divisinya yang beranggotakan sebagian besar para instruktur panzer terbaik di seantero Jerman ini - makanya namanya Panzer-Lehr-Division atau Divisi Pelatihan Tank - babak belur di medan perang Normandia, bukan karena serangan pasukan darat Sekutu melainkan sebagian besar karena dihantam terus-terusan oleh pesawat-pesawat udara musuh yang menguasai angkasa Prancis! Sebagai sebuah kekuatan tempur, Panzer-Lehr dianggap musnah ketika dibombardir tanpa henti oleh puluhan pesawat Sekutu di jalan Périers-St. Lo, akhir bulan Juli 1944. Pemboman skala masif oleh ribuan pesawat di wilayah Falaise yang menyusul kemudian membuat divisi elité benar-benar babak belur dan harus ditarik ke Jerman untuk menjalani reorganisasi total


 Fritz Bayerlein sebagai Generalleutnant dan Schwerternträger (peraih medali Schwerter zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub). Bisa terlihat disini bahwa sang jenderal membawa serta kenangan saat bertugas bersama Rommel di Afrika Utara dengan memakai tropenuniform (seragam tropis), walaupun notabene kini dia bertugas di iklim dingin Eropa Daratan dan sudah terhitung tahun sejak terakhir kali menginjakkan kaki di bumi Afrika



Dari kiri ke kanan: General der Panzertruppe Walter Krüger (Kommandierender General LVIII. Panzerkorps) dan Generalleutnant Fritz Bayerlein (Kommandeur Panzer-Lehr-Division). Tidak ada keterangan kapan foto ini diambil, tapi kemungkinan besar pada bulan Agustus 1944 saat Divisi Panzer-Lehr pimpinan Bayerlein berada di bawah komando LVIII. Panzerkorps pimpinan Krüger



Tiga orang perwira tinggi Wehrmacht yang bertanggungjawab terhadap pertahanan pasukan Jerman di wilayah Ruhr bulan Maret-April 1945, dari kiri ke kanan: Generalfeldmarschall Walter Model (Oberbefehlshaber Heeresgruppe B), Generalleutnant Fritz Bayerlein (mit der Führung beauftrag LIII. Armeekorps), dan seorang perwira Panzertruppen tak dikenal yang disebut-sebut sebagai penanggungjawab pertahanan Jembatan Remagen. Setelah cari sana sini, saya menemukan bahwa unit tank Jerman yang bertugas di Remagen pada periode ini adalah Panzer-Regiment 15 yang merupakan bagian dari 11.Panzer-Division dan dipimpin oleh Major Jürgen Reichart. Saya tidak tahu apakah perwira di kanan adalah Major Reichart atau bukan, soalnya belum pernah nemu fotonya, dan apalagi ketemu orangnya





Setelah perang Dunia II usai, Fritz Bayerlein menjadi tawanan Sekutu (16 April 1945 - 2 April 1947). Seperti beberapa perwira tinggi Wehrmacht lainnya, dia juga ikut membantu menyumbang tulisan tentang perang di Eropa untuk kepentingan US Army Historical Division. Hal ini - dan juga kisah penyerahannya di Ruhr - membuat Bayerlein dimusuhi oleh banyak mantan koleganya karena dianggap sebagai seorang pengkhianat dan oportunis. Dalam foto yang diambil oleh Walter Sanders bulan Mei 1947 ini digambarkan dia, seorang mantan jenderal terkemuka Jerman peraih medali Schwerter, sedang memperbaiki kendaraan-kendaraan milik militer Amerika (diantaranya adalah jip Willys MB). Saya sedikit bertanya-tanya: apakah ini foto propaganda sebagai penghinaan untuk Jerman, atau Bayerlein sedang belajar menjadi tukang tambal ban buat buka usaha nanti di Indonesia?


 Foto koleksi Bernd Peitz ini memperlihatkan Fritz Bayerlein di hari tua. Setelah keluar dari masa penahannya di bulan April 1947, dia menjadi penulis masalah-masalah militer serta tetap terlibat membantu US Army Historical Division dalam mendokumentasikan studi historis tentang Perang Dunia II di wilayah Eropa dan Mediterania. Dia juga ikut membantu perbaikan tank-tank kepunyaan Angkatan Darat Mesir yang digunakan dalam Perang Arab melawan Israel. Di tahun 1960-an Bayerlein didapuk sebagai penasihat teknis untuk film produksi Carl Foreman yang berjudul "Guns of Navarone". Dia meninggal dunia di tempat kelahirannya di Würzburg (Franconia) pada tanggal 30 Januari 1970 akibat dari penyakit yang dibawanya sejak dari masa tugasnya di Afrika Utara berpuluh-puluh tahun sebelumnya


Sumber :
Buku "Das Afrikakorps: In Original-Farbfotografien" karya Bernd Peitz
Foto koleksi LIFE
www.bildarchiv.bsb-muenchen.de
www.bild.bundesarchiv.de
www.commons.wikimedia.org
www.ecpad.fr
www.forum.axishistory.com
www.gettyimages.com
www.historicalwarmilitariaforum.com
www.lexikon-der-wehrmacht.de
www.multimedia.ctk.cz
www.panzerlehr.forumoteka.pl
www.primaso.de
www.ullsteinbild.de
www.warrelics.eu
www.wehrmacht-awards.com
www.ww2db.com