Tampilkan postingan dengan label Perwira Heer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perwira Heer. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Februari 2015

Hauptmann Werner Baumgarten-Crusius (1919-1995), Perwira Heer



Album foto Werner Baumgarten-Crusius bisa dilihat DISINI

 Oleh : Alif Rafik Khan

Nama lengkap: Werner Baumgarten-Crusius
Panggilan/julukan: Werner
Lahir: 29 Januari 1919 di Dresden/Sachsen (Jerman)
Meninggal: 4 November 1995 di Frankfurt am Main/Hesse (Jerman), dalam usia 76 tahun
Nomor keanggotaan NSDAP: Tidak ada
Nomor keanggotaan SS: Tidak ada
Gelar akademis: Tidak ada
Anggota keluarga: Tidak diketahui
Ciri fisik: Tidak diketahui

Beförderungen (Promosi):
02.11.1937 Fahnenjunker
00.00.1938 Gefreiter
00.00.1938 Oberjäger
00.00.1939 Fähnrich
00.00.1939 Oberfähnrich
01.08.1939 Leutnant
15.10.1941 Oberleutnant
20.04.1943 Hauptmann

Karriere (Karir):
03.04.1937 - 21.09.1937 Menjalani masa tugas wajib di Reichsarbeitsdienst (RAD)
02.11.1937 - 15.11.1938 Anggota 3.Kompanie / Infanterie-Regiment 10
15.11.1938 - 01.08.1939 Offiziersanwärter di Kriegsschule München
26.08.1939 - 00.05.1940 Zugführer di 10.Kompanie / Infanterie-Regiment 10
00.05.1940 - 00.10.1940 Zugführer di 12.Kompanie / Infanterie-Regiment 10
00.10.1940 - 15.10.1941 Ordonnanzoffizier und Adjutant I.Bataillon / Infanterie-Regiment 156 (mot.)
15.10.1941 - 21.11.1941 Führer 5.Kompanie / Infanterie-Regiment 156 (mot.)
21.11.1941 - 04.08.1942 Chef 5.Kompanie / Infanterie-Regiment 156 (mot.)
04.08.1942 - 22.09.1942 Instruktur di OKH (Oberkommando des Heeres)
04.02.1943 - 06.04.1943 Führer I.Bataillon / Grenadier-Regiment 156 (mot.)
06.04.1943 - 13.10.1943 Führerreserve dan menjadi Abteilungsführer di Schule V für Offiziersanwärter der Infanterie di Posen-Warthelager dalam rangka 6. Inspektion der Lehrgruppe II
13.10.1943 - 01.08.1944 Taktiklehrer der Lehrgruppe III an der Schule V für Fahnenjunker der Infanterie
01.08.1944 - 08.08.1944 Führerreserve dan Generalstabsausbildung 218. Infanterie-Division
08.08.1944 - 04.09.1944 Instruktur di Schule I für Fahnenjunker der Infanterie (Dresden)
04.09.1944 - 03.11.1944 Leiter der Fähnrichsväterlehrgäng di Schule für Fahnenjunker der Panzertruppe / Fahnenjunkerschule 2 der Panzertruppe (Groß-Glienicke)
03.11.1944 - 16.12.1944 Führer Ersatz-Bataillon / 116.Panzer-Division 
16.12.1944 - 25.12.1944 Kommandeur I.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 156
25.12.1944 - 14.09.1945 Menjadi tawanan Amerika Serikat 

Orden und Ehrenzeichen (Medali dan Penghargaan):
01.10.1939 Eisernes Kreuz II.Klasse
15.10.1940 Infanterie-Sturmabzeichen in Silber
31.10.1940 Eisernes Kreuz I.Klasse
22.02.1942 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes, sebagai Oberleutnant dan Chef 5.Kompanie / II.Bataillon / Infanterie-Regiment 156 (motorisiert) / 16.Infanterie-Division (motorisiert) / XXXXVIII.Panzerkorps / 2.Armee / Heeresgruppe Mitte, untuk operasi defensif di wilayah pertahanan Panskoj (Donets) melawan pasukan Rusia di musim dingin 1941/1942
20.08.1942 Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille)
09.02.1943 Verwundetenabzeichen in Silber
27.02.1943 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #199, sebagai Oberleutnant dan Führer I.Bataillon / Grenadier-Regiment 156 (motorisiert) / 16.Infanterie-Division (motorisiert) / LVII.Panzerkorps / 4.Panzerarmee / Heeresgruppe Don, untuk performa batalyonnya dalam Pertempuran Lembah Fedorenko melawan pasukan Rusia
00.00.1943 Krimschild

Aufzeichnungen (Catatan):
* Baumgarten-Crusius ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat tanggal 25 Desember 1944 dalam Pertempuran Bulge (Unternehmen Wacht am Rhein) di Verdenne (Belgia), dan ditahan sampai dengan tanggal 14 September 1945.
* Kampanye militer yang telah diikuti: invasi Polandia (1939), Pertempuran Prancis (1940), invasi Yugoslavia (1941), Unternehmen Barbarossa (1941), Pertempuran Brody (1941), Pertempuran Kiev (1941), Pertempuran Voronezh (1942), Pertempuran Kaukasus (1942-1944), dan Unternehmen Wacht am Rhein (1944)


Sumber :
www.das-ritterkreuz.de
www.en.wikipedia.org
www.lexikon-der-wehrmacht.de
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.ritterkreuztraeger.info
www.ww2awards.com

Minggu, 25 Januari 2015

Oberleutnant der Reserve Otto Carius (1922-2015), Jagoan Panzer dengan Korban Terbanyak Kedua setelah Kurt Knispel!


 Album foto Otto Carius bisa dilihat DISINI

 Oleh : Alif Rafik Khan

Nama lengkap: Otto Carius
Panggilan/julukan: Otto
Lahir: 27 Mei 1922 di Zweibrücken, Rheinland-Pfalz (Jerman)
Meninggal: 24 Januari 2015 di Herschweiler-Pettersheim, Rheinland-Pfalz (Jerman)
Nomor keanggotaan NSDAP: Tidak ada
Nomor keanggotaan SS: Tidak ada
Gelar akademis: Bidang farmasi
Anggota keluarga: Otto Carius (ayah), Inge Trapp (istri), Frank Carius dan Carsten Carius (putera)
Ciri fisik: Berbadan kecil (untuk ukuran orang Eropa)

Beförderungen (Promosi):
01.08.1941 Unteroffizier
01.02.1942 Feldwebel
01.10.1942 Leutnant der Reserve
01.08.1944 Oberleutnant der Reserve

Karriere (Karir):
00.00.1932 - 00.03.1940 Belajar di Humanistische Gymnasium di Zweibrücken
01.04.1940 - 21.05.1940 Mendaftar di Wehrmacht dan mengikuti pelatihan dasar
21.05.1940 - 04.08.1940 Mengikuti pelatihan di Infanterie-Ersatz-Bataillon 104 di Posen
04.08.1940 - 27.09.1940 Mengikuti pelatihan lanjutan di Panzer-Ersatz-Abteilung 25 di Erlangen
27.09.1940 - 01.10.1940 Mengikuti pelatihan lanjutan di Stuttgart-Vaihingen dan Putlos bersama dengan  Panzer-Ersatz-Abteilung 7 di Darmstadt
01.10.1940 - 08.07.1941 Bergabung dengan 1.Kompanie / Panzer-Regiment 21 / 20.Panzer-Division
08.07.1941 - 05.08.1941 Ditransfer ke Panzer-Ersatz-Abteilung 25 di Erlangen
05.08.1941 - 29.08.1941 Mengikuti 8. Offiziersanwärterlehrgang di Wünsdorf/Berlin
29.08.1941 - 14.03.1942 Anggota 6.Kompanie / Panzer-Ersatz-Abteilung 25
14.03.1942 - 00.04.1942 Zugführer di 10.Kompanie / Panzer-Regiment 21 / 20.Panzer-Division
00.04.1942 - 00.10.1942 Führer Erkundungs-Pionierzug Stabskompanie III./Panzer-Regiment 21
00.10.1942 - 21.10.1942 Zugführer di 1.Kompanie / I.Abteilung / Panzer-Regiment 21
21.10.1942 - 05.01.1943 Stabskompanie III.Abteilung / Panzer-Regiment 21
05.01.1943 - 10.05.1943 Mengikuti pelatihan operasi Tiger di Panzer-Ersatz-Abteilung 500 di Putlos. Carius mendapat Tiger pertamanya di Sennelager Paderborn
10.05.1943 - 31.03.1944 Zugführer di 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 502
31.03.1944 - 00.06.1944 Stabsoffizier schwere Panzer-Abteilung 502
00.06.1944 - 24.07.1944 Führer 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 502
24.07.1944 - 25.07.1944 Chef 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 502
24.07.1944 - 02.01.1945 terluka parah dalam penyergapan oleh musuh saat melakukan operasi pengintaian menggunakan sepeda motor di depan tanknya sehingga harus ditarik dari front depan menggunakan pesawat terbang untuk mendapatkan perawatan di tanah air. Carius tertembus empat peluru di punggung dan masing-masing satu di lengan, kaki dan leher!
06.08.1944 - 02.01.1945 Mendapat perawatan lanjutan di Reserve-Lazarett Lingen/Ems
02.01.1945 - 11.02.1945 Ditransfer ke Panzer-Ersatz- und Ausbildungs-Abteilung 500
11.02.1945 - 07.05.1945 Chef 2.Kompanie / schwere Panzerjäger-Abteilung 512 (Jagdtiger)
07.05.1945 - 21.05.1946 Menyerah pada pasukan Amerika di Iserlohn dan ditawan
00.00.1946 - 00.00.1948 Belajar farmasi di Sonnen-Apotheke (Zweibrücken)
00.00.1948 - 00.00.1951 Lulus sebagai Apothekerassistent (Asisten Farmasi) dan meneruskan pendidikan lanjutan tentang farmasi di Freiburg/Breisgau
00.00.1951 - 00.00.1952 Kandidatenhalbjahr di Münster Apotheke di Freiburg
00.00.1952 - 00.00.1956 Petugas farmasi di Fortuna Apotheke di Zweibrücken
01.07.1956 - 31.01.2011 Leiter Tiger-Apotheke di Herschweiler-Pettersheim
01.02.2011 - 24.01.2015 Bertugas paruh waktu di Tiger-Apotheke karena faktor usia. Bila memungkinkan, dia bekerja sampai full-time. Carius meninggal dunia dengan tenang dalam tidurnya setelah mengalami masa sakit yang singkat. Usianya menginjak 93 tahun

Orden und Ehrenzeichen (Medali dan Penghargaan):
08.07.1941 Verwundetenabzeichen in Schwarz
18.08.1941 Panzerkampfabzeichen in Silber
19.07.1942 Eisernes Kreuz II.Klasse
20.08.1942 Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42
23.11.1943 Eisernes Kreuz I.Klasse
15.12.1943 Verwundetenabzeichen in Silber
04.05.1944 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #3066, sebagai Leutnant der Reserve dan Zugführer di 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 502 / 61.Infanterie-Division / XXXXIII.Armeekorps / Armeegruppe Narwa / Heeresgruppe Nord (direkomendasikan tanggal 26 April 1944. Dokumen pendahulu dan medalinya sampai di Heeresgruppe Nord tanggal 10 Mei 1944). Carius mendapatkan medali tersebut setelah peleton Tiger yang dipimpinnya berhasil menghancurkan 38 tank, artileri gerak dan 17 senjata anti-tank dalam Pertempuran Narva tanggal 17-22 Maret 1944
15.07.1944 Panzerkampfabzeichen II.Stufe "25" (untuk 25 hari pertempuran tank)
27.07.1944 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub #535, sebagai Leutnant der Reserve dan Führer 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 502 / II.Armeekorps / 16.Armee / Heeresgruppe Nord, setelah berhasil menghancurkan 28 tank dan sejumlah truk Rusia sehingga berhasil melindungi penarikan mundur 290. Infanterie-Division dalam pertempuran di Daugavpils tanggal 21 Juli 1944
01.09.1944 Panzerkampfabzeichen III.Stufe "50" (untuk 50 hari pertempuran tank)
11.09.1944 Verwundetenabzeichen in Gold (untuk lima luka yang diterima tanggal 8 Juli 1941, 9 Desember 1942, 2 Desember 1943, 20 April 1944 dan 24 Juli 1944)
21.04.1945 Panzerkampfabzeichen IV.Stufe "75" (untuk 75 hari pertempuran tank)

Aufzeichnungen (Catatan):
* Pengalaman tempur pertama Carius adalah saat berlangsungnya Unternehmen Barbarossa (invasi Jerman atas Rusia), akhir bulan Juni 1941. Saat itu dia bertugas sebagai loader/ladeschütze Panzer 38(t) buatan Cekoslowakia. Dalam operasi ini pula dia terluka untuk pertama kalinya saat tank yang digunakannya dihantam oleh peluru musuh.
* Dua kali Carius mendaftar masuk militer, dan dua kali pula aplikasinya ditolak karena dianggap "mempunyai berat badan yang kurang". Barulah pada percobaan ketiga dia berhasil dalam usahanya tersebut.
* Total jumlah tank musuh yang dihancurkannya adalah 150+ buah (100-110 buah dalam beberapa sumber), dengan jumlah yang tidak berbeda jauh untuk senjata anti-tank. Mayoritas jumlah kemenangannya diraih di Front Timur saat melawan pasukan Soviet.
* Kampanye militer yang diikutinya: Unternehmen Barbarossa (1941), Pertempuran Gshatsk (1941), Pertempuran Nevel (1943), Pengepungan Leningrad (1944), Pertempuran Narva (1944), Pertempuran Malinava (1944), dan Pertempuran Kantong Ruhr (1945).
* Kendaraan perang yang pernah dioperasikannya: Panzerkampfwagen 38(t), Panzerkampfwagen VI Tiger I tanpa nomor (Tiger pertamanya), Tiger "213", Tiger "217", dan Jagdtiger "Z1".
* Seusai perang menulis buku "Tiger im Schlamm" yang berisikan pengalamannya di masa Perang Dunia II. Edisi bahasa Inggris buku ini berjudul "Tigers in the mud: the combat career of German Panzer Commander Otto Carius".
* Sutradara animasi terkenal Jepang Hayao Miyazaki merupakan penggemar berat Carius. Dia bahkan membuatkan sebuah seri komik tentang aksinya dalam Pertempuran Narva yang diberi judul "Otto Carius: Doromamire no tora" (Tiger Penuh Lumpur)". Komik tersebut diterbitkan secara berkala dalam majalah Model Graphix dari bulan Desember 1998 s/d Mei 1999. Ceritanya sendiri sebagian besar diambil dari buku "Tiger im Schlamm" ditambah dengan hasil wawancara Miyazaki langsung dengan Carius serta penelitian sang sutradara ke Estonia yang menjadi lokasi pertempuran.


Rabu, 15 Oktober 2014

Oberfeldwebel Johann Baichl (1918-1994), Bintara Pemberani dari Austria




Oleh : Alif Rafik Khan

Nama lengkap: Johann Baichl (nama saat lahir: Johann Bäuchl)
Lahir: 28 Agustus 1918 di Gundersdorf/Steiermark (Austria)
Meninggal: 3 Mei 1994 di Voitsberg/Steiermark (Austria)
Nomor keanggotaan NSDAP: Tidak ada
Nomor keanggotaan SS: Tidak ada
Gelar akademis: Tidak ada
Anggota keluarga: Tidak diketahui
Ciri fisik: Tidak diketahui

Beförderungen (Promosi): 
31.01.1941 Gefreiter
00.00.194_ Obergefreiter
00.00.1942 Unteroffizier
20.02.1944 Feldwebel
21.10.1944 Oberfeldwebel

Karriere (Karir):
04.03.1940 - 27.05.1940 Anggota 11.Kompanie / Gebirgsjäger-Ersatz-Regiment 138
27.05.1940 - 01.09.1942 Anggota 1.Kompanie / Radfahr-Bataillon 403
01.09.1942 - 05.01.1943 Mengikuti pelatihan lanjutan di 2.Panzergrenadier-Lehr-Kompanie / Lehr-Abteilung 2 / Kompanieführer-Schule für Schnelle Truppen
05.01.1943 - 24.10.1944 Anggota 5.Kompanie / II.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 33 / 4.Panzer-Division
24.10.1944 - 00.05.1945 Zugführer- und Stosstruppführer-Ausbildung di 5.Kompanie / Armee-Waffenschule der 3.Panzerarmee

Orden und Ehrenzeichen (Medali dan Penghargaan):
31.07.1941 Eisernes Kreuz II.Klasse (atas aksinya dalam Unternehmen Barbarossa)
00.00.1941 Verwundetenabzeichen in Schwarz
00.00.194_ Infanterie-Sturmabzeichen in Silber
00.00.1942 Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille)
28.03.1943.1943 Eisernes Kreuz I.Klasse (atas aksinya dalam Pertempuran Kursk)
00.00.194_ Verwundetenabzeichen in Silber
14.12.1943 Nahkampfspange in Bronze
23.05.1944 Deutsches Kreuz in Gold (atas aksi keberaniannya yang mengagumkan sebagai Zugführer dalam menggulung pertahanan Soviet di Kantong Kovel)
19.06.1944 Nahkampfspange in Silber
23.10.1944 Nahkampfspange in Gold (satu dari 19 orang anggota Panzergrenadier-Regiment 33 yang menerima medali ini)
23.10.1944 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (sebagai Oberfeldwebel dan Zugführer di 5.Kompanie / II.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 33 / 4.Panzer-Division / XXXIX.Panzerkorps / 18.Armee / Heeresgruppe Nord, atas kontribusi dan prestasi beruntunnya di bulan Oktober dalam pertempuran memperebutkan sebuah jembatan di Venta dan Moscheiken serta memimpin serangan yang sukseske wilayah Gaidziai dan Klates-Pulki)

Aufzeichnungen (Catatan):
* Lahir sebagai anak dari seorang tukang kayu Austria di dekat Graz. Dia pada awalnya dinamakan sebagai Johann Bäuchl, tapi berdekade kemudian (dengan alasan yang tidak diketahui), namanya dirubah menjadi Johann Baichl.
* Pertama kali mencicipi pertempuran dalam Unternehmen Barbarossa bulan Juni 1941.
* Terluka (ringan) untuk pertama kalinya dalam Pertempuran Musim Dingin di Rusia tahun 1941.
* Pertempuran yang pernah diikuti oleh Baichl: Kursk, Tim-Korovino-Oboyan, Ssumy, Novgorod, Sewsk, Orel, Desna, rawa Pripyat, Kovel, Baranowitschi, jembatan Schara, Slonim, sungai Narew, Vistula, Warsawa, Lithuania, Kurland, dan Venta.
* Saat ditugaskan di Panzergrenadier-Regiment 33 / 4.Panzer-Division, Baichl serasa di rumah sendiri karena banyak rekan sesama Austria yang juga ditempatkan di divisi TERBAIK Wehrmacht/Waffen-SS tersebut (kalau jumlah Ritterkreuzträger-nya dijadikan patokan)!
* Dalam Pertempuran Kursk, Baichl merasakan bagaimana getirnya pertahanan berlapis Soviet dimana dia dan resimennya berkali-kali menembus pertahanan Soviet yang penuh ranjau, hanya untuk mendapati bahwa telah menanti tank-tank T-34, ranjau darat, senjata anti-tank dan segunduk infanteri di pertahanan selanjutnya, yang kemudian serentak melakukan serangan balik!
* Setelah menerima medali dobel (Ritterkreuz dan NKiG), Baichl langsung ditarik dari front karena Oberkommando der Wehrmacht merasa jasanya terlalu besar untuk disia-siakan. Baichl ditunjuk sebagai instruktur para prajurit baru dimana dia bisa "menularkan" kemampuannya pada calon tukang tempur Wehrmacht selanjutnya.
* Ada kemungkinan sebelum perang berakhir dia ditransfer ke Panzergrenadier-Schule, tapi tidak ada bukti mengenai hal ini.
* Seusai perang Baichl pulang ke negaranya dan melanjutkan karir seperti ayahnya, sebagai seorang tukang kayu.


 Oberfeldwebel Johann Baichl (Zugführer di 5.Kompanie / II.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 33 / 4.Panzer-Division) di hari penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang berlangsung pada tanggal 23 Oktober 1944. Dia menerima medali kebanggaan tersebut langsung dari komandan 4. Panzer-Division yang membawahi Panzergrenadier-Regiment 33, Generalmajor Clemens Betzel. Di hari yang sama Baichl dianugerahi pula Nahkampfspange in Gold untuk prestasi mengagumkan: selamat dalam 50 hari pertempuran jarak dekat!



 
Oberfeldwebel Johann Baichl tak lama setelah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 23 Oktober 1944 sebagai Zugführer di 5.Kompanie / II.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 33 / 4.Panzer-Division / XXXIX.Panzerkorps / 18.Armee / Heeresgruppe Nord, atas kontribusi dan prestasi beruntunnya di bulan Oktober dalam pertempuran memperebutkan sebuah jembatan di Venta dan Moscheiken serta memimpin serangan yang sukseske wilayah Gaidziai dan Klates-Pulki. Foto ini diambil pada waktu yang sama dengan foto pertama di atas, perbedaannya adalah, bahwa dalam foto ini Baichl sedang nyengir kuda


 Dari foto ini jelas terlihat bahwa Oberfeldwebel Johann baichl bukanlah bintara main-main, dan segambreng medali keberanian di seragamnya membuktikan hal tersebut! Medali dan penghargaan yang telah diperolehnya: Eisernes Kreuz II.Klasse (31 Juli 1941); Eisernes Kreuz I.Klasse (28 Maret 1943); Infanterie-Sturmabzeichen in Silber; Verwundetenabzeichen in Schwarz (1941); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); Verwundetenabzeichen in Silber; Nahkampfspange in Bronze (14 Desember 1943); Deutsches Kreuz in Gold (23 Mei 1944); Nahkampfspange in Silber (19 Juni 1944); Nahkampfspange in Gold (23 Oktober 1944); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (23 Oktober 1944). Perhatikan bahwa tandatangan di foto ini masih menggunakan nama lamanya sebelum diganti: Bäuchl!

Sumber :
Buku "The Face of Courage: The 98 Men Who Received the Knight's Cross and the Close-Combat Clasp in Gold" karya Florian Berger

Minggu, 12 Oktober 2014

Oberleutnant Ulrich Siegeler (1923-1994), Ritterkreuzträger yang tidak Diakui



 Oleh : Alif Rafik Khan

Nama lengkap: Ulrich Siegeler
Lahir: 13 Februari 1923 di Weidenau/Siegen/Nordrhein-Westfalen (Jerman)
Meninggal: 28 Februari 1994 di Schönberg-Kalifornien/Kiel (Jerman)
Nomor keanggotaan NSDAP: Tidak ada
Nomor keanggotaan SS: Tidak ada
Gelar akademis: Doktor Ilmu Sosial dan Politik (lulus bulan Februari 1952)
Anggota keluarga: Otto Siegeler dan Hertha Schaumann (orangtua), Friedel Schaub (istri)

Beförderungen (Promosi):
01.06.1942 Gefreiter
01.01.1943 Unteroffizier
01.03.1943 Feldwebel
01.04.1943 Leutnant
30.01.1945 Oberleutnant

Karriere (Karir):
00.00.1941 - 00.10.1941 Reichsarbeitsdienst
20.10.1941 - 00.01.1942 Pelatihan di Ausbildungs- und Ersatz-Bataillon / Schützen-Regiment 59 / 20.Panzer-Division
00.01.1942 - 00.01.1943 Anggota 1.Kompanie / I.Bataillon / Schützen-Regiment 59 / 20.Panzer-Division
00.01.1943 - 00.00.1944 Anggota II.(Schützen-Panzerwagen) Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 59 / 20.Panzer-Division
00.00.1944 - 00.00.1944 Offizierslehrgang di Gießen
00.00.1944 - 30.01.1945 Führer 7.Kompanie / II.bataillon / Panzergrenadier-regiment 59 / 20.Panzer-Division 
 30.01.1945 - 04.09.1945 Dirawat di rumah sakit atas luka-luka parah yang dideritanya

Auszeichnungen (Medali/Penghargaan):
11.06.1941 Reichsportabzeichen
15.10.1941 SA-Wehrabzeichen
20.07.1942 Panzerkampfabzeichen in Bronze
18.10.1942 Verwundetenabzeichen in Schwarz
23.07.1943 Eisernes Kreuz II.Klasse
01.06.1944 Verwundetenabzeichen in Silber
12.09.1944 Eisernes Kreuz I.Klasse
26.02.1945 Verwundetenabzeichen in Gold
20.03.1945 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (sebagai Oberleutnant dan Führer 7.Kompanie / II.bataillon / Panzergrenadier-regiment 59 / 20.Panzer-Division / XVII.Armeekorps / 17.Armee / Heeresgruppe Mitte, atas prestasinya dalam mempertahankan sebuah perempatan strategis di Preiswitz selama satu minggu yang memungkinkan banyak pasukan dan warga sipil Jerman mampu meloloskan diri dari kepungan pasukan Rusia. Pihak musuh berkali-kali menyerang unit Siegeler yang mempertahankan perempatan ini, tapi selalu gagal. Siegeler akhirnya mundur dari sana, itu pun setelah ada perintah dari atasan dan pasukan utama Jerman ditarik dari kota Preiswitz. Pasukan Soviet yang tak lama kemudian datang akhirnya melakukan balas dendam brutal terhadap populasi warga kota yang masih tetap tinggal. BTW, tanggal penganugerahan di Soldbuch tertera sebagai 13 Maret 1945).

Aufzeichnungen (Catatan):
* Saat Perang Dunia II pecah tahun 1939, Siegeler masih menjadi murid SMA di Jungen (Oberrealschule) Weidenau.
* Siegeler mencicipi pertempuran untuk pertama kalinya pada awal tahun 1942 di medan perang Rusia.
* Daftar luka-luka dalam pertempuran yang pernah dideritanya: 15 September 1942 (mengharuskannya dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu), 10 Juli 1943 (terluka dua kali dalam satu hari saat dilangsungkannya Unternehmen Zitadelle sehingga mengharuskannya dirawat di rumah sakit kembali), 30 Januari 1945 (terluka parah saat terkena tembakan di dada sehingga mengharuskannya dirawat selama berbulan-bulan. saat Siegeler keluar dari rumah sakit tanggal 4 September 1945, perang sudah selesai!)
* Siegeler dianugerahi Ritterkreuz tanggal 20 Maret 1945 saat sedang menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka-luka yang dideritanya tanggal 30 Januari 1945. Sayangnya entah kenapa penganugerahan ini tidak tercatat di Bundesarchiv sehingga dianggap tidak resmi alias tidak sah!)
* Siegeler meninggal di tahun 1994 di kota pantai Kiel dalam usia 71 tahun. Jenazahnya kemudian dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Baltik.


Ulrich Siegeler saat menjadi anggota RAD (Reichsarbeitsdienst) tahun 1941. RAD adalah organisasi buruh Jerman yang merupakan salah satu cabang dari NSDAP. Hukum saat itu mewajibkan bahwa setiap laki-laki Jerman usia 18-25 tahun wajib untuk menjalani pelatihan sebagai anggota RAD selama 6 bulan, dan diteruskan dengan wajib militer di salah satu cabang Wehrmacht (Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine) selama 2 tahun


Ulrich Siegeler sebagai seorang kadet militer saat baru masuk ketentaraan. Dia mengikuti pelatihan dasar di Ausbildungs- und Ersatz-Bataillon / Schützen-Regiment 59 selama dua bulan (Oktober 1941 s/d Januari 1942) sebelum ditempatkan sebagai prajurit di 1.Kompanie / I.Bataillon / Schützen-Regiment 59 / 20.Panzer-Division (pada tanggal 7 Mei 1942 resimennya berganti nama menjadi Panzergrenadier-Regiment 59)


Oberleutnant Ulrich Siegeler berpose di hari penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes yang diterimanya tanggal 20 Maret 1945 sebagai Führer 7.Kompanie / II.bataillon / Panzergrenadier-regiment 59 / 20.Panzer-Division / XVII.Armeekorps / 17.Armee / Heeresgruppe Mitte. Meskipun terlihat segar, tapi sebenarnya saat itu dia masih menjalani perawatan di rumah sakit akibat luka tembak yang dideritanya dari tanggal 30 Januari 1945


 Oberleutnant Ulrich Sieger (Führer 7.Kompanie / II.bataillon / Panzergrenadier-regiment 59 / 20.Panzer-Division) berfoto bersama dengan seorang perempuan tua (ibunya?) di Badgastein di akhir-akhir perang. Luka-luka yang diderita oleh Siegeler tanggal 30 Januari 1945 begitu parah sehingga butuh waktu sembilan bulan untuk pemulihannya! Ketika dia akhirnya keluar dari rumah sakit bulan September 1945, perang sudah keburu berakhir


 Empat buah urkunde (dokumen) penganugerahan medali yang pernah diterima oleh Ulrich Siegeler: Panzerkampfabzeichen in Bronze (20 Juli 1942), Eisernes Kreuz II.Klasse (23 Juli 1943), Eisernes Kreuz I.Klasse (12 September 1944), dan Verwundetenabzeichen in Gold (26 Februari 1945). Uniknya, dokumen-dokumen tersebut ada yang menyebutkan nama pertamanya sebagai Ullrich, dan ada juga yang Ulrich!


Sumber :
Buku "Die Ritterkreuzträger des Kreises Siegen-Wittgenstein 1939-1945" karya Uwe Schweisfurth

Rabu, 14 Juli 2010

Unteroffizier Robert Rahlenbeck (1923- ), Penghancur Tank Yang Menyesal Di Hari Tua!

Robert Rahlenbeck dengan medali Ritterkreuz tergantung di kerahnya. Foto paling atas merupakan koleksi pribadi Fakatona



Oleh : Alif Rafik Khan

Robert Rahlenbeck dilahirkan tanggal 4 Desember 1923 di Westphalia, dan pada bulan April 1942 bergabung dengan Angkatan Darat (Heer). Setelah mengikuti pelatihan dasar, dia dimasukkan ke Jäger-Regiment 38 yang merupakan bagian dari 8. Jäger-Division (Jäger sendiri arti harfiahnya adalah hunter alias pemburu). Bersama dengan kawan-kawannya, dia ikut bertempur di Demyansk bulan Agustus 1943. Resimen Rahlenbeck ditempatkan di sebelah selatan Staraya Russa di Penna dan diperintahkan untuk bertahan menghadang laju serangan Rusia. Karena kondisi alamnya yang berlumpur amit-amit sehingga penggalian parit hampir mustahil dilakukan, maka untuk menyiasatinya, Rahlenbeck dan dua orang kawannya bersembunyi di sebuah tank T-34 rampasan yang tidak terpakai, dan bersiap untuk menanti kedatangan musuh di balik sebuah tembok setinggi dua meter.

Sayup-sayup terdengar suara kling klang rantai beroda tank Rusia (yang kebetulan sama-sama T-34) menyusuri jalan dan maju dengan meyakinkan ke arah posisi pertahanan Rahlenbeck. Tak terbayangkan betapa kencangnya degup jantung Rahlenbeck dkk saat itu. Bujug! Ternyata ada puluhan dari mereka!

Hanya kematangan bertempur lah yang membuat Rahlenbeck tetap tenang dan tidak terburu-buru menghujani pasukan "penyamun" itu dengan tembakan meriam dan timah panas senapan mesin. Sedikit demi sedikit musuh makin mendekat, dan ketika dirasa telah cukup untuk berdiam diri, maka dimulailah tembakan gencar. Duarrr!!! Ratatatatat!!! Duuut...

Dalam pertempuran sengit yang terjadi kemudian dan berlangsung dari tanggal 21-23 Agustus 1943 (non-stop Brow!), Rahlenbeck sebagai gunner telah menghancurkan tidak kurang dari 23 tank Rusia, dan prestasi terdahsyatnya terjadi di hari terakhir dengan membumihanguskan 18 tank musuh hanya dalam waktu 90 menit! Saraaaap...

Tentu saja perbuatan semacam ini layak untuk mendapatkan reward, dan datangnya pun instant pula! Di hari yang sama (23 Agustus 1943) tak lama setelah pertempuran berakhir dan resimen Rahlenbeck berhasil mempertahankan posisi mereka, datang pengumuman yang memberitahukan bahwa Gefreiter (Kopral) Robert Rahlenbeck dari kompi ke-16 di Jäger-Regiment 38 telah dianugerahi penghargaan Ritterkreuz. Medali ini baru datang dan diterimanya tiga hari kemudian.

Rahlenbeck masih hidup saat ini (setidaknya ketika tulisan ini dibuat begitu susah payah olehku dengan darah dan air mata... WTF?). Yang unik adalah, Rahlenbeck tidak pernah merasa bangga akan Ritterkreuz yang telah mati-matian diraihnya, tidak bahkan ketika dia mendapat cuti untuk pulang ke kampung halamannya, dan datang turun dari kereta api dengan disambut begitu meriahnya oleh para pejabat kampung dan partai lokal! Saat tahun semakin bertambah, dia makin merasakan penyesalan bahwa di tangannya telah terbunuh begitu banyak manusia lain, yang dia kirim ke alam baka hanya karena mereka berada di pihak yang 'berbeda'. Karena itulah Rahlenbeck tidak pernah mau menanggapi permintaan tandatangan dan foto bareng dari para pengagumnya.

Ritterkreuz-nya sendiri kemudian dia jual dengan harga 2.000 BDM...


Sumber :
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.rommel-lebt.com
www.wehrmacht-awards.com

Kamis, 24 Juni 2010

Hauptmann Julius Erasmus (1895-1971), Si Penggali Kubur Dari Hürtgenwald!

Julius Erasmus, sang pahlawan tanpa pamrih


Monumen untuk memperingati apa yang telah dilakukan oleh Julius Erasmus


Kompleks Pekuburan Militer Jerman di Vossenack


Oleh : Alif Rafik Khan

Dalam bulan-bulan dan bahkan tahun pertama setelah berakhirnya Perang Dunia II, mayat-mayat korban perang yang tak terkuburkan begitu seringnya dijumpai di seantero Eropa sehingga, kecuali kalau mereka berpotensi mengganggu kesehatan penduduk sekitarnya, seringkali mayat-mayat malang tersebut diacuhkan dan dibiarkan bergelimpangan saja dimana-mana!

Di beberapa tempat, mayat prajurit yang dianggap berasal dari pihak musuh dikumpulkan dan digeletakkan begitu saja di tempat terpencil, seakan ingin buru-buru disingkirkan dari pemandangan sekaligus mengubur trauma perang yang masih membekas.

Ternyata masih ada satu orang yang masih mempunyai kepedulian untuk mengatasi masalah ini. Orang mati mempunyai hak untuk dikuburkan secara layak, meskipun berasal dari pihak "lawan". Bila perlu, dia sendiri yang akan melakukan penguburan itu, walau semua orang merasa enggan atau tabu untuk melakukannya.

Julius Erasmus dilahirkan di Aachen tanggal 16 Februari 1895, dan bekerja sebagai pembuat bahan-bahan tekstil sebelum perang pecah. Dia kemudian bertugas di Wehrmacht dengan pangkat terakhir sebagai Hauptmann (Kapten) di unit zeni. Unit tempat dia bernaung terlibat pertempuran sengit melawan pasukan Amerika di hutan Hurtgen, yang tak jauh dari tempat dia dilahirkan.

Tapi bukanlah kepahlawanannya di masa perang yang mengharumkan namanya dan membuat dia mendapat penghormatan layaknya seorang pahlawan di Jerman. Hal yang dilakukannya pasca perang lah yang membuat namanya terkenal...

Pada musim panas tahun 1945, mantan tawanan perang Erasmus pulang kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan seluruh anggota keluarganya telah terbunuh selama berlangsungnya Pertempuran Aachen. Semua miliknya dan juga rumahnya telah dijarah habis atau dihancurkan.

Hatinya hancur lebur. Dia lalu memutuskan untuk pindah ke sebuah kabin kecil yang telah ditinggalkan oleh penghuninya di Hürtgenwald, tempat dimana dia bertugas hanya beberapa bulan sebelumnya (juga merupakan tempat dari beberapa pertempuran paling dahsyat dalam Perang Dunia II).Tapi ternyata Erasmus tidaklah sendirian. Di sepanjang jalan menuju kota, di bawah pohon yang hancur terkena tembakan artileri, dan di rerimbunan pohon... semuanya telah "dihias" oleh mayat-mayat korban perang yang belum dikuburkan.

"Aku tak tega melihat mereka bergelimpangan begitu saja disana, dilupakan dan tak dikuburkan," ucap Erasmus dalam sebuah wawancara untuk surat kabar pasca perang. "Hal tersebut terus-terusan menggangguku."

Lalu Erasmus mulai bertindak, hanya seorang diri, untuk mengumpulkan mayat-mayat prajurit dari berbagai bangsa yang ditemuinya.Dengan kesabaran luar biasa (dapat anda bayangkan bau menyengat yang keluar dari mayat-mayat yang telah membusuk tersebut), dia mulai mencatat identitas mereka satu demi satu demi untuk sekedar memberikan nama di nisan di atas kuburannya.

Dia menguburkan 120 jenazah pertama di pinggir hutan tersebut, sampai komunitas lokal yang mengetahui usahanya memberi dia lahan penguburan yang lebih layak, yang kini dikenal dalam peta militer dengan nama Bukit 470, salah satu wilayah yang paling diperebutkan oleh kedua belah pihak yang berseteru dalam pertempuran Hutan Hurtgen.

Ketika Erasmus sedang sibuk-sibuknya bekerja menguburkan mayat di musim panas tahun 1945 tersebut, para penduduk sekitar mulai menaruh perhatian pada apa yang dilakukannya. Satu demi satu mereka meminjamkan tangan membantu Erasmus, dan tak lama kemudian jumlahnya semakin berlipat ganda dari sebelumnya.

Jangan anda kira bahwa pekerjaan yang dilakukannya aman dari marabahaya. Bisa dibilang bahwa pekerjaan mereka begitu melelahkan, menguras fisik dan emosi, dan juga sangat beresiko. Diperkirakan 100 orang sukarelawan tewas dalam usahanya melacak dan menguburkan yang mati akibat dari ribuan ranjau darat sisa perang yang masih berserakan dimana-mana dan belum meledak. Salah satu korbannya termasuk juga Walikota Vossenack yang bernama Baptist Linzenich!

Ketika pada akhirnya terbentuk badan resmi Penguburan Militer Jerman Vossenack oleh Pemerintah Jerman Barat yang berwenang mengurusi masalah tersebut pada tahun 1952, diperkirakan bahwa Julius Erasmus telah menguburkan, baik seorang diri maupun dibantu, tidak kurang dari 1.569 prajurit yang gugur dalam perang!

Tapi Hürtgenwald masih tetap memunculkan korban-korban perang yang bermunculan dan baru ditemukan kemudian. Erasmus pun masih tetap melanjutkan usahanya beberapa waktu kemudian dengan mendapat bantuan dari masyarakat dan pemerintah. Saat ini jumlah prajurit yang dikuburkan di Vossenack mencapai 2.221 orang dan berasal dari empat negara. 930 di antaranya merupakan makam prajurit tak dikenal.

Bagaimana dengan kelanjutan kisah Erasmus? Ketika percaya bahwa pekerjaannya telah dilanjutkan oleh orang lain, dia berhenti menguburkan para korban perang pada tahun 1952 dan kemudian pergi menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak! Keberadaannya menjadi misteri nasional dan begitu banyak yang mencari dimana keberadaan pahlawan tanpa pamrih ini. Baru kemudian di tahun-tahun belakangan diketahui bahwa dia telah meninggal dunia pada tanggal 3 September 1971 di Nideggen-Abenden yang terletak di Pegunungan Eifel.

Saat ini sebuah monumen untuk memperingati Julius Erasmus telah didirikan di Pekuburan Vossenack, pekuburan yang dirintis dengan usahanya sendiri berpuluh-puluh tahun lalu.

Mari kita beri penghargaan sejenak kepada manusia luar biasa ini. Seorang manusia yang telah kehilangan segalanya akibat perang, tapi masih mempunyai rasa peduli yang besar untuk memastikan bahwa semua mayat korban perang yang ditemuinya, baik dari kalangannya maupun dari pihak musuh, mendapat penguburan yang selayaknya...


Sumber :
www.worldwartwozone.com


Selasa, 15 Juni 2010

Hauptmann (W) der Reserve Egon Aghta (1918-1945), Anggota Penjinak Bom Dengan Penghargaan Tertinggi!



Hauptmann (W) der Reserve Egon Agtha
Hauptmann (W) der Reserve Egon Agtha


Hauptmann (W) der Reserve Egon Agtha


Egon Agtha bukanlah satu-satunya anggota tim penjinak bom yang menerima Ritterkreuz, meskipun dia adalah satu-satunya yang dianugerahi Eichenlaub. Disini Agtha (kedua dari kiri) berfoto di Berlin bersama dengan dua orang Ritterkreuzträger dari Feuerwerker, Karl Kudla (kiri) dan Siegfried Rieger (kanan). Kasual banget kan foto ini? senyum berkembang seakan-akan suasana damai menyelimuti. Padahal bila dilihat dari Ritterkreuz yang terlihat terpasang di leher Kudla dan Rieger, bisa dipastikan bahwa foto ini dibuat paling awal adalah tanggal 18 April 1945, tanggal dimana Kudla dan Rieger menerima Ritterkreuz-nya. Tapi bila kita melihat dari tradisi bahwa si Ritterkreuz biasanya menggelantung melebar dengan pitanya di hari dia dianugerahkan, maka saya bisa meyakinkan kepada Om-Om cabul semua bahwa foto ini diambil SETELAH tanggal tersebut. Lah, terus emang kenapa? Simpel, foto ini diambil di tengah berkecamuk serunya pertempuran Berlin di sekeliling mereka!!!


Oleh : Alif Rafik Khan

Ini adalah sedikit biografi dari Hauptmann (W) d.R. Egon August Aghta, Feuerwerker dengan pencapaian tertinggi dalam Perang Dunia II. Feuerwerker sendiri arti dasarnya adalah "pemadam kebakaran", tapi bisa juga diartikan sebagai unit persenjataan atau penjinak bom darat (Gegana urusan Jihandak kalau di negara kita).

Egon August Agtha dilahirkan tanggal 20 Januari 1918 di Berlin. Setelah menyelesaikan enam bulan keanggotaannya di Reichsarbeitsdienst (RAD), Agtha bergabung dengan Heer pada bulan November 1938 dan ditempatkan di I./Artillerie-Regiment 3 (yang merupakan bagian dari 3. Infanterie-Division) di Frankfurt an der Oder. Setelah ikut berpartisipasi dalam penyerbuan Jerman ke Polandia (yang membuka Perang Dunia II), Agtha meninggalkan resimennya sebagai seorang Gefreiter di bulan Oktober 1939. Dia lalu mengajukan diri sebagai sukarelawan di Kriegs-Feuerwerker-Lehrgang 39/I yang berpangkalan di Heeres-Feuerwerkerschule di Berlin- Lichterfelde. Egon Agtha menjadi Gefreiter (Kopral) di Feuerwerkerdienst sejak bulan Januari 1940 dan kemudian menyusul promosinya menjadi Unteroffizier bulan berikutnya. Setelah masa tugas yang singkat di Kaiserslautern, dia kembali ditempatkan di Berlin (tepatnya di Sprengkommando der Luftwaffe 1./III) tahun itu juga.

Unteroffizier im Feuerwerkerdienst Egon Agtha (buset deh, pangkatnya ribet amat!) terluka parah tanggal 16 September 1941 di wilayah Sachsenhausen yang berada di utara Berlin, ketika dia sedang berusaha menjinakkan sebuah bom Blindgänger yang tersisa setelah serangan udara RAF minggu sebelumnya. Salah satu dari bom Blindgänger tersebut secara tiba-tiba meledak sehingga Agtha menderita luka serius di wajah dan kepalanya, yang mengakibatkan kerusakan sebelah penglihatannya. Setelah menjalani masa perawatan yang lama (dimana salah satu dokter yang merawatnya, Barbara, kemudian menjadi istrinya!), Agtha menerima dekorasi Wound's Badge in Silver dan Iron Cross 2nd class tanggal 14 Desember 1941. Iron Cross tersebut diterimanya karena ia telah berhasil menjinakkan tidak kurang dari 30 buah bom Blindgänger musuh! Karena otoritas militer yang berwenang bermaksud untuk memberhentikannya setelah luka parah yang dialami matanya, maka Agtha menggunakan pendidikan dan pengalaman Feuerwerker yang dimilikinya untuk tetap bisa bertugas. Hanya saja kini dia menjadi perwira Feuerwerker sipil di Wehrmacht, atau (W) Offizier des Waffenwesens. Egon Agtha menerima medali lanjutan yaitu Wound's Badge in Gold tanggal 16 Januari 1943 dan Iron Cross 1st class tanggal 18 Juni 1943 atas hasil kerjanya sebagai Feuerwerker yang terus menghasilkan prestasi yang memuaskan. Dia kemudian menerima promosi menjadi Leutnant (W) di bulan Oktober tahun yang sama.

Setelah bekerja paruh waktu sebagai instruktur di Heeres-Feuerwerkerschule di Berlin dari tahun 1942 sampai 1943, Egon Agtha kembali ke unit lamanya, Sprengkommando 1/III der Luftwafe di Berlin tanggal 1 April 1943. Dari sejak saat itu, dia bersama para rekan Feuerwerker seprofesinya bekerja hampir tanpa henti demi menjinakkan RIBUAN bom Blindgänger yang tersebar di hampir setiap sudut kota Berlin dan "dimuntahkan" oleh pesawat-pesawat pembom USAAF dan RAF. Leutnant (W) der Reserve Egon Agtha menerima Deutsches Kreuz in Gold tanggal 19 Januari 1945 atas prestasinya yang berkutat dengan pekerjaan super-berbahaya tiap hari tanpa henti di tengah kucuran bom Sekutu yang mendera!

OK, sekarang saya meminta pada anda semua, tolong bayangkan sebentar seperti apa pekerjaannya tersebut! Seorang pahlawan tidak hanya diukur dari seberapa banyak ia membunuh musuhnya, seberapa berani ia kala berhadapan dengan lawannya, tapi juga dari seberapa besar peran yang disumbangkannya bagi keselamatan rakyat banyak, dan Egon Agtha lebih dari layak untuk disebut sebagai seorang pahlawan dengan melihat kriteria ini! Seorang penjinak bom haruslah bekerja dalam keadaan yang tenang agar ia bisa berkonsentrasi pada pekerjaan beresiko besar yang dilakukannya, tapi Agtha menjalani pekerjaannya hampir tidak pernah dalam keadaan seideal itu. Di atasnya berseliweran pesawat-pesawat Sekutu dengan bom-bom mereka, belum lagi suara raungan dari ribuan mesin pesawat, sirine tanda bahaya, senjata anti serangan udara, dan teriakan-teriakan dari manusia yang ketakutan atau meregang nyawa!

Tanggal 3 Februari 1945 Agtha menerima Ritterkreuz secara pribadi dari Adolf Hitler langsung atas “vorbildliche Tapferkeit und für sein unerschrockenes Verhalten beim Vernichten von feindlichen Langzeitzündern” (teladan akan keberanian dan sikap tak kenal takut selama tugas menghancurkan detonator musuh dalam waktu yang lama). Pangkatnya ikut dinaikkan menjadi Oberleutnant (W) der Reserve. Tanggal 12 Maret 1945 Egon Agtha kembali menerima Eichenlaub (nomor 778) sebagai tambahan atas Ritterkreuz yang telah didapatnya, sekaligus promosi tambahan menjadi Hauptmann (W) der Reserve. Semua ini sebagai penghargaan atas pekerjaan super berbahaya sekaligus super penting yang dilakukan dia dan teman-temannya di ibukota Reich.

Ketika Pertempuran Berlin dimulai di bulan April 1945, Hauptmann (W) d.R. Egon Agtha dan Sprengkommando-nya dipaksa oleh keadaan untuk ikut berjibaku bertempur melawan Pasukan Merah Uni Soviet yang merangsek makin masuk ke dalam ibukota. Tanggal 24 April, seluruh Sprengkommando dibagi menjadi tiga grup. Yang pertama diperbantukan di Volkssturm, kedua di Stoss-Trupp (dengan dipersenjatai oleh Panzerfaust), dan yang ketiga ikut membantu unit Brückenkommando yang bertugas untuk menghancurkan jembatan-jembatan di sungai yang melintasi kota Berlin. Para personil dan kadet dari Heeres-Feuerwerkerschule I dibagi menjadi dua kompi dan menjadi bagian dari Alarm-Bataillon di bawah komando Major (W) Wolfgang Skorning, dan di bawah kendali dari II./Festungs-Regiment 60. Unit ini mengalami pertempuran yang hebat sehingga kehilangan cukup banyak anggotanya.

Hauptmann (W) d.R. Egon Agtha menjadi komandan grup Panzerjäger (penghancur tank) yang dilengkapi dengan panzerfaust, dan ikut pula bertempur tak kenal henti. Tanggal 1 Mei, Agtha merasa bahwa akhir dari kota Berlin sudah dekat. Ia memutuskan untuk melepaskan anggota pasukannya dari sumpah setia dan menyuruh mereka untuk mencari jalan keluar masing-masing dari pengepungan tentara Soviet. Karena penglihatannya yang lemah, ia kemudian terpisah dari anggota yang lain dan bersama dengan satu orang kamerad, Böhm, berusaha untuk melarikan diri melalui S-Bahn dan U-Bahn dari Tiergarten menuju Reichsportfeld. Mereka mencapai Spandau di pagi tanggal 2 Mei, dan berusaha untuk melintasi jembatan Charlottenbrücke ketika tiba-tiba terjadi baku tembak antara unit Flakvierling dengan pasukan Soviet yang datang. Selama beberapa saat jeda pertempuran yang tercipta, Agtha berusaha untuk lari sekencang-kencangnya melintasi jembatan, tapi kemudian jatuh tersungkur setelah terkena tembakan peluru di kerongkongannya. Böhm pun ikut terkena tembakan di lengan. Meskipun terluka, Böhm berusaha menyeret tubuh Agtha yang kini telah tak bernyawa dan kemudian menguburkannya di Stresowplatz di dekat Charlottenbrücke. Dan berakhirlah sudah kehidupan dari Feuerwerker Jerman paling berprestasi, Hauptmann (W) der Reserve Egon Agtha. Dia gugur di kota tempat dia dilahirkan dan tempat dia menjalani hampir seluruh masa dan tugasnya di dunia.

Bahan untuk biografi singkat ini diambil dari buku karangan Wolfgang Thamm berjudul “Hauptmann (W) Träger des Ritterkreuzes des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub Egon August Agtha – Feuerwerker und Sprengkommadoführer” (2005). Ini adalah sebuah buku kecil yang menarik, terutama bila anda tertarik untuk mengetahui keadaan kota Berlin selama berlangsungnya Perang Dunia II. Anda dapat mendapatkannya di www.cimm.de.

BTW, dalam video Deutsche Wochenschau tertanggal 22 Maret 1945 di bawah, kita bisa melihat cuplikan film saat Egon Agtha mempraktekkan keahliannya, apalagi kalau bukan menjinakkan singa!




Sumber :
www.feldgrau.net
www.forum.axishistory.com






Minggu, 13 Juni 2010

Leutnant Ludwig Bauer (1923- ), Ajaib Dia Masih Hidup Setelah Semua Yang Dia Alami!

Ludwig Bauer di masa perang, dengan udud di tangannya


Ludwig Bauer sebagai perwira Bundeswehr usai perang. Disini dia memakai semua medali versi 1957 (Ritterkreuz, Eisernes Kreuz, Wound's Badge, dan Panzer Assault Badge) karena adanya larangan dari pemerintah Jerman barat untuk menggunakan medali zaman Nazi yang ada swastika-nya!


Oleh : Alif Rafik Khan

Di umurnya yang baru 17 tahun (kelahiran 1923), Ludwig Bauer sudah ngebet untuk berperang dan mengajukan diri sebagai sukarelawan untuk Wehrmacht di awal tahun 1940. Pada saat itu Jerman masih belum kekurangan orang untuk dikirim ke medan tempur dan persyaratan masuknya pun lebih ketat dibandingkan dengan di akhir-akhir perang, sehingga kemudian permintaan Bauer ditolak dan ia disuruh untuk pulang kembali ke rumah. Daripada nganggur diam di rumah nonton Ariel main dokter-dokteran sama Luna Maya, Bauer memutuskan untuk bergabung dengan RAD (Reichsarbeitsdienst) pada bulan Agustus 1940. Dari bulan September sampai dengan akhir November 1940, Bauer berhasil menyelesaikan tugasnya sebagai anggota RAD di Gillersdorf (dekat Fürstenberg), Austria, yang berbatasan dengan negara sekutu Hungaria. Pada akhir tahun 1940, akhirnya Bauer diperkenankan masuk Wehrmacht seperti yang diidam-idamkannya. Ia bergabung dengan pasukan panzer (panzertruppen), khususnya Panzerersatzabteilung 33 yang bermarkas di Pölten. Secara resmi Bauer bergabung bulan Januari 1941.

Setelah menyelesaikan pelatihan dasarnya, Bauer terpilih untuk mengikuti Sekolah Kandidat Perwira. Setelah pelatihan tank lanjutan, Bauer ditempatkan di Feldheer (AD Lapangan). Dari tahun 1941 sampai dengan Maret 1944, Bauer bertugas di Front Timur di Rusia. Ruang lingkup wilayah operasinya adalah sebagai berikut:

Wilayah Utara: Vitebsk-Smolensk-Briansk-Orel-Tula,
Wilayah Selatan: Kursk-Kharkov-Dniepropetrovsk-Odessa,
Pertempuran terakhir antara Februari-Maret 1944 di wilayah Krivoi Rog-Vosnessensk/Bug - sampai Odessa.

Setelah pertempuran habis-habisan dalam melindungi gerak mundur pasukan Jerman melawan pasukan Soviet yang jauh lebih besar kekuatannya, Bauer ditransfer tanpa panzernya ke Braila di Rumania, dan dari sana dilanjutkan ke ibukota Austria Wina melalui kereta api. Setelah beristirahat sebentar, dia dikirim kembali ke Nimes di Selatan Prancis untuk bergabung dengan Divisi Panzer ke-9 yang baru saja mendapat perlengkapan senjata, panzer, dan anggota baru.

Selama berlangsungnya invasi Sekutu ke Normandia, Bauer diperintahkan untuk bergerak ke utara dan melindungi gerak mundur pasukan Jerman ke kota Metz. Sekali lagi dia bergerak tanpa tanknya. Dengan menggunakan kereta api dia mampret lagi ke St. Pölten dimana Divisi Panzer ke-9 kembali menerima material baru untuk mengganti kehilangan yang diderita dalam pertempuran yang terjadi sebelumnya. Bauer berpartisipasi dalam ofensif Ardennes dengan gerak maju terjauh sampai Bastogne, dan dari sana terpaksa harus mundur kembali ke Köln dengan melalui Eifel. Dalam pertempuran-pertempuran di dalam negeri Jerman yang terjadi kemudian, dia ikut serta dalam pertempuran Remagen-Siegtal-Wittgensteiner Land-Erndtebrück-Iserlohn.

Selama 4 tahun pertempuran yang tak henti-hentinya, Bauer telah terluka sebanyak 7 kali dan panzer-nya sendiri terkena tembakan musuh sebanyak 9 kali! Penghargaan yang telah diterima Ludwig Bauer termasuk Wound's Badge in Gold, Panzer Assault Badge 2nd class (untuk 25 pertempuran tank), dan Knight's Cross of the Iron Cross (29 April 1945).

Pengalaman perang dari manusia satu ini bisa dibilang amit-amit, dan dengan melihat catatannya saya benar-benar tak habis pikir bahwa dia masih bernafas sampai saat tulisan ini dibuat! Untuk memperjelas maksud ucapan saya, mari kita lihat catatan tiap kali dia "abgeschossen" atau "dihancurkan":

16 November 1941: Ketika beroperasi di Front Timur di sekitar Tula dengan menggunakan Panzer II, dia menerima tembakan telak dari tank medium Soviet KV2. Supir dan petugas radio tewas.

28 Juni 1942: Selama penyeberangan sungai Tim dengan menggunakan Panzer III (senjata laras pendek 7,5cm KwK L/24), dia menerima tembakan anti-tank musuh yang mengenai kubah menaranya sehingga membunuh Leutnant Sirse.

7 Juli 1942: Dalam Pertempuran Voronezh, dia menerima tembakan telak dari tank medium Soviet KV1 yang mengenai Panzer III yang digunakannya.

24 Agustus 1942: Tetap dengan bersenjatakan sebuah Panzer III (kini dengan senjata laras panjang 7,5cm KwK39 L/60) di dekat Shisdra, kembali dia menerima tembakan telak dari artileri 17,2 cm Soviet. Leutnant Rocholl, Grosshammer dan supir menderita luka parah.

14 Desember 1942: Beroperasi bersama-sama dengan Divisi Panzer ke-12 di wilayah Bjeloi/Rshev. Panzer III (KwK39 L/60) yang digunakannya mendapat tembakan anti-tank yang mengenai bagian kiri tempat supir nongkrong dan ruang melihat gunner. Enke terbunuh, sementara Schmidt, Ewald, dan Betz terluka.

10 Januari 1944: di wilayah terluar Krivoi-Rog, Panzer IV (7,5cm KwK40 L/43) yang digunakannya terkena tembakan anti-tank di bagian kanan. Tak lama kemudian, loader dan gunner terluka parah selama penyerangan ke Vysoki-Sheltije.

12 Januari 1944: Dengan menggunakan Panzer IV (KwK40 L/43) dalam pertempuran di Petrova-Dolina di dekat Sofiefka, dia menerima tembakan dari senjata anti-tank kaliber 12,2 cm yang langsung menghancurkan bagian pantat tank.

Akhir bulan Maret 1945: Dalam pertempuran di dekat Eiserfeld (Siegen), Sturmgeschütz III yang digunakannya menerima tembakan anti-tank musuh. Othmar Hahn terbunuh, sementara gunnernya luka-luka.

10 April 1945: Di sebuah desa Jerman bernama Erndtebrück, Panzerkampfwagen V "Panther" yang digunakannya terkena tembakan kawan sendiri dari sebuah Hetzer (7,5cm PaK39 L/48) yang mengenai bagian sampingnya.

Leutnant Bauer dianugerahi Ritterkreuz tanggal 29 April 1945 dan merupakan penerima Ritterkreuz terakhir dari Divisi Panzer ke-9. Setelah perang usai dia bergabung dengan Bundeswehr dan pensiun sebagai Oberstleutnant (Letnan Kolonel).

Seperti saya bilang sebelumnya, ajaib dia masih selamat setelah semua yang menimpanya!


 

 




Sumber :
www.stengerhistorica.com
www.wehrmacht-awards.com
www.ww2incolor.com

Rabu, 09 Juni 2010

Oberstleutnant der Reserve Dr. Eberhard Zahn (1910-2010), Bertempur Di Afrika Dari Hari Pertama Sampai Hari Terakhir!


Eberhard Zahn dalam kartu pos Hoffmann


Eberhard Zahn sebagai Major der Reserve dan pemegang medali Eichenlaub. Perhatikan tatapannya yang berkhasiat (emangnya jamu?). Perhatikan pula codet di wajahnya, yang merupakan hasil dari MENSUR di masa muda


Obituari Dr. Eberhard Zahn yang dikeluarkan tak lama setelah kematiannya


Oleh : Alif Rafik Khan

Eberhard Zahn dilahirkan tanggal 2 Januari 1910 sebagai anak dari seorang pengacara lokal di Wupertal-Barmen. Dia lalu belajar kedokteran gigi di Frankfurt am Main dan lulus pada tahun 1933 dengan gelar Dr.rer.pol. Selama masa studinya, dia aktif dalam Corps Austria yang sedang ngetrend pada saat itu. Corps Austria sendiri merupakan organisasi para mahasiswa dan mantan mahasiswa Jerman dan Austria yang pernah belajar di Universitas Johann Wolfgang Goethe. Setelah lulus, Zahn bekerja di IG Farben AG sampai dengan tahun 1936, dimana dia kemudian bergabung dengan Thüringischen Gasgesellschaft (Perusahaan Gas Thuringia).

Dia bergabung dengan Wehrmacht ketika Perang Dunia II pecah sebagai bagian dari pasukan cadangan dan Unterführer-Anwärter (kandidat). Unitnya saat itu adalah Panzerjäger-Abteilung 33 dari 33.Infanterie-Division. Selama penyerbuan Jerman di Barat dia dipromosikan menjadi Leutnant pada tanggal 6 Januari 1940 setelah memperlihatkan keberanian dan heroisme yang mengagumkan di medan pertempuran. Kemudian unitnya dimasukkan menjadi bagian dari 15.Panzer-Division dan dikirimkan bersama Erwin Rommel ke medan perang Afrika Utara. Di teater ini dia akan bertempur dari hari pertama sampai hari terakhir eksistensi pasukan Jerman disana! Posisinya tentu saja tidak mentok disitu-situ saja. Dari Abteilung-Adjudant, Kompanie-Chef, dan kemudian sebagai komandan Panzerjäger-Abteilung. Selama penguasaan benteng Capuzzo oleh Inggris, Zahn tertangkap. Tapi hebatnya Om satu ini, dia berhasil melarikan diri dengan melintasi padang pasir Mesir dan kembali bergabung ke pasukannya!

Sebelum kampanye di Afrika, Zahn dipromosikan menjadi Oberleutnant der Reserve pada tanggal 9 Januari 1941. Tanggal 30 Juni 1941 (versi lain tanggal 30 Mei 1941) dia menerima penghargaan Ritterkreuz atas keberaniannya dalam menghadapi Munaroh eh musuh. Tanggal 10 Januari 1942 dia naik pangkat lagi, kali ini menjadi Hauptmann. Tanggal 17 Agustus 1942 dia dianugerahi medali keberanian berbahan perak dari Sekutu Jerman di Afrika, Italia. Ini membuktikan bahwa kapasitas dan kualitas Zahn diakui tidak hanya oleh negaranya, tapi juga negara lain! Tanggal 6 Maret 1943 Eberhard Zahn menjadi prajurit Wehrmacht ke-204 yang menerima medali Eichenlaub sebagai tambahan untuk Ritterkreuz-nya.

Setelah menyelesaikan masa tugasnya di Afrika Utara yang kering, Zahn masih harus berjibaku di iklim tropis ketika menjadi staff dari Generaloberst Hans-Valentin Hube yang berusaha menghalangi pendaratan tentara Sekutu di Sisilia.

Sebagai komandan dari Schwere Panzerjäger-Abteilung 88 (Hornissen) di bulan Februari 1944, Zahn ikut pula mencicipi aksi di Front Timur ketika bertempur menahan pasukan Merah demi melindungi gerak mundur Wehrmacht dari Ukraina Utara melalui Dnjestr dan Pegunungan Karpathia. Setelah sembuh dari luka-luka parah yang dideritanya, kembali Zahn harus ikut serta dalam aksi gerak mundur tentara Jerman melalui Balkan dan Prusia Timur. Dari sejak tanggal 12 Januari 1944 Zahn diserahi tanggungjawab sebagai komandan Panzer-Regiment 9 di Polandia, Austria, dan dalam kondisi yang tak terbayangkan buruknya di Cekoslowakia. Tak terhitung luka-luka yang dideritanya dalam pertempuran selama 6 tahun peperangan yang tak henti-hentinya, dan karenanya dia dianugerahi Wound's Badge in Gold.

Eberhard Zahn kemudian menghabiskan hari-harinya sebagai tawanan Uni Soviet sebelum kemudian dilepaskan. Dia lalu bekerja di industri kedokteran gigi sebelum menjadi anggota komisaris perusahaan pembuat bubur kertas Waldhof di Wiesbaden. Dari tahun 1957 sampai dengan pensiunnya, Zahn menjadi CEO dari Nitrogen-Ruhr Aktiengesellschaft di Bochum.

Dr. Zahn telah meninggal dunia pada tanggal 7 Februari 2010, di usianya yang ke-101! Sebelum meninggal dia menderita kebutaan, tapi masih sempat untuk membalas beberapa surat pengagum yang dialamatkan kepadanya.

Medali dan penghargaan :
Ritterkreuz: am 30.06.1941 als Oberleutnant der Reserve und Zugführer in der 2. Kompanie / Panzer-Jäger-Abteilung 33
Eichenlaub (204): am 06.03.1943 als Hauptmann der Reserve und Chef der 2. Kompanie/ Panzer-Jäger-Abteilung 33
- Eiserne Kreuz I.klasse: 00.00.1940
- Eiserne Kreuz II.klasse:
- Kgl. Italien. Silberne Tapferkeitsmedaille: 17.08.1942
- Verwundetenabzeichen in Silber
- Allgemeines-Sturmabzeichen des Heeres in Silber
- Ärmelband “Afrika”
- Verwundetenabzeichen in Gold: 00.01.1945


Sumber :
www.de.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.stengerhistorica.com
www.wehrmacht-awards.com


Sabtu, 23 Januari 2010

Seorang Erwin Rommel Di Mata Supir Pribadinya!

Achtung! Ini bukan foto tokoh utama kali ini, Rudolf Schneider, melainkan foto dari orang bernama Helmut von Leipzig. Lah, kenapa do'i jadi ikutan nongkrong? Soalnya selain Schneider, dia juga tercatat sebagai salah satu supir Erwin Rommel di padang Afrika, dan juga mempunyai kisah tersendiri pengalamannya selama ngalor ngidul kemana-mana bareng "The Desert Fox"!





Salah satu foto Rommel bersama supirnya dan perwira Italia dengan menaiki mobil Horch Kfz 15. Tidak ada keterangan mengenai nama sang supir. Apakah dia Helmut von Leipzig ataukah Rudolf Schneider? Lihat saja tampangnya dan bandingkan dengan foto di atas dan di bawah!





Nah, yang ini baru foto dari Rudolf Schneider (duduk) sewaktu bertugas bersama Deutsche Afrikakorps di Afrika





Rudolf Schneider (kanan) bersama dengan John Riggs, mantan musuh berat dalam perang di Afrika Utara yang kini menjadi teman dekat





Oleh : Alif Rafik Khan



Dalam musim panas tahun 1941, dua grup tentara Jerman dan Inggris bertemu di padang pasir Libya yang panasnya amit-amit. Bukannya saling menembak, kedua pihak yang bermusuhan ini malah bertukar rokok sebelum mereka berpisah. Apa yang membuat pertemuan ini lebih luar biasa lagi adalah fakta bahwa Erwin Rommel, panglima pasukan Jerman di Afrika Utara, ikut berada disana!



Kisah pertemuan singkat yang luar biasa dan tak pernah terungkap sebelumnya ini, mengemuka dalam pertemuan antara grup veteran Inggris dengan Rudolf Schneider, mantan tentara Afrika Korps yang mengingat dengan jelas gencatan senjata sementara tersebut karena di hari itulah dia menjalankan tugasnya sebagai supir pribadi Erwin Rommel. Dalam dua tahun yang penuh gejolak, melintasi padang-padang pasir yang membentang di antara Libya dan Mesir dengan memakai kendaraan pengintai rampasan dari Inggris, Herr Schneider menjadi salah satu bagian dari pasukan pelindung elit di sekeliling Rommel. Bisa dibilang, telah 500 mil hamparan padang pasir dia jelajahi dengan ahli strategi terkenal tersebut berada di sampingnya! Hmmm... nikmaat.



Herr Schneider mempunyai kemampuan berbahasa Inggris yang fasih, yang dipelajarinya sewaktu masih menjadi pelajar agrikultur sub-tropis. Dia berkata bahwa rendezvous langka antara Rommel, yang bernama lain Serigala Padang Pasir, dengan unit pengintai Inggris, adalah satu dari dua peristiwa yang memperlihatkan baik sisi kemanusiaan dan kebrutalan pertempuran yang terjadi di Afrika Utara. Herr Schneider, yang saat ini berusia 86 tahun, berkata, “Prajurit biasa tidak bertindak berdasarkan pada kebencian. Ketika kami bertemu dengan tentara Inggris di gurun pada saat itu, kami jauh dari mana-mana. Tak ada alasan untuk menembak. Kami lalu saling bertukar rokok dan aku menyempatkan diri bicara dengan si perwira Inggris. Inilah salah satu pengalaman langka yang aku masih ingat betul. Ada pula kala kami begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh musuh.”



“Rommel sangat menikmati setiap kesempatan berkeliling ke front terdepan. Kami akan pergi jauh ke padang pasir demi keperluan penyelidikan. Satu waktu dari kejauhan kami melihat 14 orang prajurit Jerman yang tampaknya sedang tertidur. Ketika didekati, kami terkejut begitu mendapati bahwa mereka semua telah terbunuh dengan digorok lehernya! Tak jauh dari sana kami menemukan sebilah Kukri, pisau khas yang biasa digunakan oleh prajurit Gurkha Inggris. Aku masih menyimpan pisau tersebut.”



Ganasnya pertempuran demi pertempuran yang berkobar di padang pasir Afrika Utara dan dilakukan oleh prajurit-prajurit muda yang mempertaruhkan nyawa jauh dari kampung halaman, telah digantikan oleh rasa ikatan persahabatan yang kuat di antara mantan-mantan musuh. Hal ini sangat jelas terlihat ketika Herr Schneider bertemu dengan lima orang mantan prajurit Desert Rats, termasuk seorang supir ambulans yang secara tidak sengaja mengarahkan kendaraannya ke posisi panzer Jerman yang saat itu kebetulan sedang mendapat inspeksi khusus dari Rommel. Apa yang terjadi? Si supir naas, yang bengong ketika melihat sang legenda berdiri tepat di depan batang zakarnya, malah disuruh untuk balik lagi ke wilayahnya oleh Generalfeldmarschall Rommel, dengan Herr Schneider berada di sisinya! “Kita sekarang menjadi teman, teman dekat.” Katanya. “Ada masa dimana aku pernah menjadi prajurit Jerman dan mereka prajurit Inggris, tapi saat ini begitu sulitnya untuk mengerti kenapa kita harus saling membunuh satu sama lain. Rommel selalu merupakan prajurit kelas satu yang ksatria tiada dua dan selalu mengedepankan prinsip-prinsip dasar peperangan. Kami tak pernah lupa bahwa yang kami hadapi di medan perang adalah sesama manusia juga yang mempunyai perasaan dan hati.”



Veteran Jerman yang berasal dari Stauchitz di dekat Dresden ini bergabung dengan Wehrmacht di usianya yang ke-18 pada tahun 1941, dan langsung dimasukkan menjadi anggota pasukan Hitler yang bertugas di Afrika Utara. Sebelumnya Schneider ditugaskan di Irak, dimana kemampuannya yang berharga akan persenjataan Inggris dan Sekutu membuatnya mendapat penilaian khusus di mata para komandannya. Setelah tiba di Libya, Schneider ditempatkan di Kampfstaffel Khiel, sebuah pasukan pelindung dan pengintai pribadi di sekeliling Erwin Rommel yang beranggotakan 386 orang. Di masa 18 bulan selanjutnya, Rommel hampir-hampir membawa pasukan Sekutu bertekuk lutut di kakinya. Panglima Jerman berotak cemerlang ini dikenal karena serangan-serangannya yang berani sampai masuk jauh ke wilayah kekuasaan Inggris, seringkali dengan mengesampingkan protes dan saran dari staff seniornya sendiri!



Herr Schneider melanjutkan, “Aku adalah salah satu supir pribadi Rommel. Aku dipilih karena aku menguasai bahasa Inggris dengan baik dan dapat mengoperasikan peralatan mereka. Aku juga mempunyai pemahaman dan ingatan yang dalam tentang alam Afrika, yang merupakan faktor penting bila kita berada di tengah padang pasir. Kami biasa bepergian jauh, dengan satu-satunya pilihan pemandangan yang dapat kau lihat adalah pasir, batu-batuan dan pasir lagi. Rommel benar-benar merupakan seorang prajurit tulen dan juga tidak memandang seseorang berdasarkan pangkat atau jabatan. Dia biasa makan bareng-bareng kita, dan selalu ingin berada sedekat mungkin dengan ganasnya pertempuran di front depan. Saat itu aku adalah seorang prajurit muda yang lugu dan selalu berkata ‘ja kommandant’ setiap dia memerintahkan sesuatu, tapi aku telah menyaksikan bermacam hal. Satu waktu aku pernah melihat dia berdebat dengan komandan pasukan Italia gara-gara dia ingin menyerang secepatnya posisi pasukan musuh yang dilihatnya lowong. Itulah Rommel, selalu tidak menunda-nunda bilamana dilihatnya ada kesempatan untuk menaklukkan musuh.”



Meskipun mempunyai hubungan erat dengan Komando Tinggi Nazi dan secara pribadi merupakan pengagum berat Hitler, Rommel selamat dari cap sebagai seorang Nasional-Sosialis. Herr Schneider berkata, “Ketika unit kami mendapat giliran difoto oleh fotografer dari bagian propaganda, mereka akan membentangkan bendera Swastika di atas kendaraan kami. Setelah si kameramen menyelesaikan tugasnya dan pergi, Rommel akan memerintahkan agar bendera tersebut disingkirkan. Dia tidak menyukai simbol-simbol Nazi, dan satu waktu ketika ditanya apa alasannya, dia menjawab, ‘Aku prajurit Jerman dan berjuang untuk negaraku.”



Seperti orang yang ditugaskan untuk dilindunginya, Kampfstaffel Khiel pun terkenal kemana-mana karena keberaniannya menyelusup ke wilayah musuh. Rudolf Schneider sendiri dianugerahi Eisernes Kreuz karena ikut ambil bagian dalam misi super berbahaya yang di antaranya terdiri dari merampas kereta api lalu mengarahkannya 50 mil ke dalam wilayah Inggris dengan tujuan untuk meledakkan gudang amunisi raksasa milik Musuh!



Robert Lyman, mantan prajurit Inggris yang kemudian menjadi sejarawan perang, telah menemukan Herr Schneider ketika sedang melakukan penelitian untuk bukunya yang berjudul ‘The Longest Siege’. Buku itu bertutur tentang salah satu pertempuran kunci dalam kampanye di Afrika, Pengepungan Tobruk, dimana Lyman berkomentar tentangnya, “Bila Rommel berhasil dalam usahanya menguasai Mesir, maka Kerajaan Inggris Raya akan terbelah menjadi dua. Suplai penting yang dikirimkan melalui Terusan Suez tentunya akan terganggu, sementara di lain pihak Hitler mempunyai akses tak terbatas terhadap minyak seperti yang diidam-idamkannya selama ini.”



Keunggulan jumlah, mesin perang dan taktik yang diadopsi oleh Field Marshal Montgomery di El Alamein telah membuyarkan ambisi Rommel, dan berujung pada penangkapan massal tentara Jerman dan Italia di Tunisia pada tahun 1943, termasuk Rudolf Schneider. Dia menghabiskan waktu selama enam tahun di kamp tawanan Sekutu, sebelum akhirnya kembali pulang ke tanah kelahirannya yang kini menjadi Jerman Timur pada tahun 1949. tunangannya, Alfreda, masih setia menanti. Pasangan itu akhirnya menikah, dan Herr Schneider menjadi seorang peneliti tanaman. Dia berkata, “Aku adalah orang yang beruntung. Alfreda dan aku menikah dan kami dikaruniai tiga orang anak. Bisa dibilang kami hidup tenang dan damai, meskipun aku tidak pernah melupakan saat-saat dalam peperangan dan juga musuh kami, yang kini menjadi teman-temanku.”



Mengenai Rommel sendiri, pada puncak kejayaannya di Afrika Utara, seorang Jenderal Inggris dengan enggan mengaku bahwa dia “seperti mempunyai kemampuan mistis... seorang manusia super.” Dia dianggap sebagai perancang strategi yang jempolan dan merupakan pengejawantahan utama dari taktik Blitzkrieg. Rommel biasa membawa barisan panzernya jauh masuk ke wilayah Sekutu, dengan tujuan membelah dua musuh sehingga lebih mudah untuk dikalahkan. Hal ini telah dipraktekkannya dari sejak invasi Jerman ke Prancis tahun 1940, dan juga kampanye di Afrika tahun 1941 sampai dengan 1943. sudah biasa baginya mengacuhkan perintah dari atasannya demi mengeksploitasi secara maksimal kelemahan lawannya dan mengalahkannya secara komplit.



Tapi kesuksesan itu dibayar dengan harga mahal. Jalur suplai Afrika Korps-nya menjadi terlalu jauh terbentang, sehingga kemudian menjadi faktor utama kekalahannya. Rommel kemudian dituduh terlibat dalam plot bom terhadap Hitler pada bulan Juli 1944. tanggal 14 Oktober 1944, rumah Rommel mendapat kunjungan dari para jenderal Heer, yang mengultimatumnya: bunuh diri lalu kemudian mendapat pemakaman secara militer, atau diadili dengan dakwaan pengkhianatan berat. Rommel adalah Rommel, yang lebih memikirkan kepentingan keluarganya, dan dia memilih pilihan pertama. Dia ambil itu racun sehingga meninggal karenanya. Sampai kejatuhan Hitler, orang-orang hanya mengetahui bahwa sebab kematian jenderal legendaris ini adalah karena kerusakan otak yang dideritanya setelah mendapat serangan udara Sekutu.





Sumber :

www.news.bbc.co.uk

www.encyclopedia.com

www.independent.co.uk

www.afrikakorps.org