Para imam Handschar dalam kunjungan mereka ke Potsdam, bulan Juli 1943. Berdiri dari kiri ke kanan: Imam Husejin Dzozo, Imam Ahmed Skaka, tak diketahui, SS-Schütze Zvonimir Bemwald, SS-Obersturmführer Heinrich Gaese, Imam Divisi Abdulah Muhasilovic, orang Jerman yang tak diketahui namanya, Imam Haris Korkut, Imam Dzemal Ibrahimovic, Imam Hasan Bajraktarevic, Imam Salih Sabanovic, Imam Fikret Mehmedagic, Orang Jerman tak diketahui yang cuma sebagian terlihat, dan Imam Sulejman Alinajstrovic. Berlutut dari kiri ke kanan: Imam Muhamed Mujakic, Imam Halim Malkoc, Imam Kasim Maric, Imam Hasim Torlic, and Imam Osman Delic.
Oleh : Alif Rafik Khan
Halim Malkoc (1917 - 7 Maret 1947) adalah seorang imam Muslim Bosnia yang bertugas di Waffen-SS Divisi Handschar dengan pangkat terakhir Obersturmführer (Letnan Satu). Dia terkenal karena peranannya dalam meredam pemberontakan sebagian prajurit Handschar di Villefranche-de-Rouergue tahun 1943. Atas jasanya tersebut, dipercaya bahwa Malkoc menjadi orang beragama Islam satu-satunya yang menerima medali Eisernes Kreuz atau Salib Baja dalam Perang Dunia II!
Ketika perang tersebut pecah, Malkoc telah menjadi seorang imam muda di Bosnia. Dia pun sebelumnya telah bertugas di dinas kemiliteran Yugoslavia sebagai perwira, dan dikenang sebagai seorang pemimpin militer yang berbakat. Pada tahun 1943 dia bergabung dengan Divisi Gunung SS ke-13 "Handschar" yang baru dibentuk, dan diserahi tugas sebagai imam shalat sekaligus ulama di "SS-Gebirgs-Pioneer Bataillon 13". Pada bulan Juli dia dan beberapa ulama Muslim lainnya dikirim ke Dresden untuk mengikuti "kursus Pelatihan Imam" selama tiga minggu yang diorganisasi oleh SS-Obergruppenführer Gottlob Berger dan perwira kehormatan SS Mohammad Amin al-Husseini (Mufti Besar Yerusalem). Mata pelajaran yang diberikan termasuk pengetahuan mengenai Waffen-SS; organisasi dan pangkatnya, juga pelatihan bahasa Jerman. Di waktu senggang, para imam tersebut diberikan kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat terkenal di Jerman seperti Berlin Opera, Kastil Babelsberg, Potsdam dan Nicholaisee.
Selama pelatihan tersebut, kaum komunis Prancis atau "agents provocateurs" yang menyusup ke dalam Divisi telah mendorong terjadinya pemberontakan di sebagian prajurit Handschar pada tanggal 17 September 1943 sehingga mengakibatkan terbunuhnya beberapa perwira Jerman yang diperbantukan disana. Malkoc dan orang Jerman Dr. Schweiger segera berusaha mengendalikan situasi yang semakin memburuk. Akhirnya, yang sebagian besar disebabkan semata oleh kelemahlembutan dan juga pengaruhnya, dia berhasil membujuk para prajurit yang memberontak untuk menyerah dan menurunkan senjatanya.
Atas jasanya tersebut yang krusial, dia dianugerahi Eiserne Kreuz II klasse pada bulan Oktober 1943. Setahun kemudian dia ditunjuk sebagai kepala imam seluruh Divisi Handschar ketika imam pertama yang ditunjuk Jerman, Imam Abdullah Muhasilović, desersi pada tanggal 21 Oktober 1944.
Setelah perang usai, pemerintah komunis yang berwenang di Yugoslavia memerintahkan untuk menghukum mati Imam Halim Malkoc. Tanggal 7 Maret 1947 dia menghembuskan nafas terakhirnya di tiang gantungan di Bihac.
Para prajurit, perwira dan imam dari Wolga-tatarische Legionäre sedang melaksanakan shalat berjamaah di tempat terbuka (1943). Banyak yang mengira bahwa ini adalah foto personil Handschar, tapi dengan melihat pola shoulder boardnya, tahulah kita kalau mereka adalah anggota Ostvolk. Entahlah dengan sang imam sendiri yang jelas-jelas anggota SS (perhatikan kerahnya)!
Salah satu contoh foto langka mullah (musulmans) anggota SS
Oleh: Alif Rafik Khan
Sekolah SS untuk para mullah (Imam Schule für der Ostturken) dibuka tanggal 26 November 1944 di Dresden oleh SS-Brigadeführer Walter Schellenberg. kemungkinan sekolah ini hancur lebur akibat pemboman brutal dari Sekutu pada bulan Februari 1945, meskipun kepastiannya masih belum dapat ditentukan.
Untuk para imam dari divisi SS ke-13 "Handschar" sendiri, mereka disekolahkan di dua buah fasilitas yang berbeda. Lehrgang (kursus) pertama didirikan di Potsdam-Babelsberg, sedangkan yang kedua di Guben.
Meskipun saya tidak munafik kalau mengatakan bahwa saya menyukai sejarah Nazi, tapi saya pun ingin memberikan ulasan yang berimbang dalam hal ini, semata atas nama ilmu pengetahuan. Berikut saya kutip pendapat ilmuwan Turki yang begitu gigih memperjuangkan Islam, Adnan Okhtar alias Harun Yahya (betapa saya mencintainya atas nama Allah!), tentang Nazisme :
Nazisme lahir di tengah konflik politik yang dialami Jerman setelah Perang Dunia Pertama. Pemimpin Partai Nazi adalah Adolf Hitler, sosok yang sangat ambisius dan agresif. Hitler memiliki pandangan sangat rasis. Ia sangat meyakini keunggulan bangsa Jerman atau "Arya" di atas ras-ras lain. Ia memimpikan ras "Arya" Jerman akan segera mendirikan imperium yang bertahan selama seribu tahun.
Teori evolusi Darwin muncul untuk memberikan landasan ilmiah bagi teori rasis Hitler. Hitler juga mendapatkan dukungan ideologis dari karya Heinrich von Treitschke, sejarahwan rasis Jerman. Treitschke sangat dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin dan mendasarkan pandangan rasisnya pada Darwinisme. Ia berkata: "Bangsa-bangsa hanya dapat berevolusi melalui perjuangan sengit, seperti pandangan Darwin tentang 'Perjuangan Untuk Mempertahankan Hidup'". Hitler juga memperoleh inspirasi dari teori Darwin tentang "Perjuangan untuk Bertahan Hidup". Judul buku terkenalnya "Mein Kampf", yang berarti "Perjuangan Saya", hanyalah pencerminan konsep Darwin ini.
Hitler, sebagaimana Darwin, menganggap ras-ras selain Eropa sedikit lebih dari kera dan menambahkan: "Hapuskan bangsa Jerman Nordik dan tak ada yang tersisa kecuali tarian kera". Dasar berpijak pandangan evolusionis kaum Nazi ada pada konsep "Eugenics". Eugenics berarti "perbaikan" ras manusia dengan membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta memperbanyak jumlah individu sehat. Menurut teori Eugenics, ras manusia dapat diperbaiki dengan cara yang sama sebagaimana hewan berkualitas baik dapat dihasilkan melalui perkawinan hewan-hewan yang sehat.
Sebagaimana dapat diduga, pendukung eugenics adalah para Darwinis. Pemimpin gerakan eugenics di Inggris adalah sepupu Charles Darwin, yakni Francis Galton, dan anaknya, Leonard Darwin.
Jelas bahwa teori eugenics adalah akibat alamiah dari Darwinisme. Fakta ini juga tampak sangat jelas di berbagai publikasi yang menyebarluaskan sains aneh ini, diantara kutipan berbunyi: "Eugenics adalah pengaturan mandiri evolusi manusia".
Yang pertama mendukung dan menganjurkan eugenics di Jerman adalah Ernst Haeckel, ilmuwan biologi evolusionis terkenal. Ia mencetuskan teori "rekapitulasi", yang menyatakan bahwa embryo spesies berbeda, menyerupai satu sama lain. Di kemudian hari diketahui bahwa Haeckel telah memalsukan gambar-gambar yang ia gunakan untuk menyebarkan teorinya. Haeckel memalsukan gambar-gambar untuk menunjukkan bahwa embryo ikan, manusia atau ayam mirip satu sama lain. Beberapa bagian dari embryo ia hilangkan dan beberapa lainnya ia rubah. Bahkan Haeckel sendiri kemudian mengaku bahwa gambar-gambar yang dibuatnya adalah palsu. Tapi, kalangan evolusionis mengabaikan pemalsuan ini demi mempertahankan teori tersebut.
Selain membuat pemalsuan ilmiah, Haeckel juga menyebarkan propaganda Eugenics. Ia manganjurkan agar bayi-bayi cacat baru lahir segera dibunuh untuk mempercepat proses evolusi pada masyarakat manusia. Ia melangkah lebih jauh dan mengusulkan agar orang-orang cacat, lemah mental dan berpenyakit genetis hendaknya langsung dibunuh saja. Jika tidak, kata Haeckel, mereka ini akan membebani masyarakat dan memperlambat evolusi.
Haeckel meninggal tahun 1919, namun kaum Nazi mewarisi gagasan biadabnya. Tak lama setelah Hitler meraih kekuasaan, ia menerapkan kebijakan Eugenics. Mereka yang lemah mental, cacat, dan berpenyakit keturunan dikumpulkan dalam "pusat-pusat sterilisasi" khusus. Orang-orang ini dianggap parasit yang megancam kemurnian ras Jerman dan menghambat kemajuan evolusi. Dalam waktu singkat, orang-orang ini kemudian dibunuh atas perintah rahasia Hitler.
Dalam upayanya mempercepat evolusi ras Jerman, Hitler telah membunuh banyak orang. Selain itu, ia melaksanakan hal lain yang "diperlukan" dalam Eugenics. Muda mudi berambut pirang dan bermata biru, yang dianggap mewakili ras murni Jerman, dianjurkan untuk saling berhubungan seks. Pada tahun 1935, ladang-ladang khusus reproduksi manusia didirikan. Perwira SS Nazi sering mengunjungi ladang ini, yang didalamnya tinggal wanita muda yang memiliki kriteria ras "Arya". Bayi-bayi haram yang lahir di ladang-ladang ini akan menjadi prajurit masa depan Imperium Jerman.
Dalam rangka memperbaiki keunggulan ras Arya, kaum Nazi menggunakan konsep Darwin. Darwin menyatakan bahwa ukuran tengkorak manusia membesar tatkala ia menaiki tangga evolusi. Kaum Nazi sangat mempercayai gagasan ini dan mengadakan pengukuran tengkorak untuk menunjukkan bahwa Jerman adalah ras unggul. Di seluruh Jerman Nazi, pengukuran dilakukan demi membuktikan bahwa tengkorak Jerman lebih besar dibanding ras-ras lain. Ciri fisik seperti gigi, mata dan rambut diperiksa berdasarkan kriteria evolusionis. Mereka yang kedapatan berukuran di luar kriteria resmi ras Jerman dibinasakan menurut kebijakan Eugenics Nazi.
Semua kebijakan aneh ini diterapkan atas nama Darwinisme. Michael Grodin, sejarahwan Amerika dan penulis buku, The Nazi Doctors and the Nurenberg Code menyatakan fakta ini. Saya pikir apa yang telah terjadi adalah adanya kesesuaian sempurna antara ideologi Nazi dan Darwinisme Sosial dan pemurnian ras ketika terjadi perkembangan di peralihan abad ke-20. Dan para dokter beranggapan bahwa terdapat penyimpangan sosial dan penyimpangan perilaku yang berhubungan secara genetis. Dan terdapat gen baik dan gen buruk. Dan Darwinisme social ini berkembang di seluruh dunia. Para dokter Nazi berkiblat ke Amerika Serikat tempat dimana mereka belajar seluk beluk pemurnian ras ini.
George Stein, peneliti asal Amerika, menjelaskan hal ini dalam majalah American Scientist, "Sosialisme nasional, atau apapun namanya, pada intinya adalah usaha pertama kali yang secara sadar dilakukan untuk membangun komunitas politis di atas sebuah landasan satu kebijakan yang jelas", kebijakan yang sejalan penuh dengan fakta ilmiah revolusi Darwin.
Sir Arthur Keith, seorang evolusionis terkenal berkata tentang Hitler: "Pemimpin Jerman, Hitler, adalah seorang evolusionis; ia dengan sengaja menjadikan Jerman sejalan dengan teori evolusi". Alasan penting lain mengapa Hitler meyakini evolusi adalah bahwa ia menganggap teori ini sebagai senjata melawan agama. Hitler sangat anti terhadap keyakinan monoteistik. Ajaran agama seperti cinta, kasih sayang dan kelembutan sangatlah bertentangan dengan model ras Arya yang bengis dan kejam. Itulah mengapa, sejak Nazi merebut kekuasaan tahun 1933, mereka bertujuan mengembalikan agama paganisme kuno pada masyarakat Jerman. Swastika, simbul yang berasal dari kebudayaan pagan kuno, menjadi simbul bagi perubahan ini.
Perayaan-perayaan Nazi di setiap penjuru Jerman ternyata merupakan penghidupan kembali ritual-ritual pagan kuno.
Seperti disebutkan sebelumnya, teori evolusi sendiri adalah warisan dari kebudayaan pagan. Di sini kita saksikan kaitan tak terpisahkan antara Paganisme, Darwinisme dan Nazisme. Semua pembunuhan yang dilakukan Nazi berawal dari kepercayaan pagan ini. Kaum Nazi menghidupkan kembali kebudayaan biadab pagan dan mendapat dukungan kuat dari teori atheis Darwin untuk membenarkannya.
Sebaliknya, kekejaman, pembunuhan dan kerusakan di bumi sangat dilarang dan dikutuk oleh agama. Dalam Alqur'an, Allah menyeru manusia kepada keadilan, kasing sayang dan kelembutan. Kekejaman dan kesombongan adalah perbuatan terkutuk. Sebagaimana Allah firmankan ayat-Nya; "...dan Allah tidak menyukai kebinasaan". (QS. Al-Baqarah [2]:205).
Benito Musolini, diktator Italia dan termasuk sekutu terpenting Hitler, juga terinspirasi oleh teori evolusi. Di masa mudanya, ia menulis artikel yang menyanjung Darwin sebagai ilmuwan terbesar yang pernah ada. Setelah meraih kekuasaan, Italia fasis menduduki Ethiopia. Ia membenarkan pendudukannya atas Ethiopia dengan pandangan rasis Darwin dan gagasan tentang perjuangan untuk bertahan hidup. Menurut Mussolini, Ethiopia adalah bangsa kelas rendah sebab mereka termasuk ras hitam; karenanya, diperintah oleh ras unggul seperti Italia sudah merupakan akibat alamiah dari evolusi. Mussolini juga terpengaruh oleh pemikiran bahwa bangsa-bangsa berevolusi melalui peperangan. Menurut Mussolini, "keengganan Inggris untuk turut dalam kancah peperangan hanya membuktikan kemunduran evolusi Imperium Inggris".
Akhirnya, imperium Nazi kalah dalam Perang Dunia Kedua dan tercatat dalam sejarah sebagai pembunuh jutaan rakyat tak berdosa. Di sisi lain, Mussolini dihukum mati oleh rakyatnya sendiri. Tetapi sungguh memprihatinkan bahwa pemikiran Darwinis, yang menyediakan landasan berpijak bagi ideologi Nazi, masih tetap bercokol.
Aribert Heim sebagai seorang dokter setelah Perang Dunia II berakhir
Dalam banyak situs dan buku disebutkan bahwa ini adalah foto Aribert Heim sewaktu masih menjadi prajurit dan dokter SS, padahal itu adalah salah besar! Sebenarnyalah, ini adalah Obersturmführer Fredrik Jensen, sukarelawan SS asal Norwegia yang dituduh membantu pelarian Aribet Heim
Para tahanan di luar barak Kamp Konsentrasi Mauthausen di Austria, dalam sebuah foto yang dibuat oleh tawanan Swiss secara sembunyi-sembunyi. Disinilah Aribert Heim pernah bertugas dan karenanya mendapat julukan "Doctor Death"
Catatan tentang kegiatan sehari-hari Aribert Heim sewaktu bertugas sebagai dokter di Mauthausen. Seperti kebanyakan orang Jerman lainnya, Dr. Heim sangat teliti akan sejarah kehidupannya dan selalu mencatat peristiwa-peristiwa yang dianggap mengesankan
Hotel Kasr el Madina di Kairo yang menjadi tempat tinggal Aribert Heim selama persembunyiannya di Mesir dengan nama samaran Tarek Hussein Farid
Aribert Heim dalam salah satu foto langka ketika sedang berlibur di Alexandria, Mesir, tahun 1971. Disana dia mempunyai sebuah rumah pantai. Biasanya Dr. Heim menolak untuk difoto meskipun sehari-harinya dia adalah seorang fotografer amatir yang selalu membawa kamera kemana-mana!
Rüdiger Heim, anak dari Dr. Aribert Heim, difoto di Baden-Baden, Jerman. Dia hadir pada saat ayahnya dijemput maut ketika sedang menonton pertandingan Olimpiade
“Bahkan meskipun usianya telah begitu lanjut, orang tua keturunan Jerman berbadan atletis dengan tinggi menjulang itu masih mampu untuk mendisiplinkan dirinya dengan secara rutin berjalan setiap hari sejauh 15 kilometer melalui jalan-jalan sibuk ibukota Mesir. Rutenya tak pernah berubah, menuju ke Masjid Al-Azhar (dimana dia pernah mengikrarkan keislamannya) lalu dilanjutkan ke café J. Groppi yang penuh ornamen di bawahnya. Disana biasanya dia memesan bolu coklat untuk kawan-kawannya dan permen beraneka macam untuk anak-anak mereka. Anak-anak tersebut begitu menyukai Paman Tarek, sementara masyarakat lokal mengenalnya dengan nama Tarek Hussein Farid.”
Oleh : Alif Rafik Khan
Aribert Ferdinand Heim (28 Juni 1914-10 Agustus 1992) adalah mantan dokter dari Austria yang lebih dikenal sebagai “Dokter Kematian”. Sebagai seorang dokter SS di kamp konsentrasi Nazi Mauthausen, dia dituduh telah melakukan pembunuhan dan penyiksaan terhadap para penghuni kamp dengan metode yang bervariasi, seperti cairan racun yang disuntikkan secara langsung ke jantung korbannya. Setelah perang, dia diketahui telah tinggal selama bertahun-tahun di Kairo, Mesir, dengan memakai nama samaran Tarek Farid Hussein, dan dilaporkan meninggal dunia disana tanggal 10 Agustus 1992 karena kanker dubur. Jenazah dan bahkan kuburannya pun tak pernah ditemukan! Di akhir dari film dokumenter BBC (yang disiarkan tanggal 12 September 2009), dikatakan bahwa polisi Jerman telah mengunjungi Kairo tahun 2009 tapi tidak pernah menemukan bukti-bukti tentang kematian Heim.
Heim dilahirkan di Bad Radkersburg, Austro-Hungaria. Dia adalah anak dari petugas polisi sementara ibunya adalah ibu rumah tangga biasa. Heim lalu belajar kedokteran di Graz, dan mendapat gelar Doktornya di Wina. Setelah Anschluss Austria dengan Jerman tahun 1938, dia bergabung dengan SS. Di musim panas 1940 dia mendaftar secara sukarela di Waffen-SS, dan pangkatnya menanjak menjadi Hauptsturmführer (Kapten).
Bulan Oktober 1941, Heim dikirim ke kamp konsentrasi Mauthausen-Gusen, dimana disana dia dituduh telah menjalankan beberapa eksperimen medis dengan para tawanan sebagai bahan percobaannya. Setelah dari sana, Heim ditransfer lagi ke Rumah Sakit lapangan SS di Wina.
Para tawanan di Mauthausen menyebut Heim sebagai “Dr. Death”. Selama sekitar dua bulan (Oktober sampai Desember 1941), Heim bertugas di kamp bernama Ebensee di dekat Linz, Austria, dimana dia melakukan eksperimen-eksperimen yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Josef Mengele di Auschwitz. Berdasarkan keterangan dari para penuduhnya, para tawanan diracun dengan suntikan-suntikan berisi macam-macam yang diarahkan ke jantung, termasuk bensin, air, zat asam karbol dan racun – untuk membuat kematian datang lebih cepat. Dilaporkan juga bahwa dia telah melakukan pemindahan organ-organ tubuh dari sang pasien tanpa melalui proses pembiusan!
Berdasarkan keterangan dari orang Yahudi mantan penghuni Mauthausen, suatu waktu datang pemuda Yahudi berusia 18 tahun ke klinik Heim dengan keluhan peradangan kaki. Ketika ditanyakan oleh Heim mengapa dia kelihatan begitu sehat, dia berkata bahwa dia adalah mantan pemain sepakbola dan juga perenang profesional. Bukannya merawat kaki pasiennya, Heim malahan membiusnya dengan anesthesia, membedah badannya, mengambil satu ginjal, memindahkan yang kedua dan menyunatnya. Belum cukup, kepala orang tersebut dipenggal dan Heim memisahkan daging dari tengkorak kepalanya, dan digunakan sebagai penindih kertas dan juga untuk diperlihatkan pada teman-temannya. Sekali lagi, ini adalah penuturan seorang Yahudi yang kebenarannya biasanya sangat dipertanyakan!
Dari Februari 1942, Heim bertugas di Divisi Gunung SS ke-6 “Nord” yang beroperasi di Finlandia Utara, terutama di Rumah Sakit Oulu sebagai dokter SS. Masa tugasnya berlanjut sampai sekitar Oktober 1942.
Tanggal 15 Maret 1945 Heim tertangkap oleh tentara Amerika dan dikirim ke kamp tawanan perang. Tak lama dia dikeluarkan dan memilih untuk bekerja sebagai dokter ahli kandungan di Baden-Baden sampai kehilangannya secara misterius tahun 1962. Awalnya adalah ketika dia menelepon rumahnya dan diberitahukan bahwa polisi telah menunggu kedatangannya. Sebelumnya, Heim memang pernah diinterogasi dalam beberapa kesempatan, dan dia mengambil kesimpulan bahwa kali ini masalahnya sudah sangat serius sehingga memutuskan untuk bersembunyi. Sejak saat itu surat perintah internasional dikeluarkan untuk penangkapannya. Berdasarkan keterangan dari anaknya Rüdiger Heim, ayahnya ‘berkelana’ (memangnya Oma!) ke Prancis dan Spanyol, lalu lanjut ke Maroko untuk berakhir di Mesir melalui jalur Libya. Menurut Alois Brunner sendiri, yang di zaman perang menjadi asisten utama Adolf Eichmann, Heim adalah perwira Nazi kedua yang paling dicari oleh Sekutu!
Tahun 2006, sebuah koran Jerman melaporkan bahwa anak perempuan Heim yang bernama Waltraud (tinggal di Puerto Montt, Cili) mengaku bahwa ayahnya telah meninggal dari tahun 1993. Tapi ketika Waltraud berusaha mengklaim uang warisan sejumlah satu juta dolar dalam rekening atas nama ayahnya, dia tak mampu menghadirkan syarat utama pencairan : sertifikat kematian Aribert Heim.
Bulan Agustus 2008, giliran Rüdiger yang berusaha mengambil aset ayahnya! Untuk melancarkan usahanya, dia meminta agar Aribert Heim secara resmi dinyatakan meninggal sehingga sertifikat yang sangat dinanti-nanti itu bisa nongol. Rüdiger meyakinkan bahwa uang warisan ayahnya akan didonasikan untuk proyek-proyek penelitian yang akan mendokumentasikan kekejaman-kekejaman yang dilakukan oleh SS di kamp-kamp konsentrasi.
Setelah bertahun-tahun diberitakan nongol dalam ‘penampakan-penampakan’ palsu, akhirnya misteri keberadaan dan tempat persembunyian Heim yang sebenarnya terkuak lewat reportase ganda saluran televisi Jerman ZDF dan New York Times di bulan Februari 2009. mereka memberitakan bahwa selama ini dia telah hidup dengan nama samaran Tarek Farid Hussein di Mesir, dan meninggal karena kanker usus di Kairo tahun 1992.
Heim telah tinggal di Kairo dari sejak tahun 1962, dimana diketahui bahwa dia telah memeluk Islam! Berdasarkan keterangan tetangganya disana, “Kehidupannya sangat teratur: berolahraga di pagi hari, kemudian shalat di Masjid utama Al-Azhar. Kebanyakan waktunya di siang hari dihabiskan dengan membaca dan menulis sambil duduk di kursi goyang.” Reporter yang ditugaskan untuk meneliti keberadaannya berhasil menemukan sertifikat kematian yang dikeluarkan oleh pemerintah Mesir dan membuktikan keabsahannya.
Dalam sebuah wawancara di villa keluarga Heim di Baden-Baden, anaknya Rüdiger mengaku untuk pertama kalinya bahwa dia berada bersama ayahnya pada saat kematiannya, tepatnya ketika sedang berlangsung pertandingan Olimpiade, dan Heim meninggal di hari yang sama dengan penutupan Olimpiade tersebut (ada yang masih ingat di kota mana Olimpiade tahun 1992 diadakan? Betul! Di Cianjur!).
Bisa dibilang bahwa sampai saat meninggalnya, keberadaan terang manusia ini tak pernah diketahui. Hal ini bisa dibilang luar biasa, mengingat bahwa dari tahun ke tahun Heim telah menjadi sasaran pencarian yang begitu pentingnya, terbukti dari hadiah atas penangkapannya yang dari waktu ke waktu semakin meningkat (contoh kasus lain adalah yang menimpa Klaus Barbie, yang tertangkap setelah sekian lama bersembunyi). Setelah dia melarikan diri, laporan-laporan bermunculan yang memberitakan bahwa dia telah terlihat di Amerika Latin, Spanyol dan Afrika. Begitu rapinya pelarian Heim, sehingga bahkan beberapa investigasi resmi untuk mengungkap keberadaannya dan menyeret dia ke penjara, dilakukan setelah dia meninggal di Mesir! Pemerintah Jerman menawarkan 150.000 Deutsche Marks hanya untuk sekedar informasi mengenai keberadaannya, sementara Simon Wiesenthal Center tidak tanggung-tanggung meluncurkan Operation Last Chance, sebuah proyek untuk membantu pemerintah Jerman dalam melacak lokasi dan menangkap para tertuduh penjahat perang Nazi yang masih bernafas. Catatan pajak menunjukkan bahwa, sampai dengan akhir tahun 2001, pengacara Heim meminta pihak berwenang Jerman untuk mengembalikan pendapatan pajak utama yang selama ini dibebankan kepadanya karena dia telah tinggal di luar negeri.
Diyakini bahwa Heim telah pindah ke Spanyol setelah meninggalkan Paysandú, Uruguay, ketika keberadaannya telah terendus oleh badan intelijen Mossad Israel.
Dilaporkan bahwa Heim bersembunyi di Amerika Selatan, Spanyol dan Balkan, meskipun tinggalnya di Spanyol lah yang baru benar-benar terkonfirmasi. Efraim Zuroff dari Wiesenthal Center berinisiatif untuk mengadakan pencarian aktif untuk melacaknya, dan pada akhir tahun 2005 pihak kepolisian Spanyol secara keliru menyebutkan keberadaannya di Palafrugell. Berdasarkan berita dari El Mundo, Heim telah ditolong oleh teman sejawat Otto Skorzeny, yang selama ini mengorganisasikan basis ODESSA terbesar di Spanyol yang dikuasai oleh Franco yang fasis. Laporan pers pertengahan Oktober 2005 memperkirakan bahwa “kemungkinan besar” Heim pernah ditangkap oleh kepolisian Spanyol. Dahsyatnya, dalam beberapa hari didapat keterangan tambahan yang menyebutkan bahwa untuk kesekian kalinya Aribert Heim berhasil menghindari penangkapan atas dirinya dan kabur kembali, entah ke bagian lain dari Spanyol atau ke Denmark.
Fredrik Jensen, warga negara Norwegia yang pernah menjadi sukarelawan SS-Obersturmführer zaman perang, ikut diselidiki oleh polisi bulan Juni 2007 dan dituduh ikut terlibat dalam usaha pelarian diri Aribert Heim. Tuduhan itu dibantah mentah-mentah oleh Jensen.
Berdasarkan publikasi tahun 2007 oleh mantan Kolonel Angkatan Udara Israel Danny Baz, Heim sebenarnya telah diculik dari Kanada dan dibawa ke Santa Catalina di dekat pantai California, dimana akhirnya dia dihabisi oleh tim pemburu Nazi dengan nama panggilan “The Owl” tahun 1982. Baz sendiri mengklaim ikut menjadi bagian dari grup ini. Keterangan ini dibantah oleh Simon Wiesenthal Center di Yerusalem dan pemburu Nazi Prancis terkenal, Serge Klarsfeld.
Pada bulan Juli 2007, Kementerian Kehakiman Austria mendeklarasikan bahwa mereka akan membayar 50.000 Deutsche Marks pada siapa saja yang dapat memberikan informasi mengenai keberadaan Heim, sehingga orang ini dapat diekstradisi ke negara asalnya Austria dan diadili disana.
Tanggal 6 Juli 2008 Dr. Efraim Zuroff, pemburu Nazi dari Simon Wiesenthal Centre, berangkat ke Amerika Selatan sebagai bagian dari kampanye publik untuk menangkap orang Nazi yang paling diburu di dunia dan membawanya ke pengadilan. Zuroff mengklaim bahwa Heim masih hidup dan bersembunyi di Patagonia, bisa di Cili bisa pula di Argentina. Insting pembohong Yahudinya seperti biasa nongol ketika dia membual tentang keyakinannya bahwa Heim masih hidup dan suatu organisasi khusus telah dibuat untuk menangkapnya dalam waktu beberapa minggu.
Pada tahun 2008 Simon Wiesenthal Center telah mempublikasikan 10 kriminal Nazi yang paling diburu, dan salah satunya adalah Aribert Heim!
Bagaimana dengan kehidupan Heim sendiri sewaktu dalam “persembunyiannya” di Mesir?
Teman dan kenalannya di Mesir mengenalnya sebagai seorang fotografer amatir yang selalu membawa kamera di lehernya kemanapun dia pergi. Dia selalu mengabadikan setiap peristiwa yang dianggap berkesan, tapi anehnya dia sendiri selalu menolak untuk difoto! Kalau saja teman-temannya tahu jati diri sesungguhnya dari ‘Paman Tarek’....
Sebuah koper berdebu dengan gesper yang telah berkarat yang tergeletak di sebuah toko yang terlupakan di Kairo telah menjadi saksi pelarian Heim ke Timur Tengah. Koper tersebut telah didapat oleh para penyelidik The New York Times dan stasiun televisi Jerman ZDF dari anggota keluarga Doma, pemilik hotel tempat Dr. Heim tinggal selama ini. Dalam koper itu terdapat kunci yang mengungkap rahasia kehidupan dan kematiannya selama di Mesir.
Koper itu menyimpan arsip halaman-halaman yang telah menguning, beberapa dalam amplop yang masih tersegel, dari surat-surat Dr. Heim dan tes kesehatannya, catatan finansialnya, dan juga klipingan artikel majalah Jerman yang digarisbawahi tentang berita pemburuannya. Selain itu, ada pula klipingan pengadilan in absentia atas nama Aribert Heim, juga gambar-gambar tentara dan kereta api yang dibuat oleh anaknya yang telah dia tinggalkan di Jerman. Beberapa dokumen atas nama Heim, dan beberapa lagi atas nama Farid. Uniknya, dokumen-dokumen atas nama Tarek Farid Hussein (termasuk aplikasi permohonan kewarganegaraan Mesir yang diajukannya) menyebutkan tanggal dan tempat lahir yang sama dengan Aribert Heim asli, 28 Juni 1914 di Bad Radkersburg, Austro-Hungaria.
Meskipun tak ada satupun dari 10 teman terdekat dan kenalannya yang mengetahui identitas asli Tarek Farid Hussein (atau Tarek Hussein Farid), mereka semua telah berkesimpulan bahwa orang ini pastilah merupakan seorang pelarian. “Pendapat saya, berdasarkan dari apa yang ayah saya ceritakan, bahwa kemungkinan besar paman Tarek mempunyai masalah dengan orang-orang Yahudi di masa lalunya, sehingga dia akhirnya mencari tempat perlindungan ke Kairo,” kata Tarek Abdelmoneim el Rifai, anak dari Abdelmoneim el Rifai, 88 tahun, dokter gigi pribadi Heim dan teman terdekatnya.
Sebuah salinan sertifikat kematian yang didapat dari pejabat yang berwenang di Mesir mengkonfirmasikan bahwa seorang lelaki yang dipanggil dengan nama Tarek Hussein Farid telah meninggal di tahun 1992. “Tarek Hussein Farid adalah nama yang diambil oleh ayah saya sewaktu dia menjadi seorang mualaf dan menganut agama Islam,” kata anaknya, Rüdiger Heim. Dalam sebuah wawancara yang dilakukan di villa keluarga di Baden-Baden, Rüdiger (yang saat itu berusia 53 tahun), mengaku secara terus terang untuk pertama kalinya bahwa dia berada bersama dengan ayahnya di Mesir pada saat kematian ayahnya yang disebabkan oleh kanker dubur.
“Saat itu saya masih ingat, ketika Olimpiade sedang berlangsung. Kami sedang menyaksikan pertandingan Olimpiade di televisi, dan tiba-tiba ayahku mengerang kesakitan. Tampak bahwa sakit yang dideritanya kali ini bukanlah main-main.” Kata Rüdiger, yang bertubuh tinggi sama seperti ayahnya. Tampak duka yang masih kentara di wajahnya ketika dia diminta menceritakan kembali saat-saat terakhir ayahnya, dengan nada bicara yang pelan dan tampak hati-hati. Dr. Aribert Heim meninggal setelah pertandingan berakhir, tanggal 10 Agustus 1992, berdasarkan keterangan anaknya dan sertifikat kematian dari pemerintah Mesir.
Rüdiger mendapat keterangan tentang tempat persembunyian ayahnya dari bibinya, yang juga telah meninggal. Dia tidak datang langsung saat itu juga menemui ayahnya, karena takut mendatangkan masalah pada teman-teman ayahnya di Mesir sana. Seiring dengan menyusutnya veteran perang Nazi yang masih hidup, kasus ayahnya menjadi semakin mengemuka.
Meskipun fakta baru ini akhirnya berhasil mengungkapkan lokasi sebenarnya dari tempat tinggal Dr. Heim di mesir, tapi tetap kasusnya masih belum ditutup, dikarenakan ada teka-teki baru yang masih belum terungkap : lokasi kuburan tempat peristirahatan terakhirnya!
Kematiannya adalah salah satu hal yang paling menarik dari kisah-kisah pemburuan tertuduh kriminal Nazi, sejajar dengan perburuan yang menggebu-gebu sekaligus kontroversial terhadap tokoh SS yang lain, Adolf Eichmann. Meskipun tetap gaungnya masih tidak sedahsyat keterkejutan dunia ketika mengetahui bahwa “Dr. Death” yang lain, Josef Mengele, telah meninggal dalam tempat persembunyiannya di Brazil tahun 1979, berdasarkan bukti-bukti forensik tak terbantahkan!
Data-data tentang Aribert Heim :
Nama lengkap: Aribert Ferdinand Heim
Lahir : 28 Juni 1914 di Bad Radkersburg (Austro-Hungaria)
Mufti Besar Yerusalem Sayid Amin Al-Husayni bertemu dengan Adolf Hitler di Berlin, 9 Desember 1941. Dalam pertemuan pertama tersebut Hitler begitu terkejut ketika mendapati "orang Arab" ini berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru seperti layaknya orang Nordik!
Unit artileri dari Divisi Gunung SS ke-13 'Handschar' sedang beraksi
Sampul majalah 'Wiener Muftrierte' terbitan tahun 1944 dengan judul "Der Grossmufti von Jerusalem bei den bosnischen Freiwilligen der Waffen-SS" yang artinya : Mufti Besar Yerusalem (Amin Al-Husayni) bersama dengan sukarelawan Waffen-SS asal Bosnia
Seragam prajurit Handschar
Para prajurit Handschar sedang bahu-membahu menarik entah apa (kebo?) di alam pegunungan wilayah Balkan yang menjadi daerah operasinya, Mei 1944
Ngefans sama divisi ini? Tinggal pasang wallpaper di atas di desktop kamu!
SS-Gruppenführer Artur Phleps, komandan Divisi Gunung Sukarelawan SS ke-8 'Prinz Eugen', sedang mencoba memakai tarbus khas Handschar, fez, dalam kunjungannya ke Zagreb di bulan Februari/Maret 1943
Dalam mencermati perjalanan sejarah, kita tentu harus menilainya dengan keadaan di masa itu sendiri. adalah fakta yang tidak terbantahkan bahwa Muslim Bosnia, dan juga banyak Muslim lainnya di masa Perang Dunia II bersekutu dengan Nazi Jerman. Jumlah pasukan Muslim yang bergabung dengan Nazi cukup banyak: sekitar 5.000 orang Arab, 2.000 Muslim India, 40.000 Muslim Bosnia dan Sandzak, 30.000 Muslim Albania, 75.000 Muslim Kaukasus Utara, 40.000 Muslim Tartar Volga, 180.000 Muslim Turki, 20.000 Muslim Tatar Krim, dan juga 200.000 Muslim Soviet dimana yang terakhir ini bertugas sebagai tenaga pembantu dalam berbagai pekerjaan kasar dalam Wermacht atau angkatan perang Nazi Jerman (baca: Legiun Muslim Hitler; N. Hidayat; Nilia Pustaka, 2007)
Bahkan ada juga orang Indonesia yang menjadi bagian dari tentara Nazi Jerman (meskipun tidak diketahui apakah dia muslim atau bukan). Walau sejarah Indonesia tidak banyak membuka diri terhadap jasa Nazi Jerman atas perang kemerdekaan Indonesia, namun jasa pasukannya Adolf Hitler ini bagaimana pun ada. Ini fakta : Salah satu instruktur pertama badan intelijen resmi Indonesia adalah seorang perwira U-Boat Nazi Jerman yang mendarat di Jawa. Kolonel Zulkifli Lubis, bapak intelijen Indonesia, dilatih olehnya.
Bukan itu saja, di Indonesia pun pernah berdiri partai yang mengekor partai Nazi, walau tidak mendapat sambutan meriah kala itu (baca: Orang Nazi dan Partai Nazi di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme; Wilson; Komunitas Bambu, 2008)
Dalam Jihad Afghan, para Mujahidin pun juga bersekutu dengan CIA bukan? Bahkan Ahmad Shah Masood pun ternyata pernah menjadi kaki-tangan dari CIA, seperti halnya Gulbuddin Hekmatyar, Rassul Sayyaf, dan lainnya. Dan seorang Usamah bin Laden pun pernah dipelihara CIA. Beberapa bulan sebelum kejadian 911, Usamah sakit dan dirawat di Pakistan. Kepala CIA Timur Jauh dan Kepala Intelijen Pakistan menjenguknya. Ini merupakan salah satu fakta jika peristiwa 911-WTC merupakan insider job.
Dalam Perang Dunia II, Mufti Palestina AlHusayni memang bersekutu dengan Nazi dan kawan baik dari Adolf Hitler. Mereka di kala itu saling memanfaatkan. Sejarah sekarang, dengan berbagai dokumennya yang telah dideclassified-kan, telah membongkar fakta jika segala 'kebuasan' Nazi Jerman dalam Perang Dunia II ternyata didukung penuh dengan dana amat besar dari Rockefeller dan kakek George Walker Bush, dua keluarga berpengaruh Yahudi Dunia. Al-Husayni tentu saat itu, sepertinya, tidak tahu akan fakta jika Hitler pun tengah diperalat Yahudi!
Dan tentang permusuhan Yahudi terhadap umat Islam, itu bersifat abadi hingga akhir zaman. Jadi, bukan karena Muslim Bosnia sekutu Nazi Jerman yang menyebabkan itu, tapi karena Yahudi adalah tentaranya Dajjal dan Muslim adalah tentaranya Muhammad SAW.
Dalam hubungannya dengan Nazi, puluhan ribu Muslim Bosnia direkrut Hitler dan dikelompokkan ke dalam Brigade Handjar atau yang resminya bernama 13. Waffen Gebirgs Division de SS ‘Handschar’ (kroatische Nr.1). Ini legiun Muslim Bosnia pertama yang direkrut di akhir tahun 1943.
Pada Juli 1944, dibentuk Legiun Muslim Bosnia kedua bernama 23. Waffen Gebirgs Division der SS ‘Kama’ (kroatische Nr.2) atau Brigade Kama. Kedua legiun atau brigade ini akhirnya digabungkan Himmler menjadi satu kesatuan yakni IX. Waffen-Gebirgs Korps der SS (kroatisches). Pasukan ini menderita kekalahan mengikuti kekalahan pasukan induknya, Nazi-Jerman, dan menyerah kepada pasukan Inggris di Saint Veit de Glan di Austria, 12 Mei 1945.
Siapakah Imam Al-Husayni? Dia adalah seorang Mufti Besar Palestina sejak 1921 hingga 1948. Keturunan Klan Husayni ini sangat keras menentang rencana perpindahan kaum Yahudi yang terserak di seluruh dunia ke Palestina, sebagaimana mandat dari Kongres Zionis Internasional I di Basel, Swiss, tahun 1897. Sebab itu, Inggris yang mendukung penuh rencana Zionis Yahudi itu memburunya. Pada tahun 1941 Husayni bertemu empat mata dengan Adolf Hitler. Hitler terkagum-kagum padanya.
Seperti yang sudah disinggung banyak literatur. Adolf Hitler dengan keyakinan rasialnya meyakini jika bangsa Aryan merupakan jenis manusia unggul yang berasal dari ras Romawi kuno yang perkasa, tinggi besar, berkulit putih, rambut jagung, dan mata yang biru bersinar. Melihat sosok Husayni yang tinggi besar, berkulit putih, berambut jagung, dengan mata yang biru bercahaya, Hitler terpesona dan menduga kuat jika Husayni masih satu keturunan dengan bangsa Romawi, nenek moyang ras Aryan.
Sebab itu Adolf Hitler sangat menghormati Husayni. Apalagi kepentingan politik keduanya dalam hal permasalahan Yahudi dunia sama. Husayni memusuhi Yahudi karena ingin mempertahankan tanah suci Palestina, sedangkan Hitler memusuhi Yahudi karena dendam sejarah dan juga pandangan politik rasialnya. Keduanya pun bersekutu.
Dalam perang hal tersebut sangat dimungkinkan. Kepentingan bersama bisa menyatukan dua kelompok yang sepertinya tidak mungkin disatukan. Mungkin lebih kurang sama seperti fakta politik di negeri ini sekarang, dimana kelompok Islam Liberal dan NeoLib (plus kelompok kuffar palangis) ternyata bisa didukung “kelompok Islam literal berjenggot”. Semua itu bisa dimungkinkan karena kesamaan kepentingan yang bernama: Kekuasaan. Kita tahu jika yang namanya “Kekuasaan” sekarang ini memiliki arti sebagai “Boleh merampok uang umat sebanyak mungkin dengan resmi dan legal”. Itu saja.
Generalmajor Reinhard Gehlen (tengah) yang menggalang veteran Nazi untuk bekerja demi CIA. Dia adalah perwira intelijen kepercayaan Hitler, dan jasanya begitu dihargai, sehingga Gehlen dianugerahi Kriegsverdienstkreuz (War Merit Crosss) kelas pertama, noh tuh yang nongol di dadanya!
SS-Standartenführer Otto Skorzeny, orang di balik keberhasilan pasukan komando Jerman dalam Perang Dunia II. Amerika Serikat sampai merengek dan mengancam demi bisa mendapatkan jasanya setelah berakhirnya perang!
Sumber-sumber terpercaya di Palestina mengungkapkan bahwa dinas intelijen AS, CIA, memberikan perangkat mata-mata canggih kepada pemerintahan Fatah. Tujuan utama pemberian peralatan mata-mata tersebut adalah untuk mengawasi gerak-gerik komandan brigadir Izzudin Al Qassam. Alat tersebut juga dipergunakan untuk menyadap pembicaraan dari sang komandan melalui telepon. Dalam sebuah dokumen, terungkap bahwa tindakan tersebut dilakukan sebelum pejuang Hamas memutuskan untuk membersihkan Gaza dari para pengkhianat.
Dalam sebuah sambungan telepon khusus dengan situs Al Qassam, menanggapi soal penemuan dokumen tersebut, Abu Obaida mengatakan, “Ini bukan pertama kalinya kami menemukan dokumen yang berisi hal-hal seperti itu, pemerintahan Abbas memang memiliki agenda pengkhianatan, mereka juga memata-matai para mujahidin dan mengejar lalu menangkap para pejuang Islam atas perintah dari penjajah Zionis.”
“Kami sama sekali tidak terkejut mengenai aktivitas mata-mata yang dilakukan pemerintahan Abbas, karena kami sudah tahu benar seperti apa agenda mereka. Sungguh memuakkan, mereka berkomplot dengan agen-agen asing untuk membantai orang-orang Palestina sendiri yang seharusnya masih saudara mereka.”
Mengenai aktivitas mata-mata terhadap Mohammed Ad-Deif, buronan yang paling dicari oleh pasukan Zionis, Abu Obaida membenarkan pemberitaan yang beredar bahwa pengejaran Ad-Deif oleh pasukan keamanan Palestina ada di bawah kendali dan pengawasan CIA.
“Kami memiliki sejumlah dokumen lain yang ingin kami tunjukkan pada saat yang tepat,” tambahnya.
Mengenai upaya pembunuhan terhadap Ad-Deif, dia mengamini bahwa upaya pembunuhan terhadap Ad-Deif adalah bukti betapa kuatnya hubungan antara pemerintahan Fatah dengan CIA.
Abu Obaida mengakhiri kata-katanya dengan ucapan, “Mereka (pasukan keamanan Palestina) telah melakukan sebuah pengkhianatan besar bagi rakyat Palestina.”
Keterlibatan CIA dalam permasalahan Timur Tengah memang sudah banyak menjadi perbincangan kalangan masyarakat.
Banyak orang yang meyakini bahwa terciptanya Israel adalah karena dukungan kuat dari AS. Pada tahun 1947, pemerintahan AS memberikan suara di dalam tubuh PBB untuk memisahkan Palestina menjadi sebuah negara Yahudi dan sebuah negara Arab. Namun demikian, departemen luar negeri AS tampak “menentang” terbentuknya negara Yahudi. Presiden Truman memerintahkan perwakilan AS di PBB untuk mendukung pembagian Palestina. Hal tersebut ada hubungannya dengan pidato berapi-api dari Andrei Gromyko dari Uni Soviet di hadapan Majelis Umum PBB yang mendukung berdirinya negara Yahudi. Pidato tersebut menghilangkan pilihan politik AS, karena AS tidak ingin terlihat kurang memusuhi Nazi dibandingkan dengan Soviet.
Pakar sejarah Christopher Simpson membuat dokumentasi dengan dasar materi yang diperoleh melalui Freedom of Information Act, segera setelah tahun 1945, pemerintah AS secara diam-diam mulai merekrut Nazi dalam jumlah besar, termasuk di dalamnya sejumlah besar penjahat perang Nazi. Perekrutan tersebut dilakukan untuk membangun dinas rahasia AS. Harian Washington Post menuliskan ulasannya mengenai buku yang ditulis Simpson, “Tidak penting lagi – atau tidak mungkin lagi – untuk menyangkal fakta bahwa pemerintahan AS secara sengaja dan secara sistematis merekrut puluhan ribu orang Nazi yang masih aktif.”
Frank wisner adalah salah satu arsitek utama perekrutan Nazi untuk membentuk CIA. Menyusul kekalahan Mesir pada perang tahun 1948, Simpson menjelaskan, “Frank Wisner telah mengirimkan orang kepercayaannya ke Timur Tengah, Kermit (Kim) roosevelt, ke Kairo pada awal tahun 1951 untuk membuka negosiasi rahasia dengan kolonel Gamal Abdel Nasser dan para pemberontak yang tengah bersiap-siap untuk melancarkan kudeta di negara tersebut.
Kormit Roosevelt melaporkan kepada para atasannya bahwa memang benar ada persetujuan dengan Nasser. Nasser meminta Roosevelt untuk membantu membangun kekuatan intelijen militer Mesir dan pasukan keamanan nasional, kekurangan Mesir yang terlihat dengan kekalahan mereka dari Yahudi Israel membuat direktur CIA kala itu, Allen Dulles, memerintahkan (Reinhard) Gehlen pada tahun 1953 untuk membantu Mesir.
Reinhard Gehlen mengepalai upaya perekrutan Nazi untuk membentuk kekuatan CIA, sesuatu yang tidak terlalu mengherankan karena Gehlen adalah seorang petugas intelijen militer paling senior yang dipercaya oleh Hitler.
“Gehlen memperoleh banyak informasi dari peranannya dalam sebuah kejahatan perang yang mengerikan: penyiksaan, interogasi, dan pembunuhan pelan-pelan melalui rasa lapar terhadap 4 juta orang tahanan Soviet. Para tahanan yang menolak untuk bekerjasama seringkali disiksa hingga akhirnya ditembak mati. Banyak tahanan yang dieksekusi bahkan setelah mereka memberikan informasi yang diminta, dan sejumlah besar tahanan lainnya dibiarkan kelaparan hingga menemui ajal,” tulis Simpson dalam bukunya.
Ketika pemerintah AS merekrut Gehlen setelah perang, mereka memintanya untuk menciptakan kembali infrastruktur intelijen Nazi, dan hal ini dikenal dengan sebutan ‘Gehlen Org,’ yang bnerpusat di Pullach, Jerman Barat.
Sebagian dari para Nazi yang direkrut AS bukan berasal dari ‘Gehlen Org’ karena mereka berasal dari imigran yang pindah ke AS, bahkan sebagian Nazi imigran tersebut ada yang menjadi bagian dari tentara AS, sebagian lainnya dipergunakan sebagai aset CIA di berbagai belahan dunia yang lain.
Christopher Simpson menuliskan bahwa setidaknya setengah lusin – atau mungkin lebih – dari jajaran staf pertamanya, yang terdiri dari 50 orang, adalah mantan anggota SS (Schutzstaffel, polisi khusus pelindung Adolf Hitler) atau SD (Sicherheitsdienst, pasukan intelijen Nazi), termasuk Obersturmführer (sebuah pangkat yang diberikan kepada petinggi militer Nazi dari pasukan SS) Hans Sommer.Pendukung Fatah memberi penghormatan selayaknya Nazi.
Menyusul kekalahan Mesir, AS meminta bantuan Gehlen untuk membantu meningkatkan kekuatan militer dan intelijen Mesir. Gehlen sendiri memerintahkan Otto Skorzeny.
Skorzeny adalah seorang Nazi “murni” – sesuai dengan penggambaran fisik sosok bangsa Arya yang tinggi dan berambut emas, yang sangat disukai oleh der führer, Adolf Hitler – Hitler sendiri berbadan pendek dan berambut coklat. Skorzeny disebut-sebut sebagai komandan favorit Hitler. Dia adalah seorang pakar sabotase, pembunuhan, dan sejumlah misi-misi sulit lainnya dalam agenda penyusupan.
Gehlen menginginkan Otto Skorzeny untuk melatih pasukan Mesir. Skorzeny sendiri mengatakan bahwa dirinya segan melakukan itu, sehingga pemerintah AS sampai harus merengek memohon kepada Skorzeny secara pribadi, dia dijanjikan gaji yang besar dan seluruh biaya operasional intelijennya. Skorzeny tidak bergeming, sampai akhirnya Gehlen menekan ayah mertua Skorzeny, Hjalmar Schacht, untuk meyakinkannya.
Skorzeny kemudian menggunakan dana dari CIA untuk merekrut sekitar 100 orang penasihat Jerman untuk membimbing pasukan intelijem Mesir, kebanyakan dari orang Jerman yang direkrut berasal dari organisasi neo-Nazi.
Pelatihan pasukan militer dan intelijen Mesir bukanlah satu-satunya peranan Nazi (suruhan CIA) di Timur Tengah. Gerakan Fatah juga diciptakan di Kairo.
Pemimpin Fatah dan presiden pemerintahan Palestina, Mahmoud Abbas, dikabarkan juga mendapatkan pelatihan Nazi, karena Abu Mazen (panggilan Abbas) adalah salah satu pendiri Fatah.
Wilhelm Harun El-Raschid Hintersatz dalam balutan seragam Ottoman Turki, lengkap dengan penutup kepala (fez) nya yang khas
Wilhelm Hintersatz dilahirkan tanggal 26 Mei 1886 dari keluarga yang beragama Katolik. Dia bertugas di Kaiserliche dan Königliche Armee selama berlangsungnya Perang Dunia Pertama, dan atas jasa-jasanya dalam pertempuran, Hintersatz dianugerahi Eiserne Kreuz kelas ke-1 dan ke-2, plus Wound's Badge in Silver. Dia kemudian mendapat penugasan ke Turki dan menjadi ajudan Jerman dari jenderal Turki Enver Pasha. Rupanya disinilah timbul minatnya untuk mempelajari agama Islam, dan tak lama kemudian Hintersatz sudah beralih agama dari Katolik ke Muslim, dan merubah namanya menjadi Harun El-Raschid Bey. Setelah Perang berakhir, Hintersatz balik kembali ke kesatuannya di Austria, meniti karir sampai meraih pangkat Kolonel (Oberst). Ketika Jerman dibawah Hitler menganeksasi Austria tanggal 16 Maret 1938, Hintersatz adalah salah satu pendukungnya yang paling ekstrim. Oleh karena itulah, Himmler memasukkannya menjadi anggota SS (Schutzstaffel) tanggal 1 Oktober 1944 dengan nomor keanggotaan 496147 dan pangkat Standartenführer (setara dengan pangkat Kolonel dalam jenjang tentara biasa). Hintersatz menjadi komandan Osttürkischer Waffen-Verband der SS dari tanggal 20 Oktober 1944 sampai dengan bulan Februari tahun 1945 menggantikan Andreas Meyer-Marder. Unit ini dibentuk dari tiga batalion Wehrmacht nomor 450, 480, dan Batalion ke-1 Infanterieregiment 94, dengan komandan pertamanya adalah mantan Mayor Angkatan Darat (Heer), Andreas Meyer-Marder. Unit ini kemudian dimasukkan sebagai bagian dari Waffen-SS pada awal tahun 1944. Bagian dari unit ini adalah Waffengruppe Aserbeidschan, Waffen-Gebirgs-Brigade der SS (Tatarische Nr.1) di bawah pimpinan Willy Fortenbacher, pemegang penghargaan The Cross of Honour 1914-1918. Osttürkischer Waffen-Verband der SS sendiri menjadi bagian dari Waffengruppe Krim. Unit Hintersatz bertempur di wilayah pegunungan Ural dan Asia Tengah melawan Komunis Rusia dari tahun 1944-1945, dan mendapatkan simpati yang luar biasa dari masyarakat lokal yang kebanyakan beragama Islam, karena kesamaan pandangan dalam hal anti-komunis dan juga unit ini mengakomodir umat Muslim untuk bergabung, apalagi komandannya juga seorang mualaf!
Ada yang berkata bahwa Hintersatz diberhentikan dari tugasnya tak lama setelah peristiwa desersi dari I./W-Grp. d. SS "Turkestan“, dan digantikan oleh Hauptsturmführer Franz-Josef Fürst (beberapa sumber menyebutkan namanya sebagai Georg Fürst). Yang jelas, Hintersatz tetap setia bersama unitnya tersebut sampai berakhirnya perang, tetap berjuang walaupun tahu bahwa pihaknya berada di pihak yang kalah. Dalam hampir semua sumber disebutkan bahwa Fürst (nanti pangkatnya naik menjadi Sturmbannführer) menggantikan Hintersatz di bulan Februari 1945 sampai dengan berakhirnya perang. Hal ini tidak sepenuhnya benar meskipun tidak pula sepenuhnya salah (bingung?). Intinya, Fürst memang menjadi komandan dari SEBAGIAN unit Osttürkischer Waffen-Verband der SS yang bermarkas di Slovakia. Sturmbannführer Fürst sendiri dilaporkan MIA (missing in action) pada akhir bulan April 1945 di wilayah Karlsbad. Seperti yang dijelaskan oleh Profesor Kurt Tauber dalam dua volume bukunya 'Beyond Eagle And Swastika' (diterbitkan tahun 1967) yang membahas mengenai fenomena nasionalisme anti-demokrasi Jerman pasca Perang Dunia II, Wilhelm Harun El-Raschid Bey Hintersatz kemudian menulis buku yang berisi pengalam pribadinya selama Perang Dunia Pertama dan Kedua : Orient Und Occident, Ein Mosaik Aus Buntem Erleben (Dari Orient dan Occident, Mosaik Pengalaman Berwarna-Warni) yang dipubikasikan tahun 1954. Hintersatz menghembuskan nafas terakhirnya tanggal 29 Maret 1963.
Karir kemiliteran Hintersatz : - Major Wehrmacht (1939-1944) - Bergabung dengan Waffen-SS (496147) - SS-Sturmbannführer (3 Agustus 1944) - SS-Obersturmbannführer (1 September 1944) - SS-Standartenführer (1 Oktober 1944) - Komandan Osttürkischer Waffen Verband der SS (20 Oktober 1944 - Mei 1945).
Penghargaan yang telah diraih oleh Hintersatz: - Preussische Rettungsmedaille, - EK-II (septembre 1914), - EK-I (1915), - Komturkreuz der Orden von d. Weissen Rose Finnlands, - Österreichische MVK 3. kl mit KD, - Lippisches-Detmold KVK, - Hamburgisches Hanseatenkreuz, - Herzoglich Sächsen Ernestinischer Hausorden Ritterkreuz 2. kl mit Schwertern (7 avril 1917), - Georgien Orden d. Heiligen Tamara, - Türkischer Eiserner Halbmond, - Türkischer Silberne Liakat Medaille mit Schwertern Spange, - Türkische Medjidie Orden 2. kl mit Schwertern, - Türkische Silberne Roten Sichelförmige Medaille, - Verwundeten Abzeichen in Silber. - Ehrenkreuz des Weltkrieges 1914-1918 mit Schwertern, - Wehrmacht Dienstauszeichnung 18 jahr. Daftar buku karya Hintersatz : – Marschall Liman von Sanders Pascha und sein Werk. R. Eisenschmidt. Berlin. 1932. – Schwarz oder Weiß? Joh. Kasper & Co. Berlin. 1940. 289 S. – Achtung! Erdstrahlen sind Gefahr für Mensch, Tier und Pflanzenhaltung! Die Wünschelrute warnt! Eisenschmidt. Wiesbaden. Berlin. 1952. 32 S. – Aus Orient und Occident – Ein Mosaik aus buntem Erleben. Deutscher Heimat-Verlag. Bielefeld. 1954. 267 S.
SS-Standartenführer Wilhelm Harun El-Raschid Hintersatz (26 Mei 1886 - 29 Maret 1963) dalam acara doa dan shalat bersama dengan Osttürkischer Waffen-Verband der SS yang dipimpinnya. Cuplikan klip asli berwarna ini diambil dari film dokumenter "SS-Standartenführer Wilhelm Harun El-Raschid Hintersatz - Spiegel TV" keluaran tahun 2011, dan "penampakan" adegan di atas bisa kita lihat di menit 45:42. BTW, perwira yang berdiri di belakang Hintersatz kemungkinan besar adalah SS-Untersturmführer Gerd Schulte, ajudan Osttürkischer Waffen-Verband der SS