Tampilkan postingan dengan label Olahraga Nazi Jerman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga Nazi Jerman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 November 2014

Foto Adolf Hitler dan Olahraga

 Adolf Hitler tiba dalam upacara pembukaan Olympische Winterspiele (Olimpiade Musim Dingin) yang ke-4 yang diselenggarakan di Olympia-Skistadion/Garmisch-Partenkirchen (Jerman) tanggal 6 Februari 1936. Dari kiri ke kanan: Tidak dikenal, SS-Obergruppenführer Sepp Dietrich (Kommandeur Leibstandarte SS Adolf Hitler), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Dr. Wilhelm Frick (Reichsminister des Innern), Karl Fiehler (Reichsleiter der NSDAP für Kommunalpolitik), SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant Hitler), dan tidak dikenal. Foto oleh Willy Rehor. Hitler memanfaatkan acara pembukaan Olimpiade Musim Dingin untuk kepentingan propaganda dengan memperkenalkan Jerman sebagai negara yang cinta damai dan bersahabat di hadapan ke-28 negara partisipan. Sebelumnya semua plakat dan tulisan yang bernada rasis serta xenofobia dihilangkan secara cermat dari sudut-sudut kota Garmisch-Partenkirchen!


Foto ini diambil tanggal 1 Agustus 1936 pada saat pembukaan Olimpiade Musim Panas ke-11 di Berlin dan pertama kali dipublikasikan dalam seri "Die olympischen Spiele 1936 in Berlin und Garmisch-Partenkirchen" dari Cigaretten-Bilderdienst Hamburg-Bahrenfeld . Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) berdiri di atas mobil Mercedes-Benz 770k dengan plat nomor IIA-19356 (Stadtbezirk München) yang sedang berjalan, diiringi oleh para pejabat tinggi Nazi serta pengawalnya dari Leibstandarte. Di kursi belakang duduk ajudannya, SS-Obersturmführer Karl Wilhelm Krause. Mereka melintasi Gerbang Brandenburg (Brandenburg Tor) yang merupakan ikon kota Berlin dan dibangun tahun 1788-1791


Hitler di anak tangga Marathon dalam pembukaan Olimpiade Berlin, 1 Agustus 1936 dengan didampingi oleh para pimpinan Komite Olimpiade Internasional. Di kiri adalah Henri de Baillet-Latour (Presiden IOC) sementara di kanannya adalah Theodor Lewald (Ketua Panitia Olimpiade Jerman). Di belakang Baillet-Latour adalah Wilhelm Keitel, sementara jenderal Jerman yang jalan bersama Keitel kemungkinan adalah Ernst Busch. Hitler sendiri didampingi oleh komandan pengawal pribadinya, Sepp Dietrich (memakai seragam hitam SS dan stahlhelm)



Adolf Hitler bersama dengan Spyridon "Spyros" Louis (12 Januari 1873 - 26 Maret 1940). Louis adalah seorang pembawa air yang menjadi pemenang lomba lari Marathon dalam Olimpiade modern pertama yang diselenggarakan di Yunani tahun 1896. Dia adalah tamu kehormatan dalam Olimpiade Berlin dan menjadi pembawa bendera tim Yunani dalam upacara pembukaan. Dalam foto di atas, Hitler memberikan sebuah ranting daun zaitun yang diambil dari Olympia, tempat lahirnya pertandingan Olimpiade, sebagai simbol perdamaian. Acara ini sekaligus pula merupakan penampilan terakhir Louis di muka publik. Pada tahun 1940 dia meninggal dunia beberapa bulan sebelum Italia menginvasi Yunani. BTW, paling kiri adalah Werner von Blomberg sementara paling kanan adalah Julius Schaub


Sumber :
Buku "Die Reitkunst der Welt an den Olympischen Spielen 1936"
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org
www.ushmm.org

Selasa, 21 Oktober 2014

Foto Olahraga dan Kompetisi Ski

Seorang anggota SS dalam sebuah Skimeisterschaft (Kompetisi Ski) yang diselenggarakan sebelum Perang Dunia II. Elang yang terpasang di topinya merupakan elang SS versi pertama (1927-1936), sementara topi yang dikenakannya adalah skimütze (topi ski) pola pertama juga yang mempunyai warna abu-abu tanah. Dalam beberapa penerbitan, topi jenis ini sering disalahartikan sebagai bergmütze (topi gunung) karena bentuknya yang sangat mirip


 Skimeisterschaften (Kompetisi Ski) di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Para pesertanya berasal dari unit-unit SS und Polizei seperti SD (Polisi rahasia) dan Ordnungspolizei (Polisi Umum). Mereka mengenakan bergmütze (topi gunung) Allgemeine-SS yang berwarna hitam. Di tempat ini terdapat pula Polizei-Skischule yang melatih para calon polisi berski. Nama kompetisinya adalah "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft"


 SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef der Ordnungspolizei) dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939


 SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef der Sicherheitspolizei) dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Dia mengenakan Deutsches Reiterabzeichen (German Horseman's Badge) di bawah medali Goldenes Parteiabzeichen der NSDAP dan DRL Sportabzeichen


 Kurt Daluege dan Reinhard Heydrich dalam acara "Großdeutsche Alpine Skimeisterschaft" (Kompetisi Ski Alpin Jerman Raya) yang diselenggarakan di Kitzbühel, Austria, bulan Februari 1939. Dari kiri ke kanan: SS-Obergruppenführer und General der Polizei Kurt Daluege (Chef der Ordnungspolizei), Oberstleutnant der Schutzpolizei Karl Heinrich Brenner (Gruppenleiter "Sport" in Kommandoamt der ORPO Hauptamt), SS-Gruppenführer Reinhard Heydrich (Chef der Sicherheitspolizei), dan Hauptmann der Schutzpolizei Wilhelm Becker (Adjutant Chef der Ordnungspolizei)


Selain kompetisi ski yang diikuti para anggota SS dan Polizei, pada tahun 1939 di Kitzbühel (Austria) diadakan pula kompetisi ski untuk para anggota Wehrmacht (Heer, Luftwaffe, Kriegsmarine). Para pesertanya mendapat kenang-kenangan sebuah pin khusus yang memajang Reichskriegsflagge, Adler Wehrmacht, Gamsbock dan ski di atas peta "Jerman Raya"


Sumber :
www.commons.wikimedia.org
www.wehrmacht-awards.com

Kamis, 11 September 2014

Foto-Foto Olimpiade 1936



Oleh : Steve Edpin

Foto-foto Olimpiade 1936 pilihan beserta ceritanya. Olimpiade XI 1936 dilangsungkan di Berlin. Olimpiade Musim Dingin IV 1936 dilangsungkan di Garmisch-Partenkirchen.

(1)
Menembak target siluet dengan cepat dari jarak 25 meter dengan menggunakan pistol otomatis atau revolver. Pemenang Juara Pertama (Emas) van Oyen dari Jerman (tengah). Pemenang Juara Kedua (Silver) Heinrich Georg Heinz Hax dari Jerman (kanan). Pemenang Juara Ketiga (Perunggu) Torsten Ullman dari Swedia (kiri).
Catatan: Hax yang berdinas di Angkatan Darat, nantinya meraih penghargaan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub.

(2)
Pemenang dalam berkuda tim tipe dressage. Dari kiri ke kanan: Letnan Satu Heinz Pollay, Mayor Friedrich Gerhard, dan Kapten Kavaleri Hermann Leopold August von Oppeln-Bronikowski.
Catatan: von Oppeln-Bronikowski nantinya terkenal sebagai seorang panzer ace dan meraih penghargaan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern.

(3)
Letnan Satu Heinz Pollay dengan kuda Prussia Timur-nya yang bernama Kronos.
Catatan: Dalam mitologi Yunani kuno, Kronos merupakan ayah dari Zeus dan Poseidon.

(4)
Pasukan militer Jerman dalam pertandingan patroli ski militer dalam Olimpiade Musim Dingin IV di Garmisch-Partenkirchen. Pertandingan patroli ski militer dilakukan oleh empat orang yang terdiri dari satu perwira, satu bintara, dan dua prajurit. Tim Jerman dipimpin oleh Letnan Leupold, dengan bintaranya Hieble, dan dua prajuritnya Lochbiehler dan Kirchmann. Kemungkinan besar mereka berasal dari pasukan gunung (Gebirgsjäger).
Catatan: Tim Jerman berhasil meraih urutan kelima dari sembilan negara yang berpartisipasi.

(5)
Letnan Satu Karl Hermann Gotthard Handrick sebagai pemenang juara pertama (emas) dalam pentathlon modern. Pentathlon modern terdiri dari lima pertandingan sbb: berkuda, berenang, menembak dengan pistol, berlari, dan pertandingan anggar.
Catatan: Handrick nantinya bertugas dalam satuan-satuan pemburu elit Luftwaffe dan meraih penghargaan Deutsches Kreuz in Gold.

(6)
Letnan Satu Konrad Freiherr von Wangenheim sebelum memulai pertandingan berkuda tipe eventing (kombinasi). Pada pertandingan sebelumnya, kudanya yang bernama Kurfürst tersangkut saat melompati rintangan, dan von Wangenheim pun terpental yang mengakibatkan tulang selangka kirinya patah. Di hari terakhir, dengan tangannya yang dibungkus, von Wangenheim kembali menunggangi kudanya untuk menyelesaikan pertandingan. Ia jatuh untuk yang kedua kalinya. Suasana menjadi sunyi dan mencemaskan karena Kurfürst tampak tak bergerak. Tanpa kudanya, von Wangenheim tidak mungkin memenangkan pertandingan. Namun akhirnya Kurfürst berhasil berdiri. Von Wangenheim menungganginya kembali dan berhasil menyelesaikan pertandingan. Von Wangenheim meraih medali emas untuk berkuda tim tipe eventing.
Catatan: Dalam buku “Olympia 1936” / “Die Olympischen-Spiele 1936” dikatakan bahwa aksi Freiherr von Wangenheim merupakan salah satu yang terbesar dalam Olimpiade ini. Tindakan rela berkorban yang telah ditunjukannya layak untuk mendapatkan apresiasi tertinggi. Sementara Kurfürst patut untuk mendapatkan penghormatan sebagai kuda belima.

SUMBER:
- koleksi pribadi, “Olympia 1936” / “Die Olympischen-Spiele 1936 in Berlin und Garmisch-Partenkirchen”

Rabu, 13 Agustus 2014

Foto Olympische Winterspiele (Olimpiade Musim Dingin) Garmisch-Partenkirchen Tahun 1936

 Adolf Hitler tiba dalam upacara pembukaan Olympische Winterspiele (Olimpiade Musim Dingin) yang ke-4 yang diselenggarakan di Olympia-Skistadion/Garmisch-Partenkirchen (Jerman) tanggal 6 Februari 1936. Dari kiri ke kanan: Tidak dikenal, SS-Obergruppenführer Sepp Dietrich (Kommandeur Leibstandarte SS Adolf Hitler), Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler), Dr. Wilhelm Frick (Reichsminister des Innern), Karl Fiehler (Reichsleiter der NSDAP für Kommunalpolitik), SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant Hitler), dan tidak dikenal. Foto oleh Willy Rehor. Hitler memanfaatkan acara pembukaan Olimpiade Musim Dingin untuk kepentingan propaganda dengan memperkenalkan Jerman sebagai negara yang cinta damai dan bersahabat di hadapan ke-28 negara partisipan. Sebelumnya semua plakat dan tulisan yang bernada rasis serta xenofobia dihilangkan secara cermat dari sudut-sudut kota Garmisch-Partenkirchen!
Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.bundesarchiv.de

Rabu, 09 Juni 2010

Mensur (Duel Anggar Antar Pelajar), Pertandingan Yang Banyak Dilakukan Oleh Tokoh Nazi Jerman Di Masa Mudanya!

Pertandingan mensur yang diadakan pada tahun 1888


Para pelajar organisasi kemahasiswaan Markomannia di Kaiserslautern setelah pertandingan mensur yang diadakan pada era 1920-an. Setelah pertandingan usai, tak ada lagi dendam walaupun darah mengucur deras dari salah seorang duelis. Perhatikanlah tangan mereka yang saling berangkulan bagai maho!


Foto tahun 1928/1929 dari seorang pelajar Jerman bernama Walter Luyken, dengan pedang mensur di genggamannya. Dia bersekolah di Universitas Bonn, dan merupakan seorang duelis mensur sama seperti kebanyakan pelajar Jerman lainnya. Luyken kemudian menjadi seorang usahawan real-estate yang sukses


Gauleiter Adolf Wagner dengan codet di pipi kirinya



Perwira Heer dengan luka codet di pipinya


Tak diragukan lagi, tokoh Nazi veteran mensur paling ngetop adalah si pelopor pasukan komando modern, Otto Skorzeny. Pada masa mudanya, dia merupakan salah satu pemain mensur paling terkenal di Universitas Wina tempat dia belajar. Dia pernah terlibat dalam 13 kali pertandingan mensur, dan Schmiß (arti harfiah: luka bacok) yang kemudian nempel abadi di wajahnya adalah hasil dari pertandingan ke-10 yang diikutinya


Jagoan Stuka Oberst Dr.jur. Ernst Kupfer (1907-1943) mempunyai gurat Schmiß di dagunya yang berasal dari masa saat dia belajar hukum di Universitas Heidelberg dan masuk Burschenschaft (kelompok persaudaraan mahasiswa) Allemannia zu Heidelberg. Dia kemudian menjadi Kommodore St.G.2 Immelmann dan menjadi pemegang pertama posisi sebagai Waffen General der Schlachtflieger sebelum kematiannya yang tragis di bulan November 1943 dalam sebuah kecelakaan pesawat



Generalmajor Karl Lorenz (24 Januari 1904 - 3 Oktober 1964) menjadi komandan Divisi Panzergrenadier "Großdeutschland" periode 1 September 1944 s/d 1 Februari 1945, menggantikan Hasso von Manteuffel dan digantikan Hellmuth Mäder. Dia adalah seorang peraih Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #395 yang didapatkannya tanggal 12 Februari 1944 sebagai Oberst dan Kommandeur Grenadier-Regiment "Großdeutschland". BTW, alat optik yang nongkrong di depan Lorenz namanya adalah 12x60 Richtungsweiser-Fernrohr, jaket yang dikenakannya berasal dari jenis Fellmantel, codet di pipinya adalah hasil Mensur di masa muda, dan kacamata hitam (!) di schirmmütze-nya adalah varian dari Cenkdem (gochenk adem)


Seorang prajurit SS dengan begitu banyak luka goresan Schmiß di wajahnya!


Persiapan pertandingan mensur yang diadakan di Warsawa, Polandia, tahun 2004



Oleh : Alif Rafik Khan

Sebentuk pertarungan satu-lawan-satu - anggar mensur - telah menyebar di Jerman selama berlangsungnya abad ke-16 di antara golongan anak mudanya, terutama di komunitas terpelajar. Kata "mensur" sendiri diambil dari bahasa Jerman, Mensurfechten, yang artinya: bermain anggar di tempat terbatas/ditentukan. Kedua orang duelis memakai pelindung mata yang berjala baja untuk mata melihat. Dada dan bahu dipakaikan pelindung berbahan karet dan syal tebal. Senjata yang digunakan adalah anggar model "schlagers" yang mempunyai ujung mengerucut tajam. Kedua pihak yang berseteru saling berhadapan dan bergantian menyerang, dengan sasaran utama satu-satunya bagian tubuh yang tak terlindungi: wajah lawannya. Ketika kelelahan melanda atau ketika musuh dalam keadaan lengah, maka saat itulah kesempatan utama untuk menebaskan anggar ke wajah, dan akan meninggalkan bekas luka goresan yang biasanya bertahan seumur hidup! Seperti orang bilang, sebuah codet akan menggambarkan karakter wajah dari orang yang mempunyainya. Hasil dari "pertempuran" semacam ini adalah tidak biasa bagi orang normal: Kedua pihak merasakan kepuasan, dimana sang pemenang puas karena menjadi kampiun, sedangkan yang kalah puas karena kini wajahnya telah "dihiasi" tanda lambang keberanian!

Mengejutkannya lagi, permainan anggar dengan tipe seperti di atas - yang tak dapat digolongkan sebagai duel ataupun olahraga, telah bertahan di kalangan terpelajar Jerman sampai detik ini! Anggar mensur modern (yang juga dikenal sebagai anggar akademis) tak dapat digolongkan sebagai olahraga karena disini tak ada yang namanya pemenang atau pecundang. Tapi belekok samidhiennya lagi, ia juga tak bisa disebut sebagai duel karena bukan merupakan penyelesaian akhir dari suatu masalah atau perselisihan. Yang jelas, kemungkinan untuk terluka sangat besar dalam mensur, meskipun dengan terlukanya lawan bukan berarti pertandingan berhenti begitu saja. Saat ini, baik pemerintah Jerman maupun pihak gereja tidak lagi mengadakan larangan terhadap mensur. Gereja telah mencabutnya dari sejak tahun 1988, sedangkan pemerintah telah membatalkan larangannya lebih lama lagi, dari sejak tahun 1953. Larangan itu sendiri telah ada dari sejak tahun 1933, tahun Hitler naik ke tampuk kekuasaan.

Peraturan baru bagi pertandingan mensur saat ini yaitu: "...Tujuan dari mensur adalah mendorong timbulnya keberanian dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sementara dengan kembalinya tradisi zaman pertengahan ini bukan berarti membangkitkan lagi kecenderungan reaksioner yang berbahaya, tapi hanya sekedar penghargaan kepada para leluhur". Bagaimana dengan teknis penanganan senjata dan peraturannya? Satu hal yang bisa ditarik dari "seni" bertanding mensur adalah bahwa sampai dengan abad ke-19, pertandingan ini dijalankan dengan mobil dan tidak diam di tempat. Jarak antara kedua duelis begitu terpisahkan sehingga mereka hanya bisa saling mengenai lawannya masing-masing dengan cara menusukkan anggarnya! Setiap dari mereka memiliki hak untuk membela diri bukan dengan senjata saja, tapi juga bisa dengan jalan menghindari senjata tersebut. Duel akan terus berlanjut sampai darah pertama pada akhirnya keluar. Pada tahun 1850 peraturan baru mensur diperkenalkan, dimana Jarak dipersempit dan permainan anggar tak lagi mobil melainkan statis. Dilarang untuk mundur atau menghindari serangan dengan menggunakan badan. Hanya anggar yang diperbolehkan untuk kegunaan menyerang dan bertahan. Seperti sebelumnya, pertandingan akan terus berlangsung sampai salah satu pihak terkena senjata dan mengeluarkan air mani eh darah. Disinilah kita bisa melihat karakteristik dari sebuah duel yang digunakan untuk menyelesaikan masalah.

Senjata yang digunakan oleh kedua pihak dinamakan schlager, yang secara sederhana diartikan sebagai "saber/pedang". Tapi bila kita mengartikannya secara harfiah, maka ia bisa juga dinamakan sebagai "tongkat pemukul" (yang sinonim dengan kata Jerman untuk menyebut "raket tenis"). Terjemahan modern bahasa Jerman untuk kata "saber" sendiri adalah "sabel". Bisa dibilang, schlager adalah sebuah senjata kelas kakap, yang mempunyai berat tiga kali dari pedang anggar biasa yang digunakan dalam olahraga!

Pada tahun 1890-an, diperkirakan setiap tahunnya 8.000 orang pelajar Jerman saling bertanding mensur satu sama lain. Medannya adalah di universitas itu sendiri, sementara untuk tempat latihannya, para mahasiswa ini biasa menggunakan kamar khusus di mess mereka. Meskipun mereka memakai pakaian pelindung, tapi bagian wajah (kecuali mata) tetap dibiarkan terbuka guna memberikan "kesempatan" terciptanya codet, yang sama saja dengan mentahbiskan si pelajar sebagai manusia dengan "keberanian dan kepahlawanan luar biasa", juga kemampuan untuk "menahan rasa sakit, baik secara fisik maupun emosional"!

Bila ditantang, maka si pelajar diwajibkan untuk tidak mundur demi menjaga nama baik organisasi persaudaraan mahasiswa tempat dia bergabung (dinamakan dengan "Verbindungen", bisa juga "Burschenschaften" atau "Corps"). Selain itu, dia berhak untuk menantang balik siapapun yang telah melecehkan kehormatan organisasinya. Bila dia tak melakukannya, maka dia terancam untuk dikeluarkan dari organisasi tempat dia bernaung. Sanksi semacam ini juga diberlakukan kepada setiap "perlakuan tidak jantan selama berlangsungnya duel mensur".

Bagi seorang Jerman, "medali" kepahlawanan semacam itu biasanya terdapat di bagian kiri dari wajah, dimana serangan akan datang dari tangan kanan lawannya. Codet semacam ini sama statusnya dengan tato "resmi" yang saat ini diturunkan kepada generasi demi generasi dokter, juri, profesor dan pejabat Eropa, sebagai pertanda bahwa si pemilik telah masuk ke dalam jajaran komunitas elit tertentu. Motivasi lain untuk memiliki codet hasil duel semacam ini juga datang karena kepastian bahwa ia akan menjadi kejaran dari banyak gadis-gadis Jerman, sebab ia melambangkan kejantanan dan kelelakian. Bisa dibilang, jauh banget deh dengan di Indonesia yang faktor kejantanannya dilihat dari seberapa banyak ia mampu merokok (hasil dari korban iklan), padahal kita tahu sendiri bahwa semakin banyak ia merokok, semakin dekat ia pada akhir hidupnya!

Schmiß (codet hasil mensur) merupakan produk dari ego seorang lelaki, juga sama halnya dengan sebentuk perhiasan karena ia akan menjamin si pemakainya mengalami kehidupan yang bergairah di sepanjang sisa hidupnya!

Tentu saja, banyak juga para tokoh zaman Third Reich yang merupakan veteran mensur di masa mudanya, dan ini beberapa di antaranya yang terkenal:
Reichspost minister Franz Seldte
Hauptmann Kurt Schäfer
Dr. Jacob 'Jay' Katz
Gauleiter Paul Wegener
Gauleiter Adolf Wagner
General der Infanterie Hans Krebs (Corps "Suevia" zu Heidelberg im KSCV)
Oberst Johannes Steinhoff
Oberstleutnant Wilhelm Walther
SS-Obersturmbannführer Otto Skorzeny
SS-Gruppenführer und Generalleutnant der Polizei Hermann Behrends
SS-Gruppenführer Heinz Reinefarth
General der Panzertruppe Dr. med. dent. Karl Mauss, Burschenschaft "Germania" Hamburg
Oberst Dr. iur. Ernst Kupfer, Burschenschaft "Alemannia" zu Heidelberg



Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.markomannia-kl.de
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.wehrmacht-awards.com

------------------------------------------------------------------------------

 SS-Standartenführer Günther Anhalt (23 Januari 1906 – 27 April 1945) bergabung dengan Partai Nazi tanggal 1 Juli 1932 dan merupakan salah satu dari 240 prajurit pertama yang menjadi anggota SS-Stabswache Berlin (cikal bakal Leibstandarte SS Adolf Hitler) tahun 1933. Dalam Perang Dunia II Anhalt menjadi perwira di Divisi LSSAH sebelum ditransfer ke SS-Polizei-Division tanggal 22 November 1943 karena masalah kecanduan minum AO (Anggur Orangtua), meskipun notabene dia adalah seorang perwira tempur jempolan! Bersama unit barunya Anhalt terlibat dalam operasi anti-Partisan yang brutal dimana kedua belah pihak jarang memberi ampun pada tawanan yang tertangkap. Dalam situasi seperti inilah kualitas Anhalt makin menjadi-jadi. Berkali-kali dia menyelesaikan misi yang dibebankan kepadanya dengan brilian sehingga berkali-kali pula direkomendasikan untuk mendapatkan DKiG (Deutsches Kreuz in Gold) atau RK (Ritterkreuz), tapi baru pada rekomendasi yang kesekian medali tersebut berhasil didapat! Anhalt dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 12 Agustus 1944 sebagai Kommandeur SS-Polizei-Regiment 2 / 4.SS-Polizei-Panzergrenadier-Division / Kampfgruppe "Von Gottberg" / Heeresgruppe Mitte setelah operasi anti-partisan besar-besaran yang mendatangkan "hasil" sebagai berikut: 734 musuh yang terbunuh, 524 tawanan, dan 12 senapan mesin berat, 4 senapan anti-tank, 29 senapan mesin ringan, 221 karabiner, 12 pistol, 54 ranjau, lebih dari 1000kg bahan peledak, serta 1 transmitter jarak pendek Inggris yang berhasil dirampas. Dari pihaknya Anhalt hanya kehilangan 41 orang prajurit yang tewas dan 148 yang terluka! Dia ikut serta dalam Pertempuran Berlin dan gugur tanggal 27 April 1945. Jenazahnya dikebumikan di taman villa milik Reichsminister Joseph Goebbels yang saat itu dijadikan sebagai pos komando darurat! Medali dan penghargaan lain yang diraihnya: Julleuchter (16 Desember 1935); SS-Zivilabzeichen (31.272); Ehrenwinkel für Alte Kämpfer; Totenkopfring; Ehrendegen; Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938 mit Spange Prager Burg; Eisernes Kreuz II.Klasse (16 Oktober 1939) dan I.Klasse (25 Juni 1940); Verwundetenabzeichen in Schwarz (8 Oktober 1939); Infanterie-Sturmabzeichen in Silber (7 September 1940); SS-Dienstauszeichnung 3. und 4. Stufe (31 Desember 1940); Tapferkeitsorden 4. Klasse 1. Grad (Bulgaria, 6 Juli 1942); Ordinul Steaua Romaniei Officer IV.Klasse (Rumania, 3 September 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1942); Bandenkampfabzeichen in Silber (1944); Deutsches Kreuz in Gold (16 Juni 1944); serta  Nahkampfspange in Bronze (31 Agustus 1944)


 Major der Reserve Dr.jur. Albert Bausch (2 Juli 1904 - 29 Agustus 1944) bergabung dengan 4.Batterie / Artillerie-Regiment 75 pada tanggal 21 Desember 1937. Pada bulan Desember 1940 dia berstatus sebagai Führerreserve (cadangan aktif) untuk belajar cara pengoperasian StuG (Sturmgeschütz). Pada awal kampanye Jerman di Rusia, dia merupakan anggota Sturmgeschütz-Abteilung 275. Setelah sempat dipindahkan ke Sturmgeschütz-Abteilung 226, Bausch lulus dari pendidikan komandan Sturmartillerie pada tanggal 1 Oktober 1943 dan langsung dipercaya sebagai Komandan Sturmgeschütz-Abteilung 286. Pada bulan Desember 1943 Bausch dengan sukses memimpin unitnya menghancurkan lebih dari 70 tank Rusia, ditambah dengan 21 senjata anti-tank serta beberapa bunker pertahanan musuh. Sampai saat itu Bausch pribadi tercatat telah menghancurkan 29 tank. Atas prestasinya tersebut dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes pada tanggal 10 Februari 1944 sebagai Hauptmann der Reserve dan Kommandeur Sturmgeschütz-Abteilung 286 / LII.Armeekorps / 8.Armee / Heeresgruppe Süd. Sebagai tambahan, dia juga naik pangkat menjadi Major d.R. Beberapa bulan kemudian, sang komandan pemberani gugur dalam pertempuran di Piatra Neamt (Rumania). Bausch dinominasikan untuk mendapatkan Eichenlaub zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes. Heerespersonalamt menerima proposal penganugerahannya pada tanggal 11 Oktober 1944. Sayangnya, proses lebih lanjut kasus ini tidak terdokumentasikan, meskipun bisa dipastikan bahwa dia telah tertolak. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (13 Juni 1940) und I.Klasse (6 Oktober 1942); Verwundetenabzeichen in Silber; Allgemeine-Sturmabzeichen; serta Deutsches Kreuz in Gold (4 Juli 1943)


Sabtu, 15 Mei 2010

Menelusuri Pameran Olimpiade Nazi 1936

Petinju keturunan Yahudi asal Kanada Sammy Luftspring. Perhatikan lambang Bintang Daud di celana pendek sepusar ala Jojon!


Logo Olimpiade 1936 yang dilangsungkan di Berlin


Pameran yang dipajang di Vancouver Holocaust Education Centre dan berlangsung dari bulan April hingga 10 Juni 2010, menyediakan tampilan yang komprehensif pada Olimpiade 1936 di Jerman dan dampaknya terhadap dunia.

Lebih Dari Hanya Pertandingan: Kanada & Olimpiade tahun 1936 menyelidiki kebijakan anti-Yahudi Nazi yang 'menodai' Olimpiade Jerman.

Dengan menghubungkan kisah-kisah individu atlet dari Jerman dan luar negeri yang berlomba - atau menolak untuk berlomba pada pertandingan tahun 1936, pameran menempatkan wajah manusia pada sisi yang dipandang gelap dalam sejarah Olimpiade dan pertandingan kontroversial yang diselenggarakan di bawah kekuasaan Nazi dan Adolf Hitler.

Pada tahun 1931, Komite Olimpiade International (IOC) memilih Jerman sebagai tuan rumah Olimpiade musim panas dan musim dingin tahun 1936, menyambut negara itu kembali ke dalam kancah internasional setelah kekalahannya pada Perang Dunia I. Republik Demokrasi Weimar yang berkuasa pada waktu itu akan segera digulingkan sehingga Hitler cepat naik ke tampuk kekuasaan, menjadi kanselir pada tahun 1933.

Pada 23 Maret 1933, Tindakan yang Memungkinkan dipaksakan melalui Parlemen Jerman, yang dengan efektif mengubah demokrasi yang rapuh menjadi sebuah kediktatoran fasis.

Setelah Hitler merebut kekuasaan, suksesi kebijakan cepat diterapkan dimana orang Yahudi dilucuti hak-hak mereka sebagai warga negara dan kemampuan mereka untuk bersaing di acara olahraga. Pada 25 April 1933, Kantor Olahraga Nazi mengimplementasikan kebijakan "hanya bangsa Arya" yang boleh bersenam dan olahraga. Atlet Yahudi dikeluarkan dari klub-klub olahraga Jerman dan tidak diizinkan untuk bersaing dengan non-Yahudi.

Pada musim gugur 1935, pemerintah Nazi memperkenalkan Hukum Nuremberg, yang menelanjangi orang-orang Yahudi dan "musuh negara" lainnya dari hak-hak sipil dasar mereka. Pada saat menjelang Olimpiade, propaganda anti-Yahudi memenuhi seluruh Jerman dan memperoleh perhatian internasional.

Akan tetapi, kebijakan anti-Yahudi Nazi waktu dijalankan bertentangan dengan cita-cita Olimpiade yaitu persatuan, dan IOC dan masyarakat internasional menekan Jerman untuk memungkinkan orang-orang Yahudi Jerman untuk berpartisipasi dalam Olimpiade.

Diktator Nazi bersiap untuk memenangkan propaganda besar, sukses menjadi tuan rumah Olimpiade, sehingga atas perintah dari IOC dan karena takut bahwa peristiwa itu akan diboikot, Jerman mengakui dan mengizinkan partisipasi dari dua "atlet setengah-Yahudi": pemain hoki Rudi Ball dan pemain anggar Helene Mayer.

Ball adalah anggota bintang tim hoki Jerman yang pada awalnya dilarang bertanding di Olimpiade 1936 dan hanya kembali karena teman tim bintang nya, Gustave Jaenecke, menolak untuk bermain tanpa dia. Tanpa Ball dan Jaenecke, Jerman tidak punya kesempatan untuk memenangkan medali di hoki. Hal ini melaporkan bahwa sebagai imbalan atas persetujuan untuk bertanding, keluarga Ball diberikan izin untuk meninggalkan Nazi Jerman ke Afrika Selatan.

Berdasarkan undang-undang rasial Nazi, juara anggar Helene Mayer dilepaskan kewarganegaraannya. Setelah meninggalkan Jerman ke Amerika, ia diundang untuk bergabung kembali ke Tim Olimpiade Musim Panas Jerman tahun 1936 di mana dia memenangkan medali perak Olimpiade. Kewarganegaraan Jerman wanita itu dikembalikan, dan karena dia "terlihat seperti bangsa Arya" dan terkenal, Hitler menggunakan dia sebagai simbol inklusivitas.

Pameran, yang berlangsung hingga 10 Juni juga menelusuri partisipasi Kanada dalam Olimpiade 1936.

Masyarakat internasional ragu-ragu ketika sampai pada pertanyaan apakah akan memboikot Olimpiade Hitler. Argumen panas tentang kedua belah pihak membawa kebijakan rasial Nazi Jerman ke kesadaran massa. Pada akhirnya Kanada mengikuti Britania Raya yang memimpin dan memutuskan untuk berpartisipasi. Tidak semua atlet setuju dengan keputusan tersebut dan banyak menolak untuk melakukan perjalanan ke Jerman, pada dasarnya memboikot Olimpiade.

Salah satunya adalah juara tinju Sammy Luftspring, yang lahir dari keluarga kelas pekerja Yahudi di Toronto. Antara 1932 dan 1936, Luftspring kalah hanya 5 kali dari 105 pertarungan, bergerak perlahan lebih dekat menuju impiannya untuk bersaing di Olimpiade. Namun, setelah memperhatikan saran dari keluarga dan menolak mendukung kebijakan rasis Hitler, Luftspring berbalik dari impian Olimpiade-nya. Dia menerbitkan sebuah surat terbuka yang menyatakan kasusnya.

"Kami sedang membuat pengorbanan pribadi dalam menolak peluang dan kami yakin bahwa semua olahragawan sejati Kanada akan menghargai bahwa kami tidak mau menyakiti perasaan teman sesamaYahudi kami dengan pergi ke suatu negeri yang akan memusnahkan mereka jika bisa."

Wartawan Kanada Matius Halton adalah koresponden Eropa untuk Toronto Daily Star yang menghabiskan waktu di Jerman merekam apa yang dilihatnya. Dia mengamati lebih dari hanya olahraga ketika melaporkan dari Jerman pada tahun 1933 dan selama Olimpiade tahun 1936. Tulisannya sering bersifat ramalan dalam pengamatan dan prediksi.

Pada 30 Maret 1933 ia menulis untuk Star, "Saya melihat sebuah parade ratusan anak-anak, antara umur tujuh dan enam belas tahun, membawa swastika dan meneriakkan yel-yel, "Orang-orang Yahudi harus dimusnahkan" dugaan saya adalah .. . bahwa Hitler telah datang untuk tinggal hingga ia digantikan oleh pembunuhan, perang sipil, atau bencana perang asing."

Pameran ini menceritakan kisah komprehensif Olimpiade tahun 1936 dan menawarkan pandangan baru pada rezim Nazi berdasarkan perspektif Yahudi dan keterlibatan masyarakat internasional dalam membiarkan pertandingan berlangsung. Moralitas para pendukung Olimpiade yang diselenggarakan oleh rezim Nazi secara efektif digambarkan memiliki kisah-kisah pribadi yang berani dan keji, mulai dari orang-orang yang mengatur dan berpartisipasi di dalamnya. Kita bisa melihat betapa pameran tersebut tak lebih dari 'another Jewish propaganda' yang dibuat untuk memperbesar simpati pada bangsa ini dan melupakan apa yang telah mereka perbuat terhadap bangsa Palestina!


Sumber :
www.bbfila.com
www.erabaru.net
www.sportshall.ca

Rabu, 31 Maret 2010

"Pertandingan Maut", Kisah Perlawanan Olahragawan Ukraina Terhadap Pasukan Pendudukan Jerman Melalui Sepakbola!

Monumen peringatan untuk pemain-pemain FC Start


Poster pertandingan ulang antara FC Start melawan Flakelf



Sebelum pertandingan antara FC Start (kanan) melawan tim Flakelf dari Luftwaffe. Meskipun tahu bahwa resikonya besar, FC Start menolak untuk melakukan salam Nazi di hadapan para pembesar militer Jerman!


Oleh: Alif Rafik Khan

Sepakbola telah menjadi olahraga yang sangat populer di Uni Soviet tahun 1930-an, terutama di Ukraina. Tim terkuat di Ukraina saat itu adalah Dynamo Kyiv, yang merupakan cabang sepakbola dari "Perkumpulan Olahraga Dynamo" yang didanai oleh serikat dagang, kepolisian dan Tentara Merah. Di komunis Rusia sendiri, sepakbola adalah aktivitas yang mendapat dukungan penuh oleh negara. Tahun 1938, Dynamo Kyiv menjadi tim peringkat keempat dalam liga nasional, dengan memasukkan 76 gol. Dua tahun selanjutnya (1939 dan 1940) tim tersebut bermain buruk sehingga tidak mendapat prestasi yang signifikan.

Musim kompetisi tahun 1941 tidak berjalan sampai tuntas, karena Jerman keburu menginvasi Uni Soviet tanggal 22 Juni 1941. Beberapa pemain Dynamo Kyiv bergabung dengan wajib militer dan pergi bertempur ke front. Ketika pasukan Wehrmacht makin mendekati Kiev, beberapa pemain sisanya membantu pertahanan sipil di dalam kota. Pertahanan tersebut tidak berarti apa-apa, karena pasukan Jerman terlalu tangguh untuk dihadang, dan Kiev pun jatuh. Akibatnya, sebagian pemain Dynamo Kyiv ikut masuk tahanan di kamp-kamp konsentrasi.

Beberapa lagi sisanya mencoba untuk mencari peruntungan di ibukota Ukraina yang sudah diduduki, dan mereka biasa berkumpul di Kiev's Bakery Number 3 untuk mencari informasi lowongan kerja. Semuanya bermula ketika Mykola Trusevych, kiper handal Dynamo, pulang kembali ke kotanya. Disini dia mendapat pekerjaan sebagai penyapu di toko roti yang dipimpin oleh Iosif Kordik (yang merupakan fans berat klub Dynamo Kyiv). Kordik menjadi manajer semata karena dia masih mempunyai darah Jerman. Dia kemudian mempunyai ide untuk membentuk tim sepakbola toko roti dan, di musim panas tahun 1942, mulai mencari para pemain berbakat di seantero Kiev. Dia mengutamakan mantan pemain Dynamo karena mereka sudah tentu mempunyai pengalaman dan skill yang paling bagus. Pemain pertama yang ditemukannya adalah winger berbakat Makar Goncharenko. Goncharenko sendiri masih mengingat dengan jelas undangan yang ditujukan kepadanya:

"Kolya mendatangiku di jalan Kreschatik tempat aku tinggal secara ilegal di rumah mantan mertuaku. Dia mengajakku berbicara masalah ide-idenya dan juga bagaimana caranya mencari pemain-pemain yang lain. Kita lalu kontak-kontakan dengan Kuzmenko dan Svyridovskiy, dan dari sanalah kita berhubungan dengan yang lainnya."

Beberapa minggu berikutnya, dibentuklah FC Start (Football Club Start) yang diperkuat oleh delapan mantan pemain Dynamo (Mykola Trusevych, Mikhail Svyridovskiy, Mykola Korotkykh, Oleksiy Klimenko, Fedir Tyutchev, Mikhail Putistin, Ivan Kuzmenko, Makar Goncharenko) dan tiga pemain dari Lokomotiv Kiev (Vladimir Balakin, Vasil Sukharev dan Mikhail Melnyk). Tanggal 7 Juni 1942, FC Start memainkan pertandingan pertamanya di liga lokal. Liga tersebut dijalankan oleh seorang Quisling (kolaborator) bernama Georgi Shvetsov yang merupakan mantan pemain sepakbola dan juga instruktur olahraga. Lawan pertama Start adalah Rukh, yang merupakan tim binaan Shvetsov. Dalam pertandingan tersebut Start menjadi pemenangnya dengan skor 7-2, suatu hal yang mengejutkan bila kita mengetahui bahwa para pemainnya hidup kekurangan, hampir tidak pernah mendapat makanan yang bergizi, juga hanya diperlengkapi dengan peralatan yang seadanya!

Selama tahun 1942, FC Start memainkan beberapa pertandingan dengan tim-tim dari garnisun pasukan pendudukan Axis di Ukraina yang beranggotakan para prajurit perang, dan kesemuanya berhasil dimenangkan oleh FC Start! Inilah daftar pertandingannya:

21 Juni 1942 melawan garnisun Hungaria. Skor akhir: 6-2
5 Juli 1942 melawan garnisun Rumania. Skor akhir: 11-0
12 Juli 1942 melawan tim pekerja rel kereta api militer. Skor akhir: 9-1
17 Juli 1942 melawan PGS (Jerman). Skor akhir: 6-0
19 Juli 1942 melawan MSG.Wal (Hungaria). Skor akhir: 5-1
21 Juli 1942 melawan MSG.Wal (Hungaria). Skor akhir: 3-2
6 Agustus 1942 melawan Flakelf (Jerman). Skor akhir: 5-1

Penguasa Jerman mulai was-was kalau-kalau kemenangan demi kemenangan yang diraih oleh FC Start bisa memicu patriotisme rakyat Ukraina dan juga menurunkan moral pasukan Axis.

Tim Luftwaffe Jerman Flakelf meminta pertandingan ulang, yang rencananya akan dilangsungkan pada tanggal 9 Agustus di stadion Zenit. Seorang perwira SS ditunjuk menjadi wasitnya, dan FC Start langsung insyaf bahwa dia tidak bisa diharapkan akan bisa berlaku adil nantinya. Beberapa simpatisan memperingatkan FC Start bahwa mereka lebih baik mengalah saja, karena kemungkinan buruk yang dapat terjadi adalah tim ini bisa-bisa dibubarkan dan pemainnya dikirim ke kamp tawanan bila tim Jerman yang kalah. Meskipun mendapat tekanan besar, manajer memutuskan bahwa apapun yang akan tejadi, mereka akan tetap bermain seperti biasanya, dengan penuh semangat dan determinasi. Mereka juga menolak untuk memberikan salam Nazi kepada lawan mereka sebelum pertandingan dimulai!

Seperti sudah bisa diduga sebelumnya, wasit Nazi tersebut membiarkan saja pelanggaran-pelanggaran brutal yang dilakukan oleh pemain-pemain Flakelf. Pemain FC Start yang paling banyak mendapat provokasi adalah kiper Trusevych yang, setelah berkali-kali dilanggar secara fisik, mendapat tendangan keras di kepalanya oleh pemain depan Flakelf sehingga pingsan tak sadarkan diri. Selagi Trusevych mendapat perawatan, Flakelf berhasil memasukkan bola ke gawang FC Start. Gol!

Wasit tetap tidak mengindahkan protes dan permintaan tolong para pemain FC Start terhadap permainan kasar yang ditunjukkan oleh lawannya. Tim Flakelf berkali-kali melakukan tindakan-tindakan yang ditujukan untuk mengintimidasi pemain-pemain FC Start, jelas-jelas lebih mengarah ke orangnya dan bukan bolanya. Tak hanya itu, tindakan lain pun seakan dibenarkan seperti menarik baju dan tackling dari belakang. Dahsyatnya, FC Start malahan mampu membalas ketertinggalannya melalui gol jarak jauh yang dihasilkan oleh Kuzmenko melalui tendangan bebas. Aksi selanjutnya lebih gila lagi: Goncharenko dari FC Start mendribel bola melewati setengah lapangan permainan dan mengecoh seluruh pemain bertahan Flakelf untuk kemudian menceploskannya ke gawang lawan! Skor 2-1 menutup babak pertama.

Babak kedua hampir-hampir seperti anti-klimaks saja. Masing-masing pihak mencetak gol dua kali. Menjelang akhir pertandingan, posisi skor adalah 5-3 untuk kemenangan FC Start, dan ini tampaknya tidak menghentikan kegilaan yang kemudian terjadi. Klimenko, pemain belakang FC Start, membawa bola dari garis pertahanannya dan mengalahkan semua pemain Jerman yang berusaha menghadangnya. Kini dia tinggal berhadapan dengan kiper saja. Alih-alih menembak bola dengan keras dan terarah, apa yang kemudian dilakukan odong-odong ini? Dia tiba-tiba balik badan dan menendang bola ke tengah lapangan! Sedetik kemudian wasit SS meniup peluit panjang tanda akhir pertandingan, padahal pertandingan belum lagi 90 menit berjalan.

Seminggu kemudian tanggal 16 Agustus, Start kembali mengalahkan Rukh, kali ini dengan skor 8-0. Tak lama setelahnya, beberapa pemain FC Start ditahan dan disiksa dalam penjara oleh Gestapo. Mereka dituduh telah menjadi agen NKVD (karena Dynamo didanai oleh satuan polisi Rusia pada masa pra-perang). Salah satu dari pemain yang ditahan adalah Mykola Korotkykh, yang kemudian tewas akibat penyiksaan berat. Sebagian dikirim ke kamp kerja-paksa Syrets dimana Ivan Kuzmenko, Oleksey Klimenko dan kiper Mykola Trusevich menyusul pergi ke alam baka di bulan Februari 1943. Sisa-sisanya yang masih selamat di antaranya adalah Fedir Tyutchev, Mikhail Svyridovskiy dan Makar Goncharenko (yang kemudian menyebarluaskan kisah ini ke masyarakat dunia).

Izvestiya adalah surat kabar pertama yang memberitakan tentang eksekusi para olahragawan ini dalam beritanya tertanggal 16 November 1943, walaupun kisah tentang pertandingannya sendiri tidak diungkapkan.

"Pertandingan Maut" menyeruak ke permukaan tahun 1958 ketika Petro Severov mempublikasikan artikel berjudul "Duel Terakhir" dalam koran Evening Kiev. Tahun berikutnya Severov, bersama dengan Naum Khalemsky, menerbitkan buku dengan judul sama, yang menceritakan tentang FC Start dan perjuangannya dalam melawan tentara pendudukan Nazi melalui sepakbola. Memoir dari Makar Goncharenko kemudian menyusul muncul.

Kisah ini langsung saja menjadi populer di Uni Soviet, terutama di Ukraina. Seperti biasa, bumbu romantis kemudian diselipkan untuk menambah seru si cerita. Dua buah film - Third Time (Mosfilm, 1964) dan The Match of Death, dibuat berdasarkan cerita ini. Sebuah patung didirikan pula di Zenit Stadium, Kiev (kemudian stadion ini sendiri dinamai ulang menjadi Start Stadium tahun 1981).

Kisah ini juga menginspirasi dua buah film non-Soviet: film drama Hungaria Két félidő a pokolban buatan tahun 1961 dan film Amerika Escape to Victory buatan tahun 1981 yang dibintangi oleh Sylvester Stallone dan Pele.

Novel berjudul Match of Death karya James Riordan merekonstruksi ulang cerita ini.


Sumber:
www.br.oleole.com
www.en.wikipedia.org