Tampilkan postingan dengan label Film Tentang Nazi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film Tentang Nazi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Oktober 2014

Stalingrad (2013), Film Rusia Berbujet Termahal





Tujuh puluh tahun telah berlalu sejak Pertempuran Stalingrad, perang sengit antara Adolf Hitler dan Joseph Stalin yang menewaskan hampir dua juta orang. Namun bulan ini, generasi baru Rusia datang ke bioskop untuk melihat film terbaru berjudul Stalingrad.

Ksenia Kuznetsova, seorang mahasiswi yang baru melihat film itu di sebuah bioskop dalam mal di Moskow, mengatakan ia bersyukur lahir setelah periode itu dan tidak perlu mengalaminya.

"Namun karakter-karakter di dalam film itu membuat penonton merasa ada di sana," ujarnya.

Dirilis pada Oktober, Stalingrad telah menjadi film terlaris sejak kejatuhan Uni Soviet satu generasi lalu. Film ini juga cukup banyak ditonton di China, dan diikutsertakan dalam kompetisi film asing terbaik pada ajang Oscar. 

Pertempuran Stalingrad merupakan kemenangan bagi Soviet, namun dengan banyak pengorbanan. Dengan keseluruhan korban tewas hampir dua juta pada kedua belah pihak, Stalingrad dianggap sebagai pertempuran paling berdarang dalam sejarah manusia.

Kritikus film Rusia Sergei Levrentev mengatakan keberhasilan box office Stalingrad merefleksikan penghormatan yang terus ada atas pengorbanan pada Perang Dunia II, penghormatan yang sekarang dilanjutkan pada generasi baru.

"Untuk anak-anak muda, yang merupakan penonton utama di bioskop saat ini, ini merupakan hal yang tidak biasa," ujar Levrentev.

"Mereka tak pernah melihat film-film Soviet sperti itu mengenai perang. Selain itu, mereka tidak tahu seburuk apa perang tersebut untuk warga Rusia, untuk penduduk Soviet."

Stalingrad merupakan film pertama Rusia yang dibuat dalam versi 3D untuk Imax. Namun agak janggal memasukkan kisah cinta ke dalam film tersebut.

Katya, seorang penonton di Moskow menyukai plot dan efek-efek khusus di film tersebut, menyebut produksinya sangat baik.

"Para aktornya hebat, dan tentu saja filmnya menyentuh hati karena ini mencerminkan kekuatan dan sejarah kita," ujarnya.

Pemerintah Rusia menanggung seluruh dana film berbiaya US$30 juta tersebut, sebagai bagian dari upaya Kremlin membuat film-film modern yang menunjukkan sejarah Rusia dalam perspektif positif.

Sekarang, kota Stalingrad telah berganti nama menjadi Volgograd. Hancur lebur saat perang, kota tersebut telah dibangun kembali dengan didominasi patung patriotis yang disebut "Motherland Calls (Panggilan Ibu Pertiwi)".

Dua kali lebih tinggi dari Patung Liberty, patung itu merupakan patung terbesar di dunia ketika diresmikan oleh otoritas Soviet pada 1967.

Namun karena monumen baja dan semen berbobot 8.000 ton itu dibangun di atas tanah liat, ia mulai miring. Jika ada angin kencang, patung itu bergoyang.

Warga kota berharap setelah menghabiskan jutaan dolar mendanai film bergaya Hollywood, pemerintah Rusia akan membiayai perbaikan monumen penghormatan korban perang di kota Stalingrad yang sebenarnya itu.


Sumber :













Fury (2014), Film Rambo ala awak Tank Sherman





 Ada begitu banyak cerita tentang perang dunia kedua. Kengeriannya, pembantaiannya, dan kegigihan prajurit yang rela mati demi negaranya telah banyak dikisahkan secara turun temurun untuk mengingat-ingat betapa perang hanya membawa petaka semata. Pun kesemuanya sudah pernah difilmkan dengan beragam bintang dan sutradara dari berbagai era. Namun siapa sangka ada tema yang segar, yang membawa tank sebagai sudut pandang cerita. Ya, Fury judulnya. Sebuah film tentang tank Sherman yang menjadi senjata bagi sebuah pasukan untuk membantai habis serdadu Nazi yang sedang menuju kehancurannya.

Fury diambil dari nama tank yang menjadi pusat aktifitas dari film ini. Ia mengambil setting pada tahun terakhir Perang Dunia Kedua, yang menceritakan tentang seorang anak muda yang tidak terlatih berperang kemudian berproses menjadi mesin pembunuh. Norman Ellison (Logan Lerman) namanya. Ia berada di bawah komando Don 'Wardaddy' Collier (Brad Pitt). Ellison menjadi asisten Trini 'Gordo' Garcia (Michael Pena) yang mengemudikan tank. Ia menggantikan asisten pengemudi sebelumnya yang tewas. Pun ada dua orang lagi dalam tank tersebut yang masih dalam komando Collier, yakni Boyd 'Bible' Swan (Shia LeBeouf), penembak yang religius dan Grady 'Coon-Ass' Travis (Jon Bernthal) selaku pengisi amunisi. Keempat orang itu, terutama Collier, memiliki saham dalam membentuk Ellison sebagai prajurit yang tanpa belas kasih terhadap musuh.


Fury memiliki plot yang tidak begitu kuat dan hanya berkisah tentang perjalanan tank yang berjenis M4A3E8 Sherman. Jika dibaca dengan psikologi global masa kini, Fury tidak begitu efektif untuk mengisahkan tentang rasa nasionalisme, kepahlawanan maupun persaudaraan. Yang terjadi, Fury justru menggambarkan sebuah film yang tidak fokus namun mengganggu  karena rasa takut yang diceritakan dari seberapa banyak tank ini membunuh lawannya.

David Ayer selaku sutradara memang tak membuang secara percuma USD 70 juta. Karena Fury memiliki kapasitasnya sebagai film kelas atas yang berada di atas rata-rata film perang yang sudah muncul. Detail scene, dengan populasi prajurit yang masif, tahanan perang dan tank-tank lain yang berseliweran di sepanjang film menjadikan film ini enak dilihat. Banyaknya tank Sherman menunjukkan Collier tidak sendiri dalam memimpin pasukan tank-nya. Meski pada akhirnya, Fury terpojok diantara para prajurit Jerman.

Film perang rasanya kurang lengkap jika tanpa tragedi. Akhir ceritanya pun mirip Saving Private Ryan, yang hanya menyisakan Ryan sebagai penutur kisah. Pun dengan Fury, yang hanya menyisakan Ellison sebagai satu-satunya awak Fury yang selamat. Sementara Grady, Bible dan Gordo tewas menyusul kemudian Collier yang terkena ledakan granat. Namun bukan film Amerika jika ending prajurit dalam filmnya harus kalah. Karena esok hari pasca perang yang melibatkan Fury, tentara Amerika Serikat datang dan memastikan bahwa tentara Jerman sudah kalah.


Sumber :











Selasa, 13 Juli 2010

Hitler's Warriors. Seri Biografi 6 Jenderal Nazi Paling Terkemuka!



"Hitler's Warriors" adalah film dokumenter yang terdiri dari enam seri dan masing-masing serinya mengetengahkan biografi para jenderal Hitler yang paling terkenal, dari mulai Erwin Rommel sampai Wilhelm Canaris. Dengan total waktu putar 257 menit (3 DVD), film dokumenter satu ini dijamin bakal memuaskan rasa ingin tahu kita tentang masing-masing tokoh yang digambarkan begitu menariknya. Jangan lupakan pula cuplikan-cuplikan gambar bergerak era Perang Dunia II yang sebagiannya belum pernah dipublikasikan sebelumnya!

Keenam seri tersebut adalah :
1. Rommel - The Hero (43:11)
2. Manstein - The Strategist (43:12)
3. Kaitel - The Lackey (42:21)
4. Udet - The Flyer (43:37)
5. Paulus - The Defector (42:35)
5. Canaris - The Master Spy (42:52)

Bila anda ingin memilikinya, klik DISINI untuk harga dan cara pemesanan. Sayang sampai saat ini belum ada teks Indonesia yang tersedia, kecuali teks Zimbabwe dan Lesotho!

Selasa, 06 Juli 2010

Dunkirk (2004), Doku-Drama Tentang Evakuasi Pasukan Inggris Dari Pantai Prancis Yang Terkepung Jerman!


Oleh: Alif Rafik Khan

"In May 1940, Britain came closer to losing the Second World War than at any other time. For ten days, the future of the country hung in the balance. This is the story of those desperate days. All the characters are real; all the events from first-hand accounts."
— Narasi pembuka oleh Timothy Dalton

DUNKIRK merupakan film drama-dokumenter yang berkisah tentang salah satu misi evakuasi paling terkenal dalam sejarah, yaitu pengungsian ratusan ribu prajurit British Expeditionary Forces (BEF bukan BOKEF) dan Sekutu dari pantai Dunkirk yang dikepung pasukan Jerman pada bulan Mei 1940. Maksudnya drama-dokumenter yaitu bahwa film ini menggabungkan antara drama yang diperankan oleh aktor, dan cuplikan-cuplikan asli dari zaman Perang Dunia II. Hanya karena drama bukan berarti film ini menjadi fiksi, bukan begitu. Hanya saja kronologis cerita menjadi lebih menegangkan untuk diikuti bila dibandingkan dengan kita hanya menonton newsreel saja.

Film ini terdiri dari tiga episode:
Episode 1: Retreat. Pasukan Inggris mulai terdesak oleh serangan Jerman dengan Blitzkrieg-nya. Mereka terus-terusan mundur sampai sebagian besarnya terjebak di sebuah pantai kecil Prancis bernama Dunkirk.
Episode 2: Evacuation. Perdana Menteri Inggris Winston Churchill memerintahkan evakuasi besar-besaran dari pasukan yang terkepung. Berbagai kapal dari jenis dan ukuran yang beraneka ragam dikerahkan ke TKP.
Episode 3: Deliverance. Akhirnya pasukan Inggris yang diungsikan berhasil selamat tiba di Inggris. Tercatat 338.226 dari 400.000 orang yang diselamatkan. Sisanya tewas atau tertangkap. Tak terhitung kerugian material yang ditinggalkan.

Untuk pemesanan silakan klik DISINI.


Kamis, 01 Juli 2010

Shooting War: World War II Combat Cameramen (2000). Film Dokumenter Produksi Steven Spielberg Dengan Narator Tom Hanks!


Oleh: Alif Rafik Khan

Duo Steven Spielberg dan Tom Hanks sudah kita kenal karya-karyanya yang selalu top markotop, dimulai dari SAVING PRIVATE ALIF, BAND OF BROTHERS sampai yang terbaru THE PACIFIC. Nah, tahukah anda bahwa mereka juga pernah mengeluarkan film dokumenter dengan kualitas yang tak jauh beda? Judulnya adalah SHOOTING WAR: WORLD WAR II COMBAT CAMERAMEN.

Jujur saja, inilah salah satu film dokumenter tentang Perang Dunia II TERBAIK yang pernah saya tonton. Bukan hanya karena temanya yang memang menarik, tetapi juga karena menampilkan cuplikan-cuplikan film yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya! Apalagi dengan pembawa acara Tom Hanks (yang tampil mengejutkan dengan janggut lebatnya), semakin menambah bobot film ini.

Asyiknya, banyak adegan dalam film dokumenter ini yang bisa dibilang GRAPHIC alias mengerikan: prajurit terbakar, bunuh diri ke jurang, Kamikaze jarak dekat, pesawat hancur berkeping-keping dan sebagainya.

Sesuai dengan namanya, SHOOTING WAR: WORLD WAR II COMBAT CAMERAMEN sendiri mengangkat kisah tentang para wartawan perang Amerika dalam Perang Dunia II, yang merupakan perang besar pertama dengan peliputan luas dari media massa. Mereka terjun dalam berbagai front, mulai dari Pasifik, Afrika sampai Eropa. Para "pahlawan tak diketahui" ini juga ikut menanggung resiko sama dengan prajurit yang bertempur lainnya, malahan mereka mempunyai kemungkinan mati lebih besar. Bayangkan saja, sementara rekan-rekannya bersenjatakan bedil, senapan mesin, granat dan sebagainya, andalan satu-satunya yang mereka bawa adalah kamera film/foto!

Berminat? Silakan pesan film dokumenter berdurasi 88 menit ini DISINI. Sudah ada teks Indonesianya kok!


Rabu, 30 Juni 2010

Nuremberg: Nazis On Trial (2006). Dokumenter Tentang Pengadilan Nürnberg Yang Memfokuskan Pada Speer, Göring dan Hess!


Oleh: Alif Rafik Khan

Ini adalah sebuah pengadilan penjahat perang yang, katanya, telah merubah sejarah dunia Kang-ouw (yang sering baca Kho Ping-Hoo pasti tahu!). Dalam kursi pesakitan terdapat 21 orang manusia-manusia paling berkuasa dalam pemerintahan Third Reich, dan semuanya menghadapi ancaman hukuman mati! Tapi kisah sebenarnya dari Pengadilan Nürnberg terletak jauh dari pengamatan masyarakat umum dan wartawan, dimana para pengacara dan psikiater mencoba sebaik mungkin menyelami isi hati yang terdalam dari para mantan petinggi ini. Film dokumenter yang terdiri dari tiga bagian (dengan total masa putar 177 menit) ini memfokuskan pada kasus yang menimpa tiga orang paling terkenal di antaranya: Albert Speer, Hermann Göring dan Rudolf Hess. Dokumenter ini sendiri didasarkan atas penelitian yang tidak main-main terhadap catatan-catatan sejarah yang tersedia, yang banyak di antaranya baru terpublikasikan sekarang. Bisa dibilang bahwa NUREMBERG mengkombinasikan antara wawancara para saksi mata, film hitam putih asli masa itu dan drama kelas satu yang diperankan oleh aktor-aktor berbakat (terutama saya suka Robert Pugh sang pemeran Göring, yang walaupun wajahnya nggak mirip-mirip amat dengan aslinya, tapi aktingnya SUPERB!).

Seperti biasa, yang ingin memesan film yang sudah dilengkapi dengan teks Indonesia ini bisa klik DISINI.


Jumat, 25 Juni 2010

The Nazis: A Warning From History (1997). Sejarah Kebangkitan Dan Kejatuhan Partai Nazi Dalam Kacamata BBC!


Oleh: Alif Rafik Khan

Film dokumenter produksi BBC ini terdiri dari enam episode yang masing-masingnya mempunyai waktu putar rata-rata 45 menit, dan diurutkan secara kronologis dari mulai berdiri dan kebangkitan Partai NSDAP (Nazi), sampai ke Perang Dunia II dan kejatuhannya setelah Hitler bunuh diri pada akhir April 1945. Temanya pun disusun secara sistematis, yang membahas seluk-beluk Nazi pada awal mulanya, jalan Hitler menuju kursi kekuasaan, Anschluss, perang di Front Timur, kamp konsentrasi, dan runtuhnya Third Reich.

Episode pertama mengupas tentang revolusi para pekerja di kota München yang sempat berhasil mengambil alih kontrol selama beberapa waktu, juga membongkar jumlah orang-orang Yahudi di tubuh Partai Komunis sehingga memunculkan teori aliansi Yahudi-Komunis yang diusung Hitler demi meraih simpati massa. Pertarungan di jalanan antara kaum komunis dan reaksioner juga diketengahkan, yang menjelaskan alasan kenapa rakyat Jerman begitu merindukan keteraturan dan hukum yang tegas.

Operasi-operasi lokal Gestapo akan membuat kita terkejut. Betapa demi kesetiaan kepada partai dan Hitler, mereka mampu untuk melakukan hal-hal yang tak terbayangkan bagi kita kini. Hal ini diillustrasikan melalui pandangan singkat tentang kasus di Nürnberg, salah satunya adalah wawancara langsung dengan seorang mantan informan yang telah mengirim tetangganya yang tak bersalah untuk membusuk di kamp konsentrasi!

Chapter Wild East akan menggambarkan berbagai pendekatan yang dilakukan para petinggi Nazi dalam usaha mereka membuat Polandia menjadi lebih "Jerman". Diperlihatkan pula bagaimana gaya manajemen Hitler telah begitu mempengaruhi birokrasi pengikutnya di partai Nazi dan pemerintahan Jerman.

Seperti semua propaganda busuk barat lainnya, dokumenter ini pun begitu sering meng-"iblis"kan Hitler dan kaum Nazi, seakan-akan mereka adalah manusia yang tak ada baik-baiknya dan merupakan perwakilan dedemit di dunia! Tapi setidaknya ini lah salah satu film yang secara tuntas mengupas seluk-beluk partai Nazi dari lahir sampai mati, dan merupakan sesuatu yang WAJIB dikoleksi bagi para pemerhatinya.

Enam episode yang tersedia:

Episode 1: Helped Into Power
Episode 2: Chaos and Consent
Episode 3: The Wrong War
Episode 4: The Wild East
Episode 5: The Road to Treblinka
Episode 6: Fighting to the End

Untuk pemesanan, silakan klik DISINI.


Minggu, 13 Juni 2010

Stalag 17 (1953). Mata-Mata Di Dalam Tubuh Kamp Tawanan Jerman!

Cuplikan film Stalag 17


Poster film Stalag 17


Paster lain film Stalag 17. Nggak mirip film perang!


Oleh : Alif Rafik Khan

Film ini disebut-sebut sebagai salah satu film tentang tawanan perang dalam Perang Dunia II yang paling bagus, selain dari The Bridge on the River Kwai dan The Great Escape.

Ceritanya sendiri bersetting hari Natal tahun 1944 di kamp tawanan perang Stalag 17. Bagi para penghuni Barak Obama eh 4 yang kesemuanya berpangkat Sersan, mereka menghadapi masalah serius - bocornya rahasia intern. Pihak Jerman tampaknya selalu mengetahui apa-apa yang mereka kerjakan, terutama mengenai rencana pelarian yang telah disusun secara matang. Usaha kabur yang paling terakhir berakhir pula dengan kegagalan, dan dua orang tawanan yang melakukannya, Manfredi dan Johnson, masuk perangkap dengan sukses dan keluar sudah jadi mayat. Bagi beberapa orang di barak tersebut, terutama si mulut besar Duke, siapa si pengkhianat sudah jelas: J.J. Sefton, seorang penjual kendaraan beroda yang tak akan ragu-ragu berbisnis dengan para penjaga demi keuntungan pribadi, dan yang diperlakukan istimewa oleh para penawannya (tidak seperti tawanan lainnya). Ketika dikonfrontasi, tentu saja Sefton menolak tuduhan tersebut, dan mengatakan bahwa ia tidak ada niat untuk meloloskan diri. Dia berencana untuk menghabiskan perang dengan sedikit kenyamanan yang masih tersisa untuk dirinya, dan hal tersebut bukan berarti dengan menyerahkan informasi-informasi berharga kepada Jerman!

Ketika situasi mulai tidak terkendali dan pertentangan di antara para tawanan semakin memanas, mau tidak mau Sefton harus mencari tahu sendiri siapakah pengkhianat yang sebenarnya. Kalau tidak, ia terancam dipukuli sampai mati oleh Duke dan para Sersan berangasan lainnya!

Data Film:
Judul: Stalag 17 (Seventeen)
Sutradara: Billy Wilder
Produser: Billy Wilder
Pemain: William Holden, Don Taylor dan Otto Preminger
Produksi: Paramount Pictures
Tanggal Rilis: 29 Mei 1953 (Inggris) dan 1 Juli 1953 (Amerika Serikat)
Panjang film: 120 menit
Teks : Inggris
Order : DISINI


Jumat, 11 Juni 2010

Von Ryan's Express (1965). Bila Frank Sinatra Berperang Melawan Jerman!

Kedua pemeran utama film ini, yang satu dari Amerika Serikat dan satunya lagi dari Inggris


Cuplikan film Von Ryan's Express



Poster film Von Ryan's Express


Oleh : Alif Rafik Khan

Von Ryan's Express adalah film petualangan bersetting Perang Dunia II yang dibuat tahun 1965 dan disutradarai oleh Mark Robson. Aktor yang menjadi pemeran utama film ini tidak lain tidak bukan adalah Frank Sinatra, orang yang kita kenal sebagai penyanyi legendaris dengan lagunya MY MUNAH eh MY WAY. Film ini dibuat berdasarkan novel laris karangan David Westheimer.

Salah satu hal menarik dari film-film tentang Perang Dunia II sampai saat itu adalah bahwa kebanyakan dari mereka dibuat berdasarkan kisah nyata atau setidaknya terinspirasi darinya. Von Ryan's Express kemudian merubah hal tersebut: film ini sepenuhnya fiksi, dan merupakan saduran dari novel fiksi pula. Tapi meskipun begitu, film ini dibuat dengan mengedepankan ketegangan tingkat tinggi yang memikat para pemirsanya dari awal sampai akhir. Tak heran bila kemudian dia berhasil masuk 10 besar box-office tahun 1965 dengan meraup pendapatan 17 juta dollar!

Frank Sinatra sendiri sudah mulai main film dari sejak pertengahan 1940-an, meskipun penampilannya yang paling dikenal adalah dalam film berjudul The Man with the Golden Arm yang dibuat tahun 1955. Disebut-sebut kalau itulah aktingnya yang terbaik sepanjang hayatnya. Anehnya, dia tidak memenangkan Oscar dari film ini, melainkan dari From Here to Eternity (1954) dimana dia memenangkan Peran Pembantu Pria Terbaik.

Film ini menceritakan tentang akhir dari rezim Mussolini di Italia tahun 1943. Pasukan Sekutu telah mulai masuk ke Pulau Sisilia, dan rakyat disana bukannya ikut membantu mengenyahkan mereka tapi malah menyambutnya sebagai pembebas. Dalam fase ini lah seorang pilot Amerika berpangkat Kolonel bernama Ryan (Frank Sinatra) tertangkap oleh Italia ketika pesawatnya tertembak jatuh. Dia lalu dibawa ke kamp tawanan yang kebanyakan diisi oleh prajurit Inggris di bawah pimpinan Major Eric Fincham (Trevor Howard). Karena Ryan merupakan perwira berpangkat tertinggi dalam kamp tersebut,maka dia pun diangkat sebagai pimpinan, meskipun banyak pula yang tidak menyukainya. Fincham meyakini bahwa adalah tugas setiap prajurit Sekutu yang tertangkap untuk berusaha melarikan diri, sementara Ryan di lain pihak menganggap usaha itu sia-sia belaka karena pasukan Sekutu sudah di ambang pintu untuk membebaskan mereka semua.

Sudah bisa diduga kalau kemudian keduanya berseteru satu sama lain. Apalagi setelah Ryan membocorkan informasi mengenai terowongan rahasia yang dibangun Fincham kepada komandan kamp yang berkebangsaan Italia. Fincham menganggap Ryan tak ubahnya sebagai pengkhianat, dan ia mulai memanggilnya sebagai "Von Ryan". Tapi tak lama kemudian keduanya dipaksa oleh keadaan untuk bekerjasama. Mussolini lengser dari kekuasaannya, dan Jerman bermaksud untuk mengangkut semua tawanan perang Sekutu ke wilayahnya demi mencegah mereka lepas ke tangan musuh. Saat ini lah Ryan mulai membuat rencana pelarian yang berani, yang akan membawa mereka dari Italia ke negara netral Swiss dengan hanya bermodalkan sebuah kereta api! Tak terbayangkan rintangan yang harus mereka lalui,dari depan, samping, atas dan belakang!

Panjang film: 117 menit
Teks : Inggris
Produksi: 20th Century Fox
Tanggal rilis: 23 Juni 1965

Seperti biasa, kalau anda berminat untuk menontonnya bisa melihat DISINI.


Anzio (1968). Film Tentang Pertempuran Anzio Di Italia!

Poster film Anzio


Salah satu adegan dalam film Anzio yang memperlihatkan Generalfeldmarschall Luftwaffe Albert Kesselring, panglima pasukan Jerman di Mediterania


Poster film Anzio


Oleh : Alif Rafik Khan

Dalam penilaian saya, hampir tidak ada film yang mengangkat mengenai salah satu pertempuran paling berdarah dalam Perang Dunia II, yaitu Pertempuran Anzio. Dari salah satu yang sedikit itu adalah film ini, ANZIO.

Setelah mendarat bersama dengan pasukan Sekutu di Anzio, Italia tahun 1944, koresponden perang Dick Ennis dan temannya Kopral Rabinoff menjamin kepada komandan Anzio jenderal Jack Lesley bahwa jalan ke Roma telah terbuka lebar dan Jerman masih belum datang untuk "menyambut" mereka. Tapi bukannya menuruti saran tersebut dan langsung bergerak menuju ke Roma, Lesley malam memprioritaskan untuk mengamankan pendaratan terlebih dahulu dan memperkuat pertahanan pantainya. Ini adalah suatu kesalahan fatal, karena Jerman pada akhirnya meluncur menuju Anzio dan mengepung pasukan Sekutu di sejumput pantai yang masih tersisa. Barulah setelah mengalami pertempuran dahsyat selama empat bulan dan menderita korban 30.000 orang, pasukan Sekutu mampu menembus kepungan Jerman dan berbaris menuju ke Roma yang telah terbuka!

Film ini dikenal juga dengan: Lo Sbarco di Anzio (Pertempuran Anzio)
Genre: Campuran Perang, Action/petualangan dan Drama
Panjang film: 1 jam 57 menit
Rating MPAA: PG
Produksi: Dino de Laurentis Company
Studio: Columbia TriStar Motion Picture Group
Distributor : Sony Pictures
Teks Indonesia: Tidak ada
Lokasi syuting: Roma, Italia

Bila berminat membeli silakan lihat DISINI


Rabu, 02 Juni 2010

Das Boot (1981). Film Tentang U-Boat Paling Dahsyat!

U-96 berangkat meninggalkan pangkalan La Rochelle untuk melakukan patroli yang tak terlupakan


Para perwira U-96 di atas menara kapal selam. Mereka memperhatikan kapal tanker yang terbakar hebat setelah sebelumnya dihantam oleh torpedo U-boat. Dari kiri ke kanan: Perwira Pengawas kedua (Semmelrogge), Kapten (Prochnow), Navigator Kriechbaum (Tauber), Perwira Pengawas Pertama (Bengsch), Leutnant Werner (Grönemeyer), "Little" Benjamin (Hoffmann), Kadet Ullmann (May), dan Pilgrim (Fedder).


Cover DVD Das Boot


Oleh : Alif Rafik Khan

Tahunnya adalah 1941, tahun dimana Perang Dunia II sedang hot-hotnya berkecamuk, tahun dimana dua orang negara raksasa akhirnya ikut nimbrung dalam perang paling mengerikan sepanjang sejarah: Jepang dan Amerika Serikat. Di wilayah Prancis yang diduduki Jerman, para kru muda U-boat berkumpul bersama untuk acara mabok-mabok terakhir sebelum mereka berangkat patroli le lautan lepas. Mereka berpesta gila-gilaan, berdansa, dan ble'e-ble'e (baca: berhubungan badan) seakan tak ada lagi hari esok. Untuk mereka, kemungkinannya memang besar sekali bahwa mereka tak akan pernah kembali lagi. Meskipun pada saat itu mereka tidak tahu fakta mencengangkan bahwa dari 40.000 orang anggota satuan U-boat Jerman, lebih dari 30.000 orang kehilangan nyawanya!

Kali ini para awak tersebut kedatangan tamu istimewa yang akan menemani mereka, yaitu Leutnant Werner (Herbert Grönemeyer), seorang koresponden perang yang sangat berambisi tapi sesungguhnya masih hijau dalam peperangan. Dia berharap akan menemukan makna baru dari peperangan di lautan lepas sekaligus menambah khazanah bahan untuk artikelnya. Sedikit saja dia tahu bahwa semenjak kapal selam abu-abu sempit dan ringkih tersebut meninggalkan pangkalannya, dia akan mengalami pengalaman paling menakjubkan sekaligus mengerikan, ketegangan yang luar biasa, kebosanan tak tertanggungkan, kesetiakawanan antar para awak kapal, ketakutan traumatis, kebanggaan korps, dan aksi nyaris bunuh-diri yang berakhir dengan selamatnya dari misi tersebut secara ajaib!

Satu demi satu, Werner mulai mengenal para teman barunya. Dalam daftar puncak adalah sang kapten alias Kapitänleutnant (Jürgen Prochnow) yang baru berusia 30 tahun dan dijuluki "orang tua kapal", yang wajahnya seakan-akan masih membawa kesedihan dari misi sebelumnya yang berakhir dengan bencana. Si Kapten tampaknya telah menginspirasi anak buahnya, bahkan pada saat ia menerima perintah yang hampir mustahil untuk dilaksanakan. Selain itu, ada juga kepala insinyur (Klaus Wenneman) yang memegang tanggungjawab penuh akan berfungsinya kapal dan juga para kru, padahal usianya barulah menginjak 27 tahun! Terus ada Johann (Erwin Leder) sang kepala mekanik jenius yang dikenal oleh teman-temannya dengan nama "si hantu", yang memperlakukan mesin-mesin diesel kapal selamnya yang super bising dan bau oli seakan-akan adalah kekasih tercintanya!

Pada awalnya, hari-hari Werner bersama kamerad barunya diisi dengan pelayaran menyenangkan tanpa tujuan, hanya mencari-cari adakah kapal naas yang nyelonong di periskop. Mereka saling bercanda satu sama lain, membual akan pacarnya yang menanti di kampung halaman, dan menceritakan joke-joke porno; semuanya dilakukan demi membunuh waktu yang seakan tak berujung. Tapi dengan berlalunya masa, para kru tersebut semakin merasa terkurung dalam U-boat yang pengap, panas dan berbau. Timbullah klaustrofobia (rasa takut yang berlebihan akan ruang sempit). Ruangan berbentuk tabung yang mereka tempati begitu dipenuhi oleh manusia, dan mustahil lah untuk mendapatkan privasi untuk diri sendiri. Mereka bahkan harus tidur dalam shift, dua orang untuk satu tempat tidur seadanya. Seakan masih belum cukup, semua awak U-boat tersebut hanyalah menggunakan satu buah toilet!

Sedikit demi sedikit mereka menyaksikan dengan hati yang sesak, betapa persediaan roti yang dibawa kini mulai ditumbuhi oleh jamur, dan daging-daging babi yang tergantung di pipa telah berbau diesel dan ditumbuhi belatung. Ketegangan semakin meningkat, dan seakan tidak ada sesuatu pun untuk mengobatinya.

Dan akhirnya saat itu datang - sebuah kapal perusak musuh terlihat mendekat dengan cepat! Kapten langsung memberikan peringatan dan U-96 pun segera menyelam. Serangan! Bom kedalaman segera meledak di sekeliling kapal selam. Para kru terpaku, belingsatan, saling bertabrakan dan berdesakan melalui jalan-jalan sempit yang menghubungkan ruangan demi ruangan. Kebocoran mulai terjadi disana-sini, dan setiap kali bom dalam meledak, maka kapal bergoncang dengan hebatnya, seakan pasrah menantikan apapun yang akan terjadi. Kini setiap awak kapal telah merasakan pengalaman pertama mereka dalam petempuran!

Dari sejak saat itu, seakan semua hal bersatu untuk menambah derita para awak kapal: Sekutu, perintah Hitler, lautan, dan takdir. Badai yang berlangsung selama tiga minggu telah membuat U-96 hanya menyelam di kedalaman saja dan tidak berani nongol keluar, suatu ujian ketahanan fisik dan mental bari para kru yang memang sudah nge-drop dari sebelumnya. Ketika akhirnya mereka menampakkan diri di permukaan, pertempuran baru telah menanti. Mereka mendapat ujian berat ketika harus menghadapi konvoy kapal barang yang dikawal oleh sepasukan kapal perusak. Sang kapten nekad menyerang konvoy tersebut dan menembakkan torpedo peraknya untuk kemudian buru-buru menyelam kembali untuk menghindari serangan balasan. Kini dia membenamkan kapal tuanya semakin dalam dari biasanya hingga mencapai kedalaman 800 kaki yang tak pernah dicapai sebelumnya! Baut dan rivet saling berloncatan dari rumahnya akibat tekanan air yang tidak alang kepalang. Sang kapten sendiri harus menghadapi dilema kemanusiaan secara pribadi ketika ia dipaksa ole keadaan untuk meninggalkan awak yang selamat dari kapal barang yang ditenggelamkan U-96, demi untuk mematuhi perintah tegas dari markas besar untuk tidak pernah membawa kru musuh yang selamat.

Kemudian, ketika para kru U-boat mengira bahwa misi mereka telah selesai dan kini dalam perjalanan pulang untuk merayakan Natal di rumah masing-masing, datanglah perintah baru: Kapal tersebut diperintahkan untuk menembus blokade kapal perusak Inggris yang menjaga selat sempit Gibraltar yang sangat berbahaya. Benar-benar wong edhuan!

Moral langsung merosot seperti merosotnya kapal itu sendiri ke kedalaman. Mereka tahu bahwa ini adalah misi yang sama saja dengan bunuh diri. Mereka tak lagi merasa adanya rasa patriotisme dalam hati mereka. Keinginan mereka hanya satu: berkumpul kembali dengan orang-orang tercinta di kampung halaman yang terletak begitu jauhnya. Tapi semua perasaan ini terkalahkan oleh semangat muda mereka yang menggebu-gebu, juga kesetiaan tanpa batas terhadap kapten kapal yang sangat mereka cintai. Mereka memutuskan untuk maju terus! Di bawah lindungan kegelapan, U-96 diam-diam melintasi selat dan berlayar di permukaan. Di sekeliling mereka, lampu sorot dari puluhan kapal Inggris dan artileri pantai saling berpendaran, seakan haus mencari mangsa siapa saja yang berniat gila masuk kesana.

Apakah mereka akan berhasil dalam menjalankan misinya?

Bagi yang berminat untuk memiliki film ini (English subtitle only), bisa memesan DISINI.


Sumber :
www.dasboot.com
www.en.wikipedia.org


Jumat, 28 Mei 2010

Cross of Iron (1977). Film Yang Terinspirasi Dari Kehidupan Nyata Peraih Ritterkreuz dan Eichenlaub Johann Schwerdfeger!

Cover DVD film Cross of Iron


Adegan film Cross of Iron


Poster pertama film Cross of Iron


Poster kedua film Cross of Iron


Poster ketiga film Cross of Iron


Oleh : Alif Rafik Khan

Cross of Iron adalah film perang keluaran tahun 1977 yang disutradarai oleh Sam Peckinpah dan dengan aktor-aktor James Coburn, James Mason, Maximilian Schell, dan David Warner.

Film ini mengambil setting di Front Timur tahun 1943, ketika arah peperangan mulai berbalik tidak menguntungkan pasukan Jerman yang bercokol disana. Cross of Iron adalah kisah tentang konflik kepentingan antara seorang perwira aristokrat perlente pemegang Iron Cross yang baru datang ke markas di front yang terancam terus menerus oleh artileri Rusia, dengan seorang sersan infanteri veteran yang sudah kenyang makan asam garam pertempuran. Background-nya sendiri adalah penarikan mundur pasukan Jerman dari Semenanjung Taman ke pantai Laut Hitam di Uni Soviet.

Cross of Iron dibuat berdasarkan novel berjudul 'The Willing Flesh' karya Willi Heinrich yang dipublikasikan tahun 1956. Novel itu sendiri disebut-sebut merupakan kisah nyata dari kehidupan Johann Schwerdfeger, Oberfeldwebel terkenal peraih Eichenlaub. Seperti kebanyakan film besutan Sam Peckinpah lainnya, kebanyakan aksi dalam film ini direkam menggunakan slow motion.

Cross of Iron menceritakan kisah sebuah peleton infanteri Wehrmacht di jembatan Kuban, Front Timur tahun 1943, yang dipimpin oleh Unteroffizier (Sersan) Steiner, yang dimainkan dengan "dingin" oleh James Coburn. Film dibuka dengan pasukan Wehrmacht yang berbaris mundur seakan berkesesuaian dengan takdir yang telah "digariskan" oleh cuplikan dokumenter dari Adolf Hitler, Hitlerjugend, penyerbuan Jerman ke Uni Soviet, dan penarikan mundurnya. Asyiknya, kita bisa mendengarkan intro volkslied (lagu rakyat) tradisional Hänschen klein dan Horst-Wessel-Lied sebagai soundtrack.

Steiner pulang ke markas dengan membawa seorang bocah Rusia yang ia tawan sehabis melakukan patroli pengintaian yang sukses. Di sana ternyata datang juga komandan batalion baru yang dari pertama sudah memperlihatkan gelagat-gelagat pikasebeleun (menyebalkan), seorang perwira aristokrat keturunan Prusia berpangkat Hauptmann (Kapten) bernama Stransky, yang diperankan oleh Maximilian Schell. Demi melihat Steiner datang membawa bocah "musuh" tersebut. Stransky tanpa tedeng aling-aling memerintahkan agar si bocah segera ditembak mati. Ketika Steiner menolak perintah tersebut, Stransky langsung bersiap untuk menembak si bocah dengan tangannya sendiri. Untungnya, di saat terakhir datang Obergefreiter (Kopral) Schnurrbart (panggilannya, yang berarti kumis!) yang menyelamatkan bocah tersebut dengan berkata bahwa biarlah dia sendiri yang akan menembaknya. Sang kopral dan bocah itu lalu pergi ke semak belukar.

Dalam percakapan dengan komandan resimen, Oberst Brandt (James Mason) dan ajudannya Hauptmann Kiesel (seorang lelaki yang sudah muak akan peperangan dan diperankan oleh David Warner), Stransky menyombongkan diri dan berkata bahwa dia telah secara sukarela mengajukan diri sendiri untuk dipindahkan dari tempat asalnya yang nyaman di daerah pendudukan Prancis ke front depan di Rusia demi bisa mendapatkan Iron Cross (harusnya sih Knight's Cross atau Ritterkreuz)! Pernyataan yang sangat blak-blakan seperti itu tentu saja mengagetkan para perwira lain. Stransky kemudian diperkenalkan dengan Steiner yang baru pulang ke markas. Steiner sendiri adalah seorang prajurit pemberani yang sangat disegani oleh kawan-kawannya meskipun sifatnya yang seenaknya sendiri. Dalam usahanya untuk memperbaiki keadaan, Stransky mempromosikan Steiner menjadi Feldwebel. Bukannya kelihatan bergembira atau berterimakasih, Steiner cuek saja menanggapinya!

Stransky juga menemukan bahwa ajudannya, Leutnant Triebig, adalah pencinta sesama jenis ketika dia menemukan Triebig sedang mengelus pipi seorang prajurit rendahan, Josef Keppler. Saat itu hal seperti ini merupakan kejahatan berat dan pelakunya bisa mendapatkan hukuman mati. Stransky memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya ketika dia memaksa Triebig agar melebih-lebihkan aksinya di front demi mempermulus cita-citanya meraih Iron Cross. Triebig diancam akan diajukan ke pengadilan militer bila tidak menuruti permintaan Stransky.

Ketika sedang menunggu serangan Rusia yang akan tiba, Steiner melepaskan si bocah Rusia (yang kemudian memberi harmonikanya kepada Steiner), hanya untuk melihatnya terbunuh dengan tragis oleh pasukan Soviet yang menyangkanya musuh! Dalam serangan Soviet tersebut, Leutnant Meyer (Igor Galo) tewas ketika memimpin usaha pertahanan dan serangan balik Jerman dari paritnya. Steiner sendiri terluka ketika berusaha menyelamatkan seorang prajurit Jerman lain, dan terpaksa dikirimkan ke rumah sakit militer untuk menjalani penyembuhan. Ketika disana, Steiner yang sedang koma dibayang-bayangi oleh mimpi buruk wajah orang-orang yang telah meninggal, termasuk bocah Rusia yang dilepaskannya. Setelah siuman, tak lama dia sudah menjalin hubungan romantis dengan suster yang merawatnya (diperankan oleh Senta Berger).

Selama proses penyembuhannya, Steiner tersadar bahwa perang sesungguhnya hanyalah kesia-siaan belaka. Meskipun begitu, ketika datang kesempatan untuk kembali bertempur ke peleton lamanya, tanpa pikir panjang dia menyanggupinya. Steiner meninggalkan rumah sakit dan juga suster tercintanyanya yang menangis, seorang calon istri di opsi lain yang tak pernah ada untuk memulai kehidupan baru sebagai sipil yang jauh dari mesiu.

Ketika kembali, dia terkaget-kaget begitu mendapati bahwa Stransky telah dinominasikan untuk menerima Iron Cross setelah diberitakan memimpin serangan balik yang sukses dalam pertempuran yang tidak pernah ada! Stransky mengajukan Triebig dan Steiner sendiri sebagai saksi dari klaimnya. Dengan cara ini, Stransky berharap kalau Steiner mau membantunya dengan imbalan bantuan balik setelah perang usai.

Brandt menanyai Steiner tentang pernyataan Stransky, dengan harapan kalau Steiner akan mengungkapkan kebohongan atasannya tersebut. Tapi Steiner dengan cueknya menolak untuk bekerjasama. Dia mengatakan bahwa dia membenci semua perwira, bahkan mereka-mereka yang "tercerahkan" seperti Brandt dan Kiesel, dan meminta waktu beberapa hari untuk memberikan jawaban.

Ketika batalionnya diperintahkan untuk mundur, Stransky dengan sengaja tidak meneruskan perintah tersebut kepada peleton Steiner, sehingga Steiner kini berada di garis belakang Soviet! Tentu saja para anak buah Steiner yang sudah berpengalaman tidak tinggal diam menunggu digelepok oleh pasukan Soviet, dan mereka berjuang keras untuk mencari jalan ke daerah kawan dengan menembus kepungan Rusia. Dalam usahanya, Steiner dkk berpapasan dengan sebuah detasemen musuh yang anggotanya semuanya wanita. Menghadapi dilema moral yang kemudian datang, Steiner memutuskan untuk meninggalkan musuhnya tersebut dan meneruskan perjalanan, dengan tidak lupa sebelumnya menyingkirkan seorang anggota peleton berwatak sadis yang dibenci kawan-kawannya, yang merupakan anggota fanatik partai Nazi.

Peleton Steiner, yang kini menggunakan seragam Rusia sebagai penyamaran, pada akhirnya tiba di posisi pasukan Jerman.Dia lalu mengirimkan kata sandi melalui radio agar mereka diizinkan melintasi daerah tak bertuan yang menjadi perbatasan antara dua wilayah yang bermusuhan.

Demi mendengar kedatangan Steiner dan kawan-kawannya, Stransky yang paranoid memerintahkan kepada Triebig agar membunuh mereka. Triebig kemudian meneruskan perintah tersebut kepada anak buahnya agar unit berseragam Rusia yang baru datang itu ditembaki sampai mampus semua. Akibatnya, hampir semua anggota peleton Steiner terbunuh, dengan hanya menyisakan sang komandan dan beberapa orang lagi. Steiner yang begitu murka lalu membunuh Triebig dan meneruskan mencari sang biang kerok licik, Stransky. Pada saat inilah pasukan Soviet melancarkan ofensif besar-besaran terhadap posisi Jerman.

Akhirnya kedua antagonis ini bertemu muka juga. Steiner langsung bersiap untuk menembak Stransky, tapi kemudian berubah pikiran ketika Stransky bertanya, "kemana sisa peletonmu?" Steiner menjawab bahwa "Kamulah sisa peletonku satu-satunya" dan menantang atasannya tersebut untuk membuktikan klaim Iron Cross-nya dan bertempur bersama dia melawan pasukan Rusia. Stransky juga sempat berniat untuk menembak Steiner ketika ada kesempatan, tapi kemudian memutuskan untuk menerima tantangan Steiner. Ketika mereka berdua bersiap untuk bertempur, Stransky (yang berseragam lengkap layaknya telah berpengalaman perang) tiba-tiba memperlihatkan watak aslinya yang pengecut dan hampir menangis ketakutan ketika tembakan musuh sudah datang menghambur!

Sementara itu, Komandan Steiner yaitu Oberst Brandt telah berhasil menghentikan tentara Jerman yang lari mundur dan memimpin sendiri serangan balik dengan ketenangan yang mengagumkan. Gambar terakhir dari dirinya kemudian membeku, begitu juga adegan terakhir dari Stransky dan Steiner, yang seakan-akan menyimpulkan perkembangan karakter masing-masing tokoh.

Film ditutup dengan senandung lagu Hänschen klein ketika Stransky memperlihatkan ketidakbecusannya sebagai seorang perwira militer, jauh berbeda bila dibandingkan dengan Steiner sang veteran yang tetap tenang memimpin pertempuran. Walaupun musuh belum lagi tiba, Stransky telah mengosongkan magasin peluru dari senapan mesin MP-40-nya! Dalam kepanikannya, Stransky bahkan tidak tahu caranya bagaimana untuk mengisi kembali peluru dan malahan memohon-mohon kepada Steiner untuk menolongnya melakukan hal tersebut. Pada awalnya Steiner memandang sinis pada perbuatan Stransky yang tidak tahu malu tersebut, tapi kemudian tertawa terbahak-bahak hampir histeris demi melihat Stransky berusaha dengan susah payah memasangkan helmnya yang terbalik saking ketakutannya melihat bayangan hantu anak kecil Rusia yang mendekatinya!

Kredit penutup memperlihatkan slide show dari orang sipil yang menjadi korban perang, dan quote penghabisan oleh Berthold Brecht dari karyanya The Resistible Rise of Arturo Ui :

"Hai manusia, janganlah engkau bergembira atas kekalahannya. Karena meskipun sang durjana itu telah dihentikan dan dunia telah berdiri lagi, tapi anak jadah yang melahirkannya kini membara kembali."

Tawa Steiner tidak henti-hentinya menggema sampai closing title : SEKIAN DAN TERIMA KASIH. MERDEKA!

Para pemain :
* James Coburn sebagai Unteroffizier Rolf Steiner
* Maximilian Schell sebagai Hauptmann Stransky
* James Mason sebagai Oberst Brandt
* David Warner sebagai Hauptmann Kiesel
* Roger Fritz sebagai Leutnant Triebig
* Igor Galo sebagai Leutnant Meyer
* Klaus Löwitsch sebagai Krüger
* Vadim Glowna sebagai Kern
* Fred Stillkrauth sebagai Schnurrbart
* Dieter Schidor sebagai Anselm
* Burkhard Driest sebagai Maag
* Michael Nowka sebagai Dietz
* Arthur Brauss sebagai Zoll
* Senta Berger sebagai Eva
* Slavko Štimac sebagai bocah Rusia

BTW, kalau berminat ingin menonton film ini, dapat membeli DVD-nya di saya dengan mengklik INI!



Sumber :
www.en.wikipedia.org


Selasa, 11 Mei 2010

War of the Century : When Hitler Fought Stalin. Film Dokumenter BBC Tentang Perang Dahsyat Di Front Timur!


"Kami selalu menyimpan peluru terakhir untuk diri kami sendiri." - Walter Schaefer-Kehnert dari Divisi Panzer ke-11

Perang antara Hitler Jerman dan Soviet Rusia dilakukan dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah manusia. Perang ini diperkirakan membuat lebih dari tiga puluh juta nyawa manusia melayang dan membuat harapan hidup tentara Soviet di Stalingrad hanya bisa bertahan 24 jam saja!

Korban peradaban berada pada skala yang tidak terbayangkan sebelumnya. Lebih dari tiga belas juta warga Soviet tewas, terjebak di antara rezim yang acuh untuk berkorban dan dalam lintasan gerak maju pasukan Jerman yang seakan tidak tertahankan.

Skala ketakutan akan perang di Front Timur susah untuk dinilai semata, tetapi WAR OF THE CENTURY membawa pengalaman manusia ke dalam fokus dengan berkonsentrasi pada cerita masing-masing pribadi. Tentara-tentara dan masyarakat umum, anggota SS, NKVD Soviet dan pegawai-pegawai atasan; semua cerita mereka, digambarkan dengan mengkombinasikan catatan kaki (termasuk materi film berwarna yang langka) dan didukung oleh arsip dokumentasi terakhir dari Rusia.

Film dokumenter dari BBC keluaran tahun 2000 ini terdiri dari 4 seri dengan waktu putar total ± 200 menit. Asyiknya lagi, sudah disediakan subtitle Indonesia bagi yang nggak ngeh dengan bahasa Inggris, Jerman maupun Rusia yang terdapat dalam film ini. Berminat? Silakan ikuti cara pemesanannya DISINI.

Episode 1 - HIGH HOPES
Masa awal Operasi Barbarossa dimana pasukan Jerman mendapat kemenangan yang meyakinkan melawan pasukan Rusia yang tampak seperti baru belajar berperang. Kemenangan yang melenakan ini ternyata kemudian membawa bencana...

Episode 2 - SPIRAL OF TERROR
Dalam Pertempuran Moskow yang berkecamuk di musim dingin yang brutal, terjadi pergulatan hidup-mati untuk menentukan kelangsungan masa depan Soviet Rusia.

Episode 3 - LEARNING TO WIN
Ketika semua harapan seakan sirna, pihak Soviet membalikkan meja catur dan mulai bangkit merebut kembali wilayah-wilayah yang diduduki Nazi.

Episode 4 - VENGEANCE
Pada musim panas tahun 1944, akhir perang di Front Timur telah diputuskan oleh Operasi Bagration di Belorussia yang kemudian membawa pasukan Komunis sampai ke pintu gerbang Berlin.

Sekali lagi, yang berminat mau pesan silakan klik DISINI.


Rabu, 03 Februari 2010

L'Armée du Crime, Film Tentang Konyolnya Para Anggota Gerakan Perlawanan Bawah Tanah Terhadap Nazi!

Para anggota gerakan perlawanan Prancis yang tertangkap


Inilah tipikal Feldgendarmerie dalam film L'Armée du Crime... Nggak ada serem-seremnya!


Poster film L'Armée du Crime


Banyak film yang bercerita tentang Perang Dunia II (PD II). Kebanyakan adalah film Hollywood dan disutradarai sutradara terkenal. Schinder’s List karya Steven Spielberg adalah salah satunya.

Namun, bagaimana jika perang tersebut dilukiskan dari sudut pandang lain? L’armee du crime, atau The Army of Crime besutan sutradara Robert Guediguian bisa dijadikan contoh. Film ini dirilis di Prancis tanggal 16 September 2009 dan diproduseri Dominique Barneaud.

Film ini barangkali tak setenar Un long dimanche de fiancailles, film Prancis yang juga bertema perang. Namun, L’armee du crime bisa jadi memiliki daya tarik tersendiri karena menggabungkan antara kisah heroik/patriotik dan dramatik. Berlatar belakang tahun 1944 di Paris, film ini bercerita tentang seorang penulis puisi, sekaligus pemimpin kelompok resistensi terhadap Nazi. Namanya Missak Manouchian yang dimainkan Simon Abkarian. Dia menjadi pemimpin gerakan perlawanan terhadap Nazi lantaran orang tuanya jadi korban kekejaman tentara Jerman tersebut. Tindakan-tindakannya sangat heroik ketika dengan gigih mengumpulkan dan merekrut siapa saja untuk melawan Nazi, serta bersedia bertarung dan rela mati demi Prancis.

Kelompok yang dipimpin Missak sesungguhnya tidak sebanding dengan kekuatan pasukan Hitler. Mereka hanyalah sekumpulan para petarung ‘berani mati’ yang melakukan penyerangan secara tidak terorganisasi. Missak sendiri adalah seorang warga Armenia yang diasingkan dan hijrah ke Paris.

Selama menjadi pemimpin gerakan ini, ketika merekrut anggota, Missak dan istrinya, Melinee Manouchian (Virginie Ledoyen), menemukan dua orang yang sangat berhasrat dan mempunyai misi sama dengan tujuan kelompok resistensi pimpinan Missak ini. Mereka adalah Marcel Rayman (Robinson Stevenin) dan Thomas Elek (Gregoire Leprince-Ringuet). Keduanya merupakan dua pemuda Yahudi yang berasal dari keluarga taat hukum, yang sebelumnya telah bekerja sebagai prajurit gerakan perlawanan kaum mereka.

Thomas merupakan seorang marxis (penganut marxisme-Red) yang ahli dalam masalah ledak-meledakkan. Bersama Marcel, mereka berdua merupakan dua orang tokoh prajurit yang sangat konyol dan tak tahu apa-apa, namun sangat berani.

Contohnya, pada saat Thomas dikirim sebagai pasukan SS, secara diam-diam ia memasang bom pada benda yang menurutnya sangat tepat, yaitu pada sebuah buku Das Kapital karya Karl Marx. Pasukan SS-lah yang melabeli mereka dengan sebutan ‘L’armee du crime”, pada ‘Selebaran Merah’ yang disebarkan di seluruh Prancis. Selebaran itu bertujuan mendiskreditkan pergerakan kelompok resistensi.

Sementara itu, dengan bergerak cepat, Marcel mengambil tindakan yang lebih berani, dengan metode ‘mengarahkan tembakan langsung ke kepala’. Metode yang berbeda dengan Thomas tapi beroleh hasil yang sama. Hasil yang kacau bin balau.

Tetapi, seperti yang telah benar-benar dipahami oleh Missak dan Melinee, setiap wajah (prajurit) baru, pasti membawa risiko dan motif yang baru pula. Beberapa dari mereka memang bertujuan melindungi (kaumnya), tapi tak jarang yang pula yang hanya mengelabui atau menipu. Dan ketika hidup dan menghidupi diri berada pada satu garis, melindungi diri sendiri adalah musuh dari rasa kepercayaan.

Menyaksikan film ini seperti melihat rangkuman kombinasi dari intelektualitas orang Yahudi, Komunis, Hungaria, Spanyol, Polandia, Italia, dan Armenia. Bagi mereka, keyakinan (agama) dan kebudayaan merupakan hal yang tidak relevan. Tidak begitu penting. Sebab, yang terpenting buat mereka adalah loyalitas dan kebesaran hati untuk menempuh risiko apa pun demi menyingkirkan pasukan Hitler.

Meskipun sedikit membosankan dengan alur yang mudah ditebak, Robert Guediguian sebagai sutradara, berusaha menonjolkan tiga orang patriot, sambil menyajikan fakta dengan dramatisasi yang dinilai berada pada batas yang cukup. Film ini bisa dibilang cukup bagus, dan direview secara positif oleh beberapa media. Tapi, ada juga banyak kritik dari para pengamat film di Prancis.

Para pengamat sering membandingkan film karya Guediguian dengan film karya Jean-Pierre Melville, L’armÈe des ombres (Tentara Bayangan) (1969). Dan karyanya ini, dianggap jauh merosot jika dibandingkan dengan film dramanya yang berjudul La Ville est tranquille (Kota Sepi) (2000).

Tidak hanya media Prancis saja yang mengkritik film ini, tapi media internasional, seperti harian The Sun (Inggris) yang membandingkan film ini dengan Inglourious Bastards karya Quentin Tarantino, yang dinilai ‘jauh lebih menyenangkan’. Dan yang terburuk adalah Pierre Murat, kritikus Prancis, menilai film ini tidak penting, dan sama saja seperti film televisi. Meskipun menuai banyak kritik, paling tidak, menonton film Prancis merupakan salah satu alternatif yang tepat jika sudah terlalu bosan dengan film-film Hollywood.


Sumber :
www.action-cascade.com
www.altfg.com
www.suaramerdeka.com
www.thevoyeurs.wordpress.com