Tampilkan postingan dengan label Perwira Kriegsmarine. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perwira Kriegsmarine. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Mei 2010

Korvettenkapitän Peter-Erich 'Ali' Cremer (1911-1992), Satu-Satunya Kapten U-Boat Yang Berhasil Menghancurkan Tank Musuh Dengan Tangan Sendiri!

U-333 yang dikomandani Peter-Erich 'Ali' Cremer sedang keluar dari pen-nya di La Pallice tanggal 1 September 1942 untuk melakukan feindfahrt (buat arti dari kata ini, baca lengkap dulu artikel di bawah!)


Profil lukisan Peter-Erich 'Ali' Cremer, disandingkan dengan dua orang Generalfeldmarschall dari Luftwaffe : Hugo Sperrle dan Albert Kesselring



'Ali Baba' eh 'Ali' Cremer berfoto bersama dengan seorang perwira rendah Luftwaffe. Foto ini dan foto di bawah berasal dari periode yang sama


'Ali' Cremer ketika bertugas sebagai komandan dari unit penghancur tank Kriegsmarine. Achtung! perwira yang di sebelahnya bukanlah berasal dari Heer (Angkatan Darat) melainkan dari Kriegsmarine juga. Jangan pernah terkecoh oleh seragamnya yang sama dengan Heer padahal ini adalah model KM 1936. Biasanya setelan begini dikenakan oleh prajurit Kriegsmarine yang bertugas di darat seperti anggota artileri, penjaga pangkalan U-boat dan sebagainya. Nampaknya dia adalah veteran U-boat juga sama seperti Cremer, perhatikan saja U-boat War Badge yang nempel di saku seragamnya. Cremer sendiri mengenakan baju kamuflase Luftwaffe


Oleh : Alif Rafik Khan

Calon kapten U-boat Nazi Jerman ini dilahirkan ke dunia pada tanggal 25 Maret 1911 di Metz.

Peter-Erich Cremer memulai karir angkatan lautnya dari bulan Agustus 1932 setelah sebelumnya mempelajari ilmu hukum selama 6 semester. Masa pelatihannya begitu singkat dibandingkan biasanya yang bisa memakan waktu empat bulan dikarenakan suatu tragedi. Pada bulan Juni tahun tersebut, sebuah kapal layar Jerman yang khusus dipakai berlatih bernama Niobe tenggelam setelah terbalik, dan membunuh sebagian besar kadet Reichsmarine (27 orang) lulusan Kru 1932. Akibatnya secara mendadak tentu dibutuhkan pula orang untuk menggantikan kehilangan ini.

Kemudian Kremer meneruskan pelatihan lanjutan di laut selama satu tahun bersama dengan kapal penjelajah ringan Köln. Setelah menghabiskan waktu selama beberapa bulan di kapal penjelajah lapis baja Deutschland, Leutnant Cremer lalu mengabdi selama tiga tahun di unit artileri Angkatan Laut. Kemudian dia menjadi Perwira Pengawas kedua di kapal perusak Z-6 Theodor Riedel. Pada bulan Agustus 1940 barulah dia ditransfer ke pasukan U-boat yang akan melambungkan namanya.

Pada bulan Januari 1941 Kapitänleutnant Cremer ditugaskan di U-152, sebuah u-boat pantai kecil tipe IID yang hanya mempunyai peran sebagai kapal 'sekolah'. Beberapa bulan kemudian (25 Agustus 1941) dia mengambil alih komando kapal yang lebih besar ukurannya bernama U-333. Lambang kapal tersebut, 3 buah ikan kecil, dipilih untuk menyesuaikan dengan nomor kapalnya sendiri. Ada beberapa alasan lain kenapa lambang tersebut yang dipilih. Salah satu quote yang paling sering diucapkan oleh Cremer adalah "Alles kleine fische" (semuanya hanya ikan kecil saja) yang merupakan kata kiasan dari "tak penting itu, Bah!" Alasan lainnya adalah bahwa pada saat itu 'Ali' sedang senang-senangnya mendengarkan lagu Amerika bila sedang berada di samudera, dan salah satu lagu favoritnya berbunyi :

Down in the meadow in an itty-bitty pool swam three little fishes and their momma fishey too

Dan kemudian reff-nya berbunyi :
Boop, boop, didum, dadum waddum choo, Boop, boop, didum, dadum Wadum choo, Swim, said the momma fishey, Swim if you can, And they swam and they swam right over the dam

'Ali' Cremer adalah salah seorang dari komandan U-boat yang menjalani patroli pertamanya tanpa mengalami pertempuran laut. Meskipun begitu, dalam patroli ini sebenarnya dia telah menenggelamkan tiga buah kapal - yang sayangnya juga ikutan mengirim ke dasar laut sebuah kapal penembus blokade Jerman bernama Spreewald! Ceritanya, dalam perjalanan pulang ke pangkalan (U-Bootflottille ke-3 di La Rochelle), dia memergoki sesuatu yang sepertinya sebuah kapal uap, dan dia memutuskan untuk menyerang. Ternyatalah itu adalah Spreewald. Panglima pasukan U-boat Karl Dönitz yang terkenal tegas langsung meneliti insiden tersebut dan menemukan bahwa Cremer tidak bersalah dalam hal ini. Selama patroli perang (feindfahrt) Cremer selanjutnya di perairan Amerika dia bisa dibilang telah berhasil dengan baik, dengan menenggelamkan empat buah kapal, sekaligus mampu membawa pulang ke pangkalan kapalnya sendiri yang telah rusak berat setelah ditabrak kapal Sekutu! Ceritanya, ketika berusaha menenggelamkan kapal tanker Inggris Prestige, tanker tersebut malah menabrak U-333 sehingga menimbulkan kerusakan serius. Tak lama datang kapal perusak pengawal ke lokasi untuk 'berak' memuntahkan sejumlah depth charges, yang tentu saja makin menambah nyuksruknya u-boat Cremer. Meskipun begitu, dia tetap dapat pulang ke pangkalannya dengan empat bendera tonase bertengger di kapalnya!

Dalam patrolinya yang ketiga tersebut, Cremer terluka parah akibat tembakan senjata dari kapal korvet Inggris HMS Crocus. Dia juga kehilangan tujuh orang awak kapal, dan hanya karena pertolongan kru cadangan dari kapal suplai U-459 lah yang bisa membuat U-333 yang hampir-hampir tenggelam bisa kembali ke markas dengan selamat! Setelah patroli ini, Cremer mendapat julukan 'Ali Wrack' (Ali si Rongsokan) yang sebenarnya lebih sebagai penghargaan atas prestasinya tersebut. Bagaimana dengan para kru-nya sendiri? Cukuplah ucapan ini menjadi bukti betapa mereka mencintai kaptennya : "Satu kapal dengan Ali sama saja dengan menjalani asuransi jiwa terbaik!". Cremer kemudian menghabiskan waktu selama tiga bulan di rumah sakit untuk memulihkan luka-luka yang dideritanya.

Dari bulan Februari sampai dengan Mei 1943 dia bertugas sebagai staff dari Dönitz. Tapi bulan Mei yang kelabu bagi pasukan U-boat Nazi (dimana mereka banyak kehilangan kader terbaiknya yang berpengalaman) membuat Dönitz mengirimkan beberapa komandan terbaiknya untuk kembali bertugas di lautan, termasuk juga Cremer. Cremer lagi-lagi menukangi U-333 yang kini telah diservis. Dalam patroli pertamanya setelah terluka ini, kembali Cremer harus balik ke pangkalan dengan membawa kapal yang rusak berat akibat terkena serangan bom kedalaman (depth charges) Sekutu bulan April 1944! Pada bulan Juli-nya dia ditransfer keluar dari kapal tersebut (U-333 sendiri kemudian secara tragis tenggelam hanya dalam patroli pertamanya setelah ditinggal Cremer, bersama dengan kapten kapalnya yang baru!).

Cremer sendiri kini ditugasi menukangi kapal selam elektris U-2519 tipe XXI, dan tercatat dalam primbon bersama dengan sejumlah kapten U-boat veteran lainnya (seperti Adalbert Schnee, Otto von Bülow, Carl Emmermann, Hans-Ludwig Witt dan Erich Topp) yang mengambil komando kapal elektris keluaran terbaru dalam usaha Nazi untuk mengubah situasi dalam Pertempuran Atlantik yang dirasa tidak menguntungkan.

Korvettenkapitän Cremer lalu meninggalkan U-2519 di bulan Februari 1945. Kini dia bertugas di darat dan menjadi komandan dari Marine-Panzervernichtungsbataillon (Batalion Penghancur Tank Angkatan Laut) yang bertempur mati-matian melawan usaha tank-tank Inggris yang ingin menduduki kota pelabuhan Hamburg.

Lalu terjadilah sebuah peristiwa menarik. Oom bawakan disini cuplikan dari pengumuman harian Wehrmachtsbericht tertanggal 25 April 1945 yang berbunyi :

"Ein von Korvettenkapitän Cremer geführter Panzervernichtungstrupp der Kriegsmarine, zusammengestellt aus Freiwilligen eines Unterseeboot-Stützpunktes, vernichtete innnerhalb weniger Tage 24 Panzer."

(Sebuah unit penghancur tank milik Angkatan Laut di bawah pimpinanKorvettenkapitän Cremer, yang anggotanya termasuk pula para sukarelawan dari pangkalan u-boat, telah berhasil menghancurkan 24 buah tank musuh dalam beberapa hari kemarin.)

Selama beberapa hari menjelang perang berakhir, Cremer menjadi komandan dari unit pengawal Dönitz, dan karenanya terlibat dalam sebuah insiden tragis dimana terjadi kesalahpahaman fatal yang mengakibatkan tertembaknya jagoan U-boat Kapitän zur See Wolfgang Lüth sampai mati oleh penjaga Jerman. Setelah penyerahan Nazi ke tangan Sekutu dia menghabiskan waktu selama satu bulan dalam tawanan Inggris, dan kemudian menjalani hari-harinya sebagai seorang manajer sukses dalam beberapa perusahaan.

Cremer menceritakan kembali kisah hidupnya dalam sebuah otobiografi berjudul "U-Boat Commander: a periscope view of the Battle of the Atlantic."

'Ali' Cremer adalah seorang lelaki yang menyenangkan. Di tahun-tahun terakhir dari kehidupannya dia mengidap kanker prostat. Tapi bila ditanya tentang kondisinya, selalu saja jawabannya adalah : "Kanker ini tidak akan pernah bisa mengalahkanku". Sebuah kata-kata yang memperlihatkan sikap pantang menyerah yang menghiasi kisah hidup Cremer. Tapi kali ini sang kanker lebih mampu untuk berkuasa, dan Peter-Erich Cremer akhirnya menyerah pada takdir dan menutup usia tanggal 5 Juli 1992 di usia 81 tahun.

Prestasi :
6 kapal ditenggelamkan dengan total tonase 26.873 GRT
1 kapal dirusakkan dengan total tonase 8.327 GRT
1 kapal perang dirusakkan dengan total tonase 925 ton

Pangkat :
15 Agustus 1932 - Offiziersanwärter
1 Januari 1934 - Fähnrich zur See
1 September 1935 - Oberfähnrich zur See
1 Januari 1936 - Leutnant zur See
1 Oktober 1937 - Oberleutnant zur See
1 Februaru 1940 - Kapitänleutnant
11 Juli 1944 - Korvettenkapitän

Penghargaan :
11 Februari 1940 - Iron Cross 2nd Class
19 Oktober 1940 - Destroyer War Badge
10 Februari 1942 - Iron Cross 1st Class
26 Mei 1942 - U-boat War Badge 1939
5 Juni 1942 - Knight's Cross
11 November 1942 - Wounded Badge in Silver
27 September 1944 - U-boat Front Clasp

Komando U-boat :
U-152 : 29 Januari 1941 s/d 21 Juli 1941 - tanpa patroli perang
U-333 : 25 Agustus 1941 s/d 6 Oktober 1942 - 4 patroli (170 hari)
U-333 : 18 Mei 1943 s/d 19 Juli 1944 - 5 patroli (211 hari)
U-2519 : 15 November 1944 s/d Februari 1945 - tanpa patroli perang


Sumber :
www.cww2.net
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.sharkhunters.com
www.uboat.net
www.ww2talk.com


Minggu, 02 Mei 2010

Korvettenkapitän Werner Hartenstein (1908-1943), Jago U-Boat Yang Terkenal Karena Insiden Laconia!

Dokumen penganugerahan Ritterkreuz bagi Werner Hartenstein


Werner Hartenstein dalam salah satu acara perjamuan makan


Werner Hartenstein disambut dengan meriah sekembalinya dari sebuah patroli yang sukses


Werner Hartenstein bersama para kru U-156


Perhatikan posisi German Cross yang dikenakan oleh Werner Hartenstein ini, unik!


Werner Hartenstein


Inilah contoh seragam yang dikenakan oleh Werner Hartenstein, lengkap dengan segambreng penghargaan dan medali yang telah diraihnya


Werner Hartenstein


Surat yang dikirimkan Werner Hartenstein kepada sahabat dekatnya, Kliwon


U-156 dan U-506 sedang sibuk menyelamatkan para penumpang kapal Laconia yang tenggelam setelah diserang oleh Werner Hartenstein


Oleh : Alif Rafik Khan

Gustav Julius Werner Hartenstein (27 Februari 1908 - 8 Maret 1943, anak dari seorang industrialis kaya) memulai karir di Angkatan Laut dari bulan April 1928. Dia bertugas selama beberapa tahun di kapal penjelajah ringan Karlsruhe dan juga di beberapa kapal torpedo lainnya. Dia berhasil menjalani 65 patroli selama tahun-tahun pertama Perang Dunia II. Pada bulan Maret 1941 dia ditransfer ke pasukan U-boat yang sedang naik daun.

Pada tanggal 4 September 1941 dia ditugaskan untuk menjadi komandan U-156. Dalam patroli keduanya dia menyerang sebuah tempat penyulingan di Aruba dengan tembakan senapan mesin. Dalam patroli keempatnya dia terlibat dalam sebuah insiden yang kemudian terkenal sebagai Insiden Laconia. Seperti apakah insiden tersebut? Mari kita nyuksruk ke TKP:

Jam 22.00, 12 September 1942. Kapal selam Jerman U-156 sedang berpatroli di Atlantik Selatan di lepas pantai sebuah tonjolan yang terletak di tengah-tengah Afrika antara Liberia dengan Pulau Ascension. Dengan melihat melalui periskop andalannya, Werner Hartenstein memergoki sebuah kapal Sekutu yang sedang berlayar sendirian. Dia lalu memutuskan untuk tidak melewatkan kesempatan ini dan menyerang!

Tak lama, sebuah torpedo meluncur dari U-156 dan dengan telak menghantam kapal sasarannya yang berbobot 20.000 ton. Sudah tentu ledakan dahsyat terjadi, dan segera menghantar kapal tersebut ke dasar lautan. Kegembiraan Hartenstein atas tambahan jumlah kills-nya ini hanya sebentar saja, dan berganti dengan kengerian: Setelah menyembulkan kapalnya ke permukaan dengan harapan menemukan perwira senior yang masih selamat demi mencari bocoran informasi intelijen, dia terkejut begitu mendapati bahwa di sekeliling kapal, lebih dari 2.000 orang mengambang dan berteriak-teriak meminta pertolongan! Ternyata yang dia jadikan sasaran bukanlah kapal barang seperti biasanya, melainkan kapal penumpang bernama Laconia keluaran White Star Liner. Tanpa diketahui oleh Hartenstein, Laconia tak hanya membawa awak kapalnya yang berjumlah 136 orang, tapi juga 80 wanita dan anak-anak Inggris, 268 prajurit Inggris, 160 prajurit Free Polish Corps, dan 1.800 tawanan perang Italia!

Shock atas begitu banyaknya manusia yang terombang-ambing di permukaan laut, Hartenstein buru-buru memerintahkan operasi penyelamatan terhadap mereka. Tak lama dek U-156 telah disesaki oleh lebih dari 200 orang penumpang yang selamat, termasuk lima orang wanita dan tambahan 200 orang lagi yang ditarik menggunakan perahu sekoci. Hartenstein juga langsung menghubungi markas besar U-boat di Hamburg untuk meminta tambahan bantuan demi menolong sisa-sisa penumpang yang masih berada di air. Kepala Operasi U-boat, Admiral Karl Dönitz (nanti dia menjadi panglima Angkatan Laut Nazi, juga selama beberapa saat menggantikan Hitler sebagai Führer Jerman) memerintahkan segera dua kapal selam yang lokasinya paling dekat untuk meluncur ke lokasi.

Tak hanya itu yang dilakukan oleh Hartenstein. Dia mengirim pesan dengan bahasa Inggris ke setiap kapal yang berada tidak jauh dari situ untuk meminta pertolongan, sekaligus memberitahu posisi kapalnya berada! Dia berjanji tidak akan menyerang setiap kapal yang datang untuk tujuan membantu. U-156 tetap berada di lokasi tenggelamnya Laconia selama dua setengah hari selanjutnya. Tak lama sebelum tengah hari tanggal 15 September, akhirnya datang bantuan pertama: U-506 di bawah pimpinan Erich Würdemann, dan beberapa jam kemudian hadir pula U-507 dengan kaptennya Harro Schacht dan kapal selam Italia Cappellini. Keempat kapal selam tersebut lalu beriringan menuju pantai Afrika dengan deknya dipenuhi oleh manusia, belum lagi belasan kapal penyelamat yang ditarik dengan tambang (kebayang kan pemandangannya kayak gimana?). Mereka lalu bertemu dengan kapal-kapal perang Vichy Prancis yang telah dikirimkan dari Senegal dan Dahomey (sekarang Benin).

Sayangnya, operasi penyelamatan yang telah dilakukan mati-matian oleh Werner Hartenstein ini tidaklah berakhir dengan happy ending layaknya film-film India. Esok paginya, sebuah pesawat bomber B-24 Amerika yang sedang berpatroli di sekitar pulau Ascension memergoki keempat kapal tersebut, yang kini telah dilengkapi dengan bendera palang merah yang dibentangkan di atas dek senjatanya. Hartenstein memberi sinyal pada sang pilot untuk meminta bantuan. Letnan James D. Harden dari USAAF lalu berbalik sekaligus memberitahu pangkalannya akan situasi yang kini dihadapinya. Perwira senior yang bertugas di hari itu, Kapten Robert C. Richardson III hanya mempunyai dua pilihan: Membiarkan gerombolan U-boat itu pergi, yang sama saja dengan memberi mereka kesempatan untuk menenggelamkan lebih banyak kapal Sekutu di masa depan; atau memerintahkan B-24 untuk menyerang, yang sekaligus berarti pula maut bagi banyak penumpang Laconia yang menumpuk di dek dan sekoci!

"Sungsebkan kapal selam musuh!" Itulah perintah yang dikeluarkannya...

Setelah menerima perintah tersebut, Harden langsung berbalik ke lokasi 'penampakan', dan segera menyerang dengan bom dan depth charges (bom kedalaman). Salah satunya mendarat dengan telak di salah satu sekoci yang sedang ditarik oleh U-156, sementara yang lain menghantam sang kapal selam itu sendiri. Mendapat serangan sebegitu rupa, Hartenstein tidak mempunyai pilihan lain selain buru-buru menyelam ke dasar laut, sementara deknya masih dipenuhi orang, dan belum lagi perahu-perahu penyelamat yang tersambung dengan tambang! U-156 segera menyelam dan berhasil meloloskan diri. Ratusan dari penumpang Laconia yang telah dengan susah payah diselamatkan itu kini hilang ditelan samudera, meskipun 1.100 di antaranya berhasil diselamatkan kembali oleh kapal perang Prancis yang datang tidak lama kemudian. Seorang pelaut asal Afrika Selatan, Tony Large, menghabiskan waktu 39 hari di tengah samudera sebelum akhirnya diselamatkan!

Insiden ini, yang kemudian dikenal dengan nama Insiden Laconia, ternyata mempunyai konsekwensi yang berdampak jauh. Sampai saat itu adalah suatu hal yang biasa bagi para awak kapal selam Jerman untuk membantu orang-orang yang selamat dari kapal yang ditenggelamkannya dengan makanan, air dan juga arah ke daratan terdekat. Tapi begitu mendengar bahwa U-boatnya telah diserang ketika sedang dalam operasi penyelamatan padahal telah membawa bendera palang merah, Dönitz memberi perintah bahwa mulai saat itu setiap usaha penyelamatan DILARANG untuk dilakukan, dan setiap kru kapal musuh yang selamat dibiarkan untuk tetap berada di lautan. Insiden Laconia ini juga dijadikan alasan oleh para jaksa Sekutu dalam Pengadilan Nürnberg tahun 1946 untuk mendakwa Dönitz dengan tuduhan kejahatan perang, padahal jelas-jelas satuan kapal selam Amerika yang beroperasi di Pasifik pun menjalankan instruksi yang serupa dengan yang diterapkan oleh Dönitz! Akibatnya, dia terpaksa menjalani hukuman penjara selama 11,5 tahun...

Kembali kepada Werner Hartenstein. Enam bulan setelah peristiwa tersebut, tepatnya tanggal 8 Maret 1943, U-156 mendapat serangan depth charges dari bomber Amerika lainnya ketika sedang berpatroli di sebelah timur Barbados. Kapal selam tersebut tenggelam, dan semua awak kapalnya musnah, termasuk sang kapten Hartenstein.

Komando U-boat :
U-156 4 September 1941 - 8 Maret 1943 - 5 patroli (294 hari)

Pangkat :
1 Januari 1930 Fähnrich zur See
1 April 1932 Oberfähnrich zur See
1 Oktober 1932 Leutnant zur See
1 September 1934 Oberleutnant zur See
1 Juni 1937 Kapitänleutnant
1 Juni 1942 Korvettenkapitän

Prestasi :
20 kapal ditenggelamkan dengan total tonase 97.504 GRT
3 kapal dirusakkan dengan total tonase 18.811 GRT
1 kapal perang dirusakkan dengan total tonase 1.190 ton

Penghargaan :
6 Juni 1939 Spanish Cross in Bronze without Swords
26 Oktober 1939 The Return of Memel Commemorative Medal
16 November 1939 Iron Cross kelas ke-2
27 April 1940 Iron Cross kelas ke-1
2 Februari 1942 German Cross in Gold
17 Maret 1942 U-boat War Badge
17 September 1942 Knight's Cross



Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.german-uboats.com
www.uboat.net
www.wernerhartenstein.tripod.com


Rabu, 28 April 2010

Fregattenkapitän Otto Kretschmer (1912-1998), Jago Kapal Selam Paling Dahsyat Dalam Perang Dunia II!

Otto Kretschmer merayakan pengangerahan Ritterkreuz bersama dengan para awak U-99 dengan cara mabok A.O. bersama-sama, 8 Agustus 1940


Großadmiral Erich Raeder menyambut kedatangan U-99 dan kaptennya, Kapitänleutnant Otto Kretschmer, setelah sebuah patroli yang sukses, bulan Agustus 1940


Lukisan tiga orang jagoan U-boat ternama, dari kiri ke kanan: Erich Topp, Otto Kretschmer, dan Hans Rudolf Rösing


Otto Kretschmer (kanan) bersama dengan Herman Michahelles di menara pengawas U-35. Foto ini diambil pada masa sebelum Peran Dunia II saat Kretschmer masih menjadi perwira pengawas pertama


Kapitänleutnant Otto Kretschmer, 14 November 1940


Otto Kretschmer berada di Lorient, Prancis, Januari 1941


Otto Kretschmer berpose untuk konsumsi pembaca koran Lampu Merah setelah menerima Eichenlaub (Oak Leaves, itu yang nongol di lehernya!). Disini terlihat jelas ekspresi keteguhannya yang tidak kenal ampun dalam menghadapi lawan/sasarannya


Lukisan yang memperlihatkan "Silent Otto" sedang beraksi. Rata-rata ia hanya membutuhkan satu buah torpedo untuk menghancurkan kapal sasarannya!


Foto ini diambil dari buku "The Battle of Atlantic" karya Andrew Williams, memperlihatkan Otto Kretschmer (tengah) memegang cerutu sambil menulis. Jagoan U-boat lain, Erich Topp, berada di kanan depan


Otto Kretschmer sebagai Kapitänleutnant, bulan November 1940. Ngelihat dari tampangnya yang lemes banget, sepertinya foto ini diambil sehabis Kretschmer pulang dari patroli samudera



Oleh : Alif Rafik Khan

Otto Kretschmer (1 Mei 1912 - 5 Agustus 1998) adalah komandan U-boat Jerman dalam Perang Dunia II yang paling banyak menenggelamkan kapal lawannya. Dari bulan September 1939 sampai tertangkapnya di bulan Maret 1941, dia berhasil mengirim ke dasar laut 47 buah kapal dengan total tonase 274.418 ton! Atas prestasinya yang mengerikan ini dia diganjar dengan medali Ritterkreuz mit Eichenlaub und Schwertern (Salib Ksatria dengan Daun Oak dan Pedang), penghargaan super prestisius yang hanya diberikan pada 159 orang terpilih saja. Selain itu, dia juga mendapat nama panggilan "Silent Otto" (Otto si Senyap) karena keahliannya dalam mengoptimalkan kesenyapan ketika mendekati musuh-musuhnya, juga karena keengganannya untuk menggunakan radio ketika sedang berpatroli di lautan.

Dia dilahirkan di Heidau, Liegnitz. Di usianya yang ke-17 dia menghabiskan waktu selama delapan bulan untuk tinggal di Exeter, dimana dia memperoleh keahliannya berbahasa Inggris dengan fasih. Kretschmer lalu bergabung dengan Reichsmarine (Angkatan Laut Jerman pra-Hitler) bulan April 1930, dan mendapat pangkat Seekadett setelah menyelesaikan kursus pelatihan untuk perwira yang ditutup dengan tugas tiga bulan di kapal latihan Niobe. Kemudian dia menghabiskan waktu setahun di kapal penjelajah ringan Emden, dan di bulan Desember 1934 ditransfer untuk bertugas di penjelajah ringan Köln. Kretschmer tetap berada di Köln sampai waktunya dipindahkan ke unit U-boat bulan Januari 1936, dimana dia menerima pelatihan secara intensif dan dipromosikan menjadi Oberleutnant zur See.

Komando pertama Kretschmer adalah U-35, sebuah kapal selam tipe VIIA, tahun 1937. Peristiwa ini bertepatan waktunya dengan keterlibatan Jerman dalam Perang Saudara Spanyol, dan tak lama U-35 diperintahkan untuk berpatroli di perairan negara tersebut. Kapal selam U-35 kembali ke Jerman tanpa mengalami pertempuran satu kali pun. Bulan September 1937, Kretschmer meninggalkan U-35 dan mengambil komando U-23, kapal selam pantai tipe IIB.

Ketika Jerman menginvasi Polandia dan Perang Dunia II pecah, Kretschmer masih bertugas di U-23. Dia langsung diperintahkan untuk beraksi bersama dengan armada U-boat lainnya yang dipunyai Jerman. Patroli perang pertamanya mencakup jarak dari Laut Utara sampai ke sekitar pantai Inggris. Sukses pertama Kretschmer terjadi pada tanggal 12 Januari 1940 di Moray Firth ketika dia menyerang dan menenggelamkan kapal tanker Danmark milik Denmark seberat 10.517 ons eh ton dengan menggunakan sejumlah torpedo. Pihak Angkatan Laut Inggris waktu itu mengira bahwa kapal tanker tersebut telah menabrak ranjau laut, karena mereka yakin banget di daerah itu tidak ada satu pun U-boat yang berani berkeliaran! Sebulan kemudian pada tanggal 18 Februari Kretschmer kembali menenggelamkan kapal destroyer Inggris HMS Daring (1.300 ton) di lepas pantai Pentland Firth ketika kapal naas tersebut sedang mengawal konvoy HN-12 yang bertolak dari Norwegia. Peristiwa ini bisa dibilang luar biasa, karena biasanya awak U-boat selalu sebisa mungkin menghindari berhadapan dengan kapal perusak musuh yang diperlengkapi dengan peralatan anti kapal selam. Ini sekaligus membuktikan keberanian Kretschmer dan U-23 yang tak gentar menghadapi musuh yang sebagaimanapun, juga keahliannya dalam bertempur di lautan.


Pada bulan April 1940, setelah delapan patroli, Kretschmer meninggalkan U-23 untuk kemudian ditransfer ke U-99 tipe VIIB yang baru selesai dibuat. Dan disinilah sodara-sodara masa kejayaan Otto Kretschmer dimulai! Setelah dua bulan latihan plus 'diombang-ambing' dalam manuver-manuver tempur laut di perairan Jerman, U-99 mulai beraksi bulan Juni 1940. Dalam empat patroli pertama dari U-99, Kretschmer mengikuti paduan baku untuk menyerang konvoi kapal musuh hanya di malam hari, dan mengejutkan bahkan para atasannya ketika ia begitu mudahnya menghantam setiap sasaran hanya dalam satu kesempatan atau dengan satu torpedo saja! Kretschmer beralasan bahwa semuanya ini ia lakukan demi menghemat amunisi yang sangat berharga. Akibatnya, kata-kata "satu torpedo... satu kapal" begitu identik dengan manusia bernama Kretchmer sejak saat itu.


Dalam tubuh Luftwaffe terdapat Hans-Joachim Marseille yang mampu menembak jatuh pesawat musuh ketika pesawatnya sendiri sedang membelok (amit-amiiit...), dan dalam tubuh Panzerwaffe ada Balthazar 'Bobby' Woll yang menghancurleburkan tank lawan ketika panzernya sedang bergerak maju (saraaaaap...). Intinya, selalu ada orang-orang jenius yang mengubah pertempuran menjadi sebuah seni yang hanya akan membuat menganga orang yang mengetahuinya. Disinilah kita berbicara tentang Otto Kretschmer, seorang jenius lain yang bertugas di U-bootwaffe.


Taktik Kretschmer segera ditiru secara luas di seantero U-boat Jerman, tapi tentu saja tak ada yang hasilnya sebaik sang master itu sendiri.


Patroli paling sukses yang dilakoninya terjadi bulan November-Desember 1940. Dalam patroli tersebut, Kretschmer dan U-99 menenggelamkan tiga buah kapal dagang bersenjata Inggris: HMS Laurentic (18.724 ton), HMS Patroclus (11.314 ton), dan HMS Forfar (16.402 ton). Laurentic dan Patroclus dikirim ke dasar lautan pada malam tanggal 3-4 November setelah mereka datang menanggapi panggilan minta tolong dari kapal barang Inggris Casanare (5.376 ton), yang telah dilumpuhkan sebelumnya oleh U-99 sekitar 250 mil sebelah barat Irlandia. Forfar ditenggelamkan sebulan kemudian tanggal 2 Desember ketika sedang ngebut demi bergabung dengan pengawalan konvoy OB-251. Bila digabungkan, ketiga kapal apes tersebut berat totalnya adalah 46.000 ton. Kesuksesan yang beruntun ini langsung mengkatrol Kretschmer ke daftar nomor satu jagoan U-boat Jerman dengan skor terbesar, suatu posisi yang tak pernah lagi direbut oleh komandan kapal selam lain! Sebuah informasi tambahan bagi penggemar bokep: Klaus Bargsten pernah mengabdi di U-99 di bawah Kretschmer sebelum dipromosikan menjadi kapten dan dikasih komando U-boat sendiri. Dia menjadi satu-satunya orang yang selamat dari U-521 yang ditenggelamkan Sekutu tanggal 2 Juni 1942!


Selain jago minta ampun, Kretschmer dikenal juga karena sifat ksatrianya terhadap para kru dari kapal yang ditenggelamkannya. Ketika menyerang sebuah kapal dagang yang bersendiri di hari-hari sebelum taktik Wolfpack digalakkan, dia telah dikenal karena kebiasaannya untuk memberikan beberapa buah botol minuman keras dan juga selimut kepada para penumpang kapal penyelamat/sekoci musuh. Tidak hanya itu, mereka juga diberitahu rute menuju dataran terdekat! Yang paling luar biasa adalah kejadian dalam sebuah patroli di samudera Atlantik bulan September 1940, ketika Kretschmer menyelamatkan seorang awak kapal di sebuah rakit kecil yang berhasil lolos dari serangan torpedo U-boat lainnya. Dia membawanya naik, dan memindahkannya ke kapal penyelamat lain setelah sebelumnya menenggelamkan kapal utamanya!


Dalam patroli terakhirnya bulan Maret 1941, dia menenggelamkan 10 kapal tambahan. Ini adalah sekaligus korban terakhir keganasannya. Tanggal 17 Maret 1941, dalam sebuah serangan balik oleh kapal pengawal konvoy Inggris HX-112, U-99 berhasil dilumpuhkan setelah mendapat serangan bom kedalaman (depth charges) berkali-kali. Yang melakukannya tidak tanggung-tanggung adalah dua buah kapal perusak, HMS Walker dan HMS Vanoc. Kretschmer dan U-99 terpaksa nongol ke permukaan dan, di bawah serangan gencar peluru kapal Inggris, ia menenggelamkan kapal tercinta yang telah menemani hari-harinya selama di dunia (WTF? Lebay!). Tiga orang anak buahnya tewas, tapi Kretschmer dan sisanya berhasil selamat dan ditawan oleh Inggris. Di hari yang menentukan itu Jerman tidak hanya kehilangan salah satu master U-boatnya, melainkan dua! Di tempat lain di samudera, kapten U-100 Joachim Schepke (yang juga salah satu jagoan kapal selam Jerman paling sukses) terbunuh ketika kapalnya ditabrak dan ditenggelamkan oleh Vanoc dalam sebuah kabut tebal.


Sebagaimana biasa, sifat ksatria dan penyayang Kretschmer seperti yang telah dijelaskan sebelumnya juga mengemuka dalam kejadian penenggelaman kapalnya sendiri ini. Mari kita lihat apa yang dilakukan oleh dia, berdasarkan keterangan saksi mata wartawan Radar Bogor yang kebetulan (tidak) berada di tempat kejadian: Dia memberi sinyal kepada HMS Walker dan meminta mereka menyelamatkan anak buahnya. Tidak hanya itu, dia memastikan dengan sungguh-sungguh bahwa tidak ada anak buahnya yang masih hidup yang tertinggal dalam kapal, dan dengan tangannya sendiri membantu beberapa di antaranya yang sudah tidak punya tenaga bahkan untuk bergerak, meletakkannya dalam jaring penyelamat yang dilemparkan kapal perusak Inggris. Daya tahan manusia ada batasnya, dan Kretschmer bukannya tidak sama lelahnya dengan anak buah yang dibantunya. Dia tak sadarkan diri dan jatuh ke dalam air dingin. Semua anak buahnya telah berada di kapal Inggris, dan mereka berteriak-teriak demi melihat sang kapten yang sangat mereka cintai begitu tidak berdaya. Yang menyelamatkannya tidak lain tidak bukan adalah seorang pelaut Inggris yang bergegas turun menggunakan jaring dan mengangkatnya dari air.

Setelah penangkapannya, Kretschmer menghabiskan waktu selama hampir tujuh tahun sebagai tahanan perang. Pada tahun 1943 komando Jerman pernah berusaha mengadakan operasi penyelamatan terhadap dirinya (Operasi Kiebitz), tapi pada akhirnya rencana berani tersebut gagal. Pada tahun 1947 dia diizinkan untuk kembali pulang ke negaranya. Empat tahun dari masa penjaranya dihabiskan di Kanada, tepatnya di kamp tawanan Bowmanville. Seperti banyak veteran Kriegsmarine lainnya, Kretschmer bergabung dengan Angkatan Laut Jerman Barat pasca Perang Dunia II, Bundesmarine, pada tahun 1955. Dua tahun kemudian dia ditunjuk sebagai perwira komandan 1. Geleitgeschwader (Skuadron Pengawal pertama). Tahun 1958 dia dipindahkan sebagai komandan Amphibische Streitkräfte (pasukan amfibi). Dari tahun 1962 dan selanjutnya dia bertugas sebagai perwira staff di NATO sebelum menjadi kepala staff komando NATO, COMNAVBALTAP, di Kiev bulan Mei 1965. Otto Kretschmer pensiun bulan September 1970 sebagai Flotillenadmiral.

Dalam tahun-tahun terakhir kehidupannya, Kretschmer seringkali mendapat undangan wawancara untuk media massa (koran, majalah, televisi dan radio). Topiknya sudah tentu adalah masa-masa ketika dia menjalani kehidupan sebagai seorang komandan U-boat dalam Perang Dunia II. Salah satu kisah tentang Kretschmer muncul dalam sebuah serial dokumenter keluaran tahun 1974 berjudul 'The World at War'. Pada pertengahan tahun 1990-an dia diwawancarai untuk kepentingan sebuah game simulasi komputer bernama 'Aces of the Deep'. Wawancaranya sendiri (bersama dengan beberapa veteran U-boat lainnya) ditampiling eh ditampilkan dalam versi CD-Rom dari game tersebut.

Meskipun Kretschmer hanya menjalani kerasnya peperangan selama satu setengah tahun saja (dari enam tahun Perang Dunia II berlangsung), tapi prestasinya dalam hal menenggelamkan musuh tak pernah lagi ada yang menyamai. Sudah tentu penghargaan yang diterimanya pun berjibun. Selain itu, nama Kretschmer disebutkan sebanyak lima kali dalam majalah Kuncung eh buletin bergengsi Wehrmachtbericht (3 Agustus 1940, 19 Oktober 1940, 4 November 1940, 17 Desember 1940, dan 25 April 1940).

Dalam sebuah acara kunjungan ke Bavaria selama musim panas 1998, Otto Kretschmer (yang saat itu telah berusia 86 tahun) tewas dalam sebuah kecelakaan di kapal yang melintasi sungai Danube. Saat itu adalah juga perayaan ulang tahun perkawinannya yang ke-50! Jenazahnya kemudian dikremasi dan abunya disebarkan ke lautan.

Bisa dibilang bahwa kehidupan Otto Kretschmer benar-benar tak bisa dilepaskan dari hal yang sangat dicintainya: lautan. Ia mengawali karirnya di lautan, mendapat kejayaannya di lautan, memulai karirnya kembali di lautan, menemui ajal di lautan, dan sisa-sisa tubuhnya pun kini berserakan di lautan!

Prestasi :
40 kapal ditenggelamkan dengan total tonase 208.954 GRT
3 kapal perang pembantu ditenggelamkan dengan total tonase 46.440 GRT
1 kapal perang ditenggelamkan dengan total tonase 1.375 GRT
1 kapal ditenggelamkan dengan total tonase 2.136 GRT
5 kapal dirusak dengan total tonase 37.965 GRT
2 kapal dirusak total dengan total tonase 15.513 GRT

Pangkat :
1 April 1930 Offiziersanwärter
9 Oktober 1930 Seekadett
1 Januari 1932 Fähnrich zur See
1 April 1934 Oberfähnrich zur See
1 Oktober 1934 Leutnant zur See
1 Juni 1936 Oberleutnant zur See
1 Juni 1939 Kapitänleutnant
1 Maret 1941 Korvettenkapitän
1 September 1944 Fregattenkapitän

Komando U-boat :
U-35 31 Juli 1937 - 15 Agustus 1937 Tanpa patroli perang
U-23 1 Oktober 1937 - 1 April 1940 8 patroli (97 hari)
U-99 18 April 1940 - 17 Maret 1941 8 patroli (127 hari)

Penghargaan yang diterima :
- Dienstauszeichnung kelas ke-4 (2 Oktober 1936)
- Medaille zur Erinnerung an die Heimkehr des Memellandes (26 Oktober 1939)
- Iron Cross (1939)
- kelas ke-2 (17 October 1939)
- kelas ke-1 (17 Desember 1939)
- U-boat War Badge (9 November 1939)
- Knight's Cross of the Iron Cross with Oak Leaves and Swords
- Knight's Cross tanggal 4 Agustus 1940 sebagai Kapitänleutnant dan komandan U-99
- Oak Leaves (no.6) tanggal 4 November 1940 sebagai Kapitänleutnant dan komandan U-99
- Swords (no.5) tanggal 26 Desember 1941 sebagai Korvettenkapitän dan komandan U-99
- Disebutkan lima kali dalam Wehrmachtbericht


Sumber :
Buku "The Battle of Atlantic" oleh Andrew Williams
www.en.wikipedia.org
www.finearts-autographs.com
www.forosegundaguerra.com
www.miniaturasjm.com
www.u-35.com
www.uboat.net


Jumat, 05 Maret 2010

Marine-Schreiber-Obergefreiter Walther Gerhold (1921- ), Manusia Torpedo Jerman!

Kapal selam mini Jerman "Neger" bersama bawaan utamanya: torpedo


Walther Gerhold sebagai "Human Torpedo"


Walther Gerhold mengenakan seragam pelaut Jerman


Walther Gerhold tersenyum bangga untuk konsumsi Kriegsberichter tak lama setelah acara penganugerahan Ritterkreuz


Kini dia ke studio foto untuk diabadikan bersama medali bergengsi yang telah diraihnya. Tak lupa menyisipkan tanda tangan, kali-kali ada ABG berminat!


Walther Gerhold nyengeh kuda sebelum diturunkan ke permukaan lautan dengan torpedonya. Bisa dibilang bahwa dialah "human torpedo" paling terkenal dalam sejarah!


Walther Gerhold menerima medali Ritterkreuz dari tangan Admiral Hellmuth Heye tanggal 6 Juli 1944, hari yang sama dimana pada subuhnya dia berhasil melaksanakan tugasnya yang hampir-hampir mustahil!



Karl Dönitz (tengah) berfoto bersama dengan Admiral Hellmuth Heye (kiri) dan para pelaut Kriegsmarine, Juli 1944. Di sebelah kanan Dönitz (dengan Ritterkreuz di dadanya) adalah Marine-Schreiber-Obergefreiter Walther Gerhold yang merupakan anggota Kleinkampfverbände (unit kapal selam mini dengan satu awak)


Oleh: Alif Rafik Khan

Walther Gerhold dilahirkan tanggal 8 Juni 1921 (persis di hari yang sama, mantan Presiden Indonesia Soeharto dilahirkan!) di Benolpe. Dia mendaftarkan diri di Kriegsmarine tahun 1940 di usianya yang ke-19 tahun. Setelah menyelesaikan pelatihan dasarnya, Gerhold ditugaskan di unit kapal torpedo Jerman (Torpedobooten) yang biasa berpatroli di selat Inggris.

Dalam beberapa kali pertempuran kecil melawan gunboat dan pos pertahanan pantai Inggris, Gerhold mendapat pengalaman tempurnya yang pertama. Bulan Juni 1941 Gefreiter Gerhold dianugerahi Eiserne Kreuz kelas ke-2 karena jasa-jasanya.

Tahun 1943 dia bergabung dengan Kleinkampfverbände (unit tempur kecil) yang baru didirikan. Setelah pelatihan yang intensif dan keras, tanggal 20 April 1944 Gerhold mendapat penempatan pertamanya di pelabuhan Nettuno. Disinilah dia menjalani tugas yang kemudian membuatnya terkenal: torpedo manusia! Fungsi 'senjata' semacam ini adalah sebagai penghancur kapal-kapal Sekutu yang disandarkan di pelabuhan atau sedang berlayar. Karena torpedo biasa susah untuk diandalkan dalam urusan beginian, maka entah siapa yang menggagasnya, para pengambil keputusan di Kriegsmarine memutuskan untuk memakai cara ekstrim: Torpedo yang dikendalikan langsung oleh manusia yang meluncur bersamanya! Berbeda dengan torpedo manusia Jepang (Kaiten) yang lebih berfungsi sebagai "sarana" bunuh diri, versi Jerman tidak mengharuskan si operatornya untuk ikut meledak bersama torpedo dan sasarannya, melainkan hanya mendekat dalam jarak tertentu saja untuk kemudian menyingkir setelah mengarahkan torpedo ke target yang dikehendaki.

Misi pertama Gerhold dengan unit barunya adalah operasi penyerangan kapal tanker milik Sekutu. Hasil dari misi ini adalah kegagalan: Dari 12 "human torpedo" yang diluncurkan, hanya 3 buah yang berhasil masuk wilayah musuh dan mendekati sasarannya. 9 sisanya ada yang tewas terkena ranjau laut, tertangkap oleh musuh atau gugur ditembaki kapal patroli yang lalu-lalang di jalan menuju ke target. Bagaimana dengan Gefreiter Gerhold? Dia cukup beruntung karena berhasil kembali ke pangkalannya. Atas prestasinya ini, tanggal 5 Mei 1944 dia mendapat medali Eiserne Kreuz kelas pertama.

Malam tanggal 5/6 Juli 1944, Gerhold mendapat penugasan yang kedua, yang jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan yang pertama. Kali ini dia harus menyusup ke "sarang" kapal-kapal Sekutu yang sedang berlabuh di pantai invasi Normandia (Pelabuhan Mulberry). Sebagai sarana pelepasan menuju ke sasaran, Gerhold diangkut menggunakan kapal selam mini Jerman yang hanya bisa memuat satu orang, "Neger" (Negro/Hitam) yang berpangkalan di pantai Atlantik Villers-sur-Mere. Bersama dengan 25 "Neger" lainnya, mereka melaksanakan operasi yang berbahaya tersebut.

Gerhold berhasil melewati kapal patroli musuh yang melintas tanpa terdeteksi, bahkan kini dia telah berada di tengah-tengah wilayah musuh, dengan di sekelilingnya kapal-kapal Sekutu bersandar dengan santainya, yakin bahwa tidak akan ada yang coba-coba mengganggu mereka. Belum tahu juga nih bule Depok, kalau ada odong-odong di dekat mereka!

Dengan tenang Gerhold melewatkan kesempatan untuk meledakkan kapal suplai, carrier atau kapal-kapal kecil lain. Itu bukanlah sasaran utamanya. Dia ingin kapal yang besar dan juga penting bagi musuh, agar "ngadon"-nya kesini tidak akan berakhir dengan kesia-siaan. Setelah mencari-cari, akhirnya dia menemukan sasarannya: Setelah tengah malam, tak lama setelah enam buah Destroyer musuh yang sedang bersandar mengendurkan pengamanannya, dia melihat hanya dalam jarak 800 meter sebuah cruiser besar (HMS Trollope). Gerhold mendekat sampai jarak 500 meter untuk kemudian say bye-bye kepada torpedo yang dilepaskannya ke arah target. Waktu berlalu seakan begitu lambatnya, dan 1 menit kemudian sebuah ledakan dahsyat membahana ketika torpedo Gerhold telah bertumbuk dengan bagian samping cruiser naas tersebut. DUARRRRR!!!

Dan neraka pun seakan lepas dari segelnya! Lampu sorot, teriakan-teriakan, kapal patroli, tembakan dan bom air seakan saling berlomba mencari-cari sumber biang kerok yang menyebabkan ledakan tersebut. Bisa dibilang bahwa selamat dari keadaan seperti itu adalah hil yang mustahal, tapi entah bagaimana Gerhold berhasil melakukannya! Dia tiba kembali di "Neger" yang menunggunya, cepat-cepat kabur dari situ dan dengan selamat sampai di pelabuhan Honfleur yang masih dikuasai Jerman tanggal 6 Juli 1944.

Sudah jelas prestasi seperti ini bukanlah hal yang biasa dan harus diganjar dengan selayaknya. Pangkat Gerhold langsung dinaikkan menjadi Marine-Schreiber-Obergefreiter, sekaligus menjadi orang pertama dari unitnya (Kleinkampf-Flotille 361) yang menerima medali bergengsi Ritterkreuz bulan Juli 1944.

Setelah perang usai dia banting haluan menjadi petugas polisi dan menjadi Polizeiobermeister di wilayah Bork yang menjadi bagian dari Lüdinghausen.


Sumber :
www.audiovis.nac.gov.pl
www.das-ritterkreuz.de
www.feldgrau.net
www.forum.axishistory.com
www.hotlinecy.com
www.ritterkreuztraeger-1939-45.de
www.strangevehicles.greyfalcon.us


Selasa, 01 Desember 2009

Korvettenkapitän Hans Karpf (1916-1943). Baca Kisah Hidupnya dan Anda Akan Terharu!

Oberleutnant zur See Hans Karpf berfoto di atas U-632





Korvettenkapitän Hans Karpf dengan sweaternya yang lazim dipakai oleh para awak U-boat ketika sedang berpatroli di lautan





Hans Karpf sedang merokok. Efek perang tampak jelas dari wajahnya yang menua dengan cepat!





Penghargaan-penghargaan yang telah diraih oleh Hans Karpf





Oleh : Alif Rafik Khan



Guys, ketika membaca kisah ini tak terasa saya langsung melamun, membayangkan betapa takdir begitu berperan menentukan jalan kehidupan seorang manusia...



Timothy P. Mulligan dari National Archives adalah seorang ahli khusus di bidang kapal selam Jerman. Pekerjaannya yang biasanya membosankan dan tak “menantang”, kali ini ia rasakan menjadi begitu berharga ketika ia menemukan sebuah rekaman detail dari seorang kapten U-boat Jerman dalam Perang Dunia II, dan catatn itu diperuntukkannya bagi seorang wanita asal Virginia yang tidak lain adalah anak si kapten U-boat. Yang si wanita cari sebenarnya begitu sederhana : apakah ayahnya tahu tentang kelahirannya, sebelum si ayah tercinta tenggelam bersama kapal selam dan seluruh awaknya di dekat Eslandia tahun 1943.



Mulligan tahu bahwa Sekutu telah berhasil memecahkan kode Angkatan Laut Jerman selama Perang Dunia II, dan National Archives tempatnya bekerja mempunyai catatan tentang bocoran lalu-lintas berita antar U-boat. Ada kemungkinan bahwa markas besar Karl Dönitz di Prancis telah memberitahu sang kapten tentang kelahiran puterinya, karena hal tersebut memang biasa terjadi saat itu, di mana pada umumnya berita-berita yang dirasa penting disampaikan dari markas besar ke satuan U-boat yang sedang berpatroli di lautan lepas, dan begitu pula sebaliknya.



Tapi itu semua tetap hanya menjadi sebuah kemungkinan, sampai sebuah kepastian bisa didapatkan...



Mullligan yang kini di tahun 2009 berusia 58 tahun dan berasal dari Lanham, telah pensiun dari tugas yang ditekuninya selama 34 tahun. Dia telah berkubang dari satu arsip ke arsip lainnya. Dia telah menulis dua buah buku tentang U-boat, membantu banyak peneliti lain dalam subyek ini selama bertahun-tahun, dan telah menulis sebuah panduan yang memberikan sejarah singkat dari 889 buah kapal selam Jerman yang menteror perdagangan Sekutu selama berlangsungnya Perang Dunia II!



Tapi ketika ditanyakan apakah prestasi terbesar yang telah ditorehkannya, apakah momen yang membuat dirinya menjadi begitu berharga sebagai seseorang yang akrab dengan arsip yang segunung banyaknya? Tanpa berpikir sedetikpun dia langsung berkata bahwa hal itu terjadi 20 tahun yang lalu, ketika dia berusaha dengan keras mencari sebuah catatan radio sederhana demi seorang wanita yang ingin mengetahui tentang ayah yang tak pernah ditemuinya.



Catatan itu pastilah terselip di antara kotak-kotak penuh kertas berwarna abu-abu, di antara rak-rak berwarna sama, di antara tempat penyimpanan yang disusun secara rapi dalam begitu banyak gudang arsip. Bagi seorang peneliti, pastilah ini suatu pekerjaan yang begitu menantang karena sudah pasti akan melelahkan, meskipun hasil yang didapatkan pun biasanya sebanding dengan kerja keras yang dilakukan.



Cerita bermula dari tahun 1981 dengan diluncurkannya sebuah film Jerman fenomenal berjudul “Das Boot” (Kapal), yang menggambarkan kehidupan awak-awak U-boat yang kumuh dan diliputi oleh bahaya (saya sendiri sudah berkali-kali menonton film ini, dan tidak pernah sedikitpun merasa bosan!). Sebagai seorang ahli tentang U-boat, tentu saja Mulligan dimintai pendapatnya oleh wartawan tentang film ini, untuk sebuah berita yang akan dimuat di Washington Post. Ternyata artikel yang memuat wawancaranya menarik perhatian Inge Molzahn dari Reston, seorang wanita keturunan Jerman yang berayahkan Hans Karpf, yang dalam Perang Dunia II merupakan kapten kapal U-632, salah satu dari beratus kapal selam Jerman yang ditenggelamkan Sekutu di perairan Atlantik Utara.



Molzahn, yang saat itu berusia 39 tahun, menelepon Mulligan dan menceritakan kisahnya : dia dilahirkan pada saat ayahnya berada di lautan lepas menjalani patroli terakhirnya, dan beberapa minggu kemudian kapal selam yang dikomandani ayahnya ditenggelamkan oleh pesawat pembom Inggris di luar pantai Eslandia tanggal 6 April 1943. setelah perang usai, ibunya membawa Molzahn meninggalkan Jerman menuju Argentina. Disana ibunya menikah kembali, sementara setiap pembicaraan tentang ayahnya selalu dilarang. “Aku tidak diperbolehkan untuk mengatakan apapun tentang ayah kandungku,” kata Molzahn dalam sebuah wawancara di rumahnya tak lama setelah cerita ini beredar ke khalayak ramai.



Sekarang dia dilingkupi oleh keingintahuan yang besar akan pria yang disebut oleh saudara-saudaranya begitu mirip dengan dirinya. Yang dia punyai hanyalah foto-foto tua yang memperlihatkan seorang perwira Kriegsmarine berwajah kanak-kanak dengan topi kebesaran, dengan beberapa medali perang tersemat di seragamnya. Selain itu, yang tersisa adalah surat-surat yang dikirimkan ayahnya pada ibunya. Itu thok.



Mulligan menginsyafi bahwa arsip yang harus ditelusurinya begitu besarnya karena merupakan gabungan dari dokumen-dokumen perang Angkatan Laut Jerman yang telah dirampas Sekutu dari sebuah kastil di Jerman, dan merupakan pusat penyimpanannya. Mulligan sendiri, yang merupakan seorang Doktor bidang sejarah Eropa, telah menjadi pemerhati serius akan data-data para awak U-boat, dan telah pergi berkali-kali ke negeri Jerman untuk melakukan wawancara dengan ratusan pelaut veteran Kriegsmarine. Jangan pula lupakan bahwa dia telah menulis banyak sekali artikel yang berkaitan dengan jenis-jenis kapal selam dan kaptennya.



“Pekerjaanku bagaikan seorang prajurit yang berperang dalam bentuk yang tidak biasa,” katanya.



Mullligan adalah orang yang senantiasa berpakaian rapi dan mulai bekerja di kearsipan dari tahun 1972. Dia tumbuh di pinggiran kota Washington dan telah tergila-gila pada sejarah dari sejak kecilnya. Ketika dia berbicara, maka suaranya kecil saja layaknya orang yang berbisik di perpustakaan, tapi ketika tiba giliran untuk bercerita kisah-kisah seru para awak U-boat, maka intonasinya bagaikan seorang dalang yang memukau para pendengarnya. Di tahun-tahun terakhir masa kerjanya dia ditempatkan di fasilitas arsip di College Park.



Dia segera melacak data-data yang ada hubungannya dengan Korvettenkapitän Hans Karpf dan U-632, sebuah kapal selam sepanjang 220 kaki bertipe VIIC dengan kru 48 orang, tanpa shower dan hanya satu kamar mandi yang tersedia untuk melayani seluruh awak kapal. Ini adalah kapal yang sama seperti yang ditampilkan dalam film “Das Boot”. Pertama-tama, Mulligan mengarahkan penelitiannya pada catatan patroli harian yang ditulis oleh sang kapten, dan catatan lain yang dikumpulkan oleh para atasannya setelah dia hilang tenggelam di lautan.



Karpf, yang pada saat kematiannya baru berusia 27 tahun, telah bertugas di satu kapal selam lainnya sebelum bertugas di U-632. di kapal ini pun dia baru menjalani dua patroli dan menenggelamkan dua kapal sebelum ditenggelamkan ketika sedang mengintai sebuah konvoy Sekutu yang dijaga ketat.



Ini bukanlah hal yang tidak biasa, kata Mulligan. Banyak U-boat yang tidak kembali dengan selamat dari patroli pertamanya, sedangkan yang lain bahkan sudah tenggelam sebelum sempat melepaskan satu torpedo pun!



“Yang paling sering menimpa para awak U-boat pemberani ini adalah mereka pergi berpatroli lalu kemudian tenggelam bersama seluruh awaknya sebelum sempat melepaskan tembakan sekali pun,” katanya. Bayangkan saja, dua pertiga dari 48.000 awak U-boat Jerman tewas dalam pertempuran!



Molzahn begitu bahagia menerima informasi yang diberikan oleh Mulligan. “Setidaknya telah ada penjelasan terperinci tentang apa yang sebenarnya telah terjadi,” katanya. “Ini sangat menarik.”



Tapi mulligan juga dilingkupi rasa penasaran untuk mengetahui sendiri pesan-pesan yang terdeteksi oleh Sekutu tersebut. “Aku tak mengatakan padanya (Molzahn),” katanya. “Aku sendiri tak tahu pasti apa yang akan aku temukan,” dia kemudian bekerja keras di bangunan arsip utama di Distrik, dan mulai menelaah satu persatu pesan-pesan yang dikirimkan dari markas besar kepada U-632, yang kebanyakannya berisi detail teknis pertempuran.



Tapi kemudian dia menemukan sesuatu yang menarik. Tanggal 24 Maret 1943, markas flotilla Karpf mengirimkan padanya sebuah pesan sederhana : “telah lahir putri seorang pahlawan tanggal 18 Maret. Selamat.” Dan itulah dia, 14 hari sebelum kematiannya yang tragis, sang kapten kapal tahu bahwa ia telah menjadi seorang ayah...



Yang langsung terlintas di kepala Mulligan adalah “Wow”. Dia langsung menelepon Molzahn secepatnya, sambil berkata yang membikin penasaran,”tebak apa yang telah aku temukan?”



Ketika mendengar apa yang telah ditemukan oleh Mulligan, Molzahn hanya bisa terpana. “Ini adalah sesuatu yang sangat penting bagiku,” katanya. Hal kecil tapi merupakan salah satu bagian terpenting dalam hidupnya.



Kini Molzahn yang telah berusia 65 tahun benar-benar merasa berhutang budi pada apa yang telah dilakukan oleh Mulligan.



“Bagiku, dia adalah manusia yang luar biasa,” katanya. “Dia telah membuka pintu ini lebar-lebar untukku, semua pengetahuan baru ini. Aku tak akan pernah dapat mengetahui semua ini kalau saja tak ada dia, dan dengannya aku sangat berterima kasih.”



Bagaimana tentang data pribadi Hans Karpf sendiri plus prestasi yang telah diraihnya?



Hans Karpf dilahirkan tanggal 14 Mei 1916 di Saarbrücken, dan meninggal di lautan Atlantik Utara pada tanggal 6 April 1943. Selama karirnya, dia telah berhasil menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 15.255 ton. Dia diangkat sebagai Kapitänleutnant pada tanggal 1 November 1942, dan diangkat menjadi Korvettenkapitän pada tanggal 1 April 1943.



Komando U-boat :

U-10 : 30 November 1941 s/d 22 Juni 1942. Tanpa patroli

U-632 : 23 Juli 1942 s/d 6 April 1943. Dua patroli (71 hari)



Info Patroli :

U-632 : Berangkat dari Kiel 24 Desember 1942 dan tiba di Marviken 26 Desember 1942 (3 hari)

U-632 : Berangkat dari Marviken 29 Desember 1942 dan tiba di Brest 14 Februari 1943 (patroli 1, 48 hari)

U-632 : Berangkat dari Brest 15 Maret 1943, tenggelam di lautan 6 April 1943 (patroli 2, 23 hari)



Kapal Korban Hans Karpf :

3 Februari 1943 : Cordelia (Inggris) dari konvoy HX224 berbobot 8.190 ton

6 April 1943 : Blitar (Belanda) dari konvoy HX231 berbobot 7.065 ton



Penghargaan yang diraih oleh Hans Karpf :

Eiserne Kreuz 1 klasse

U-Boat War Badge

High Seas Fleet Badge

DRL Sport Badge





Sumber :

www.forum.axishistory.com

www.uboat.net

www.washingtonpost.com