Tampilkan postingan dengan label U-boat Kriegsmarine Nazi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label U-boat Kriegsmarine Nazi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juni 2015

U-99

Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Kapitänleutnant Otto Kretschmer (Kommandant U-99) yang diselenggarakan di Lorient pada tanggal 5 Agustus 1940 setelah Kretschmer kembali ke pangkalannya dari patroli yang berlangsung sukses (dia sendiri telah menerima berita tentang penganugerahannya sehari sebelumnya, tanggal 4 Agustus 1940, saat masih berada di lautan). Yang menyerahkan medali adalah Panglima Kriegsmarine Großadmiral Erich Raeder. Foto oleh Kriegsberichter Mannewitz


Sumber :
Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
www.commons.wikimedia.org

Senin, 05 Januari 2015

U-126

 
 Kapitänleutnant Ernst Bauer (3 Januari 1914 - 12 Maret 1988) mendapat kabar melalui pesan radio dari Befehlshaber der Unterseeboote bahwa dia telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 16 Maret 1942. Pada saat itu dia masih berada di lautan, berpatroli bersama dengan kapal selam U-126 dari tipe IXC yang dikomandaninya. Untuk merayakan penganugerahan tersebut, maka segenap awak U-126 mengalungkan kepada kaptennya sebuah Ritterkreuz "jadi-jadian" yang dibuat dari bahan karton tebal, yang kemudian dipakai oleh Bauer sampai dia pulang ke pangkalannya di Lorient (Prancis) tanggal 29 Maret 1942! Barulah di saat itu sang kapten kapal selam jagoan mendapatkan medali aslinya

------------------------------------------------------------------------

KOMMANDANT

 Korvettenkapitän Ernst Bauer (3 Januari 1914 - 12 Maret 1988) memulai karir Angkatan Laut-nya bulan April 1933. Setelah menghabiskan waktu lebih dari setahun di kapal penjelajah ringan Königsberg, dia dipindahkan ke unit U-boat bulan Januari 1938. Bauer menjadi Perwira Pengawas di U-10 dan U-37 sebelum menjadi kapten kapal latihan U-120 bulan April 1940. Pada bulan April 1941 dia ditunjuk untuk menjadi kapten U-126 yang dibawanya dalam lima patroli yang berujung sukses, utamanya di perairan Karibia. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 16 Maret 1942 sebagai Kapitänleutnant dan Kommandant U-126 / 2.Unterseebootsflottille / Führer der Unterseeboote West / Befehlshaber der Unterseeboote (BdU). Di bulan yang sama (tapi setahun setelahnya) dia ditarik dari tugas lapangan untuk menjadi instruktur di 27. Unterseebootsflottille. Sampai dengan akhir perang Bauer bertugas di belakang meja sebagai komandan 27. Unterseebootsflottille (Oktober 1944 - Maret 1945) dan 26. Unterseebootsflottille (April 1945 - Mei 1945). Seusai perang dia bergabung dengan Bundesmarine (10 Desember 1955 - 31 Maret 1972) dan pensiun dengan pangkat Kapitän zur See. Selama karirnya sebagai kapten U-boat, Bauer tercatat ikut serta dalam lima patroli laut dengan total 391 hari di lautan, sekaligus menenggelamkan 26 kapal dengan total tonase 119.010 GRT serta merusakkan empat kapal dengan total tonase 31.304 GRT. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (8 November 1939); U-Boots-Kriegsabzeichen (8 November 1939); Eisernes Kreuz I.Klasse (1 Agustus 1940); Zerstörerkriegsabzeichen (19 Oktober 1940); Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern (20 April 1944); Kriegsverdienstkreuz I.Klasse mit Schwertern (1 April 1945); serta Bundesverdienstkreuz (10 November 1971). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht dua kali (30 Juli 1941 dan 15 Maret 1942)


Sumber :
www.forum.axishistory.com
www.uboat.net

Jumat, 05 Desember 2014

Ritterkreuzträger (Peraih Ritterkreuz) dari U-Bootwaffe (Unit U-boat/Kapal Selam Jerman)

PERAIH RITTERKREUZ

 Korvettenkapitän Ernst Bauer (3 Januari 1914 - 12 Maret 1988) memulai karir Angkatan Laut-nya bulan April 1933. Setelah menghabiskan waktu lebih dari setahun di kapal penjelajah ringan Königsberg, dia dipindahkan ke unit U-boat bulan Januari 1938. Bauer menjadi Perwira Pengawas di U-10 dan U-37 sebelum menjadi kapten kapal latihan U-120 bulan April 1940. Pada bulan April 1941 dia ditunjuk untuk menjadi kapten U-126 yang dibawanya dalam lima patroli yang berujung sukses, utamanya di perairan Karibia. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 16 Maret 1942 sebagai Kapitänleutnant dan Kommandant U-126 / 2.Unterseebootsflottille / Führer der Unterseeboote West / Befehlshaber der Unterseeboote (BdU). Di bulan yang sama (tapi setahun setelahnya) dia ditarik dari tugas lapangan untuk menjadi instruktur di 27. Unterseebootsflottille. Sampai dengan akhir perang Bauer bertugas di belakang meja sebagai komandan 27. Unterseebootsflottille (Oktober 1944 - Maret 1945) dan 26. Unterseebootsflottille (April 1945 - Mei 1945). Seusai perang dia bergabung dengan Bundesmarine (10 Desember 1955 - 31 Maret 1972) dan pensiun dengan pangkat Kapitän zur See. Selama karirnya sebagai kapten U-boat, Bauer tercatat ikut serta dalam lima patroli laut dengan total 391 hari di lautan, sekaligus menenggelamkan 26 kapal dengan total tonase 119.010 GRT serta merusakkan empat kapal dengan total tonase 31.304 GRT. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (8 November 1939); U-Boots-Kriegsabzeichen (8 November 1939); Eisernes Kreuz I.Klasse (1 Agustus 1940); Zerstörerkriegsabzeichen (19 Oktober 1940); Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern (20 April 1944); Kriegsverdienstkreuz I.Klasse mit Schwertern (1 April 1945); serta Bundesverdienstkreuz (10 November 1971). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht dua kali (30 Juli 1941 dan 15 Maret 1942)


Korvettenkapitän Albrecht Achilles (25 Januari 1914 - 27 September 1943)  memulai karir angkatan lautnya tanggal 8 April 1934. Dia lalu bertugas di kapal latih Schleswig-Holstein dan kapal perang Gneisenau sebelum ditransfer ke unit U-boat bulan April 1940. Untuk pertama dia menimba ilmu sebagai anakbuah Korvettenkapitän Richard Zapp di U-66 dan berpartisipasi dalam tiga patroli. Pada bulan Januari 1942 Achilles mengkomandani kapalnya sendiri, sebuah kapal selam tipe IXC U-161. Dia beroperasi terutama di Karibia, tapi juga kadang masuk ke wilayah perairan Brazilia dan bahkan Afrika. Achilles tewas bersama seluruh awak U-161 ketika kapal mereka ditenggelamkan oleh pesawat Mariner Amerika bulan September 1943. Dalam karirnya sebagai komandan U-boat, Achilles tercatat menenggelamkan 14 kapal (64.542 GRT) dan merusakkan 6 kapal (41.122 GRT). Medali-medali yang diterimanya: Dienstauszeichnung IV. Klasse (8 April 1938); Eisernes Kreuz II.Klasse (7 Agustus 1941) dan I.Klasse (5 April 1942); Flotten-Kriegsabzeichen (15 Juli 1941); U-Bootskriegsabzeichen (7 Agustus 1941); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (16 Januari 1943). Namanya juga disebut dalam Wehrmachtsbericht edisi 12 Maret 1943

 
Kapitänleutnant Klaus Bargsten (31 Oktober 1911 - 25 Oktober 2000) memulai karir angkatan lautnya bulan April 1936 meskipun sebelumnya dia sudah aktif berlayar di kapal dagang. Dia bergabung dengan pasukan U-boat bulan April 1939 dimulai dari U-6 kemudian ke U-99 (dengan kaptennya yang terkenal Otto Kretschmer). Bargsten mendapat kepercayaan untuk menjadi komandan U-boat pada bulan Maret 1941 dengan menjadi kapten U-563. Pada patroli keduanya dia menenggelamkan kapal perusak Inggris HMS Cossack (1.960 ton). Setelah patroli ketiga dia meninggalkan kapal selam tersebut dan tiga bulan kemudian ditunjuk untuk menjadi kapten U-521. Kapal ini tenggelam pada tanggal 2 Juni 1943 oleh kapal pemburu U-boat Amerika PC 565 di timur Cape Hatteras. Dari 52 orang awaknya, 51 tewas kecuali satu orang yaitu Bargsten! Dia lalu menjalani lebih dari tiga tahun masa penahanan di kamp tawanan Sekutu. Sebelumnya Bargsten telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 30 April 1943 sebagai Kapitänleutnant dan Kommandant U-521 / 2.Unterseebootsflottille / Befehlshaber der Unterseeboote (BdU) setelah berhasil menenggelamkan 5 kapal dengan total tonase 22.171 GRT. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (23 Juli 1940); U-Boots-Kriegsabzeichen (10 Agustus 1940); serta Eisernes Kreuz I.Klasse (25 September 1940)


Sumber :
www.uboat.net

U-563

KOMANDAN

 
Kapitänleutnant Klaus Bargsten (31 Oktober 1911 - 25 Oktober 2000) memulai karir angkatan lautnya bulan April 1936 meskipun sebelumnya dia sudah aktif berlayar di kapal dagang. Dia bergabung dengan pasukan U-boat bulan April 1939 dimulai dari U-6 kemudian ke U-99 (dengan kaptennya yang terkenal Otto Kretschmer). Bargsten mendapat kepercayaan untuk menjadi komandan U-boat pada bulan Maret 1941 dengan menjadi kapten U-563. Pada patroli keduanya dia menenggelamkan kapal perusak Inggris HMS Cossack (1.960 ton). Setelah patroli ketiga dia meninggalkan kapal selam tersebut dan tiga bulan kemudian ditunjuk untuk menjadi kapten U-521. Kapal ini tenggelam pada tanggal 2 Juni 1943 oleh kapal pemburu U-boat Amerika PC 565 di timur Cape Hatteras. Dari 52 orang awaknya, 51 tewas kecuali satu orang yaitu Bargsten! Dia lalu menjalani lebih dari tiga tahun masa penahanan di kamp tawanan Sekutu. Sebelumnya Bargsten telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 30 April 1943 sebagai Kapitänleutnant dan Kommandant U-521 / 2.Unterseebootsflottille / Befehlshaber der Unterseeboote (BdU) setelah berhasil menenggelamkan 5 kapal dengan total tonase 22.171 GRT. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (23 Juli 1940); U-Boots-Kriegsabzeichen (10 Agustus 1940); serta Eisernes Kreuz I.Klasse (25 September 1940)


Sumber :
www.uboat.net

U-521

KOMANDAN

 
Kapitänleutnant Klaus Bargsten (31 Oktober 1911 - 25 Oktober 2000) memulai karir angkatan lautnya bulan April 1936 meskipun sebelumnya dia sudah aktif berlayar di kapal dagang. Dia bergabung dengan pasukan U-boat bulan April 1939 dimulai dari U-6 kemudian ke U-99 (dengan kaptennya yang terkenal Otto Kretschmer). Bargsten mendapat kepercayaan untuk menjadi komandan U-boat pada bulan Maret 1941 dengan menjadi kapten U-563. Pada patroli keduanya dia menenggelamkan kapal perusak Inggris HMS Cossack (1.960 ton). Setelah patroli ketiga dia meninggalkan kapal selam tersebut dan tiga bulan kemudian ditunjuk untuk menjadi kapten U-521. Kapal ini tenggelam pada tanggal 2 Juni 1943 oleh kapal pemburu U-boat Amerika PC 565 di timur Cape Hatteras. Dari 52 orang awaknya, 51 tewas kecuali satu orang yaitu Bargsten! Dia lalu menjalani lebih dari tiga tahun masa penahanan di kamp tawanan Sekutu. Sebelumnya Bargsten telah dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 30 April 1943 sebagai Kapitänleutnant dan Kommandant U-521 / 2.Unterseebootsflottille / Befehlshaber der Unterseeboote (BdU) setelah berhasil menenggelamkan 5 kapal dengan total tonase 22.171 GRT. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (23 Juli 1940); U-Boots-Kriegsabzeichen (10 Agustus 1940); serta Eisernes Kreuz I.Klasse (25 September 1940)


Sumber :
www.uboat.net

Rabu, 05 November 2014

U-175

Obersteuermann Helmut Klotzsch (kelahiran 12 Februari 1914) dari U-175 berteriak meminta tolong untuk diselamatkan setelah kapalnya ditenggelamkan oleh USGCG (United States Coast Guard Cutter) "Spencer" di perairan Atlantik Utara, barat-daya Irlandia, tanggal 17 April 1943. Beberapa awak U-175 yang ikut diselamatkan bersamanya kemudian bercanda bahwa saat masih berada di dalam U-175 - tak lama sebelum disuruh meninggalkan kapal - Klotzsch memerintahkan teman-temannya untuk tidak berteriak meminta tolong pada musuh! U-175 (dikomandani Korvettenkapitän Heinrich Bruns) adalah u-boat tipe IXC dari 10. Unterseebootsflottille yang ditenggelamkan saat sedang bersiap untuk menyerang konvoy HX-233. USCGC "Spencer" mendeteksi keberadaan kapal selam musuh sebelum konvoy tiba di lokasi kejadian dan kemudian membombardirnya dengan dua bom kedalaman. 40 menit kemudian kapal selam Jerman tersebut dipaksa untuk muncul ke permukaan, hanya untuk ditenggelamkan oleh awaknya sendiri demi mencegahnya jatuh ke tangan musuh. USCGC "Spencer" dan USCGC "Duane" berhasil menyelamatkan 44 orang awaknya


Sumber :
http://ww2images.blogspot.com/search/label/German%20U-Boat%20Arm

Senin, 31 Maret 2014

U-Boat Tipe XXI, Kapal Selam Tercanggih di Jamannya!



Oleh : Waffen Armee

“Inggris sungguh beruntung. Perang berhenti sekarang,” ujar Captain Mervyn Wingfield, eks komandan kapal selam AL Inggris selepas memeriksa sebuah U-Boot Type XXI, U-2513 yang menyerah kepada Sekutu, 16 Mei 1945.

Ucapan Wingfield tidaklah berlebihan. Begitu semua kemampuan Type XXI terungkap secara luas, banyak ahli teknologi maritim setuju bahwa U-Boot ini adalah kapal selam sejati pertama dengan segudang terobosan teknologi. Sebelumnya kapal selam atau U-Boot hanya membenamkan diri selama beberapa saat manakala berhadapan dengan situasi darurat, sedangkan U-Boot Type XXI benar-benar berhabitat di bawah air dengan daya luncur yang lebih cepat saat menyelam dibandingkan saat bergerak dipermukaan dan hanya akan keluar ke permukaan hanya untuk mengisi baterai selama tiga sampai lima jam saja. Bila saja mesin perang ini muncul lebih awal, bisa dipastikan jalan cerita pertempuran di Atlantik akan lain.

U-Boot Type XXI sebenarnya lebih tepat apabila disebut sebagai E-Boot (elektroboot atau electric boat), sebab salah satu keunggulan kapal selam ini terletak pada kemampuannya menyimpan energi listrik dalam kapasitas besar sehingga mampu bergerak cepat dan bertahan lebih lama di dalam air. U-Boot type XXI berdesain futuristik dan merevolusi segala jenis kapal selam yang pernah ada dan akan menjadi cikal bakal kapal selam modern.

Konsep Modul
Rancang-bangun Type XXI mulai muncul pada akhir tahun 1942 sebagai solusi atas keinginan Donitz melengkapi mesin perang yang benar-benar baru bagi armada U-Boot nya. Saat itu memang terlihat kalau situasi sudah berbalik arah dan U-Boot tak lagi mendulang banyak sukses seperti tahun 1939-1941. Basis yang dipakai sebagai modal awal pengembangan adalah hasil temuan Profesor Walter. Insinyur sekaligus juga desainer kondang yang sejak awal era 1930-an telah mengerjakan sejumlah proyek pengembangan kapal selam. Beberapa hasil karya Walter yang memancing perhatian Donitz di antaranya adalah inovasi di bidang desain lambung serta revolusi pada sistem propulsi kapal selam dengan menggunakan hidrogen peroksida.

Agar menghemat waktu pembuatan, pemilihan lambung Type XXI merujuk pada desain lambung U-Boot yang telah dibuat Walter, yaitu Type XVIII. Donitz menyetujui usul ini dan memberikan lampu hijau pembangunan Type XXI pada 20 Agustus 1943.

Ada tiga galangan kapal Jerman yang terlibat dalam program ini dan secara serentak mereka menghentikan produksi U-Boot lawas serta mengalihkannya untuk pembangunan Type XXI. Masing-masing adalah galangan kapal Blohm & Voss di Hamburg, AG Wese, Bremen, dan F Schicau GmbH di Danzig. Type XXI pertama rampung dibangun dan diluncurkan dari galangan kapal Blohm & Voss pada tanggal 19 April 1944.

Bila dihitung, hanya dibutuhkan waktu kurang dari setahun untuk membangun sebuah U-Boot yang benar-benar baru. Ini adalah sebuah prestasi. Apalagi pekerjaan dilakukan di tengah gencarnya Sekutu melakukan pengeboman udara siang dan malam ke target-target strategis di seantero Jerman. Kendala ini bisa diatasi dengan menciptakan sistem produksi moduler. Pada penerapannya, kapal dibagi menjadi sepuluh modul. Setiap modul dikerjakan di tempat-tempat yang berbeda. Beruntung, Jerman memiliki jaringan transportasi air yang cukup rapi sehingga cukup mendukung pemindahan bagian-bagian kapal selam menuju area assembling. Selain sebagai upaya untuk menghindari target pengeboman Sekutu, sistem pembangunan model seperti ini juga mampu menghemat kebutuhan tenaga kerja. Sebagai gambarannya, untuk membangun sebuah U-Boot lawas Type XB dibutuhkan angka 460.000 man-hours, sedangkan pada Type XXI angka tadi bisa ditekan sampai 300.000 man-hours.

Walaupun demikian, proses produksi yang dijabarkan di atas tak sepenuhmya berjalan mulus. Saat diterapkan, kerap terjadi antara satu bagian dan bagian yang lain terjadi ketidak- cocokan. Hal ini masih dipersulit dengan keterlambatan pasokan komponen-komponen vital. Akibat pengeboman udara Sekutu yang makin hebat, sejumlah Type XXI yang siap diluncurkan rusak sehingga membutuhkan perbaikan. Sebagai contoh, antara Dsesember 1944 sampai Mei 1945 sedikitnya ada tujuh belas unit Type XXI siap pakai yang mengalami kerusakan akibat kejatuhan bom-bom Sekutu.

Serba baru
Terlepas dari masalah yang dihadapi dalam proses produksi, semua yang berhubungan dengan Type XXI tergolong serba baru. Mulai dari sosok, kemampuan, sampai teknologinya. Lambung dibuat streamline sehingga kapal mampu optimal beroperasi di bawah permukan laut. Tak ada lagi yang namanya meriam dek. Sebagai gantinya, kapal dibekali dengan sepasang kubah kanon kembar kaliber 20 mm. Bukannya dibiarkan telanjang, senjata antipesawat ini dikemas rapi dalam kubah yang tertanam di setiap anjungan.

Guna mendukung kelincahan manuver di bawah air, tiang-tiang seperti schnorchel, radar, radio, ataupun periskop disembunyikan ke dalam struktur manakala tak digunakan. Hal serupa juga berlaku pada dua sirip (hydroplane) yang terdapat di haluan. Selain itu, anjungan Type XXI tak dibiarkan terbuka. Sebagai gantinya pada bagian atas dipasang tiga bukaan. Masing-masing dipakai oleh seorang perwira pengamat dan dua orang pembantunya.

Bergeser ke bagian dalam kapal, secara garis besar Type XXI terbagi menjadi delapan bagian. Dek bagian atas punya jarak rentang lebih panjang ketimbang dek bawah. Soal fasilitas bagi para awak terasa lebih manusiawi ketimbang U-Boat lainnya. Bagian dalam kabin Type XXI dilengkapi dengan alat penondisian udara serta kamar mandi. Sekadar tambahan info pada U-Boat tipe lawas, biasanya para awak bisa berminggu-minggu tak mandi saat melaksanakan tugasnya.

Seperti biasa, dek bagian bawah dihuni oleh sejumlah komponen, termasuk baterai yang berjumlah 372 sel. Jumlah ini lebih banyak jika dibandingkan dengan Type IX yang hanya dibekali 124 sel. Berbekal baterai-baterai tadi, maka saat berada di bawah permukaan laut, Type XXI biasa diajak melesat sampai kecepatan 16 knot. Namun, bila kecepatan tadi dipertahankan pada angka lima knot, ini artinya kapal bisa bertahan lebih dari 72 jam di bawah air. Seluruh lambung kapal selanjutnya dibungkus lembaran metal yang merupakan campuran baja dan alumunium alloy dengan ketebalan sekitar satu inci. Berbekal bodi yang kokoh maka Type XXI sanggung diajak menyelam sampai kedalaman 280 m. ini artiya Type XXI menjadi satu-satunya kapal selam Jerman PD II yang sanggup menembus batas keramat kedalaman selam, yaitu 200 m.

Keunggulan kecepatan gerak di bawah air juga membawa hikmah tersendiri. Semasa PD II, kemampuan perangkat sonar milik Sekutu hanya mampu mendeteksi kapal selam lawan yang bergerak di bawah kecepatan 13 knot. Itu pun bergantung pada kondisi keadaan cuaca. Makin buruk cuaca, semakin buruk sensitivitas sonar dan ini artinya Type XXI makin leluasa untuk menerkam mangsanya.

Kesaktian beroperasi di bawah permukaan air juga tak bisa lepas dari kehadiran fasilitas baru dari bagian sumber tenaga. Selain memiliki sepasang mesin diesel dan elektrik, Type XXI juga memiliki creep elektrik motor. Sumber tenaga senyap ini bekerja dengan menggunakan tali kipas berbahan karet sehingga mampu menekan tingkat kebisingan. Memang secara teknis, mesin senyap itu memiliki sejumlah keterbatasan. Oleh karena itu, mesin hanya dipakai pada kondisi-kondisi tertentu saja.
Kategori baru pun menyentuh perangkat elektronik ataupun bagian senjata utama U-Boot, yaitu torpedo. Salah satu perangkat elektronik yang cukup menyita perhatian adalah kehadiran Nibelung Sonar. Muncul sekitar Oktober 1944, perangkat ini mampu memasok data target secara lebih rinci. Sebut saja mulai dari jarak, arah, sampai kecepatan dan ini bisa dilakukan untuk pendeteksian beberapa target sekaligus. Tak hanya itu, sebulan sebelum Berlin jatuh, varian Nibelung Sonar yang lebih maju bahkan bisa dipakai untuk membedakan target kapal perang jenis destroyer atau kapal pengangkut barang.

Masih tetap mengandalkan torpedo kaliber 533 mm, keunggulan baru pertama Type XXI terletak pada kapasitas angkut torpedo yang mencapai 24 unit. Bandingkan dengan Type VIIC yang hanya sanggup membawa 14 torpedo sejenis. Jumlah torpedo yang banyak ini masih didukung oleh adanya sistem hidrolik baru bagi pengisian ulang torpedo. Secara teknis, Type XXI sanggup menembakkan enam torpedo secara salvo dan berbekal sistem pengisian baru maka dalam waktu dua puluh menit, kapal ini mampu melontarkan 18 torpedo.

Kriegsmarine berencana mengoperasikan sedikitnya 120 Type XXI sebelum akhirnya Berlin Jatuh. Dari jumlah itu, dua di antaranya, yaitu U-2511 dan U-3008 sempat digelar dalam operasi militer sungguhan, sementara sisanya diungsikan ke Norwegia dan berakhir di tangan Sekutu. Selanjutnya, Sekutu memanfaatkan keunggulan Type XXI bagi pembuatan kapal selamnya. Amerika, misalnya, menyomot teknologi Type XXI untuk membangun kapal selam kelas Guppy. Sementara Soviet menggunakannya untuk dasar pengembangan kapal selam kelas Whiskey.

Selasa, 11 Maret 2014

U-93

Foto dari U-93 ini diambil bulan Desember 1940 tak lama sebelum emblem “Hallo, wie geht’s?” (Hai apa kabarnya?) digantikan oleh emblem “Teufel” (Iblis) yang baru. Cat serta gambar dari emblem ini tampak hampir pupus oleh cuaca, dan emblemnya pun telah sedikit dihapus menggunakan cat baru. Sedikit bagian ombak berwarna hitam putih serta kata “Hallo”-nya telah menghilang. BTW, Bila para penggemar U-boat ngomongin tentang emblem “Roten Teufel” (Iblis Merah), maka kebanyakan mereka akan menunjuk U-552, kapal selam yang dikomandani oleh jagoan legendaris Kapitänleutnant Erich Topp yang malang melintang dari tahun 1941 sampai 1943. Tapi jangan salah! Banyak juga kapal lainnya yang memilih “Iblis” sebagai emblem mereka. Salah satu di antaranya adalah U-93, meskipun sebelumnya dia juga telah mempunyai emblem lain yang tak kalah “mencolok mata”. Pertama dikomandani oleh Kapitänleutnant Claus Korth di galangan kapal Krupp Germania di Kiel tanggal 30 Juli 1940, setelah tes penerimaan kapal selam tipe VII C ini bergabung dengan 7. U-Flotille di St. Nazaire. Korth sebelumnya telah menjadi komandan U-57, sebuah kapal selam tipe II C, dari bulan Desember 1938 sampai Mei 1940 bersama dengan 5. dan kemudian 1. U-Flotille. Di waktu itu dia menyelesaikan 11 patroli dan kapal selamnya dilengkapi dengan emblem “Fackelschwingenden Teufel” (Iblis Pengayun Obor). Kapal barunya juga nantinya akan membawa emblem lain yang tidak kalah aneh, dan tidak usah menunggu lama sebelum desain barunya keluar. Emblem anyar ini terdiri dari sebuah matahari besar yang bersinar sembari tersenyum di belakang pita berombak berwarna hitam dan putih. Di bawahnya adalah kalimat “Hallo, wie geht’s?”. Desainnya terinspirasi dari perwira pertama kapal Lech yang merupakan kapal ibu dari U-boat pertama Korth, U-57. Tiap kali U-57 merapat di dok sehabis berpatroli, kepala kelasi yang ramah ini selalu manyambut dengan kata-kata “Hai, apa kabarnya?”. Karena Kapitänleutnant Korth membawa sebagian besar awak lamanya di U-57 ke U-93, maka mayoritas anakbuahnya familiar dengan kalimat sederhana yang kini menjadi emblem kapal mereka. Selain itu, lambang matahari yang bersinar tentu saja berarti kembali dengan selamat, yang sesuai dengan moto: “Uns geht die Sonne nicht unter” (Matahari tak bersinar pada kami). Emblem “Hallo, wie geht’s?” sendiri digunakan oleh U-93 dalam tiga patrol pertamanya di musim gugur tahun 1940. Di minggu-minggu setelah berakhirnya patrol ketiga tanggal 29 November 1940, Kapitänleutnant Korth mulai merasa kangen pada emblem lamanya, “Roten Teufel” yang dipakainya di hari-hari pertama sebagai kapten kapal selam. Karenanya, pada bulan Desember 1940 dia lalu menugaskan 1. Wachtsoffizier (Perwira Pengawas Pertama) Oberleutnant zur See Götz von Hartmann, yang juga merupakan seorang seniman berbakat, untuk membuat emblem Iblis yang baru untuk U-93. Desain Hartmann memperlihatkan satu iblis dengan jaringnya sedang menangkap sebuah kapal uap dimana di atasnya nongkrong Perdana Menteri Inggris Winston Churchill yang sedang ngelepus dengan cerutunya! Setelah diterima oleh kapten, maka pada bulan Januari 1941 desain yang mencolok mata ini secara resmi menggantikan emblem lama “Hallo, wie geht’s?” di bagian depan menara pengawas U-93. Kapal tersebut menyelesaikan tiga patroli di musim semi dan panas 1941 saat memajang emblem tersebut. Setelah patroli keenamnya Kapitänleutnant Korth mendapat penugasan baru dan di musim gugur 1941 tempatnya sebagai kapten U-93 digantikan oleh Oberleutnant zur See Horst Elfe. Tak diketahui apakah kapten baru ini, yang sebelumnya mengomandani U-139, tetap membiarkan emblem Iblis bercokol di kapalnya. Satu yang jelas, dia tentu saja tahu betapa percayanya para awak U-boat terhadap segala simbol yang berbau “glücksbringer” (pembawa keberuntungan) yang dipajang di kapal mereka. Bila memang Oberleutnant zur See Elfe tetap memasang emblem lamanya, maka dia ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan oleh komandan dan para awaknya. Setelah berangkat untuk melakukan patroli kedua di bawah komandannya yang baru satu hari menjelang Natal tahun 1941, pada tanggal 15 Januari 1942 U-93 dihantam bom-kedalaman dan ditenggelamkan oleh kapal perusak Inggris HMS Hesperus di perairan Atlantik utara di utara Madeira di posisi 36º40’N/15º52’W. Sebagai bagian dari “Gruppe Seydlitz” bersama U-71 dan U-571, U-93 berusaha menyerang konvoy HG 78 di antara Gibraltar dan Kepulauan Azores, tapi kemudian mampu dilacak balik serta dihancurkan oleh kapal-kapal pengiring konvoy tersebut. Untungnya, sebagian besar awaknya selamat dan hanya enam orang yang kehilangan nyawa. Kembali ke emblem “Roten Teufel” milik U-552 Erich Topp yang terkenal, perlu dikatakan disini bahwa lambang Iblis bukanlah ide orsinil Topp atau salah satu dari awaknya. Malahan, Topp pertama kali “berkenalan” dengan emblem ini saat dia menggantikan Kapitänleutnant Claus Korth sebagai kapten U-57, yang memajang gambar “Iblis Pengayun Obor” di menara pengawasnya. Pada bulan Desember 1940 Topp lalu mengadopsi lambang Iblis untuk kapalnya yang baru, U-552


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi kedua tahun 2007

Kamis, 06 Maret 2014

U-161

Korvettenkapitän Albrecht Achilles (25 Januari 1914 - 27 September 1943)  memulai karir angkatan lautnya tanggal 8 April 1934. Dia lalu bertugas di kapal latih Schleswig-Holstein dan kapal perang Gneisenau sebelum ditransfer ke unit U-boat bulan April 1940. Untuk pertama dia menimba ilmu sebagai anakbuah Korvettenkapitän Richard Zapp di U-66 dan berpartisipasi dalam tiga patroli. Pada bulan Januari 1942 Achilles mengkomandani kapalnya sendiri, sebuah kapal selam tipe IXC U-161. Dia beroperasi terutama di Karibia, tapi juga kadang masuk ke wilayah perairan Brazilia dan bahkan Afrika. Achilles tewas bersama seluruh awak U-161 ketika kapal mereka ditenggelamkan oleh pesawat Mariner Amerika bulan September 1943. Dalam karirnya sebagai komandan U-boat, Achilles tercatat menenggelamkan 14 kapal (64.542 GRT) dan merusakkan 6 kapal (41.122 GRT). Medali-medali yang diterimanya: Dienstauszeichnung IV. Klasse (8 April 1938); Eisernes Kreuz II.Klasse (7 Agustus 1941) dan I.Klasse (5 April 1942); Flotten-Kriegsabzeichen (15 Juli 1941); U-Bootskriegsabzeichen (7 Agustus 1941); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (16 Januari 1943). Namanya juga disebut dalam Wehrmachtsbericht edisi 12 Maret 1943


Sumber :
www.forum.axishistory.com
www.uboat.net
www.ubootarchive.de

Senin, 10 Februari 2014

U-178


 Kompartemen diesel dari U-178 di bawah pimpinan Korvettenkapitän Wilhelm Dommes memperlihatkan dengan jelas betapa sempitnya ruang yang tersedia bagi para awak u-boat untuk menjalankan tugasnya, yaitu membuat mesin "kendaraan" mereka tetap berfungsi. Bergerak di dalam kapal selam, terutama saat laut sedang bergejolak, membutuhkan skill yang menyerupai pemain akrobat! Karenanya tidak heran jika banyak orang yang lecet-lecet dan beberapa bahkan ada yang terluka serius karena berbenturan dengan bodi kapal yang hampir seluruhnya terbuat dari besi keras!


Tugas jaga pengawasan di atas kapal selam jarak jauh U-178 (Korvettenkapitän Wilhelm Dommes) tak lama setelah meninggalkan Gironde Estuary di Prancis untuk membuntuti sebuah konvoy kecil yang sedang melintasi ladang ranjau pantai. Lensa kepala di periskop serang bisa kita lihat di bagian kanan, sementara di kirinya adalah batang antena pengintai. Di tahun-tahun kemudian kedua tiang ini dapat dioperasikan secara elektrik dari bagian dalam U-boat, tapi pada awalnya mereka masih dioperasikan secara manual dengan cara mengkerek menggunakan tangan dari bagian atas menara pengawas dan tak akan turun dengan sendirinya tanpa berpotensi merusak bagian gigi jenteranya. Akibatnya, kapal-kapal selam tipe awal dianggap ‘tidak layak selam’ selama antenanya masih ngaceng! Kisi-kisi yang berada di bagian dasar antena pengintai merupakan bagian atas dari lubang ventilasi yang mengarah ke ruang mesin. Biasanya terdapat empat pengawas ditambah satu perwira yang bertugas dalam satu waktu di menara pengawas


Sumber :
Buku "Wolfpacks At War: The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell

Posisi dan Fungsi Awak U-Boat



Sumber :
Buku "Wolfpacks At War; The U-Boat Experience In WWII" karya Jak Mallmann Showell

Jumat, 24 Januari 2014

U-2330

Dimulai dari bulan Maret 1945 tak lama setelah selesai dibuat, kapal selam tipe XXIII U-2330 diturunkan menggunakan kerekan ke tempat peluncuran no.8 di galangan kapal Germania. U-2330 merupakan salah satu dari dua U-boat yang digunakan untuk menguji varian menara pengawas yang dilengkapi dengan lapisan yang menghadap ke dalam. Varian ini mudah dikenali dari bentuk orsinil susunan loteng hidrofon tanpa bagian pinggir yang melandai seperti yang terdapat di model selanjutnya. Juga tampak jelas terlihat adalah bukaan alat pengukur suara dalam air di bagian lunas. Dikomandani oleh Oberleutnant zur See Hans Beckmann, kapal selam ini menjadi bagian dari 32. U-Flotille dan berfungsi sebagai kapal latihan dari bulan September 1944 s/d Februari 1945. Dia kemudian ditugaskan ke 11. U-Flotille (Bergen) sebagai kapal opersional. Sayangnya, perang keburu berakhir sebelum U-2330 sempat melakukan patroli pertamanya, dan dia kemudian ditenggelamkan oleh awaknya sendiri di Kiel tanggal 3 Mei 1945. U-boat tipe XXIII kedua yang terlihat di galangan adalah U-2323. Yang patut diperhatikan dari kapal ini adalah banyaknya pegangan serta ceruk pijakan di bagian samping menara pengawas serta ceruk pegangan tambahan di kontainer apungnya. Deflektor (sirip pembelok) depan kanan yang penyok di depan alat penyelam muka kemungkinan disebabkan oleh tumbukan dengan benda bawah laut, tabrakan dengan kapal selam lainnya, atau bisa pula karena terlalu cepat melakukan manuver bersandar saat latihan!


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 tahun 2007

U-4701

U-4701, kapal selam tipe XXIII yang pertama kali dibuat oleh galangan kapal Germania di Kiel, mulai “mencicipi” lautan pertama kali tanggal 10 Januari 1945. Kapal satu ini menyediakan contoh yang bagus mengenai masalah kecepatan yang menjadi beban para “pemangku harapan” bagi satuan U-boat tersebut di fase-fase akhir peperangan. Pengerjaannya mulai dilakukan tanggal 19 Oktober 1944 dan selesai tanggal 14 Desember. Kurang dari empat minggu setelahnya, tanggal 10 Januari 1945, kapal tersebut sudah mulai dipersiapkan untuk berlayar di bawah komando Oberleutnant zur See Arnold Wiechmann (Kru X/39). Pelatihan para awaknya dimulai di pangkalan 5. Unterseebootsflotille di Kiel. Sayangnya, pelatihan ini masih belum selesai saat peperangan di Eropa keburu berakhir. Akibatnya, beberapa saat sebelum menyerah, kapal yang dibuat dengan susah payah ini ditenggelamkan oleh awaknya sendiri di lepas pantai Höruphaff (Horuphav), Denmark, demi mencegahnya jatuh ke tangan musuh! Foto di atas, yang diambil saat panji komandan serta bendera perang Reich sedang dikibarkan, jelas memperlihatkan pola rivet lapisan kulit baja menara pengawasnya serta fairing lampu posisi yang lekuknya disesuaikan dengan bodi kapal. Dari semua peralatan di bagian belakang menara pengawas yang dapat ditarik masuk, hanya peilring (DF loop) yang kelihatan. Snorkelnya kemungkinan ditarik masuk demi alasan keamanan. Hanya satu dari dua tiang antena (ASTA-Hand) yang bisa dipanjangkan secara manual yang terlihat nongkrong di dudukannya. Antena tersebut mempunyai panjang 1,8m dengan bagian bawah yang dilapisi karet. Dudukan bagian kirinya tampak kosong. UAK-Kennung (Kode UAK) terdapat di bagian lempengan kecil berbentuk horizontal, dan merupakan cirri pengenal dari ke-47 kapal selam Jerman dari tipe ini


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" no.2 tahun 2007

U-861

Kapal selam Monsun U-861 berada dalam kondisi super butek saat tiba di pangkalannya di Trondheim, Norwegia, tanggal 19 April 1945. Wajar saja, karena kapal tersebut telah mengarungi pelayaran selama 13 ½ minggu sejak pertama berangkat dari pelabuhan di Surabaya tanggal 15 Januari 1945! Kapal selam dari tipe besar IX D2 ini sebelumnya telah meninggalkan Kiel dalam patroli pertamanya tanggal 20 April 1944 di bawah pimpinan Ritterkreuzträger (peraih Ritterkreuz) Kapitänleutnant Jürgen Oesten. Pada awalnya dia ditugaskan di wilayah sekitar pantai Brazil sebelum dipindahkan ke pantai timur Afrika. U-861 tercatat menenggelamkan empat kapal dengan total tonase 22.040 GRT serta merusakkan kapal tanker “Daronia” yang berbobot 8.139 GRT sebelum tiba di pangkalan pulau Penang (Malaysia) tanggal 23 September 1944. Pada saat itu U-861 telah berlayar di lautan selama lima bulan nonstop! U-boat tersebut mendekam di Penang sampai dengan tanggal 1 November 1944 untuk menjalani perbaikan yang diperlukan dan memberi kesempatan pada para awaknya yang kelelahan untuk beristirahat. Pada tanggal 1 November 1944 U-861 meninggalkan Penang menuju Surabaya dan tiba disana tanggal 5 November 1944 setelah transit sebentar di Singapura. Kapal tersebut tetap tinggal disana sebelum diperintahkan untuk balik ke Jerman tanggal 15 Januari 1945. Dalam perjalanan pulang dia membawa banyak bahan perang yang berharga semacam biji molybdenum, yang disimpan dalam kontainer seng yang terletak di lunas pemberat, serta karet mentah. Jadinya, persenjataannya terbatas hanya pada dua buah torpedo untuk membela diri bila diserang (keselamatan di jalan menjadi prioritas utama dan bukannya penghancuran kapal musuh). Hal keselamatan ini mendapat tantangan terberat justru di tahap akhir perjalanan saat U-861 berpapasan dengan “segerombolan” es di selatan Greenland. Karena kehandalan kapten kapal ditambah dengan awak yang berpengalaman, akhirnya kerusakan lapisan baja kapal bisa diminimalisir  dan U-861 bisa tiba kembali di pangkalannya dengan selamat meskipun tinggal menyisakan 800 liter solar di tangki penampung bahan-bakarnya. Perhatikan wilayah yang dicat ulang di sekitar logo Panther! Georg Högel dalam bukunya “Embleme, Wappen, Malings” menerangkan bahwa emblem tersebut sebenarnya menggambarkan seekor panther yang sedang mendaki sebuah bola dunia. Hal ini berlawanan dengan keterangan dari Jürgen Oesten yang menyatakan bahwa bola dunia yang diklaim Högel tidaklah pernah menjadi bagian dari emblem panther. Yang terakhir adalah yang paling menarik: ingat motto Yamaha “Selalu di depan” yang terpampang di balapan MotoGP? Ternyata U-861 telah “jauh di depan” dalam hal ini: sebagian dari kata “Lekas” terpampang di menara pengawas bagian depan. Kata ini, tentu saja, berasal dari bahasa Melayu yang berarti “cepat” atau “segera”!


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.2 tahun 2007

Kamis, 05 Desember 2013

U-125, Tenggelam Oleh Tabrakan Kapal Perusak Inggris!

Kapitänleutnant Ulrich Folkers merupakan salah satu komandan U-boat paling sukses yang berasal dari 2. Unterseebootsflotille. Dalam foto ini dia baru saja kembali ke pangkalan U-boat Lorient tanggal 6 November 1942 setelah menyelesaikan misi patroli kelimanya bersama kapal selam tipe IX C U-125 yang berlangsung selama tiga bulan lebih! Dalam patroli kali ini, Folkers menenggelamkan enam kapal Inggris. Masa patroli yang lebih lama dari semestinya membuat cat yang menempel di kapal selam menjadi sedikit “keruh” karena pengaruh cuaca dan air asin. Perhatikan pula windscreen yang terdapat di menara pengawas U-125, sesuatu yang sebenarnya lebih biasa terlihat di kapal torpedo! U-125 tenggelam di malam tanggal 6 Mei 1943 di sekitar Konvoy ONS-5 di timur Newfoundland. Tak ada awaknya yang selamat


Oleh : Alif Rafik Khan

Spesifikasi
Tipe: IXC
Perintah kerja: 7 Agustus 1939
Pembuatan: 10 Mei 1940 (AG Weser, Bremen, werk 988)
Peluncuran: 10 Desember 1940
Penugasan: 3 Maret 1941 (Kapitänleutnant Günter Kuhnke)

Komandan
3 Maret 1941 - 15 Desember 1941: Korvettenkapitän Günter Kuhnke (Ritterkreuzträger)
15 Desember 1941 - 6 Mei 1943: Kapitänleutnant Ulrich Folkers (Ritterkreuzträger)

Patroli
1. 15 Juli 1941 (Kiel) - 28 Juli 1941 (Lorient): 14 hari
2. 12 Agustus 1941 (Lorient) - 5 November 1941 (Lorient): 86 hari
3. 18 Desember 1941 (Lorient) - 23 Februari 1942 (Lorient): 68 hari - 5.666 ton
4. 4 April 1942 (Lorient) - 13 Juni 1942 (Lorient): 71 hari - 47.055 ton
5. 27 Juli 1942 (Lorient) - 6 November 1942 (Lorient): 103 hari - 25.415 ton
6. 9 Desember 1942 (Lorient) - 19 Februari 1943 (Lorient): 73 hari
7. 13 April 1943 (Lorient) - 6 Mei 1943 (tenggelam): 24 hari - 4.737 ton
Total: 7 patroli dengan 439 hari di lautan

Prestasi
17 kapal ditenggelamkan dengan total tonase 82.873 GRT.

Akhir
Ditenggelamkan tanggal 6 Mei 1943 timur Newfoundland, Kanada, di posisi 52.30N, 45.20W, setelah ditabrak oleh kapal perusak Inggris HMS Oribi dan kemudian digempur dengan tembakan dari kapal korvet Inggris HMS Snowflake. Keseluruh 54 awaknya tewas.



Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" nomor 2

Minggu, 15 November 2009

U-196, Kapal Selam Jerman Yang Hilang Di Laut Kidul!

Film tentang U-196. Sudah pernah nonton?

U-196 sedang mengisi bahan bakar di tengah lautan. Nggak kebayang kalau kru yang memegang selang itu pada nyemplung ke laut gara-gara ombak!

U-196 baru meninggalkan galangan kapalnya untuk berpatroli menyusuri lautan

Dari sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.
Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).
Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.
Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya "mengabarkan" terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.
Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di Kampung Arca Domas Bogor, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.
Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.
Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.
Posisi Friedrich Kentrat kemudian digantikan Werner Striegler (mantan komandan U-IT23) sejak 1 Oktober 1944, sampai kemudian U-196 mengalami musibah sebulan kemudian.
Kendati demikian, sebagian pihak masih berspekulasi atas tidak jelasnya nasib sebagian besar awak U-196. Walau secara umum mereka dinyatakan ikut hilang bersama kapal selam itu di Laut Kidul, namun ada yang menduga sebagian besar selamat.
Konon, kapal ini datang ke Amerika Selatan kemudian sebagian awaknya bermukim di Iqueque, Chile. Dari sini pun, tak jelas lagi apakah U-196 akhirnya benar-benar beristirahat di sana, apakah kemudian kapal selam itu ditenggelamkan atau dijual ke tukang loak sebagai besi tua, dll.
Seseorang yang mengirimkan e-mail dari Inggris, yang dikirimkan 14 Oktober 2004, masih mencari informasi yang jelas tentang keberadaan nasib awak U-196. Ia menduga, U-196 sebenarnya tidak mengalami kecelakaan terkena ranjau di sekitar Selat Sunda dan Laut Kidul, sedangkan para awaknya kemudian menetap di Cile.
Keyakinannya diperoleh setelah membaca sebuah surat kabar di Cile, sejumlah awak kapal selam Jerman telah berkumpul di Iqueque pada tahun 1945. Mereka tiba bersamaan dengan kapal penjelajah Almirante Latorre, yang mengawal mereka selama perjalanan dari Samudra Hindia. Di bawah perlindungan kapal penjelajah itu, kapal selam tersebut beberapa kali bersembunyi di perairan sejumlah pulau, sebelum akhirnya berlabuh di Pantai Selatan Cile.
Yang menimbulkan pertanyaan dirinya, mengapa setelah tiba di Cile, tak ada seorang pun awaknya pulang ke Jerman atau mencoba bergabung kembali dengan kesatuan mereka. Ini ditambah, minimnya kabar selama 50 tahun terakhir yang seolah-olah "menggelapkan" kejelasan nasib U-196, dibandingkan berbagai u-boat lainnya yang sama-sama beraksi di Indonesia.

Entahlah, kalau saja Dr. Heinz Haake masih hidup dan menjadi warga negara Indonesia, mungkin ia dapat menceritakan peristiwa yang sebenarnya menimpa U-196! BTW, berdasarkan data dari Volksbund, Oberleutnant (Ing.) Dr. Heinz Haake lahir tanggal 21 Januari 1914 dan meninggal bulan November 1944 (tanpa tanggal).

Sumber :
Artikel karya Kadar Solihat di koran "Pikiran Rakyat"

www.amazon.com
www.facebook.comwww.forum.axishistory.com
www.german-uboats.com
www.subsim.com
www.uboat.net
www.volksbund.de



--------------------------------------------------------------


Korvettenkapitän Eitel-Friedrich Kentrat (tengah) menikmati bir Beck's yang lama diidam-idamkan bersama dengan dua orang pimpinannya tak lama setelah pulang dari patroli luar biasa panjang selama 225 hari bersama dengan U-196! Mengapit di sebelah kiri adalah Kapitän zur See Hans Rudolf Rösing (Führer der Unterseeboote West) dan kanan Korvettenkapitän Klaus Scholtz (Kommandeur 12. Unterseebootsflottille). Meskipun dalam patroli pertamanya sebagai komandan U-196 tersebut Kentrat hanya mampu menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 12.000 GRT saja, tapi dia tercatat sebagai patroli terpanjang yang pernah dilakukan oleh sebuah kapal selam selama berlangsungnya Perang Dunia II! Kentrat berangkat dari Kiel (Jerman) tanggal 13 Maret 1943 dan pulang ke Bordeaux (Prancis) tanggal 23 Oktober 1943, dan patroli selama itu telah meninggalkan bekasnya di wajah sang komandan yang terlihat kurus dan lesu seakan baru keluar dari kamp konsentrasi!


Rabu, 01 Juli 2009

U-476, Kapal Selam Jerman Yang Komandannya Cuma Satu-Satunya!

Para awak U-476 berfoto bersama di pangkalan Kriegsmarine Kiel, 28 Mei 1943


Para awak U-476 berfoto bersama di pangkalan Kriegsmarine Kiel, 28 Mei 1943. Kini beberapa orang sipil dan seorang perwira Heer ikut nongol di foto!


Komandan U-476, Oberleutnant zur See Otto Niethmann


Oleh : Alif Rafik Khan

Tipe...............................VII C
Hersteller......................Deutsche Weke AG Kiel Gaarden
Länge.............................66.50 m
Mesin..............2800-3200 UpM 750 HP
Kecepatan.............................max 17,7 Kn
Tauchtiefe.....................280 m
Bahan Bakar Diesel....................113.5 t
Stapellauf......................16.04.1943
Indienststellung..........28.05.1943
Einsatzgebiet...............3. Flottille, FdU Mitte, Norwegen, Frontboot.
Kapten...................Oberleutnant zur See Otto Nietmann.

Pada tanggal 24 Mei 1944 arah Baratlaut Trondheim jam 07:16 pagi, sebuah pesawat 210 SQN Catalina Grp CC RAF (dengan kaptennya F W L Maxwell SAAF) melihat sebuah U-boat yang sedang muncul di permukaan. Saat itu pesawat tersebut sedang dalam patroli rutinnya menyusuri samudera, dan memang dikhususkan untuk menangkal ‘bergentayangannya’ U-boat-U-boat Jerman.

Pesawat Catalina tersebut segera mendekat untuk menyerang. U-boat tersebut (yang sudah pasti adalah U-476, kalau nggak ngapain judul artikel ini U-476!) segera menghujani sang penyerang dengan berondongan peluru dari senapan mesin anti pesawat udara (flak) yang terpasang di badan kapal selam. Sayangnya, Maxwell tetap berhasil menjatuhkan 6 buah bom anti kapal selam D/Cs. Beledug!! Tak lama U-476 berputar tanpa dapat dikendalikan untuk kemudian secara perlahan tenggelam, dengan bagian haluannya yang paling terakhir karam ke dasar samudera.

Segera dua buah U-boat yang lokasinya paling dekat dengan peristiwa datang untuk misi penyelamatan. Mereka adalah U-990 dan U-276. Usaha keras mereka lumayan membuahkan hasil, dan 21 orang awak U-476 berhasil diselamatkan, termasuk sang kapten Oberleutnant zur See Otto Nietmann (meskipun 34 sisanya tenggelam bersama kapal mereka). Untuk mencegah jangan sampai Sekutu mengobel-obel sisa-sisa si kapal selam nahas itu, U-990 menghancurkannya dengan sebuah torpedo.

Dalam operasi penyelamatan tersebut, U-276 kehilangan 3 orang awaknya yang tewas terkena serangan udara musuh.

Posisi tenggelamnya U-476 : 65.08 N 04.54 E


Sumber :
www.laud.no

U-52, Kapal Selam Jerman Yang Selamat Sampai Berakhirnya Perang Dunia!!!

Para perwira U-52 di menara pengawas, 22 Mei 1942


Para perwira pengawas (watch officer) sedang meneropong luasnya samudera


Awak U-52 berfoto bersama di Kiel, 1941


Menara pengawas U-52, perhatikan emblemnya yang unik, yaitu burung bangau!


U-52 (sebelah kiri) dan U-547 sedang bersandar, 10 Oktober 1942


Oleh : Alif Rafik Khan

Tipe VIIB

Pesanan...........................15 Mei 1937
Pemasangan.......................9 Maret 1937 Germaniawerft, Kiel (werk 587)
Peluncuran........................21 Desember 1938
Penugasan..............4 Februari 1939 Kapitänleutnant Wolfgang Barten

Kapten
04 Februari 1939 - 17 September 1939 Oberleutnant zur See Wolfgang Barten
14 November 1939 - 09 Juni 1941 Kapitänleutnant Otto Salman
20 Maret 1941 - 15 April 1941 Kapitänleutnant Helmut Möhlmann (Ritterkreuz)
10 Juni 1941 - 06 Juli 1941 Kapitänleutnant Wolf-Rüdiger von Rabenau
07 Juli 1941 - 13 Januari 1942 Oberleutnant zur See Walter Freiherr von Freyberg-Eisenberg-Allmendingen
16 Januari 1942 - 24 Juli 1942 Friedrich Mumm
25 Juli 1942 - 31 Maret 1943 Oberleutnant zur See Hermann Rossmann
01 April 1943 - 22 Oktober 1943 Oberleutnant zur See Ernst-August Racky

Karir
8 patroli 4 Februari 1939 - 31 Agustus 1939 7. Flottille (misi tempur)
1 September 1939 - 31 Desember 1939 7. Flottille (misi tempur)
1 Januari 1940 - 31 Mei 1941 7. Flottille (misi tempur)
1 Juni 1941 - 31 Maret 1942 26. Flottille (pelatihan)
1 April 1942 - 30 September 1943 24. Flottille (pelatihan)
1 Oktober 1943 - 21 Oktober 1943 23. Flottille (pelatihan)

Prestasi..................13 kapal ditenggelamkan dengan total tonase 56.333 GRT

Akhir.............................Mengalami kerusakan parah di Danzig bulan Oktober 1943. Dipindahkan ke Kiel. Ditenggelamkan di sana tanggal 3 Mei 1945. dipreteli besinya untuk dijual dan dimanfaatkan (kayak tukang loak saja!) tahun 1946-1947.

Tanggal 4 Agustus 1940 U-52 mengalami kerusakan serius setelah terkena bom kedalaman yang diluncurkan dari kapal-kapal pengawal konvoi Inggris yang memergokinya, dan butuh waktu 4 bulan untuk memperbaikinya.

Tidak seperti hampir semua U-boat lainnya, U-52 tidak berakhir tragis dengan tenggelam di samudera beserta awaknya karena diserang musuh atau kecelakaan atau kasus-kasus lainnya, melainkan sengaja dihancurkan karena memang sudah waktunya. Sampai saat 'kematiannya', tak seorang awak kapalpun yang tewas atau luka-luka! Setidaknya, begitulah menurut catatan resmi...



Sumber :
www.laud.no
Foto-foto koleksi Oberfunkmaat Norbert Moskopp

Kamis, 19 Februari 2009

U-182, Kapal Selam Jerman Yang Tenggelam Dalam Pelayaran Pertamanya!

U-boat tipe tipe IX-2


Diagram U-boat tipe IX-2


Foto pertama dari hanya dua foto diketahui yang berasal dari U-182. Para perwira dan kru U-182 berpose bersama di atas kapal kebanggaan mereka sesaat setelah mendapat penugasan patroli di Deschimag Wharf Bremen, 30 Juni 1942


Foto kedua dari hanya dua foto diketahui yang berasal dari U-182. Kapten kapal Asmus Nikolai 'Niko' Clausen memberikan penghormatan saat pengangkatan bendera tempur standar Kriegsmarine Nazi


Slogan "Westward-Ho!" yang dicomot oleh Clausen untuk ditempelkan di menara komando U-182. Tulisan di atas sendiri berasal dari U-129


Slogan terkenal ini juga bisa ditemui pada menara komando U-37 seperti di atas


Salah satu tawanan yang dibawa oleh U-182 dan ikut tenggelam bersama awak kapal lainnya, Captain Angus MacLennan dari kapal uap Inggris (steamer) "Aloe", yang ditorpedo oleh U-182 tanggal 5 April 1943. Hanya sang kapten yang kemudian ditawan dan dibawa oleh Clausen, sementara awak kapal lainnya yang selamat diberi kesempatan untuk menaiki perahu penyelamat


Oleh : Alif Rafik Khan

U-182 adalah kapal selam (u-boat) Jerman yang tidak seterkenal dan selegendaris u-boat lainnya semisal U-99 atau U-34, malah tak banyak informasi yang bisa didapatkan tentang kapal selam ini. Saking langkanya, foto tentang kapal selam satu ini bersama krunya pun hanya ada dua! Akhirnya saya menemukan situs www.collectinghistory.net yang salah satu kisahnya adalah tentang U-boat ini bersama kaptennya, Kapitänleutnant Nikolai Clausen. Tak ada foto-foto pertempuran atau bahkan foto patroli dari U-182. maklum saja, U-boat ini menemui ajalnya saat dalam perjalanan pulang dari patroli pertamanya!

OK, sebelumnya mari kita lihat data-data ‘membosankan’ di bawah ini tentang spesifikasi U-182 :

Berat

1.616 sampai 1.804 (menyelam) ton

Dimensi:

 287,5 x 24,5 x 17,75 kaki

Penggerak

4.400 hp 19.25 knot (permukaan) 1.000 hp 7 knot (menyelam)

Daya jangkau 

23.700 mil pada 12 knot (permukaan) atau 57 mil pada 4 knot (menyelam)

Kedalaman maksimal 

755 kaki

Persenjataan

Senapan mesin 1 x 4.1 inci, senjata anti serangan udara (AA) 1 x 37mm dan 1 x 20mm, tabung torpedo 6 x 21 inci (4 x haluan, 2 x buritan) , dengan 24 torpedo atau enam torpedoes dan 32 ranjau laut

Kru 

57

U-182 adalah kapal selam tipe IX D2. pertama diluncurkan tanggal 7 April 1941 oleh AG Weser, Bremen, dan mulai bertugas tanggal 30 Juni 1942 dengan kaptennya adalah Kapitänleutnant Nikolai Clausen, seorang pemegang Ritterkreuz (Salib Ksatria atau Knight’s Cross).

Seperti setiap u-boat lainnya, kapal selam inipun memiliki motto tempur, yaitu “Westward ho!” dengan tulisan gaya Jerman kuno dan terletak di bagian depan menara komando (conning tower).

Ternyata U-182 bukan satu-satunya yang memakai motto ini. Tercatat ada 3 u-boat lain yang malang melintang di lautan dengan motto Viking kuno yang terkenal ini nempel di badannya. Selain itu, motto ini digunakan juga oleh para peziarah dan pemukim pertama yang menjelajahi bagian barat Amerika. Sementara buat kita yang sehari-hari makan tempe dan nonton sinetron Marshanda, motto ini memang sama sekali tidak nempel di otak!

U-boat pertama yang dengan bangga memasang motto ini adalah U-37. setelah patroli pertamanya, ketika U-37 memasuki pangkalannya di Wilhelmshaven tanggal 8 November 1939, sang komandan Werner Hartmann bertemu dengan sahabat lamanya Nikolai Clausen di dermaga. Saat itu Clausen masih menjabat sebagai komandan kapal penyapu ranjau M-134. mereka kemudian makan malam bersama dan disitu Hartmann menjanjikan akan meminta Clausen sebagai perwira penjaga (watch officer) di u-boat yang dipimpinnya. Saat itu tugas sebagai kru u-boat memang dianggap sebagai hal yang bergengsi dan terhormat sehingga banyak orang yang menginginkannya. Maklum lah, dalam masa-masa kejayaan u-boat di awal perang, mereka mudah saja menenggelamkan berpuluh kapal musuh tanpa terdeteksi sedikitpun! Ketika U-37 kembali bertugas, para kru-nya mulai menulisi menara komando kapal selam mereka dengan slogan ini dengan cat hitam. Entah kenapa mereka tidak menulis kata-kata yang lebih ‘ngetop’ semacam Chu-x atau semisalnya!

Tak lama kemudian, Clausen menggantikan Hartmann sebagai komandan U-37. Clausen sendiri begitu terkesan dengan slogan ini sehingga ketika dia dipindahkan ke U-129, dia tetap memasang motto yang sama. Begitupun dengan Hartmann, yang tetap memasang motto dari U-37 ketika dia bertugas di kapalnya yang baru, U-198.

Dari Juni sampai November 1942, U-182 bertugas sebagai kapal selam pelatihan bersama Flotilla (armada kecil u-boat) ke-4. setelah masa ini, U-182 dipindahkan ke Flotilla ke-12 di Bordeaux untuk mulai menjalani misi tempur yang sesungguhnya.

Tanggal 19 Desember 1942 U-182 berangkat meninggalkan Horten, Norwegia, ke wilayah patrolinya di perairan Atlantik Selatan / Samudera Hindia.

Dalam patroli pertamanya ini U-182 mencatat prestasi yang mengesankan dengan berhasil menenggelamkan 5 kapal dengan total tonase 30.071 ton. Kapal-kapal ini adalah :

Kapal Ocean Courage milik Inggris, ditenggelamkan tanggal 15 Januari 1943

Kapal Llanashe milik Inggris, ditenggelamkan tanggal 17 Februari 1943

Kapal Richard D. Spaight milik Amerika, ditenggelamkan tanggal 10 Maret 1943

Kapal Aloe milik Inggris, ditenggelamkan tanggal 5 April 1943

Kapal Adelfotis milik Yunani, ditenggelamkan tanggal 1 Mei 1943

Tanggal 16 Mei 1943 di sekitar pulau Madeira adalah hari na’as bagi kapal selam ini dimana dia gantian ditenggelamkan oleh bom kedalaman (depth charges) yang diluncurkan dari kapal Destroyer USS MacKenzie milik Amerika. Seluruh manusia yang terdapat di dalamnya (64 orang) musnah bersama kapal, termasuk kaptennya, Nikolai Clausen.

Inilah daftar ke-61 orang kru U-182 yang ikut tenggelam bersama kapalnya, dengan pangkat dan tanggal lahirnya :

  1. MaschOGfr, Horst Arnold, 17.06.23
  2. MaschOGfr Erwin Baur 17.01.24
  3. FkMt Kurt Behrendts 08.07.16
  4. MtrOGfr Gerhard Beiche 23.02.21
  5. Lt Hans-Jürgen Breitkopf 17.02.22
  6. OMaschMt Wilhelm Brunner 08.08.14
  7. MaschOGfr Hans Buschkämper 14.02.23
  8. KptLt Nikolai Clausen (Commander) 02.06.11
  9. FkOGfr Günter Diemert 03.05.22
  10. OMasch Franz Dietl 09.09.16
  11. OFkMt Werner Dunisch 18.06.17
  12. OMaschMt Erwin Fenzel 22.04.15
  13. MaschMt Heinz Fiacre 24.12.19
  14. MaschOGfr Hermann Fischer 10.09.23
  15. MaschOGfr Hans Golek 30.12.22
  16. MaschMt Helmut Grether 04.05.18
  17. MaschMt Josef Grim 25.01.20
  18. MaschOGfr Withold Grochocki 27.07.20
  19. MechMt Erich Guth 29.08.19
  20. MaschOGfr Horst Haase 01.06.22
  21. OFkMt Günter Hallek 19.09.18
  22. OLt Georg-Wilhelm Heinichen 27.03.20
  23. MaschOGfr Rudolf Heinrich 14.11.22
  24. OFähnr Johann Herr 26.05.17
  25. MaschOGfr Gerhard Heym 28.07.21
  26. OStrm Ernst Hillebrand 11.01.11
  27. MaschOGfr Werner Hofmann 21.11.21
  28. MtrHGfr Werner Kaiser 16.10.18
  29. MtrOGfr Fritz Kaminska 28.06.23
  30. MtrOGfr Hans-Joachim Keppler 10.02.23
  31. KptLt (Ing) Bernhard Klaunig 22.11.13
  32. MaschOGfr Heinrich Korff 16.04.23
  33. FkOGfr Alois Krönauer 25.01.24
  34. MaschOGfr Karl Kunz 15.06.23
  35. MaschMt Arthur Mai 30.10.19
  36. Lt NT Robert Maibohm 03.11.20
  37. MaschOGfr Werner Mettchen 14.12.22
  38. MtrOGfr Bernhard Mittmann 18.06.24
  39. BtsMt Heinz Nawroth 03.10.22
  40. Fähnr Dietrich Pfeiffer 30.05.24
  41. BtsMt Johann Plank 08.07.22
  42. MaschOGfr Werner Richter 01.05.24
  43. OMasch Kurt Röhricht 08.12.14
  44. MarSt Arzt Wilhelm Dr. Runte 20.11.10
  45. Lt (Ing) Hans-Jochen Schaube 10.07.20
  46. OMasch Helmuth Schendel 25.03.19
  47. FkMt Rolf Schöne 30.10.20
  48. BtsMt Nikolaus Scholz 15.01.18
  49. MaschMt Ludwig Schorsch 17.09.20
  50. MtrOGfr Richard Sehrt 30.12.23
  51. Btsm Helmut Spieler 06.04.17
  52. MechGfr Hermann Tewes 22.02.23
  53. MaschMt Erich Tiesler 16.10.20
  54. MaschOGfr Gottfried Urban 13.02.22
  55. MtrOGfr Kurt Volkmer 20.07.24
  56. MtrGfr Günter Wattrodt 25.08.24
  57. MaschOGfr Ernst Weimer 23.07.21
  58. SanOGfr Heinrich Weiske 02.03.22
  59. MechGfr Reinhold Wilczeck 07.03.23
  60. MechMt Johannes Wunderlich 16.02.20
  61. MaschMt Adolf Zacharias 24.12.16

Selain kru di atas, ada juga tiga orang tawanan yang berada di dalam U-182 pada saat ditenggelamkannya. Tawanan itu terdiri dari dua orang kapten dan setidaknya 1 insinyur. Meskipun sebelum menemui ajal, U-182 telah menggelamkan 5 kapal, tapi memang ada perintah bahwa hanya kapten-kapten musuh yang lolos kualifikasi sajalah yang mendapat ‘kehormatan’ ditawan di u-boat, sedangkan sisanya biasanya diizinkan naik sekoci penyelamat dengan kemungkinan bertahan hidup yang tipis. Dalam hal ini, Captain Angus MacLennan dari kapal uap Inggris “Aloe” (tenggelam tanggal 5 April 1943) dan kapten dari kapal uap Yunani “Adelfotis” (tenggelam tanggal 1 Mei 1943) yang terpilih untuk ditawan.