Kamis, 11 Maret 2010

Sejarah Kapal-Kapal Monsun dan Pangkalan U-Boat Jerman Di Penang Dalam Perang Dunia II

Upacara para awak U-181 di Penang


 Obermaschinenmaat Karl Kaiser dari U-181 dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 29 Maret 1945 oleh Fregattenkapitän Wilhelm Dommes di Singapura (Komandan Pangkalan U-boat Jerman di Singapura). Foto di atas mungkin rada butek, tapi dia memperlihatkan medali DKiG terbuat dari bahan metal versi lokal, suatu hal yang wajar terjadi mengingat jauhnya jarak tanah air Jerman dengan Singapura!


Pangkalan Angkatan Laut Jerman di Malaya dan Indonesia, 1944-1945


Beginilah mungkin gambaran seorang pelukis tentang U-boat yang baru saja berlabuh di Penang


Dok Swettenham - dulu dan sekarang


Tim penyambutan Jerman di Dok Swettenham sedang bersiap-siap menunggu U-boat yang akan tiba sebentar lagi. Di sebelah kanan kita dapat melihat bengkel perbaikan yang dibangun oleh Jepang untuk keperluan personil Kriegsmarine. Orang kelima dari kiri dalam foto ini adalah Wilhelm Dommes, komandan pasukan Jerman di Asia Tenggara


Wilhelm Dommes (kedua dari kiri) berbincang-bincang dengan sekutu Jepangnya, ditemani oleh seorang anggota Kriegsmarine (penterjemah?)


Pasangan yang berbahagia: Willi Hans Böhm dan Agnes Vaz. Seru juga kalau kisah cinta mereka difilmkan!


Oleh : Alif Rafik Khan

Salah seorang pembaca blog ini dari Singapura bernama Ibrahim Ahmad telah berbaik hati mengirimkan edisi e-book dari sebuah buku yang sangat bagus: "More Than Merchants, A History of the German-Speaking Community in Penang 1800s-1940" karya Khoo Salma Nasution (bingung juga saya sama nama pengarangnya, kayaknya campuran Cina, Melayu dan Medan!). Isinya benar-benar bagus, karena salah satu babnya ada yang khusus menceritakan tentang operasi U-boat di Asia Tenggara. Adalah tugas saya untuk menyebarluaskan informasi ini karena pada kenyataannya memang sangat sedikit sekali referensi dalam masalah ini. Terimakasih sebesar-besarnya pada saudaraku Ibrahim Ahmad!!

Langsung saja kita menuju TKP:

Setelah pecahnya Perang Dunia II tahun 1939, satuan U-boat Jerman langsung menjadi ancaman utama perdagangan internasional yang saat itu mengandalkan samudera sebagai sarana transportasinya. Para pelaut yang berlayar dari Penang ke arah barat selalu was-was kalau-kalau di jalan mereka kena apes bertemu dengan "Wolf Pack" Jerman. Berita tentang hal ini langsung menyebar dan ancaman U-boat telah menjadi legenda bagi orang Melayu sendiri, yang menyebut U-boat dengan sebutan "Kapal Yu/Hiu" (Shark Boat). Raja Shahabuddin, seorang Muslim dari Perak yang akan menunaikan ibadah haji dan berangkat dari pelabuhan Penang pada tahun 1940 telah menulis sebuah puisi mengenai hal ini:

Selamat tinggal tanah Melayu
Sahaya belayar berasa sayu
Umpama daun badanku layu
Takut berjumpa kapal 'Yu'

Yu kapal penyelam Dipunyai Jerman timbul tenggelam
Mengambat musuhnya di lautan dalam
Di waktu siang ataupun silam

Ketika Jepang menyerang Semenanjung Malaya, Inggris buru-buru mengungsikan pasukannya dan meninggalkan rakyat Malaka di bawah belas kasihan bangsa Dai Nippon (Desember 1941-1945). Bagi kebanyakan rakyat Melayu saat itu, Jepang dipandang sebagai penjajah baru yang lebih kejam dari Inggris, dan Jerman adalah sekutunya yang paling utama. Tapi Reich Hitler dan Perang Eropa dirasa begitu jauhnya di tanah seberang. Diam-diam Kriegsmarine (Angkatan Laut Jerman) mendirikan pangkalan bagi pasukan kapal selamnya (u-boat) di Penang untuk memudahkan patroli di perairan sekitar situ sekaligus sebagai basis pengangkutan bahan-bahan industri yang sangat dibutuhkan Berlin. Kerahasiaan tempatnya begitu terjaga, sehingga bahkan hanya sedikit saja penduduk lokal yang mengetahui keberadaannya!

Selama Perang Dunia II, Penang berfungsi sebagai pangkalan utama Jepang dan Jerman di Timur Jauh sekaligus menjadi "pengganggu" utama jalur perdagangan dan komunikasi Sekutu yang melintasi samudera Hindia/Indonesia.

Pada bulan Februari 1942, Jepang secara resmi menjadikan Penang sebagai tempat berkumpul pasukan kapal selamnya, dengan di bawah komando langsung Laksamana Uzuki. Kapal selam Jepang yang akan menuju Eropa sudah pasti mengisi bahan bakarnya sekaligus berangkat dari pelabuhan ini.

Pada awal tahun 1943, U-boat Jerman mulai beroperasi di Samudera Hindia. Pada akhir tahun tersebut pula, Angkatan Laut Jerman memutuskan untuk menggunakan Penang sebagai pangkalan bagi satuan kapal selamnya di Asia Tenggara, sama seperti Jepang. Dennis Gunton, yang telah mengarang buku "The Penang Submarines" (1970) memberi tanda bahwa ini adalah "satu-satunya contoh mengenai kerjasama operasional yang sebenarnya antara Jerman dengan Jepang dalam Perang Dunia II."

Dari sejak bulan November 1942 sebenarnya Jerman telah merasa perlunya membangun pangkalan Angkatan Laut di pelabuhan-pelabuhan yang dikuasai Jepang. Penggagas utama hal ini adalah atase militer Jerman di Tokyo, Laksamana Paul Wennecker. Jerman telah menegosiasikan pula dengan Jepang mengenai bolehnya mereka mensuplai dan memperbaiki u-boat yang rusak di Semenanjung Malaya. Pada bulan Desember, diputuskanlah Penang sebagai pangkalan kapal selam, sementara Singapura menjadi pusat perbaikan dan suplai.

Pada bulan April 1943, U-178 dikirim ke Penang untuk mempersiapkan pembangunan pangkalan yang dimaksud. Tapi kemudian U-boat pertama yang berlabuh di Penang pada tanggal 15 Juli 1943 justru adalah U-511 yang dikapteni oleh Fritz Schneewind. Ini adalah satu dari dua kapal selam yang dipersembahkan Jerman kepada Jepang untuk keperluan... penyontekan! Maksudnya, Jepang ingin membuat kapal selam yang lebih tangguh dari yang sudah dia punyai, dan sebagai bahan risetnya apalagi kalau bukan kapal selam dari negara yang dikenal paling top markotop dalam hal ini: Jerman.

Ketika kapal selamnya melanjutkan perjalanan ke Kobe, Schneewind sendiri tetap tinggal di Penang sebagai perwira senior sementara di sana.

U-178 akhirnya tiba di Penang di akhir Agustus 1943 setelah 152 hari menghabiskan perjalanan di lautan! Komandannya, Kapitänleutnant Wilhelm Dommes sang jagoan u-boat peraih Ritterkreuz, menggantikan Schneewind sebagai kepala operasi U-boat Jerman di Penang dengan fasilitas pendukung di Singapura, Jakarta, Surabaya dan Kobe. Dia ditugaskan untuk mempersiapkan pembentukan Monsumboote - unit U-boat yang beroperasi di Timur Jauh dan Samudera Hindia.

Gelombang pertama dari 11 'Kapal-kapal selam Monsun' berangkat ke Penang dari pangkalan-pangkalan Jerman di Norwegia, Prancis dan Jerman bulan Juni-Juli 1943. Hanya 4 yang sampai di Penang, Oktober-November 1943. Mereka adalah U-188 (dikomandani Kapitänleutnant Siegfried Lüdden), U-168 (dikomandani Kapitänleutnant Helmuth Pich), U-532 (dikomandani Fregattenkapitän Ottoheinrich Junker), dan U-183 (dikomandani Korvettenkapitän Heinrich Schäfer). Karena kelelahan berat setelah perjalanan yang amit-amit panjangnya, Schäfer digantikan oleh Schneewind sebagai komandan U-183.

Ukuran dari Flotilla Penang ini sendiri tidak pernah melebihi lima kapal dalam satu waktu. Bukan karena terbatasnya U-boat, melainkan karena ukuran pangkalannya sendiri yang memang hanya mampu memuat segitu. Dari permulaan, pihak Jerman telah menemui banyak hambatan. Kerjasama dengan mitranya Jepang sangat dipersulit oleh miskomunikasi yang sering terjadi. Bayangkan saja, komandan kapal selam Jepang disana berpangkat Laksamana, sedangkan komandan kapal selam Jerman jauuh di bawahnya: Kapitänleutnant! Sebenarnya pengganti Dommes sendiri telah dipersiapkan, yaitu Kapitänleutnant Herbert Kuppisch. Tapi kemudian Kuppisch dan kapalnya tenggelam di samudera Atlantik sehingga terpaksa jabatan Dommes diperpanjang.

Bulan Maret 1943, Korvettenkapitän Wolfgang Erhardt ditunjuk sebagai komandan semua pangkalan Kriegsmarine di Malaya dan Singapura, dengan berkantor di Singapura. Pada bulan April 1943, Instalasi Jerman di Penang (Stützpunkt Paul) kedatangan komandannya yang baru, yaitu Kapitänleutnant Konrad Hoppe. Januari 1944 posisi Hoppe digantikan oleh Dr. Hermann Kandeler. Tugas sebagai komandan ini mendapat bantuan dari Kapitänleutnant Waldemar Grützmacher, yang menjabat sebagai ajudan bagi setiap komandan pangkalan dari Oktober 1942 sampai dengan akhir perang.

Dommes mengisi pos sebagai komandan Flotilla secara de facto di Penang dari bulan Maret 1944. Bulan Desember, dia ditunjuk sebagai Chef im Südraum dan memegang kontrol semua pangkalan Kriegsmarine di 'wilayah Selatan' (markas besarnya, seperti biasa, di Singapura). Pangkatnya kemudian naik menjadi Fregattenkapitän di bulan Januari 1945.

Mengenai jabatannya ini, Lawrence Paterson (pengarang buku "Hitler's Grey Wolves: U-boats in the Indian Ocean" terbitan tahun 2004) menulis:

"Meskipun nama jabatannya begitu mentereng tapi tetap saja peran utama dipegang oleh Laksamana Wenneker, sehingga tidak jarang terjadi perbedaan kepentingan di antara kedua orang ini. Akibatnya, terjadi dualisme kepemimpinan dan perintah yang kadang tidak sinkron. Yang menderita tentu saja para prajurit di level bawah. Kurangnya stok perwira tinggi lapangan yang ahli dalam masalah strategi U-boat di Timur Jauh memberi pengaruh yang merugikan bagi Dommes dan juga bagi hubungannya dengan pejabat-pejabat Jepang yang berwenang."

Pada bulan Februari 1944 U-178 meninggalkan Penang menuju Eropa. Di lain pihak, empat lagi kapal selam Jerman yang akan menjadi 'Grup Monsun Kedua' telah berangkat dari pelabuhannya di Eropa akhir tahun 1943 menuju Asia Tenggara. Tiga dari mereka tidak pernah sampai di tujuan karena menjadi korban dari meningkatnya kekuatan udara Amerika di samudera Pasifik dan Atlantik. Satu-satunya U-boat yang berhasil mencapai Penang adalah U-510 (tipe IXC, berat 1.120 ton jarak jangkau 13.000 mil) dengan komandannya Kapitänleutnant Alfred Eick. Kapal selam ini langsung berlabuh di dok Swettenham bulan April 1944. Eick yang perkasa telah berhasil menenggelamkan lima buah kapal di Samudera Hindia dalam perjalanannya menuju Penang!

Selain menjadi pangkalan U-boat Jerman, Penang juga menjadi tempat berlabuh tiga buah UIT (kapal selam buatan Italia). Ketiganya adalah bekas kapal selam Angkatan Laut Italia yang dialihfungsikan oleh Jerman tanggal 10 September 1943 tak lama setelah menyerahnya Italia ke tangan Sekutu. Karena kemampuannya yang memang kalah jauh dibandingkan dengan U-boat Jerman sendiri, maka kebanyakan kapal-kapal ini digunakan hanya untuk keperluan transportasi barang-barang keperluan perang. Di bawah komando Oberleutnant zur See Werner Striegler, UIT-23 (ex-Giuliani) berangkat ke Eropa via Penang bulan Februari 1944. Baru saja keluar dari pelabuhan, Striegler kena sial dan ditorpedo oleh H.M.S. Tallyho sehingga tenggelam di Selat Malaka.

Krunya yang masih selamat dikirim kembali ke Penang dengan menaiki pesawat amfibi bermesin tunggal Arado Ar 196 yang dikirim untuk mencari mereka. Tercatat 26 awak kapal selam yang tewas dan 14 sisanya selamat dalam peristiwa ini. Ketika menerima permintaan tolong dari UIT-23, pangkalan Penang langsung mengirimkan tiga pesawat: dua Arado 196 yang diambil dari kapal dagang Jerman dan satu pesawat amfibi Reishiki buatan Jepang yang diterbangkan pilot Jerman dari pangkalan udara Kerajaan Jepang di Glugor.

Pada tahun-tahun akhir perang, tujuan kehadiran U-boat Jerman di semenanjung Malaya bukan lagi untuk bertempur melainkan hanya untuk transportasi, patroli dan pertahanan diri saja. Mereka menjadi kapal-kapal pengangkut yang bolak-balik Eropa-Asia dengan membawa bahan-bahan perang yang sangat dibutuhkan Jerman seperti karet, seng, tungsten dan pil kina. U-boat yang masih operasional dipaksa untuk menjadi kapal kargo sehingga kehilangan efektifitas tempurnya. Dengan dikomandani oleh jago U-boat Kapitänleutnant Lüdden, U-188 (salah satu dari kloter pertama Grup Monsun yang berpangkalan di Penang) adalah salah satu dari sedikit saja U-boat yang berhasil menjalankan misi transportasi jarak jauh yang dibebankan kepadanya. Mereka mensesaki ruang yang masih tersisa di kapalnya dengan lebih dari 100 ton seng dan material lainnya di Singapura dan kemudian membawanya ke pangkalan Jerman di Prancis.

Tiga kesulitan utama dihadapi Jerman dalam mengoperasikan pangkalannya di Penang ini. Ancaman utama datang dari kekuatan anti kapal selam Sekutu yang makin meningkat saja dari waktu ke waktu. Kini Samudera Hindia bukan hanya berbahaya untuk kapal dagang Sekutu saja, melainkan untuk kapal selam Jepang dan Jerman pun sama pula.

Kesulitan kedua terletak dalam hal kurangnya persediaan material dan juga manusia. Pelumas, bahan bakar, baling-baling, poros mesin, peralatan listrik, torpedo, pompa dan perlengkapan diesel - semuanya harus didatangkan langsung dari Jerman melalui, apa lagi kalau bukan U-boat. Dua bengkel perbaikan di dok Swettenham tak mampu mengimbangi besarnya permintaan dan tugas yang dibebankan terhadap mereka demi menjamin tetap mulus dan bekerjanya peralatan modern yang terdapat di U-boat Jerman.

Akhirnya, kurangnya operasi pengintaian udara rutin dan patroli kapal-kapal anti kapal selam terbukti memberi akibat yang fatal. Jerman hanya mempunyai tiga buah pesawat saja dan tanpa kapal laut, sedangkan Jepang gagal mengorganisasikan tugas pengintaian udara yang semestinya dilakukannya. Dua kapal selam Jepang dan dua lagi dari Jerman menjadi korban karena kurangnya perhatian akan hal ini.

Di bulan Maret 1944, kondisi kurangnya torpedo cadangan telah membuat Wilhelm Dommes begitu stresnya. U-1062 dengan komandan Oberleutnant zur See Karl Albrecht telah memberi nafas untuk sementara ketika dia tiba dari Eropa dengan membawa 39 buah torpedo yang diidamkan. Albrecht balik kembali ke Benua Biru dengan sarat membawa karet, seng dan tungsten. Dalam perjalanan dia dipergoki Sekutu sehingga tenggelam bersama dengan seluruh awaknya.

Empat lagi U-boat tiba di Penang medio Agustus-September 1944. Mereka adalah U-181 (Fregattenkapitän Kurt Freiwald), U-196 (Korvettenkapitän Eitel-Friedrich Kentrat), U-861 (Kapitänleutnant Jürgen Oesten), dan U-862 (Kapitänleutnant Heinrich Timm). Diberitakan bahwa kedatangan U-862 tanggal 9 September 1944 disambut secara besar-besaran dengan dihadiri langsung oleh Kapitänleutnant Wilhelm Dommes dan Laksamana Madya Uozumi Jisaku bersama dengan stafnya. Tidak ketinggalan orkes tanjidor eh sebuah marching band yang nongkrong sambil memainkan lagu kebangsaan Jepang dan Jerman.

U-852 ditangkap Sekutu bulan Mei 1944 dalam perjalanannya ke Penang untuk bergabung dengan Flotilla Monsun. Komandannya, Kapitänleutnant Heinz Eck, yang dituduh telah dengan tanpa perasaan menembaki para awak yang selamat dari kapal uap Yunani Peleus, menjadi satu-satunya kapten U-boat yang masuk pengadilan militer atas tuduhan sebagai penjahat perang dalam Perang Dunia II!

U-862 adalah U-boat Jerman terakhir yang masih operasional yang meninggalkan Eropa dan mencapai Penang. Di bawah komandan Kapitänleutnant Heinrich Timm, kapal ini melakukan perjalanan dengan cepat dan mulus tanpa hambatan. Berangkat dari pangkalannya di Eropa bulan Juni 1944, U-862 berhasil bergabung dengan U-boat lainnya di Penang tanggal 9 September 1944 setelah sebelumnya menenggelamkan tiga buah kapal dagang dan satu kapal pengangkut amunisi Sekutu hanya dalam waktu enam hari di Selat Mozambik! Dia juga tercatat dalam buku primbon sebagai satu-satunya U-boat yang beroperasi di perairan Australia, ketika pada bulan Desember 1944 berhasil menenggelamkan sebuah kapal uap Amerika berbobot 7.180 ton di lepas pantai benua tersebut.

Banyak U-boat yang diberangkatkan ke Timur Jauh tidak pernah sampai ke tujuannya: Satu di antaranya tenggelam hanya 10 mil sebelum mencapai pantai Penang. U-859 yang sedang menuju Penang dengan santai muncul ke permukaan di tengah hari tanggal 23 September 1944, untuk menunggu pertemuan dengan kapal pengawal Jepang yang sedianya akan muncul. Sebelumnya pihak berwenang Jepang telah memperingatkan Kapitänleutnant Johann Jebsen bahwa ada kabar kalau kapal selam Inggris diketahui berada di sekitar situ, hanya saja tidak berhasil terdeteksi oleh kapal patroli yang disebarkan Jepang. Kenyataannya, tanpa diduga sebelumnya, kapal selam yang dicari-cari itu (H.M. Trenchant) tiba-tiba menghantam U-859 dengan torpedo. Setelah dipastikan mangsanya hancur dan tenggelam, Trenchant muncul ke permukaan dan mengambil 11 orang awak U-boat Jerman yang berhasil selamat (beberapa di antaranya berhasil melakukan usaha penyelamatan luar biasa dari kabin kapal yang sedang meluncur ke dasar laut!). Beberapa lainnya terlihat berpegangan di puing-puing kapal yang mengambang, hanya saja Trenchant terpaksa meninggalkannya karena mendeteksi datangnya bala bantuan kapal dan pesawat Jepang yang mendekat. 20 orang selamat, sedangkan 47 orang hilang termasuk komandannya.

Adalah sebuah keberuntungan ketika U-861 tiba di Penang tanggal 22 September, sehari sebelum U-859. Di bawah komandan Kapitänleutnant Jürgen Oesten, dia adalah salah satu dari hanya sedikit saja U-boat yang berhasil mengadakan perjalanan bolak-balik Eropa-Penang tanpa pernah tersentuh!

Perairan di sekitar Penang dan Selat Malaka tetap menjadi wilayah yang "mengerikan" karena menjadi ajang utama penenggelaman kapal-kapal yang melintas, utamanya dilakukan oleh kapal-kapal selam Sekutu. Begitu parahnya ancaman di sekitar tempat ini, sehingga pada bulan Januari 1945 jalur Singapura-Rangoon ditutup. jalur Selat Selatan menuju Penang yang sempit dan lebih mendatangkan kesulitan ditanami ranjau oleh pihak Axis dan mereka lebih memilih menggunakan Jalur Selat Utara dimana secara rutin kapal-kapal Jepang mengadakan patroli.

U-843 (Kapitänleutnant Oskar Herwartz) meninggalkan Eropa bulan Februari 1944. Meskipun sempat menderita kerusakan setelah diserang pesawat patroli Sekutu di Atlantik, tapi dia berhasil mencapai Penang bulan Mei 1944. Pada tanggal 1 Desember 1944, dia adalah U-boat Jerman terakhir yang menyelinap keluar dari Dok Swettenham.

Semua kapal selam, baik kepunyaan Jerman maupun Jepang, diperintah untuk meninggalkan Penang. Dari 14 U-boat yang berpangkalan di Penang, tercatat hanya 4 saja yang berhasil kembali ke Eropa dengan selamat. Kisah heroik para awak kapal selam Jerman di Timur Jauh ini telah digambarkan dengan begitu baiknya oleh A.M. Saville dari US Naval Institue:

"Para kader terbaik U-boat Jerman ini telah menjalankan tugas yang dibebankan kepada mereka dengan begitu baiknya dan gagah berani, walaupun mereka menderita kekurangan dukungan yang parah, selalu dicurigai oleh Sekutu terdekatnya, dan juga menghadapi lawan yang tak kepalang tangguhnya..."

Faktor lain tak kalah pentingnya: Penang sendiri bukanlah tempat yang ideal sebagai pangkalan kapal selam. Tak pernah dalam sejarahnya Penang menjadi basis angkatan laut, sehingga ketika diputuskan untuk jadilah ia seperti itu, dibutuhkan banyak sekali buruh terlatih untuk membangun fasilitas dok, gudang torpedo, arsenal, mess dan sebagainya. Sebagai tambahan dari Gunton:

"Kondisi serba terbatas seperti ini tentu saja membuat pencapaian para awak U-boat jauh dari maksimal. 50 orang personil darat Jerman kadangkala harus langsung mengadakan perbaikan dan perawatan tak lama setelah sebuah kapal selesai dari menjalankan patroli perangnya yang melelahkan. Hanya tukang kayu dan pandai besi sederhana yang ditinggalkan untuk mengelola pelabuhan. Jangan dikata pengamanan dari sabotase yang kemungkinan muncul, hampir-hampir tidak ada!"

Sebuah U-boat yang tiba dari Eropa rata-rata memerlukan 50 hari perawatan sebelum siap untuk berangkat kembali: membersihkan kapal memakan waktu 3 hari; perawatan utama 20 hari; bersandar di dok kering Singapura 3 hari; pembersihan ulang dan pemeriksaan bagian terluar U-boat 14 hari; pengisian bahan bakar, amunisi dan makanan 14 hari; dan terakhir adalah tes menyelam. Seorang warga Cina lokal bernama Tang Theam Chye adalah salah satu di antara warga sekitar yang diperbantukan oleh Jepang untuk pekerjaan pengisian torpedo ke dalam kapal di Penang. Anaknya kemudian bercerita:

"Pekerjaan ini benar-benar pekerjaan yang 'berbau' dalam arti yang sebenarnya. Ayahku dipekerjakan karena dia mampu berbahasa Inggris dan menggunakannya dalam berkomunikasi dengan para perwira U-boat Jerman yang meminta bantuan untuk dapat mengambil persediaan dari tangan Jepang. Ayahku menceritakan betapa tanpa harapan dan merananya para awak orang Eropa tersebut, yang harus hidup dalam kondisi menyedihkan dan jauh dari kampung halaman. Demi melihat begitu sempitnya ruang 'kerja' mereka di dalam U-boat, ayahku mengatakan bahwa betapa dia merasa bersyukur tidak menjadi seperti mereka. Di lain pihak, dia juga merasa kagum terhadap teknologi bangsa Jerman yang lebih superior dibandingkan dengan semua apa yang dimiliki Jepang pada masa itu. Kadangkala dia melihat dengan mata kepala sendiri pesawat-pesawat pembom Sekutu yang datang untuk membombardir pangkalan Jerman dan Jepang di Penang."

Pangkalan Jerman, Stützpunkt Paul, bermarkas di bangunan utama yang terletak di Northam Road. Bangunan pendukung dan sarana akomodasi lainnya bertempat di Elysee Hotel dan vila-vila yang disewakan di Bell Road. Rumah bagi para perwira disediakan khusus di Rose Road. Untuk keperluan rekreasi, setiap kru U-boat Jerman dapat bermain golf, tenis, latihan menembak, memancing, atau berenang di Springtide Hotel, Penang Swimming Club atau Mount Pleasure. Mereka juga diperbolehkan untuk "cari angin" di Penang Hill, Fraser's Hill dan Cameron Highlands. Otto Giese, Perwira Pengawas Kedua di U-181 mengenang hal ini:

"Hanya sedikit saja orang yang diizinkan dalam satu waktu untuk mengambil cuti ke resort yang luar biasa indah, Penang Hill... Dengan sedikitnya kebebasan yang kami miliki dalam tugas sehari-hari, berada di sana bagaikan berada di surga dunia."

Komando Tinggi Angkatan Laut (Oberkommando der Kriegsmarine) menerbitkan sebuah buklet informasi yang disusun oleh Erhardt. Buku kecil ini dibagikan kepada setiap personil U-boat yang baru menginjakkan kakinya di Penang. Salah satunya berisi himbauan seperti ini:

"Selalu memakai pakaian sipil bila berjalan-jalan di kota. Seragam khusus untuk ini yang berwarna putih telah disediakan oleh Departemen Pelayanan Jerman. Untuk membuat anda semua mudah teridentifikasi oleh polisi lokal, bawalah selalu pin dengan tambahan simpul pita berwarna hitam, putih dan kuning."

Buklet tersebut juga menjelaskan sikap yang harus diperlihatkan oleh orang Jerman terhadap kompatriot Jepang mereka. Intinya, mereka diharuskan untuk selalu 'penuh toleransi dan adaptasi' karena Jepang adalah 'satu-satunya sekutu kita yang loyal dan paling kuat'. Pengingat ini kadang tidak ada artinya di lapangan dimana banyak terjadi kesalahpahaman di antara kedua bangsa tersebut. Padahal Jepang pun telah mendapat instruksi serupa untuk memperlihatkan sikap penuh persahabatan terhadap orang-orang Jerman:

"Para pelaut Nordik muda itu mungkin akan menjadi sedikit noda bagi filosofi Kemakmuran Asia Timur Raya. Mereka seringkali berkeliaran ketika berada di daratan Penang, dan tak menganggap setiap militer Jepang yang mereka temui. Beberapa kali terjadi perselisihan antara petugas yang berwenang dengan para pelaut ini, yang diperparah lagi dengan ketiadaannya bahasa yang dapat dimengerti bersama. Untunglah hal-hal ini tidak berlaku seterusnya dan dapat ditekan ke angka minimum."

Kondisi yang nyaman dan menyenangkan yang dialami oleh setiap pelaut Jerman di Penang telah menimbulkan kecemburuan bagi Sekutu Jepang mereka yang notabene merupakan pemegang kendali di sana. Meskipun secara umum penduduk sekitar menderita kekurangan makanan yang akut, orang-orang Jerman tak pernah mengalami masalah semacam ini. Sehari-hari mereka menerima ransum makanan yang cukup, termasuk roti yang terbuat dari gandum hitam yang diproduksi oleh pabrik khusus; daging dari tukang daging lokal yang kebetulan sama-sama bule Jerman; dan juga sayur-sayuran semacam kentang dan kol. Makan sembarangan di warung-warung pinggir jalan dilarang keras karena dikhawatirkan akan terkena wabah penyakit tifus dan kolera yang berasal dari makanan yang tidak terjamin higienisnya, begitu pula alkohol produksi lokal yang tidak diperbolehkan untuk diminum para pelaut Jerman, kecuali bir.

Orang Jerman merasa seperti diulangtahunkan lebih-lebih lagi ketika kapal uap S.S. Nanking yang dilengkapi ruang pendingin berhasil ditangkap utuh bersama muatannya yang penuh oleh kapal patroli Jerman Thor dalam perjalanannya dari Australia ke Birma bulan Mei 1942. Di dalam ruang penyimpanan dan freezernya didapati 42.000 kardus daging kaleng, 28.000 bungkus buah-buahan dan sayuran, 800 ton terigu, plus mentega juga daging sapi dan babi yang masih segar! Sampai akhir perang, kapal ini ditambatkan di Pelabuhan Penang dan berfungsi sebagai gudang makanan!

Seperti semua saga lainnya, tak lengkap rasanya kalau kita tidak mengetengahkan kisah romantis yang terselip dalam artikel ini. Di tengah kecamuknya perang, terjalin kisah cinta yang indah antara perwira Jerman Willi Hans Böhm dengan Agnes Vaz, gadis lokal yang masih mempunyai darah Portugis.

Böhm mendapati dirinya 'terdampar' di Jepang ketika kapal tanker yang ditumpanginya, Uckermark, meledak di Pelabuhan Yokohama akibat sabotase dari orang yang tidak diketahui. Komandan kapal Walther von Satorski ditransfer ke Singapura sementara Böhm sendiri dikirim ke Penang. Disana dia bertemu dan kemudian menjalin kasih dengan Agnes Vaz, seorang perawat. Ketika makanan makin susah didapat, Böhm biasa menyelundupkan makanan dari messnya ke rumah pacarnya di Sungai Nibong dengan mengendarai sepeda. Anaknya Willi Goya mengatakan bahwa dalam masalah ini Böhm telah mengambil resiko yang tidak alang kepalang besarnya:

"Ayahku harus sangat berhati-hati karena saat itu hubungan antara wanita lokal dengan 'musuh' (orang-orang Jerman) dilarang dengan keras."

Ketika perang berakhir pada tahun 1945, Böhm diinternir bersama dengan orang-orang Jerman lainnya di Changi. Setelah dibebaskan setahun kemudian, yang pemuda ini lakukan adalah menikah dengan kekasih tercintanya, Agnes Vaz. Mereka dikaruniai tiga anak di Jerman pasca-perang dan tiga lagi di Penang sebelum bermigrasi ke Australia tahun 1973. Tahun 2004, ketika Willi Böhm meninggal di Perth karena kanker paru-paru dalam usianya yang ke-86 tahun, kisah cinta mereka menarik perhatian dunia internasional. Kesehatannya yang terus memburuk membuat dia tidak dapat melaksanakan keinginan terakhirnya, yaitu mengunjungi Penang untuk terakhir kalinya. Masyarakat Malaysia menanggapi dengan hangat permohonan melalui internet dari keluarga Böhm untuk mengirimkan bendera Penang ke Australia. Dan ketika pada akhirnya peti jenazah Willi Hans Böhm diturunkan ke liang lahat, dua buah bendera dibentangkan di atasnya, dua bendera yang sangat dia cintai: bendera Jerman dan bendera Penang.


Sumber :
Buku "More Than Merchants, A History of the German-Speaking Community in Penang 1800s-1940" karya Khoo Salma Nasution
Foto koleksi pribadi Eric-Jan Bakker
www.gmic.co.uk
www.historicalwarmilitariaforum.com
www.kaskus.us
www.singapore-ww2-militaria.com
www.subsim.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar