Sabtu, 07 November 2009

17 Usaha-Usaha Pembunuhan Terhadap Adolf Hitler (1939-1944)

Adolf Hitler sedang mengeluarkan kemampuan demagognya yang terkenal. Meskipun dianggap sebagai sebab utama bangkitnya ekonomi dan militer Jerman dari keterpurukan, tapi sikapnya yang kontroversial membuat banyak orang yang tidak suka terhadapnya, bahkan di dalam lingkungan dalam pemerintahan dan Angkatan Bersenjatanya. Beberapa dari mereka mengejawantahkan kebencian kepada Hitler melalui upaya pembunuhan terhadapnya. By the way, dua orang di belakang Hitler, menurut pendapat saya, adalah SS-Obergruppenführer Hans Heinrich Lammers dan SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner 



 Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) berpidato di hadapan para "Alte Kämpfer" (Pejuang Tua) dalam Peringatan Münich Putsch yang diselenggarakan di Bürgerbräukeller tanggal 8 November 1939. Tanpa disadari oleh semua pihak yang hadir, sebuah bom telah ditanam oleh Georg Elser di podium tempat Hitler berpidato. Banyak dari pentolan NSDAP-Reichsleitung ini dipastikan tewas atau terluka kalau saja Hitler tidak secara tiba-tiba menghentikan pidatonya lebih cepat dari biasanya dan kemudian meninggalkan lokasi acara! Untuk identifikasinya, dari kiri ke kanan: Alfred Rosenberg (kiri bawah memegang mulut), Joseph Goebbels, Wilhelm Grimm (memakai seragam Heer diatas Goebbels), Dr. Wilhelm Frick, Max Amann (paling bawah kelihatan kepalanya doang), Karl Fiehler, Prof. Dr.med.vet. Friedrich Weber, Adolf Hühnlein, Hermann Kriebel, Dr. Fritz Todt, Franz Ritter von Epp, Rudolf Hess, Julius Schaub, Adolf Wagner, Martin Bormann, Wilhelm von Grolmann, Wilhelm Brückner, Heinrich Himmler, Ulrich Graf, Christian Weber, Heinrich Hoffmann, Rudolf Schmundt, Karl Wolff, Hans Pfeiffer, dan Max Wünsche

Adolf Hitler dalam kunjungannya ke Markas Besar Generalfeldmarschall Erich von Manstein di Kaukasus, Maret 1943. Di sebelah kanan adalah Generalfeldmarschall dari Luftwaffe, Wolfram Freiherr von Richthofen. Kunjungan-kunjungan militer semacam ini seringkali dimanfaatkan oleh para pembenci Hitler sebagai kesempatan melakukan pembunuhan terhadapnya, dan Hitler telah cukup cerdik dengan meng-counternya dengan jalan membatalkan sebagian di antaranya, seringkali di menit-menit akhir!

Generalmajor Henning von Tresckow, salah satu pembenci Hitler yang paling terkenal selain Claus von Stauffenberg. Ketika merasa bahwa dirinya masuk dalam daftar tangkap SS setelah kegagalan Plot 20 Juli, Tresckow segera membunuh dirinya sendiri dengan jalan meledakkan granat yang dijejalkan dalam mulutnya!

Seorang prajurit memperlihatkan seragam dari salah satu jenderal Heer yang terkena efek dari ledakan bom yang meledak di markas besar Hitler Wolffschanze yang dilakukan oleh Stauffenberg. Begitu besarnya pengaruh upaya pembunuhan ini, sehingga setelahnya banyak kebijakan baru dikeluarkan oleh Hitler demi mencegah kejadian serupa terjadi, di antaranya makin besarnya pengaruh SS dalam kemiliteran Jerman, kewajiban salam Nazi bagi semua angkatan Wehrmacht, dan lain sebagainya

Sore setelah selamat dari upaya peledakan tanggal 20 Juli 1944, Adolf Hitler mengadakan siaran radio dari markas besarnya di Rastenburg. Siaran radio ini ternyata begitu besar dampaknya, sehingga banyak yang tadinya memihak komplotan Stauffenberg menjadi berbalik menentangnya


-->
Oleh : Alif Rafik Khan

Di bawah ini akan disajikan tidak kurang dari 17 kali usaha pembunuhan terhadap Adolf Hitler dalam rentang waktu 1939 sampai dengan 1945 (berdasarkan penelitian dari National Geographic sendiri, selama hidupnya Hitler telah berhasil selamat dari 42 kali usaha pembunuhan!). ke-17 usaha pembunuhan ini dibagi tidak berdasarkan kronologis peristiwa, urutan waktu atau grup pembunuh yang mana, melainkan LOKASI dari usaha pembunuhan tersebut. Mari kita lihat :

Münich
Johann Georg Elser (lahir tanggal 4 Januari 1903) pernah magang di tempat pembuatan lemari (Schreiner) dan dari sejak tahun 1929 sampai dengan 1932 bekerja di Swiss sebagai pedagang lemari. Dia kemudian balik kembali ke Jerman untuk membantu ayahnya yang mempunyai tempat penjualan kayu. Dia sangat menentang usaha Hitler yang ingin mempersatukan para buruh dalam satu organisasi. Kebenciannya semakin bertambah ketika melihat makin besarnya pembatasan-pembatasan yang dilakukan oleh partai Nazi terhadap kebebasan beragama. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk membunuh Hitler dengan menempatkan sebuah bom waktu di salah satu pilar di belakang podium dimana rencananya akan menjadi tempat pidato Hitler di Burgerbrau Beer Cellar di Münich. Bom itu telah di-set untuk meledak tepat pada pukul 21.20 hari Sabtu tanggal 8 November 1939. jam 20.10 Hitler memasuki Beer Hall tapi pada pukul 21.12 secara tiba-tiba dia mengakhiri pidatonya dan pergi ke stasiun kereta api untuk kembali ke Berlin. Delapan menit kemudian bom tersebut meledak, membunuh enam orang dan melukai 65 lainnya termasuk ayah dari Eva Braun. Tujuh dari yang terbunuh itu merupakan anggota Partai Nazi. Elser, yang dari tahun 1933 selalu menolak untuk melakukan hormat ala Nazi, kemudian berhasil ditangkap ketika sedang berusaha menerobos perbatasan Jerman dan Swiss di Konstanz. Sebenarnya Gestapo tidak menahannya karena telah mengetahui siapa yang menempatkan bom di Beer Hall, melainkan “sekedar” curiga melihat barang-barang yang dibawa dalam kopernya. setelah dipaksa untuk mengakui perbuatannya, Elser dibawa ke Kamp Konsentrasi Sachsenhausen, dan kemudian ke Kamp Konsentrasi Dachau. Tanggal 9 April 1945, dua minggu sebelum berakhirnya Perang Dunia II di Eropa, Johann Elser dieksekusi oleh regu tembak SS. Untuk menghormati apa yang telah dia lakukan, sebuah jalan di kota Bremen dinamai dengan namanya, Georg-Elser Weg. Sebagai info tambahan, bulan September 1979 gedung bersejarah Burgerbraukeller diruntuhkan dengan cara diledakkan, dan di bekas bangunannya kini berdiri dengan megah Münich City Hilton Hotel.

Berghof
Tanggal 11 Maret 1944 seorang Hauptmann dari unit Kavaleri bernama Eberhard von Breitenbuch menghadiri sebuah konferensi yang diadakan di villa Hitler yang biasa disebut sebagai Berghof dan berlokasi di Obersalzberg. Tersembunyi dalam seragamnya adalah sebuah pistol Browning kecil yang rencananya akan digunakan untuk membunuh Führer-nya, dan pada saat yang bersamaan siap menerima resiko bila karenanya dia harus terbunuh dalam usaha tersebut. Breitenbuch merasa bahwa saat itu kehancuran total Jerman sudah di ambang mata dan untuk mencegahnya maka tidak ada cara lain selain melenyapkan Hitler. Breitenbuch memasuki ruang konferensi di belakang Generalfeldmarschall Ernst Busch, yang tidak mengetahui apa-apa tentang usaha yang akan dilakukan oleh ajudannya. Tapi kemudian ketika mereka berdua memasuki pintu yang menuju ke ruang yang terdapat Hitler di dalamnya, seorang Sersan petugas jaga menghentikan Breitenbuch sembari berkata, “maaf, ajudan hanya sampai disini, perintah Führer.” Dan usaha pembunuhan ini pun gagal sudah!

Tanggal 11 Juli 1944 seorang perwira staff veteran perang di Afrika bernama Oberstleutnant Graf Claus Schenk von Stauffenberg telah meyakini bahwa hanya dia seorang yang dapat melenyapkan Hitler, dan karenanya mencoba untuk melakukan upaya pembunuhan dalam sebuah konferensi yang rencananya akan digelar di Berghof. Tersembunyi dalam tasnya adalah sebuah bom waktu. Sementara Stauffenberg berada di dalam, di luar depan gerbang telah menunggu konspirator lain dengan mobilnya bernama Hauptmann Friedrich Klausing. Setelah berada di dalam Berghof, Stauffenberg menelepon para koleganya di Berlin untuk memberitahu bahwa dalam pertemuan kali ini Hermann Göring dan Heinrich Himmler, dua orang kroni terdekat Hitler, tidak hadir. Para perencana di Berlin langsung mendesaknya untuk membatalkan upaya pembunuhan tersebut karena percuma saja Hitler mati sementara dua orang terdekatnya ini masih hidup. Stauffenberg kemudian kembali ke Berlin untuk merencanakan usaha pembunuhan selanjutnya.

Berlin
Dalam bulan Februari 1944, seorang Hauptmann muda dari infanteri bernama Axel von dem Bussche setuju untuk meledakkan dirinya dan Hitler ketika dia mengenalkan jaket musim dingin baru untuk Wehrmacht ke pemimpin Jerman tersebut. Takdir mengintervensi ketika sehari sebelum acara tersebut Inggris mengadakan serangan udara besar-besaran dan jaket yang telah ditanami bom tersebut ikut hancur. Tidak cukup, tak lama Bussche pun mendapat penugasan kembali ke garis depan. Beberapa minggu kemudian usaha percobaan model “jaket” dimulai lagi, dan kali ini yang menjadi sukarelawan untuk memperagakannya adalah Ewald Heinrich von Kleist, anak dari salah satu perencana upaya pembunuhan yang melibatkan pula Generalmajor Helmuth Stieff. Sekali lagi RAF inggris mengacaukan usaha yang telah dirancang dengan susah payah ini ketika serangan udara yang dilakukannya menghancurkan jaket kedua, hanya sesaat sebelum acara demonstrasi diadakan!

Tanggal 20 Maret 1943 seorang Oberst bernama Rudolf von Gertsdorff, yang merupakan kepala intelijen Generalfeldmarschall Hans-Günther von Kluge, berusaha untuk melakukan upaya pembunuhan terhadap Hitler di Zeughaus. Bom yang disembunyikannya rencananya akan diledakkan melalui detonator yang dipicu oleh cairan asam ketika dia berada dekat dengan Hitler di aula pameran. Ternyata kemudian peristiwa di Münich terjadi lagi, Hitler meninggalkan gedung sebelum cairan asam tersebut dapat bekerja, sehingga buru-buru Gertsdorff meminta izin untuk pergi ke toilet dimana dia kemudian menyiram detonator tersebut dengan air.

Di bulan Februari 1945, Menteri Alat-Alat Perang Jerman Albert Speer telah sampai pada kesimpulan bahwa Führer-nya telah melakukan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap rakyat Jerman yang dipimpinnya. Speer memutuskan bahwa karenanya Hitler harus dilenyapkan dari muka bumi. Dalam salah satu acara jalan-jalan yang dilakukannya di taman kantor Kanselir Jerman, dia memperhatikan bahwa ada sebuah terowongan ventilasi yang berujung pada bunker Hitler. Sebuah gagasan timbul di kepalanya dan secara diam-diam dia meminta kepada kepala produksi persenjataannya, Dieter Stahl, untuk menyiapkan persediaan gas beracun baru yang sangat efektif, Tabun, yang nantinya akan dimasukkan ke dalam jalur ventilasi. Stahl, yang bersimpati kepada gagasan tersebut, mengungkapkan sebuah fakta bahwa Tabun hanya akan bekerja efektif sesaat setelah sebuah ledakan tercipta dan bukan sebuah senjata yang tepat untuk memenuhi tujuan yang dimaksud oleh Speer. Gas lain harus dicari, tapi kemudian seluruh gagasan itu hancur berantakan ketika penjaga SS bersenjata ditempatkan di sekitar ruang masuk bunker dan di atap. Sebuah cerobong juga telah dibangun di sekitar jalur ventilasi dengan ketinggian 10 kaki yang membuat ujung ventilasi tersebut di luar jangkauan. Pada pengadilan “penjahat perang” Nürnberg, Albert Speer dijatuhi hukuman penjara 20 tahun, dan hukuman itu dijalaninya sampai menit terakhir di Penjara Spandau, Berlin.

Rastenburg
Kini Claus von Stauffenberg berusaha untuk melakukan upaya pembunuhannya yang kedua, yang bertempat di markas besar Hitler di Prusia Timur yang lebih dikenal sebagai Wolffschanze (Sarang Serigala). Tanggal 15 Juli 1944 dia menghadiri sebuah konferensi yang dihadiri langsung oleh Sang Führer. Stauffenberg dibuat begitu kecewa ketika mengetahui bahwa Heinrich Himmler absen lagi. Akhirnya usaha percobaan ini pun gagal.

Bisa dibilang, rasa anti Stauffenberg terhadap Hitler sudah sampai ke ubun-ubun, dan perwira yang berusia 36 tahun ini tidak pernah berhenti mencoba untuk mewujudkan tujuannya : membunuh Hitler. Usaha ketiganya (sekaligus terakhir) dilakukan pada tanggal 20 Juli 1944. keputusan untuk kembali meledakkan Hitler pada tanggal tersebut telah dibuat empat hari sebelumnya dalam sebuah pertemuan yang diadakan di rumah Stauffenberg di Tristanstrasse No.8, Wansee. Ada atau tidak adanya Himmler, kali ini rencana harus tetap jalan terus, apapun hasil yang akan terjadi kemudian. Jam 12.00 Stauffenberg dan Generaloberst Friedrich Fromm melaporkan diri ke kantor Generalfeldmarschall Wilhelm Keitel untuk mengadakan konferensi kecil sebelum masuk ke ruang pertemuan utama. Jam 12.37, Stauffenberg menempatkan koper yang telah berisi bom waktu di bawah meja penggelar peta, dan kemudian pergi meninggalkan ruangan dengan berpura-pura seakan-akan hendak melakukan sambungan telepon penting. Seorang Oberst bernama Heinz Brandt yang menggantikan tempatnya kemudian secara tidak sengaja melihat koper yang ditinggalkan oleh Stauffenberg. Dia lalu menggeser koper tersebut lebih jauh dari meja dengan kakinya. Ini adalah saat dimana takdir kembali berbicara. Meja kayu tebal yang terbuat dari pohon ek telah menyelamatkan Hitler dari daya penuh bom yang meledak tepat pada jam 12.42. pada saat ini Stauffenberg telah dalam perjalanan kembali ke Berlin. Jam 18.28 sebuah siaran radio dari Wolffschanze melaporkan bahwa Hitler telah selamat dari ledakan tersebut dan hanya mengalami luka ringan. Malamnya, jam 00.30, Stauffenberg bersama dengan konspirator lainnya yaitu Oberleutnant Werner von Haeften, General der Infanterie Friedrich Olbricht dan Oberst Albrecht Mertz von Quirnheim, ditangkap atas perintah Fromm si oportunis dan langsung dieksekusi oleh regu tembak di halaman dalam markas Bendlerstrasse. Tak lama setelah peristiwa ini, istri Stauffenberg beserta keempat anaknya ditangkap dan ditahan oleh Gestapo. Saat itu Nina von Stauffenberg sedang mengandung anaknya yang kelima, dan kemudian melahirkan dalam penjara. Nina pada akhirnya berhasil dibebaskan oleh Sekutu bersama dengan anak-anaknya, sedangkan salah seorang saudara Stauffenberg yang bernama Berthold, yang ikut dipenjara, tidak mengalami nasib seberuntung itu dan kemudian harus mengalami nasib dieksekusi pula seperti kakaknya. Antara tanggal 8 Agustus 1944 sampai dengan 9 April 1945, 90 orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa 20 Juli telah dieksekusi di penjara Plötzensee.

Paris
Upaya lain untuk membunuh Hitler direncanakan akan terjadi tanggal 27 Juli 1940 di Paris, dimana Graf Fritz-Dietlof von der Schulenberg bermaksud untuk menembak Hitler dari podium penonton selama berlangsungnya parade militer untuk menghormati Hitler atas kemenangannya adalam Operasi Fall Gelb. Dahsyatnya, secara diam-diam Hitler mengunjungi Paris pagi-pagi tanggal 23 Juli dan mengunjungi bangunan-bangunan terkenal kota Paris, termasuk di antaranya Menara Eiffel dan kuburan Napoleon Bonaparte. Dia memulai tur wisatanya jam 06.00 dan berakhir tiga jam kemudian, untuk kemudian kembali lagi ke Berlin. Beberapa hari kemudian Schulenberg menerima berita bahwa harapannya membunuh Hitler dalam parade 27 Juli telah dibatalkan.

Ternyata usaha pembunuhan terhadap Hitler di Paris tidak hanya dilakukan oleh Schulenberg saja. Kali ini otaknya tak lain tak bukan adalah Generalfeldmarschall Erwin von Witzleben. Dalam bulan Mei 1941, dia berusaha untuk mengundang Hitler ke Paris untuk menghadiri parade militer yang sama. Kunjungan tersebut direncanakan tanggal 21 Mei, tapi kemudian dibatalkan pada menit-menit terakhir!

Garis Siegfried
Di tahun 1939 tak lama sebelum pecahnya Perang Dunia II, Generaloberst Kurt von Hammerstein-Equord berkali-kali mengajukan undangan kepada Hitler untuk mengadakan kunjungan ke benteng-benteng militer Jerman yang terdapat di Garis Siegfried dekat perbatasan dengan Belanda yang dikomandaninya. Disana rencananya Hitler akan mengalami “kecelakaan fatal” yang berakibat pada kematiannya. Hal ini telah direncanakan jauh-jauh hari oleh Hammerstein-Equord bersama kompatriotnya, Generaloberst Ludwig Beck (yang terlibat pula dalam Peristiwa 20 Juli 1944). Yang ada adalah, Hitler bukannya memenuhi undangan-undangan ini dan malahan mengkick balik Hammerstein-Equord dengan menempatkannya dalam daftar pensiun!

Poltava
Usaha pembunuhan lain terhadap Hitler telah direncanakan di Markas Besar Grup Tentara B di Walki dekat Poltava, Ukraina. Kali ini konspiratornya adalah General der Gebirgstruppe Karl Hubert Lanz, kepala staffnya Generalmajor Dr. Hans Speidel, dan Oberst Graf von Strachwitz yang merupakan perwira komandan resimen panzer Großdeutschland. Rencananya sendiri adalah menangkap Hitler dalam kunjungannya ke Grup Tentara B yang rencananya akan digelar di musim panas tahun 1943. Seperti yang telah terjadi dalam peristiwa-peristiwa sebelumnya, Hitler membatalkan rencana kunjungan tersebut di menit-menit terakhir dan memindahkan kunjungannya ke pasukannya yang sedang berjuang di Saporoshe lebih jauh ke Timur Rusia.

Smolensk
Tanggal 13 Maret 1943 tidak hanya satu, melainkan tiga, usaha pembunuhan terhadap Hitler telah direncanakan! Generalfeldmarschall Hans-Günther von Kluge, komandan Grup Tentara Tengah di Front Timur, akhirnya berhasil meyakinkan Hitler untuk mengadakan kunjungan ke markas besarnya di Smolensk. Ternyata beberapa staff Von Kluge telah berencana untuk melenyapkan nyawa Hitler dengan memanfaatkan momen kunjungan tersebut. Generalmajor Henning von Tresckow, yang sangat membenci Hitler dan Nazi, telah membuat 3 rencana pembunuhan yang dibuatnya bersama dengan Leutnant Fabian von Schlabrendorff, Oberst Rudolf von Gersdorff dan Hauptmann kavaleri Georg von Boeselager.

Rencana pertama : Hauptmann Von Boeselager dan kompinya akan bertindak sebagai penjaga bersenjata iring-iringan rombongan Hitler. Dalam perjalanan dari lapangan terbang, rencananya akan dilakukan serangan terhadap mobil yang membawa Hitler. rencana ini dibatalkan ketika ternyata Hitler datang bersama dengan pengawalan ketat dari 50 orang SS bersenjata lengkap.

Rencana kedua : usaha ini rencananya akan dilakukan pada saat acara makan siang di aula mess. Dengan mengikuti sinyal tertentu, Tresckow akan bangkit dari mejanya dan menembak Hitler pada saat Führer-nya sedang menikmati sayurannya. Tapi pemandangan aula yang dipenuhi oleh penjaga SS yang berada di dekat Hitler menimbulkan keraguan di hati Tresckow akan gagalnya rencana tersebut, sehingga sekali lagi rencana ini urung dilaksanakan.

Rencana ketiga : Ketika Hitler menaiki pesawat yang akan membawanya kembali ke Berlin, Tresckow menginstruksikan kepada Schlabrendorff untuk menyerahkan bingkisan kepada Oberst Heinz Brandt yang akan ikut bersama Hitler dalam pesawat. Bingkisan tersebut, yang berisi dua botol Brandy, disebutkan sebagai hadiah untuk Generalmajor Helmuth Stieff di Berlin. Tersembunyi pula di dalamnya sebuah bom waktu yang dipicu oleh cairan asam (sama seperti model Rudolf von Gertsdorff). Bom itu ternyata kemudian gagal meledak gara-gara dinginnya udara di ketinggian membuat cairan asam yang dipasang di detonator menjadi beku. Ketika berita tentang Hitler telah mendarat dengan selamat di Berlin sampai ke telinga para konspirator, mereka buru-buru mengutus Schlabrendorff kesana dengan menggunakan pesawat kurir biasa untuk menukar bingkisan yang dibawa oleh Brandt dengan dua botol asli Brandy.


Sumber :
www.ahoy.tk-jk.net
www.images.google.com
www.members.iinet.net.au

Jumat, 06 November 2009

Wolfgang Willrich (1897-1948), Seniman Lukis Terbesar Nazi Jerman!

Wolfgang Willrich sebagai tentara di 251. Infanterie-Regiment di tahun 1916





Wolfgang Willrich sebagai kontributor lepas untuk Reichsbauernführer Walther Darré





Wolfgang Willrich sebagai seorang pelukis perang di Westwall tahun 1940





Wolfgang Willrich sebagai seorang Sonderführer di Finlandia sedang mengerjakan salah satu karyanya dengan seragam Feldwebel (1942)





Wolfgang Willrich di tahun 1943





Wolfgang Willrich (kiri) bersama dengan tokoh hukum Nazi Walter Buch di Bodensee





Keluarga Willrich yang berbahagia di tahun 1943. Dari kiri ke kanan: Gerda, Wolfgang, Thora, Charlotte dan Walter





Untuk karya-karya terbaik Wolfgang Willrich bisa dilihat DISINI



Wolfgang Willrich dilahirkan di Göttingen tanggal 31 Maret 1897, dari keluarga yang telah turun temurun menjadi petani di Lower Saxony dan Pomerania. Ayahnya, Hugo Willrich, mengajar bahasa-bahasa klasik di Universitas Göttingen dan beberapa pendahulunya ada pula yang menjadi pendeta.



Wolfgang telah mempunyai bakat sebagai seorang seniman dari sejak dia masih kecil, dan begitu terpikat pada sejarah klasik Eropa yang ditekuni ayahnya, sehingga kawan-kawan sekolahnya menjulukinya sebagai “Si Manusia Antik”. Pada tahun 1915 dia berangkat ke Berlin untuk bersekolah di Perguruan Tinggi jurusan seni, hanya untuk menemukan bahwa telah terjadi kemunduran dalam hal trend artistik Jerman pada masa itu. Disana Wolfgang ikut aktif juga dalam organisasi-organisasi pergerakan kaum muda.



Tahun 1916 dia dipanggil untuk menjalani wajib militer, dan ditempatkan sebagai Feldwebel di Resimen Infanteri ke-251. Wolfgang adalah seorang pemberani di medan perang Front Barat, dan untuk ini dia dianugerahi Eiserne Kreuz untuk jasa-jasanya. Masa baktinya hanya berlaku sebentar saja, karena tak lama kemudian dia tertangkap oleh tentara Prancis dan diinternir di Orleans. Selama penahanannya ini bakat menggambar Wolfgang yang sempat meredup mulai menyeruak kembali, dan banyaklah gambar dan sketsa yang dibuatnya. Untuk pertama kalinya gambar hasil karyanya dipublikasikan dalam majalah untuk para tawanan perang yang diterbitkan oleh Palang Merah Internasional. Ketika pada akhirnya dilepaskan dari tahanan tahun 1920, dia meneruskan studinya yang sempat tertunda di Akademi Dresden, dimana dia menjadi murid dari Richard Müller dan Georg Lühring selama empat tahun. Sebagai tambahan, dia juga mempelajari biologi dan antropologi, juga mengikuti perkuliahan dari guru anatomi terkenal Hermann Dietrich, dimana Wolfgang kemudian muncul sebagai salah satu murid paling menonjol.



Dia lalu bergabung dengan Asosiasi Tannenberg yang diketuai oleh Generalfeldmarschall Erich von Ludendorff dan istrinya Mathilde, tapi tak lama keluar setelah terlibat dalam perbedaan pendapat dengan nyonya Ludendorff. Hal ini tak menghalangi keluarnya karya-karya Wolfgang dalam Jurnal Bergambar Tannenberg yang terbit di tahun 1932 dan 1934.



Dia mengunjungi Belanda, Belgia, Prancis dan Swiss untuk memperdalam pemahamannya akan karya-karya seni masterpiece yang dihasilkan di masa lalu dan bagaimana mereka tercipta. Di masa ini, nama Wolfgang sebagai seniman jempolan mulai dikenal, terutama setelah dipublikasikannya gambar potret Ludendorff yang dibuatnya di tahun 1927 dan Jenderal Paul von Lettow-Vorbeck di tahun 1929. yang membuat dia menonjol adalah kemampuannya ‘menangkap’ komponen-komponen Nordik dari tokoh-tokoh Jerman yang terpancar dari semua hasil karyanya. Hal ini seiring dengan kecenderungan para seniman pada masa itu yang selalu membangga-banggakan ras mereka dan menuangkannya pada buatannya. Seiring dengan waktu, kemampuan artistik Wolfgang semakin berkembang, dan dia mencoba untuk bereksperimen dengan media-media yang tidak biasa, seperti arang, kapur, dan grafit!



Tahun 1933-1934 Wolfgang aktif di Kementerian Budaya Reich, tapi kemudian dipaksa untuk keluar karena hubungan masa lalunya dengan Gerakan Ludendorff. Untuk menyambung hidupnya, dia mengajar sekolah pribadi di Dresden selama beberapa bulan, dan kemudian memutuskan untuk tinggal permanen di Berlin, setelah R. Walter Darré memberi posisi sebagai pekerja independen kepadanya. Dia dibayar 500 marks sebulan dan diberi tugas untuk mengabadikan wajah-wajah tipe Nordik dari para penduduk pedesaan Utara dan Selatan Jerman. Wolfgang sangat antusias dengan pekerjaan ini, meskipun menemui hambatan dari beberapa pemimpin grup-grup lokal NSDAP, terutama di Bavaria (dalam sebuah surat yang ditulisnya bulan November 1936, dia mengeluh akan ‘perlawanan’ dari antropologis Münich Merkenschlager yang tidak menyetujui ide-ide Nordik yang dibawa Wolfgang).



Di bawah pengawasan dan bimbingan dari Walter Groß, dia semakin banyak membuat gambar-gambar bernuansa etnik, yang sesuai dengan keinginan Kantor Politik Ras Partai Nazi.



Gambarnya, yang kebanyakan berupa poster, juga disebarkan secara luas dalam bentuk kartu pos. Tahun 1935 Wolfgang menolak tawaran dari Perusahaan Percetakan Scherl di Berlin yang ingin memperoleh hak sebagai satu-satunya perusahaan yang berhak mereproduksi karya-karyanya. Tawaran menjadi anggota kehormatan SS yang datang dari Heinrich Himmler juga dia tolak, dengan ketakutan bahwa hal tersebut akan mempengaruhi otonominya dalam berkarya. Puncaknya, Wolfgang juga menolak untuk bergabung dengan Partai Nazi!



Sebagai tambahan dari karya-karyanya yang disebut di atas, dia juga memproduksi serangkaian tulisan dengan tema Jerman murni (Säuberung des Kunsttempels 1937, Des Edlen Ewigen Reich 1939), dimana secara terbuka Wolfgang mengkritik “Kesenian Weimar”. Kebanyakan sumber informasinya dia peroleh dari Walter Hansen, yang merupakan rekan kerja terdekatnya.

Dia juga dihubung-hubungkan dengan Graf Klaus von Baudissin (lahir tahun 1891), kurator dari koleksi karya seni di Württemberg dari sejak tahun 1925, pemimpin dari musium Folkwang di Essen dari sejak tahun 1934, SS-Oberführer dari bulan September 1943, dan anggota dari Reichskammer of Visual Arts (No. 3741). Pada tahun 1937 Wolfgang, bersama-sama dengan Walter Hansen dan Baudissin, menjadi salah satu organisator terkemuka dari Münich Exhibition of Degenerate Art. Dia menilai bahwa gerakan resmi melawan “kultur Bolsewik” terlalu moderat. Dan karena pandangannya inilah dia dipandang sebagai orang yang berpandangan “radikal”, dan mendapat permusuhan dari orang-orang terkemuka di dunia seni Jerman seperti Eberhard Hanfstaengl, direktur dari Koleksi Musium Berlin; Adolf Ziegler, ketua Dewan Seni Visual Reich; dan Wilhelm Laegert yang menjabat sebagai anggota Dewan-Menteri, Ketua Propaganda yang menjadi orang kedua dalam Kementerian Goebbels. Hal ini tidak menghalangi produktivitas Wolfgang, dan dia memproduksi 28 potret untuk Grosse Deutsche Kunstausstellung antara tahun 1937 sampai dengan 1942, yang kebanyakan berupa gambar-gambar petani (Petani Tua dari Ries), tentara, dan petinggi-petinggi partai, sebagai contoh adalah “Ketua Partai Dari Wanita Jerman di Rumania”, Oberst Mölders, dan Jagdflieger Heilmayer tahun 1941.



Tanggal 14 September 1939 dia menulis surat pada Erwin Rommel (yang dia kenal melalui Paul Linke tahun 1938, dan sudah pernah dilukis sebelumnya) untuk meminta agar dikirim ke front pertempuran sebagai seniman perang. Permintaan ini didukung oleh para petinggi VDA, yang juga ikut membantu agar tidak ada sensor atau pembatasan-pembatasan terhadap karya-karya Wolfgang. Dia langsung ditugaskan untuk menggambar tokoh-tokoh paling terkemuka dari Wehrmacht, dan karya-karya pertamanya adalah orang-orang U-boat dan para petinggi Kriegsmarine (Karl Dönitz, Günther Prien, Otto Schuhart, Erich Raeder, dan lain-lain) yang kemudian ditampilkan dalam pameran yang bertempat di Berlin House of Artists dan berjudul “Kampanye di Polandia – Perang U-Boat Dalam Gambar Dan Potret”. Acara ini menuai sukses besar, dan Wolfgang kemudian dianugerahi pangkat Feldwebel. Dia lalu ikut serta dalam penyerbuan ke Prancis bersama unit-unit Wehrmacht di garis depan, dan mengabadikan wajah Erwin Rommel dan Heinz Guderian ke dalam kanvasnya. Wolfgang juga menyempatkan sebagian waktunya bersama dengan Fallschirmjäger dari Unit Serbu Koch. Sampai dengan bulan Maret 1941 dia menjadi anggota Divisi Pers Wehrmacht yang dipimpin oleh Oberst Hesse, tapi kemudian dikirim ke Norwegia dan Finlandia untuk mengunjungi unit-unit Gebirgsjäger dan Organization Todt (1941-42). Di pertengahan Perang Dunia II dia menghabiskan waktu bersama dengan Generalfeldmarschall Albert Kesselring di front Italia (1943), dan mengakhiri karirnya sebagai seniman perang di medan perang Rusia. Dalam periode ini Wolfgang menghasilkan karya yang tak terhitung banyaknya : prajurit-prajurit biasa yang tak diketahui namanya dan juga figur-figur perang terkemuka seperti Hans-Ulrich Rudel, Anna Reitsch, Adolf Galland, Hermann Göring, Eduard Dietl, Ferdinand Schörner, dan lain-lain. Tahun 1941 Otoritas Kebudayaan Nasional-Sosialis memamerkan hasil karyanya dengan tema “Ras dan Bangsa”. Sebagai tambahan, tahun 1942 Wolfgang diberi tugas untuk menggambar para peraih Ritterkreuz. Karya-karyanya diterbitkan secara berseri oleh VDA, dengan beberapa di antaranya dalam bentuk kartu pos yang hari ini menjadi bahan buruan utama para kolektor. Tanggal 19 Juli 1942 dia diangkat sebagai Sonderführer. Bukannya gembira, Wolfgang malah menganggap bahwa jabatannya ini akan menjadi penghalang dari kebebasan berekspresinya, sehingga kemudian ditarik kembali pada bulan Desember. Pada akhir tahun 1943 dia kembali ke Berlin-Frohenau dan segera meneruskan aktivitas seninya. Buku koleksi Prajurit Reich-nya yang terakhir keluar pada saat ini. Pada tahun 1944 Oberkommando des Heeres menugaskan dia untuk menggambar tema baru “Kenapa Prajurit Jerman Bertempur” yang kemudian baru diterbitkan di Buenos Aires pada tahun 1949 karena Jerman keburu kalah perang. pada tahun 1945 Wolfgang menjadi tawanan perang Amerika dan diinternir di sebuah kamp di Normandia. Disini kesehatannya menurun dengan drastis, sehingga harus ditransfer ke Rumah Sakit Militer Amerika akhir tahun 1945 untuk kemudian dilepaskan setahun kemudian.

Selama masa penahanannya citarasa Wolfgang Willrich tidaklah menurun. Dia menggambar banyak para perwira Amerika. Di Göttingen dia bertemu kembali dengan istri dan tiga anaknya, yang telah dievakuasi dari Berlin di hari-hari terakhir Perang. Rumahnya telah dijarah orang, dan sebagian besar dari karyanya telah hancur atau dicuri. Tahun 1946 dan 1947 Wolfgang mencoba memulai kembali mencari nafkah sebagai seorang seniman, meskipun kesehatannya terus menurun. Dia berhasil menuntaskan tiga panel lukisan anti perang yang dipersembahkannya kepada sekolahnya sewaktu masa SMA, dan memulai sebuah otobiografi (“Aus Freude am Schoenen”), yang baru diselesaikan jauh setelah kematiannya oleh istrinya Charlotte di tahun 1987. pada tanggal 18 Oktober 1948 seniman terbesar Third Reich Wolfgang Willrich meninggal dunia di rumah sakit setelah lama dirawat akibat penyakit kanker yang dideritanya.



Sumber :

www.cimilitaria.com

www.axishistory.com

www.galleria.thule-italia.com





Rabu, 04 November 2009

DIJUAL!!! E-Book OSPREY edisi Nazi Jerman!



DIJUAL!!! E-Book OSPREY edisi Nazi Jerman!

73 seri e-book keluaran OSPREY (penerbit buku-buku militer terkemuka) yang bercerita tentang Nazi Jerman. Terdiri dari Campaign Series, Elite Series, Essential Histories Series, Fortress Series, Men-At-Arms Series, Vanguard Series dan Warrior Series, mengupas habis Third Reich, dari kelengkapannya, pasukan-pasukannya, mesin perangnya, organisasinya, pertempuran yang telah dijalaninya, dan lain-lain. RECOMMENDED bagi para penggemar sejarah Perang Dunia II, terutama yang berhubungan dengan Nazi Jerman!



Keterangan tambahan :

- E-book berupa file PDF yang dapat dibuka dengan Acrobat Reader (disertakan dalam DVD)

- Cara order/pemesanan lewat e-mail (alifrafikkhan@gmail.com) atau SMS (0856-2007755)

- Barang berupa DVD plus casing dengan label

- DVD diburn dengan kecepatan 12x, telah diverivy, dan tidak bergaransi

- DVD sudah dicek jalan di komputer sebelum dikirim ke pembeli

- Pengiriman menggunakan TIKI Kilat 1 hari

- Konfirmasi setelah Tranfer Uang via ATM/Manual, setelah itu barang segera dikirim lewat TIKI

- Pembayaran melalui rekening BCA dengan nomor 3770149389 atas nama ALIF RAFIK KHAN

- Harga adalah Rp 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah) dan sudah termasuk ongkos kirim

- Pembeli sudah membaca dan setuju atas ketentuan-ketentuan di atas



Campaign Series :

1. Ardennes 1944; Hitler’s Last Gamble In The West by James R. Arnold

2. Arnhem 1944; Operation ‘Market Garden’ by Stephen Badsey

3. Bagration 1944; The Destruction of Army Group Centre by Steven J Zaloga

4. Battle of the Ardennes 1944 (1); St Vith and the Northern Shoulder by Steven J Zaloga

5. D-Day 1944 (1); Omaha Beach by Steven J Zaloga

6. D-Day 1944 (2); Utah Beach and the US Airborne Landings by Steven J Zaloga

7. D-Day 1944 (3); Sword Beach and the British Airborne Landings by Ken Ford

8. D-Day 1944 (4); Gold and Juno Beaches by Ken Ford

9. Dieppe 1942; Prelude to D-Day by Ken Ford

10. France 1940; Blitzkrieg in the West by Alan Shepperd

11. Gazala 1942; Rommel’s Greatest Victory by Ken Ford

12. Kursk 1943; The Tide Turns in the East by Mark Healy

13. Lorraine 1944; Patton vs Manteuffel by Steven J Zaloga

14. Normandy 1944; Allied Landings and Breakout by Stephen Badsey

15. Operation Barbarossa 1941 (1); Army Group South by Robert Kirchubel

16. Operation Cobra 1944; Breakout from Normandy by Steven J Zaloga

17. Poland 1939; The Birth of Blitzkrieg by Steven J Zaloga

18. St Nazaire 1942; The Great Commando Raid by Ken Ford

19. The Rhineland 1945; The Last Killing Ground in the West by Ken Ford

20. Tobruk 1941; Rommel’s Opening Move by Jon Latimer



Elite Series :

21. Afrikakorps 1941-43 by Gordon Williamson & Ron Volstad

22. Ardennes 1944; Peiper and Skorzeny by Jean-Paul Pallud

23. German Commanders of World War II (1); Army by Gordon Williamson

24. German Commanders of World War II (2); Waffen-SS, Luftwaffe and Navy by Gordon Williamson

25. German Mountain and Ski Troops 1939-45 by Gordon Williamson

26. Knight’s Cross and Oak-Leaves Recipients 1939-40 by Gordon Williamson

27. Knight’s Cross and Oak-Leaves Recipients 1941-45 by Gordon Williamson

28. Knight’s Cross, Oak-Leaves and Swords Recipients 1941-45 by Gordon Williamson

29. Knight’s Cross with Diamonds Recipients 1941-45 by Gordon Williamson

30. The Condor Legion; German Troops in the Spanish Civil War by Carlos Caballero Jurado

31. The German Freikorps 1918-23 by Carlos Caballero Jurado

32. The Military Sniper Since 1914 by Martin Pegler

33. U-Boat Crews 1914-45 by Gordon Williamson & Darko Pavlovic

34. Wehrmacht Combat Helmets 1933-45 by Brian C Bell

35. World War II Combat Reconnaisance Tactics by Gordon L Rottman

36. World War II Desert Tactics by Paddy Griffith

37. World War II Infantry Anti-Tank Tactics by Gordon L Rottman

38. World War II Infantry Assault Tactics by Gordon L Rottman

39. World War II Infantry Tactics; Squad and Platoon by Dr. Stephen Bull

40. World War II Infantry Tactics; Company and Battalion by Dr. Stephen Bull



Essential Histories Series :

41. The Second World War (1); The Pacific by David Horner

42. The Second World War (2); Europe 1939-43 by Robin Havers

43. The Second World War (3); The War at Sea by Philip D Grove, Mark J Grove & Alastair Finlan

44. The Second World War (4); The Mediterranean 1940-45 by Paul Collier

45. The Second World War (5); The Eastern Front 1941-45 by Geoffrey Jukes

46. The Second World War (6); Northwest Europe 1944-45 by Russell Hart & Stephen Hart

47. The Spanish Civil War 1936-39 by Frances Lannon



Fortress Series :

48. D-Day Fortifications in Normandy by Steven J Zaloga

49. Fort Eben Emael; The Key to Hitler’s Victory in the West by Simon Dunstan

50. German Defences in Italy in World War II by Neil Short

51. German Field Fortifications 1939-45 by Gordon L Rottman

52. Germany’s West Wall; The Siegfried Line by Neil Short

53. Soviet Field Fortifications 1941-45 by Gordon L Rottman

54. The Atlantic Wall (1); France by Steven J Zaloga

55. The Channel Islands 1941-45; Hitler’s Impregnable Fortress by Charles Stephenson

56. The Maginot Line 1928-45 by William Allcorn



Men-At-Arms Series

57. German Airborne Troops 1939-45 by Bruce Quarrie & Mike Chappell

58. Luftwaffe Field Divisions 1941-45 by Kevin Conley Ruffner

59. The Panzer Divisions by Martin Windrow



Vanguard Series :

60. 2nd SS Panzer Division ‘Das Reich’ by Bruce Quarrie

61. German Destroyers 1939-45 by Gordon Williamson



Warrior Series :

62. Fallschirmjäger; German Paratrooper 1935-45 by Bruce Quarrie

63. Gebirgsjäger; German Mountain Trooper 1939-45 by Gordon Williamson

64. German Infantryman (2); Eastern Front 1941-43 by David Westwood

65. German Infantryman (3); Eastern Front 1943-45 by David Westwood

66. German Seaman 1939-45 by Gordon Williamson

67. German Security and Police Soldier 1939-45 by Gordon Williamson

68. Grey Wolf; U-Boat Crewman of World War II by Gordon Williamson

69. Hitler’s Home Guard; Volkssturmmann Western Front 1944-45 by David K. Yelton

70. Kampfflieger; Bomber Crewman of the Luftwaffe 1939-45 by Robert Stedman

71. Panzer Crewman 1939-45 by Gordon Williamson

72. The Hitler Youth 1933-45 by Alan Dearn

73. Waffen-SS Soldier 1940-45 by Bruce Quarrie