Selasa, 17 November 2009

Die Glocke, Mesin Rahasia Nazi Yang Berfungsi Sebagai Mesin Waktu!

SS-Gruppenführer Jakob Sporrenberg. Dari keterangannya lah pertama kali terungkap tentang misteri mengejutkan Die Glocke!





Nick Cook sedang memeriksa pilar-pilar yang berada di sekeliling The Henge





The Henge yang dipercaya sebagai tempat penyimpanan Die Glocke





A little art for Die Glocke





Inilah mungkin gambaran Die Glocke seperti yang ada dalam film!





Oleh : Alif Rafik Khan



Die Glocke (Bel) adalah nama dari senjata rahasia Nazi dengan teknologi super melebihi zamannya. Satu-satunya sumber yang menceritakan hal ini adalah buku jurnalisme pertahanan luar angkasa Polandia dan sejarawan militer Igor Witkowski, yang telah mengklaim bahwa Die Glocke merupakan salah satu senjata rahasia yang luar biasa (Wunderwaffe). Hal ini menjadi populer setelah diangkat oleh Nick Cook, Joseph P. Farrell dan website-website teori konspirasi, yang mengkaitkannya dengan okultisme Nazi dan pencarian energi anti-gravitasi.



Die Glocke pertama muncul dalam buku berbahasa Polandia karangan Igor Witkowski berjudul Prawda O Wunderwaffe terbitan tahun 2000, yang di Jerman sendiri diterbitkan dengan judul Die Wahrheit über die Wunderwaffe, yang menamakannya sebagai “Bel Nazi”. Tapi hal itu masih belum banyak diketahui orang, sampai dengan diterbitkannya buku The Hunt for Zero Point karangan jurnalis, pengarang, dan mantan editor penerbangan Inggris untuk Jane Information’s Group, Nick Cook. Rasa keingintahuan meningkat, dan buku Witkowski kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 2003 oleh Bruce Wenham dengan judul The Truth About the Wunderwaffe. Spekulasi lebih lanjut tentang penemuan ini telah muncul dalam buku karangan pengarang ‘pinggiran’ Amerika, Joseph P. Farrell, Jim Marrs dan Henry Stevens.

“Bel Nazi” telah menjadi semacam legenda bagi orang-orang yang percaya dengan energi titik-nol, mesin yang dapat bekerja tanpa henti, alat anti-gravitasi, pergeseran realitas, penghidupan kembali, dan manipulasi waktu-tempat.



Bel ini disebut-sebut sebagai salah satu eksperimen yang dilakukan oleh para ilmuwan Third Reich yang bekerja untuk SS dan bekerja di fasilitas militer Jerman yang lebih dikenal sebagai Der Riese (Raksasa) di dekat pertambangan Wenceslaus. Pertambangan ini sendiri terletak sekitar 50 kilometer dari Wroclaw, sedikit ke utara dari desa Ludwikowice Klodzkie (sebelumnya dikenal sebagai Ludwigsdorf) di dekat perbatasan dengan Cekoslowakia. Cook dan Witkowski mengunjungi tempat ini dalam rangka kepentingan untuk pembuatan film dokumenter Channel 4 Inggris UFOs: the Hidden Evidence (yang punya nama lain juga, An Alien History of Planet Earth).



Alat ini dikatakan terbentuk dari bahan metalik, dengan lebar 9 kaki dan tinggi 12 sampai 15 kaki, dengan bentuk sangat mirip dengan bel (makanya nama Die Glocke itu tercipta). Di dalamnya terdapat dua silinder yang berotasi berlawanan dan diisi dengan zat yang serupa dengan merkuri yang akan berwarna lembayung ketika diaktifkan (nama sebenarnya adalah Xerum 525, tapi telah dispekulasikan sebagai Merkuri Merah). Bila benda ini beraksi, maka Die Glocke akan memancarkan radiasi kuat, yang pada kenyataannya telah membunuh beberapa ilmuwan yang terlibat dalam pembuatannya, juga banyak tanaman dan hewan percobaan!



Berdasarkan keterangan dari Igor Witkowski, sejarawan penerbangan angkasa Polandia yang telah meneliti benda ini selama lebih dari 20 tahun, dalam wawancaranya dengan Discovery Channel dalam dokumenter Nazi UFO Conspiracy : “Penampilan luarnya.. begitu anehnya dengan bungkus bahan keramik dan berbentuk bel, yang menyimpan sebuah inti yang dikelilingi oleh dua silinder yang berotasi dalam rotasi berlawanan. Dan setelah terhubung dengan arus bervoltase tinggi, silinder tersebut akan mulai berputar di arah yang bertolak belakang. Dipercaya bahwa hal ini akan menjadi salah satu cara untuk menaklukkan gravitasi bumi.”



Menurut keterangan dari Farrell, begitu berkepentingannya Nazi untuk menjaga kerahasiaan bel ini, sehingga mereka membunuh 60 orang ilmuwan yang bekerja dalam proses pembuatannya, dan menguburkannya di sebuah kuburan massal! Terus bagaimana hal ini bisa bocor juga? Satu-satunya sumber datang dari jenderal SS yang ditugasi untuk melakukan pembantaian tersebut, Jakob Sporrenberg, yang setelah perang usai dituntut ke pengadilan penjahat perang Polandia atas tuduhan membunuh rakyatnya sendiri di tempat yang kemudian menjadi wilayah Polandia. Dari pernyataan tertulisnyalah kita tahu akan kisah Bel Nazi ini.



Bila diminta untuk berandai-andai, apakah yang kemudian terjadi pada bel tersebut, bila memang dia ada? Tidak diketahui apakah dia dievakuasi keluar Jerman, meskipun ada pula beberapa perkiraan yang muncul : Witkowski berspekulasi bahwa Die Glocke dibawa ke salah satu negara di Amerika Selatan yang bersimpati kepada Nazi, sementara Cook berkeyakinan bahwa akhir Bel Nazi adalah di Amerika Serikat sebagai bagian dari deal rahasia dengan jenderal SS Hans Kammler, sedangkan Farrell sendiri mempunyai pendapat lain bahwa Die Glocke tidaklah dibawa ke Amerika Serikat sampai pengangkutannya setelah insiden UFO Kecksburg yang terkenal.



Terus apa sebenarnya tujuan dari pembuatan “bel” super aneh ini? Masih belum diketahui, walaupun ada beberapa spekulasi dari anti-gravitasi sampai ke perjalanan waktu.



Jan van Helsing mengklaim dalam bukunya Secret Societies bahwa, dalam sebuah pertemuan yang dihadiri oleh anggota dari organisasi-organisasi rahasia (Vril Gessellschaft, Thule Society, elit SS Matahari Hitam) bersama dengan dua orang cenayang, dikumpulkan data-data teknis untuk pembangunan sebuah mesin terbang, berdasarkan sebuah pesan yang disebut-sebut datang dari sistem solar Aldebaran.



Salah seorang ilmuwan yang menjadi nara sumber Cook dalam The Hunt for Zero Point adalah “Dr. Dan Marckus” (Cook mengatakan dalam bukunya bahwa dia telah mem-“nyamar”kan nama Marckus dan bahwa dia adalah seorang “ilmuwan handal yang bekerja di Departemen Fisika di salah satu universitas Inggris terkemuka”). Dr. Marckus mengklaim bahwa Bel Nazi adalah sebuah generator lapangan bertorsi dan bahwa para ilmuwan SS berusaha untuk membuat semacam mesin waktu dengannya.



Klaim asli tentang keberadaan eksperimen SS tersebut telah disebarkan pula oleh Igor Witkowski, yang berkata bahwa dia telah menemukan keberadaan proyek kontroversial ini setelah melihat transkrip rahasia interogasi KGB terhadap SS-Gruppenführer Jakob Sporrenberg.



Berdasarkan keterangan Witkowski, di bulan Agustus 1997 telah diperlihatkan kepadanya beberapa file oleh seorang perwira intelijen Polandia (yang identitasnya dirahasiakan). Si perwira ini mempunyai akses ke dokumen-dokumen penting sekaligus top secret menyangkut senjata-senjata rahasia yang dikembangkan oleh Nazi. Disinilah Witkowski pertama kali mengetahui tentang detail interogasi Sporrenberg yang dilakukan tahun 1950/51 ketika dia dipenjara di Polandia. Witkowski menceritakan secara terperinci hal ini dalam bukunya The Truth About the Wunderwaffe, dan meskipun tidak pernah ada verifikasi akan klaim yang diajukan oleh Witkowski, tetapi hal ini segera mendapatkan perhatian masyarakat luas setelah diberitakan ulang oleh pengarang Inggris Nick Cook dalam buku non-fiksinya yang populer, The Hunt for Zero Point.



Sumber satu-satunya kisah ini semata-mata bertumpu pada kesaksian Witkowski yang melihat transkrip rahasia interogasi Sporrenberg dan komentar dia terhadapnya. Dokumen-dokumen ini sendiri tidak pernah dipublikasikan karena Witkowski mengaku dia hanya diperbolehkan untuk menterjemahkan, dan tidak untuk menggandakannya. Tak ada bukti lain selain bukti ini yang muncul ke permukaan.



Ternyata Die Glocke bukanlah satu-satunya benda yang “ditemukan” oleh Witkowski karena ada lagi yang namanya “The Henge”, yang kemungkinan adalah bangunan percobaan untuk pendorong anti-gravitasi yang digerakkan oleh Bel. Witkowski sendiri berkata bahwa kompleks industri yang berada di dekat pertambangan Wenceslas merupakan tempat percobaan Bel Nazi tersebut.



Di bulan Agustus 2005 seorang investigator Jerman dan perwira staff GAF bernama Gerold Schelm (dengan nama lain “Golf Sierra”) mengunjungi “The Henge” dan mempublikasikan penemuannya di bulan November tahun itu. Dia mengklaim bahwa sebagian cerita tentang “The Henge” adalah kepalsuan belaka, dengan memperbandingkannya dengan bangunan serupa yang dia temukan di sebuah kota Polandia bernama Siechnice, yang ternyata merupakan kerangka dari menara pendingin. Untuk memperkuat klaimnya, Schelm memperlihatkan perbandingan foto Witkowski dengan menara pendingin Siechnice.



Schelm kemudian berkata lebih jauh : “persamaan antara bangunan beton yang dikenal dengan nama “The Henge” dengan struktur dasar dari menara pendingin Siechnice benar-benar tak dapat disangkal lagi. Dan meskipun jumlah tiangnya tidak sama (12 di Siechnice dan 11 di Ludwikowice), saya yakin bahwa bahkan dimensinya tidak jauh berbeda. Bangunan tersebut benar-benar mirip satu sama lain, yang membuat saya berkesimpulan bahwa menara pendingin dan “The Henge” dibangun dengan perencanaan yang sama, bahkan mungkin oleh perusahaan konstruksi yang sama. Saya tak berhasil mendapatkan data tentang kapan menara Siechnice tersebut dibangun, tapi menara tersebut sampai saat ini berada dalam kondisi yang bagus, dan membuat saya berpikir bahwa kemungkinan ia dibuat setelah Perang Dunia II, mungkin di tahun 60-an atau 70-an.”



Witkowski memperlihatkan pada Cook beberapa baut berbahan metal yang terlihat di bagian paling atas struktur yang dia temukan, tepay di setiap tiang. Witkowski berkesimpulan bahwa baut-baut tersebut di masa lalu merupakan semacam peredam kekuatan besar yang dikeluarkan oleh benda berat yang disimpan di tengah-tengah bangunan, yang apalagi kalau bukan Die Glocke.



Tentu saja untuk hal ini pun Gerold Schelm punya asumsi tersendiri : “ Dengan melihat perbandingan antara “The Henge” dengan menara pendingin Siechnice, maka tujuan dari baut-baut yang disebutkan oleh Witkowski menjadi jelas : konstruksi metal bagian atas dari menara pendingin Siechnice bertumpu tepat pada 12 baut metal dan hanya dapat terlihat dari bagian atas setiap tiang, sama seperti “The Henge”. Maaf Mr. Mahmud eh Witkowski, tapi di titik ini teori anda masuk ke gorong-gorong (tokay kalee!). Struktur beton yang anda sangka sebagai bangunan percobaan untuk menyimpan Bel Nazi di dalamnya, tak lebih dari sisa-sisa sebuah menara pendingin. Dan, dengan melihat fakta ini sebagai bahan pertimbangan, akan tampak bahwa pembangkit tenaga listrik yang terletak di ujung utara lembah tersebut, bersebelahan dengan “Fabrica”, pastilah mempunyai sebuah menara pendingin, dan tempat paling pas untuk membangun menara semacam itu tentunya berada di seberang kanan “Fabrica”. Nah, “Fabrica” itu sendiri, apa pun tujuan pendiriannya, pastilah membutuhkan pasokan listrik yang besar, sementara letaknya sendiri berada di tempat yang jauh dari mana-mana. Lebih praktis untuk membangun sebuah pembangkit tenaga listrik di pabrik tersebut, menggunakan batu bara dari pertambangan Wenceslas sebagai penggeraknya. Seperti yang Cook katakan sendiri, terdapat sebuah pembangkit tenaga listrik di ujung lembah, yang Witkowski perlihatkan langsung kepadanya.”



Ketika Cook bertanya pada Witkowski bangunan apa itu, Witkowski menjawab “Saya tak tahu pasti. Tapi apapun itu, orang-orang Jerman berhasil menyelesaikan pembuatannya. Dengan kondisi cahaya seperti ini memang sulit untuk melihat warna bangunan tersebut, tapi anda bisa perhatikan sendiri bahwa beberapa cat hijau aslinya masih tertinggal. Anda tak mungkin mengkamuflasekan sesuatu yang masih belum jadi. Itu adalah sesuatu yang tak masuk di akal.” Kemudian, Witkowski berkata bahwa itu adalah sebuah bangunan percobaan. Cook sendiri kemudian berpendapat bahwa dia tidak akan mendukung atau menyangkal klaim Witkowski, karena biarlah waktu yang akan membuktikannya.



Witkowski memperlihatkan lebih jauh lagi pada Cook, dimana tanah di sekeliling struktur tersebut telah digali sedalam satu meter kemudian dilapisi dengan ubin keramik yang sama seperti yang disebutkan oleh Sporrenberg dalam ruang tempat Bel disimpan. Seperti biasa, Schelm mengeluarkan klaim tandingan : “Saya telah membekali diri dengan sebuah sekop lipat kecil, dan kemudian mulai menggali di tiga atau empat tempat sekeliling “The Henge”. Saya tak menemukan apa-apa, hanya tanah biasa yang penuh dengan cacing, serangga dan daun busyuk.”

Mengenai cat di bangunan Ludwikowice, Schelm berpendapat : “Ketika saya berjalan di antara tiang-tiang tersebut, saya memperhatikan bahwa di batas sebelah tenggara terdapat sisa-sisa yang kemungkinan merupakan pelek beton, yang mengelilingi “The Henge” dengan diameter yang sedikit lebih besar dan berada 3 meter di luar lingkaran tiang. Sebagian dari pelek tersebut masih tersisa, dengan panjang 4 meter, sementara yang lainnya sudah tak dapat diakses lagi karena sudah dipenuhi oleh rumput dan alang-alang, atau karena sudah diledakkan jauh di waktu sebelumnya. Warna Pelek beton itu adalah warna yang sama yang digunakan untuk seluruh bangunan, warna pirus (biru-hijau).



Di tahun 2006 Joseph P. Farrell berkata dalam bukunya SS Brotherhood of the Bell : “Sebuah obyek yang sangat aneh yang tampak seperti Stone Henge besar tapi terbuat dari beton, dan kemungkinan merupakan sebuah bangunan percobaan untuk proyek tertentu.”



Farrell melanjutkan : “Witkowski telah menambahkan beberapa informasi tambahan kepada saya yang tidak ada dalam bukunya. Rainer Karlsch, pengarang Jerman yang baru saja menerbitkan buku di negaranya tentang program nuklir Hitler, juga menyebutkan bahwa sebuah tim ahli fisika dari Universitas di Giessen telah melakukan penelitian intensif di Ludwikowice, terutama di The Henge. Hasil penelitian tersebut begitu luar biasanya, karena terdapat sisa-sisa isotop di konstruksi yang dipakai sebagai lokasi penelitian, yang hanya bisa dihasilkan oleh radiasi kuat sinar neutron. Maka tentunya harus ada semacam benda yang mengakselerasi ion-ion, sebuah benda yang BERAT. Kita bisa mengkalkulasikan intensitas radiasi yang terjadi di tahun 1945, dan secara umum radiasinya tinggi sekali. Dengan kata lain, apapun itu yang diujicoba di The Henge, dan semua indikasi mengarah ke Bel Nazi, maka hal itu selain membutuhkan sebuah bangunan kuat yang dapat menahan setiap goncangan, juga akan mengeluarkan radiasi yang kuat dan berat.”



Dalam bukunya yang berjudul Hitler’s Suppressed and Still-Secret Weapons, Science and Technology, Stevens menulis tentang percakapan yang terjadi di tahun 60-an antara ayah temannya dengan boss-nya di NASA, Otto Cerny, yang ternyata adalah ilmuwan Jerman dari Operation Paperclip. Pada mulanya Cerny hanya samar-samar saja bercerita tentang apa yang dia lakukan di masa lalu, dan berkata bahwa itu adalah “eksperimen aneh tentang alam waktu”. Tapi kemudian dia menggambar sebuah struktur yang dibuat dari lingkaran batu-batu dengan sebuah cincin di atasnya bersama dengan cincin kedua yang seperti tempat menggantung sesuatu. Cerny manambahkan bahwa di atas struktur batu tersebut dipasang sebuah cermin cekung yang membuat “bayangan-bayangan di masa lalu” tampak kembali di masa kini. Dia mengklaim bahwa adalah mungkin untuk “kembali ke masa lalu dan menjadi saksi apa yang terjadi di masa itu” meskipun tetap kita tidak bisa maju ke masa depan!



Die Glocke muncul juga di buku-buku lain, film, lagu, dan bahkan game :

Buku :

- Black Order (2005) oleh James Rollins – tema utama

- Swastika (2005) oleh Michael Slade – tema utama

- Black Sun (2006) oleh James Twining



Film :

- Outpost (2008) oleh Steve Barker – tema utama

- Iron Sky (2009) oleh Timo Vuorensuola



Musik :

- Die Glocke (2009) oleh Cage, dalam album Science of Annihilation



Video Game :

- Call of Duty: World at War – masuk dalam level Zombie Nazi “Der Riese” untuk Map Pack 3 sebagai teleporter

- Wolfenstein – masuk ke dalam salah satu proyek-proyek khusus Nazi





Sumber :

www.deviantart.com

www.en.wikipedia.org

www.watchgeeks.net

www.lycos.es

www.omforintelsen.se





Hauptmann Egon Albrecht (1918-1944), Pilot Jagoan Luftwaffe Dari Brazil!

Egon Albrecht (kanan) sedang berbincang-bincang dengan jagoan tempur malam Luftwaffe Helmut Lent



Egon Albrecht sebagai Oberleutnant setelah menerima Ritterkreuz


Satu-satunya foto Egon Albrecht dengan tanda-tangannya!


Egon Albrecht (duduk pertama dari kiri di baris belakang) dalam pertemuan para perwira dari I Jagdkorps


Dari kiri ke kanan: Oberst Johannes "Hannes" Trautloft (Inspizient Ost beim General der Jagdflieger), Generalmajor Adolf Galland (General der Jagdflieger); Major Hans-Günter von Kornatzki (Geschwaderkommodore JG 4); Oberleutnant Walter Krupinski (Staffelkapitän 7./JG 52); dan Hauptmann Egon Albrecht (Gruppenkommandeur III./JG 76)


Egon Albrecht sebagai Hauptmann


Batu nisan Egon Albrecht. Perhatikan bahwa disini namanya adalah Egon Albrecht-Lemke!


-->
Oleh : Alif Rafik Khan

Egon Albrecht dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1918 di Curitiba, Brazil. Mengenai hal ini ada sesuatu yang menarik untuk dicatat : Dr. Ruy Olympio melakukan penelitian mengenai tempat lahir Albrecht, yang saat itu diyakini berada di distrik Paraná, Curitiba. Dengan terkejut, dia mendapati bahwa pada tanggal 10 Mei 1918 telah lahir dua bayi bernama Egon! Yang pertama bernama Egon Alberto Kummrow, anak dari Guillermo Kummrow dan Cecília Kummrow. Sedangkan satunya lagi bernama Egon Friedrich Kurt, anak dari Frederico Albrecht dan Hedwig Elditt Albrecht. Pertanyaannya kemudian, yang manakah yang nantinya menjadi Egon sang pilot jagoan Luftwaffe? Pada mulanya Olympio berkeyakinan bahwa si pilot adalah Egon Alberto Kummrow, yang kemudian mengganti namanya menjadi lebih berbau Jerman (Egon Albrecht) ketika pindah ke negaranya Adolf Hitler. ternyata penelitian lanjutan membuktikan bahwa sebenarnyalah Egon Albrecht lahir di distrik Portão dan bukan di Paraná, sehingga satu nama yang masuk kriteria ini adalah Egon Friedrich Kurt, yang kemungkinan besar mengubah namanya ketika dewasa menjadi Egon Albrecht sesuai dengan nama keluarganya. Lah, terus kenapa pula waktu dia diregistrasi lahir memakai nama Egon Friedrich Kurt? Apakah Egon sendiri adalah anak adopsi dari keluarga Albrecht?

Tahun 1940 Albrecht bertugas di 6./ZG 1 yang mengoperasikan pesawat pemburu bermesin ganda Messerschmitt Bf 110. Tanggal 26 Juni 1940 6./ZG 1 dirubah menjadi 9./ZG 76, dan kemudian menjadi 6./SKG 210 tanggal 24 April 1941. bersama dengan 6./SKG 210 Albrecht bertempur di medan perang Rusia. Tanggal 4 Januari 1942, 6./SKG 210 dirubah kembali menjadi 6./ZG 1. Albrecht ditunjuk sebagai Staffelkapitän dari 1./ZG 1 tanggal 12 Juni 1942. oberleutnant Egon Albrecht dianugerahi Ritterkreuz tanggal 25 Mei 1943 setelah mencatat 15 kemenangan udara, menghancurkan 11 pesawat musuh di darat, 162 kendaraan bermotor, 254 kendaraan yang ditarik kuda, 3 lokomotif, 8 posisi flak, 12 posisi anti-tank, 10 posisi artileri dan 8 posisi infanteri (bunker) yang kesemuanya dia hancurkan dari udara!

Tanggal 9 Oktober 1943 Hauptmann Albrecht menggantikan Hauptmann Karl-Heinrich Matern (12 kemenangan udara, peraih Ritterkreuz yang terbunuh dalam tugas tanggal 8 Oktober 1943) sebagai Gruppenkomandeur dari II./ZG 1. bulan itu pula II./ZG 1 dipindahkan ke Front Barat dan berpangkalan di pantai Atlantik Prancis, dengan tugas melakukan patroli rutin di sepanjang pantai Biscay. Tapi tak lama kemudian, masih di bulan Oktober 1943, Gruppe pimpinan Albrecht ditransfer ke Wels di Austria untuk menghadang penyusupan yang biasa dilakukan oleh pesawat-pesawat Sekutu yang datang dari Selatan, tepatnya USAAF 15th Air Force yang berpangkalan di Italia. Pada bulan Juli 1944, II./ZG 1 kembali ke Jerman untuk pengkonversian pesawat-pesawatnya menjadi Messerschmitt Bf 109 yang bermesin tunggal dan perubahan nama menjadi III./JG 76. Albrecht kemudian memimpin Gruppe-nya ke tempat invasi Sekutu. Tanggal 25 Agustus 1944 Albrecht terpaksa break-off dari misinya karena masalah mesin pada pesawatnya. Dalam perjalanan pulang dia berpapasan dengan sebuah pesawat pemburu P-51 dari USAAF. Dalam aksi dog-fight yang terjadi kemudian, pesawat Albrecht (Bf 109 G-14 W.Nr. 460 593 “Schwarze 21”) ditembak jatuh di atas St. Claude dekat Creil. Albrecht berhasil keluar dari pesawatnya yang menukik jatuh, tapi telah menjadi mayat ketika kemudian ditemukan di darat.

Egon Albrecht berhasil mencatat 25 kemenangan udara (15 kemenangan di Front Timur dan 10 kemenangan di Front Barat) dalam 250 misi tempur. Termasuk di antara kemenangannya adalah enam buah pesawat pembom bermesin empat. Sebagai tambahan, dia berhasil menghancurkan 11 pesawat musuh di darat.

Selain Egon Albrecht, pilot Luftwaffe lain yang berasal dari Brazil di antaranya adalah Wolfgang Ortmann. Sedangkan setelah perang, pilot Luftwaffe yang bermigrasi ke Brazil adalah Martin Drewes pada tahun 1949.

Unit yang pernah dimasuki Egon Albrecht :
Zerstörergeschwader 76
Stukageschwader 210
Zerstörergeschwader 1
Jagdgeschwader 76

Medali yang diterima oleh Egon Albrecht :
22 Mei 1943 Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes sebagai Oberleutnant dan Staffelkapitän dari 6./Zerstörergeschwader 1
3 Desember 1942 Deutsches Kreuz in Gold
21 September 1942 Ehrenpokal
Eisernes Kreuz I. Klasse
Eisernes Kreuz II. Klasse
Frontflug-Spange in Gold
Frontflug-Spange in Silber
Frontflug-Spange in Bronze
Flugzeugführerabzeichen
Verwundetenabzeichen, 1939 in Silber (atau Gold)
Medaille "Winterschlacht im Osten 1941/42"
Goldenes Hitlerjugend Abzeichen

Sumber :


Tanggal
Jam
Tipe
Unit
Lokasi
4.7.1942
16:18
Yak-1
1./ZG 1
8126
4.7.1942
16:27
Yak-1
1./ZG 1
8123
5.11.1942
8:25
I-16
II./ZG 1
44 853
22.2.1944
12:50
B-24
Stab II./ZG 1
S Pilsen
23.2.1944
12:02
B-24
Stab II./ZG 1
S Wels
25.2.1944
13:11
B-24
Stab II./ZG 1
40km NNW Brück
12.4.1944
12:13
B-24
Stab II./ZG 1

E Wiener Neustadt

26.6.1944
9:32
B-24
Stab II./ZG 1
NW Pressburg
26.6.1944
9:52
B-24
Stab II./ZG 1
Stockerau

Minggu, 15 November 2009

U-196, Kapal Selam Jerman Yang Hilang Di Laut Kidul!

Film tentang U-196. Sudah pernah nonton?

U-196 sedang mengisi bahan bakar di tengah lautan. Nggak kebayang kalau kru yang memegang selang itu pada nyemplung ke laut gara-gara ombak!

U-196 baru meninggalkan galangan kapalnya untuk berpatroli menyusuri lautan

Dari sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.
Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).
Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.
Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya "mengabarkan" terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.
Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di Kampung Arca Domas Bogor, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.
Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.
Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.
Posisi Friedrich Kentrat kemudian digantikan Werner Striegler (mantan komandan U-IT23) sejak 1 Oktober 1944, sampai kemudian U-196 mengalami musibah sebulan kemudian.
Kendati demikian, sebagian pihak masih berspekulasi atas tidak jelasnya nasib sebagian besar awak U-196. Walau secara umum mereka dinyatakan ikut hilang bersama kapal selam itu di Laut Kidul, namun ada yang menduga sebagian besar selamat.
Konon, kapal ini datang ke Amerika Selatan kemudian sebagian awaknya bermukim di Iqueque, Chile. Dari sini pun, tak jelas lagi apakah U-196 akhirnya benar-benar beristirahat di sana, apakah kemudian kapal selam itu ditenggelamkan atau dijual ke tukang loak sebagai besi tua, dll.
Seseorang yang mengirimkan e-mail dari Inggris, yang dikirimkan 14 Oktober 2004, masih mencari informasi yang jelas tentang keberadaan nasib awak U-196. Ia menduga, U-196 sebenarnya tidak mengalami kecelakaan terkena ranjau di sekitar Selat Sunda dan Laut Kidul, sedangkan para awaknya kemudian menetap di Cile.
Keyakinannya diperoleh setelah membaca sebuah surat kabar di Cile, sejumlah awak kapal selam Jerman telah berkumpul di Iqueque pada tahun 1945. Mereka tiba bersamaan dengan kapal penjelajah Almirante Latorre, yang mengawal mereka selama perjalanan dari Samudra Hindia. Di bawah perlindungan kapal penjelajah itu, kapal selam tersebut beberapa kali bersembunyi di perairan sejumlah pulau, sebelum akhirnya berlabuh di Pantai Selatan Cile.
Yang menimbulkan pertanyaan dirinya, mengapa setelah tiba di Cile, tak ada seorang pun awaknya pulang ke Jerman atau mencoba bergabung kembali dengan kesatuan mereka. Ini ditambah, minimnya kabar selama 50 tahun terakhir yang seolah-olah "menggelapkan" kejelasan nasib U-196, dibandingkan berbagai u-boat lainnya yang sama-sama beraksi di Indonesia.

Entahlah, kalau saja Dr. Heinz Haake masih hidup dan menjadi warga negara Indonesia, mungkin ia dapat menceritakan peristiwa yang sebenarnya menimpa U-196! BTW, berdasarkan data dari Volksbund, Oberleutnant (Ing.) Dr. Heinz Haake lahir tanggal 21 Januari 1914 dan meninggal bulan November 1944 (tanpa tanggal).

Sumber :
Artikel karya Kadar Solihat di koran "Pikiran Rakyat"

www.amazon.com
www.facebook.comwww.forum.axishistory.com
www.german-uboats.com
www.subsim.com
www.uboat.net
www.volksbund.de



--------------------------------------------------------------


Korvettenkapitän Eitel-Friedrich Kentrat (tengah) menikmati bir Beck's yang lama diidam-idamkan bersama dengan dua orang pimpinannya tak lama setelah pulang dari patroli luar biasa panjang selama 225 hari bersama dengan U-196! Mengapit di sebelah kiri adalah Kapitän zur See Hans Rudolf Rösing (Führer der Unterseeboote West) dan kanan Korvettenkapitän Klaus Scholtz (Kommandeur 12. Unterseebootsflottille). Meskipun dalam patroli pertamanya sebagai komandan U-196 tersebut Kentrat hanya mampu menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 12.000 GRT saja, tapi dia tercatat sebagai patroli terpanjang yang pernah dilakukan oleh sebuah kapal selam selama berlangsungnya Perang Dunia II! Kentrat berangkat dari Kiel (Jerman) tanggal 13 Maret 1943 dan pulang ke Bordeaux (Prancis) tanggal 23 Oktober 1943, dan patroli selama itu telah meninggalkan bekasnya di wajah sang komandan yang terlihat kurus dan lesu seakan baru keluar dari kamp konsentrasi!


Rekor TERPANJANG/TERLAMA Nazi Jerman!

Patroli U-boat terlama : Korvettenkapitän Eitel-Friedrich Kentrat adalah jagoan u-boat yang terkenal (dan pernah beroperasi di perairan Indonesia). Patroli pertamanya dengan U-196 menjadi terkenal ke seluruh dunia meskipun dia hanya berhasil menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 12.000 ton. Patroli tersebut tercatat sebagai patroli paling lama yang dilakukan oleh sebuah kapal selam di saat perang (sampai pada saat itu). U-196 meninggalkan galangan kapal Kiel tanggal 13 Maret 1943 dan pulang kembali ke Bordeaux tanggal 23 Oktober 1943, 225 hari kemudian! Dalam foto di atas terlihat jelas pengaruh patroli yang lama dan menegangkan tersebut dalam wajah Kentut eh Kentrat

Rabu, 11 November 2009

Kisah-Kisah Seram Dari Bekas Lokasi Pertempuran Perang Dunia II Di Rusia!

Siluet prajurit Cekoslowakia dengan helmnya yang membuat heboh


Beberapa tahun yang lalu di Russia terkenal dengan ‘Arkeolog Hitam’ orang-orang yang independen melakukan penggalian di tempat-tempat bekas pertempuran Perang Dunia II dan mencari barang peninggalan berharga ,terkadang dalam pencarian mereka, mereka menemukan fenomena yang sangat aneh.

Leningradsky Luban–Pada tahun 1997, sekelompok enam orang menuju Leningradsky Luban, di mana puing-puing biara Makaryevsky hancur selama sisa perang di tengah-tengah rawa-rawa. Mendekati reruntuhan, kelompok itu melihat api unggun. Mereka terkejut untuk mengetahui bahwa api unggun tergantung tepat di udara. Segera setelah mereka mendekati reruntuhan, api unggun itu menghilang.

“arkeolog hitam” berdiam di sebuah kamp bekas reruntuhan perang. Sepanjang malam, mereka terganggu oleh jeritan manusia yang berasal dari hutan. Tak satu pun dari mereka bergegas untuk membantu atau mendekati teriakan itu.

Keesokan paginya, salah satu arkeolog pergi ke hutan dan tersesat. Dia kembali tiga jam kemudian, dengan pakaian kotor dan wajahnya nampak gila. Dia tidak pernah mengatakan kepada teman-temannya apa yang terjadi padanya.

Myasnoy Bor–Salah satu yang paling terkenal zona anomali terhubung ke Perang Dunia II adalah sebuah lembah berawa Myasnoy Bor terletak 30 kilometer jauhnya dari Novgorod. Banyak prajurit Soviet Serangan Kedua Angkatan Darat, divisi Wehrmacht Jerman, Spanyol “Blue Divisi” dan tentara lainnya tewas di wilayah ini selama Operasi Ofensif Lyuban 1942. Banyak sisa-sisa mayatnya masih terkubur di sini.

Galina Pavlova, ketua kelompok “pencari” dari kota Engels di wilayah Saratov menceritakan tentang sebuah insiden yang terjadi padanya pada tahun 1997: “Hutan dari Myasnoy Bor itu menakutkan dan mistik. Segera setelah Anda ditinggalkan di sana sendiri, hutan mulai membuat suara. Anda dapat dengan jelas mendengar teriakan “Hore,” seolah-olah jiwa dari prajurit tewas masih melakukan serangan. Pada hari kami menemukan tambang, aku berada di belakang orang-orang. Aku berhenti di sebuah titik yang digali berkali-kali sebelumnya. Tiba-tiba, aku melihat bahwa pohon-pohon itu condong ke arah tempat yang sama meskipun tidak berangin sama sekali. Aku memanggil orang-orang, dan kami menemukan sebuah kotak kayu lapuk dan tambang tua. “

Bryansk–Alexei, seorang “arkeolog hitam” yang menggali di hutan dekat Bryansk di mana pasukan garis depan Russia berada pada tahun 1942-1943, menceritakan cerita yang menarik.
“Kami menggali mayat enam Rusia dan 11 tentara Jerman, empat diantaranya adalah tentara Wehrmacht di rawa-rawa parit penampungan. Kami memotong kayu yang sudah lapuk dan menemukan sepatu bot Jerman dengan tulang mencuat keluar. Kemudian kami mulai penggalian dengan lebih hati-hati, dan menemukan tulang panggul, tulang punggung, dan tulang rusuk. Sedikit demi sedikit kita menggali keluar sisa-sisa dari empat orang kerangka itu. Mulai gelap. Kami meninggalkan kerangka di parit dan berkemah di padang rumput sekitar 200 meter jauhnya.

Pada malam hari, sesuatu terjadi. Kami terbangun oleh Valera, seorang pria yang berjaga malam. Dia mengatakan kepada kami bahwa sesuatu yang aneh sedang terjadi. Kami bangun dan mulai mendengarkan dengan cermat. Kami bisa mendengar pidato dengan bahasa jerman, lagu, tawa dan denting rel. Itu sangat menakutkan.

Di pagi hari kami pergi ke parit. Itu tampak sama seperti ketika kita meninggalkannya. Tapi ketika kita berjalan sedikit lebih jauh, kami melihat parit bekas tank, dan yang paling menakjubkan, terlihat jejak Tank yang masih baru!. “
Zheltoyar–Ada zona anomali Zheltoyar, lebih dikenal sebagai zona anomali Novokhopersk, di bagian timur wilayah Voronezh, dekat kota Novokhopersk.
Silouet seorang prajurit Ceko
Anggota ekspedisi dari komite Voronezh untuk mempelajari fenomena anomali dipimpin oleh seorang peneliti terkenal Genrikh Silanov, berhasil mengambil gambar orang-orang tentara berpakaian seragam di dekat tenda. Sebuah pesawat hantu muncul di salah satu foto. Para peneliti percaya bahwa ini adalah foto Perang Dunia II. Salah satu foto menunjukkan siluet seorang prajurit Ceko. Kemudian para peneliti menemukan bahwa sebuah divisi Ceko yang merupakan bagian dari Tentara Soviet dahulu kala terletak di daerah itu.

Silanov percaya bahwa foto-foto itu khas “chronal fatamorgana” yang diciptakan oleh apa yang disebut “bidang memori” terhubung ke peristiwa dramatis yang terjadi di masa lalu.


Sumber :
www.fadlyy.blogspot.com