Rabu, 11 Juni 2014

PzKpfw IV (Panzerkampfwagen IV)










Oleh : Hostuf Rizal

Keterangan masing-masing gambar :

1: Panzer IV Ausf. A yang sedang dalam masa percobaan di tahun 1938.
2: Panzer IV Ausf. B
3: Panzer IV Ausf. D
4: Panzer IV Ausf. F/1 dari Resimen Panzer Ke-5, Divisi Panzer 'Leichtes' Ke-5, Tobruk, Libya, Maret 1941.
5: Dalam bahasa Inggris Panzer IV Ausf F2 Libya 1942. Ausf F2, 4th Kompanie, Ist Abteilung, VIIIth Panzer-Regiment, XVth.Panzerdivision, DAK, El Alamein (Egypt) October 1942
6: Panzer IV Ausf. G
7: Panzer IV Ausf. H. Terlihat jelas dalam jenis tank ini terdapat plat baja sebagai pelindung samping di bagian sisi tank, Schürzen.
8: Panzer IV Ausf. J. Dalam tank jenis ini, kali ini, pelindung dimodifikasi sedikit, sehingga menjadi jaring-jaring kawat baja, Drahtgeflecht Schürzen, untuk mengurangi beban tank, sehingga menambah kecepatan.
 
---------- ----------

Panzer IV diproduksi dalam waktu yang bersamaan dengan Panzer III. Jika Panzer III dirancang untuk menghancurkan tank lawan maka Panzer IV lebih banyak berperan sebagai dukungan antiinfanteri atau untuk melawan tank-tank ringan. Dua model tank ini menjadi kekuatan utama kesatuan lapis baja Jerman sampai dilancarkannya Operasi Barbarossa. Panzer IV sering dikerahkan bersama dengan Panzer III untuk saling mendukung satu sama lain dengan perannya masing-masing.

Model paling awal dari Panzer IV (Panzer IV Ausf. A) pertama kali meninggalkan pabrik pada Oktober 1937. Selama 6 bulan berikutnya, produksi Panzer IV A adalah sebanyal 35 unit. Pada modifikasi berikutnya (Panzer IV B dan Panzer IV C) tidak begitu banyak mendapat perubahan yang dilakukan, dan model-model ini pun masih dalam berupa prototipe. Model pertama yang merupakan unit tempur sebenarnya yang diproduksi secara massal adalah Panzer IV D, dengan lapisan pelindung yang lebih tebal.

Meriam yang digunakan Panzer IV pada versi-versi awal (Panzer IV Ausf. A sampai Panzer IV Ausf. F) adalah 75 mm KwK 37 L/24 yang berlaras pendek namun menggunakan amunisi High Explosive. Peran Panzer III dan Panzer IV saling ditukar pada Operasi Barbarossa di medan perang Russia, di mana Panzer III sebagai tank tempur utama Jerman yang telah dipersenjatai dengan meriam antitank 50 mm ternyata masih belum mampu menghadapi T-34 maupun KV-1 milik Uni Soviet.

Senjata Panzer IV kemudian diganti dengan meriam antitank 75 mm KwK 40 L/43 (terdapat pada Panzer IV F/2) dengan laras yang lebih panjang sehingga mampu menambah daya jangkauan dan kekuatan penetrasi. Ini dilakukan sambil menunggu model terbarunya (Panzer IV G) selesai diproduksi pada pertengahan 1942. Panzer IV G diproduksi dengan menambah tebal lapisan pelindung turret. Pada beberapa unit juga dilakukan penambahan plat baja (Schürzen) di bagian samping untuk menambah perlindungan.

Pada model berikutnya, (Panzer IV H), meriam diganti lagi dengan 75 mm KwK 40 L/48 yang berlaras lebih panjang lagi. Panzer IV H adalah model yang paling banyak diproduksi, yaitu sebanyak 3700 unit. Model terakhir adalah Panzer IV J yang mulai diproduksi pada akhir 1944. Panzer IV J mempunyai kapasitas bahan bakar yang lebih besar dan desain track yang baru. Selain itu, lapisan plat baja pelindung samping Schürzen, seperti pada model Panzer IV G dan Panzer IV H diganti dengan pelindung dari jaring-jaring kawat baja (Drahtgeflecht Schürzen) untuk mengurangi berat tank.

Sebanyak 42 unit Panzer IV juga sempat dicoba untuk dimodifikasi sebagai tank penyelam (Tauchpanzer) sebagai bagian dari persiapan invasi Jerman ke tanah Inggris (Operasi Singa Laut). Namun, operasi ini batal dilaksanakan karena Luftwaffe Jerman gagal melumpuhkan kekuatan Angkatan Udara Inggris (RAF) pada babak pendahuluan pertempuran di atas langit Inggris (Battle of Britain). Total produksi Panzer IV dari semua model adalah sebanyak 9000 unit, dan merupakan tank yang paling banyak diproduksi oleh Jerman sepanjang Perang Dunia II.

Statistik PzKpfw IV :

*Kelas : Medium tank
*Berat :
-) 17,3 ton (Panzer IV A)
-) 17,7 ton (Panzer IV B)
-) 18,5 ton (Panzer IV C)
-) 20 ton (Panzer IV D)
-) 21 ton (Panzer IV E)
-) 22,3 ton (Panzer IV F/1)
-) 23 ton (Panzer IV F/2)
-) 23,5 ton (Panzer IV G)
-) 25 ton (Panzer IV H, J)
*Senjata Utama :
-) 75 mm KwK 37 L/24 (Panzer IV A, B, C, D, E, F/1)
-) 75 mm KwK 40 L/43 (Panzer IV F/2, G)
-) 75 mm KwK 40 L/48 (Panzer IV H, J)
*Kru : 5 orang
*Pelindung :
-) 8 - 15 mm (Panzer IV A)
-) 8 - 30 mm (Panzer IV B, C)
-) 10 - 30 mm (Panzer IV D)
-) 10 - 50 mm (Panzer IV E, Panzer IV F/1)
-) 10 - 60 mm (Panzer IV F/2, Panzer IV G)
-) 10 - 80 mm (Panzer IV H, J)
*Kecepatan :
-) 30 km/jam (Panzer IV A)
-) 40 km/jam (Panzer B, C, D, E,G)
-) 42 km/jam (Panzer IV F/1)
-) 38 km/jam (Panzer IV F/2, H, J)

Sumber :
- Darmawan, Muh. Daud (2010). "Kendaraan Tempur Perang Dunia II". Penerbit NARASI



Foto Berwarna Kapal Kriegsmarine

Foto ini memperlihatkan sebuah Marinefährprahm Jerman (atau Motozattera Italia) yang sedang berlabuh di sebuah pelabuhan di Afrika Utara (kemungkinan Benghazi atau Tripoli). Penutup kompartemennya yang terbuat dari baja bergelombang dalam keadaan terbuka di bagian haluan. Marinefährprahm (MFP) atau "bargas angkut laut" adalah kapal pendarat terbesar yang dioperasikan oleh Kriegsmarine Jerman dalam Perang Dunia II. Dia mempunyai beragam fungsi seperti alat transportasi, penanam ranjau, pengawal, gunboat dan sebagainya, dan bertugas mulai dari perairan Mediterania, Baltik, Laut Hitam, Selat Inggris, sampai pantai Norwegia. Pertama dikembangkan untuk rencana invasi ke Inggris (Unternehmen Seelöwe), generasi pertama kapal jenis ini pertama kali bertugas tanggal 16 April 1941 dan ketika perang berakhir di bulan Mei 1945 telah dibuat sebanyak 700 buah. Sumber-sumber Sekutu biasa menyebut kapal dari jenis ini sebagai "Flak Lighter" atau "F-lighter". Foto di atas diambil oleh Jenderal Erwin Rommel dalam kampanye di Afrika Utara tahun 1941


Sumber :
www.cybermodeler.com

Selasa, 10 Juni 2014

Bir (Bier/Bräu) Zaman Nazi


Foto hasil karya Franz Eichberger ini diambil pada bulan Juni 1932 menggunakan kamera Leica I 35mm dan memperlihatkan parade para anggota SA (Sturmabteilung) di jalanan Wedding (salah satu distrik di Berlin). Ini merupakan salah satu unjuk kekuatan partai Nazi sebelum pemilihan umum tanggal 31 Juli 1932, dan dengan sengaja mereka berbaris dengan gagahnya di wilayah yang dikenal sebagai basis partai komunis Jerman! Menariknya, di belakang kiri kita bisa melihat banner dari sebuah Biergarten atau Ausflugslokal (kios bir dadakan yang biasanya digelar di taman) bernama "Sturm-Lokal" yang menyajikan andalan utama Schultheiß Bier (bir Schultheiß) untuk pengunjungnya. Di Berlin sendiri bersaing dua merk bir setempat: Schultheiß dan Berlin Kindl. Masing-masing mempunyai kelebihannya dan komunitas peminumnya sendiri. "Bier her, Bier her- oder ich fall um...dra ra dumm..."


Foto minum bir zaman Nazi bisa dilihat DISINI!

Oleh : Alif Rafik Khan

Bir sampai saat ini masih menjadi minuman yang sangat populer di Jerman (dan juga di negara-negara Eropa lainnya). Begitu pula di zaman saat Adolf Hitler berkuasa. Setiap kota rata-rata mempunyai satu penyulingan atau merknya sendiri, meskipun di akhir-akhir perang kualitas bir menurun drastis dan lebih banyak kandungan airnya. Merk yang populer di Prusia saat itu adalah Dortmunder Union dan Dortmunder Hansa, juga terdapat Wickühler yang berasal dari Wupperthal. Merk-merk lainnya adalah Erdinger Weissbräu (Münich), Pschorr Bräu, Kulmbacher, dan lain-lain. Kadang-kadang tempat penyulingan bir ini, baik secara sengaja ataupun tidak, menjadi lokasi pemboman Sekutu. Sebagai contoh adalah penyulingan di Lohbusch yang mendapat hantaman bom saat berlangsungnya serangan udara Sekutu tanggal 24 Februari 1945. Beberapa galon penyimpan pecah sehingga jalanan dibasahi oleh bir!

Industri bir dan perdagangannya di Jerman pada saat itu masih terlokalisasi dan tidak dipasarkan secara global seperti sekarang. Biasanya pembuatnya adalah pemilik bar atau restoran yang menyediakan merk bir yang bernama sama dengan bar/restoran mereka. Mereka menyewa fasilitas penyulingan untuk memproduksi bir yang memajang brand mereka. Karenanya di banyak merk kita bisa melihat logo tempat penyulingan yang bersanding dengan logo perusahaan birnya. Uniknya, rata-rata pemilik merk memilih tempat penyulingan yang jauh jaraknya dari lokasi mereka untuk menjamin lebih luasnya jalur distribusi dan pasar peminum bir (umumnya berada di jalur jalan antara pembuat merk dan penyulingan)! Seringkali lokasi penyulingan berada di dalam atau sekitar gereja, karena beberapa ratus tahun yang lalu hanya pihak gereja yang berhak mengatur produksi dan distribusi bir!

Sebelum dan selama Perang Dunia II, secara umum orang Jerman minum bir rame-rame di Gasthaus/bar atau di rumah. Kebanyakan dari birnya (yang dikemas dalam botol) diperjualbelikan di warung-warung pinggir jalan (Kiosks) atau di toko kelontong biasa. Bir untuk remaja dan bir untuk orang dewasa sedikit berbeda. Karena harganya yang lebih mahal, bir untuk konsumsi bapak-bapak biasanya dijual dalam bentuk kontainer terbuka (jug) secara literan di restoran atau bar. Yang membelinya adalah anak-anak mereka, yang biasanya antri sebelum makan malam di hari minggu sambil membawa jug di tempat penjualan bir segar.

Bagi peminum bir sejati (Bierdimpfler), kemasan bir dalam botol dianggap kurang rasanya dibandingkan bir yang dijual dalam kemasan terbuka atau langsung ngocor dari drumnya. Untuk mendapatkan bir sendiri tidak terlalu sulit karena di setiap desa di Jerman rata-rata mempunyai satu Gasthaus tempat nongkrong. Gasthaus populer zaman Nazi yang masih ada sampai saat ini contohnya adalah Hofbräu Haus, Löwenbräukeller dan Torbraeu im Tal yang semuanya ada di Münich (yang memang merupakan pusat bir Jerman dan ajang pesta bir Oktoberfest yang digelar tiap tahun!).

Saat berlangsungnya Perang Dunia II, tipe bir yang anda minum tergantung dari lokasi anda berada. Sebagai contoh, di Bavaria orang-orang secara umum minum bir Hefewiezen dan Marzen, di Düsseldorf Altbier, di Köln Kölsch, dan di Jerman selatan dekat Cekoslowakia Pilsen. Saat ini jenis-jenis bir tersebut telah lebih mengglobal dan tidak hanya didapatkan di wilayah tertentu seperti baheula.

Jerman sendiri mempunyai tradiri bir yang menarik dan telah berlangsung selama beratus-ratus tahun. Sampai saat bergabungnya mereka dengan Uni Eropa, semua perusahaan penyulingan bir disana harus mematuhi peraturan yang telah diterapkan dari sejak tahun 1516 yang dikenal dengan nama Reinheitsgebot. Intinya, peraturan ini mewajibkan bahwa bir harus dibuat HANYA dengan perpaduan bahan air, bunga hop kering, ragi dan gandum! Pada tahun 1994 peraturan ini dimodifikasi menjadi Biergesetz yang memperbolehkan bir dari negara Eropa lain masuk Jerman meskipun harus ada keterangan di bungkusnya.

Jangan lupakan pula bahwa salah satu usaha percobaan pembunuhan terhadap Hitler dilakukan di tempat minum bir, tepatnya di Bürgerbräukeller (Münich) tanggal 8 November 1939. Setelah mengalami kerusakan beberapa kali akibat serangan udara Sekutu, tempat nongkrong favorit para petinggi Nazi tersebut diperbaiki seusai perang dan menjadi lokasi US Army Service Club yang merupakan tempat hiburan utama prajurit Amerika di Jerman. Bagian belakangnya dirubah menjadi ballroom besar dengan panggung raksasa. Banyak para penghibur terkemuka Amerika saat itu yang mentas di Bürgerbräukeller, seperti Johnny Cash dan band pengiringnya. Saat ini Bürgerbräukeller sudah diruntuhkan dan di lokasi tempatnya didirikan kini bertengger salah satu cabang hotel Hilton.

Merk bir populer yang "beredar" zaman Nazi:
- Astra Urquell
- Beck's
- Berliner Kindl
- Dortmunder Hansa
- Dortmunder Union
- Erdinger Weissbräu
- Grüner Bräu Bad Tölz
- Hasen-Bräu Augsburger
- Hofbräu München
- Kulmbacher
- Lederer Braü Nürnberg
- Pschorr Bräu
- Radeberger
- Ratsherren Pilsener
- Schultheiß 
- St. Pauli Girl
- Weihenstephan 
- Wernesgrüner
- Wickühler
- Würzburger



Sumber :
Foto koleksi pribadi Dwight R. Messimer
www.forum.axishistory.com
www.germanpostalhistory.com
www.warrelics.eu

---------------------------------------------------------------------------











Foto Berwarna RAD (Reichsarbeitsdienst)

Foto yang memperlihatkan seorang prajurit RAD (Reichsarbeitsdienst) berpangkat Feldmeister dengan perban di kepalanya yang terluka yang diambil di Rusia tanggal 6 September 1941 ini dijual di ebay Jerman dengan harga gila-gilaan: 465 Euro! Orang yang memotretnya bernama Klinzy, dan saya tidak tahu apakah dia seorang Kriegsberichter (Koresponden Perang) atau bukan, meskipun kemungkinan besar dia adalah prajurit biasa karena keamatirannya terlihat dengan adanya bayangan dia yang "ngebelegedeg" di foto ini!


Sumber:

Foto Berwarna Prajurit Jerman (Soldat/Landser) Dalam Perang Dunia II

Foto yang sedikit tidak fokus yang memperlihatkan seorang Gruppenführer (komandan skuad) Heer dengan stahlhelm-nya yang terbalur lumpur di Rusia tahun 1941 ini dijual di ebay Jerman dengan harga 109 Euro! Orang yang memotretnya bernama Klinzy, dan saya tidak tahu apakah dia seorang Kriegsberichter (Koresponden Perang) atau bukan


Foto yang memperlihatkan seorang prajurit RAD (Reichsarbeitsdienst) berpangkat Feldmeister dengan perban di kepalanya yang terluka yang diambil di Rusia tanggal 6 September 1941 ini dijual di ebay Jerman dengan harga gila-gilaan: 465 Euro! Orang yang memotretnya bernama Klinzy, dan saya tidak tahu apakah dia seorang Kriegsberichter (Koresponden Perang) atau bukan, meskipun kemungkinan besar dia adalah prajurit biasa karena keamatirannya terlihat dengan adanya bayangan dia yang "ngebelegedeg" di foto ini!


Sumber :
www.wehrmacht-awards.com

Album Foto Persidangan Tokoh Nazi di Pengadilan Penjahat Perang

Pembacaan keputusan dalam pengadilan militer para perwira tinggi Wehrmacht di Riga (Latvia), hari minggu tanggal 3 Februari 1946. Wajah-wajah mereka yang murung luar biasa bukannya tanpa alasan: mereka telah dijatuhi hukuman mati oleh Distrik Militer Baltik Soviet dengan digantung di depan umum dan dilaksanakan di bekas Ghetto Riga pada hari yang sama! Para terpidana dari kiri ke kanan: SS-Obergruppenführer Friedrich Jeckeln (Kommandierender General V. SS-Freiwilligen-Gebirgs-Korps), Generalmajor Hans Paul Küpper (Kommandant von Dünaburg), Generalleutnant Siegfried Ruff (Kommandant Festungen Riga und Ventspils), SA-Standartenführer Alexander Böcking (Gebietskommissar in Estland), Generalleutnant Wolfgang von Ditfurth (Kommandeur 403. Sicherungs-Division), Generalleutnant Albrecht Baron Digeon von Monteton (Kommandeur 391 Sicherungs-Division z.b.V. und der 52. Sicherungs-Division und der Festung Liebau), dan Generalmajor Bronislaw Pawel (Kommandeur der Kriegsgefangenen beim Wehrmachtsbefehlshaber Ostland). Sebenarnya ada perwira Jerman lain yang dijatuhi hukuman mati di hari dan tempat yang sama, namun entah kenapa mereka tidak nongtot dalam foto ini: Generalmajor Friedrich Werther (Kommandant der 189. und der 186. Kommandantur, Chef der Befestigungsanlagen von Riga und Jurmala und Kommandeur der Uferverteidigung an der Rigaer Bucht), SS-Sturmbannführer Georg Sauer (Kommandeur des KZ Kaiserwald), dan Leutnant Hans Buchholz (Kommandeur eines SS-Kommandos). Uniknya, sumber lain menyebutkan bahwa Wolfgang von Ditfurth berhasil lolos dari hukuman meskipun tak lama kemudian meninggal di penjara tanggal 22 Maret 1946. Penyebabnya secara resmi dinyatakan sebagai: gagal jantung akibat komplikasi aterosklerosis, nephrosis nephritic dan kegagalan koroner


Sumber :
www.digitalassets.ushmm.org
www.forum.axishistory.com

PzKpfw III (Panzerkampfwagen III)



Oleh: Hostuf Rizal

 Panzer III adalah tank kelas medium pertama Jerman yang dirancang untuk pertempuran antartank. Panzer III dirancang berdasarkan pengarahan dari Jenderal Heinz Guderian tentang perlunya suatu tank yang dapat menggantikan peran Panzer II sebagai kekuatan utama divisi-divisi lapis baja Jerman dan dapat digunakan untuk menghancurkan tank lawan dalam pertempuran. Panzer III dianggap sebagai tank terbaik di kelasnya, setidaknya sampai saat pertemuan mereka dengan T-34 milik Uni Soviet di medan perang Rusia, di mana Panzer III terbukti tidak berdaya melawan T-34.

Proses desain Panzer III telah dimulai sejak tahun 1934. Militer Jerman mempunyai rencana untuk memproduksi tank dengan berat kurang lebih 25 ton dengan kecepatan 35 km/jam.Prototipe pertama diproduksi tahun 1936 dan 1937.Produksi pertama Panzer III dilakukan di tahun 1937 dengan nama Panzer III Ausf. A sebanyak 10 unit. Prototipe-prototipe selanjutnya diproduksi sampai tahun 1939 dengan nama Panzer III Ausf. B sampai E. Produksi secara massal dimulai tahun 1939 (Panzer III F). Panzer III F memakai meriam 37 mm tidak dapat menembus pelindung T-34, kemudian diganti dengan meriam 50 mm KwK 36 L/42 (terdapat pada Panzer III G).

Panzer III merupakan tank dengan cukup banyak varian. Banyak perubahan yang dilakukan, antara lain: penambahan lapisan pelindung depan setebal 30 mm (terdapat pada Panzer III H), penambahan panjang badan tank dan lapisan pelindung setebal 50 mm (terdapat pada Panzer III J), meriam baru yang lebih panjang 50 mm KwK 39 L/60 (terdapat pada Panzer III J/1), penambahan lapisan pelindung setebal 50 mm (terdapat pada Panzer III L), penggantian meriam dengan 50 mm KwK 37 L/24 (terdapat pada Panzer III N).

Panzer III telah mulai unjuk kemampuan sejak Blitzkrieg yang dilancarkan Jerman ke Polandia dan Perancis (1939-1940). Saat itu, baru prototipe Panzer III yang dikerahkan (Panzer III A sampai Panzer III E). Panzer III bersama Panzer IV menjadi kekuatan utama pasukan tank Jerman dalam fase-fase awal operasi Barbarossa (1941) dan menjadi tulang punggung kekuatan Das Afrika Korps di bawah pimpinan Generalfeldmarschall Erwin Rommel yang terkenal itu. Panzer III berada di kesatuan lapis baja Jerman sampai tahun 1944. Unit-unit terakhir dari Panzer III terlihat dalam pertempuran menghadapi pendaratan supermasif Sekutu di Normandia, Perancis dan dalam pertempuran mempertahankan Arnheim, Belanda (Operasi Market Garden) pada tahun 1944. Selama perang, Panzer III diproduksi kurang lebih sebanyak 5500 unit.

Statistik PzKpfw III :
*Kelas : Medium Tank
*Berat :
- 15 ton (Panzer III B)
- 16 ton (Panzer III D)
- 19,2 ton (Panzer III F)
- 20,3 ton (Panzer III G)
- 21,5 ton (Panzer III H, J)
- 22,7 ton (Panzer III L, M)
- 22,3 ton (Panzer III N)
*Senjata Utama :
- 37 mm KwK 36 L/46.5 (Panzer III B, D, F)
- 50 mm KwK 39 L/42 (Panzer III G, H, J)
- 50 mm KwK 39 L/60 (Panzer III L, M)
- 50 mm KwK 37 L/24 (Panzer III N)
*Kru : 5 orang
*Pelindung :
- 5-15 mm (Panzer III B)
- 5-30 mm (Panzer III D)
- 10-30 mm (Pannzer III F, G)
- 10-60 mm (Panzer III H)
- 10-50 mm (Panzer III J)
- 10-70 mm (Panzer III L, M, N)
*Kecepatan :
- 40 km/jam (Panzer III B, D, L, M, N)
- 67 km/jam (Panzer III F, G)
- 42 km/jam (Panzer III H, J)

Sumber :
Buku Kendaran Tempur PD II, by Muh. Daud Darmawan



Operation Torch, "D-Day" Pertama Sekutu dan Pembantaian Kasserine Pass




Oleh : Naufal Sutardjo

 Sekutu melancarkan D-Day pertama mereka yaitu operation Torch di afrika utara dengan maksud untuk menjepit posisi Afrikakorps pimpinan Marsekal Erwin Rommel yang sedang menghadapi gempuran gencar jenderal Bernard montgomery dengan segala keterbatasan pasokan senjata maupun perlengkapannya.

Militer Amerika yang saat itu masih menduduki peringkat 14 dunia merasa percaya diri dengan keberhasilan pendaratan amfibi terbesar saat itu. satu hal kecil namun fatal, sebetulnya pasukan yang mereka hadapi pada saat pendaratan bukanlah pasukan inti wehrmacht melainkan pasukan vichy prancis yang memang bertempur setengah hati.

kemajuan pasukan sekutu pun amat cepat seolah tidak ada yang bisa menghalangi. tanpa sadar mereka telah masuk jebakan skenario "sang rubah gurun" yang memang sudah mencium operasi besar ini jauh-jauh hari. dengan intuisi yang luar biasa dan kecerdikan militer yang jenius, Generalfeldmarschall Erwin Rommel mampu memanfaatkan sumberdaya yang tersisa untuk membalikan keadaan. ia memutuskan untuk memotong pergerakan pasukan sekutu di kasserine pass.

Disinilah pasukan jendral Omar Bradley mendapat pelajaran berharga dari sang maestro strategi, sampai-sampai menjelang kematian beliau tahun 1981  Bradley masih belum bisa melupakan moment tersebut:

"it pains me to reflect on that disaster. It was probably the worst performance of U.S. Army troops in their whole proud history." (menyakitkan bagiku bila mengenang kembali bencana tersebut. Itu mungkin adalah penampilan terburuk pasukan angkatan darat Amerika di sepanjang sejarah mereka yang membanggakan)

Dibawah dukungan penuh dari matra darat, laut dan udara yang sangat kuat, dalam 10 hari pertempuran yang melelahkan, pasukan Amerika dipaksa mundur sampai 80km dan dipaksa untuk kehilangan 183 tank tercanggih mereka serta menderita 7.000 orang korban termasuk 3.000 orang yang hilang! Inilah kali pertama mereka merasakan kemampuan sesungguhnya dari Afrikakorps (yang sudah sangat pincang karena serba kekurangan).

Andaikan pada saat D-Day normandy field marschal Erwin Rommel diberikan mandat tanpa batas untuk mempertahankan prancis, mungkin output sejarah akan berbeda. sayang, saat itu komando pasukan pemukul elite mutlak dibawah Herr Fuhrer tanpa kecuali.

thanks to berbagai sumber



Kesalahan Strategi Adolf Hitler Dalam Perang Dunia II






 Hitler adalah seorang diktaktor yang unik, dia yang membawa Jerman pada kemenangan di awal Perang Dunia ke 2 namun juga sebaliknya. Idenya dan strateginya yang ia matangkan bersama para Jenderal terkemukanya telah membuat Jerman menjadi sebuah mesin perang yang luar biasa kuat. Namun tanpa disangka, kekalahan demi kekalahan yang Jerman alami selama akhir perang juga tidak lepas dari keputusannya. Sifatnya yang ingin selalu memegang kendali terkadang terlalu berlebihan, hanya saja, ternyata kemampuan dan tenaganya tidak cukup untuk mengatur seluruh front. Berikut ini saya kemukakan beberapa kesalahan fatal Hitler dalam strategi pertempuran, saya urutkan dari yang paling kecil akibatnya hingga yang terbesar.

1.Battle of Bulge
Battle of Bulge merupakan operasi militer terakhir Jerman pada Perang Dunia ke 2. Jerman mengerahkan sebagian besar sisa sumber daya militer mereka untuk melancarkan ofensif ini. Dinamakan Battle of Bulge karena serangan pasukan Jerman membentuk pola tonjolan "Bulge" jika dilihat dalam peta. Pertempuran yang berlangsung dari 16 Desember 1944 hingga 25 Januari 1945 ini berakhir dengan kekalahan telak pada kubu Jerman. Mereka kehilangan lebih dari 100 ribu pasukan sementara pihak sekutu kehilangan lebih dari 80 ribu pasukan. Sebagian besar pengamat menyatakan bahwa pertempuran ini adalah pertempuran sia-sia. Jerman mengandalkan keberuntungan (yaitu cuaca buruk yang menghambat armada udara sekutu untuk melakukan tugasnya) dalam melancarkan ofensifnya, namun begitu faktor itu hilang, Jerman terpaksa mundur. Tujuan ofensif ini memang baik, yaitu merebut Kota Anterwep di Belanda, sehingga memotong jalur supply pasukan sekutu. Taktik itu Hitler rancang sendiri ketika ia sakit selama pertengahan tahun 1944. Namun tenaga mereka sebenarnya tidak cukup untuk melaksanakannya. Mereka hanya membuang-buang sumber daya terakhir mereka yang berharga. Akan lebih baik jika Jerman mengalokasikan sebagian besar pasukannya untuk menghambat laju pasukan Rusia, setidaknya hal tersebut dapat menunda keruntuhan negara itu hingga beberapa waktu. Bukannya menyia-nyiakan sisa pasukannya dan meninggalkan Jerman tanpa pertahanan.  
Kunci Penting: Jika Jerman mampu mengerahkan pasukan mereka ke timur untuk mempertahankan diri dari Uni Soviet, setidaknya Jerman dapat menghambat laju pasukan merah dan menghindarkan Jerman pecah menjadi 2 negara selama perang dingin.

2. Pertahanan Normandia
Dalam merancang pertahanan Normandia, Jerman telah membangun sistem pertahanan yang terdiri dari ratusan pilbox dan bunker yang terhubung dengan sistem terowongan bawah tanah. Namun sistem pertahanan yang mahal dan kokoh itu ternyata sia-sia dalam melawan pendaratan sekutu pada Juli 1944. Kuncinya bukan karena kualitas beton yang mereka gunakan untuk bertahan itu buruk, namun lebih karena kakunya sistem pertahanan Jerman.
Idealnya, sebuah kubu pertahanan yang diserang akan mendapatkan bala bantuan dalam waktu sesingkat-singkatnya, jika tidak, mereka tetap akan runtuh karena kekurangan supply dan logistik. Namun hal tersebut tidak terjadi di Jerman pada waktu itu. Sungguh mengherankan mengingat kemenangan Jerman sejauh itu berasal dari mobilitas pasukan mereka yang tinggi. Hitler setelah pembelotan oleh beberapa petinggi militernya menjadi manusia yang paranoid. Ia mengontrol seluruh pergerakan jendral-jendralnya tanpa terkecuali, membuat mereka tidak bisa bermanuver, bahkan di medan perang sekalipun.
Kunci Penting: Jika Jerman mampu melaksanan pertahanan secara lebih mobil. Maka sekutu setidaknya akan kehilangan banyak pasukan di Normandia atau malah mengusir mereka kembali dari daratan Perancis. Momen-momen kritis tersebut dapat mengubah sejarah dunia secara drastis.

3. Malta Diabaikan
Ketika pertempuran di Afrika Utara berkecamuk pada tahun 1942, faktor penting yang menjadi penentu kemenangan baik pihak Jerman maupun Inggris adalah jalur supply dan logistik. Afrika utara sama sekali tidak menyediakan cadangan logistik bagi pasukan yang bertempur di sana. Bahkan kebutuhan dasar seperti airpun tidak ada. Kebutuhan tersebut harus dibawa dengan menggunakan truk pengangkut atau dibawa sendiri oleh pasukan yang tengah bertempur. Jerman yang meskipun pada awal pertempuran terus menerus mengalami kemenangan (terutama berkat kehebatan Edwin Rommel) telah mengabaikan keamanan jalur logistik mereka dengan membiarkan pulau malta.
Malta adalah basis pertahanan Inggris yang terletak diantara Itali dan Afrika Utara. Pulau itu menjadi markas skuadron Inggris dalam membom armada Italia yang menyediakan pasokan baru untuk Jerman. Hitler rupanya lebih tertarik dalam perkembangan pertempuran di Afrika utara itu sendiri daripada merebut pulau yang menjadi tumpuan Inggris di mediterania. Pada akhirnya, pulau itulah yang menjadi kunci hancurnya pasukan Jerman di Afrika Utara. Total, lebih dari 200ribu pasukan Jerman di Afrika Utara yang tertangkap. Mereka kekurangan bensin, amunisi dan makanan meskipun peralatan tempur mereka masih lengkap.
Kunci Penting: Jika Hitler sudi terlebih dahulu untuk merebut Malta, maka Jerman akan dengan mudah mendapatkan bala bantuan untuk melancarkan ofensif terus menerus di Afrika Utara. Jika Afrika Utara berhasil direbut, maka jalur supply inggris yang melewati terusan suez akan kacau dan menentukan nasib Inggris kemudian

4. Gagalnya Diplomasi Merebut Gibraltar
Merebut selat Gibraltar sebenarnya bukan perkara sulit bagi Jerman, mengingat mereka punya sekutu dekat di sekeliling wilayah itu, Spanyol. Spanyol meskipun tidak menyatakan bergabung dalam kekuatan AXIS, namun mereka jelas-jelas menaruh simpati kepada Jerman dan kawan-kawan mereka. Hal tersebut juga disebabkan karena hutang budi Spanyol kepada kekuatan AXIS selama perang saudari 1936-1939. Namun diplomasi dalam menentukan siapa yang akan menyerang Gibraltar berjalan alot.
Franko, pemimpin Spanyol pada waktu itu bersikeras ingin merebut Gibraltar dengan tangan mereka sendiri, tentu dengan dukungan dari Jerman. Jerman berpendapat lain. Mengingat pentingnya wilayah itu, mereka mengingingkan agar merekalah yang mengokupasi wilayah tersebut. Hitler yang merasa jengkel memutuskan untuk menghentikan diplomasi dan lebih berkonsentrasi pada pertempuran di Rusia yang sudah di ambang pintu.
Kunci Penting: Gibraltar bukan saja bernilai ekonomis bagi Inggris, namun juga militer. Banyak kapal perang mereka berlabuh di Gibraltar dan menjadi pusat komando mereka di Mediterania. Merebut Gibraltar bukan saja akan menguntungkan Jerman secara ekonomi, namun juga akan membalik kekuatan armada laut AXIS di seluruh dunia.

5. Pertempuran Dunkrik
Pertempuran dunkrik yang terjadi pada 24 Mei sampai 4 Juni 1941 adalah salah satu blunder terbesar Hitler selama perang dunia ke 2. Hitler secara pribadi memerintahkan pasukannya untuk berhenti menyerang padahal 400 ribu pasukan Inggris dan Perancis telah terkepung di dalam kota Dunkrik tanpa pasokan logistik memadahi. Kesalahan inilah yang menyebabkan pasukan yang telah tidak berdaya itu dapat dengan selamat kabur ke tanah Inggris. Merekalah yang menjadi cikal bakal pasukan sekutu yang nantinya akan mengalahkan Jerman di Afrika Utara, Italia dan kemudian di Normandi.
Kunci Penting: Empat ratus ribu pasukan sekutu yang terkepung di Normandi mempunyai arti penting. Sebagian besar diantara mereka adalah unit-unit pasukan sekutu yang terlatih dan mempunyai disiplin tinggi. Merekalah yang pada akhirnya membangun kembali kekuatan pasukan sekutu yang bermarkas di Inggris dan menjadi penentu jalannya perang di kemudian hari.

6. Battle of Britain
Battle of Britain merupakan merupakan pertempuran udara terbesar selama Perang Dunia 2 antara Inggris dengan Jerman. Pertempuran itu berlangsung dari Juli hingga Oktober 1940. Tujuan Jerman di dalam pertempuran itu adalah menghancurkan kekuatan udara Inggris sehingga mempermudah invasi mereka di kemudian hari. Namun sayang sekali, tujuan tersebut tidak terpenuhi, bahkan peperangan ini berakibat fatal bagi Jerman. Ia kehilangan lebih dari 2500 buah pesawat sementara Inggris yang berada dalam posisi bertahan justru hanya kehilangan kurang dari 600 buah.
Meskipun kehilangan banyak pesawat, namun sebenarnya Jerman masih berada pada posisi menguntungkan di akhir Oktober 1940. Inggris mempunyai lebih sedikit persediaan pesawat daripada Jerman dan jika Jerman mau meneruskan pertempuran hingga satu bulan saja, kemungkinan besar pertahanan udara Inggris akan runtuh sama sekali. Hitler yang sudah tidak sabar memutuskan untuk menghentikan operasi mahal ini. Akibatnya, Jerman kehilangan kesempatan emas untuk merebut kepulauan Inggris. Benteng terakhir sekutu di Eropa.
Kunci Penting : Kemenagan Battle of Britain ini menjadi titik balik Perang Dunia ke 2, Jerman tidak hanya kehilangan banyak tenaga di sini, namun juga kehilangan kesempatan emas untuk menaklukan Inggris. Setelah ini, bahaya pertempuran di dua front mengancam Jerman, karena pertempuran di Rusia telah dekat di mata. Jerman rupanya tidak punya cukup tenaga untuk bertempur di dua front sekaligus. Dan hal tersebut yang menjadi penentu kekalahan Jerman di kemudian hari.

7. Pertempuran Yunani
Pertempuran di Yunani adalah pertempuran yang tidak begitu penting baik dilihat dari sisi militer maupun dilihat dari sisi ekonomi. Pertempuran itu terjadi "semata" karena rasa iri Musolini terhadap Hitler. Mussolini meresa bahwa dirinya jauh lebih berpengalaman daripada Hitler, namun kesuksesannya di dalam peperangan itu nol besar. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya dan Italia, sejajar dengan Jerman dari segi kekuatan militer. Namun rupanya kampanye Mussolini di Yunani berakhir petaka. Pasukan Yunani yang meskipun berjumlah sedikit, mampu memukul mundur Pasukan Italia yang pada waktu itu sudah menduduki Albania. Mussolinipun panik dan terpaksa meminta bantuan Hitler.
Meskipun Jerman meraih kemenangan besar dalam pertempuran ini, namun dilihat dari strategi perang secara luas, Jerman sama sekali tidak memperoleh keuntungan dari pertempuran ini. Pasukan Hitler yang telah berada pada posisi siap menyerang Rusia, harus ditarik mundur sebagian untuk membantu Italia. Penarikan ini membuat invasi ke Rusia tertunda selama lebih dari 2 bulan lamanya. Invasi ke Rusia baru dimulai pada bulan Juli 1941, sudah terlalu dekat dengan musim dingin Rusia yang mencekam. Musim dingin itulah yang menyebabkan kekuatan Jerman di Rusia tercerai berai.
Kunci Penting: Pertempuran Yunani menyebabkan Jerman harus menunda rencana serangannya ke Rusia, waktu 2 bulan di tahun 1941 benar-benar berharga, jika invasi itu dapat berjalan lebih cepat. Maka niscaya kota-kota penting di Rusia akan dapat direbut sebelum musim dingin tiba. Dan hal tersebut akan menjadi penentu kemenangan Jerman di front timur.



Sumber :



Jumat, 06 Juni 2014

Album Foto Pertempuran Arracourt

Para Zugführer (komandan peleton) dari XXXXVII.Panzerkorps / 5.Panzerarmee berkumpul bersama komandan kompinya yang berpangkat Leutnant (memakai kacamata) di depan Panzerbefehlswagen IV Ausf.G "508" dan berpose untuk kepentingan propaganda sebelum berangkat bertempur. Panzerbefehlswagen IV (arti harfiahnya: Panzer IV tunggangan komandan) di atas dilengkapi dengan dua buah antena radio (FuG5 dan FuG8) untuk memperlancar komunikasi. Lapisan bajanya juga mendapat tambahan zimmerit anti ranjau magnetik. Warna dasarnya adalah kuning gelap yang dipadukan dengan hijau zaitun dan merah-coklat. Pada saat itu XXXXVII. Panzerkorps (General der Panzertruppe Heinrich Freiherr von Lüttwitz) terdiri dari 21. Panzer-Division, Panzer-Brigade 111, Panzer-Brigade 112, dan Panzer-Brigade 113. Foto diambil di desa Abreschviller, Moselle, di sektor Sarrebourg (Prancis) di tengah kecamuk Pertempuran Arracourt/Lorraine tanggal 20 September 1944


General der Panzertruppe Hasso von Manteuffel (Oberbefehlshaber 5. Panzerarmee) menginspeksi para perwiranya (salah satu dari mereka adalah peraih Deutsches Kreuz in Gold dan Panzervernichtungsabzeichen in Silber) di desa Abreschviller, Moselle, di sektor Sarrebourg (Prancis) di tengah kecamuk Pertempuran Lorraine tanggal 20 September 1944. Hanya berselang 11 hari sebelumnya saat Manteuffel diangkat sebagai panglima 5. Panzerarmee setelah sebelumnya menjadi komandan Panzergrenadier-Division "Grossdeutschland". Dalam foto ini kita bisa dengan jelas melihat medali Panzerkampfabzeichen in Silber dan Goldenes Hitlerjugend Ehrenabzeichen yang tersemat di seragam hitamnya!


Sumber:
www.estmilitaria.forumactif.org

Album Foto Dulu dan Sekarang

 
 
 
General der Panzertruppe Hasso von Manteuffel (Oberbefehlshaber 5. Panzerarmee) menginspeksi para perwiranya (salah satu dari mereka adalah peraih Deutsches Kreuz in Gold dan Panzervernichtungsabzeichen in Silber) di desa Abreschviller, Moselle, di sektor Sarrebourg (Prancis) di tengah kecamuk Pertempuran Lorraine tanggal 20 September 1944. Hanya berselang 11 hari sebelumnya saat Manteuffel diangkat sebagai panglima 5. Panzerarmee setelah sebelumnya menjadi komandan Panzergrenadier-Division "Grossdeutschland". Dalam foto ini kita bisa dengan jelas melihat medali Panzerkampfabzeichen in Silber dan Goldenes Hitlerjugend Ehrenabzeichen yang tersemat di seragam hitamnya!



Sumber :
www.souvenir.xooit.be

Flammenwerfer-Sturmpioniere, Unit Zeni Penyembur Api Jerman Dalam Perang Dunia Pertama




Oleh : Herry Cavalera

Selain Stosstruppe, Sturmtruppen dan Maschinengewehr-Scharfschütze yang pernah diposting sebelumnya, Militer Jerman dalam Perang Dunia 1 juga memiliki unit serbu lainnya yang tergolong elite, yaitu Flammenwerfer-Sturmpioniere, yang merupakan unit Pioneer Serbu (Zeni Tempur) yang membawa Penyembur Api.

Flammenwerfer-Sturmpioniere merupakan unit yang paling menakutkan dan membawa teror mimpi buruk bagi pasukan Perancis dan Inggris dalam pertempuran parit ketimbang serbuan infantri Jerman atau serangan gas dalam perang dunia pertama. Saking menakutkannya Flammenwerfer-Sturmpioniere, sampai sampai mereka memperoleh julukan Graben Kammerjäger atau Trench Exterminator (Pemusnah Parit) oleh prajurit prajurit Inggris. Ditambah Stahlhelm mereka yang terkadang mereka hiasi dengan gambar tengkorak dengan tulang menyilang menggunakan cat hitam dan ketika mereka sedang memakai masker gas, menambah penampilan mereka menjadi lebih mengerikan. Selain efek destruction (kehancuran) yang amat mengerikan, efek psikologis yang ditimbulkan juga dinilai amat menakutkan hingga menjatuhkan moral tempur. Betapa tidak ? Pasalnya, selain efek kehancuran yang membawa terror, efek psikologis ditimbulkan karena suara mesin penyembur api nya yang mengerikan terdengar dari jauh sebelum kemunculan pasukan penyembur api ini.

Flammenwerfer-Sturmpioniere membawa penyembur api jenis Flammenwerfer modell 1916 dan kemudian diganti dengan flüssigen-Kraftstoff Flammenwerfer Modell 1917.

Foto ini menunjukan para Flammenwerfer-Sturmpioniere asal 5. Brennt Kompanie/1. Garde Pionier-Bataillon sedang beraksi menyerbu posisi parit pertahanan pasukan Perancis dalam Pertempuran Verdun pada 19 Juni 1916. Serbuan Flammenwerfer-Sturmpioniere dalam Pertempuran Verdun merupakan mimpi buruk dan malapetaka bagi Pasukan Perancis. Barisan pertama pertahanan parit pasukan Perancis ditinggalkan oleh pasukan Perancis yang ketakutan duluan setelah mendengar suara bising mesin penyembur api yang mengerikan. Di baris kedua, Pasukan Perancis menghadapi terror mimpi buruk tatkala bertatap muka dengan unit unit Flammenwerfer-Sturmpioniere. 87% parjurit-prajurit Perancis yang bertahan di parit saat terjadi serangan Flammenwerfer-Sturmpioniere menemui ajalnya dengan rasa sakit yang tidak terbayangkan.

Selain ditakuti oleh Pasukan Inggris dan Perancis, Prajurit-Prajurit Jerman yang bertugas sebagai Flammenwerfer-Sturmpioniere, juga memiliki ketakutan tersendiri. Ketakutan mereka adalah pada penyembur api nya yang berat yang bisa mengurangi mobilitas sehingga resiko tangki bahan bakar terkena peluru lalu meledak dan bisa menewaskan mereka sendiri tidak bisa dihindari.

Rata-rata para Flammenwerfer-Sturmpioniere adalah sukarelawan yang sudah terlatih baik. Mayoritas para personel sukarelawan nya, awalnya berprofesi sebagai petugas pemadam kebakaran setempat. Mereka sebenarnya sudah tahu, bahwa ketika mereka mengajukan diri untuk bergabung dengan Flammenwerfer-Sturmpioniere, mereka telah mengajukan kematian nya sendiri. Dan mereka tahu, bahwa menjadi Flammenwerfer-Sturmpioniere merupakan tugas bunuh diri. Namun, disisi lain mereka ingin membukti kan diri mereka sebagai prajurit yang berani mati dalam tugas. Itu dibukti kan mereka setelah selesai pelatihan dan diterjunkan ke medan tempur untuk pertama kali, mereka semua sudah siap mati dalam tugas. Setelah beberapa pertempuran terbukti, mereka dihormati dan disegani layaknya Stosstruppe oleh prajurit prajurit Jerman lainnya.


Sumber :

PzKpfw I (Panzerkampfwagen I)




Oleh : Hostuf Rizal

 Panzer I adalah tank Jerman pertama yang telah mulai didesain pada tahun 1932 dan mulai diproduksi secara massal sejak tahun 1934, sebelum memasuki kancah Perang Dunia II. Karena Jerman dilarang untuk memroduksi tank berdasarkan isi perjanjian Versailles, maka proyek pembuatan Panzer I disamarkan sebagai pembuatan "Landwirtschaftlicher Schlepper" (atau industri traktor).

Fungsi utama dari Panzer I adalah sebagai tank latih dalam memperkenalkan ilmu perang tank bagi para awak tank sebelum mereka terjun ke medan perang. Meskipun demikian, Panzer I sudah mulai dikerahkan dalam Blitzkrieg ketika menduduki Polandia pada tahun 1939 dan Perancis di tahun 1940.

Sebagai tank ringan, Panzer I tidak mengandalkan pelindung yang kuat maupun senjata yang cukup mematikan. Lapisan pelindung depan yang paling tebal hanya 13mm. Sedangkan senjata yang digunakan adalah 2 buah senapan mesin 7,92 mm. Meskipun demikian, Panzer I mampu memberi kejutan terhadap lawan-lawannya yang masih asing terhadap konsep-konsep perang tank modern sehingga Jerman mampu meraih kemenangan-kemenangan gemilang selama Blitzkrieg. Panzer I juga sempat memperkuat Afrikakorps dan penampilan terakhirnya adalah pada Operasi Barbarossa yang dilancarkan Jerman untuk menyerang Uni Soviet pada 22 Juni 1941. Panzer I berada dalam kesatuan lapis baja Jerman hanya sampai Desember 1941.

Statistik PzKpfw I
Kelas : Light Tank
Berat : 4 ton
Senjata Utama : 2 X MG 13 7,92 mm
Kru : 2 orang
Pelindung : 6 - 13 mm
Kecepatan : 37 km/jam

Sumber : Buku Kendaran Tempur PD II, Muh. Daud Darmawan




PzKpfw II (Panzerkampfwagen II)



Oleh: Hostuf Rizal

 Panzer II menjadi inti kekuatan kesatuan lapis baja Jerman dalam Blitzkrieg di Polandia dan Perancis bersama Panzer I. Panzer II mulai diproduksi tahun 1935, sambil menunggu selesainya proses desain Panzer III dan Panzer IV. Jika Panzer I yang dipersenjatai dengan senapan mesin berfungsi membidik sasaran infanteri, maka Panzer II dilengkapi dengan senjata antitank 20mm KwK 30 L/55 (KwK = Kampfwagenkanone = meriam tank).

Dari nama meriam di atas, (L/55), dapat diketahui bahwa panjang laras meriam tersebut adalah 55 kali ukuran kaliber (55 x 20 mm). Jadi, ukuran panjang laras meriam dapat diketahui dari nama meriam yang digunakan. Panjang laras meriam ini menentukan jarak jangkauan tembakan dan daya penetrasi amunisi yang ditembakkan. Semakin panjang larasnya, semakin jauh pula jangkauannya karena kecepatan peluru ketika meninggalkan laras meriam (muzzle velocity) menjadi semakin tinggi. Panzer II juga dilengkapi dengan sebuah senapan mesin MG34 7,92mm yang dipasang secara coaxial (sejajar dengan meriam utama).

Panzer II adalah tank dengan cukup banyak variasinya. Model pertama Panzer II yang diproduksi secara massal adalah Panzer II Ausf. A pada Juli 1937. Setelah itu, pada Desember 1937, Panzer II B mulai diproduksi dengan sedikit perubahan pada ketebalan lapisan pelindung. Kemudian pada Juni 1938, Panzer II B diupgrade lagi menjadi Panzer II C, dan versi inilah yang paling banyak diproduksi. Perbaikan pada model C di antaranya adalah perlindungan ekstra pada jendela pengemudi. Versi berikutnya yaitu Panzer II F, dibuat dengan peran khusus dalam tugas-tugas pengintaian (recons).

Panzer II F didesain dengan lapisan pelindung setebal 35mm di bagian depan. Model berikutnya, yaitu Panzer II D dibuat dengan sistem suspensi baru. Tahun 1939, beberapa unit dari Panzer II D diubah menjadi Flammpanzer II 'Flamingo' dengan senjata penyembur api. Tidak banyak perubahan dari model berikutnya, yaitu Panzer II E. Model terakhir yang diproduksi adalah Panzer II J pada April 1942, dan Panzer II L ('Luch' atau Lynx - Kucing Hutan) yang mulai diproduksi pada pertengahan tahun 1943. Panzer II L adalah model Panzer II yang paling cepat.

Statistik PzKpfw II
*Kelas : Light Tank
*Berat :
- 7,2 ton (Panzer II A)
- 8,8 ton (Panzer II C)
- 8,9 ton (Panzer II B)
- 9,5 ton (Panzer II F, J)
- 10 ton (Panzer II D)
- 11,8 ton (Panzer II L)
- 12 ton (Flammpanzer II 'Flamingo')
*Senjata utama :
- 20 mm KwK 30 L/55 (Panzer II A, B, C, D, E, F)
- 20 mm KwK 38 L/55 (Panzer II L, J)
- Flammenwerfer-Anlagen
*Kru :
- 3 orang
- 4 orang (Panzer II L)
* Pelindung :
- 5-30 mm (Flammpanzer II 'Flamingo')
- 10-30 mm (Panzer II A, B, C, D, E, L)
- 10-35 mm (Panzer II F)
- 20-35 mm (Panzer II J)
*Kecepatan :
- 31 km/jam (Panzer II J)
- 40 km/jam (Panzer II A, B, C, F)
- 55 km/jam (Panzer II D, E, Flammpanzer II 'Flamingo')
- 60 km/jam (Panzer II L)

Sumber : Buku Kendaran Tempur PD II, Muh. Daud Darmawan



Kisah Interogasi Erwin Rommel dan Pasukan Komando Inggris

 George Lane, anggota pasukan Commando Inggris yang mendapat kesempatan langka bertatap-muka langsung dengan sang legenda Erwin Rommel!


Oleh : Alif Rafik Khan

Tanggalnya adalah 18 Mei 1944. Di markas besarnya Hitler diberitahu bahwa musuh telah melancarkan dua buah operasi mata-mata yang dilaksanakan pada malam hari di pantai Prancis yang dijaga dengan ketat. Di salah satu tempat, dekat Calais, pasukan Jerman telah menemukan sekop dan senter tergeletak di pasir pantai tak lama setelah tembak-menembak. Di tempat lain, di muara sungai Somme, dua orang perwira Inggris telah tertangkap. “Mereka datang ke pantai menggunakan perahu karet,” lapor Generaloberst Alfred Jodl, Kepala Operasi Wehrmacht, pada Adolf Hitler. “Interogasi terhadap mereka sejauh ini telah mengungkapkan bahwa mereka dikirim menggunakan motor boat Inggris.”

Sekarang adegan berpindah pada sebuah château (kastil) Prancis yang dibangun di atas bukit karang curam yang menghadap lembah Seine. Tanggalnya adalah 20 Mei 1944, dua hari setelah tertangkapnya dua perwira Inggris. Sebuah mobil staff kecil Jerman menderu menuju château dan berhenti disana. Dua prajurit turun dari mobil, tangan mereka kaku setelah perjalanan sejauh 240km dari garis pantai yang menghadap Selat Inggris. Mereka membawa dua orang lainnya yang diikat tangannya dan ditutup mukanya. Dua orang ini tidak memakai insignia apa-apa, tapi bekas jahitan kosong pada seragam tempur khaki-nya dengan jelas menunjukkan bahwa Combined Operation Badge ungu serta lencana bahu Special Service telah dicopot dari tempatnya: mereka adalah pasukan Commando Inggris. Penutup muka mereka kemudian dibuka, dan mereka langsung mengejapkan mata karena silau dengan cahaya matahari. Ekspresi mereka suram: mereka tahu bahwa Hitler telah memberikan perintah tegas bahwa setiap pasukan komando yang tertangkap akan diserahkan pada Gestapo dan langsung dieksekusi.

Ketika mereka dimasukkan ke dalam sel, mereka mendapati teh dan sandwich telah menunggu. Salah satu di antara mereka, Lieutenant Roy Woodridge, secara sopan menolak untuk bicara. Satunya lagi, Lieutenant George Lane, lebih mudah untuk diajak ngadu huntu dan kemudian dibawa untuk menemui Oberst Hans-Georg von Tempelhoff. Seorang pria tampan berambut pirang yang ramah, Tempelhoff berdiri dan menjabat tangannya. “Pastinya sekarang di Inggris cuaca sedang indah indahnya,” katanya dengan antusias.

Wajah Lane mengungkapkan dengan jelas keterkejutannya akan bahasa Inggris fasih si kolonel Jerman. Tempelhoff menjelaskan: “Istri saya orang Inggris.” Untuk sesaat dia berdiri menatap Lane, lalu mempersilakan dia untuk mencuci muka dan tangannya, membersihkan kukunya dan berdandan serapi mungkin. “Anda akan bertemu dengan orang penting. Sebenarnya, sangat penting malah… Generalfeldmarschall Rommel!”

Invasi besar-besaran Sekutu ke wilayah Prancis yang diduduki tinggal berselang 17 hari lagi. Di pelabuhan-pelabuhan Inggris armada raksasa sedang dipersiapkan untuk operasi tersebut. Di Prancis sendiri, Hitler telah menempatkan satu orang di tongkat komando, marsekal favoritnya Erwin Rommel, si Rubah Gurun yang ditakuti. Rommel adalah veteran dalam kampanye melawan Inggris dan Amerika. Dia tahu persis cara melawan mereka, dan percaya sepenuh hati bahwa dia bisa memperkirakan dengan tepat langkah mereka selanjutnya. Pesawat-pesawat pengintai Luftwaffe telah mendapati kapal-kapal pendarat yang berjejalan di seberang Selat Inggris dari muara sungai Somme. Operasi mata-mata komando terakhir yang dilakukan di pantai yang sama telah memperjelas bagi Rommel ke wilayah mana invasi Sekutu akan dilangsungkan. Yang tidak dia ketahui adalah, bahwa kapal-kapal pendarat itu adalah bohongan dan pasukan komando kecil tersebut sengaja “diumpankan” ke tangan Nazi untuk memberikan informasi yang menyesatkan kepada mereka! Itu semua merupakan bagian dari muslihat penipuan yang diberi kode “Fortitude” (Keuletan), dengan intelijen Inggris berada di baliknya.

Rommel telah memilih château tersebut sebagai markas taktisnya karena didalamnya terdapat jaringan gudang bawah tanah. Selain itu, dia juga telah membuat lorong-lorong anti-bom yang terhubung dalam ke bukit karang di belakangnya. Selama lima bulan terakhir Rommel telah mempersiapkan pasukan Jerman untuk pertempuran akbar yang akan datang dan menciptakan secara pribadi metode serta alat-alat pertahanan anti invasi semacam papan besar berpaku, mata kail, jebakan bawah air, ladang ranjau, dan kawat berduri. Dia tidak terkejut bila Inggris pasti berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang dilakukannya.

Saat Lane dibawa ke ruang kerja Rommel, sang Marsekal sedang duduk di mejanya di sudut, melihat ke jendela. Ruangan tersebut panjang dan dihiasi oleh empat permadani mahal yang tak ternilai harganya; karpet langka yang terhampar di lantai yang digosok sampai mengkilap; serta jambangan porselin dan lampu antik yang dipajang di dinding. Rommel sendiri mempunyai perawakan pendek kekar dengan rambut rapi yang mulai menipis. Rahangnya kukuh dan mata biru abu-abunya menusuk tajam. Kulitnya kecoklat-coklatan hasil dari berminggu-minggu inspeksi ke berbagai benteng pantai baru yang membentuk Atlantikwall. Di lehernya tercantol dua medali super bergengsi: Pour le Mérite, medali tertinggi Prusia yang didapatkannya dalam Perang Dunia Pertama, dan Brillanten zum Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes mit Eichenlaub und Schwertern yang didapatkannya dalam Perang Dunia edisi “terbaru”.

Rommel bangun, berjalan mengitari mejanya dan secara sopan menyambut perwira Inggris tersebut. Dia lalu mempersilakan Lane untuk duduk di sekitar meja bundar di pinggir ruangan yang dikelilingi oleh kursi antik. Di meja tersebut pelayan telah meletakkan koleksi teko teh kecil dengan gelas keramik buatan Cina.

 “Jadi, anda adalah salah satu dari kawanan gangster komando itu?” Rommel bertanya pada tawanannya.

“Saya seorang Komando dan saya bangga karenanya. Tapi saya bukan gangster. Tak ada satupun dari kami yang seperti itu.”

“Mungkin anda bukanlah gangster, tapi kita punya pengalaman jelek dengan gerombolan komando seperti anda. Mereka tidak selalu bertindak sepantasnya seperti apa yang seharusnya mereka lakukan.” Rommel tersenyum seakan memberi arti. “Situasi anda saat ini bisa dibilang runyam. Saya yakin anda tahu hukuman apa yang menanti para pelaku sabotase…”

Lane berbalik ke penterjemah dan berkomentar, “bila marsekal anda menganggap saya sebagai pelaku sabotase, dia tidak akan mengundang saya kesini.”

“Jadi anda menganggap ini adalah sebuah undangan?” Tanya Rommel sambil nyengir.

Lane membungkuk sedikit. “Ya, dan saya hanya bisa berkata bahwa saya sangat tersanjung karenanya.”

Mendengarnya semua orang langsung tertawa kecil. Rommel basa-basi bertanya, “bagaimana kabar teman lama saya jenderal Montgomery?”

“Kabarnya sangat baik, terimakasih,” jawab Lane. “Saya dengar dia sedang menyiapkan semacam invasi…”

Rommel pura-pura terkejut. “Jadi anda kira itu akan benar-benar terjadi?”

“Setidaknya itulah yang dikatakan oleh ‘Times’ (nama surat kabar terkemuka) pada kami,” sang tawanan menjawab, “dan biasanya keterangannya cukup bisa diandalkan.”

“Anda sadar bahwa ini akan menjadi kali pertama Inggris harus bertempur secara fair dengan kami?”

“Lalu bagaimana dengan Afrika?”

“Ah, itu hanya permainan anak-anak,” ejek Rommel. “Alasan satu-satunya saya harus mundur adalah karena saya tidak punya cadangan suplai lagi.”

Selama 20 menit selanjutnya Rommel mengenang tentang peperangan yang telah dijalaninya dan mengajari Lane tentang Inggris dan imperiumnya yang memudar, juga tentang masa depan cerah Hitler dan Third Reich-nya. Lane diam mendengarkan dan akhirnya meminta izin untuk bertanya: “Apakah tuan bermaksud mengatakan pada saya bahwa pendudukan militer adalah situasi ideal untuk Negara yang akan musnah?”

Rommel mendebat bahwa dengan pendidikan dan latihan yang dijalaninya, maka setiap prajurit mempunyai “bakat” untuk menjadi diktator yang ideal. Prajurit sudah terbiasa mengalami krisis, dan mereka tahu cara bertindak bahkan di keadaan paling darurat sekalipun. “Bila anda melakukan perjalanan keliling Prancis saat ini dan membiarkan mata anda tetap terbuka, maka anda akan melihat betapa bahagia dan puasnya rakyat Prancis. Untuk pertama kalinya mereka tahu apa yang harus mereka lakukan – karena kamilah yang mengatakannya pada mereka. Dan cara seperti itulah yang sesuai untuk orang-orang di jalanan!”

Setelah beberapa lama, penutup mata dikenakan kembali ke Letnan Lane. Dalam wawancara yang singkat ini sesuatu tentang pesona Rommel telah “menyeterumnya”, dan saat dia dibimbing keluar menuju ke mobil untuk melanjutkan perjalanan dengan selamat ke kamp tawanan – seperti yang telah dijamin oleh sang Marsekal – Lane menggenggam tangan Oberst Anton Staubwasser, perwira intelijen Rommel.

“Dapatkah saya meminta tolong pada anda,” katanya. “Dimanakah saya sekarang?”

Staubwasser secara sopan menolak untuk menjawabnya, untuk alasan keamanan. Lane menggenggam tangannya lebih erat lagi dan memohon padanya: “Saya bersumpah saya tidak akan mengatakannya pada seorangpun. Tapi bila perang ini sudah berakhir saya ingin kembali lagi kesini bersama istri dan anak-anak saya – saya ingin memperlihatkan pada mereka dimana saya bertemu dengan Rommel!”


Catatan:
Kisah tentang interogasi anggota Komando Inggris ini terdokumentasikan dengan baik di catatan milik mantan perwira intelijen Wehrmacht yang disimpan di Hutan Hitam Jerman. Kisah yang sama juga termaktub dalam sebuah catatan kecil di salah satu konferensi perang yang biasa dilakukan oleh Hitler, yang kini tersimpan di sebuah universitas Amerika. Dia juga diceritakan ulang dalam buku harian perwira-perwira Jerman yang dekat dengan Rommel, dan jangan lupakan pula penuturan dari George Lane sendiri, yang dia bukukan saat dia pulang ke Inggris.


Sumber :
Buku “The Trail of the Fox: The Search for the True Field Marshal Rommel” oleh David Irving

Kamis, 05 Juni 2014

Album Foto Adolf Hitler di Reichstag (Reichstagssitzung)

 Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) menginspeksi barisan kehormatan Leibstandarte SS Adolf Hitler dalam acara Reichstagssitzung (Sesi Reichstag) yang diadakan di Tiergarten (Berlin) tanggal 20 Februari 1938. Mengiringi di sebelah kirinya adalah komandan LSSAH, SS-Obergruppenführer Josef "Sepp" Dietrich, sementara di belakang mereka dari kiri ke kanan: perwira SS tak dikenal, SS-Untersturmführer Karl Krause (Ordonnanzoffizier in der SS-Begleitkommando des Führers), SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant “Führer und Reichskanzler”), NSKK-Brigadeführer Albert Bormann (Chef Hauptamt I und Leiter der Privatkanzlei des Führers in Führerkanzlei), SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant Hitler), Hauptmann Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"), Major Rudolf Schmundt (Chefadjutant des Heeres beim Führer und Oberbefehlshaber der Wehrmacht), dan SS-Hauptsturmführer Theodor "Teddy" Wisch (Chef 1.Kompanie/LSSAH)


Pada tanggal 1 September 1939 pukul 10:00 pagi, Adolf Hitler (Führer und Reichskanzler) berbicara di hadapan para deputi Reichstag Jerman dan mengumumkan bahwa saat ini Jerman dalam keadaan berperang dengan Polandia. Pengumuman tersebut disambut dengan gegap gempita, tepuk tangan panjang dan teriakan "Heil Hitler" yang membahana diselingi oleh salam Nazi. Generalfeldmarschall Hermann Göring (Reichstagspräsident) duduk di atas Hitler dalam fungsinya sebagai pimpinan Reichstag; di kiri Hitler berdiri SS-Gruppenführer Julius Schaub (Persönlicher Adjutant Hitler) dan SS-Gruppenführer Dr.jur. Hans Heinrich Lammers (Reichsminister ohne Portfeuille und Chef der Reichskanzlei), sementara di kanannya adalah SS-Gruppenführer Dr. Otto Dietrich (Staatssekretär im Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda) dan SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant des "Führers und Reichskanzlers“); di baris depan di sebelah kiri adalah Reichsminister Joachim von Ribbentrop (Reichsminister des Auwärtigen) dan SS-Obergruppenführer Rudolf Hess (Stellvertreter des Führers), sementara di belakang mereka adalah Reichsminister Walter Funk (Reichswirtschaftsminister) dan Reichsminister Lutz Graf Schwerin von Krosigk (Reichsminister für Finanz)


Sumber :
Foto koleksi pribadi Todd Gylsen
www.wehrmacht-awards.com