Sabtu, 11 April 2009

Senjata-Senjata Rahasia Nazi Jerman Yang MENGERIKAN!






































Seni Nazi Jerman

  1. Anime tema Nazi Jerman
  2. Balon udara Nazi dari telur
  3. Diagram Pertempuran Kursk
  4. Duel sniper dalam film SAVING PRIVATE RYAN
  5. Foto artistik Perang Dunia II
  6. Foto boneka Nazi Jerman
  7. Foto dulu dan sekarang (now and then)
  8. Foto editing zaman Nazi Jerman
  9. Foto grafiti Nazi Jerman
  10. Foto kegiatan seni zaman Nazi Jerman
  11. Foto patung zaman Nazi Jerman
  12. Foto Photoshop tema Nazi Jerman
  13. Foto terbaik Perang Dunia II
  14. Gambar dan sketsa Nazi Jerman
  15. Gambar dan sketsa tokoh Nazi Jerman
  16. GIF animasi Erwin Rommel
  17. GIF animasi Nazi Jerman
  18. Hermann Göring dan kereta mainan merk Märklin
  19. Iklan Nazi Jerman
  20. Iklan perdamaian Hitler dengan bunga
  21. Karikatur tokoh Nazi Jerman
  22. Karya seni tema Hitler zaman Nazi Jerman
  23. Karya terbaik Adolf Hitler
  24. Karya terbaik David Pentland
  25. Karya terbaik Dmitriy Zgonnik
  26. Karya terbaik Gareth Hector 
  27. Karya terbaik Herbert Smagon
  28. Karya terbaik Oskar Graf München
  29. Karya terbaik Ron Volstad
  30. Karya terbaik Werner Horn
  31. Karya terbaik Wolfgang Willrich
  32. Lagu favorit Adolf Hitler
  33. Lukisan 3D Nazi Jerman
  34. Lukisan mesin perang Wehrmacht
  35. Lukisan perang era Third Reich
  36. Lukisan perang pasca Third Reich
  37. Lukisan tokoh Heer
  38. Lukisan tokoh Luftwaffe
  39. Lukisan tokoh Kriegsmarine
  40. Lukisan tokoh SS und Polizei
  41. Lukisan tokoh NSDAP
  42. Lukisan tokoh Freiwilligen (Sukarelawan Asing)
  43. Lukisan Amerika Serikat dalam Perang Dunia II
  44. Monumen dan tugu Nazi Jerman
  45. Pemeran tokoh Nazi di film
  46. Pidato jenderal Jerman dalam miniseri BAND OF BROTHERS
  47. Propaganda Nazi Jerman
  48. Puisi Nazi Jerman
  49. Seni modern Nazi Jerman
  50. Sketsa U-boat-U-boat anggota 5. U-Boots-Flotille
  51. Tintin dan pesawat Perang Dunia II
  52. Tokoh Nazi Jerman dalam sampul majalah TIME
  53. TV dan Film zaman Nazi Jerman
  54. Wallpaper tema Nazi Jerman

Jumat, 10 April 2009

Organisasi Neo-Nazi Dalang Penyebaran Anthrax!

Seorang anggota skinhead bersama anaknya yang memakai baju berlambang swastika


Kandidat anggota kongres Amerika Serikat Toni Zirkle dalam acara perayaan ulang tahun ke-119 Adolf Hitler yang diselenggarakan oleh organisasi Neo-Nazi


image
LONDON--Semua tuduhan Amerika Serikat (AS) tentang asal-usul teror Anthrax boleh jadi kini gugur. Para penyelidik di Inggris meyakini dalang penyebar teror virus itu adalah kelompok Neo-Nazi. Bukannya jaringan teroris Arab atu Muslim. Apalagi dari Indonesia. 

Menurut harian terkemuka di Eropa, The Mirror, para penyelidik yang tidak diungkap identitasnya itu kelompok Neo-Nazi tersebut melakukan gerakan anti-pemerintah yang sama keras dan membahayakannya dengan teroris Muslim garis keras. Hingga yang dikhawatirkan adalah jika kedua kelompok itu bekerjasama. 

Para penyelidik serangan kuman Anthrax kini berusaha mengamati kemungkinan adanya hubungan antara kelompok neo-Nazi AS dengan Muslim garis keras yang bersatu dalam kebencian mereka terhadap Israel dan umat Yahudi. 

Dalam sebuah website kelompok ini pernah ditulis sebuah pesan--setelah serangan 11 September, berbunyi "Musuh dari musuh kita adalah sahabat kita. Kita tidak ingin mereka menikahi anak wanita kita, tapi orang yang mau menubrukkan pesawat ke gedung untuk membunuh Yahudi bisa kita terima." 

Sementara di Departemen Kehakiman AS, pihaknya mengakui tengah menyelidiki sejumlah kelompok penebar kebencian dan orang-orang yang aktif di dalamnya. Kelompok Neo-Nazi AS telah banyak melahirkan teroris lokal semacam Timothy McVeigh yang melakukan pengeboman terhadap Gedung Federal di Oklahoma dan menewaskan 168 orang. McVeigh dieksekusi bulan Juni lalu. 

Diluar kelompok penebar kebencian seperti Neo Nazi itu, di AS kini masih ada kelompok Ku Klux Klan, kelompok supremasi kulit putih, dan ekstrim kanan Kristen, yang anti-Israel dan Yahudi. Para ahli di bidang teroris lokal AS kini direkrut untuk membantu tim penyelidik untuk mencari jejak siapa yang bertanggung jawab atas serangan Anthrax yang mematikan itu. 

Selain itu, penyelidik juga menginvestigasi kemungkinan adanya ilmuwan gila yang menjadi sumber penyebaran Anthrax yang telah menewaskan setidaknya tiga orang dan 13 korban terinsfeksi lainnya. 

Jurubicara Bush, Ari Fleischer, mengatakan Anthrax bisa saja berasal dari laboratorium canggih di AS. Sebanyak 67 laboratorium di AS yang menggunakan Anthrax kini sedang diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya pasokan Anthrax yang hilang. Sementara para pekerjanya juga dicek untuk mengetahui adanya orang yang punya dendam terhadap pemerintah. 

Seorang pejabat senior AS yang dikutip Mirror mengatakan, "Semuanya tampak tertuju pada sumber lokal. Tak ada yang cocok dengan tipe operasi teroris asing". 

Tidak Berhubungan dengan Indonesia


Beberapa pekan lalu AS dengan entengnya pernah menyebut Indonesia jadi pemasok Anthrax. Tentu saja--seperti biasa, itu tuduhan tak berdasar AS. Seperti ditulis New Scientist (29/10), beberapa tanah di Indonesia memang tempat spora anthrax mengeram, tapi agaknya tak ada alasan menyebut Indonesia ikut menyuplai virus itu. 

Saat ini, menurut hasil penyelidikan New Scientist, jauh lebih masuk akal jika adonan anthrax itu--dan resep untuk mengolahnya-- dari AS sendiri. Seperti diungkapk Koran Tempo pekan lalu, media terkemuka dalam berita-berita sains dan teknologi itu mengabarkan, anthrax yang kini menyerang AS berkerabat dekat dengan yang dikembangkan sebagai senjata di negeri itu sendiri pada 1960-an. 

Dalam laporan terbarunya media itu menambahkan, ada bukti baru jika cara mengadonnya juga menggunakan resep amat rahasia yang dikembangkan angkatan bersenjata di negeri itu. 

Sebuah sumber yang tak disebutkan namanya menguatkan dugaan itu. "Anthrax dalam surat Daschle kelihatannya dibuat menggunakan catatan resep yang dikembangkan AS," kata sumber itu. 

AS memang pernah menjadi produsen spora anthrax terbesar di dunia, yang hanya mungkin dikalahkan Uni Soviet. Pada puncaknya, program senjata biologi AS memproduksi 900 kilogram bubuk anthrax kering setiap tahun di Arkansas. AS telah menghancurkan senjata itu ketika tak lagi menggunakan senjata biologi pada 1969, tapi beberapa di antaranya mungkin terselamatkan tanpa pernah dicatat di arsip mereka. 

Mungkin juga semua senjata itu telah dihancurkan, tapi catatan resepnya bocor. Dengan resep itu teroris dapat saja memproduksi ulang anthrax itu di beberapa laboratoium di seluruh dunia. "Ini kacau," kata spesialis bioterorisme itu. 

Penyelidikan menunjukkan, resep pembuatan senjata itu ternyata lebih sukar dari pengujian DNA untuk mencari asal-usulnya. Pengujian genetik dapat dilakukan cukup dengan beberapa bakteri itu, yang bisa diambil dari pasien atau permukaan material yang terkontaminasi. Di laboratorium, jumlahnya dapat diperbanyak hingga cukup untuk sebuah analisa DNA. Sementara itu, untuk pengujian fisik, perlu ada sebuah sampel utuh. 

Sejauh ini hanya ada dua sampel yang dapat dipakai: Satu dari surat yang dibuka di kantor senator Tom Daschle di Washington pada 15 Oktober, dan lainnya surat yang dikirim ke New York Post. Tapi itu cukup, paling tidak untuk sementara. 

Analisa fisik sampel dari New York Post belum diketahui. Tapi, bentuk fisik bubuk anthrax pada surat Daschle sudah diketahui. Pekan lalu, senator AS Bill Frist mengumumkan, bubuk itu berukuran antara 1,5 sampai 3,0 mikron, tak kurang-tak lebih. 

Menurut Ken Alibek, mantan wakil kepala program senjata biologi Uni Soviet, rahasia untuk membuat senjata anthrax yang ampuh memang pada kemampuan membuat partikel yang kecil. Lebih detil lagi, pada cara mengubah kultur basah bakteri anthrax menjadi bubuk spora kering yang ukurannya antara 1-5 mikron -- ukuran optimal partikel untuk dapat masuk ke pori-pori paru-paru manusia dan tinggal di sana. Ukuran itu sudah termasuk spora bakteri sebesar setengah mikron. 

Untuk membuat partikel berukuran sekecil itu, kata Alibek, menggilingnya adalah cara yang paling mungkin. Tapi, ukuran partikel akan beragam. Partikel itu memang dapat diayak, tapi tetap saja akan lebih besar dari yang dipakai menyerang Daschle. 

Jika menggilingnya tak hati-hati, spora juga bisa mati sebelum menjadi senjata. Selain itu spora kering cenderung menggumpal dan -- karena muatan listrik statisnya -- lebih senang lengket pada permukaan benda. 

Dulu Uni Soviet membuatnya dengan menggiling kultur kering bersama senyawa kimia khusus yang menyebabkan partikel tak menggumpal. Irak -- satu-satunya negara yang diketahui mencoba membuat beberapa senjata ini -- melakukannya dengan mencampur kultur anthrax bersama bentonit, sejenis material tanah liat. Gedung Putih pekan lalu mengatakan, tak ada bentonit di surat Daschle. 

Sementara itu, para perekayasa AS membuatnya dengan menambahkan beberapa molekul, termasuk pelapis partikel, ke spora basah. Dengan cara ini, ketika kultur dikeringkan, kultur langsung menjadi bubuk dengan ukuran beberapa mikron dan seragam. Dengan cara ini, resep AS tak memerlukan penggilingan. 

Sejauh ini AS masih memeriksa bahan tambahan pada sampel itu, untuk mencari adanya bahan kimia tambahan yang dipakai oleh ahli senjata mereka. Jika ternyata benar? 

Bahkan, jika pun ternyata resepnya tak asli AS, sudah seharusnya AS melakukan penyelidikan secerdas itu. Jika tidak, malu rasanya mengenang kenyataan bahwa di sana ada banyak saintis yang piawai.n 


Foto Perayaan dan Peringatan Masa Nazi Jerman

  1. Foto Erntedankefest (Thanksgiving)
  2. Foto Hari Natal
  3. Foto Heldengedenktag (Peringatan Hari Pahlawan)
  4. Foto penyambutan atas penganugerahan medali
  5. Foto penyambutan pahlawan perang di kampung halaman
  6. Foto Perayaan dan penyambutan misi U-boat yang sukses
  7. Foto perayaan Feindflugjubiläum (Misi Bersejarah)
  8. Foto perayaan Tahun Baru
  9. Foto Perayaan ulang tahun Adolf Hitler
  10. Foto peringatan Münich Putsch
  11. Foto Pesta ulang tahun
  12. Foto Reichsparteitag der NSDAP

Armada Kapal Selam Jerman (U-Boat) Di Indonesia!

 Enam orang awak U-195 yang tadinya hendak bergabung dengan pejuang kemerdekaan di Bogor tapi kemudian malah tertangkap Belanda di Pasar Pesing, Jakarta. Mereka lalu ditahan di Penjara Glodok, terus di Pulau Onrust (September 1945 - Januari 1946), sebelum dipindahkan ke Malang sampai dengan tahun 1948 karena Inggris dan Belanda khawatir mereka berupaya dibebaskan oleh TKR dan para pejuang kemerdekaan lainnya. Berdiri, dari kiri ke kanan: Oberleutnant zur See Fritz Arp (16 Januari 1915 - 29 Juni 1963), Wachtoffizier; Maschinenmaat Erich Döring (29 Maret 1921); dan Hans Philipsen. Jongkok: Alfred Pschunder; Maschinenobergefreiter Heinz Ulrich (10 Agustus 1924); dan Oberleutnant (Ing.) Herbert Weber (3 Juni 1914). Saya tidak berhasil menemukan keterangan mengenai Philipsen serta Pschunder dalam daftar 95 orang yang pernah bertugas di U-195, karenanya bisa dipastikan mereka bukanlah awak kapal selam tersebut, tapi kemungkinan anggota Kriegsmarine lainnya yang ditempatkan di Indonesia!


BERKECAMUKNYA Perang Dunia II Teater Asia-Pasifik, yang terjadi di Indonesia, diwarnai kehadiran pasukan Nazi Jerman. Aksi mereka dilakukan usai menyerahnya Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, 8 Maret tahun 1942, atau 64 tahun silam. Namun, kehadiran Nazi Jerman ke Indonesia seakan terlupakan dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia, secara umum melalui aksi sejumlah kapal selam (u-boat/u-boote) di Samudra Hindia, Laut Jawa, Selat Sunda, Selat Malaka, pada kurun waktu tahun 1943-1945. Sebanyak 23 u-boat mondar-mandir di perairan Indonesia, Malaysia, dan Australia, dengan pangkalan bersama Jepang, di Jakarta, Sabang, dan Penang, yang diberangkatkan dari daerah pendudukan di Brest dan Bordeaux (Prancis) Januari-Juni 1943.

Beroperasinya sejumlah u-boat di kawasan Timur Jauh, merupakan perintah Fuehrer Adolf Hitler kepada Panglima Angkatan Laut Jerman(Kriegsmarine), Admiral Karl Doenitz. Tujuannya, membuka blokade lawan, juga membawa mesin presisi, mesin pesawat terbang, serta berbagai peralatan industri lainnya, yang dibutuhkan "kawan sejawatnya", Jepang yang sedang menduduki Indonesia dan Malaysia. Sepulangnya dari sana, berbagai kapal selam itu bertugas mengawal kapal yang membawa "oleh-oleh" dari Indonesia dan Malaysia, hasil perkebunan berupa karet alam, kina, serat-seratan, dll., untuk keperluan industri perang Jerman di Eropa.

Pada awalnya, kapal selam Jerman yang ditugaskan ke Samudra Hindia dengan tujuan awal ke Penang berjumlah 15 buah, terdiri U-177, U-196, U-198, U-852, U-859, U-860, U-861, U-863, dan U-871 (semuanya dari Type IXD2), U-510, U-537, U-843 (Type IXC), U-1059 dan U-1062 (Type VIIF). Jumlahnya kemudian bertambah dengan kehadiran U-862 (Type IXD2), yang pindah pangkalan ke Jakarta.

Ini disusul U-195 (Type IXD1) dan U-219 (Type XB), yang mulai menggunakan Jakarta sebagai pangkalan pada Januari 1945. Sejak itu, berduyun-duyun kapal selam Jerman lainnya yang masih berpangkalan di Penang dan Sabang ikut pindah pangkalan ke Jakarta, sehingga Jepang kemudian memindahkan kapal selamnya ke Surabaya.

Adalah U-862 yang dikomandani Heinrich Timm, yang tercatat paling sukses beraksi di wilayah Indonesia. Berangkat dari Jakarta dan kemudian selamat pulang ke tempat asal, untuk menenggelamkan kapal Sekutu di Samudra Hindia, Laut Jawa, sampai Pantai Australia.

Nasib sial nyaris dialami U-862 saat bertugas di permukaan wilayah Samudra Hindia. Gara-gara melakukan manuver yang salah, kapal selam itu nyaris mengalami "senjata makan tuan", dari sebuah torpedo jenis homming akustik T5/G7 Zaunkving yang diluncurkannya. Untungnya, U-862 buru-buru menyelam secara darurat, sehingga torpedo itu kemudian meleset.

Usai Jerman menyerah kepada pasukan Sekutu, 6 Mei 1945, U-862 pindah pangkalan dari Jakarta ke Singapura. Pada Juli 1945, U-862 dihibahkan kepada AL Jepang, dan berganti kode menjadi I-502. Jepang kemudian menyerah kepada Sekutu, Agustus tahun yang sama. Riwayat U-862 berakhir 13 Februari 1946 karena dihancurkan pasukan Sekutu di Singapura. Para awak U-862 sendiri semuanya selamat dan kembali ke tanah air mereka beberapa tahun usai perang.

Dilindungi pribumi

Usai Jerman menyerah kepada Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, berbagai kapal selam yang masih berfungsi, kemudian dihibahkan kepada AL Jepang untuk kemudian dipergunakan lagi, sampai akhirnya Jepang takluk pada 15 Agustus 1945 usai dibom nuklir oleh Amerika.

Setelah peristiwa itu, sejumlah tentara Jerman yang ada di Indonesia menjadi luntang-lantung tidak punya kerjaan. Orang-orang Jerman mengambil inisiatif agar dapat dikenali pejuang Indonesia dan tidak keliru disangka orang Belanda. Caranya, mereka membuat tanda atribut yang diambil dari seragamnya dengan menggunakan lambang Elang Negara Jerman pada bagian lengan baju mereka.

Para tentara Jerman yang tadinya berpangkalan di Jakarta dan Surabaya, pindah bermukim ke Perkebunan Cikopo, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Mereka semua kemudian menanggalkan seragam mereka dan hidup sebagai "warga sipil" di sana.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka, mengisahkan, pada awal September 1945 sebuah Resimen Ghurka-Inggris di bawah komandan perwira asal Skotlandia datang ke Pulau Jawa. Mereka kaget menemukan tentara Jerman di Perkebunan Cikopo.

Sang komandan bertanya kepada Mayor Angkatan Laut Jerman, Burghagen yang menjadi kokolot di sana, untuk mencari tempat penampungan di Bogor.

Menggunakan 50 truk eks pasukan Jepang, orang-orang Jerman di Perkebunan Cikopo itu dipindahkan ke tempat penampungan di Bogor. Namun mereka harus kembali mengenakan seragam mereka, memegang senjata yang disediakan pasukan Inggris, untuk melindungi tempat penampungan yang semula ditempati orang-orang Belanda.

Saat itu, menurut dia, di tempat penampungan banyak orang Belanda yang mengeluh, karena mereka "dijaga" oleh orang Jerman. "Pada malam hari pertama menginap, langsung terjadi saling tembak namun tak ada korban. Ternyata,orang-orang Indonesia menyangka orang Jerman telah tertangkap oleh pasukan.Sekutu, dan mereka berusaha membebaskan orang-orang Jerman itu," kata Zahorka.

Setelah peristiwa itu, Inggris menyerahkan sekira 260 tentara Jerman kepada Belanda yang kemudian ditawan di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu.

Tercatat pula, beberapa tentara Jerman melarikan diri dari Pulau Onrust, dengan berenang menyeberang ke pulau lain. Di antaranya, pilot pesawat angkatan laut bernama Werner dan sahabatnya Lvsche dari U-219.

Selama pelarian, mereka bergabung dengan pejuang kemerdekaan Indonesia di Pulau Jawa, bekerja sama melawan Belanda yang ingin kembali menjajah. Lvsche kemudian meninggal, konon akibat kecelakaan saat merakit pelontar api

Arca Domas, Kenangan Tentara Jerman di Indonesia

JIKA ditempuh dari jalan raya Cikopo Selatan, perlu waktu sekira setengah jam untuk sampai ke lokasi makam di Kampung Arca Domas, Desa Sukaresmi, Kec. Megamendung, Kab. Bogor. Akan tetapi, kendaraan harus "berjibaku" dulu menempuh jalan berbatu tanpa aspal dengan jurang di satu sisi.

MAKAM sepuluh orang angkatan laut Nazi Jerman, dua di antaranya awak kapal selam U-195 dan U-196, di Kampung Arca Domas Desa Sukaresmi Kab. Bogor, menjadi saksi bisu kehadiran pasukan Nazi Jerman di Indonesia pada Perang Dunia II. *KODAR SOLIHAT/"PR" Anehnya, tidak banyak warga setempat yang tahu keberadaan makam tentara Jerman tersebut. Mereka hanya tahu ada tempat pemakaman di ujung jalan. Padahal, di tempat terpencil itu terbaring jasad sepuluh tentara Angkatan Laut Nazi Jerman (Kriegsmarine) yang meninggal diIndonesia, sesaat setelah Jepang menyerah pada Sekutu, Agustus 1945.

Luas areal pemakaman yang diteduhi pohon kamboja itu, kira-kira 300 meter persegi. Sekeliling makam ditumbuhi tanaman pagar setinggi satu meter. Pintu masuknya dihalangi pagar bambu. Dekat pintu masuk, berdiri tugu peringatan Deutscher Soldatenfriedhof yang dibangun Kedubes Republik Federal Jerman di Jakarta untuk menghormati prajurit Jerman yang gugur.

Mereka adalah Komandan U-195 Friederich Steinfeld dan awak U-195, Dr Heinz Haake. Lainnya adalah pelaut Jerman, Willi Petschow, W. Martens, Wilhelm Jens, Hermann Tangermann, Willi Schlummer, Schiffszimmermann (tukang kayu kapal laut) Eduard Onnen. Dua nisan terpisah adalah makam tentara tidak dikenal (Unbekannt).

Makam itu terletak di lahan Afdeling Cikopo Selatan II Perkebunan Gunung Mas. Dahulu, makam itu dirawat PT Perkebunan XII (kini PT Perkebunan Nusantara VIII) selaku pengelola Perkebunan Gunung Mas, namun sejak beberapa tahun terakhir perawatan makam dibiayai pemerintah Jerman. Lahan yang bersebelahan dengan makam tadinya areal tanaman teh dan kina. Akan tetapi, tanaman tersebut habis dijarah, beberapa tahun lalu.

Pengamat sejarah militer Jerman di Indonesia, Herwig Zahorka yang dihubungi "PR", mengatakan, Letnan Friederich Steinfeld meninggal di Surabaya akibat disentri dan kurang gizi saat ditawan Sekutu. Keterangan ini diperoleh dari mantan awak U-195 yang bermukim di Austria, Peter Marl (82tahun) dan mantan awak U-195 lainnya, Martin Mueller yang datang ke makam tahun 1999.

Sedangkan Letnan Satu Laut Willi Schlummer dan Letnan Insinyur Wilhelm Jens, tewas dibunuh pejuang kemerdekaan Indonesia dalam Gedung Jerman di Bogor, 12 Oktober 1945. Kemungkinan, mereka disangka orang Belanda apalagi aksen bahasanya mirip.

Letnan Laut W. Martens terbunuh dalam perjalanan kereta api dari Jakarta ke Bogor. Kopral Satu Willi Petschow meninggal 29 September, karena sakit saat di Perkebunan Cikopo, serta Letnan Kapten Herman Tangermann meninggal karena kecelakaan pada 23 Agustus tahun yang sama.

"Kendati saat itu terjadi salah sasaran karena disangka orang Belanda, namun kemudian banyak orang Indonesia mengenali ternyata mereka orang Jerman. Ini kemudian menjadikan hubungan tersebut menjadi persaudaraan," kata Zahorka, pensiunan direktur kehutanan Jerman, yang bermukim di Bogor dan menikahi wanita Indonesia.

Mengenai keberadaan dua arca di makam tersebut, Zahorka mengatakan, arca-arca itu sengaja disimpan sebagai penghormatan kepada budaya warga setempat.

Warga Kampung Arca Domas, Abah Sa'ad (76 th), seorang saksi hidup peristiwa penguburan tentara Jerman di kampungnya, Oktober 1945. Saat itu, usianya 15 tahun. Ia ingat, prosesi pemakaman dilakukan puluhan tentara Nazi Jerman secara kemiliteran. Peristiwa itu mengundang perhatian warga.

"Waktu itu, masyarakat tidak boleh men-dekat. Dari kejauhan, tampak empat peti mati diusung tentara Jerman, serta sebuah kendi yang katanya berisi abu jenazah. Tentara Jerman itu berpakaian putih, dengan dipimpin seorang yang tampaknya komandan mereka karena menggunakan topi pet," tuturnya.

Sepengetahuan Abah Sa'ad, mulanya, makam tentara Jerman itu hanya ditandai nisan salib biasa, sampai kemudian ada yang memperbaiki makam itu seperti sekarang.

Keasrian dan kebersihan makam tersebut tidak lepas dari peran penunggu makam, Mak Emma (65) yang dibiayai Kedubes Jerman dua kali setahun. " Biasanya, setiap tahun ada warga Jerman yang menjenguk makam pahlawan negaranya itu," ujarnya.

Namun, dia kurang tahu sejarah makam itu karena baru diboyong suaminya (pensiunan karyawan Perkebunan Gunung Mas) 10 tahun lalu. Ia meneruskan pekerjaan suaminya (alm.) menjadi kuncen.

Jakarta Pernah Disinggahi Senjata Nuklir

U-195 dan U-219 Nyaris Ubah Sejarah

DARI berbagai kapal selam Jerman yang beraksi di Indonesia adalah U-195 dan U-219 yang bisa mengubah sejarah di Asia-Pasifik, jika Jerman dan Jepang tidak keburu kalah. Kedua kapal selam itu membawa uranium dan roket Nazi Jerman, V-2, dalam keadaan terpisah ke Jakarta, untuk dikembangkan pada projek senjata nuklir pasukan Jepang di bawah pimpinan Jenderal Toranouke Kawashima.

Ini merupakan langkah Jerman membantu Jepang, yang berlomba dengan Amerika Serikat dalam membuat senjata nuklir untuk memenangkan Perang Dunia II di Kawasan Asia-Pasifik. Rencananya, projek senjata nuklir Jepang untuk ditembakkan ke wilayah Amerika Serikat.

Kapal selam U-195 tiba di Jakarta pada 28 Desember 1944 dan U-219 pada 11 Desember 1944. Richard Besant dalam bukunya berjudul Stalin's Silver dan Robert K Wilcox dalam Japan's Secret War, hanya menyebutkan, kedua kapal selam itu membawa total 12 roket V-2 dan uranium ke Jakarta.

Namun, berbagai catatan tentang diangkutnya uranium dan roket V-2 untuk Jepang itu melalui Indonesia, hanya berhenti sampai ke Jakarta. Seiring menyerahnya Jerman kepada pasukan Sekutu di Eropa pada 8 Mei 1945, keberadaannya tidak jelas lagi.

Sementara itu, projek senjata nuklir Jepang di Hungnam, bagian utara Korea, sudah menguji senjata nuklirnya sepekan lebih cepat dari Amerika Serikat. Namun Jepang kesulitan melanjutkan pengembangan, karena untuk material pendukung harus menunggu dari Jerman.

Kapal selam U-195 dan U-219 kemudian dihancurkan pasukan sekutu, saat keduanya sudah berpindah tangan ke Angkatan Laut Jepang. Sebagian awak U- 95 sendiri, ada yang kemudian meninggal dan dimakamkan di Indonesia.

Kapal U-195 (Type IXD1) dikomandani Friedrich Steinfeld, selama tugasnya sukses menenggelamkan dua kapal sekutu total bobot mati 14.391 GRT dan merusak sebuah kapal lainnya yang berbobot 6.797 GRT. Kapal selam itu kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta pada Mei 1945 dan berubah menjadi I-506 pada 15 Juli 1945. Kapal ini kemudian dirampas Pasukan Sekutu di Surabaya pada Agustus 1945 lalu dihancurkan tahun 1947.

Sedangkan U-219 (Type XB) dikomandani Walter Burghagen, yang selama aksinya belum pernah menenggelamkan kapal musuh. Kapal selam ini kemudian dihibahkan ke AL Jepang di Jakarta, lalu pada 8 Mei 1945 berubah menjadi I-505. Usai Jepang menyerah Agustus 1945, I-505 dirampas Pasukan Sekutu lalu dihancurkan di Selat Sunda oleh Angkatan Laut Inggris pada tahun 1948.

Kisah aksi tugas kapal selam Jerman selama perang Dunia II juga menjadi ilham dibuatnya film berjudul "Das-Boot," yang dirilis di Jerman tahun 1981. Salah satu nara sumber autentik mengenai kehidupan para awak u-boat, adalah mantan perwira pertama dari U-219, Hans Joachim Krug, yang kemudian menjadi konsultan film itu.

Tak heran, pada film berdurasi 145 menit tersebut, para awak kapal selam Jerman tergambarkan secara autentik. Pergi berpenampilan rapi namun pulang dalam keadaan dekil, maklum saja karena berhari-hari bahkan berminggu-minggu di dalam air, mereka jarang mandi sehingga janggut, kumis, dan rambut pun cepat tumbuh.

U-234

Sementara itu, pada jalur pelayaran lain, U-234 yang juga dari Type XB berangkat menuju Jepang melalui Lautan Artik menjelang Mei 1945. Kapal selam itu juga mengangkut komponen roket V2 dan 500 kg uranium untuk projek nuklir pasukan Jepang, serta membawa pesawat tempur jet Me262.

Kapal U-234 membawa Jenderal Angkatan Udara Jerman (Luftwaffe), sejumlah rancangan senjata paling mutakhir Jerman saat itu, serta dua orang perwira Jepang. Selama perjalanan, sejumlah kapal perang dan pesawat Sekutu mencoba menenggelamkan U-234.

Usai Jerman menyerah, 8 Mei 1945, sejumlah awak U-234 memutuskan menyerah kepada pasukan Amerika Serikat. Dari sini cerita berkembang, pasukan Amerika mendapati kapal selam itu membawa uranium yang kemudian digunakan untuk projek Manhattan dalam produksi bom nuklir mereka.

Muncul kemudian spekulasi, bom nuklir yang berbahan uranium dari U-234 itu, kemudian digunakan Amerika untuk mengebom Nagasakidan Hiroshima Jepang pada Agustus 1945.

Misteri Hilangnya U-196 di Laut Kidul

DARI sejumlah kapal selam Jerman yang beraksi di perairan Indonesia, adalah U-196 yang masih menyimpan misteri keberadaannya.

Sampai kini, nasib kapal selam Type IXD2 itu hanya dikabarkan hilang di Laut Kidul (sebutan lain untuk bagian selatan Samudra Hindia).

Berbagai catatan resmi u-boat di Jerman, U-196 dinyatakan hilang bersama seluruh 65 awaknya di lepas pantai Sukabumi sejak 1 Desember 1944. Sehari sebelumnya, kapal selam yang dikomandani Werner Striegler itu, diduga mengalami nasib nahas saat menyelam.

Kapal selam U-196 meninggalkan Jakarta pada 29 November 1944, namun kemudian tak diketahui lagi posisi terakhir mereka selepas melintas Selat Sunda. Pesan rutin terakhir kapal selam itu pada 30 November 1944 hanya "mengabarkan" terkena ledakan akibat membentur ranjau laut lalu tenggelam.

Namun dari ketidakjelasan nasib para awak U-196, ada satu nama yang dinyatakan meninggal di Indonesia. Ia adalah Letnan Dr. Heinz Haake yang makamnya ada di Kampung Arca Domas Bogor, bersama sembilan tentara Nazi Jerman lainnya.

Minim catatan mengapa jasad Haake dapat dimakamkan di sana, sedangkan rekan-rekannya yang lain tak jelas nasibnya. Hanya kabarnya, ia dimakamkan atas permintaan keluarganya.

Selama kariernya, U-196 pernah mencatat prestasi saat masih dipimpin komandan sebelumnya, Friedrich Kentrat. Kapal selam itu melakukan tugas patroli terlama di kedalaman laut selama 225 hari, mulai 13 Maret s.d. 23 Oktober 1943. Kapal tersebut menenggelamkan tiga kapal musuh dengan total bobot 17.739 GRT.

Posisi Friedrich Kentrat kemudian digantikan Werner Striegler (mantan komandan U-IT23) sejak 1 Oktober 1944, sampai kemudian U-196 mengalami musibah sebulan kemudian.

Kendati demikian, sebagian pihak masih berspekulasi atas tidak jelasnya nasib sebagian besar awak U-196. Walau secara umum mereka dinyatakan ikut hilang bersama kapal selam itu di Laut Kidul, namun ada yang menduga sebagian besar selamat.

Konon, kapal ini datang ke Amerika Selatan kemudian sebagian awaknya bermukim di Iqueque, Chile. Dari sini pun, tak jelas lagi apakah U-196 akhirnya benar-benar beristirahat di sana, apakah kemudian kapal selam itu ditenggelamkan atau dijual ke tukang loak sebagai besi tua, dll.

Seseorang yang mengirimkan e-mail dari Inggris, yang dikirimkan 14 Oktober 2004, masih mencari informasi yang jelas tentang keberadaan nasib awak U-196. Ia menduga, U-196 sebenarnya tidak mengalami kecelakaan terkena ranjau di sekitar Selat Sunda dan Laut Kidul, sedangkan para awaknya kemudian menetap di Cile.

Keyakinannya diperoleh setelah membaca sebuah surat kabar di Cile, sejumlah awak kapal selam Jerman telah berkumpul di Iqueque pada tahun 1945. Mereka tiba bersamaan dengan kapal penjelajah Almirante Latorre, yang mengawal mereka selama perjalanan dari Samudra Hindia. Di bawah perlindungan kapal penjelajah itu, kapal selam tersebut beberapa kali bersembunyi di perairan sejumlah pulau, sebelum akhirnya berlabuh di Pantai Selatan Cile.

Yang menimbulkan pertanyaan dirinya, mengapa setelah tiba di Cile, tak ada seorang pun awaknya pulang ke Jerman atau mencoba bergabung kembali dengan kesatuan mereka. Ini ditambah, minimnya kabar selama 50 tahun terakhir yang seolah-olah "menggelapkan" kejelasan nasib U-196, dibandingkan berbagai u-boat lainnya yang sama-sama beraksi di Indonesia.

Entahlah, kalau saja Dr. Heinz Haake masih hidup dan menjadi warga Negara Indonesia, mungkin ia dapat menceritakan peristiwa yang sebenarnya menimpa U-196.

Sumber :
Foto koleksi pribadi Juergen Kodar

Foto Tokoh Third Reich Peraih Panzerkampfabzeichen (Tanpa Memakai Seragam Hitam Panzer)



 ----------------------------------------------------------------------------


HEER

Unteroffizier Eduard "Edi" Achatz (lahir 22 Juni 1919 di Schönwald/Oberfranken) adalah anggota Panzer-Regiment 35 / 4.Panzer-Division yang telah menjadi "veteran" pergulatan hidup dan mati bahkan dari sejak masih bayi! Dia pernah tersiram air panas, terjatuh dari atap rumah, dan terkena lemparan batu-bata di kepala. Di pertempuran pertama yang dijalaninya tahun 1939 sebuah peluru menembus lengannya. Dalam pergulatan sengit di Stary Bychow sang supir panzer bertahan hidup sementara rekan-rekan di kiri kanannya berguguran tertembus peluru atau terpapar ledakan. Saat teman-temannya tenggelam ketika berusaha balik kembali ke wilayah yang dikuasai Jerman dengan menyeberangi sungai Dnieper, Achatz tertahan di pinggir sungai karena tak bisa berenang, dan inilah yang menyelamatkannya! Dia ditawan oleh pasukan Rusia yang membawanya ke Smolensk. Gerak maju pasukan Wehrmacht membawa mereka ke tempat itu, dan ledakan peluru artileri berdentuman di sekitar kota. Salah satunya jatuh persis di sel tempat Achatz ditawan dan melukai lehernya. Untunglah ternyata itu hanya granat asap! Dia berhasil dibebaskan, dan berhasil selamat sampai perang usai. Apakah setelah itu kisah pergumulannya dengan hidup dan mati berakhir? Tidak! Dia pernah kecelakaan saat mengendarai moped sehingga kakinya sempat mengalami lumpuh selama satu tahun. Selain itu, Achatz juga pernah mengalami kecelakaan di pabrik kimia tempatnya bekerja saat sebuah kontainer yang berisi bahan-bahan kimia berbahaya meledak di dekatnya. Dia menyelamatkan diri dengan loncat ke jendela, sehingga hanya satu jarinya yang patah! Masih banyak lagi kejadian "Close Call" lainnya yang dia alami, tapi semuanya tak pernah berhasil "membunuhnya"! Setidaknya sampai tulisan ini dibuat, 12 September 2014, dia masih hidup dan sehat walafiat di usianya yang telah menginjak 95 tahun! Medali dan penghargaan yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse; Verwundetenabzeichen in Schwarz; serta Panzerkampfabzeichen in Silber


Hauptmann Hans-Heinrich Aster dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 27 Januari 1944 sebagai Oberleutnant di I.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 108 / 14. Panzer-Division. Dia memulai pelatihan militer tanggal 1 Desember 1939 - Mei 1940 dan mulai bertugas di Panzergrenadier-Regiment 108 periode 1 Maret 1943 - 3 Desember 1944. Dari mulai 4 Desember 1944, Aster ditempatkan sebagai Ordonnanz-Offzier di Generalinspekteur der Panzertruppen. Dia dipromosikan sebagai Hauptmann tanggal 1 September 1944. Dalam foto studio ini Aster mengenakan feldanzug (seragam lapangan) M44 dengan medali-medali yang tersemat (selain DKiG): pita Eisernes Kreuz II.Klasse dan Ostmedaille, Nahkampfspange in Silber, Panzerkampfabzeichen in Bronze, Eisernes Kreuz I.Klasse, dan Verwundetenabzeichen in Silber


Oberwachtmeister Wilhelm "Willy" Bachor (4 Mei 1921 – 20 Maret 2008) lahir sebagai anak kesembilan di Kellbassen/Ostpreußen. Setelah sempat menjadi petani selama beberapa waktu, dia masuk Reiter-Ersatz-Regiment 1 tanggal 5 Desember 1939. Bachor pertama kali mencicipi pertempuran di Belanda tahun 1940, dan sejak saat itu secara konstan menambah "jam terbangnya" di berbagai front. Pada tanggal 1 Juni 1942, 1. Kavallerie-Division tempatnya bergabung diupgrade menjadi divisi panzer dengan nama 24. Panzer-Division. Dia berhasil selamat dalam neraka di Stalingrad setelah luka "keberuntungan" membuatnya diterbangkan keluar dari kota tersebut tak lama sebelum pasukan Jerman yang terkepung menyerah. Pertempuran terakhir yang dijalaninya adalah di Prusia Timur yang merupakan tempat kelahirannya. Fakta bahwa dia membela kampung halamannya membuat Bachor bertempur gila-gilaan, dengan panzer-nya menghancurleburkan 9 tank penyerang Rusia sehingga menambah koleksi korbannya menjadi 57 (plus 90 senjata artileri dari berbagai jenis)! Dia secara resmi dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 11 Mei 1945 sebagai Oberwachtmeister dan Zugführer di 12.Kompanie / III.Abteilung / Panzer-Regiment 24 / 24.Panzer-Division / XXVI.Armeekorps / 4.Armee / Heeresgruppe Nord. Rekomendasi untuk penganugerahannya tidak diterima oleh Heerespersonalamt (HPA) sebelum tanggal 8 Mei 1945 (menyerahnya Jerman), karenanya penganugerahannya tidak dilakukan secara resmi dan hanya diakui oleh OdR (Ordensgemeinschaft der Ritterkreuzträger) saja, sementara Veit Scherzer dan Bundesarchiv (keduanya "mendewakan" bukti dokumen tertulis) menganggapnya tidak sah! Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (14 November 1940) dan I.Klasse (25 Desember 1943); Allgemeines-Sturmabzeichen; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (8 September 1942); Deutsches Kreuz in Gold (28 Juni 1944); Verwundetenabzeichen in Gold (28 Juni 1944); serta Panzerkampfabzeichen in Silber III.Stufe "50" (6 April 1945)



Leutnant Ludwig Bauer (16 Februari 1923 - ) pertama kali mencicipi pertarungan hidup dan mati dalam Pertempuran Moskow akhir tahun 1941 bersama dengan 9. Panzer-Division. Terluka dalam pertempuran tersebut, dia kembali ke unitnya untuk ikut berpartisipasi dalam ofensif Wehrmacht ke Kaukasus. Ketika 9. Panzer-Division ditransfer ke Front Barat, Bauer kembali berada di tengah kecamuk pertempuran dalam Ofensif Ardennes akhir tahun 1944 dengan menjadi komandan StuG yang bertugas membebaskan 2. Panzer-Division yang terperangkap di bagian timur sungai Meuse. Di akhir perang dia menjadi komandan tank dari jenis Panther yang bertugas sebagai pengintai pergerakan musuh. Suatu waktu Bauer tertidur kelelahan di dalam tanknya dan, ketika bangun, mendapati prajurit-prajurit Amerika sedang berkumpil di atas karena menyangka Panther tersebut sudah ditinggalkan oleh awaknya! Bauer langsung menghidupkan mesin tanknya dan buru-buru kabur ke wilayah Jerman dengan diiringi oleh tembakan bazooka musuh (tiga diantaranya mengenai Panthernya). Sialnya, ketika hampir sampai di garis pertahanan Jerman, dia disangka sebagai tank Amerika yang menyerbu dan ditembaki oleh Panther temannya! Untung saja Bauer dan awaknya bisa keluar dengan selamat dari tank mereka yang terbakar. Dahsyatnya, itu adalah kali KESEMBILAN dia berhasil selamat hidup-hidup dari tank yang terbakar dalam kancah Perang Dunia II! Bauer dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 29 April 1945 sebagai Leutnant di 1.Kompanie / I.Abteilung / Panzer-Regiment 33 / 9.Panzer-Division / LVIII.Panzerkorps / 5.Panzerarmee / Heeresgruppe B. Sayangnya, tak ada bukti penganugerahannya yang tersimpan di Bundesarchiv meskipun organisasi veteran 9. Panzer-Division telah mengkonfirmasikan hal tersebut melalui upacara penganugerahan ulang di tahun 1954. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Verwundetenabzeichen in Schwarz (12 Desember 1941); Panzerkampfabzeichen II.Stufe "25" (18 Juli 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (1 Agustus 1942); Eisernes Kreuz II.Klasse (1 September 1942); Eisernes Kreuz I.Klasse (1943); serta Verwundetenabzeichen in Gold. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI



Generalleutnant Fritz Bayerlein (14 Januari 1899 - 30 Januari 1970) adalah perwira veteran Perang Dunia Pertama dari Bavaria yang kemudian malang-melintang dalam Perang Dunia II, kebanyakan sebagai anggota staff unit. Dia mendapat nama harum saat menjadi Kepala Staff "Si Rubah Gurun" Erwin Rommel dalam medan pertempuran di Afrika Utara, sebelum kemudian dipercaya sebagai Komandan 3. Panzer-Division (20 Oktober 1943 - 5 Januari 1944), Panzer-Lehr-Division (10 Januari 1944 - 20 Januari 1945), dan LIII. Armeekorps (29 Maret 1945 - 8 Mei 1945). Karena sifatnya yang tidak bisa diduga baik oleh kawan maupun lawan, para komandan Amerika menjuluki setiap jenderal Jerman yang bersifat sama sebagai "being on the Fritz" (menjadi layaknya Fritz)! Kepahlawanannya di medan perang membuatnya dianugerahi empat medali bergengsi: Deutsches Kreuz in Gold (23 Oktober 1942), Ritterkreuz (26 Desember 1941), Eichenlaub (6 Juli 1943) serta Schwerter (20 Juli 1944). Medali dan penghargaan lain yang diperolehnya: 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (30 Agustus 1918); Verwundetenabzeichen 1918 in Schwarz (31 Agustus 1918); Ehrenkreuz für Frontkämpfer 1914/1918; Wehrmacht-Dienstauszeichnung IV. bis II. Klasse; Spange zum 1914 Eisernes Kreuz II.Klasse (13 September 1939) und I.Klasse (27 September 1939); Panzerkampfabzeichen in Silber; Ärmelband “Afrika”; Königlich Italienische Silberne Tapferkeitsmedaille; Ritterkreuz des Königlich Italienische Militärordens von Savoyen; Erinnerungsmedaille für den deutsch-italienischen Feldzug in Afrika; Verwundetenabzeichen in Silber; serta Nennung im Ehrenblatt des Heeres (6 Maret 1945). Namanya juga disebutkan dalam Wehrmachtbericht edisi 11 Januari 1944 dan 26 Juni 1944. Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI



Oberleutnant der Reserve Otto Carius (27 Mei 1922 - 24 Januari 2015) merupakan salah seorang jagoan panzer Jerman dalam Perang Dunia II yang selama karirnya tercatat menghancurkan 150+ buah (100-110 buah dalam beberapa sumber), dengan jumlah yang tidak berbeda jauh untuk senjata anti-tank! Mayoritas jumlah kemenangannya diraih di Front Timur saat melawan pasukan Soviet. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes #3066 pada tanggal 4 Mei 1944 sebagai Leutnant der Reserve dan Zugführer di 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 502 / 61.Infanterie-Division / XXXXIII.Armeekorps / Armeegruppe Narwa / Heeresgruppe Nord (direkomendasikan tanggal 26 April 1944. Dokumen pendahulu dan medalinya sampai di Heeresgruppe Nord tanggal 10 Mei 1944). Carius mendapatkan medali tersebut setelah peleton Tiger yang dipimpinnya berhasil menghancurkan 38 tank, artileri gerak dan 17 senjata anti-tank dalam Pertempuran Narva bulan Maret 1944. Dia juga mendapatkan Eichenlaub #535 tanggal 27 Juli 1944 sebagai Leutnant der Reserve dan Führer 2.Kompanie / schwere Panzer-Abteilung 502 / II.Armeekorps / 16.Armee / Heeresgruppe Nord, setelah berhasil menghancurkan 28 tank dan sejumlah truk Rusia sehingga berhasil melindungi penarikan mundur 290. Infanterie-Division dalam pertempuran di Daugavpils tanggal 21 Juli 1944. Hanya beberapa hari sebelumnya (24 Juli 1944) sang pahlawan perang terluka parah dalam penyergapan oleh musuh saat melakukan operasi pengintaian menggunakan sepeda motor di depan tanknya sehingga harus ditarik dari front depan menggunakan pesawat terbang untuk mendapatkan perawatan di tanah air. Carius tertembus empat peluru di punggung dan masing-masing satu di lengan, kaki dan leher! Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: Verwundetenabzeichen in Schwarz (8 Juli 1941); Eisernes Kreuz II.Klasse (19 Juli 1942); Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (20 Agustus 1942); Eisernes Kreuz I.Klasse (23 November 1943); Verwundetenabzeichen in Silber (15 Desember 1943) Panzerkampfabzeichen II.Stufe "25" (15 Juli 1944); Panzerkampfabzeichen III.Stufe "50" (1 September 1944); Verwundetenabzeichen in Gold (11 September 1944); serta Panzerkampfabzeichen IV.Stufe "75" (21 April 1945). Setelah perang usai dia membuka toko farmasi yang dinamakannya sebagai "Tiger Apotheke". Dia juga menulis buku "Tiger im Schlamm" yang berisikan pengalamannya di masa Perang Dunia II. Edisi bahasa Inggris buku ini berjudul "Tigers in the mud: the combat career of German Panzer Commander Otto Carius". Biografi singkatnya bisa dilihat DISINI


Hauptmann Eberhardt von Cossel (14 Oktober 1917 - 30 Juni 1942) adalah adik dari Eichenlaubträger Major Hans-Detloff von Cossel yang dijuluki sebagai "Der Kleine Cossel" (Cossel Kecil). Eberhardt sama beraninya dengan sang kakak dalam pertempuran. Dia kehilangan satu matanya di medan perang Rusia, tapi Ritterkreuz-nya malah diberikan kepada orang lain! Sang Hauptmann gugur dalam pertempuran di Kharkov tanggal 30 Juni 1942. Ketika Hans-Detloff mengetahui kabar tersebut, sang kakak menyendiri dalam diam ke sebuah landasan pacu dan menangis disana. Medali dan penghargaan yang diraih oleh Eberhardt von Cossel: Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse; Verwundetenabzeichen in Silber dan Panzerkampfabzeichen in Silber. Foto di atas diambil tahun 1941


Major Heinz-Ludwig Doherr (7 Maret 1916 - 4 Februari 1944) berasal dari pasangan Fliegeroberstabsingenieur L. Doherr dan Martha Hüttner. Pada saat invasi Jerman atas Polandia (1 September 1939), dia berpangkat sebagai Leutnant dan Zugführer di 8.Kompanie(schwere) / Kavallerie-Schützen-Regiment 6. Dia dipromosikan sebagai Hauptmann tanggal 1 Desember 1942 dan dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 9 April 1943 sebagai Chef 1.Kompanie / Panzergrenadier-Regiment 6 / 7.Panzer-Division / XXXX.Armeekorps / 1.Panzerarmee / Heeresgruppe Süd. Doherr gugur dalam pertempuran di dekat Pohorelce, Rusia, tanggal 4 Februari 1944, dan pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi Major. Dia kemudian dikuburkan di Deutscher Soldatenfriedhof Dubno, Ukraina. Saat kematiannya dia telah menjadi komandan batalyon di Panzergrenadier-Regiment 6. Medali dan penghargaan lain yang diraihnya: Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse; Panzerkampfabzeichen; Verwundetenabzeichen in Gold; serta Nahkampfspange. BTW, foto Doherr di atas diambil dari buku "Die 7. Panzer-Division: Bewaffnung, Einsätze, Männer" karya Hasso von Manteuffel halaman 129


Oberstleutnant Fritz Fechner (16 Desember 1913 - 6 April 1990), Kommandeur III.Abteilung / Panzer-Regiment 23 / 23.Panzer-Division, mulai bertugas di ketentaraan tanggal 1 Oktober 1934. Dalam Perang Dunia II dia bertempur mulai dari Polandia (1939), Prancis (1940), sampai dengan Front Timur (1945). Dia tercatat sebagai komandan terakhir Schießschule der Panzertruppen di Putlos (Juli 1944 - Mei 1945). Seusai perang Fechner bergabung dengan Bundeswehr (1956 - 31 Maret 1972) dan pensiun dengan pangkat Oberst. Medali-medali yang diraihnya: Eisernes Kreuz II.Klasse (2 Oktober 1939) dan I.Klasse (21 Juni 1940); Panzerkampfabzeichen in Silber; Panzervernichtungsabzeichen in Silber; Deutsches Kreuz in Gold (5 November 1942); serta Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (6 Oktober 1943)


 Oberleutnant Horst Hain (22 Februari 1920 - 26 Mei 1994) memulai karirnya di RAD (Reichsarbeitsdienst) sebelum masuk Wehrmacht. Dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 28 Maret 1945 sebagai Oberleutnant dan Chef 3.Kompanie / Panzer-Aufklärungs-Abteilung 23 / 23.Panzer-Division / III.Panzerkorps / 6.Armee / Heeresgruppe Süd. Divisinya menyerahkan diri pada pasukan Sekutu di akhir perang dan kebanyakan dari mereka tak lama kemudian dipulangkan kembali beberapa bulan setelahnya. Hain lalu melanjutkan karirnya di Bundeswehr dan pensiun pada tanggal 31 Maret 1972 dengan pangkat Hauptmann. Medali dan penghargaan lain yang diterimanya: DRL Sportabzeichen; Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938; Eisernes Kreuz II.Klasse (15 Juni 1940) dan I.Klasse (22 Mei 1942); Verwundetenabzeichen in Schwarz (27 Juni 1940), in Silber (1 September 1944) dan in Gold (4 September 1944); Panzerkampfabzeichen in Bronze (22 November 1940), II.Stufe "25" (20 Februari 1945) dan III.Stufe "50" (22 Februari 1945); Deutsches Kreuz in Gold (5 April 1943); Ärmelband Kreta (28 Mei 1943); serta Nahkampfspange in Bronze (3 Mei 1944)



Hauptmann Alfred Jaedtke (31 Desember 1913 – 6 Juni 1992) dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 21 September 1944 sebagai Kommandeur I.Bataillon / Panzergrenadier-Regiment 14 / 5.Panzer-Division / XXXX.Armeekorps / 3.Panzerarmee / Heeresgruppe Mitte. Medali lain yang diraihnya: Dienstauszeichnung der Wehrmacht IV.Klasse 4. Jahre; Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse; Panzerkampfabzeichen in Bronze; Verwundetenabzeichen in Silber; Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille); Nahkampfspange in Silber; serta Deutsches Kreuz in Gold (11 April 1944). Seusai perang dia melanjutkan karir di Bundeswehr (1956 - 31 Maret 1970) dan pensiun dengan pangkat Oberstleutnant


Feldwebel Franz Jasiek (8 Maret 1915 - 30 September 1982) adalah seorang petani yang kemudian bergabung dengan militer tanggal 1 Oktober 1937 sebagai seorang penembak senapan mesin. Tanggal 20 Januari 1943 kompinya menyerbu sebuah desa di Kromy (Orel) yang diduduki pasukan Rusia. Ketika musuh melakukan serangan balik, bukan hanya kompinya (5.Kompanie) yang terancam, tapi juga kompi rekannya (7.Kompanie). Atas inisiatif sendiri, Jasiek sebagai kepala peleton mengumpulkan anggota kedua kompi tersebut yang cerai berai dan melakukan serangan menyamping yang begitu berhasil sehingga bukan hanya pasukan musuh dipukul mundur, tapi desa Kromy dan sekitarnya juga berhasil diduduki! Atas prestasinya, dia dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 22 April 1943 sebagai Unteroffizier dan Zugführer 5.Kompanie / Panzergrenadier-Regiment 5 / 12.Panzer-Division / XXXXVI.Armeekorps / 2.Panzerarmee / Heeresgruppe Mitte


 Hauptmann Bernhard Klemz (21 Maret 1918 - 13 Juli 2004) dari Panzer-Regiment "Großdeutschland" dianugerahi Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 4 Juni 1944 dan Deutsches Kreuz in Gold tanggal 10 Februari 1944. Seusai perang dia melanjutkan karir di Bundeswehr (1956 - 31 Maret 1977) dan pensiun dengan pangkat Oberst im Generalstab. Medali lain yang diraihnya: Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse, Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille), Verwundetenabzeichen, serta Panzerkampfabzeichen


 Leutnant Richard "King" König (11 Agustus 1915 - 4 Juli 1941) adalah Zugführer di 1.Kompanie / I.Abteilung / Panzer-Regiment 35 / 4.Panzer-Division yang gugur dalam pertempuran di Stary Bychow (Rusia) saat berlangsungnya Unternehmen Barbarossa. Dalam pertempuran yang sama, komandan kompinya Oberleutnant Hans-Detloff von Cossel mendapatkan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes. König merupakan seorang perokok berat yang bisa menghabiskan berpuluh-puluh batang rokok dalam sehari. Dia juga terkenal di seantero unitnya sebagai orang yang bisa memperagakan dengan sempuran pidato sang Führer Adolf Hitler! Tentu saja bakatnya tersebut hanya bisa dinikmati oleh teman-teman terdekatnya saja karena akan sangat berbahaya bila bocor keluar!

Oberleutnant Günther Micklei (8 Oktober 1919 - 27 Mei 1942) yang merupakan perwira sandi (Nachrichtenoffizier) dari II.Abteilung / Panzer-Regiment 5 / 21.Panzer-Division sedang memegang seekor burung merpati yang tampak anteng di tangannya. Micklei gugur dalam pertempuran di Bir el Hamad di samping komandan II.Abteilung, Oberstleutnant Martin, dan kemudian jenazah mereka dikuburkan di Kriegsgräberstätte Tobruk. Dalam foto di atas, Micklei memakai perpaduan seragam tropis model pertama dengan tropenmütze perwira. Perhatikan pin Totenkopf yang tersemat di kerahnya! Ukurannya lebih besar dari biasanya. Selain itu, pita Eisernes Kreuz II.Klase-nya diikatkan di kancing saku dan bukannya kancing tengah seperti praktek umumnya. terakhir, dia mengenakan daleman pakaian sipil dengan ritsleting


 Hauptmann Karl-Heinrich Plöger (27 April 1914 - 5 April 1996) dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold tanggal 11 April 1942 sebagai Oberfeldwebel di 3.Kompanie / Schützen-Regiment 14 / 5.Panzer-Division, Ehrenblattspange des Heeres und Waffen-SS tanggal 5 Februari 1945 dan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes tanggal 23 Maret 1945, dua-duanya sebagai Oberleutnant dan Chef 6.Kompanie / Panzergrenadier-Regiment 14 / 5.Panzer-Division. Berdasarkan keterangan dari Walther-Peer Fellgiebel (pengarang buku "Die Träger des Ritterkreuzes des Eisernen Kreuzes, 1939–1945: Die Inhaber der höchsten Auszeichnung des Zweiten Weltkrieges aller Wehrmachtteile"), Karl-Heinrich Plöger merubah namanya menjadi Karl-Heinz Schneekloth-Plöger seusai perang, entah dengan alasan apa!


Generalleutnant Gustav Schmidt. Dia bunuh diri tanggal 7 Agustus 1943 demi menghindari tertangkap oleh pasukan Soviet


Feldwebel Paul Stoll

----------------------------------------------------------------------------

WAFFEN-SS
 
Medali Ritterkreuz yang dikenakan oleh SS-Oberscharführer Adolf Rüd ini sudah pasti tempelan, karena dia mendapatkannya secara anumerta. Rüd terbunuh dalam pertempuran tanggal 2 Agustus 1944, dan tanggal 23 Agustus 1944-nya dia dianugerahi Ritterkreuz sebagai penghargaan atas jasa-jasanya. Selain itu, pangkatnya juga dinaikkan satu tingkat secara anumerta menjadi SS-Hauptscharführer


 
 SS-Hauptsturmführer Johannes "Hans" Scherg


 SS-Obersturmführer Johann "Hans" Wachter (24 November 1912 - 19 Desember 1944) bersama dengan istrinya dalam sebuah foto studio. Pada awalnya dia berkarir di Leibstandarte dan mendapat Deutsches Kreuz in Gold tanggal 6 Mei 1943 sebagai SS-Untersturmführer di 3.Kompanie / SS-Panzerjäger-Abteilung "LSSAH". Seperti banyak perwira Leibstandarte lainnya, pada musim panas 1943 dia ditransfer ke 12. SS-Panzer-Division "Hitlerjugend" yang baru dibentuk. Wachter gugur di dekat Rocherath/Krinkelt (Ardennes) dalam Battle of the Bulge. Pada waktu itu dia menjadi Chef 2.Batterie / SS-Panzerjäger-Abteilung 12 (Sturmgeschütz Abteilung) ”Hitlerjugend”. Medali-medali lain yang diraihnya: Medaille zur Erinnerung an den 13. März 1938, Medaille zur Erinnerung an den 1. Oktober 1938, Eisernes Kreuz II.Klasse dan I.Klasse, Verwundetenabzeichen in Bronze (Januari 1942), Medaille Winterschlacht im Osten 1941/42 (Ostmedaille), serta Panzerkampfabzeichen in Silber (Februari 1942). BTW, dalam foto di atas dia masih bergabung dengan Leibstandarte, yang terlihat dari schulterklappen-nya yang berhiaskan emblem divisi


 SS-Obersturmführer dan Eichenlaubträger Michael Wittmann (Chef 2.Kompanie / schwere SS-Panzer-Abteilung 101) di hari pernikahannya dengan Hildegard Burmester tanggal 1 Maret 1944. Mereka bertemu dua tahun sebelumnya saat Wittmann masih mengikuti pelatihan perwira di SS-Junkerschule Bad Tölz (Juni 1942 - 5 September 1942). Pernikahan mereka dilangsungkan di kota Lüneburg yang letaknya berdekatan dengan kampung halaman Hilde di Erbstdorf, sebuah pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh kerabat kedua belah pihak serta beberapa rekan dekat Wittmann dari Leibstandarte. Pengiring pengantin pria tidak lain tidak bukan adalah Balthasar "Boby" Woll", gunner terpercaya Wittmann yang juga adalah seorang Ritterkreuzträger. Burgher (Walikota) Lüneburg ikut hadir dan setelah pernikahan meminta sang legenda hidup untuk membubuhkan tandatangannya di "Buku Emas" kota!
 


Sumber :

Foto koleksi Bundesarchiv Jerman
Foto koleksi pribadi Bart V.
Foto koleksi pribadi Gordon Williamson
Foto koleksi pribadi Hans-Jürgen Zeis
Foto koleksi pribadi William "Bill" Petz
www.forum.axishistory.com
www.historicalwarmilitariaforum.com
www.panzerace.net
www.panzerregiment35.blogspot.com
www.voncossel.blogspot.com
www.wehrmacht-awards.com

www.ww2awards.com