Minggu, 30 Mei 2010

Major Fritz Prager (1905-1940), Fallschirmjäger Yang Mati Muda Karena Kanker!


Fritz Prager bersama dengan Oberst infanteri Richard Heidrich, yang kemudian menjadi General der Fallschirmtruppe Luftwaffe. Heran kan ngelihat ada jenderal Luftwaffe kok pake seragam Heer? Soalnya Heidrich sempat ditransfer dari Luftwaffe ke Heer pada saat berlangsungnya serangan Jerman ke Negara-Negara Bawah dan Prancis, lalu kemudian ditarik lagi ke Luftwaffe atas bujukan dari Kurt Student


Fritz Prager dan Richard Heidrich



Foto-foto Fritz Prager milik kolektor asal Australia HAPPY MACA


Foto-foto lain Fritz Prager milik kolektor asal Australia HAPPY MACA


Fritz Prager


Acara penganugerahan medali Ritterkreuz tanggal 24 Mei 1940 yang diserahkan oleh Panglima Luftwaffe Hermann Göring terhadap para ksatria Jerman yang berprestasi dalam penyerbuan ke Negara-Negara Bawah. Dari kiri ke kanan: Bruno Bräuer, Fritz Prager, Horst Kerfin dan Hans Kreysing. Yang pake baju putih kalau nggak salah tukang colenak!


Foto Fritz Prager dengan seragam parasut yang diambil dari buku karangan Eric Queen. Perhatikan medali yang tersemat di seragamnya... meni runtuy!


Fritz Prager di tengah pasukannya ketika masih tergabung dalam Batalion Parasut Infanteri Angkatan Darat Jerman


Para prajurit Fallschirmjäger membawa peti mati Fritz Prager dalam upacara pemakamannya


Masih dari upacara pemakaman yang sama, kali ini memperlihatkan bantal yang berisi medali-medali yang telah diraih oleh Fritz Prager, yang lazim disebut dengan Ordenskissen


Oleh : Alif Rafik Khan

Fritz Prager dilahirkan tanggal 17 Desember 1905 di Wolfenbüttel. Dia bergabung dengan Reichswehr tanggal 26 November 1923 sebagai anggota dari Resimen Infanteri ke-10. Tahun 1938 dia bergabung dengan Batalion Fallschirmjäger Heer (Angkatan Darat). Batalion Prager merupakan salah satu dari hanya sedikit unit parasut yang ikut bertempur dalam penyerbuan Jerman ke Polandia tahun 1939, dimana mereka berhasil merebut landasan udara Wola Gulowska. Untuk aksinya yang heroik ini Prager dianugerahi Salib Baja kelas kedua tanggal 13 Oktober 1939 yang disematkan langsung oleh "mbah"-nya Fallschirmjäger Jerman, Jenderal Kurt Student.

Dia menerima medali Ritterkreuz tanggal 24 Mei 1940 sebagai Hauptmann dan komandan II/Fsch.Jäg.Rgt 1 atas kepemimpinannya dalam merebut jembatan Moerdijk dari pasukan Belanda yang menjaganya. Padahal saat itu dia terluka berat terkena serangan musuh, tapi masih mampu memimpin anak buahnya merebut bunker-bunker yang berada disana! Dahsyatnya lagi, dengan mengesampingkan nasihat dari dokternya untuk beristirahat, dia malah nekad untuk kemudian ikut terjun dalam Operasi Narvik, dan meraih sukses!

Prager dipromosikan menjadi Major tanggal 19 Juni 1940 dan pada tanggal 1 Juli mengambil komando Batalion II dari Resimen Fallschirmjäger ke-3. Dia meninggal dunia tanggal 3 Desember 1940 dikarenakan penyakit kanker yang menggerogotinya. Berpulangnya Prager sendiri merupakan kerugian besar bagi satuan Fallschirmjäger yang kehilangan salah satu dari prajurit terbaiknya.

Medali dan Penghargaan :
* Iron Cross (1939)
- 2nd Class (13 Oktober 1939)
- 1st Class (10 Mei 1940)
* Knight's Cross of the Iron Cross (24 Mei 1940)


Sumber :
Foto koleksi pribadi Eric Queen
www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com
www.wehrmacht-awards.com


Hauptmann Horst Trebes (1916-1944), Fallschirmjäger Yang Dicopot Ritterkreuz-nya Gara-Gara Membunuh Teman Sendiri!


Horst Trebes di Kreta sebelum menerima Ritterkreuz

Hauptmann Walter Gericke (Kommandeur IV.Bataillon/Fallschirmjäger-Sturm-Regiment) dan Oberleutnant Horst Trebes (Führer III.Bataillon/Fallschirmjäger-Sturm-Regiment) dalam acara penganugerahan medali di Kreta tanggal 19 Juli 1941


Horst Trebes setelah menerima Ritterkreuz


Horst Trebes sebagai Oberleutnant


Horst Trebes bersama dengan perwira-perwira Luftwaffe


Selain terkenal karena peristiwa pencopotan Ritterkreuz-nya, nama Horst Trebes juga mengemuka karena menjadi aktor utama dari Pembantaian Kondomari di Kreta tanggal 2 Juni 1941. Aksi ini terjadi sebagai pembalasan atas terbunuhnya pasukan Fallschirmjäger dalam penyerbuan ke pulau tersebut. Sumber Jerman menyebutkan bahwa 19 orang terbunuh dalam eksekusi ini, sementara sumber Sekutu mengeluarkan jumlah korban yang jauh lebih besar: 100 orang. Dalam foto di atas Horst Trebes (memakai Trophelm) menjadi komandan tim tembak Fallschirmjäger beberapa saat sebelum eksekusi dilaksanakan


Foto terkenal dari Fallschirmjäger tak lama setelah takluknya benteng Eben-Emael yang memperlihatkan Oberjäger Karl Polzin berdiri di tengah-tengah dengan rokoknya. Nyawanya berakhir akibat pesta miras. Bukan, bukan overdosis akek cap tikus seperti halnya yang terjadi di Indonesia tercinta, melainkan karena ditembak oleh temannya Horst Trebes!


Major Friedrich August Freiherr von der Heydte (kiri), Oberleutnant Rolf Mager dan Oberleutnant Horst Trebes membasuh tangan mereka dalam perjalanan ke Afrika Utara di musim panas 1942


Oberleutnant Horst Trebes (kiri) memberi instruksi pada anakbuahnya sebelum keberangkatan dengan menggunakan kapal laut ke Afrika Utara di musim panas 1942. Simbol kalajengking dipakai oleh 1.Kompanie/I.Bataillon/Fallschirmjäger-Regiment 3 yang dikenal sebagai Kampfgruppe von der Heydte dan merupakan bagian dari Fallschirmjäger-Brigade Ramcke


Fallschirmjäger-Brigade Ramcke berbaris di Hildesheim sebelum diberangkatkan ke Afrika Utara, musim panas 1942. Baris depan sebelah kiri adalah Major Friedrich von der Heydte sementara di kanannya adalah Stabsoffizier Oberleutnant Rolf Mager. Di tengah belakang mengikuti berbaris Oberleutnant Horst Trebes. Mager nantinya meraih Ritterkreuz tanggal 31 Oktober 1944 sebagai Hauptmann dan komandan II.Bataillon/Fallschirmjäger-Regiment 6


Oberleutnant Horst Trebes memimpin anakbuahnya berbaris di Hildesheim sebelum diberangkatkan ke Afrika Utara, musim panas 1942. Di belakang sebelah kiri adalah Oberleutnant Joachim Grothe. Trebes dilahirkan pada tanggal 22 Oktober 1916 dan KIA tanggal 29 Juli 1944 di dekat St. Denys-le-Gast, Prancis. Dia meraih Ritterkreuz tanggal 9 Juli 1941 sebagai Oberleutnant dan Führer III.Bataillon/Fallschirmjäger-Sturm-Regiment


Dalam foto yang diambil dari majalah DER ADLER terbitan tahun 1944 ini, diperlihatkan Horst Trebes bersama dengan Rommel. Dari kiri ke kanan: Oberleutnant Helmuth Walter (versi lain adalah Hauptmann Rolf Mager), Hauptmann Horst Trebes (keduanya dari Fallschirmjäger Regiment 6), Generalleutnant Wilhelm Falley (kommandeur der 91 Luftlandedivision), dan Generalfeldmarschall Erwin Rommel


Oleh : Alif Rafik Khan

Bio:
Lahir: Cologne, 22 Oktober 1916
Killed in Action: 29 Juli 1944 di Normandia sebelah selatan Denys-le-Gast
Fallschirmjäger sejak: 1 Juni 1938
Tanggal mendaftar: 1 April 1936
Pangkat terakhir: Hauptmann (Kapten)
Penempatan terakhir: komandan III Battalion. FJR6

Medali dan penghargaan:
Knight'scross: 9 Juli 1941
Dianugerahkan setelah Pertempuran Kreta, Operasi "Merkur"
Jabatan saat itu: Komandan sementara III Battalion LL Sturm Regiment ke-1
German Cross in Gold: ?
Luftwaffe parrachutist badge:
Luftwaffe ground assault badge:
Iron Cross First Class: Belanda 1940
Iron Cross Second Class: 29 Mei 1940
Kreta Armelband
Afrika Armelband

Horst Trebes (baca: Tray-bes) pertama kali bergabung dengan Wehrmacht sebagai kandidat perwira tanggal 1 April 1936 dan menjadi Leutnant tanggal 20 April 1938. Kemudian tanggal 20 Juni tahun yang sama dia mendaftar secara sukarela sebagai anggota Batalion Parasut Infanteri Angkatan Darat di bawah pimpinan Major Richard Heidrich. Dia kemudian ditransfer ke Luftwaffe tanggal 1 April 1939 sebagai bagian dari Batalion III, Resimen Fallschirmjäger ke-1.

Trebes mengalami pertempuran di Polandia dan Belanda, sedangkan di Kreta dia bertugas sebagai perwira staff di Stürm Regiment ke-1. Dengan membentuk sebuah Kampfgruppe (Grup Tempur) yang beranggotakan para staff resimen, Oberleutnant Trebes bersama dengan Oberleutnant Schächter dan Major Baum mendarat di dekat sebuah jembatan besar di sebelah barat landasan udara Maleme dengan menggunakan 9 buah glider tak bersuara. Misi mereka adalah merebut jembatan yang membentang di atas sungai Travotinis, lalu dilanjutkan dengan menguasai posisi senjata Flak yang berada di dekatnya dengan bantuan dari I/FJR1.

Tanggal 20 Mei jam 11:00 siang Oberleutnant Trebes berhasil membebaskan peleton Leutnant Kalhey yang terkepung musuh. Dalam usaha tersebut, Major Baum terbunuh sedangkan Oberleutnant Schächter terluka, sehingga kini Trebes lah yang memegang komando Kampfgruppe tersebut. Yang melawannya adalah Regiments IV Battalion Sekutu. Serangan selanjutnya yang dia lancarkan berlangsung tanggal 23 Mei di sebelah barat Palantias, dimana dia berhasil menerobos hadangan musuh dan merebut Hill 107. Atas prestasinya ini, Trebes dianugerahi dengan medali bergengsi Ritterkreuz (Salib Ksatria/Knight's Cross).

Nah, disinilah saya akan membawakan cerita paling menarik dari kisah hidup Horst Trebes, yaitu pencopotan Ritterkreuz yang telah diraihnya dengan susah payah! Bagaimanakah hal tersebut bisa terjadi?

Setelah operasi Kreta yang sukses tapi berdarah-darah, Trebes merayakan penganugerahan Ritterkreuz-nya dengan berpesta mabuk-mabukan bersama dengan beberapa Fallschirmjäger lain di Halbertadt. Pesta malam itu berakhir tragis: Oberjäger Karl Polzin (anggota dari Trupp 4 dalam Pertempuran Eben-Emael, dan salah satu dari beberapa prajurit Fallschirmjäger yang nampang dalam foto terkenal yang dibuat setelah serangan tersebut) telah tertembak "secara tidak sengaja" oleh Trebes sehingga menemui ajalnya. Polzin sedang asyik terlelap dalam mimpi di kamar mandi (kemungkinan akibat mabuk berat), dan Trebes berkeras untuk membangunkannya... dengan menggunakan pistol! Disini kita sudah bisa membayangkan seberapa parah situasi setelah pesta malam itu, yang tidak terkendali disebabkan oleh Miras cap Topi Miring.

Sudah tentu perbuatan semacam ini tidak akan dibiarkan saja tanpa mendapatkan hukuman, dan hukumannya adalah hukuman MUODHAR! Untung saja, ibu mertua Trebes menyelamatkan menantunya dari ancaman eksekusi tembak mati. Wanita ini pernah bekerja sebagai suster selama berlangsungnya Perang Dunia Pertama dan sempat bertemu dengan Hermann Göring di Lazarett (rumah sakit) tempat dia bertugas. Setelah sembuh dari luka-lukanya, Göring yang berterimakasih berjanji akan membantunya di masa depan bilamana sang suster membutuhkan pertolongan. Kini tibalah saatnya si ibu mertua menagih janji yang diucapkan berpuluh-puluh tahun sebelumnya, dan Göring pun menepatinya. Selain itu, fakta bahwa Trebes adalah seorang pahlawan nasional (karena merupakan peraih Ritterkreuz) ikut membantu menyelamatkan nyawanya. Apapun keadaannya, semesta Luftwaffe tidak dapat menanggung rasa malu apabila salah satu pahlawannya dituntut hukuman mati di pengadilan militer!

Tapi Trebes tidak bisa begitu saja pergi setelah hukuman matinya dibatalkan. Göring hanya membantu sebatas itu, dan tidak lebih. Nasibnya sudah jelas: dia dibebaskan dari semua jabatannya, begitu pula semua penghargaan dan medali yang diraihnya kini harus ditanggalkan, termasuk Ritterkreuz yang telah didapatnya dengan bersimbah darah. Trebes kini hanyalah seorang Jäger (prajurit) biasa dan dia pun dikirimkan ke medan perang Afrika yang tandus dan jauh dari wanita bule. Kabar angin menyebutkan bahwa disana dia telah kehilangan tangan kanannya, suatu kabar yang tidak sesuai dengan kenyataan karena banyak foto dari Trebes yang dibuat setelah Afrika memperlihatkan bahwa kedua tangannya berfungsi dengan normal. Tapi terluka atau tidak sekarang tidaklah berarti bagi manusia satu ini. Dia menjadi seorang yang luar biasa berani dan emosional di medan tempur (bahkan cenderung nekad). Setiap kesempatan untuk membuktikan keprawiraannya dia lakukan, demi menebus kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu.

Sedikit demi sedikit namanya mulai menanjak kembali. Trebes juga ikut bertempur di Rusia sebagai komandan dari III/LLStürm Regiment sampai dia dipindahkan ke III/FJR6 awal musim panas tahun 1944. Meskipun begitu banyak aksi "bunuh diri" yang dilakukannya, ajaibnya Trebes tetap selamat, dan akhirnya mendapatkan apa yang telah dinanti-nantinya: pengembalian kembali hak untuk memakai medali Ritterkreuz di lehernya! Major Friedrich August von der Heydte yang bijaksana sangat membutuhkan perwira-perwira yang berpengalaman, dan menawarkan kesempatan kepada Trebes untuk mendapatkan kembali kehormatannya dengan menjadi komandan dari Batalion III Resimen ke-6 yang dipimpinnya.

Peran sebagai komandan inilah yang kemudian mengantarkan nyawanya ke alam baka...

Penyebab tentang kematiannya sendiri yang terjadi tanggal 29 Juli 1944 masih simpang siur dan bahkan lokasinya pun tidak diketahui dengan pasti, kemungkinan di sekitar Carentan atau selatan Denys-le-Gast selama berlangsungnya pertempuran di semak-semak dan terobosan pasukan Sekutu melalui Saint Lo. Katanya sih dia tewas setelah diserang oleh pesawat udara Sekutu.

Sedikit tambahan: Saya pribadi masih belum yakin apakah Trebes pernah kehilangan jabatannya atau tidak, karena begitu banyak bukti foto (lihat salah satunya di atas) yang memperlihatkan bahwa dia tetap memakai medali dan pangkatnya. Perhatikan saja foto saat dia memimpin Kompi 1 dari Lehr Batallion Ramcke Brigade pimpinan von der Heydte. Yang jelas adalah, meskipun dia telah melakukan suatu perbuatan yang dapat mengancam karir dan nyawanya, tapi Trebes tetap melanjutkan perannya sebagai seorang Fallschirmjäger sejati yang bangga dengan seragam dan kesatuannya sampai saat kematiannya!


Sumber :
Buku "Fallschirmjäger Brigade Ramcke in North Africa" karya Edgar Alcidi
www.commons.wikimedia.org
www.fallschirmjager.net
www.fjr6.net
www.forum.axishistory.com
www.wehrmacht-awards.com


Jumat, 28 Mei 2010

Major Rudolf Witzig (1916-2001), Fallschirmjäger Yang Meraih Ketenaran Dalam Pertempuran Eben-Emael!


Lukisan Rudolf Witzig kala beraksi dalam Pertempuran Eben-Emael yang terkenal

Adolf Hitler berfoto bersama Fallschirmjäger kebanggaannya dalam acara penyerahan Ritterkreuz. Dari kiri ke kanan: Lt. Egon Delica, Oblt. Rudolf Witzig, Hapt. Walter Koch, Oblt. Otto Zierach, Lt. Helmut Ringler, Lt. Joachim Meissner, Oblt. Walter Kiess, Oblt. Gustav Altmann and Oberarzt Dr. Rolf Jäger.

Acara penyerahan Ritterkreuz tanggal 10 Mei 1940 untuk para perwira Fallschirmjäger yang telah beraksi dengan dahsyatnya dalam Pertempuran Eben-Emael. Paling kiri adalah Walter Koch, sedang yang di sebelahnya adalah Rudolf Witzig

Rudolf Witzig dengan medali Ritterkreuz tergantung di keteknya

Lukisan Rudolf Witzig dalam kartu pos yang dibuat oleh pelukis perang terkemuka zaman Nazi Wolfgang Willrich


Dari kiri ke kanan: SA-Obergruppenführer Wilhelm Brückner (Chefadjutant des "Führers und Reichskanzlers“), Oberleutnant Rudolf Witzig (Führer Sturmgruppe "Granit"/ Fallschirm-Sturm-Abteilung "Koch"/ 7.Flieger-Division) dan Hauptmann Nicolaus von Below (Luftwaffen-Adjutant der "Adjutantur der Wehrmacht beim Führer und Reichskanzler"). Foto ini kemungkinan besar diambil tahun 1940 pasca penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Oberleutnant Witzig atas prestasinya dalam pendudukan benteng Eben-Emael di Belgia
 
Rudolf Witzig (tengah) menyalami perwiranya setelah berhasil mencatat sukses besar menghancurkan 27 buah tank musuh hanya dalam 1 hari pertempuran!

Rudolf Witzig sebagai perwira Bundeswehr tahun 1962. Semua medali bergengsi yang telah diraihnya terdapat di ribbon bar di atas saku

Oleh : Alif Rafik Khan
Rudolf Witzig dilahirkan pada tanggal 14 Agustus 1916 di Röhlinghausen, Wanne-Eickel. Dia bergabung dengan Batalion Pionir ke-16 di Höxter tanggal 1 April 1935 sebagai kandidat perwira. Dua tahun kemudian, tanggal 20 April 1937 (yang bertepatan dengan ultah Adolf Hitler), dia dipromosikan menjadi Leutnant dan mengabdi sebagai komandan peleton di Batalion Pionir ke-31. Witzig lalu mengajukan diri untuk bergabung ke dalam satuan Fallschirmjäger tanggal 1 Agustus 1938 dan dimasukkan ke Batalion Parasut Infanteri di bawah pimpinan Major Richard Heidrich. Pada saat itu Fallschirmjäger baru lah didirikan dan masih terbagi dua antara Angkatan Darat dan Angkatan Udara. Setahun kemudian dia dipindahkan ke Luftwaffe sekaligus dipromosikan menjadi Oberleutnant, memegang jabatan sebagai komandan peleton pionir (pasukan pelopor) dari Sturmabteilung Koch. Nama unit ini sendiri berasal dari nama komandannya yaitu Hauptmann Walter Koch.
Pencapaian militer terbesar Witzig (sekaligus yang melambungkan namanya) adalah pertempuran brilian yang berlangsung di benteng Eben-Emael, Belgia, tanggal 10 Mei 1940. Begitu dahsyatnya aksi Witzig dan kawan-kawan Fallschirmjäger-nya, sehingga di hari itu juga sore harinya Adolf Hitler langsung mengalungkan medali Ritterkreuz kepada mereka! Selain itu, pengumuman khusus dalam Wehrmachtbericht tanggal 11 Mei memuji-muji pencapaian Witzig dan grup pendaratan lintas-udaranya. Tanggal 16 Mei, penghormatan lain datang kepada tokoh kita ketika dia dipromosikan menjadi Hauptmann. Untuk yang ingin lebih tahu detail pertempurannya, bisa melihat KESINI.
Pengumuman Wehrmachtbericht tentang pencapaian Witzig :
(Sondermeldung) Das stärkste Fort der Festung Lüttich, Eben-Emael, das die Übergänge über die Maas und den Albert-Kanal bei und westlich Maastricht beherrscht, hat sich Sonnabendnachmittag ergeben. Der Kommandant und 1000 Mann wurden gefangen genommen. Das Fort wurde schon am 10. Mai durch eine ausgesuchte Abteilung der Luftwaffe unter Führung von Oberleutnant Witzig und unter Einsatz neuartiger Angriffsmittel kampfunfähig gemacht und die Besatzung niedergehalten. Als es einem von Norden angreifenden Verband des Heeres nach hartem Kampf gelungen war, die Verbindung mit der Abteilung Witzig herzustellen, hat die Besatzung ihre Waffen gestreckt.
(Ekstra) Benteng terkuat dari perbentengan Lüttich, Eben-Emael, yang mendominasi persimpangan Maas dan Kanal Albert di dekat dan sebelah barat dari Maastrich telah menyerah di sabtu siang. Perwira komandan dan 1000 anak buahnya menjadi tawanan perang. Benteng tersebut telah dibuat tidak berfungsi dan garnisun yang menjaganya dilumpuhkan tanggal 10 Mei oleh unit terpilih khusus dari Luftwaffe di bawah pimpinan Oberleutnant Witzig yang menggunakan cara perang baru. Garnisun tersebut menjatuhkan senjatanya ketika unit penyerang dari Angkatan Darat, setelah pertempuran hebat, berhasil menjalin kontak dengan detasemen Witzig.
Rudolf Witzig lalu memimpin kompi ke-9 dari Resimen Serbu Parasut selama berlangsungnya serbuan Jerman atas Pulau Kreta. Dia terluka dalam pertempuran ini, sehingga harus ditarik dari front dan dikirim ke rumah sakit Luftwaffe di Athena. Karena luka-lukanya yang parah, Witzig kemudian dirujuk ke beberapa rumah sakit lagi untuk menjalani perawatan!
Tanggal 10 Mei 1942, Witzig diserahi komando Korps Parasut Batalion Pionir. Dia menerima kenaikan pangkat lanjutan menjadi Major tanggal 24 Agustus 1942. Dari bulan November 1942, dia dan batalionnya bertugas di Tunisia di Resimen Luftwaffe Barenthin dan pernah merasakan di bawah komando Oberst Hasso von Manteuffel, jenderal Friedrich Freiherr von Broich, dan jenderal Alfred Bülowius. Banyak yang mengaitkan kesuksesan pertempuran defensif yang terjadi di sektor utara Front Tunisia dengan kepemimpinan Rudolf Witzig yang cemerlang.
Penempatan Witzig selanjutnya adalah sebagai komandan Batalion I, dari Batalion Pionir Parasut ke-21 dari tanggal 15 Juni 1944, yang kemudian disusul sebagai perwira komandan dari resimen. Untuk kedua kalinya namanya disebut dalam pengumuman bergengsi Wehrmachtbericht tanggal 8 Agustus 1944 setelah memimpin penghancuran 27 tank musuh di dekat Kumele!
Pengumuman Wehrmachtbericht :
Im Kampfraum westlich Kauen hat sich das 1. Bataillon des Fallschirm-Pionierregiments 21 unter Major Witzig durch beispielhaften Kampfgeist hervorragend bewährt. Das Bataillon vernichtete an einem Tag 27 feindliche Panzer im Nahkampf.
Batalion ke-1 dari Fallschirm-Pionierregiments 21 di bawah komando Major Witzig telah membuktikan dirinya sendiri dan menunjukkan semangat bertempur yang patut dicontoh di wilayah pertempuran sebelah barat Kauen. Dalam satu hari, Batalion tersebut telah menghancurkan 27 tank musuh dalam pertempuran jarak dekat.
Tugas terakhirnya dalam Perang Dunia II adalah sebagai komandan dari Resimen Parasut ke-18 dari tanggal 16 Desember 1944. Ini adalah suatu penghormatan besar karena biasanya yang diserahi tugas memimpin resimen telah mempunyai pangkat Oberst (Kolonel)! Bersama dengan resimennya, dia menyerahkan diri ke tangan Sekutu tanggal 8 Mei 1945 dan masuk tahanan. Penghormatan terakhir buat Witzig datang sehari sebelumnya ketika namanya masuk dalam Honor Roll of the Luftwaffe.
Setelah perang, dia bergabung kembali di ketentaraan di Bundeswehr Republik Federal Jerman yang baru didirikan pada tanggal 16 Januari 1956, dan pensiun pada tanggal 30 September 1974 dengan pangkat terakhir sebagai Oberst.
Rudolf Witzig meninggal dunia pada tanggal 3 Oktober 2001 di Oberschleißheim.
Medali dan Penghargaan :
* German Cross in Gold (17 Oktober 1943)
* Iron Cross : - 2nd Class (10 Mei 1940)
- 1st Class (10 Mei 1940)
* Wound Badge (1939) in Black (18 Oktober 1941)
* Ground Combat Badge of the Luftwaffe (1 Agustus 1943)
* Knight's Cross of the Iron Cross with Oak Leaves
- Knight's Cross tanggal 10 Mei 1940 sebagai Oberleutnant dan komandan Sturmgruppe "Granit" di Luftlande-Sturmabteilung Koch
- Oak Leaves #662 tanggal 25 November 1944 sebagai Major dan komandan dari I./Fallschirm-Pionier-Regiment 21
* Disebutkan dua kali di Wehrmachtbericht
* Disebutkan di Honor Roll of the Luftwaffe tanggal 7 Mei 1945


Sumber :
www.en.wikipedia.org
www.forosegundaguerra.com
www.forum.axishistory.com
www.wehrmacht-awards.com


Cross of Iron (1977). Film Yang Terinspirasi Dari Kehidupan Nyata Peraih Ritterkreuz dan Eichenlaub Johann Schwerdfeger!

Cover DVD film Cross of Iron


Adegan film Cross of Iron


Poster pertama film Cross of Iron


Poster kedua film Cross of Iron


Poster ketiga film Cross of Iron


Oleh : Alif Rafik Khan

Cross of Iron adalah film perang keluaran tahun 1977 yang disutradarai oleh Sam Peckinpah dan dengan aktor-aktor James Coburn, James Mason, Maximilian Schell, dan David Warner.

Film ini mengambil setting di Front Timur tahun 1943, ketika arah peperangan mulai berbalik tidak menguntungkan pasukan Jerman yang bercokol disana. Cross of Iron adalah kisah tentang konflik kepentingan antara seorang perwira aristokrat perlente pemegang Iron Cross yang baru datang ke markas di front yang terancam terus menerus oleh artileri Rusia, dengan seorang sersan infanteri veteran yang sudah kenyang makan asam garam pertempuran. Background-nya sendiri adalah penarikan mundur pasukan Jerman dari Semenanjung Taman ke pantai Laut Hitam di Uni Soviet.

Cross of Iron dibuat berdasarkan novel berjudul 'The Willing Flesh' karya Willi Heinrich yang dipublikasikan tahun 1956. Novel itu sendiri disebut-sebut merupakan kisah nyata dari kehidupan Johann Schwerdfeger, Oberfeldwebel terkenal peraih Eichenlaub. Seperti kebanyakan film besutan Sam Peckinpah lainnya, kebanyakan aksi dalam film ini direkam menggunakan slow motion.

Cross of Iron menceritakan kisah sebuah peleton infanteri Wehrmacht di jembatan Kuban, Front Timur tahun 1943, yang dipimpin oleh Unteroffizier (Sersan) Steiner, yang dimainkan dengan "dingin" oleh James Coburn. Film dibuka dengan pasukan Wehrmacht yang berbaris mundur seakan berkesesuaian dengan takdir yang telah "digariskan" oleh cuplikan dokumenter dari Adolf Hitler, Hitlerjugend, penyerbuan Jerman ke Uni Soviet, dan penarikan mundurnya. Asyiknya, kita bisa mendengarkan intro volkslied (lagu rakyat) tradisional Hänschen klein dan Horst-Wessel-Lied sebagai soundtrack.

Steiner pulang ke markas dengan membawa seorang bocah Rusia yang ia tawan sehabis melakukan patroli pengintaian yang sukses. Di sana ternyata datang juga komandan batalion baru yang dari pertama sudah memperlihatkan gelagat-gelagat pikasebeleun (menyebalkan), seorang perwira aristokrat keturunan Prusia berpangkat Hauptmann (Kapten) bernama Stransky, yang diperankan oleh Maximilian Schell. Demi melihat Steiner datang membawa bocah "musuh" tersebut. Stransky tanpa tedeng aling-aling memerintahkan agar si bocah segera ditembak mati. Ketika Steiner menolak perintah tersebut, Stransky langsung bersiap untuk menembak si bocah dengan tangannya sendiri. Untungnya, di saat terakhir datang Obergefreiter (Kopral) Schnurrbart (panggilannya, yang berarti kumis!) yang menyelamatkan bocah tersebut dengan berkata bahwa biarlah dia sendiri yang akan menembaknya. Sang kopral dan bocah itu lalu pergi ke semak belukar.

Dalam percakapan dengan komandan resimen, Oberst Brandt (James Mason) dan ajudannya Hauptmann Kiesel (seorang lelaki yang sudah muak akan peperangan dan diperankan oleh David Warner), Stransky menyombongkan diri dan berkata bahwa dia telah secara sukarela mengajukan diri sendiri untuk dipindahkan dari tempat asalnya yang nyaman di daerah pendudukan Prancis ke front depan di Rusia demi bisa mendapatkan Iron Cross (harusnya sih Knight's Cross atau Ritterkreuz)! Pernyataan yang sangat blak-blakan seperti itu tentu saja mengagetkan para perwira lain. Stransky kemudian diperkenalkan dengan Steiner yang baru pulang ke markas. Steiner sendiri adalah seorang prajurit pemberani yang sangat disegani oleh kawan-kawannya meskipun sifatnya yang seenaknya sendiri. Dalam usahanya untuk memperbaiki keadaan, Stransky mempromosikan Steiner menjadi Feldwebel. Bukannya kelihatan bergembira atau berterimakasih, Steiner cuek saja menanggapinya!

Stransky juga menemukan bahwa ajudannya, Leutnant Triebig, adalah pencinta sesama jenis ketika dia menemukan Triebig sedang mengelus pipi seorang prajurit rendahan, Josef Keppler. Saat itu hal seperti ini merupakan kejahatan berat dan pelakunya bisa mendapatkan hukuman mati. Stransky memanfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya ketika dia memaksa Triebig agar melebih-lebihkan aksinya di front demi mempermulus cita-citanya meraih Iron Cross. Triebig diancam akan diajukan ke pengadilan militer bila tidak menuruti permintaan Stransky.

Ketika sedang menunggu serangan Rusia yang akan tiba, Steiner melepaskan si bocah Rusia (yang kemudian memberi harmonikanya kepada Steiner), hanya untuk melihatnya terbunuh dengan tragis oleh pasukan Soviet yang menyangkanya musuh! Dalam serangan Soviet tersebut, Leutnant Meyer (Igor Galo) tewas ketika memimpin usaha pertahanan dan serangan balik Jerman dari paritnya. Steiner sendiri terluka ketika berusaha menyelamatkan seorang prajurit Jerman lain, dan terpaksa dikirimkan ke rumah sakit militer untuk menjalani penyembuhan. Ketika disana, Steiner yang sedang koma dibayang-bayangi oleh mimpi buruk wajah orang-orang yang telah meninggal, termasuk bocah Rusia yang dilepaskannya. Setelah siuman, tak lama dia sudah menjalin hubungan romantis dengan suster yang merawatnya (diperankan oleh Senta Berger).

Selama proses penyembuhannya, Steiner tersadar bahwa perang sesungguhnya hanyalah kesia-siaan belaka. Meskipun begitu, ketika datang kesempatan untuk kembali bertempur ke peleton lamanya, tanpa pikir panjang dia menyanggupinya. Steiner meninggalkan rumah sakit dan juga suster tercintanyanya yang menangis, seorang calon istri di opsi lain yang tak pernah ada untuk memulai kehidupan baru sebagai sipil yang jauh dari mesiu.

Ketika kembali, dia terkaget-kaget begitu mendapati bahwa Stransky telah dinominasikan untuk menerima Iron Cross setelah diberitakan memimpin serangan balik yang sukses dalam pertempuran yang tidak pernah ada! Stransky mengajukan Triebig dan Steiner sendiri sebagai saksi dari klaimnya. Dengan cara ini, Stransky berharap kalau Steiner mau membantunya dengan imbalan bantuan balik setelah perang usai.

Brandt menanyai Steiner tentang pernyataan Stransky, dengan harapan kalau Steiner akan mengungkapkan kebohongan atasannya tersebut. Tapi Steiner dengan cueknya menolak untuk bekerjasama. Dia mengatakan bahwa dia membenci semua perwira, bahkan mereka-mereka yang "tercerahkan" seperti Brandt dan Kiesel, dan meminta waktu beberapa hari untuk memberikan jawaban.

Ketika batalionnya diperintahkan untuk mundur, Stransky dengan sengaja tidak meneruskan perintah tersebut kepada peleton Steiner, sehingga Steiner kini berada di garis belakang Soviet! Tentu saja para anak buah Steiner yang sudah berpengalaman tidak tinggal diam menunggu digelepok oleh pasukan Soviet, dan mereka berjuang keras untuk mencari jalan ke daerah kawan dengan menembus kepungan Rusia. Dalam usahanya, Steiner dkk berpapasan dengan sebuah detasemen musuh yang anggotanya semuanya wanita. Menghadapi dilema moral yang kemudian datang, Steiner memutuskan untuk meninggalkan musuhnya tersebut dan meneruskan perjalanan, dengan tidak lupa sebelumnya menyingkirkan seorang anggota peleton berwatak sadis yang dibenci kawan-kawannya, yang merupakan anggota fanatik partai Nazi.

Peleton Steiner, yang kini menggunakan seragam Rusia sebagai penyamaran, pada akhirnya tiba di posisi pasukan Jerman.Dia lalu mengirimkan kata sandi melalui radio agar mereka diizinkan melintasi daerah tak bertuan yang menjadi perbatasan antara dua wilayah yang bermusuhan.

Demi mendengar kedatangan Steiner dan kawan-kawannya, Stransky yang paranoid memerintahkan kepada Triebig agar membunuh mereka. Triebig kemudian meneruskan perintah tersebut kepada anak buahnya agar unit berseragam Rusia yang baru datang itu ditembaki sampai mampus semua. Akibatnya, hampir semua anggota peleton Steiner terbunuh, dengan hanya menyisakan sang komandan dan beberapa orang lagi. Steiner yang begitu murka lalu membunuh Triebig dan meneruskan mencari sang biang kerok licik, Stransky. Pada saat inilah pasukan Soviet melancarkan ofensif besar-besaran terhadap posisi Jerman.

Akhirnya kedua antagonis ini bertemu muka juga. Steiner langsung bersiap untuk menembak Stransky, tapi kemudian berubah pikiran ketika Stransky bertanya, "kemana sisa peletonmu?" Steiner menjawab bahwa "Kamulah sisa peletonku satu-satunya" dan menantang atasannya tersebut untuk membuktikan klaim Iron Cross-nya dan bertempur bersama dia melawan pasukan Rusia. Stransky juga sempat berniat untuk menembak Steiner ketika ada kesempatan, tapi kemudian memutuskan untuk menerima tantangan Steiner. Ketika mereka berdua bersiap untuk bertempur, Stransky (yang berseragam lengkap layaknya telah berpengalaman perang) tiba-tiba memperlihatkan watak aslinya yang pengecut dan hampir menangis ketakutan ketika tembakan musuh sudah datang menghambur!

Sementara itu, Komandan Steiner yaitu Oberst Brandt telah berhasil menghentikan tentara Jerman yang lari mundur dan memimpin sendiri serangan balik dengan ketenangan yang mengagumkan. Gambar terakhir dari dirinya kemudian membeku, begitu juga adegan terakhir dari Stransky dan Steiner, yang seakan-akan menyimpulkan perkembangan karakter masing-masing tokoh.

Film ditutup dengan senandung lagu Hänschen klein ketika Stransky memperlihatkan ketidakbecusannya sebagai seorang perwira militer, jauh berbeda bila dibandingkan dengan Steiner sang veteran yang tetap tenang memimpin pertempuran. Walaupun musuh belum lagi tiba, Stransky telah mengosongkan magasin peluru dari senapan mesin MP-40-nya! Dalam kepanikannya, Stransky bahkan tidak tahu caranya bagaimana untuk mengisi kembali peluru dan malahan memohon-mohon kepada Steiner untuk menolongnya melakukan hal tersebut. Pada awalnya Steiner memandang sinis pada perbuatan Stransky yang tidak tahu malu tersebut, tapi kemudian tertawa terbahak-bahak hampir histeris demi melihat Stransky berusaha dengan susah payah memasangkan helmnya yang terbalik saking ketakutannya melihat bayangan hantu anak kecil Rusia yang mendekatinya!

Kredit penutup memperlihatkan slide show dari orang sipil yang menjadi korban perang, dan quote penghabisan oleh Berthold Brecht dari karyanya The Resistible Rise of Arturo Ui :

"Hai manusia, janganlah engkau bergembira atas kekalahannya. Karena meskipun sang durjana itu telah dihentikan dan dunia telah berdiri lagi, tapi anak jadah yang melahirkannya kini membara kembali."

Tawa Steiner tidak henti-hentinya menggema sampai closing title : SEKIAN DAN TERIMA KASIH. MERDEKA!

Para pemain :
* James Coburn sebagai Unteroffizier Rolf Steiner
* Maximilian Schell sebagai Hauptmann Stransky
* James Mason sebagai Oberst Brandt
* David Warner sebagai Hauptmann Kiesel
* Roger Fritz sebagai Leutnant Triebig
* Igor Galo sebagai Leutnant Meyer
* Klaus Löwitsch sebagai Krüger
* Vadim Glowna sebagai Kern
* Fred Stillkrauth sebagai Schnurrbart
* Dieter Schidor sebagai Anselm
* Burkhard Driest sebagai Maag
* Michael Nowka sebagai Dietz
* Arthur Brauss sebagai Zoll
* Senta Berger sebagai Eva
* Slavko Štimac sebagai bocah Rusia

BTW, kalau berminat ingin menonton film ini, dapat membeli DVD-nya di saya dengan mengklik INI!



Sumber :
www.en.wikipedia.org


Kamis, 27 Mei 2010

Free Download MP3 : Flieg Deutsche Fahne Flieg




Lagu "Flieg, Deutsche Fahne, Flieg" (Terbanglah, Bendera Jerman, Terbang) adalah lagu mars karangan Hans-Jürgen Nierentz dan diciptakan tahun 1935. Lagu ini kadang disebut juga sebagai "Soldat Kamerad", dan bila kita cermat mendengarkan lirik-liriknya, seakan-akan Jerman sudah berada pada keadaan perang! Btw, saya mendapati bahwa ada dua versi pengarang dari lagu ini, yang pertama seperti yang sudah disebutkan sebelumnya (Nierentz), dan yang kedua adalah Herms Niel, pencipta musik terkenal yang merupakan pengarang dari banyak lagu-lagu prajurit (Soldatenlieder) Jerman seperti "Erika" dan "Edelweiss".



Soldat, Kamerad, faß Tritt Kamerad,
Tritt unter die Gewehre!
So muß ein jeder mit, Kamerad,
Dem Vaterland zur Ehre!
Dem Frieden dient das graue Kleid
Und nicht dem Krieg der Schmerzen.
Wir tragen eine neue Zeit
In unsern jungen Herzen.

Soldat, Kamerad, pack zu, Kamerad,
Nimm Hacke und nimm Spaten.
Wir kenne keine Ruh, Kamerad,
Dafür sind wir Soldaten.
Von Grenze bis zur Grenze steht
Ein Heer von jungen Bauern.
Was wir geackert und gesät,
Das soll uns überdauern.
Die Fahne hoch...

Soldat, Kamerad, du weißt, Kamerad,
Wir sind dem Land verschworen.
Wir tragen seinen Geist, Kamerad,
Den wir so lang verloren.
In unseren Kolonnen zieht
Des Reiches Kraft und Wehre.
Wir sind sein Geist, wir sind sein Lied
Und seine heil'ge Ehre.
Die Fahne hoch...

Die Fahne hoch! Marschiert!
Voran der Führer führt.
Mit unsern Fahnen ist der Sieg,
Flieg, deutsche Fahne, flieg!

Album Foto Eksekusi Nazi Jerman


 Gefreiter Josef Schulz (juga ditulis Joseph Schultz) adalah bintara kelahiran tahun 1909 dari 714. Infanterie-Division yang ditempatkan di wilayah Balkan. Pada tanggal 20 Juli 1941 dia dan ketujuh orang rekannya ditugaskan untuk melakukan misi yang dia kira hanya patroli rutin belaka. Ternyata kali ini berbeda: mereka mendapati 16 orang warga lokal yang ditutup matanya. Kedelapan orang dari Zug (peleton) Schulz berhenti 10-15 meter jauhnya, dan seorang bintara lain kemudian memerintahkan mereka untuk mengeksekusi ke-16 orang warga lokal tersebut. Tujuh orang langsung melaksanakan tugas tanpa banyak cingcong dan bersiap mengarahkan senapan mereka. Di keheningan yang kemudian tercipta, dengan tenang Gefreiter Schulz melemparkan senapannya dan kemudian berjalan ke arah 16 orang terhukum (yang hanya bisa mendengar rumput diinjak). Dia kini berdiri sejajar dengan mereka, dan lebih memilih untuk menjadi bagian dari terhukum mati daripada harus menembak orang yang dia tidak tahu kesalahannya! Beberapa detik kemudian, 16 orang warga sipil dan satu tentara Jerman tergeletak tak bernyawa di tumpukan alang-alang. Si prajurit telah dieksekusi oleh rekan-rekannya sendiri atas perintah dari si bintara. Oberkommando der Wehrmacht (OKW) menyebutkan kematiannya sebagai KIA (Killed in Action), tapi berita tentang tindakannya yang "heroik" kemudian tersebar, terutama setelah usainya Perang Dunia II. Sebuah film dibuat tentangnya, "Joseph Schultz" (1973). Tapi kemudian kebenaran berita ini diragukan oleh para sejarawan, terutama dari Bundesarchiv Jerman, dan salah satu foto yang dianggap diambil pada saat itu (foto atas) dianggap berasal dari peristiwa lain. Dalam foto tersebut Schulz disebut adalah orang tanpa stahlhelm di tengah yang sedang berjalan ke arah para tawanan



 



Eksekusi tiga orang tertuduh mata-mata Jerman di Henri-Chapelle, Belgia, tanggal 23 Desember 1944. Mereka adalah, dari kiri ke kanan Unteroffizier Manfred Pernass, Oberfähnrich Günter Billing, dan Gefreiter Wilhelm Schmidt. Mereka berpartisipasi dalam operasi penyusupan yang dipimpin oleh perwira Waffen-SS Otto Skorzeny yang disebut sebagai Unternehmen Greif, dimana pasukan komando Jerman yang fasih berbahasa Inggris beroperasi di belakang garis pertahanan Sekutu dengan memakai seragam dan perlengkapan Amerika. Setelah tertangkap, mereka dibawa oleh anggota dari 509th Military Police ke tempat eksekusi yang telah ditentukan, yaitu wilayah sekitar markas 482nd Military Police, lalu diikat ke sebuah tiang dan matanya ditutup. Eksekusi berlangsung singkat, dan untuk memastikan apakah mereka benar-benar mati, seorang perwira memeriksa detak jantung sang terhukum. Tembok di belakang mereka berlubang oleh peluru, dan sampai saat ini masih dibiarkan seperti itu! Ketiga terhukum mati ini menolak bimbingan dari pendeta yang sengaja dikirim kepada mereka. Mereka mempertahankan ketegaran di depan regu eksekusi dengan menyanyikan lagu-lagu patriotik Jerman. Setelah mereka diumumkan telah meninggal, jenazahnya dilepaskan dari ikatan dan dibawa pergi untuk dikuburkan


Enam orang prajurit belia Waffen-SS dan Luftwaffe yang menjadi "korban" eksekusi tentara Amerika di Nürnberg tanggal 23 April 1945. Caption aslinya mengatakan bahwa mereka adalah "SS fanatik yang lebih memilih bertahan sampai akhir daripada menyerah", tapi bila kita memperhatikan dengan cermat lubang-lubang peluru di tembok belakang kita bisa mentehaui bahwa mereka mati karena dieksekusi dan bukannya bertempur! Beberapa ada yang memakai sepatu, dan ada juga yang cuma memakai kaus kaki doang dan bahkan bertelanjang kaki. Menariknya, salah seorang di antara mereka memakai seragam hitam dengan pita lengan tengkorak khas Divisi Panzer Totenkopf, dan satu-satunya topi yang terlihat adalah feldmütze M43 hasil modifikasi. Jangan lupakan pula kruk yang tampak berada di kepitan ketiak mayat prajurit di kanan. BTW, Foto ini dijepret oleh Private Harry Miller dari US Army Signal Corps

Pelaksanaan hukuman gantung terhadap SS-Obergruppenführer Karl-Hermann Frank, mantan Sekretaris Negara Protektorat Bohamia dan Moravia, yang dilaksanakan di halaman penjara Pankrac, Praha, Cekoslowakia, tanggal 22 Mei 1946


Eksekusi terhadap SS-Oberführer Dr. Joachim Mrugowsky yang dilaksanakan di penjara Landsberg tanggal 2 Juni 1948. Dia adalah seorang doktor medis Jerman yang juga menjadi rekanan profesor, pakar institut higienis Waffen-SS, pakar higienis senior Reich, dokter SS, dan Kolonel Senior SS. Mrugowsky dituduh telah melakukan eksperimen terhadap manusia di kamp konsentrasi Sachsenhausen di dekat Berlin. Ini termasuk pengujicobaan senjata biologis dan peluru beracun yang digunakan dalam peperangan!


Eksekusi terhadap SS-Obergruppenführer Oswald Pohl yang dilaksanakan di penjara Landsberg tanggal 8 Juni 1951. Dia terlibat dalam administrasi kamp konsentrasi dalam Perang Dunia II dan dituduh dalam Pengadilan Nürnberg telah berperan aktif dalam pembantaian massal penghuni kamp. Tak lama sebelum eksekusinya dilaksanakan, dia menyatakan diri "kembali" pada kepercayaan Katolik yang telah ditinggalkannya sejak tahun 1935


Eksekusi terhadap Prof.Dr. Claus Schilling yang dilaksanakan di penjara Landsberg tanggal 28 Mei 1946. Dia merupakan spesialis pengobatan penyakit tropis yang dituduh telah terlibat dalam ujicoba penyakit malaria terhadap 1.200 orang penghuni kamp konsentrasi Dachau yang dimulai sejak tahun 1942. 30 orang meninggal langsung akibat penyuntikan yang dilakukan, sementara 300-400 orang lainnya dikatakan meninggal akibat komplikasi penyakit sebagai hasil dari eksperimen tersebut!


Eksekusi para partisan di Celje, Slovenia. Di sebelah atas dua orang pelayan bersiap untuk membersihkan lantai dari ceceran darah, sementara dua orang prajurit SS memeriksa korban apakah masih hidup ataukah sudah melanglangbuana ke alam baka. Untuk foto-foto eksekusi lainnya di wilayah Balkan bisa dilihat DISINI


Schweinfurt, Jerman, 22 April 1945. Dua orang prajurit Amerika berusaha menurunkan seorang prajurit Jerman malang yang tergantung di atas dahan pohon toge. Dia dihukum mati oleh kesatuannya setelah ketahuan hendak menyerahkan diri ke pihak Amerika. Foto ini telah beredar luas di banyak buku, majalah, dan penerbitan lainnya


Boxweiller, Prancis, bulan Desember 1944. sebuah regu tembak kecil Amerika bersiap-siap untuk menamatkan riwayat seorang mata-mata/kolaborator Jerman. Foto ini adalah salah satu foto langka yang memperlihatkan pasukan Amerika mengeksekusi tawanannya. Perhatikan wajah si terhukum mati! Entah bagaimana perasaannya saat itu...


Sumber :
Foto koleksi pribadi Remy Spezzano

www.en.wikipedia.org
www.forum.axishistory.com

www.life.time.com
www.multimedia.ctk.cz
www.theatlantic.com
www.wehrmacht-awards.com
www.ww2photomuseum.com