Selasa, 06 Oktober 2009

Sukarelawan Belanda Dalam Pasukan Waffen-SS

Anton Mussert, pemimpin NSB, partai Nazi rasa lokal (Belanda) yang berkolaborasi dengan Himmler untuk merekrut pemuda-pemuda Belanda menjadi sukarelawan SS


Berita tentang sukarelawan Belanda dalam tubuh Waffen-SS yang dimuat di penerbitan Belanda terkenal masa itu, 'Panorama'. Disini diperlihatkan pelatihan baris-berbaris, juga saat-saat bahagia ketika berlibur di Arc de Triomphe, Prancis, dan bercanda di barak. Berita-berita seperti ini menambah minat orang Belanda untuk bergabung dengan SS, dan pada akhirnya negara yang notabene di bawah pendudukan Jerman tersebut tercatat sebagai penyumbang terbesar sukarelawan asing untuk Hitler, dengan jumlah 50 ribu orang lebih!


Salah satu propaganda mendukung perekrutan sukarelawan untuk memerangi para "Bolshewik" di Timur. Bebaskan Eropa!


Tak diragukan lagi, peraih Ritterkreuz (Knight's Cross/Salib Ksatria) yang paling terkenal dari sukarelawan Belanda di Waffen-SS adalah Gerardus Leonardus Mooyman yang berpangkat SS-Rottenführer. Dia adalah prajurit yang bertugas di unit anti-tank, dimana dalam salah satu pertempuran yang menentukan berhasil merontokkan 13 buah tank Rusia dalam satu hari! Atas prestasinya ini Mooyman dianugerahi Ritterkreuz, dan tercatat sebagai sukarelawan asing SS pertama yang menerima anugerah setinggi itu! Disini Mooyman sedang merasakan bagaimana rasanya menjadi selebriti, diwawancarai oleh para wartawan setibanya di kampung halaman


SS-Brigadeführer Jürgen Wagner, Komandan Divisi Sukarelawan Panzer-Grenadier SS ke-23 "Nederland", peraih Eichenlaub (Oakleaves/Daun Oak) ke-680


Umum diketahui bahwa pada masa Perang Dunia II Negeri Belanda berada di pihak negara-negara Sekutu untuk mengalahkan hegemoni Jerman Nazi yang berusaha menguasai dunia. Akan tetapi catatan sejarah yang gemilang itu dinodai oleh fakta bahwa ribuan pemuda negeri kincir angin itu ternyata juga berjuang di bawah kibaran bendera swastika untuk menegakkan Reich Seribu Tahunnya Hitler. Inilah kisah mereka :

Adolf Hitler mencita-citakan pembentukan sebuah kemaharajaan yang disebutnya sebagai Jermania. Menurut rencananya, negara supranasional itu bukan hanya akan dikuasai oleh bangsa Jerman melainkan juga akan mengikutsertakan apa yang oleh kaum Nazi disebut sebagai bangsa Nordik-Jermanik. Di antara kelompok bangsa yang mendapatkan hak istimewa untuk memerintah dunia bersama orang Jerman itu adalah bangsa Belanda. Akan tetapi, untuk membuktikan bahwa mereka memang bernilai bagi cita-citanya tersebut, Hitler memberikan kesempatan bagi orang Belanda untuk berjuang bersama tentara elitenya, Waffen SS (SS Bersenjata).

Waffen SS adalah cabang militer dari barisan SS yang ditakuti. Pemimpin SS Heinrich Himmler memandang mereka sebagai inti dari sebuah Korp Perlindungan Negara, yang akan menjaga sebuah kemaharajaan Jermanik di Eropa. Akan tetapi keberadaan mereka dipandang sebagai ancaman terhadap monopoli militer yang dipegang oleh tentara reguler Jerman. Untuk mengekang pertumbuhan mereka, Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) membatasi alokasi SDM bagi tentara pribadi Himmler tersebut.

Intrik tersebut memaksa Himmler mencari tambahan orang dari luar perbatasan Jerman. Salah satu sumber potensial yang terbuka bagi para perekrut SS adalah orang-orang Eropa yang berdarah Jermanik. Daya tarik kelompok ini bukan hanya terletak pada fakta bahwa mereka berada di luar yuridiksi Wehrmacht namun juga karena mereka memenuhi standar rasial Nazi. Di antara negara-negara Jermanik yang diduduki Nazi, Belanda menyumbangkan kontingen sukarelawan TERBESAR bagi Waffen SS.

Sebenarnya, secara keseluruhan orang Belanda tidak senang bergabung dengan Waffen SS. Belanda sendiri secara resmi masih dalam keadaan berperang dengan Jerman karena pemerintahan yang sah masih berfungsi di London setelah jatuhnya negeri tersebut pada bulan Mei 1940. Karenanya bergabung dengan tentara musuh dianggap sebagai tindakan pengkhianatan. Bahkan pandangan ini juga dimiliki oleh kolaborator utama Belanda, Anton Mussert, yang merupakan pemimpin NSB (Nationaal Socialitische Beweging, atau Partai Nazi Belanda).

Akan tetapi Mussert merasa terpukul ketika Himmler secara gamblang menegaskan bahwa Belanda pada akhirnya akan digabungkan dengan Reich Jerman Raya. Hal itu tentu saja berarti bahwa Belanda bukan hanya akan kehilangan kedaulatan nasionalnya melainkan juga semua otonomi yang masih dimilikinya. Untuk melancarkan integrasi tersebut, Himmler memerintahkan pembentukan sebuah badan SS Belanda. Organisasi ini akan membantu menazifikasikan bangsa Belanda dan membuat mereka siap untuk diintegrasikan ke dalam Reich.

Pernyataan Himmler ini menimbulkan dilemma bagi Mussert: bekerja sama dengan SS dan merekrut sukarelawan Belanda bagi mereka sama saja artinya bekerja sama dengan musuh. Namun di sisi lain, menentang SS bisa menimbulkan akibat buruk bagi NSB. Kegalauan Mussert bertambah ketika SS mengancam akan menggantinya dengan tokoh NSB lainnya yang lebih pro Nazi apabila dia menolak mengikuti kemauan mereka.

Akhirnya, keinginan untuk tetap berkuasa membuat Mussert menyerah pada tekanan SS. Pada tanggal 11 September 1940 Mussert membentuk Nederlandsche SS (SS Belanda). Tiruan dari SS ini secara resmi merupakan bagian dari NSB. Sebagai pemimpinnya diangkat Henk Feldmeijer, seorang tokoh radikal NSB. Walaupun sebenarnya Mussert ingin agar Nederlandsche SS bisa dikontrolnya, para pemimpin NSB yang radikal seperti Feldmeijer menganggap organisasi SS Belanda itu sebagai sebuah pasukan penggempur nasional sosialis untuk mencapai cita-cita Jermanik Raya.

Serangan Hitler ke Rusia pada tanggal 22 Juni 1941 membangkitkan dukungan besar bagi Jerman dari banyak orang Eropa yang anti komunis. Di Belanda, banyak orang yang siap untuk membantu kampanye militer Jerman untuk ‘menyelamatkan’ Eropa dari gerombolan orang biadab dan tidak bertuhan dari Timur. Orang Jerman mendukung kecenderungan tersebut karena dengan dengan demikian mereka bukan hanya mendapatkan tambahan SDM namun juga dapat menunjukkan bahwa orang Jermanik Eropa bukan hanya mendukung kebijakan mereka namun juga siap berjuang di pihak mereka.

Orang Jerman menunjuk seorang pensiunan jenderal Belanda bernama H.A. Seyffardt untuk memimpin legiun sukarelawan Belanda. Mereka juga memberikan izin kepada semua sukarelawan untuk mengenakan lambing nasional mereka di seragamnya. Sebagai contoh, ‘prinsevlag’ (bendera oranye-putih-biru lambang kerajaan Belanda) tersulam di lengan seragam mereka. Setelah itu para prajurit bersumpah setia kepada fuehrer maupun ‘prinsevlag’. Suasana ‘Belanda’ ini membuat banyak sukarelawan mengira bahwa mereka bergabung dengan sebuah unit tempur nasional Belanda yang akan membantu pasukan Jerman di Rusia.

Akan tetapi kenyataannya tidak begitu. Jauh sebelum pembentukan sebuah unit sukarelawan Belanda, Hitler telah memutuskan bahwa penanggung jawab atas semua sukarelawan Jermanik adalah Waffen SS. Pihak SS mengklaim bahwa para sukarelawan Belanda harus bergabung dengan mereka untuk mengembangkan korp elite Jermaniknya Himmler. Akibatnya, ketika para rekrutan tiba di barak-barak SS, banyak di antara mereka menjadi marah karena merasa ditipu. Beberapa di antara mereka menyampaikan protes keras dan akhirnya diizinkan mengundurkan diri. Yang lainnya memutuskan untuk tetap tinggal walaupun mereka sudah ditipu oleh ‘teman’ Jerman mereka.

Selama Perang Dunia II, sekitar 50.000 orang Belanda tercatat berdinas di dalam Waffen SS. Para sukarelawan ini bergabung karena berbagai alasan. Kelompok terbesar bergabung karena ingin bertualang atau karena tidak memiliki pekerjaan. Mereka ini diikuti oleh orang-orang yang memiliki ideologi yang menginginkan agar Jerman menang perang dan percaya bahwa dengan menjadi sukarelawan mereka dapat menjamin bahwa partai dan negeri mereka akan mendapatkan tempat istimewa dalam Orde Barunya Hitler. Beberapa orang bergabung karena mereka sangat anti-komunis. Menjelang 18 bulan terakhir perang, cukup banyak orang yang bergabung untuk menghindari kerja paksa ataupun tuntutan hukum.

Karena latar belakang yang beraneka ragam ini, para sukarelawan Belanda merasa kaget ketika mereka harus menghadapi para pelatih yang kasar dan kaku khas Jerman. Segera timbul keluhan bahwa para instruktur SS memperlakukan para sukarelawan asing dengan sikap yang sangat angkuh. Hal ini sendiri tidaklah mengherankan karena kebanyakan pelatih SS bukan hanya tidak mengerti kebiasaan dan cara pandang bangsa lain namun juga menganggap bahwa tugas melatih para sukarelawan bukan Jerman adalah suatu pekerjaan hina!

Metode pelatihan yang super Jerman ini menimbulkan perlawanan sengit dari para sukarelawan Belanda. Bahkan Himmler sendiri juga murka pada cara anak buahnya memperlakukan para sukarelawan Jermaniknya. Untuk memperbaiki keadaan, pemimpin SS itu mengancam akan menurunkan pangkat atau memecat para perwira dan bintara SS yang sikapnya bisa mengancam masa depan Jermanisme yang dicita-citakan Nazi. Akhirnya keadaan membaik. Perlahan-lahan timbul suatu ikatan antara para kader SS Jerman dan Belanda sebagai kawan seperjuangan, sesuatu yang amat penting ketika mereka harus menghadapi musuh di garis depan.

Para sukarelawan Belanda dikirim ke Front Timur dalam berbagai formasi SS. Kontingen pertama terjun ke medan laga sebagai bagian dari Resimen SS Westland, di mana mereka digabungkan dengan saudara-saudara Vlam (orang Belgia yang berbahasa Belanda) mereka.
Formasi militer Belanda yang lebih besar dan solid adalah SS-Freiwilligen Legion Niederlande (legiun sukarela SS Belanda). Unit ini dikirim ke Rusia pada bulan Januari 1942 dan ditetapkan di pinggiran Leningrad (St. Petersburg). Bekas ibukota kekaisaran Rusia serta tempat lahirnya Revolusi Komunis pada tahun 1917 itu merupakan sebuah pusat industri dan infrastruktur Uni Soviet yang penting. Dengan demikian, orang Jerman sangat berkepentingan untuk merebut kota tersebut sementara orang Rusia berusaha mati-matian untuk mempertahankannya. Hal ini kemudian melahirkan salah satu peristiwa tragis yang penuh kepahlawanan selama Perang Dunia II: pengepungan selama 900 hari atas Leningrad.

Selama bulan-bulan pertama tahun 1942 itu, Niederlande terlibat dalam sejumlah operasi militer yang sukses melawan Tentara Merah. Pada bulan Juni, mereka berpartisipasi dalam suatu operasi yang menghancurkan sebuah pasukan elite Rusia di dekat Danau Fuhovga. Pasukan Belanda bukan hanya merampas sejumlah besar perlengkapan militer lawan namun juga berhasil menawan 3.500 prajurit Rusia, termasuk Jenderal Vlassov yang terkenal. Penampilan mereka yang prima itu bukan hanya mendapatkan pujian dari para komandan Jerman namun juga menyebabkan Hitler menghadiahkan medali keberanian Salib Besi Kelas I dan II kepada 190 anggota legiun!

Akan tetapi keadaan berubah menjadi berat bagi mereka setelah kekalahan Tentara Jerman di Stalingrad pada awal tahun 1943. Kemenangan tersebut membuat semangat Tentara Merah untuk membebaskan tanah airnya berkobar. Pada bulan Januari 1943, Tentara Merah melancarkan serangan besar-besaran untuk menembus blokade Jerman terhadap Leningrad. Bersama-sama pasukan Jerman lainnya, Niederlande mati-matian berusaha menahan gerak maju tank dan infanteri Rusia. Meriam-meriam anti tank legiun tersebut terbukti sangat efektif dalam pertahanan Jerman. SS-Sturmann (kopral) Gerardus Mooyman diberikan medali militer tertinggi Jerman, Salib Ksatria, atas keberhasilannya menghancurkan tiga belas tank Rusia dalam waktu satu hari!

Pada bulan April 1943, legiun yang kelelahan itu ditarik dari Leningrad untuk beristirahat dan ditingkatkan kekuatannya menjadi seukuran brigade. Brigade baru tersebut, yang berkekuatan 5.000 orang Belanda, terdiri atas dua resimen, Resimen General Seyffardt (untuk menghormati bekas komandan legiun yang dibunuh oleh gerilyawan Belanda) dan De Ruyter. Mereka kemudian dikirim ke Zagreb, Kroasia, di mana mereka mendapatkan pelatihan tambahan serta dilibatkan dalam sejumlah operasi melawan kaum partisan Yugoslavia pimpinan Tito.
Sementara itu Front Timur kembali memanas. Setelah menang di Kursk pada musim panas 1943, Tentara Merah bergerak maju di seluruh front. Keadaan ini menyebabkan Niederlande dikirim kembali ke Leningrad pada hari Natal 1943, walaupun brigade pimpinan SS-Brigadeführer Jürgen Wagner itu belum menyelesaikan pelatihannya. Meskipun ada perlawanan senngit dari pasukan Jerman, kali ini Tentara Merah berhasil membebaskan Leningrad dari kepungan yang telah menelan satu juta jiwa orang Rusia selama hampir tiga tahun itu. Untuk menghindari kehancuran, Niederlande mundur ke Narva di Estonia.

Akan tetapi Tentara Merah terus mengejar mereka. Pada tanggal 24 Juli 1944, pasukan Soviet melancarkan serangan besar-besaran ke Narva dan memaksa Niederlande mundur terus ke Lithuania. Dalam penarikan mundur ini, Resimen General Seyffardt terjebak di suatu wilayah hutan berawa dan diserang habis-habisan dari darat dan udara oleh pasukan lawan. Sebagian besar anggotanya binasa sementara orang-orang yang selamat diburu selama berhari-hari di kawasan berawa-rawa. Hanya sedikit saja di antara mereka yang berhasil kembali ke garis Jerman.

Pada musim panas 1944 pasukan Jerman mundur di semua front, di mana Sekutu bergerak menjepit mereka dalam suatu gerakan raksasa dari arah timur dan barat setelah pendaratan di Normandia. Di tengah-tengah bencana tersebut, suatu peristiwa mengejutkan terjadi. Pada tanggal 20 Juli, seorang perwira Jerman yang anti-Nazi berusaha membunuh Hitler namun gagal. Ketika berita itu tersiar di front, banyak prajurit Jerman, termasuk para sukarelawan Belanda, menjadi marah terhadap apa yang mereka sebut pengkhianatan itu. Seorang prajurit Belanda menulis kepada Hitler sebagai berikut: “…Semoga keyakinan jutaan orang Jerman dan ribuan sukarelawan Jermanik tetap bersama anda dalam kecintaan yang fanatik dan kesetiaan yang tidak menyurut.”

Fanatisme dan semangat tempur Niederlande itu bukan hanya mendapatkan pujian dari Himmler namun juga membuat pemimpin SS itu berkeinginan memperbesar kekuatan SS Belanda. Hasilnya adalah pembentukan Divisi SS Landstorm Nederland. Dibentuk pada tahun 1943, unit tersebut dimaksudkan untuk mempertahankan Belanda dari serbuan Sekutu. Ironisnya, pada bulan September 1944, Landstorm Nederland ikut berpartisipasi dalam menggagalkan usaha pasukan payung Sekutu untuk membebaskan negeri mereka.

Sementara itu keadaan para prajurit Belanda di Front Timur semakin memburuk. Terkepung di Kurland, Lithuania, Niederlande diungsikan lewat laut. Dalam pengungsian tersebut banyak anggota brigade yang hilang ketika Angkatan Laut Soviet menenggelamkan kapal penumpang Moira. Akan tetapi tulang punggung brigade tersebut berhasil tiba dengan selamat di Stettin, di timur Jerman.

Pada tanggal 10 Februari 1945, brigade tersebut ditingkatkan statusnya menjadi sebuah divisi. Akan tetapi nama tersebut hanya di atas kertas belaka karena pada kenyataannya divisi itu berkekuatan seribu orang saja. Padahal sebuah divisi biasanya beranggotakan 12.000 orang!
Sementara itu Tentara Merah maju dengan cepat menuju jantung Jerman, Berlin. Dalam suatu usaha akhir untuk membendung serangan itu, Niederlande—bersama-sama unit SS Jerman, Belgia dan Skandinavia—ditugaskan untuk mempertahankan Sungai Oder, di antara wilayah Stettin dan Neustadt. Apabila garis pertahanan ini jebol, maka tak ada lagi rintangan yang bisa menahan Tentara Merah.

Serangan Soviet yang dimulai pada tanggal 16 April 1945 itu merupakan serangan terbesar sepanjang zaman. Dimulai oleh pemboman dari 41.000 meriam, kemudian Stalin mengerahkan tiga juta prajurit yang didukung oleh 6.000 tank lebih serta 6.500 pesawat terbang. Untuk menghadapi mereka, Jerman hanya memiliki kurang dari satu juta prajurit dengan meriam, tank dan pesawat terbang yang jumlahnya kurang dari sepertiga yang dimiliki lawan. Lebih parah lagi, orang Jerman kekurangan amunisi dan bahan bakar.

Hasil akhir dari peperangan bisa ditebak. Walaupun tentara Jerman bertahan dengan berani, di mana-mana garis pertahanan mereka jebol. Tentara Merah melanda bagaikan air bah menuju Berlin. Di tengah-tengah bencana tersebut, Niederlande berusaha mundur ke barat untuk menghindari balas dendam Tentara Merah. Sekali lagi, Resimen General Seyffardt (yang dihidupkan kembali setelah bencana di Narva) mengalami nasib buruk. Di Hammerstein, resimen tersebut dikepung dan dimusnahkan oleh Tentara Merah yang jauh lebih besar. Sebagian besar anggotanya terbunuh, sementara yang menyerah segera dieksekusi oleh prajurit Rusia.

Resimen De Ruyter sendiri nyaris dihancurkan oleh sebuah pasukan tank Soviet di dekat Desa Parchim di utara Berlin pada tanggal 3 Mei 1945. Akan tetapi ketika mereka mendengar deru mesin tank mendekat dari arah barat, semangat mereka berkobar kembali. Mengapa? Karena suara tersebut segera terbukti milik unit-unit tank Amerika. Setelah bertempur habis-habisan dan menghancurkan tank Rusia yang terakhir, para prajurit De Ruyter menyerah kepada pasukan Amerika sehingga terhindar dari kekejaman Tentara Merah. Empat hari kemudian Jerman menyerah. Bersama-sama dengan rekan-rekan Jermannya, para prajurit SS Belanda yang tersisa meletakkan senjata dan bergerak memasuki tempat-tempat penahanan dalam formasi militer menuju akhir yang getir.

Pada tahun 1946, Waffen SS—sebagai bagian dari SS—dituduh sebagai sebuah organisasi kriminal di depan Mahkamah Militer Internasional di Nürnberg. Sehubungan dengan dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang ditimpakan kepada Waffen SS itu, bekas anggota SS Belanda juga harus memikul beban kesalahan tersebut. Selama perang, sejumlah serdadu dan unit SS Belanda berpartisipasi dalam eksekusi terhadap para gerilyawan dan penduduk sipil. Sebagai contoh, seorang prajurit SS Belanda yang pernah bertugas di Kroasia memberikan kesaksian bahwa “Saat para partisan ini tertangkap…mereka bisa bergantungan di atas pohon yang tinggi.” Untuk kejahatan tersebut, SS-Brigadeführer Jürgen Wagner—bekas komandan Niederlande—diekstradisi oleh Sekutu Barat ke Yugoslavia, di mana dia diadili dan dieksekusi atas kejahatan perang yang dilakukan unitnya.

Akan tetapi beban utama yang harus ditanggung oleh bekas anggota SS Belanda itu tidak terkait dengan tindakan kejahatan perang mereka melainkan oleh tuduhan melakukan pengkhianatan terhadap tanah air mereka. Orang Belanda terutama sangat keras memperlakukan ‘para kolaborator’ militer dan memenjarakan mereka di bekas kamp konsentrasi Nazi di Vught maupun penjara di Veluuwe. Banyak di antara mereka baru dibebaskan pada akhir tahun 1940-an sedangkan sejumlah perwira ditahan hingga pertengahan tahun 1950-an.
Ketika akhirnya isu mengenai para sukarelawan ini muncul setelah perang, mereka selalu dibicarakan dengan sikap yang menghina dengan sebutan sebagai penjahat atau tentara bayaran. Sebegitu besarnya masalah mengenai para ‘sukarelawan’ ini sehingga Pemerintah Belanda melakukan sensor mengenai isu tersebut, yang dalam banyak kasus berlaku hingga hari ini. Sedangkan mengenai para veteran Waffen SS Belanda, kebanyakan di antara mereka berusaha menutupi masa lalu mereka. Hal itu tidaklah mengherankan karena beberapa bekas anggota SS Belanda yang kemudian menjadi pengusaha maupun politisi yang cukup berpengaruh ternyata rawan oleh pemerasan. Masa lalu mereka nampaknya tetap menjadi noda yang harus ditanggung seumur hidup mereka.


Sumber :
www.niliapustaka.multiply.com
www.germanmilitariacollectibles.com
www.vrijwilligerslegioen.nl
www.forums.randi.org


Tidak ada komentar:

Posting Komentar